Trilogi Insiden Seno Gumira Ajidarma Diluncurkan dalam Bentuk Audio

ayu_laksmi

JAKARTA- Setelah sukses meluncurkan buku audio berbahasa Indonesia pertama yang mengadaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Digital Archipelago yang didukung Galeri Indonesia Kaya kembali meluncurkan buku audio Trilogi Insiden karya Seno Gumira Ajidarma pada Kamis (10/4) di Auditorium Galeri Indonesia Kaya.

“Ini adalah karya saya yang pertama kali dibuat dalam bentuk buku audio dengan bantuan banyak sahabat yang mau meluangkan waktu untuk membacakan karya saya dan memberikan atmosfer yang berbeda dalam setiap kisah yang dibacakan. Buku audio ini penting bagi sastra Indonesia dan juga menarik karena memanfaatkan internet, teknologi komunikasi mutakhir yang paling populer saat ini,” ujar Seno Gumira Ajidarma.

“Trilogi Insiden merupakan bagian dari catatan sejarah dan bukti perjuangan dari seorang Seno Gumira Ajidarma yang mendokumentasikan peristiwa Timor Timur melalui rangkaian kata-kata dari sudut pandang seorang penulis dan seniman. Maka ketika saya diminta untuk membawakan Seruling Kesunyian dengan aransemen musik tersendiri, saya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memberikan persetujuan,” ujar Ayu Laksmi.

ria_irawan
Selain Ayu Laksmi, pengunjung Galeri Indonesia Kaya juga menyaksikan penampilan Ria Irawan yang membaca Kepala di Pagar Da Silva. Ada juga Butet Kartaredjasa yang membacakan cerpen Darah itu Merah, Jenderal, Landung Simatupang yang menarasikan cerpen berjudul Listrik, dan Niniek L. Karim menarasikan Telinga.

butet
Lima tokoh yang tampil ini membawakan cerpen yang diambil dari kumpulan cerpen Saksi Mata, buku pertama dalam Trilogi Insiden. Cerpen-cerpen ini memiliki riwayat yang sudah dikenal, yakni dibuat setelah penulisnya dilepaskan dari tugasnya pada 1992 karena pemberitaan mengenai Insiden Dili 12 November 1991.

Kumpulan cerpen Saksi Mata mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra (1995) dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ini, kemudian terbit di Australia (1995), dan penerjemahnya, Jan Lingard, diberi penghargaan Dinny O’Hearn Prize for Literary Translation dalam Premier’s Literary Award (1997).

Cerpen-cerpen Saksi Mata ini juga pernah dibacakan di Taman Ismail Mazuki, Jakarta, dan Purna Budaya, Yogyakarta, pada 1994, dengan sambutan yang baik. Novel berjudul Jazz, Parfum & Insiden yang diterjemahkan dan sebagiannya dimuat di Silenced Voices: New Writing from Indonesia (Honolulu, 2000), untuk diterbitkan secara lengkap dalam bahasa Inggris pada 2002. Sedangkan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara merupakan kumpulan esai.

Hristina Nikolic Murti dari lembaga Digital Archiphelago mengatakan, Digital Archipelago menggarap buku audio Trilogi Insiden secara berkelanjutan mulai pertengahan tahun 2013 dan selesai pada tahun 2014. Karya ini merupakan salah satu dari tiga karya edisi pertama buku audio berbahasa Indonesia produksi Digital Archipelago, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari, Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi, dan Trilogi Insiden karya SGA.

“Ketiga buku ini adalah tonggak sejarah buku audio Indonesia. Kami berharap digitalisasi sastra Indonesia ini dapat memberikan hembusan baru di wilayah cyber sastra melalui aplikasi ponsel pintar yang dapat di-donwnload bebas biaya, namun untuk kontennya dikenakan biaya sejumlah Rp 119.000 untuk ketiga bagian buku audio Trilogi Insiden. Sedangkan Saksi Mata, Jazz, Parfum & Insiden, serta Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara masing-masing dapat diperoleh dengan harga Rp 49.000 saja,” ujar Hristina Nikolic Murti.

Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, menambahkan bahwa begitu banyak sejarah penting Indonesia yang didokumentasikan melalui karya sastra Indonesia dan proses digitalisasi sastra ini merupakan cara yang efektif untuk mendekatkan warisan sastra Indonesia kepada generasi muda. “Melalui perangkat digital yang dimiliki, generasi muda bisa langsung mengakses dan mengunduh karya sastra klasik Indonesia,” ujar Renitasari Adrian.

Rekaman Trilogi Insiden yang seluruhnya berlangsung 17 jam, dibuat di studio Kua Etnika piminan Djaduk Ferianto di Yogyakarta, Soeara Madjoe pimpinan Anjar Prabowo di Jakarta, dan studio Antida pimpinan Anak Agung Anom Darsana di Denpasar. Sedangkan sound engineering buku audio ini dibuat oleh Gotrek Whitehouse.

Untuk memberikan atmosfer berbeda, buku audio ini juga diramaikan dengan aransemen musik oleh Boris Simanjuntak, Ayu Laksmi dan Piotr Komorowski. Para pembaca buku audio Trilogi Insiden dimulai dari kumpulan cerpen Saksi Mata (berlangsung 4,5jam) adalah: Saksi Mata – Chairul Umam (dokumentasi tahun 1994 yang diperoleh berkat jasa Dewan Kesenian Jakarta), Telinga – Niniek L. Karim, Manuel – Sitok Srengenge, Maria – Landung Simatupang, Salvador – Leon Agusta (musik Boris Simanjuntak), Rosario – Adi Kurdi (musik Boris Simanjuntak), Listrik – Landung Simatupang, Pelajaran Sejarah – Maudy Koesnaedi, Misteri Kota Ningi – Remy Sylado, Klandestin – Renny Djajoesman (music Piotr Komorowski), Darah Itu Merah, Jenderal – Butet Kartarejasa, Seruling Kesunyian– Ayu Laksmi (musik Ayu Laksmi), Salazar – Nicholas Saputra (musik Piotr Komorowski), Junior – Dian Sastrowardoyo, Kepala di Pagar Da Silva – Ria Irawan, Sebatang Pohon di Luar Desa – Laksmi Notokusumo (musik Boris Simanjuntak).

Untuk buku kedua, yaitu novel Jazz, Parfum & Insiden (berlangsung lebih dari 6 jam) naratornya adalah Landung Simatupang, dan untuk buku ketiga, yaitu kumpulan esai Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (berlangsung lebih dari 6 jam) Seno Gumira Ajidarma menjadi naratornya sendiri. (PR/gor)

trilogi_insiden

sumber: http://www.investor.co.id/bookandcinema/trilogi-insiden-seno-gumira-ajidarma-diluncurkan-dalam-bentuk-audio/82074

Foto: Rahmad Setiadi, Titik Kartitiani

Yuk Hadiri Peluncuran Buku Suara TRILOGI INSIDEN karya SGA tgl 10 April 2014

Poster Final 01.04.2014

Berpolitik dan Tidak Berpolitik

Sumber : Tempo edisi Minggu, 23 Maret 2014 | 23:46 WIB

Oleh : Seno Gumira Ajidarma, Wartawan

Selalu ada saja orang tidak mencoblos dalam pemilihan umum (pemilu), baik dengan sengaja maupun tidak sengaja. Dalam hal sengaja, tentu harus dibedakan yang sengaja tidak memilih karena tidak mengakui sistem politik yang sah, seperti sikap di antara non-pemilih semasa Orde Baru. Mereka yang berkesadaran seperti itu, oleh Arief Budiman yang juga menganjurkannya, disebut golongan putih (golput). Non-pemilih yang tidak menolak pemilu, artinya tanpa kesadaran politik, tentulah tak sahih disebut golput.
Dalam situasi itu, seorang golput dapat mengatakan dirinya sebagai “berpolitik dengan cara tidak berpolitik”, sedangkan yang tidak mencoblos karena malas cukup dikatakan sebagai “tidak berpolitik” sahaja. Dalam klasifikasi, terdapat dua kategori, yakni (1) berpolitik, termasuk dengan cara tidak ikut pemilu dan (2) tidak berpolitik. Namun Wiratmo Soekito (1929-2001) ternyata-dalam klasifikasi saya-mengajukan tiga kategori, yakni (1) berpolitik, (2) terlibat dalam politik, dan (3) tidak berpolitik.

Latar historis bagi postulat itu adalah pernyataan sejumlah penanda tangan Manifes Kebudayaan (Mei 1964) pada 1966 bahwa Manifes telah gagal, antara lain karena kapitulasi Partai Komunis Indonesia (PKI) bukanlah berkat perjuangan mereka. Wiratmo sendiri, yang menyatakan pada Mei 1965 telah meramalkan kapitulasi PKI, mengakui kegagalan Manifes, tetapi oleh sebab lain, yakni partisipasi para penandatangannya dalam Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI).

Konferensi yang merupakan reaksi terhadap Konferensi Seni dan Sastra Revolusioner (KSSR) pada Agustus 1964 itu berakhir dengan pembentukan organisasi Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI), dan bagi Wiratmo artinya telah berpolitik. Padahal, menurut Wiratmo, menandatangani Manifes bukanlah berpolitik, melainkan: “… menerima fait accompli bahwa mereka terlibat dalam politik.” (Soekito, 8/5/1972: 6). Jadi, terlibat dalam politik itu bukan berpolitik dan bukan pula tidak berpolitik.

Wiratmo menjelaskan dengan perumpamaan teater. Dalam apa yang disebutnya peristiwa teater, terdapat pentas tempat para pemain drama memainkan peran dalam lakon yang mereka bawakan. Menghadap pentas adalah publik. Pertunjukan akan berlangsung bukan hanya karena ada pemeran yang bermain, tapi juga kalau publiknya terlibat.

Pemain drama dibandingkan dengan orang yang berpolitik, keduanya bersandiwara: pemeran orang dungu tidaklah dungu, orang politik yang berkhianat tidaklah berkhianat, seperti Soekarno-Hatta bekerja sama dengan Jepang bukanlah pengkhianatan-itu menjalankan suatu peran. Posisi publik di depan pentas tidak seperti itu, tetapi mereka tetap terlibat, jadi publik dalam politik bukan tidak berpolitik, melainkan terlibat dalam politik.

Seorang pemain drama dan orang yang berpolitik harus bersedia dikecam dan dicela sebagai konsekuensi peran apa pun yang dimainkannya. Sedangkan orang yang hanya terlibat dalam politik, menurut Wiratmo, “… mempunyai hak-hak yang lebih besar, namun mempunyai kesediaan untuk meriskir (mengambil risiko-sga) bahaya, seolah-olah setiap saat ia sudah bersedia-sedia untuk dibawa ke hadapan suatu regu penembak untuk dihukum mati.”

Maka orang yang sadar maupun tak sadar terlibat dalam politik, jika (1) menolak posisi tidak berpolitik, sama dengan publik yang naik ke atas panggung untuk merusak tontonan; dan jika (2) menolak posisi terlibat dalam politik, sama dengan publik yang tertidur saat peristiwa teater terjadi. Penanda tangan Manifes, dalam penandatanganannya itu, menurut definisi Wiratmo: terlibat dalam politik, tetapi tidak berpolitik.

Mengacu kepada klasifikasi pertama, saya menganggap para penanda tangan-yang disebut Wiratmo sebagai Manifestan-dapat digolongkan sebagai “berpolitik dengan cara tidak berpolitik”. Jadi, “tidak berpolitik”-nya Wiratmo adalah peran politik juga, tetapi bukan di panggung, melainkan bagian dari publik, yang tidak tertidur-dan tentu tidak pula naik ke atas panggung. Artinya, tidak bermain dan tidak pula mengganggu permainan.

Penyebutan tentang golput dalam 377 media daring melalui pelacakan Indonesia Indicator, terhitung setahun sejak Minggu, 23 Maret 2014, terdapat dalam 3981 berita. Hanya 4,9 persen dibanding penyebutan Jokowi yang 76.493 berita atau 95,1 persen. Meskipun cukup minimal, sebagai topik tak pernah hilang.

Namun yang berpolitik dengan cara tidak berpolitik pada Pemilu 2014 bukan hanya golput, tapi juga mereka yang semula berpolitik sepenuhnya. Mereka adalah yang berambisi menjadi presiden, tetapi tiada harapan mengalahkan Jokowi. Sedangkan jika ikut dan tetap kalah, tidak rela mengakui kemenangan Jokowi. Itulah sebabnya kepada para calon presiden non-Jokowi, dan partai yang tetap mengajukannya, wajib diberi penghargaan.

sumber : TEMPO

[SGA Merekomendasi Buku Baru] Buku Naskah Teater OBROG karya Danarto

[SGA Merekomendasi Buku Baru] Buku Naskah Teater OBROG karya Danarto

Teman-teman,
Para admin blog ini baru saja berkomunikasi dengan Mas Seno Gumira Ajidarma (SGA) dan mendapat kabar seru bahwa SGA dan kawan-kawan bergotong royong menerbitkan sebuah karya naskah teater, suatu masterpiece dari sastrawan senior DANARTO berjudul OBROG Owog-owog EBREG Ewek-ewek agar tak tenggelam dihajar komersialisasi sastra Indonesia saat ini. Naskah teater ini sangat penting dimiliki para penggiat sastra dan seni teater Indonesia.

Buku langka yang diterbitkan oleh Penerbit Nalar ini dicetak terbatas dan belum akan memasuki jaringan toko buku besar Indonesia sehingga hanya dapat Anda miliki melalui situs resmi penerbitnya dan penyalur resminya:
Website : Nalar
Telpon : 021-73884741 (jam kerja, dengan Bapak Leo)

Ayo selamatkan karya-karya sastrawan Indonesia.

Salam sastra bersama SGA

[Membaca Kembali] DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI oleh SGA

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

 Pada saat yang sudah ditentukan, Pak RT datang ke tempat itu.

“Sabar Pak, sebentar lagi,” kata hansip.

”Waktunya selalu tepat pak, tak pernah meleset, ” sambung warga yang lain.

Pak RT manggut-manggut dengan bijak. Ia melihat arloji.

”Masih satu menit lagi,” ujarnya.

Satu menit segera lewat. Terdengar derit pintu kamar mandi. Serentak orang-orang yang mengiringi Pak RT mengarahkan telinganya ke lobang angin, seperti mengarahkan antena parabola ke Amerika seraya mengacungkan telunjuk di depan mulut.

”Ssssstttt!”

Pak RT melihat wajah-wajah yang bergairah, bagaikan siap dan tak sabar lagi mengikuti permainan yang seolah-olah paling mengasyikkan di dunia.

Lantas segalanya jadi begitu hening. Bunyi pintu yang ditutup terdengar jelas. Begitu pula bunyi resluiting itu, bunyi gesekan kain-kain busana itu, dendang-dendang kecil itu, yang jelas suara wanita. Lantas byar-byur-byar-byur. Wanita itu rupa-ruapnya mandi dengan dahsyat sekali. Bunyi gayung menghajar bak mandi terdengar mantab dan penuh semangat.

Namun yang dinanti-natikan Pak RT bukan itu. Bukan pula bunyi gesekan sabun ke tubuh yang basah, yang sangat terbuka untuk ditafsirkan sebebas-bebasnya. Yang ditunggu Pak RT adalah suara wanita itu. Dan memang dendang kecil itu segera menjadi nyanyian yang mungkin tidak terlalu merdu tapi ternyata merangsang khayalan menggairahkan. Suara wanita itu serak-serak basah, entah apa pula yang dibayangkan orang-orang di balik tembok dengan suara yang serak-serak basah itu. Wajah mereka seperti orang lupa dengan keadaan sekelilingnya. Agaknya nyanyian wanita itu telah menciptakan sebuah dunia di kepala mereka dan mereka sungguh-sungguh senang berada disana.

Hanya hansip yang masih sadar.

”Benar kan Pak?”

Pak RT tertegun. Suara wanita itu sangat merangsang dan menimbulkan daya khayal yang meyakinkan seperti kenyataan.

Pak RT memejamkan mata. Memang segera tergambar suatu keadaan yang

mendebarkan. Bunyi air mengguyur badan jelas hanya mengarah tubuh yang telanjang. Bunyi sabun menggosok kulit boleh ditafsirkan untuk suatu bentuk tubuh yang sempurna. Dan akhirnya ya suara serak-serak basah itu, segera saja membayangkan suatu bentuk bibir, suatu gerakan mulut, leher yang jenjang, dan tenggorokan yang panjang—astaga, pikir Pak RT,

alangkah sensualnya, alangkah erotisnya, alangkah sexy!

Ketika Pak RT membuka mata, keningnya sudah berkeringat. Dengan terkejut

dilihatnya warga masyarakat yang tenggelam dalam ekstase itu mengalami orgasme.

”Aaaaaaahhhhh!”

Dalam perjalanan pulang, hansip memberondongnya dengan pertanyaan.

”Betul kan pak, suaranya sexy sekali ?”

”Ya.”

“Betul kan Pak, suaranya menimbulkan imajinasi yang tidak-tidak?”

”Ya.”

”Betul kan Pak nyanyian di kamar mandi itu meresahkan masyarakat?”

”Boleh jadi.”

”Lho, ini sudah bukan boleh jadi lagi Pak, sudah terjadi! Apa kejadian kemarin belum

cukup?”

***

Kemarin sore, ibu-ibu warga sepanjang gang itu memang memenuhi rumahnya.

Mereka mengadu kepada Pak RT, bahwa semenjak terdengar nyanyian dari kamar mandi rumah Ibu Saleha pada jam-jam tertentu, kebahagiaan rumah tangga warga sepanjang gang itu terganggu.

”Kok Bisa?” Pak RT bertanya.

”Aduh, Pak RT belum dengar sendiri sih! Suaranya sexy sekali!”

”Saya bilang sexy sekali, bukan hanya sexy. Kalau mendengar suaranya, orang langsung membayangkan adegan-adegan erotis Pak!”

”Sampai begitu?”

”Ya, sampai begitu! Bapak kan tahu sendiri, suaranya yang serak-serak basah itu disebabkan karena apa!”

”Karena apa? Saya tidak tahu.”

”Karena sering di pakai dong!”

”Dipakai makan maksudnya?”

”Pak RT ini bagaimana sih? Makanya jangan terlalu sibuk mengurusi kampung. Sesekali nonton BF kek, untuk selingan supaya tahu dunia luar.”

”Saya, Ketua RT, harus nonton BF, apa hubungannya?”

”Supaya Pak RT tahu, kenapa suara yang serak-serak basah itu sangat berbahaya untuk stabilitas sepanjang gang ini. Apa Pak RT tidak tahu apa yang dimaksud dengan adegan-adegan erotis? Apa Pak RT tidak tahu dampaknya bagi kehidupan keluarga? Apa Pak RT selama ini buta kalau hampir semua suami di gang ini menjadi dingin di tempat tidur?

Masak gara-gara nyanyian seorang wanita yang indekos di tempat ibu Saleha, kehidupan seksual warga masyarakat harus terganggu? Sampai kapan semua ini berlangsung? Kami ibu-ibu sepanjang gang ini sudah sepakat, dia harus diusir!”

”Lho, lho, lho, sabar dulu. Semuanya harus dibicarakan baik-baik. Dengan

musyawarah, dengan mufakat, jangan main hakim sendiri. Dia kan tidak membuat kesalahan apa-apa? Dia hanya menyanyi di kamar mandi. Yang salah adalah imajinasi suami ibu-ibu sendiri, kenapa harus membayangkan adegan-adegan erotis? Banyak penyanyi jazz suaranya serak-serak basah, tidak menimbulkan masalah. Padahal lagu-lagunya tersebar ke seluruh

dunia.”

”Ooo itu lain sekali Pak. Mereka tidak menyanyikannya di kamar mandi dengan iringan bunyi jebar-jebur. Tidak ada bunyi retsluiting, tidak ada bunyi sabun menggosok kulit, tidak ada bunyi karet celana dalam. Nyanyian di kamar mandi yang ini berbahaya, karena ada unsur telanjangnya Pak! Porno! Pokoknya kalau Pak RT tidak mengambil tindakan, kami sendiri yang akan beramai-ramai melabraknya!”

Pak RT yang diserang dari segala penjuru mulai kewalahan. Ia telah menjelaskan bahwa wanita itu hanya menyanyi di kamar mandi, dan itu tidak bisa di sebut kesalahan, apalagi melanggar hukum. Namun ia tak bisa menghindari kenyataan bahwa ibu-ibu di sepanjang gang itu resah karena suami mereka menjadi dingin di tempat tidur. Ia tidak habis

pikir, bagaimana suara yang serak-serak basah bisa membuat orang berkhayal begitu rupa, sehingga mempengaruhi kehidupan seksual sepasang suami istri. Apakah yang terjadi dengan kenyataan sehingga seseorang bisa bercinta dengan imajinasi? Yang juga membuatnya bingung, kenapa para suami ini bisa mempunyai imajinasi yang sama?

”Pasti ada yang salah dengan sistem imajinasi kita,” pikirnya.

Sekarang setelah mendengar sendiri suara yang serak-serak basah itu, Pak RT mesti mengakui suara itu memang bisa dianggap sexy dengan gambaran umum mengenai suara yang sexy. Meski begitu pak RT juga tahu bahwa seseorang tidak harus membayangkan pergumulan di ranjang mendengar nyanyian dari kamar mandi itu, walaupun ditambah dengan bunyi byar-byur-byar-byur, serta klst-klst-klst bunyi sabun menggosok kulit.

Karenanya, Pak RT berkeputusan tidak akan mengusir wanita itu, melainkan

mengimbaunya agar jangan menyanyi di kamar mandi, demi kepentingan orang banyak.

Ditemani Ibu Saleha yang juga sudah tahu duduk perkaranya, Pak RT menghadapi wanita itu. Seorang wanita muda yang tidak begitu cantik tapi juga tidak tergolong jelek. Seorang wanita muda yang hidup dengan sangat teratur. Pergi kantor dan pulang ke rumah pada waktu yang tepat. Bangun tidur pada jam yang telah di tentukan. Makan dan membaca buku pada saat

yang selalu sama. Begitu pula ketika ia harus mandi, sambil menyanyi dengan suara serak-serak basah.

”Jadi suara saya terdengar sepanjang gang di belakang rumah?”

”Betul, Zus”

”Dan ibu-ibu meminta saya agar tidak menyanyi supaya suami mereka tidak

berpikir yang bukan-bukan?”

”Ya, kira-kira begitu Zus.”

”Jadi, selama ini ternyata para suami di sepanjang gang di belakang rumah membayangkan tubuh saya telanjang ketika mandi, dan membayangkan bagaimana seandainya saya bergumul dengan mereka di ranjang, begitu?”

Pak RT sudah begitu malu. Saling memandang dengan Ibu Saleha yang wajahnya pun sama-sama sudah merah padam. Wanita yang parasnya polos itu membasahi bibirnya dengan lidah. Mulutnya yang lebar bagaikan mengandung tenaga yang begitu dahsyat untuk memamah apa saja di depannya.

Pak RT melirik wanita itu dan terkesiap melihat wajah itu tersenyum penuh rasa maklum. Ia tidak menunggu jawaban Pak RT.

”Baiklah Pak RT, Saya usahakan untuk tidak menyanyi di kamar mandi,” ujarnya dengan suara yang serak-serak basah itu, ”akan saya usahakan agar mulut saya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, supaya para suami tidak membayangkan diri mereka bergumul dengan saya, sehingga mengganggu kehidupan seksual keluarga sepanjang gang ini”.

”Aduh, terimakasih banyak Zus. Harap maklum Zus, saya cuma tidak ingin

masyarakat menjadi resah.”

Begitulah semenjak itu, tak terdengar lagi nyanyian bersuara serak-serak basah dari kamar mandi di ujung gang itu. Pak RT merasa lega. ”Semuanya akan berjalan lancar,” pikirnya. Kadang-kadang ia berpapasan dengan wanita yang penuh pengertian itu. Masih terbayang di benak Pak RT betapa lidah wanita itu bergerak-gerak membasahi bibirnya yang sungguh-sungguh merah.

***

Namun Pak RT rupanya masih harus bekerja keras. Pada suatu sore hansip

melapor.

”Kaum Ibu sepanjang gang ternyata masih resah Pak.”

”Ada apa lagi? Wanita itu sudah tidak menyanyi lagi kan?”

”Betul Pak, tapi menurut laporan ibu-ibu kepada saya, setiap kali mendengar bunyi jebar-jebur dari kamar mandi itu, para suami membayangkan suaranya yang serak-serak basah. Dan karena membayangkan suaranya yang serak-serak basah yang sexy, lagi-lagi mereka membayangkan pergumulan di ranjang dengan wanita itu Pak. Akibatnya, kehidupan seksual warga kampung sepanjang gang ini masih belum harmonis. Para ibu mengeluh suami-suami mereka masih dingin ditempat tidur, Pak!”

”Jangan-jangan khayalan para ibu tentang isi kepala suami mereka sendiri juga berlebihan! Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu juga membayangkan yang tidak-tidak meski hanya mendengar jebar-jebur orang mandi saja?”

Hansip itu tersenyum malu.

”Saya belum kawin, Pak.”

”Aku tahu, maksudku kamu membayangkan adegan-adegan erotis atau tidak kalau mendengar dia mandi?”

”Ehm! Ehm!”

”Apa itu Ehm-Ehm?”

”Iya, Pak”

”Nah, begitu dong terus terang. Jadi Ibu-ibu maunya apa?”

”Mereka ingin minta wanita itu diusir Pak.”

Terbayang di mata Pak RT wajah ibu-ibu sepanjang gang itu. Wajah wanita-wanita yang sepanjang hari memakai daster, sibuk bergunjing, dan selalu ada gulungan keriting rambut di kepalanya. Wanita-wanita yang selalu menggendong anak dan kalau teriak-teriak tidak kira-kira kerasnya, seperti di sawah saja. Wanita-wanita yang tidak tahu cara hidup lain

selain mencuci baju dan berharap-harap suatu hari bisa membeli meubel yang besar-besar untuk ruang tamu mereka yang sempit.

”Tidak mungkin, wanita itu tidak bersalah. Bahkan melarangnya nyanyi saja sudah keterlaluan.”

”Tapi imajinasi porno itu tidak bisa dibendung Pak.”

“Bukan salah wanita itu dong! Salahnya sendiri kenapa mesti membayangkan yang tidak-tidak? Apa tidak ada pekerjaan lain?”

“Salah atau tidak, menurut Ibu-ibu adalah wanita itu penyebabnya Pak.

Ibu-ibu tidak mau tahu. Mereka menganggab bunyi jebar-jebur itu masih mengingatkan bahwa itu selalu diiringi nyanyian bersuara serak-serak basah yang sexy, sehingga para suami masih membayangkan suatu pergumulan di ranjang yang seru.”

Pak RT memijit-mijit keningnya.

”Terlalu,” batinnya, ”pikiran sendiri ke mana-mana, orang lain disalahkan.”

Pengalamannya yang panjang sebagai ketua RT membuatnya hafal, segala sesuatu bisa disebut kebenaran hanya jika dianut orang banyak. Sudah berapa maling digebuk sampai mati di kampung itu dan tak ada seorangpun yang dituntut ke pengadilan, karena dianggap memang sudah seharusnya.

”Begitulah Zus, ” Pak RT sudah berada di hadapan wanita itu lagi. ”Saya harap Zus berbesar hati menghadapi semua ini. Maklumlah orang kampung Zus, kalau sedang emosi semaunya sendiri.”

Wanita itu lagi-lagi tersenyum penuh pengertian. Lagi-lagi ia menjilati bibirnya sendiri sebelum bicara. “Sudahlah Pak, jangan dipikir, saya mau pindah ke kondominium saja, supaya tidak mengganggu orang lain.”

Maka hilanglah bunyi jebar-jebur pada jam yang sudah bisa dipastikan itu. Ibu-ibu yang sepanjang hari cuma mengenakan daster merasa puas, duri dalam daging telah pergi.

Selama ini alangkah tersiksanya mereka, karena ulah suami mereka yang menjadi dingin di tempat tidur, gara-gara membayangkan adegan ranjang seru dengan wanita bersuara serak-serak basah itu.

***

Pada suatu sore, di sebuah teras, sepasang suami istri bercakap-cakap.

”Biasanya jam segini dia mandi,” kata suaminya.

”Sudah. Jangan diingat-ingat” sahut istrinya cepat-cepat.

”Biasanya dia mandi dengan bunyi jebar-jebur dan menyanyi dengan suara serak-serak basah.”

”Sudahlah. Kok malah diingat-ingat sih?”

”Kalau dia menyanyi suaranya sexy sekali. Mulut wanita itu hebat sekali, bibirnya merah dan basah. Setiap kali mendengar bunyi sabun menggosok kulit aku tidak bisa tidak membayangkan tubuh yang begitu penuh dan berisi. Seandainya tubuh itu kupeluk dan kubanting ke tempat tidur. Seandainya ..”

Belum habis kalimat suami itu, ketika istrinya berteriak keras sekali, sehingga terdengar sepanjang gang.

”Tolongngngngng! Suami saya berkhayal lagi! Tolongngngngng!”

Ternyata teriakan itu bersambut. Dari setiap teras rumah, terdengar teriakan para ibu melolong-lolong.

”Tolongngngngng! Suami saya membayangkan adegan ranjang lagi dengan

wanita itu! Tolongngngngng!”

Suasana jadi geger. Hansip berlari kian kemari menenangkan Ibu-ibu. Rupa-

rupanya tanpa suara nyanyian dan bunyi byar-byur-byar-byur orang mandi, para suami tetap bisa membayangkan adegan ranjang dengan wanita bersuara serak-serak basah yang sexy itu. Sehingga bisa dipastikan kebahagiaan rumah tangga warga sepanjang gang itu akan terganggu.

Pak RT pusing tujuh keliling. Bagaimana caranya menertibkan imajinasi? Tapi sebagai Ketua RT yang berpengalaman, ia segera mengambil tindakan. Dalam rapat besar esok harinya ia memutuskan, agar di kampung itu didirikan fitness centre. Pak RT memutuskan bahwa di fitness centre itu akan diajarkan Senam Kebahagiaan Rumah Tangga yang wajib diikuti ibu-ibu, supaya bisa membahagiakan suaminya di tempat tidur. Pak RT juga sudah berpikir-pikir, pembukaan fitness center itu kelak, kalau bisa dihadiri Jane Fonda.

Kemudian, disepanjang gang itu juga berlaku peraturan baru:

DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI

Taman Manggu, 29 Desember 1990.

*) “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (1991), harian Suara Pembaruan, 1991. Dimuat kembali

dalam Lembaran Mastera, sisipan Horison, Dewan Sastera (Malaysia) dan Bahana (Brunei

Darussalam) untuk Majelis Sastra Asia Tenggara. Dokumentasi dari Horison No. 2/Januari, 2000.

Film Televisi dari Cerpen SGA “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”

Bagi yang tertarik untuk mengkomparasi seberapa mirip imajinasi masing-masing setelah membaca karya SGA berjudul DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI, malam ini 6 November 2013 jam 21.00 WIB di RCTI akan muncul versi film televisinya.

Selamat menikmati yaa

SGA di Melbourne (2)

Seno Gumira Ajidarma (SGA) akan kembali mengunjungi Melbourne University pada Oktober 2013 untuk mengikuti Diskusi Panel di Asia Institute. Rekan-rekan pecinta Sukab yang berada di Benua Kanguru dan tertarik bergabung sila untuk menindaklanjuti.

SGA 2

Panel Discussion: Reimagining Urban Culture and Space in Indonesia

Thursday 3rd Oct 2013 5:00pm-7:00pm
Where:

The Indonesia Forum together with the Melbourne School of Design, Faculty of Architecture, Building, and Planning, The University of Melbourne invite you to a free discussion panel with

*Mr. Revianto Budi Santosa (Lecturer at Universitas Islam Indonesia)
*Dr. Seno Gumira Ajidarma (Author and Lecturer in Faculty of Film and Television, Jakarta Institute of Art (IKJ), 2013 Mangold Fellow)
*Mr. Yori Antar (Principal Architect, Han Awal & Partners, Honorary member of the Indonesian Institute of Architects)
*Dr. Amanda Achmadi (Lecturer in Asian Architecture and Urbanism, The University of Melbourne)

Chair: Dr. Edwin Jurriëns (Lecturer in Indonesian Studies, Asia Institute, The University of Melbourne)

Venue: Harold White Theatre , Level 2, 757 Swanston Street Building, The University of Melbourne

Date: Thursday, 3 October 2013, 5 – 6.30 pm

followed by a free Indonesian buffet dinner

RSVP (acceptances only) for catering purposes to Hani Yulindrasari hyulindrasar@student.unimelb.edu.au by 26 September 2013, with “RSVP Panel Discussion”

@sumber : Asia Institute

SGA 3

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 339 pengikut lainnya.