SOEHARTO dan PETRUS (Penembak Misterius)

SOEHARTO dan PETRUS (Penembak Misterius)

            

“Sejarah dipelajari bukan hanya untuk ketepatan data, melainkan juga untuk memetik makna. Sebuah otobiografi bisa bermakna dengan cara…”

SEBUAH autobiografi secara politis boleh dibilang merupakan usaha legitimasi. Seolah-olah penulisnya berujar, “Inilah yang sebenarnya saya lakukan dan tidak ada yang lebih benar daripada ini.” Tidak aneh jika kata-kata seperti meluruskan sejarah sering diumbar untuk mengiringi penerbitan buku autobiografi seorang tokoh. Ini berarti, kalau ada seribu tokoh, akan ada seribu pelurusan dan seribu kebenaran. Mana yang betul-betul benar? Ilmu sejarah mempunyai metode yang bisa diperiksa bersama, dan syukurlah seiring dengan itu beribu-ribu autobiografi bisa diuji kembali. Uniknya, sebuah autobiografi ternyata bisa menjadi sumbangan terhadap penulisan sejarah lewat pembuktian yang merupakan kebalikan dari maksud penerbitannya.  

Periksalah, misalnya, Soeharto dengan autobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), yang ditulis Ramadhan K.H., khususnya pada bab 69: Yang Disebut Petrus dan Hukuman Mati. Seperti diketahui, petrus adalah singkatan dari penembak misterius. Istilah ini berhubungan dengan suatu masa. Saat itu hampir setiap hari, antara tahun 1983 dan 1984, ditemukan mayat bertato dengan luka tembak. Mereka ada di pasar, sawah, dan juga jalan raya. Menurut laporan sebuah majalah berita, korban mencapai angka 10.000. Misterius tentu berarti penembaknya tidak diketahui. Tapi, apa kata Soeharto? “Kejadian itu dikatakan misterius juga tidak.”  

Mayat-mayat itu ketika masih hidup dianggap sebagai penjahat, para gali, dan kaum kecu yang dalam sejarah memang selalu dipinggirkan, walau secara taktis juga sering dimanfaatkan. Pada saat penembak misterius merajalela, para cendekiawan, politisi, dan pakar hukum angkat bicara. Intinya, mereka menuding bahwa hukuman tanpa pengadilan adalah kesalahan serius. Meski begitu, menurut Soeharto, “Dia tidak mengerti masalah yang sebenarnya.” Mungkin tidak terlalu keliru untuk menafsir bahwa yang dimaksud Soeharto sebagai orang yang mengerti masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri. Seperti apakah itu?  

Dalam satu paragraf yang terdiri atas 19 baris, Soeharto menguraikan argumen bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kekerasan. Istilah Soeharto: treatment. Ikuti caranya berbahasa dan caranya mengambil kesimpulan: “Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan.. dor.. dor.. begitu saja. Bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak.” Paragraf ini segera disambung paragraf 5 baris: “Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu.” Lantas, Soeharto memaparkan lagi: “Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu.”  

Jadi, menurut pengakuannya, Soeharto sangat jijik terhadap kejahatan. Namun, apakah karena shock therapy yang dipelajarinya entah dari mana itu kejahatan memang mereda? Tanyakanlah kepada sindikat Kapak Merah. Tentang pendapat Soeharto atas kaum gali itu sendiri terdapat uraian menarik: “Mereka tidak hanya melanggar hukum, tetapi sudah melebihi batas perikemanusiaan.” Yang belakangan ini diperinci lagi: “Orang tua sudah dirampas pelbagai miliknya, kemudian masih dibunuh.” Atau juga: “….ada perempuan yang diambil kekayaannya dan istri orang lain itu masih juga diperkosa orang jahat itu di depan suaminya lagi. Itu sudah keterlaluan!” Perhatikan opini Soeharto berikut: “Kalau mengambil, ya mengambillah, tetapi jangan lantas membunuh.”  

Nah, bolehkah kita menarik kesimpulan bahwa, bagi Soeharto, mengambil segala sesuatu yang bukan haknya, asal tidak keterlaluan, agaknya masih bisa ditoleransi? Kalau tidak, ia boleh dibunuh? Setidaknya, dari bab 69 ini kita mendapat beberapa ketegasan. Pertama, Soeharto mengetahui kehadiran penembak misterius. Kedua, Soeharto setuju dengan tindakan mereka membantai apa yang disebutnya “orang jahat”. Ketiga, Soeharto berpendapat bahwa kekerasan hanya bisa diatasi dengan kekerasan. Dan keempat, bagi Soeharto, “kejahatan yang menjijikkan” merupakan kejahatan yang tidak layak mendapat toleransi. Ada dikotomi kejahatan dalam pemikiran Soeharto, yakni kejahatan “menjijikkan di luar kemanusiaan” di satu sisi dan kejahatan “tidak menjijikkan di dalam kemanusiaan” di sisi lain. Kejahatan pertama boleh dibunuh, sedang kejahatan kedua tidak usah dibunuh.   Dalam pengantar penerbit dituliskan, “Apa yang bisa dipelajari dari autobiografi ini adalah bagaimana anak seorang petani miskin dapat mencapai jenjang kepemimpinan tertinggi di negeri ini. Dan, semua itu dilakukan dengan kejujuran, ketekunan, dan ketabahan dalam menghadapi tantangan hidup ini. Semoga segala sikap dan tindakan dan cara kepemimpinan beliau dapat menjadi contoh dan teladan bagi generasi muda Indonesia yang akan mengemudikan bahtera negara di masa yang akan datang.”  

Sejarah dipelajari bukan hanya untuk ketepatan data, melainkan juga untuk memetik makna. Sebuah autobiografi bisa bermakna dengan cara yang berbeda sama sekali dari maksud dan tujuan penulisannya. Di sini sebuah legitimasi tersumbangkan sebagai dekonstruksi. Selamat.  

 

Saksi Mata

Saksi Mata

 

Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba  udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.

Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu daris egala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas.            

“Terlalu!”           

“Edan!”          

“Sadis!”           

Bapak Hakim Yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk-ngetukkan palunya. dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan.           

“Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!”           

Syukurlah para hadirin bisa ditenangkan. Mereka juga ingin segera tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.            

“Saudara Saksi Mata.”           

“Saya Pak.”           

 “Di manakah mata saudara?”           

 “Diambil orang Pak.”           

“Diambil?”         

“Saya Pak.”           

“Maksudnya dioperasi?”           

“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”           

“Haa? Pakai sendok? Kenapa?”           

“Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.” (masakan khas Surakarta sop tulang belulang kambing-red)           

“Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang?”           

“Yang mengambil mata saya Pak.”           

“Tentu saja, bego! Maksud saya siapa yang mengambil mata saudara pakai sendok?”           

“Dia tidak bilang siapa namanya Pak.”           

“Saudara tidak tanya bego?”           

“Tidak Pak.”           

“Dengar baik-baik bego, maksud saya seperti apa rupa orang itu? Sebelum amta saudara diambil dengan sendok yang katanya untuk dibuat tengkleng atau campuran sop kambing barangkali, mata saudara masih ada di tempatnya kan?”           

“Saya Pak.”           

“Jadi saudara melihat   seperti apa orangnya kan?”           

“Saya Pak.”           

“Coba ceritakan apa yang dilihat mata saudara yangs ekarang sudah dimakan para penggemar tengkleng itu.”           

Saksi Mata itu diam sejenak. Segenap pengunjung di ruang pengadilan menahan napas.            

“Ada beberapa orang Pak.”           

“Berapa?”           

“Lima Pak.”            

“Seperti apa mereka?”           

“Saya tidak sempat meneliti Pak, habis mata saya keburu diambil sih.”            

“Masih ingat pakaiannya barangkali?”           

“Yang jelas mereka berseragam Pak.”           

Ruang pengadilan jadi riuh kembali seperti dengungan seribu lebah.

***           

Hakim mengetuk-ngetukkan palunya. Suara lebah menghilang.             

“Seragam tentara maksudnya?”           

“Bukan Pak.”           

“Polisi?”           

“Bukan juga Pak.”           

“Hansip barangkali?”           

Itu lho Pak, yang hitam-hitam seperti di film.”           

“Mukanya ditutupi?”           

“Iya Pak, cuma kelihatan matanya.”           

“Aaaah, saya tahu! Ninja kan?”           

“Nah, itu ninja! Mereka itulah yang mengambil mata saya dengan sendok!”           

Lagi-lagi hadirin ribut dan saling bergunjing seperti di warung kopi. Lagi-lagi Bapak Hakim Yang Mulia mesti mengetuk-ngetukkan palu supaya orang banyak itu menjadi tenang.           

Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman.           

Tapi orang-orang tidak melihatnya.           

“Saudara Saksi Mata.”            

“Saya Pak.”           

“Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?”           

“Mereka berlima Pak.”           

“Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?”           

“Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.”           

Orang-orang tertawa. Hakim mengetuk lagi dengan marah.           

“Coba tenang sedikit! Ini ruang pengadilan, bukan Srimulat!”

***           

Ruang pengadilan itu terasa sumpek. Orang-orang berkeringat, namun mereka tak mau beranjak. Darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir. Hakim meneruskan pertanyaannya.            

“Saudara Saksi Mata tadi mengatakan terjadi di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya begini cepat seperti dalam mimpi?”           

“Bukan Pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadinya dalam mimpi, itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya.”           

“Saudara serius? Jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkannya di bawah sumpah.”            “Sungguh mati saya serius Pak, saya diam saja karena saya pikir toh terjadinya cuma dalam mimpi ini. Saya malah ketawa-ketawa waktu mereka bilang mau dibikin tengkleng.”           

“Jadi, menurut saudara Saksi Mata segenap pengambilan mata itu hanya terjadi dalam mimpi?”           

“Bukan hanya menurut saya Pak, memang terjadinya di dalam mimpi.”           

“Saudara kan bisa saja gila.”           

“Lho ini bisa dibuktikan Pak, banyak saksi mata yang tahu kalau sepanjang malam saya cuma tidur Pak, dan selama tidur tidak ada orang mengganggu saya Pak.”           

“Jadi terjadinya pasti di dalam mimpi ya?”           

“Saya Pak.”           

“Tapi waktu terbangun mata saudara sudah tidak ada?”           

“Betul Pak. Itu yang saya bingung. Kejadiannya di dalam mimpi tapi waktu bangun kok ternyata betul-betul ya?”           

Hakim menggeleng-gelengkan kepala tidak bisa mengerti.           

“Absurd,” gumamnya.           

Darah yang mengalir telah sampai ke jalan raya.

***           

Apakah Saksi Mata yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi? Tentu masih bisa, pikir Bapak Hakim Yang Mulia, bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya?           

“Saudara Saksi Mata.”           

“Saya Pak.”           

 “Apakah saudara masih bisa bersaksi?”           

“Saya siap Pak, itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata Pak.”           

 “Saudara Saksi Mata masih ingat semua kejadian itu meskipun sudah tidak bermata lagi?”           

“Saya Pak.”           

“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”           

“Saya Pak.”           

“Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?”           

“Saya Pak.”           

“Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satupun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.”           

“Saya Pak.”           

“Sekali lagi, apakah saudara Saksi Mata masih bersedia bersaksi?”           

“Saya Pak.”           

 “Kenapa?”          

“Demi keadilan dan kebenaran Pak.”           

Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel.            

Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya.           

 “Hussss! Jangan kampanye di sini!” Ia berkata dengan tegas.            

 “Sidang hari ini ditunda, dimulai lagi besok untuk mendengar kesaksian saudara Saksi mata yang sudah tidak punya mata lagi!”           

Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klik-klik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah.

***           

Dalam perjalanan pulang, Bapak Hakin Yang Mulia berkata pada sopirnya,“Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?”           

Sopir itu ingin menjawab dengan sesuatu yang menghilangkan rasa bersalah, semacam kalimat, “Keadilan tidak buta.”* Namun Bapak Hakim Yang Mulia telah tertidur dalam kemacetan jalan yang menjengkelkan.           

Darah masih mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya samapi kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun, ajaib, tiada seorang pun melihatnya.             Ketika hari sudah menjadi malam, saksi mata yang sudah tidak bermata itu berdoa sebelum tidur. Ia berdoa agar kehidupan yang fana ini baik-baik saja adanya, agar segala sesuatu berjalan dengan mulus dan semua orang berbahagia.

            Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut.

 

 

Jakarta, 4 Maret 1992

 

 

 

Senja di Kaca Spion

Senja di Kaca Spion

 

Senja semburat dengan dahsyat di kaca spion. Sangat menyedihkan betapa
di jalan tol aku harus melaju secepat kilat ke arah yang berlawanan.
Di kaca spion, tengah, kanan, maupun kiri, tiga senja dengan seketika
memberikan pemandangan langit yang semburat jingga, tentu jingga yang
kemerah-merahan seperti api berkobar yang berkehendak membakar meski
apalah yang mau dibakar selain menyepuh mega-mega menjadikannya
bersemu jingga bagaikan kapas semarak yang menawan dan menyandera
perasaan. Senja yang rawan, senja yang sendu, ketika tampak dari kaca
spion ketika melaju di jalan tol hanya berarti harus kutinggalkan
secepat kilat, suka tak suka, seperti kenangan yang berkelebat tanpa
kesempatan untuk kembali menjadi impian.Aku dalam mobilku melaju ke depan dengan kecepatan tinggi, sangat
tinggi, terlalu tinggi, sehingga awan hitam yang bergulung-gulung di
hadapanku tampak menyergap dan menelanku dengan begitu cepat, begitu
beda dengan awan gemawan senja di kaca spion yang semarak
keemas-emasan, gemilang tiada tertahankan, yang meski dengan pasti
akan berubah menjadi malam yang kelam tampak bertahan tampak berkutat
meraih keabadian dalam kefanaan. Di dalam satu dunia yang sama,
mengapa suatu hal bisa begitu berbeda? Di belakangku senja terindah
yang akan segera menghilang, di depanku hanya awan hitam bergulung
mengerikan bagai janji sepenuhnya betapa dunia memang berpeluang
mengalami bencana tak tertahankan.

Di jalan tol, aku tak bisa berbalik bahkan tak juga bisa menoleh ke
belakang. Aku hanya bisa melaju terus menerus melaju dan memang hanya
melaju selaju-lajunya kelajuan dalam kecepatan yang terlaju ketika di
hadapanku awan hitam yang bergulung-gulung itu bagaikan merendah dan
bersiap menerkam meski dalam kenyataannya memang hanya di
sana saja
awan hitam itu bergulung-gulung dan terus bergulung-gulung sungguh
begitu matang untuk setiap saat menggulung.

Itulah yang membuat aku meluncur dengan perasaan rawan. Aku melaju di
jalan tol dengan kecepatan tinggi bagaikan menuju ke sebuah dunia yang
dengan pasti merupakan kegelapan sementara di kaca spion kusaksikan
tiga senja dengan tiga matahari terbenam di ujung jalan tol di balik
pegunungan yang menyemburatkan cahaya keemasan ke seantero langit
seantero bumi memantik kesenduan memantik keharuan yang menenggelamkan
perasaan dalam kedukaan yang mau tak mau harus ditahan.

Belum tentu sekali lagi dalam seumur hidupku aku akan mendapatkan tiga
senja sekaligus melalui kaca spion di tengah, kiri, dan kanan dalam
mobilku yang meluncur dan melaju meninggalkannya dengan tiga matahari
yang bagaikan lempengan besi merah membara membenam perlahan-lahan
tapi pasti meski tetap perlahan tapi meski tetap sepasti sepelan
perputaran bumi. Tiga senja dengan tiga matahari membenam
menyemburatkan langit di tiga kaca spion, hanya dari kaca spion
mobilku dan hanya dengan meninggalkannya ke depan, terus menerus
melaju ke depan, maka aku akan bisa melihat ketiga senja dengan ketiga
matahari itu.

Meluncur di jalan tol tanpa ujung, aku bahkan tidak memiliki
kemungkinan untuk kembali, sepanjang hari sepanjang zaman aku menembus
ruang dalam waktu yang berkelebatan. Di manakah ujung jalan tol ini?
Aku tak tahu menahu dan sungguh tiada tahu menahu hanya bisa meluncur
dan menuju untuk terus menerus menuju dan melaju ke depan tanpa
halangan. Dari manakah aku datang dan akan menuju ke mana? Aku tak
tahu dan tak akan pernah tahu karena aku hanya bisa meluncur di jalan
tol yang panjang tanpa ujung tanpa pernah tahu akan berakhir entah
kapan dan di mana.

*

Pada tiga kaca spion tiga matahari terbenam perlahan di balik
pegunungan. Pada punggung pegunungan itu orang-orang berjalan sebagai
sosok-sosok kehitaman dengan kepala menunduk melangkah perlahan-lahan.
Sepuluh orang, duapuluh orang, mungkin limapuluh orang, berjalan
menuruti langkah kaki dengan kepala tertunduk mengikuti jalan setapak
dalam perjalanan panjang entah dari mana menuju entah ke mana dalam
kekelaman senja di atas pegunungan. Apabila mereka kemudian berjalan
beriringan di punggung pegunungan naik turun dataran dengan latar
belakang lempengan matahari merah membara maka tampaklah sosok-sosok
yang berjalan dengan kepala tertunduk itu melintas dalam perjalanannya
bagai melintasi dunia. Pada kaca spion aku tak akan pernah tahu
sosok-sosok hitam yang melangkah perlahan dengan kepala itu datang
dari mana dan menuju entah ke mana. Siapalah yang akan tahu?

Segalanya terlihat di kaca spion, tetapi hidup tidak bisa dibalik,
sosok-sosok melangkah, aku meluncur, matahari terbenam, cahayanya yang
keemasan semburat membakar langit, menyala berkobar-kobar dengan lidah
api yang menjilati angkasa. Segalanya memesona di kaca spion dan
segalanya tergandakan di kaca spion, tetapi aku sedang meninggalkannya
dengan kecepatan yang tidak tertampung oleh speedometer. Dunia serasa
begitu tenang dalam kecepatan terbangnya malaikat yang hening. Aku
meluncur ke depan, tetapi mataku menyaksikan senja pada tiga kaca spion…

Aku masih meluncur awan masih bergulung tetapi langit telah semakin
gelap ketika tiga senja di tiga kaca spion itu tampak semakin
kemerah-merahan. Aku masih menyaksikan ketiganya sekaligus ketika tiga
matahari merah membara masih terbenam perlahan-lahan, ketika
kuperhatikan ternyata pada spion sebelah kanan orang-orang yang
berjalan tertunduk sebagai sosok-sosok hitam itu telah menghilang…

Pergi ke manakah mereka?

Ternyata beberapa orang yang berjalan paling belakang masih tampak
berjalan dengan kepala tertunduk pada pemandangan senja di kaca spion
yang tengah, yang ketika menghilang kemudian tampak pada kaca spion
yang kiri!

Pada kaca spion yang kiri kemudian kusaksikan rombongan sosok-sosok
hitam yang berjalan dengan kepala tertunduk di atas pegunungan yang
juga menghitam dalam latar belakang lempengan matahari raksasa yang
merah membara dan sedang turun perlahan-lahan. Mereka berjalan dengan
pelan, tetapi pasti, dan satu persatu menghilang keluar dari kaca spion.

Apakah mereka sebenarnya masih di
sana? Sayangnya aku tidak bisa
menoleh ke belakang. Aku meluncur dengan kecepatan yang tak terukur
lagi, sebaiknya tentu aku tidak menoleh sama sekali ke belakang, meski
kecepatan yang tak terukur itu telah memberikan keheningan yang begitu
heningnya sampai terdengar berdenting.

Namun dengan menatap ke depan, kedua mataku masih mampu meliputi
ketiga kaca spion sekaligus, tempat aku telah melihat ketiga matahari
senja sedang turun perlahan-lahan. Tiga matahari senja bagaikan tiga
lempengan raksasa yang merah membara turun perlahan-lahan ke balik
pegunungan yang punggungnya tampak naik turun panjang pendek curam
landai dalam latar langit yang kemerah-merahan.

Ternyata bahwa matahari pada kaca spion yang kanan telah lebih dulu
tenggelam, meninggalkan cahaya keemas-emasan di langit, cahaya yang
akan disebut-sebut penyair
gaya lama sebagai cahaya kencana.

Pada kaca spion yang tengah matahari masih terbenam separuh. Lempengan
raksasa itu bergeletar mendesak bumi yang bagaikan menolaknya. Langit
di atasnya merah membara penuh dengan pesona. Juga penyair
gaya lama
tidak akan mempunyai pilihan lain selain menyebutnya sebagai cahaya
kencana.

Sementara itu, pada kaca spion sebelah kiri, mataharinya tenggelam
lebih cepat, karena sudah tinggal sepertiganya saja dan seperti
kusaksikan memang kemudian hilang terbenam meninggalkan cahaya
keemas-emasan yang juga akan disebut penyair
gaya lama sebagai cahaya
kencana.

Tapi aku suka
gaya lama. Apa salahnya?

Aku masih meluncur di jalan tol tanpa ujung dengan kecepatan tak
terukur. Pada kaca spion di dalam mobil, kusaksikan senja, dengan
matahari merah membara yang sedang terbenam perlahan-lahan, yang
cahayanya semburat menyapu langit menjadi keemas-emasan-memang tiada
pilihan lain bagi seorang penyair
gaya lama, selain menyebut cahaya
yang semburat di langit itu sebagai cahaya kencana…

Pondok Aren,

Kamis 8 Maret 2007. 18:25

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 340 pengikut lainnya.