SOEHARTO dan PETRUS (Penembak Misterius)

SOEHARTO dan PETRUS (Penembak Misterius)

            

“Sejarah dipelajari bukan hanya untuk ketepatan data, melainkan juga untuk memetik makna. Sebuah otobiografi bisa bermakna dengan cara…”

SEBUAH autobiografi secara politis boleh dibilang merupakan usaha legitimasi. Seolah-olah penulisnya berujar, “Inilah yang sebenarnya saya lakukan dan tidak ada yang lebih benar daripada ini.” Tidak aneh jika kata-kata seperti meluruskan sejarah sering diumbar untuk mengiringi penerbitan buku autobiografi seorang tokoh. Ini berarti, kalau ada seribu tokoh, akan ada seribu pelurusan dan seribu kebenaran. Mana yang betul-betul benar? Ilmu sejarah mempunyai metode yang bisa diperiksa bersama, dan syukurlah seiring dengan itu beribu-ribu autobiografi bisa diuji kembali. Uniknya, sebuah autobiografi ternyata bisa menjadi sumbangan terhadap penulisan sejarah lewat pembuktian yang merupakan kebalikan dari maksud penerbitannya.  

Periksalah, misalnya, Soeharto dengan autobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), yang ditulis Ramadhan K.H., khususnya pada bab 69: Yang Disebut Petrus dan Hukuman Mati. Seperti diketahui, petrus adalah singkatan dari penembak misterius. Istilah ini berhubungan dengan suatu masa. Saat itu hampir setiap hari, antara tahun 1983 dan 1984, ditemukan mayat bertato dengan luka tembak. Mereka ada di pasar, sawah, dan juga jalan raya. Menurut laporan sebuah majalah berita, korban mencapai angka 10.000. Misterius tentu berarti penembaknya tidak diketahui. Tapi, apa kata Soeharto? “Kejadian itu dikatakan misterius juga tidak.”  

Mayat-mayat itu ketika masih hidup dianggap sebagai penjahat, para gali, dan kaum kecu yang dalam sejarah memang selalu dipinggirkan, walau secara taktis juga sering dimanfaatkan. Pada saat penembak misterius merajalela, para cendekiawan, politisi, dan pakar hukum angkat bicara. Intinya, mereka menuding bahwa hukuman tanpa pengadilan adalah kesalahan serius. Meski begitu, menurut Soeharto, “Dia tidak mengerti masalah yang sebenarnya.” Mungkin tidak terlalu keliru untuk menafsir bahwa yang dimaksud Soeharto sebagai orang yang mengerti masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri. Seperti apakah itu?  

Dalam satu paragraf yang terdiri atas 19 baris, Soeharto menguraikan argumen bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kekerasan. Istilah Soeharto: treatment. Ikuti caranya berbahasa dan caranya mengambil kesimpulan: “Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan.. dor.. dor.. begitu saja. Bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak.” Paragraf ini segera disambung paragraf 5 baris: “Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu.” Lantas, Soeharto memaparkan lagi: “Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu.”  

Jadi, menurut pengakuannya, Soeharto sangat jijik terhadap kejahatan. Namun, apakah karena shock therapy yang dipelajarinya entah dari mana itu kejahatan memang mereda? Tanyakanlah kepada sindikat Kapak Merah. Tentang pendapat Soeharto atas kaum gali itu sendiri terdapat uraian menarik: “Mereka tidak hanya melanggar hukum, tetapi sudah melebihi batas perikemanusiaan.” Yang belakangan ini diperinci lagi: “Orang tua sudah dirampas pelbagai miliknya, kemudian masih dibunuh.” Atau juga: “….ada perempuan yang diambil kekayaannya dan istri orang lain itu masih juga diperkosa orang jahat itu di depan suaminya lagi. Itu sudah keterlaluan!” Perhatikan opini Soeharto berikut: “Kalau mengambil, ya mengambillah, tetapi jangan lantas membunuh.”  

Nah, bolehkah kita menarik kesimpulan bahwa, bagi Soeharto, mengambil segala sesuatu yang bukan haknya, asal tidak keterlaluan, agaknya masih bisa ditoleransi? Kalau tidak, ia boleh dibunuh? Setidaknya, dari bab 69 ini kita mendapat beberapa ketegasan. Pertama, Soeharto mengetahui kehadiran penembak misterius. Kedua, Soeharto setuju dengan tindakan mereka membantai apa yang disebutnya “orang jahat”. Ketiga, Soeharto berpendapat bahwa kekerasan hanya bisa diatasi dengan kekerasan. Dan keempat, bagi Soeharto, “kejahatan yang menjijikkan” merupakan kejahatan yang tidak layak mendapat toleransi. Ada dikotomi kejahatan dalam pemikiran Soeharto, yakni kejahatan “menjijikkan di luar kemanusiaan” di satu sisi dan kejahatan “tidak menjijikkan di dalam kemanusiaan” di sisi lain. Kejahatan pertama boleh dibunuh, sedang kejahatan kedua tidak usah dibunuh.   Dalam pengantar penerbit dituliskan, “Apa yang bisa dipelajari dari autobiografi ini adalah bagaimana anak seorang petani miskin dapat mencapai jenjang kepemimpinan tertinggi di negeri ini. Dan, semua itu dilakukan dengan kejujuran, ketekunan, dan ketabahan dalam menghadapi tantangan hidup ini. Semoga segala sikap dan tindakan dan cara kepemimpinan beliau dapat menjadi contoh dan teladan bagi generasi muda Indonesia yang akan mengemudikan bahtera negara di masa yang akan datang.”  

Sejarah dipelajari bukan hanya untuk ketepatan data, melainkan juga untuk memetik makna. Sebuah autobiografi bisa bermakna dengan cara yang berbeda sama sekali dari maksud dan tujuan penulisannya. Di sini sebuah legitimasi tersumbangkan sebagai dekonstruksi. Selamat.  

 

Saksi Mata

Saksi Mata

 

Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba  udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.

Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu daris egala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas.            

“Terlalu!”           

“Edan!”          

“Sadis!”           

Bapak Hakim Yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk-ngetukkan palunya. dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan.           

“Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!”           

Syukurlah para hadirin bisa ditenangkan. Mereka juga ingin segera tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.            

“Saudara Saksi Mata.”           

“Saya Pak.”           

 “Di manakah mata saudara?”           

 “Diambil orang Pak.”           

“Diambil?”         

“Saya Pak.”           

“Maksudnya dioperasi?”           

“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”           

“Haa? Pakai sendok? Kenapa?”           

“Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.” (masakan khas Surakarta sop tulang belulang kambing-red)           

“Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang?”           

“Yang mengambil mata saya Pak.”           

“Tentu saja, bego! Maksud saya siapa yang mengambil mata saudara pakai sendok?”           

“Dia tidak bilang siapa namanya Pak.”           

“Saudara tidak tanya bego?”           

“Tidak Pak.”           

“Dengar baik-baik bego, maksud saya seperti apa rupa orang itu? Sebelum amta saudara diambil dengan sendok yang katanya untuk dibuat tengkleng atau campuran sop kambing barangkali, mata saudara masih ada di tempatnya kan?”           

“Saya Pak.”           

“Jadi saudara melihat   seperti apa orangnya kan?”           

“Saya Pak.”           

“Coba ceritakan apa yang dilihat mata saudara yangs ekarang sudah dimakan para penggemar tengkleng itu.”           

Saksi Mata itu diam sejenak. Segenap pengunjung di ruang pengadilan menahan napas.            

“Ada beberapa orang Pak.”           

“Berapa?”           

“Lima Pak.”            

“Seperti apa mereka?”           

“Saya tidak sempat meneliti Pak, habis mata saya keburu diambil sih.”            

“Masih ingat pakaiannya barangkali?”           

“Yang jelas mereka berseragam Pak.”           

Ruang pengadilan jadi riuh kembali seperti dengungan seribu lebah.

***           

Hakim mengetuk-ngetukkan palunya. Suara lebah menghilang.             

“Seragam tentara maksudnya?”           

“Bukan Pak.”           

“Polisi?”           

“Bukan juga Pak.”           

“Hansip barangkali?”           

Itu lho Pak, yang hitam-hitam seperti di film.”           

“Mukanya ditutupi?”           

“Iya Pak, cuma kelihatan matanya.”           

“Aaaah, saya tahu! Ninja kan?”           

“Nah, itu ninja! Mereka itulah yang mengambil mata saya dengan sendok!”           

Lagi-lagi hadirin ribut dan saling bergunjing seperti di warung kopi. Lagi-lagi Bapak Hakim Yang Mulia mesti mengetuk-ngetukkan palu supaya orang banyak itu menjadi tenang.           

Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman.           

Tapi orang-orang tidak melihatnya.           

“Saudara Saksi Mata.”            

“Saya Pak.”           

“Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?”           

“Mereka berlima Pak.”           

“Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?”           

“Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.”           

Orang-orang tertawa. Hakim mengetuk lagi dengan marah.           

“Coba tenang sedikit! Ini ruang pengadilan, bukan Srimulat!”

***           

Ruang pengadilan itu terasa sumpek. Orang-orang berkeringat, namun mereka tak mau beranjak. Darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir. Hakim meneruskan pertanyaannya.            

“Saudara Saksi Mata tadi mengatakan terjadi di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya begini cepat seperti dalam mimpi?”           

“Bukan Pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadinya dalam mimpi, itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya.”           

“Saudara serius? Jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkannya di bawah sumpah.”            “Sungguh mati saya serius Pak, saya diam saja karena saya pikir toh terjadinya cuma dalam mimpi ini. Saya malah ketawa-ketawa waktu mereka bilang mau dibikin tengkleng.”           

“Jadi, menurut saudara Saksi Mata segenap pengambilan mata itu hanya terjadi dalam mimpi?”           

“Bukan hanya menurut saya Pak, memang terjadinya di dalam mimpi.”           

“Saudara kan bisa saja gila.”           

“Lho ini bisa dibuktikan Pak, banyak saksi mata yang tahu kalau sepanjang malam saya cuma tidur Pak, dan selama tidur tidak ada orang mengganggu saya Pak.”           

“Jadi terjadinya pasti di dalam mimpi ya?”           

“Saya Pak.”           

“Tapi waktu terbangun mata saudara sudah tidak ada?”           

“Betul Pak. Itu yang saya bingung. Kejadiannya di dalam mimpi tapi waktu bangun kok ternyata betul-betul ya?”           

Hakim menggeleng-gelengkan kepala tidak bisa mengerti.           

“Absurd,” gumamnya.           

Darah yang mengalir telah sampai ke jalan raya.

***           

Apakah Saksi Mata yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi? Tentu masih bisa, pikir Bapak Hakim Yang Mulia, bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya?           

“Saudara Saksi Mata.”           

“Saya Pak.”           

 “Apakah saudara masih bisa bersaksi?”           

“Saya siap Pak, itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata Pak.”           

 “Saudara Saksi Mata masih ingat semua kejadian itu meskipun sudah tidak bermata lagi?”           

“Saya Pak.”           

“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”           

“Saya Pak.”           

“Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?”           

“Saya Pak.”           

“Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satupun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.”           

“Saya Pak.”           

“Sekali lagi, apakah saudara Saksi Mata masih bersedia bersaksi?”           

“Saya Pak.”           

 “Kenapa?”          

“Demi keadilan dan kebenaran Pak.”           

Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel.            

Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya.           

 “Hussss! Jangan kampanye di sini!” Ia berkata dengan tegas.            

 “Sidang hari ini ditunda, dimulai lagi besok untuk mendengar kesaksian saudara Saksi mata yang sudah tidak punya mata lagi!”           

Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klik-klik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah.

***           

Dalam perjalanan pulang, Bapak Hakin Yang Mulia berkata pada sopirnya,“Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?”           

Sopir itu ingin menjawab dengan sesuatu yang menghilangkan rasa bersalah, semacam kalimat, “Keadilan tidak buta.”* Namun Bapak Hakim Yang Mulia telah tertidur dalam kemacetan jalan yang menjengkelkan.           

Darah masih mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya samapi kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun, ajaib, tiada seorang pun melihatnya.             Ketika hari sudah menjadi malam, saksi mata yang sudah tidak bermata itu berdoa sebelum tidur. Ia berdoa agar kehidupan yang fana ini baik-baik saja adanya, agar segala sesuatu berjalan dengan mulus dan semua orang berbahagia.

            Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut.

 

 

Jakarta, 4 Maret 1992

 

 

 

Senja di Kaca Spion

Senja di Kaca Spion

 

Senja semburat dengan dahsyat di kaca spion. Sangat menyedihkan betapa
di jalan tol aku harus melaju secepat kilat ke arah yang berlawanan.
Di kaca spion, tengah, kanan, maupun kiri, tiga senja dengan seketika
memberikan pemandangan langit yang semburat jingga, tentu jingga yang
kemerah-merahan seperti api berkobar yang berkehendak membakar meski
apalah yang mau dibakar selain menyepuh mega-mega menjadikannya
bersemu jingga bagaikan kapas semarak yang menawan dan menyandera
perasaan. Senja yang rawan, senja yang sendu, ketika tampak dari kaca
spion ketika melaju di jalan tol hanya berarti harus kutinggalkan
secepat kilat, suka tak suka, seperti kenangan yang berkelebat tanpa
kesempatan untuk kembali menjadi impian.Aku dalam mobilku melaju ke depan dengan kecepatan tinggi, sangat
tinggi, terlalu tinggi, sehingga awan hitam yang bergulung-gulung di
hadapanku tampak menyergap dan menelanku dengan begitu cepat, begitu
beda dengan awan gemawan senja di kaca spion yang semarak
keemas-emasan, gemilang tiada tertahankan, yang meski dengan pasti
akan berubah menjadi malam yang kelam tampak bertahan tampak berkutat
meraih keabadian dalam kefanaan. Di dalam satu dunia yang sama,
mengapa suatu hal bisa begitu berbeda? Di belakangku senja terindah
yang akan segera menghilang, di depanku hanya awan hitam bergulung
mengerikan bagai janji sepenuhnya betapa dunia memang berpeluang
mengalami bencana tak tertahankan.

Di jalan tol, aku tak bisa berbalik bahkan tak juga bisa menoleh ke
belakang. Aku hanya bisa melaju terus menerus melaju dan memang hanya
melaju selaju-lajunya kelajuan dalam kecepatan yang terlaju ketika di
hadapanku awan hitam yang bergulung-gulung itu bagaikan merendah dan
bersiap menerkam meski dalam kenyataannya memang hanya di
sana saja
awan hitam itu bergulung-gulung dan terus bergulung-gulung sungguh
begitu matang untuk setiap saat menggulung.

Itulah yang membuat aku meluncur dengan perasaan rawan. Aku melaju di
jalan tol dengan kecepatan tinggi bagaikan menuju ke sebuah dunia yang
dengan pasti merupakan kegelapan sementara di kaca spion kusaksikan
tiga senja dengan tiga matahari terbenam di ujung jalan tol di balik
pegunungan yang menyemburatkan cahaya keemasan ke seantero langit
seantero bumi memantik kesenduan memantik keharuan yang menenggelamkan
perasaan dalam kedukaan yang mau tak mau harus ditahan.

Belum tentu sekali lagi dalam seumur hidupku aku akan mendapatkan tiga
senja sekaligus melalui kaca spion di tengah, kiri, dan kanan dalam
mobilku yang meluncur dan melaju meninggalkannya dengan tiga matahari
yang bagaikan lempengan besi merah membara membenam perlahan-lahan
tapi pasti meski tetap perlahan tapi meski tetap sepasti sepelan
perputaran bumi. Tiga senja dengan tiga matahari membenam
menyemburatkan langit di tiga kaca spion, hanya dari kaca spion
mobilku dan hanya dengan meninggalkannya ke depan, terus menerus
melaju ke depan, maka aku akan bisa melihat ketiga senja dengan ketiga
matahari itu.

Meluncur di jalan tol tanpa ujung, aku bahkan tidak memiliki
kemungkinan untuk kembali, sepanjang hari sepanjang zaman aku menembus
ruang dalam waktu yang berkelebatan. Di manakah ujung jalan tol ini?
Aku tak tahu menahu dan sungguh tiada tahu menahu hanya bisa meluncur
dan menuju untuk terus menerus menuju dan melaju ke depan tanpa
halangan. Dari manakah aku datang dan akan menuju ke mana? Aku tak
tahu dan tak akan pernah tahu karena aku hanya bisa meluncur di jalan
tol yang panjang tanpa ujung tanpa pernah tahu akan berakhir entah
kapan dan di mana.

*

Pada tiga kaca spion tiga matahari terbenam perlahan di balik
pegunungan. Pada punggung pegunungan itu orang-orang berjalan sebagai
sosok-sosok kehitaman dengan kepala menunduk melangkah perlahan-lahan.
Sepuluh orang, duapuluh orang, mungkin limapuluh orang, berjalan
menuruti langkah kaki dengan kepala tertunduk mengikuti jalan setapak
dalam perjalanan panjang entah dari mana menuju entah ke mana dalam
kekelaman senja di atas pegunungan. Apabila mereka kemudian berjalan
beriringan di punggung pegunungan naik turun dataran dengan latar
belakang lempengan matahari merah membara maka tampaklah sosok-sosok
yang berjalan dengan kepala tertunduk itu melintas dalam perjalanannya
bagai melintasi dunia. Pada kaca spion aku tak akan pernah tahu
sosok-sosok hitam yang melangkah perlahan dengan kepala itu datang
dari mana dan menuju entah ke mana. Siapalah yang akan tahu?

Segalanya terlihat di kaca spion, tetapi hidup tidak bisa dibalik,
sosok-sosok melangkah, aku meluncur, matahari terbenam, cahayanya yang
keemasan semburat membakar langit, menyala berkobar-kobar dengan lidah
api yang menjilati angkasa. Segalanya memesona di kaca spion dan
segalanya tergandakan di kaca spion, tetapi aku sedang meninggalkannya
dengan kecepatan yang tidak tertampung oleh speedometer. Dunia serasa
begitu tenang dalam kecepatan terbangnya malaikat yang hening. Aku
meluncur ke depan, tetapi mataku menyaksikan senja pada tiga kaca spion…

Aku masih meluncur awan masih bergulung tetapi langit telah semakin
gelap ketika tiga senja di tiga kaca spion itu tampak semakin
kemerah-merahan. Aku masih menyaksikan ketiganya sekaligus ketika tiga
matahari merah membara masih terbenam perlahan-lahan, ketika
kuperhatikan ternyata pada spion sebelah kanan orang-orang yang
berjalan tertunduk sebagai sosok-sosok hitam itu telah menghilang…

Pergi ke manakah mereka?

Ternyata beberapa orang yang berjalan paling belakang masih tampak
berjalan dengan kepala tertunduk pada pemandangan senja di kaca spion
yang tengah, yang ketika menghilang kemudian tampak pada kaca spion
yang kiri!

Pada kaca spion yang kiri kemudian kusaksikan rombongan sosok-sosok
hitam yang berjalan dengan kepala tertunduk di atas pegunungan yang
juga menghitam dalam latar belakang lempengan matahari raksasa yang
merah membara dan sedang turun perlahan-lahan. Mereka berjalan dengan
pelan, tetapi pasti, dan satu persatu menghilang keluar dari kaca spion.

Apakah mereka sebenarnya masih di
sana? Sayangnya aku tidak bisa
menoleh ke belakang. Aku meluncur dengan kecepatan yang tak terukur
lagi, sebaiknya tentu aku tidak menoleh sama sekali ke belakang, meski
kecepatan yang tak terukur itu telah memberikan keheningan yang begitu
heningnya sampai terdengar berdenting.

Namun dengan menatap ke depan, kedua mataku masih mampu meliputi
ketiga kaca spion sekaligus, tempat aku telah melihat ketiga matahari
senja sedang turun perlahan-lahan. Tiga matahari senja bagaikan tiga
lempengan raksasa yang merah membara turun perlahan-lahan ke balik
pegunungan yang punggungnya tampak naik turun panjang pendek curam
landai dalam latar langit yang kemerah-merahan.

Ternyata bahwa matahari pada kaca spion yang kanan telah lebih dulu
tenggelam, meninggalkan cahaya keemas-emasan di langit, cahaya yang
akan disebut-sebut penyair
gaya lama sebagai cahaya kencana.

Pada kaca spion yang tengah matahari masih terbenam separuh. Lempengan
raksasa itu bergeletar mendesak bumi yang bagaikan menolaknya. Langit
di atasnya merah membara penuh dengan pesona. Juga penyair
gaya lama
tidak akan mempunyai pilihan lain selain menyebutnya sebagai cahaya
kencana.

Sementara itu, pada kaca spion sebelah kiri, mataharinya tenggelam
lebih cepat, karena sudah tinggal sepertiganya saja dan seperti
kusaksikan memang kemudian hilang terbenam meninggalkan cahaya
keemas-emasan yang juga akan disebut penyair
gaya lama sebagai cahaya
kencana.

Tapi aku suka
gaya lama. Apa salahnya?

Aku masih meluncur di jalan tol tanpa ujung dengan kecepatan tak
terukur. Pada kaca spion di dalam mobil, kusaksikan senja, dengan
matahari merah membara yang sedang terbenam perlahan-lahan, yang
cahayanya semburat menyapu langit menjadi keemas-emasan-memang tiada
pilihan lain bagi seorang penyair
gaya lama, selain menyebut cahaya
yang semburat di langit itu sebagai cahaya kencana…

Pondok Aren,

Kamis 8 Maret 2007. 18:25

 

Vietnam

Vietnam

 

Saya kira tadinya mudah saja pergi ke Mongolia. Buktinya tidak. Karena suatu persoalan teknis, saya tiba-tiba saja terdampar di Vietnam. Sebenarnya di kepala saya sudah berdengung angin berpasir Gurun Gobi diiringi musik Kitaro, namun bagai dilontarkan dalam sebuah tabung, mendadak di sinilah saya — Saigon: jalanan yang serabutan, Honda bebek, sepeda, Yamaha bebek, sepeda, cyclo, bunyi klakson terus-menerus, bunyi klakson terus-menerus, sepeda, cyclo, sepeda lagi, sepedamotor, sepedamotor, sepedamotor, sekali-sekali BMW, salip-menyalip sambil masih terus-menerus membunyikan klakson. Barangkali ini negeri komunis, tapi jalanan itu sungguh ‘liberal’.

Seolah-olah siapapun bisa meluncur ke mana pun, dari segala arah ke semua arah. Dalam satu hari saja, saya melihat tiga adegan tabrakan. Di siang hari bolong itu, orang-orang bertengkar di jalanan. Saigon, dengan segala akar metropolisnya, telah mendapat nama baru semenjak pasukan Vietnam Utara dan Viet Cong merebutnya pada April 1975, yakni Ho Chi Minh City — artinya, menjadi komunis. Kini, Vietnam masih tercatat sebagai negeri miskin.

Toh begitu mendarat, dan menukar uang, saya langsung jadi ‘jutawan’. Saya menukar uang 300 dollar AS, dan jadi kaget menerima tumpukan uang 3.300.000 Dong dalam pecahan kecil. Mana di kios money changer itu saya dikerumuni orang lagi! Saya membawa uang seperti membopong setumpuk buah-buahan. Dalam hati saya berkata, “Welcome to Vietnam…”

Vietnam di kepala saya adalah Vietnam dalam film-film Hollywood. Jauh sebelum saya membayangkan suatu hari akan menginjaknya, saya sudah akrab dengan nama-nama seperti Saigon, Quang Tri, Da Nang, Hue, atau Hanoi — kini saya menyusurinya.

Begitu tiba di Saigon, diterpa terik matahari membara, saya tahu bahwa memang tidak ada gunanya mencari sesuatu dalam kenyataan yang ada di dalam film, karena film adalah film, bukan kenyataan.

Namun karena cantelan saya satu-satunya cuma film-film itu, saya tetap merasa njomplang, merasa memasuki dunia yang lain sama sekali. Orang-orang Vietnam bukan tidak tahu tentang citra negeri mereka di dunia Barat, maka dengan segera otak dagang mereka menciptakan kaos-kaos oblong bertuliskan Apocalypse Now! atau Miss Saigon atau Tintin in Vietnam.

Ho Chi Minh City barangkali memang kota yang serba kemrungsung, orang-orang tak sabar untuk hanya menunggu. Mereka menyerbu, menggali, membuka kemungkinan. Kalau orang-orang tahu kita orang asing, dari pagi sampai malam selalu ada saja yang ditawarkan, siapa tahu salah satunya nyantol jadi uang. Namun jika seseorang menyusuri negeri ini, dari Selatan ke Utara, maka akan terasa betapa semakin ke Utara dinamika perburuan uang ini makin lama makin berkurang — minimal lain gayanya. Ritme bicara yang keras menghentak-hentak di Selatan, menjadi lebih lembut di Utara, lebih berlagu dan lebih halus nadanya. Di telinga saya yang tak paham bahasa Vietnam, seperti perbedaan nada orang bicara di Jawa Timur dan Jawa Barat.

Ruang tamu di trotoar

Kereta api merayapi gunung, menembus kabut, memperlihatkan pemandangan teluk: perahu dan nelayan bercaping — ini memang pemandangan khas Vietnam. Dalam kartupos, dalam berbagai benda seni yang dijual di toko-toko, kita akan selalu melihat citra perahu dan orang bercaping. Sambil memandang hujan, hamparan sawah yang begitu luas, dan pegunungan yang membiru, saya bertanya-tanya: bagaimana caranya alam menterjemahkan dirinya dalam kebudayaan manusia?

Kereta api Vietnam bagi saya terasa istimewa. Bukan karena mewah, tapi karena ketertibannya. Kereta api Vietnam yang terbaik boleh dibandingkan dengan kereta api Senja Ekonomi. Meski begitu, walaupun panas dan sumpek, untuk setiap tiket yang kita beli, terjamin adanya tempat duduk dan ransum. Tidak ada karcis berdiri. Ransum dihidangkan dengan gaya pelayanan di pesawat terbang, meski tentu saja tidaklah sama hidangannya. Kalau kita orang asing, sendirian pula di rimba orang-orang yang cuma ngomong Vietnam, kita harus sigap melirik kiri kanan. Misalnya saja harus cepat-cepat menadahkan kotak plastik ransum itu, ketika seorang ‘petugas kuah’ menuangkan kuah ke kiri dan ke kanan sepanjang gerbong.

Ketika malam tiba, TV di gerbong menyala. Ada dua TV di setiap gerbong kelas ekonomi (kelas satu berkabin, tapi tidak ber-AC), yang saling memunggungi di tengah gerbong. Film-film yang diputar dari kelas B, tapi yang –aduh– sungguh bebas sensor. Ketika sampai pada adegan-adegan seronok, semuanya berlangsung bebas dan habis-habisan, di bawah sorot mata penumpang segala umur. Saya sendiri malu melihat adegan-adegan itu, lantas pura-pura tidur, membenamkan topi hadiah Vietnam Railway sampai menutupi mata. Toh saya mengalami kejutan: jangan-jangan memang salah menganggap yang begituan sebagai barang terlarang.

Orang-orang Vietnam ini senang sekali bercengkerama di trotoir. Dari kota ke kota, sepanjang hari kita akan melihat sejumlah orang berkumpul di muka rumah, dengan meja dan kursi-kursi yang pendek, makan minum sambil ngobrol — rasa-rasanya hampir setiap saat: pagi, siang, dan malam. Selalu ada orang masak, orang makan dan minum, tertawa sana-sini. Suatu ketika saya ‘numpang ke belakang’ di rumah seorang Vietnam di tepi jalan, dan barulah saya mengerti mengapa mereka begitu getol nongkrong di luar. Rumah itu gelap, bagaikan lorong, dari depan sampai ke belakang, dan hal ini kemudian saya temukan berkali-kali. Yah, lain padang lain belalang. Di Vietnam, agaknya, luar rumah adalah bagian dari dalam rumah.

Menghirup udara malam

Seringkali saya berpikir, keinginan untuk bersantai ini cukup ngotot. Di Da Nang misalnya, sebuah kota kecil yang sepi, barangkali sebesar Klaten, bertebaran apa yang disebut ‘karaoke’. Kata karaoke, yang selalu ditulis ‘kara-oke’, saya beri tanda kutip, karena selain tak terlihat orang menyanyi –meski memang terdengar lagu-lagu– juga karena cuma merupakan semacam tempat minum remang-remang yang terbuka. Tempat seperti ini banyak sekali, mungkin hampir sepanjang jalan, penuh dengan anak-anak muda fashionable — tapi yang di tempat parkirnya berjajar-jajar sepeda!

Agak lain tentu saja Ho Chi Minh City — barangkali malah yang disebut hiburan malam adalah unggulan kota ini. Hampir setiap kali naik cyclo, yang mana saja, pertanyaan satu ini selalu muncul, “You want lady?” — dan kadang-kadang ini setengah dipaksakan, barangkali karena dipikir siapalah yang mampu menolaknya?

Suatu malam, setelah seharian memotret semenjak dinihari, saya bermaksud mencari segelas bir, sekadar supaya lebih gampang tidur. Jadi saya lambai sebuah cyclo. Belum apa-apa si tukang cyclo, seorang anak muda, mungkin masih 20-an, sudah bertanya, “You want lady?” Saya katakan padanya, saya cuma mencari bar yang murah untuk minum segelas bir. Eh, dia langsung ngoceh. “Saya sudah bekerja lima tahun sebagai cyclo-driver,” katanya, “I know everything in this city. You want massage? I know nice pretty lady. Very young. You can do everything you want.” Pada kalimat terakhir ini tangannya bergerak-gerak memperagakan, seperti memegang-megang. Astaga. Lantas ia bilang, ia tahu sebuah ‘little nice green bar’. Maka kami pun ke sana. Saya sudah curiga ketika cyclo ini berhenti di sebuah lorong yang gelap. Dari kerumunan orang main kartu, datang seseorang yang langsung membuka gembok sebuah pintu. Lho, bar kok dikunci dari luar, pikir saya. Si tukang cyclo menggamit saya masuk.

Ruangan itu memang temaram kehijau-hijauan, tapi sama sekali tidak seperti bar. Cuma ada sebuah sofa, dan dari balik tirai tipis, saya lihat kamar mandi. Wah, ini jebakan, pikir saya, dan langsung berbalik ke arah pintu. Namun sudah ada tiga wanita secantik Gong Li mencegat saya di pintu itu. “No, no, no, no,” kata saya. Dan wanita-wanita ini dengan manjanya bertanya, “No? No? Why?” Pertanyaan mereka sangat logis. Sudah secantik itu, sudah sewangi itu, dengan bahu terbuka dan belahan rok yang dahsyat, kok masih tidak mau?

Si tukang cyclo tidak habis pikir, dia bawa lagi saya ke tempat lain. Dikiranya ini cuma soal selera. “Sudahlah,” kata saya, “balik ke hotel.” Saya tidak jadi minum bir, dan syukurlah tetap bisa tidur. Setelah peristiwa ini, setiap kali ada orang mendekati saya dengan wajah penuh arti, belum-belum saya sudah bilang, “No! No! No lady!”

Tapi, pada malam lain, seorang bocah yang berusaha menawarkan segala hal, mendesak, “You want lady?” Seperti biasa, saya jawab, “No!” Eh, masih disambung lagi, “You want boy?” Busyet. Memangnya ada tampang? Saya tertawa geli. Si bocah juga tertawa, rupanya dia malu sendiri.

Sambil berjalan sendirian menyusuri jalanan Saigon pada pukul 24.00 itu, saya tidak habis pikir, seorang bocah menawarkan yang begitu-begitu…

Bagai naga tergugah

Saya tadinya memasuki Vietnam dengan hati yang kosong, perasaan yang rawan, dan kepala yang butek karena segala macam tetek-bengek di tanah air. Saya berjalan dari kota ke kota, dari hotel ke hotel, dari warung ke warung, menyeberangi gunung dan ngarai tanpa berpikir, seperti memasuki sebuah dunia yang hanya merupakan gumpalan awan putih, sampai suatu ketika langkah saya tertahan di tepi sebuah sungai, sekian puluh kilometer di luar kota Hanoi.

Saya sedang duduk di tepi sungai, memperhatikan seorang penangkap ikan mengambil ikan besar yang menggelepar di jalanya, ketika ada gadis kecil mendekati saya dengan matanya yang berbinar. Entahlah apa yang dia katakan, tapi wajahnya yang murni membuat saya tersenyum padanya. Gadis kecil itu, seperti anak-anak Vietnam lain, mengenakan caping.

 

Ia tertawa-tawa sambil memegang lengan saya, mengelus-elusnya. Saya tatap matanya, saya tidak tahu persis mesti bicara dengan cara bagaimana, jadi saya pegang tangannya — dan sesuatu berdesir di dada saya. Ia tertawa lagi. Kemudian menjauh, dan berlari, menghilang dalam kerumunan orang-orang berjualan.

Seorang nenek tua yang menjual emping sebesar tampah tersenyum, sembari memandang saya dengan penuh pengertian. Nenek itu juga mengucapkan sesuatu, lantas menepuk pundak saya, kemudian pergi dan menghilang. Entah bagaimana perasaan saya saat itu. Saya cuma merasa, saya tidak perlu lagi khawatir dengan persoalan seberat apa pun.

Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimanakah caranya semua pertemuan ini diatur, bagaimana caranya orang-orang ini datang kepada saya dan menghidupkan kembali kepercayaan saya kepada hati manusia.

Di Taman Lenin, Hanoi, saya melihat seorang gadis remaja mengeja buku pelajaran bahasa Inggris. Saya perhatikan bagaimana matanya menancap ke buku itu, bagaimana bibirnya bergerak-gerak mengeja, dan betapa khusyuk ia di bangku itu, sementara sepedanya tersandar di sebuah pohon. Pemandangan ini, memang, mewakili semangat Vietnam — kita bagaikan melihat semangat kebangkitan.

Saya memotret suasana di tepi Sungai Saigon, di antara orang-orang latihan tai-chi pada pukul 05.00 pagi, dan melihat semangat kerja yang sangat militan. Arus pekerja mengalir diantar kapal penyeberangan, begitu pintu ferry terbuka, menghamburlah mereka memenuhi kota.

Embargo perdagangan AS sudah dicabut, dan hubungan diplomatik dipulihkan. Tentu bukan hanya ini yang membuat Vietnam bagaikan naga tergugah, melainkan terbukanya peluang untuk meraih mimpi-mimpi yang sudah lama diangankan, sembari mengusir mimpi buruk — tak ada seorang Vietnam pun bergairah jika diajak bicara tentang perang.

Masyarakat Vietnam bagaikan sejumlah pelari yang melakukan start di jalur ekonomi, tapi seolah-olah dengan jarak lomba yang cuma 100 meter. Lihatlah bagaimana setiap orang membangun hotel. Meski cuma memiliki rumah seluas rumah BTN tipe 21, tetap dibangun tujuh tingkat ke atas.

Ini menciptakan atmosfir yang ajaib. Kadang-kadang rumah tipe 21 yang tujuh tingkat itu terletak di tengah sawah.

Wanita berbusana menerawang

Kata orang, wanita Vietnam itu erotik. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Saya pernah melihat gambar-gambar cetak saring yang bagus dari wanita-wanita Vietnam, di sebuah art gallery di Ho Chi Minh City, gambar-gambar yang sungguh erotik dan sensual, namun yang membuatnya adalah seorang seniman Perancis.

Wanita Vietnam, agaknya, punya cara sendiri untuk menampilkan erotisisme. Ketika mula-mula datang, saya tidak ngeh, bahwa busana kaum wanita Vietnam itu banyak yang menerawang, sehingga ‘kapal terbang’ mereka ini banyak yang transparan, kelihatan samar-samar. Lama-lama saya sadari, bahwa memang kebanyakan wanita muda Vietnam, dari Selatan sampai Utara, bergaya busana seperti itu.

Namun yang paling belakangan saya sadari adalah: ternyata bukan hanya ‘kapal terbang’ di atas itu yang nampak menerawang, melainkan juga ‘kapal selam’ bagian bawah! Terutama jika mengenakan busana tradisional ao dai. Busyet. Saya kira tadinya itu tidak sengaja, tapi setelah melihat hal yang sama bahkan pada seragam lembaga-lembaga resmi seperti Vietnam Airlines, saya baru sadar bahwa itu cara wanita Vietnam menampilkan erotisisme.

Membayangkan sejumlah laki-laki Vietnam, saya tersenyum sendiri, kaum laki-laki Vietnam ini pasti berbahagia dengan wanita-wanita mereka.

Toh harus dicatat, bahwa wanita-wanita Vietnam ini tidak cuma bermodal sensualitas. Sudah menjadi legenda, betapa gerilya wanita Vietnam sama besar sumbangannya dengan kaum pria. Melihat lorong-lorong persembunyian mereka di Cu Chi, yang begitu sumpek dan panas, saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa bertahan, apalagi dengan beban tambahan seperti melahirkan bayi dan lain sebagainya.

Kaum wanita Vietnam ini pastilah wanita-wanita yang hebat, tanpa harus kehilangan kewanitaannya. Dengan cara lain saya mengenal hal ini, ketika seorang gadis kecil mendayung sampan bambu yang saya sewa untuk memasuki sebuah ceruk di tengah laut di Ha Long. Ia begitu kecil, wajahnya begitu manis di bawah caping, tapi ia mendayung dengan kukuh.

Hujan deras, laut bergelombang, saya pikir kami pasti akan tenggelam, namun kami berhasil mencapai gua yang menembus ke ceruk itu, yang segera menampakkan salah satu keajaiban alam.

“Beautiful?” Ia bertanya. “Like you,” jawab saya — dan ia tersenyum, sama sekali tidak malu-malu. Gadis itu hidup bersama keluarganya di atas sebuah perahu, yang nampak juga tertambat di lorong gua. Rasanya sampai sekarang saya masih harus selalu memahami kembali, bahwa cara hidup orang itu memang bermacam-macam. Juga di Vietnam.

Menjual Komik Indonesia – Paham dan Salah Paham

sumber: http://kompas.com/kompas-cetak/0011/05/SENI/paha18.htm

Menjual Komik Indonesia
Paham dan Salah Paham

Oleh Seno Gumira Ajidarma

<!–[if !vml]–><!–[endif]–> 

 

DALAM perbincangan tentang komik Indonesia mutakhir, bisa dipastikan terjumpai sejumlah pendapat seperti berikut: (1) Pasar komik Indonesia telah direbut oleh komik Jepang; (2) Komik Indonesia tersingkir dari pasar karena kualitasnya di bawah standar; (3) Komik Indonesia perlu diterbitkan kembali untuk merebut pasar. Ketiga pendapat ini menjadikan pasar sebagai acuan utama, dengan kata lain menjadi ukuran pertumbuhan kualitas dan kuantitas pertumbuhan komik Indonesia. Apa boleh buat, apabila kaum intelektual pun melecehkan komik, jangan salahkan para pedagang yang mengambil peranan. Dampaknya tampak dalam kasus berikut.

Genre komik silat adalah suatu genre yang subur pada dekade ’70-an. Dengan istilah subur, maka dimaksudkan bahwa komik silat berhasil sampai kepada pencapaian-pencapaian kultural menakjubkan, sekaligus berhasil menumbuhkan komunitas yang memenuhi pasar, melalui jaringan persewaan dan kios-kios komik. Di antara pencapaian yang mudah diingat adalah menjulangnya dua tokoh persilatan, yakni Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes Th dan Panji Tengkorak karya Hans Jaladara. Menurut pengakuan Ganes Th, Si Buta dari Gua Hantu yang selalu membawa Wanara di bahunya dilahirkan dari persilangan dua tokoh, yakni pendekar buta Zatoichi dari sinema Jepang dan Tarzan yang selalu ditemani monyet karya Edgar Rice Burroughs. Persilangan ajaib ini diterima komunitas komik sebagai pribadi yang mandiri. Bahkan pada gilirannya, pengembaraan Si Buta keliling Indonesia ini seperti berusaha mewujudkan wawasan Nusantara. Akan halnya Panji Tengkorak, mudah ditebak gagasan yang ditimba dari genre cerita silat dalam sastra populer, dan pengolahan Hans Jaladara pun menghasilkan pribadi mandiri yang dihormati komunitas komik Indonesia.

Popularitas kedua tokoh fiktif ini dibuktikan dengan transformasi keduanya ke layar perak. Bintang film Ratno Timoer mendapatkan momentum dalam kariernya lewat Si Buta dari Gua Hantu (Lilik Sudjio, 1970) dan tak kurang dari Shan Kuang Ling Fung diundang dari Hongkong untuk memerankan Dewi Bunga dalam film Panji Tengkorak (A. Harris, 1971). Memperhatikan komik Si Buta dan Panji Tengkorak, saya berpendapat bahwa memang ada kualitas dalam kandungan keduanya, yang tidak sekadar menghibur dan mengisi waktu luang para pembacanya, melainkan juga mencerahkan. Serial Si Buta maupun Panji Tengkorak terhampar sebagai suatu dunia yang sangat mungkin ditelusuri dalam tindak pembermaknaan. Bahwa kemudian film atau sinetron yang menyusulnya tak pernah mencapai kualitas setara, memang merupakan kegagalan dalam pembermaknaan tersebut. Demikianlah, kualitasnya sebagai komik telah diakui, tapi apa yang kemudian terjadi?

***

HANS Jaladara menggubah Panji Tengkorak pada 1968. Dengan pemahaman bahwa ia menimba gagasannya dari sumber literer, imajinasi visualnya tentang adegan-adegan pertarungan melahirkan gambar koreografi pertarungan silat yang artistik. Para petarung bergerak bagaikan penari, di mana bentuk dan gerakan tubuh ditata dalam komposisi harmonis. Hans tampak tidak mengacu kepada gerak baku ilmu beladiri mana pun, melainkan setia kepada imajinasinya tentang gerakan para pendekar. Namun, ketika ia menggambar ulang Panji Tengkorak pada 1985, tokoh Panji Tengkorak yang menggembleng diri di Lembah Alas Purba melakukan gerakan kung fu yang baku, seolah diambil dari buku petunjuk. Jelas, ini pengaruh membanjirnya film kung fu pada dekade ’80-an. Kostum bajak laut yang imajinatif pada gubahan 1968, berubah sekadar menjadi bajak laut Jepang pada 1985. Terjadi degradasi yang terdapat di segala aspek dalam komik Panji Tengkorak, seperti mengurangi teks, mengosongkan ruang gambar, yang dalam pengakuan Hans merupakan pesanan penerbit. Sebegitu jauh, dalam Panji Tengkorak 1985 ini penceritaan dramatik Hans, tragedi Panji Tengkorak sebagai antihero, masih terpertahankan.

Degradasi dan kehancuran yang sebenarnya terjadi pada gambar ulang yang ketiga. Panji Tengkorak digambar ulang pada 1996 dengan gaya yang mengadopsi sepenuhnya gaya komik Jepang. Mata yang membelalak dan bidang gambar yang bersih tanpa arsiran memenuhi ruang gambar. Teks, yang sahih saja berpanjang-panjang dalam novel grafis ini, hilang sama sekali. Hans Jaladara yang jago dalam detail dan imajinasi sebuah dunia fiktif, seperti pelukis yang dikebiri. Dalam “versi Jepang” ini, kita tidak temukan lagi adegan sang pendekar bercaping yang berjalan melalui lembah sunyi, rimbun, dan berkabut, yang memberi perasaan teduh. Tiada lagi gerobak eksotik yang berjalan lambat di tengah padang rumput atau tepi jurang. Tiada juga pertarungan dalam koreografi artistik, yang berlangsung dalam siluet kehitaman membayang. Tiada lagi drama. Ibarat kata Panji Tengkorak memang cuma tinggal tengkorak, tanpa daging, apalagi nyawa yang tersisa hanyalah sebuah kostum genit dari pertunjukan yang gagal. Semua ini datang dari pengaruh dan kuasa pasar.

Dengan kata lain, terjadi suatu kesalahan kategoris dalam pengertian “mengangkat kembali komik Indonesia”. Jelas, dalam kasus Panji Tengkorak 1996 hegemoni pasar telah memaksa Hans Jaladara (dan penerbit) menerima nilai-nilai yang berkuasa di pasar, yakni, ia menggubah ulang Panji Tengkorak menjadi komik Jepang yang sedang merajai pasaran. Dalam pengertian “mengangkat kembali” ini tidak ada nilai apa pun yang diangkat, karena Panji Tengkorak 1996 ini sama sekali bukan Panji Tengkorak 1968. Kegagalannya di pasar maupun sebagai karya komik boleh dikembalikan kepada kesalahan kategoris tersebut: orientasinya adalah menjual, bukan berkarya, karena kalau toh mau digambar ulang, bukankah itu bisa saja tidak usah seperti komik Jepang? Memperingati 50 tahun Superman, enam jilid pertama komik itu digambar ulang, bahkan oleh orang lain, sebagai suatu apresiasi budaya, bukan kepentingan komersial, tapi yang tentu saja kemudian dijual dengan kiat-kiat komersial. Setelah restorasi, Borobudur dijual sebagai The New Borobudur, tapi ia masih Borobudur yang tua bukan?

***

KESALAHAN kategoris ini masih berlangsung dalam penerbitan kembali Ramayana karya R. A. Kosasih, yang dibuat tahun ’60-an dan memang merupakan salah satu monumen kebudayaan Indonesia. Seperti diketahui, dalam hal Kosasih, kita harus melakukan pemisahan antara Kosasih I dan Kosasih II. Setelah menjadi klasik dengan karya-karya dari tahun ’60-an, Kosasih menggambar kembali komik wayang di atas kertas kalkir yang licin, karena timah cetak komik lama tak memenuhi syarat lagi, dengan hasil yang sangat berbeda: tokoh-tokoh wayang kehilangan kehalusannya. Artinya, jika orang bicara tentang kedahsyatan Kosasih dengan Mahabharata dan Ramayana, itu pasti mengacu kepada Kosasih I. Ketika gambar ulang pada tahun ’70-an muncul di pasar, keunikan Kosasih masih mampu mengambil potongan kue, namun ia tetap ditempatkan sebagai Kosasih II, yang bukan saja berbeda, melainkan sama sekali dianggap bukan Kosasih I. Bahwa tidak dilakukan cetak ulang karya-karya Kosasih I saja, itu merupakan dampak satu dari dua kemungkinan: (1) memang teknologi grafika belum memungkinkan reproduksi komik lama; (2) penerbitan kembali memang hanya berorientasi dagang dan bukan pendekatan kultural, karena dalam pendekatan kultural, orisinalitas adalah penting. Bukankah buku-buku sastra lama seperti Siti Nurbaya Marah Roesli, Salah Asuhan Abdoel Moeis, dan Belenggu Armijn Pane yang bahasanya kuno juga tidak ditulis ulang supaya menyesuaikan diri dengan pembaca masa kini? Hanya ejaannya yang disesuaikan.

Penerbitan mutakhir Ramayana oleh Elex Media Komputindo adalah karya Kosasih I, dan dengan segala persoalan yang telah diperbincangkan, penerbitan itu adalah suatu prestasi. Anak-anak Indonesia mempunyai peluang untuk sama beruntungnya dengan orangtua atau kakek-nenek mereka, yang tahu cerita Mahabharata dan Ramayana di luar kepala tanpa harus mengerti bahasa daerah, dengan asyik- dan ini merupakan aset Indonesia yang penting. Toh kesalahan kategoris itu tetap berakibat.

Pertama, dibandingkan dengan edisi yang terbit tahun ’60-an, kertas isi maupun kemasan sampul edisi 2000 ini terbilang murahan dan kodian. Ramayana menjadi sekadar produk dan bukan karya. Edisi tahun ’60-an dikenal dengan tatawarna sampul-sampulnya yang gemilang, justru karena berhasil memanfaatkan keterbatasan teknologi grafika masa itu. Saya tidak mengatakan tatawarna sampul yang sekarang buruk, namun, orientasi dagang dan bukan pendekatan budaya tentu telah menghilangkan sampul-sampul lama atas nama efisiensi dan penghematan, padahal, orisinalitas akan selalu merupakan nilai lebih. Pembundelan jilid-jilid itu juga telah menghilangkan halaman-halaman judul yang unik dan artistik, yang sebetulnya merupakan bagian dari historical memories bangsa Indonesia.

Kedua, telah berlangsung vandalisme tanpa disengaja. Dalam gambar-gambar Kosasih I yang merupakan karya klasik ini, untuk tidak mengatakannya masterpiece, ditambahkan huruf-huruf yang dimaksudkan sebagai bunyi dalam adegan-adegan yang diandaikan bersuara. Ambil contoh, gambar terkenal perkelahian Hanoman dan Hanggada dalam pembangunan Tambak Situ Bandalayu. Adegan pemukulan yang oleh Kosasih I digambarkan dengan garis-garis bintang, ditambah huruf DES. Demikianlah selanjutnya, untuk adegan terbang ditambah huruf SINGGG (huruf G-nya tiga!); untuk adegan benturan BRAKK; dan untuk adegan benda dilempar ZETTT dan GERR. Bahkan perlu ditambahkan suara Hanoman tertawa HA HA HA yang hanya mengotor-ngotori gambar; gambar monyet ditambah huruf NGUH NGUH NGUH; adegan Hanoman berhadapan dengan Hanggada ditambah huruf AYO MAJU, entah siapa yang ngomong.

Jelas, pengabdian kepada semangat dagang mengandaikan, bahwa semua tambahan itu akan “memperbaiki” karya Kosasih I, sehingga akan lebih terjual dibanding kalau tidak ditambahi apa-apa. Padahal, gambar Kosasih I tentang suara pukulan atau kesiut angin yang dimaksudnya, akan memberi kebebasan kepada pembaca, untuk menafsir bunyi seperti apa yang diakibatkan angin dan pukulan. Bukan hanya DES dan SINGGG yang teracu melulu kepada efek-efek bunyi dalam budaya Jawa. Kemampuan isomorfik, melihat gambar sebagai suara dengan cara bermiripan, sudah ada dalam diri manusia tanpa harus dijelas-jelaskan lagi. Biasanya, komik memang menuliskan bunyi, tapi Kosasih sebetulnya telah membebaskan pembaca dari penggiringan ke arah penafsiran budaya tertentu.

Perbuatan menambah huruf kepada gambar Kosasih I, meskipun seandainya disetujui Kosasih pribadi, merupakan suatu vandalisme. Bukan hanya karena sebuah karya budaya yang telah mengakar merupakan milik khalayak, tetapi juga bahwa semenjak postmodernisme, setiap bidang gambar seperti komik, derajatnya setara dengan karya seni manapun. Setiap bingkai gambar Kosasih I ini harus dihormati sama dengan setiap bingkai lukisan Affandi, Hendra Gunawan, maupun S.Soedjojono. Sehingga karena itu setiap tindak corat-coret di atas gambar dan lukisan itu merupakan suatu vandalisme, suatu perusakan yang secara etis merupakan kesalahan serius.

Demikianlah bagaimana kesalahan kategoris mengakibatkan suatu paham dan salah paham yang berakibat fatal dalam usaha “mengangkat kembali” komik Indonesia, karena orientasinya lebih sebagai barang dagangan dan bukan karya budaya. Jika diandaikan betapa karya budaya akan selalu kurang laku dibanding barang dagang, hal itu merupakan kesalahan kategoris yang lain lagi, karena karya budaya manapun pada dasarnya bisa dan boleh dijual dengan kiat-kiat komersial, tanpa mengorbankan karya budaya itu sendiri.

* Seno Gumira Ajidarma, wartawan

Kini Kita Bicara Tentang Kabut

KINI KITA BICARA TENTANG KABUT
  
tentang kabut (dimana kita cari seseorang diseberangnya)
sudah waktunya diperbincangkan kembali
--- tetes-tetes hujan, lembar-lembar daun
semuanya berakhir ke bumi
serpih-serpih dalam darah, nyawa yang resah
semuanya berakhir ke bumi
pijar-pijar lampu dan seribu doa
semuanya berakhir ke bumi
namun inikah jawabannya?
agaknya,
tentang kabut (dimana kita cari seseorang diseberangnya)
belum waktunya kita bicarakan
Yogya 1976

Clara atawa Wanita yang Diperkosa

CLARA atawa Wanita yang Diperkosa

oleh Seno Gumira Ajidarma

 
Barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang babi*) – tapi aku memakai seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya.

Di hadapanku duduk wanita itu. Rambutnya dicat merah. Coklat sebetulnya. Tapi orang-orang menyebutnya merah. Padahal merah punya arti lain bagiku. Sudah bertahun-tahun aku dicekoki pikiran bahwa orang-orang merah adalah orang-orang yang berbahaya.

Jadi, aku tidak perlu percaya kepada wanita ini, yang rambutnya sengaja dicat merah. Barangkali isi kepalanya juga merah. Barangkali hatinya juga merah. Siapa tahu? Aku tidak perlu percaya kepada kata- kata wanita ini, meski ceritanya sendiri dengan jujur kuakui lumayan mengharukan.

Dia bercerita dengan bahasa yang tidak mungkin dimengerti. Bukan karena bahasa Indonesianya kurang bagus, karena bahasa itu sangat dikuasainya, tapi karena apa yang dialami dan dirasakannya seolah- olah tidak terkalimatkan. Wajahnya yang cantik sarat dengan luka batin yang tak terbayangkan. Aku hampir-hampir terharu bahkan sebelum dia bercerita. Tidak pernah bisa kubayangkan bahwa manusia bisa mengalami beban penderitaan seberat itu justru karena dia lahir sebagai manusia. Ceritanya terpatah-patah. Kalimatnya tidak nyambung.

Kata-kata bertebaran tak terangkai sehingga aku harus menyambung-nyambungnya sendiri. Beban penderitaan macam apakah yang bisa dialami manusia sehingga membuatnya tak mampu berkata-kata?

Maka cerita yang akan kau dengar ini bukanlah kalimatnya melainkan kalimatku. Sudah bertahun-tahun aku bertugas sebagai pembuat laporan dan hampir semua laporan itu tidak pernah sama dengan kenyataan. Aku sudah menjadi sangat ahli menyulap kenyataan yang pahit menjadi menyenangkan, dan sebaliknya perbuatan yang sebetulnya patriotik menjadi subversif — pokoknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan.

Maka, kalau cuma menyambung kalimat yang terputus-putus karena penderitaan, bagiku sungguh pekerjaan yang ringan.

***

Api sudah berkobar di mana-mana ketika mobil BMW saya melaju di jalan tol. Saya menerima telepon dari rumah. ”Jangan pulang,” kata Mama. Dia bilang kompleks perumahan sudah dikepung, rumah-rumah tetangga sudah dijarah dan dibakar. Papa, Mama, Monica, dan Sinta, adik-adikku, terjebak di dalam rumah dan tidak bisa ke mana-mana. ”Jangan pulang, selamatkan diri kamu, pergilah langsung ke Cengkareng, terbang ke Singapore atau Hong Kong. Pokoknya ada tiket. Kamu selalu bawa paspor kan? Tinggalkan mobilnya di tempat parkir. Kalau terpaksa ke Sydney tidak apa-apa. Pokoknya selamat. Di sana kan ada Oom dan Tante,” kata Mama lagi.

Saya memang sering ke luar negeri belakangan ini. Pontang-panting mengurusi perusahaan Papa yang nyaris bangkrut karena utangnya dalam dolar tiba-tiba jadi bengkak. Saya ngotot untuk tidak mem-PHK para buruh. Selain kasihan, itu juga hanya akan menimbulkan kerusuhan. Papa marah-marah. ”Kita tidak punya uang untuk membayar buruh. Selain produksi sudah berhenti, yang beli pun kagak ada. Sekarang ini para buruh hidup dari subsidi perusahaan patungan kita di luar negeri. Mereka pun sudah mencak-mencak profitnya dicomot. Sampai kapan mereka sudi membayar orang-orang yang praktis sudah tidak bekerja?”

Saya masih ngotot. Jadi Papa putuskan sayalah yang harus mengusahakan supaya profit perusahaan patungan kami di Hong Kong, Beijing, dan Macao diperbesar. Tetesannya lumayan untuk menghidupi para buruh, meskipun produksi kami sudah berhenti. Itu sebabnya saya sering mondar-mandir ke luar negeri dan selalu ada paspor di tas saya.

Tapi, kenapa saya harus lari sekarang, sementara keluarga saya terjebak seperti tikus di rumahnya sendiri? Saya melaju lewat jalan tol supaya cepat sampai di rumah. Saya memang mendengar banyak kerusuhan belakangan ini. Demonstrasi mahasiswa dibilang huru-hara. Terus terang saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Saya terlalu tenggelam dalam urusan bisnis. Koran cuma saya baca judul-judulnya. Itu pun maknanya tidak pernah jelas. Namun, setidaknya saya yakin pasti bukan mahasiswa yang membakar dan menjarah kompleks perumahan, perkotaan, dan mobil-mobil yang lewat. Bahkan bukan mahasiswa pun sebenarnya tidak ada urusan membakar-bakari rumah orang kalau tidak ada yang sengaja membakar-bakar.

Saya tancap gas. BMW melaju seperti terbang. Di kiri kanan jalan terlihat api menerangi malam. Jalan tol itu sepi, BMW terbang sampai 120 kilometer per jam. Hanya dalam sepuluh menit saya akan segera tiba di rumah. Tapi, di ujung itu saya lihat segerombolan orang. Sukar sekali menghentikan mobil. Apakah saya harus menabraknya? Pejalan kaki tidak dibenarkan berdiri di tengah jalan tol, tapi saya tidak ingin menabraknya. Saya menginjak rem, tidak langsung, karena mobil akan berguling-guling. Sedikit-sedikit saya mengerem, dan toh roda yang menggesek aspal semen itu tetap mengeluarkan bunyi Ciiiiiiitttt! Yang sering dianggap sebagai petanda betapa para pemilik mobil sangat jumawa.

Setelah berhenti, saya lihat ada sekitar 25 orang. Semuanya laki-laki.

”Buka jendela,” kata seseorang.

Saya buka jendela.

”Cina!” ”Cina!” Mereka berteriak seperti menemukan intan berlian.

Belum sempat berpikir, kaca depan BMW itu sudah hancur karena gebukan. Aduh, benarkah sebegitu bencinya orang-orang ini kepada Cina? Saya memang keturunan Cina, tapi apa salah saya dengan lahir sebagai Cina?

”Saya orang Indonesia,” kata saya dengan gemetar.

Braakk! Kap mobil digebuk. Seseorang menarik saya dengan kasar lewat jendela. Saya dilempar seperti karung dan terhempas di jalan tol.

”Sialan! Mata lu sipit begitu ngaku-ngaku orang Indonesia!” Pipi saya menempel di permukaan bergurat jalan tol. Saya melihat kaki-kaki lusuh dan berdaki yang mengenakan sandal jepit, sebagian tidak beralas kaki, hanya satu yang memakai sepatu. Kaki-kaki mereka berdaki dan penuh dengan lumpur yang sudah mengering.

”Berdiri!” Saya berdiri, hampir jatuh karena sepatu uleg saya yang tinggi. Saya melihat seseorang melongok ke dalam mobil. Membuka-buka laci dashboard, lantas mengambil tas saya. Isinya ditumpahkan ke jalan. Berjatuhanlah dompet, bedak, cermin, sikat alis, sikat bulu mata, lipstik, HP, dan bekas tiket bioskop yang saya pakai nonton bersama pacar saya kemarin. Dompetnya segera diambil, uangnya langsung dibagi-bagi setengah rebutan. Sejuta rupiah uang cash amblas dalam sekejap. Tidak apa-apa. Mobil masih bisa dikendarai dengan kaca pecah, dan saya tidak perlu uang cash. Di dalam dompet ada foto pacar saya. Orang yang mengambil dompet tadi mengeluarkan foto itu, lantas mendekati saya.

”Kamu pernah sama dia?”

Saya diam saja. Apa pun maksudnya saya tidak perlu menjawabnya.

Plak! Saya ditampar. Bibir saya perih. Barangkali pecah.

”Jawab! Pernah kan? Cina-cina kan tidak punya agama!” Saya tidak perlu menjawab.

Bug! Saya ditempeleng sampai jatuh.

Seseorang yang lain ikut melongok foto itu.

”Huh! Pacarnya orang Jawa!” Saya teringat pacar saya. Saya tidak pernah peduli dia Jawa atau Cina, saya cuma tahu cinta.

”Periksa! Masih perawan atau tidak dia!” Tangan saya secara refleks bergerak memegang rok span saya, tapi tangan saya tidak bisa bergerak. Ternyata sudah ada dua orang yang masing-masing memegangi tangan kanan dan tangan kiri saya. Terasa rok saya ditarik. Saya menyepak-nyepak. Lagi-lagi dua pasang tangan menangkap kedua kaki saya.

”Aaaahhh! Tolongngng!” Saya menjerit. Mulut saya dibungkam telapak kaki berdaki. Wajah orang yang menginjak mulut saya itu nampak dingin sekali. Berpuluh-puluh tangan menggerayangi dan meremas-remas tubuh saya.

”Diem lu Cina!” Rok saya sudah lolos….

***

Wanita itu menangis. Mestinya aku terharu. Mestinya. Setidaknya aku bisa terharu kalau membaca roman picisan yang dijual di pinggir jalan. Tapi, menjadi terharu tidak baik untuk seorang petugas seperti aku. Aku harus mencatat dengan rinci, objektif, deskriptif, masih ditambah mencari tahu jangan-jangan ada maksud lain di belakangnya. Aku tidak boleh langsung percaya, aku harus curiga, sibuk menduga kemungkinan, sibuk menjebak, memancing, dan membuatnya lelah supaya cepat mengaku apa maksudnya yang sebenarnya. Jangan terlalu cepat percaya kepada perasaan. Perasaan bisa menipu. Perasaan itu subjektif. Sedangkan aku bukan subjek di sini. Aku cuma alat. Aku cuma robot. Taik kucing dengan hati nurani. Aku hanya petugas yang membuat laporan, dan sebuah laporan harus sangat terinci bukan?

”Setelah celana dalam kamu dicopot, apa yang terjadi?”

Dia menangis lagi. Tapi masih bercerita dengan terputus-putus. Ternyata susah sekali menyambung-nyambung cerita wanita ini. Bukan hanya menangis. Kadang-kadang dia pingsan. Apa boleh buat, aku harus terus bertanya.

”Saya harus tahu apa yang terjadi setelah celana dalam dicopot, kalau kamu tidak bilang, apa yang harus saya tulis dalam laporan?”

***

Saya tidak tahu berapa lama saya pingsan. Waktu saya membuka mata, saya hanya melihat bintang-bintang. Di tengah semesta yang begini luas, siapa yang peduli kepada nasib saya? Saya masih terkapar di jalan tol. Angin malam yang basah bertiup membawa bau sangit. Saya menengok dan melihat BMW saya sudah terbakar. Rasanya baru sekarang saya melihat api dengan keindahan yang hanya mewakili bencana. Isi tas saya masih berantakan seperti semula. Saya melihat lampu HP saya berkedip-kedip cepat, tanda ada seseorang meninggalkan pesan.

Saya mau beranjak, tapi tiba-tiba selangkangan saya terasa sangat perih. Bagaikan ada tombak dihunjamkan di antara kedua paha saya. O, betapa pedihnya hati saya tidak bisa saya ungkapkan. Saya tidak punya kata-kata untuk itu. Saya tidak punya bahasa. Saya hanya tahu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk urusan bisnis. Kata orang, bahasa Cina sangat kaya dalam hal menggambarkan perasaan, tapi saya tidak bisa bahasa Cina sama sekali dari dialek manapun, kecuali yang ada hubungannya dengan harga-harga. Saya cuma seorang wanita Cina yang lahir di Jakarta dan sejak kecil tenggelam dalam urusan dagang. Saya bukan ahli bahasa, bukan pula penyair. Saya tidak tahu apakah di dalam kamus besar Bahasa Indonesia ada kata yang bisa mengungkapkan rasa sakit, rasa terhina, rasa pahit, dan rasa terlecehkan yang dialami seorang wanita yang diperkosa bergiliran oleh banyak orang –karena dia seorang wanita Cina. Sedangkan pacar saya saja begitu hati-hati bahkan hanya untuk mencium bibir saya. Selangkangan saya sakit, tapi saya tahu itu akan segera sembuh. Luka hati saya, apakah harus saya bawa sampai mati? Siapakah kiranya yang akan membela kami? Benarkah kami dilahirkan hanya untuk dibenci?

Saya tidak bisa bergerak sampai seorang ibu tua datang terbungkuk-bungkuk. Dia segera menutupi tubuh saya dengan kain.

”Maafkan anak-anak kami,” katanya, ”mereka memang benci dengan Cina.”

Saya tidak sempat memikirkan arti kalimat itu. Saya bungkus tubuh saya dengan kain, dan tertatih-tatih menuju tempat di mana isi tas saya berserakan. Saya ambil HP saya, dan saya dengar pesan Papa: ”Kalau kamu dengar pesan ini, mudah-mudahan kamu sudah sampai di Hong Kong, Sydney, atau paling tidak Singapore. Tabahkanlah hatimu Clara. Kedua adikmu, Monica dan Sinta, telah dilempar ke dalam api setelah diperkosa. Mama juga diperkosa, lantas bunuh diri, melompat dari lantai empat. Barangkali Papa akan menyusul juga. Papa tidak tahu apakah hidup ini masih berguna. Rasanya Papa ingin mati saja.”

***

Dia menangis lagi. Tanpa airmata. Kemudian pingsan. Kudiamkan saja dia tergeletak di kursi. Ia hanya mengenakan kain. Seorang ibu tua yang rumahnya berada di kampung di tepi jalan tol telah menolongnya. ”Dia terkapar telanjang di tepi jalan,” kata ibu tua itu. Aku sudah melaporkan soal ini kepada pimpinanku. Lewat telepon dia berteriak, ”Satu lagi! Hari ini banyak sekali perkara beginian.

Tahan dia di situ. Jangan sampai ada yang tahu. Terutama jangan sampai ketahuan wartawan dan LSM!” Pesuruh kantor membaukan PPO ke hidungnya. Matanya melek kembali.

”Jadi kamu mau bilang kamu itu diperkosa?”

Dia menatapku.

”Padahal kamu bilang tadi, kamu langsung pingsan setelah … apa itu … rok kamu dicopot?”

Dia menatapku dengan wajah tak percaya.

”Bagaimana bisa dibuktikan bahwa banyak orang memperkosa kamu?”

Kulihat di matanya suatu perasaan yang tidak mungkin dibahasakan. Bibirnya menganga. Memang pecah karena terpukul. Tapi itu bukan berarti wanita ini tidak menarik. Pastilah dia seorang wanita yang kaya. Mobilnya saja BMW. Seorang wanita eksekutif. Aku juga ingin kaya, tapi meskipun sudah memeras dan menerima sogokan di sana-sini, tetap begini-begini saja dan tidak pernah bisa kaya. Naik BMW saja aku belum pernah. Aku memang punya sentimen kepada orang-orang kaya –apalagi kalau dia Cina. Aku benci sekali. Yeah. Kainnya melorot, dan tampaklah bahunya yang putih….

”Jangan terlalu mudah menyebarkan isyu diperkosa. Perkosaan itu paling sulit dibuktikan. Salah-salah kamu dianggap menyebarkan fitnah.”

Di matanya kemarahan terpancar sekejap. Bahwa dia punya nyali untuk bercerita, memang menunjukkan dia wanita yang tegar.

”Saya mau pulang,” ia berdiri. Ia hanya mengenakan kain yang menggantung di bahu. Kain itu panjangnya tanggung, kakinya yang begitu putih dan mulus nampak telanjang.

”Kamu tidur saja di situ. Di luar masih rusuh, toko-toko dibakar, dan banyak perempuan Cina diperkosa.”

”Tidak, saya mau pulang.”

”Siapa mau mengantar kamu dalam kerusuhan begini. Apa kamu mau pulang jalan kaki seperti itu? Sedangkan pos polisi saja di mana-mana dibakar.”

Dia diam saja.

”Tidur di situ,” kutunjuk sebuah bangku panjang, ”besok pagi kamu boleh pulang.”

Kulihat dia melangkah ke sana. Dalam cahaya lampu, lekuk tubuhnya nampak menerawang. Dia sungguh-sungguh cantik dan menarik, meskipun rambutnya dicat warna merah. Rasanya aku juga ingin memperkosanya. Sudah kubilang tadi, barangkali aku seorang anjing, barangkali aku seorang babi — tapi aku mengenakan seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya. Masalahnya: menurut ilmu hewan, katanya binatang pun tidak pernah memperkosa.

Tentu saja tentang yang satu ini tidak perlu kulaporkan kepada pimpinan. Hanya kepadamu aku bisa bercerita dengan jujur, tapi dengan catatan — semua ini rahasia. Jadi, jangan bilang-bilang.

 

Jakarta, 26 Juni 1998

*) Menggunakan istilah dari novel Saman, “aku seorang burung

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 365 pengikut lainnya.