perkosaan-ilus130125b copy

Clara atawa Wanita yang Diperkosa

CLARA atawa Wanita yang Diperkosa

oleh Seno Gumira Ajidarma


Barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang babi*) – tapi aku memakai seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya.

Di hadapanku duduk wanita itu. Rambutnya dicat merah. Coklat sebetulnya. Tapi orang-orang menyebutnya merah. Padahal merah punya arti lain bagiku. Sudah bertahun-tahun aku dicekoki pikiran bahwa orang-orang merah adalah orang-orang yang berbahaya.

Jadi, aku tidak perlu percaya kepada wanita ini, yang rambutnya sengaja dicat merah. Barangkali isi kepalanya juga merah. Barangkali hatinya juga merah. Siapa tahu? Aku tidak perlu percaya kepada kata- kata wanita ini, meski ceritanya sendiri dengan jujur kuakui lumayan mengharukan.

Dia bercerita dengan bahasa yang tidak mungkin dimengerti. Bukan karena bahasa Indonesianya kurang bagus, karena bahasa itu sangat dikuasainya, tapi karena apa yang dialami dan dirasakannya seolah- olah tidak terkalimatkan. Wajahnya yang cantik sarat dengan luka batin yang tak terbayangkan. Aku hampir-hampir terharu bahkan sebelum dia bercerita. Tidak pernah bisa kubayangkan bahwa manusia bisa mengalami beban penderitaan seberat itu justru karena dia lahir sebagai manusia. Ceritanya terpatah-patah. Kalimatnya tidak nyambung.

Kata-kata bertebaran tak terangkai sehingga aku harus menyambung-nyambungnya sendiri. Beban penderitaan macam apakah yang bisa dialami manusia sehingga membuatnya tak mampu berkata-kata?

Maka cerita yang akan kau dengar ini bukanlah kalimatnya melainkan kalimatku. Sudah bertahun-tahun aku bertugas sebagai pembuat laporan dan hampir semua laporan itu tidak pernah sama dengan kenyataan. Aku sudah menjadi sangat ahli menyulap kenyataan yang pahit menjadi menyenangkan, dan sebaliknya perbuatan yang sebetulnya patriotik menjadi subversif — pokoknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan.

Maka, kalau cuma menyambung kalimat yang terputus-putus karena penderitaan, bagiku sungguh pekerjaan yang ringan.

***

Api sudah berkobar di mana-mana ketika mobil BMW saya melaju di jalan tol. Saya menerima telepon dari rumah. ”Jangan pulang,” kata Mama. Dia bilang kompleks perumahan sudah dikepung, rumah-rumah tetangga sudah dijarah dan dibakar. Papa, Mama, Monica, dan Sinta, adik-adikku, terjebak di dalam rumah dan tidak bisa ke mana-mana. ”Jangan pulang, selamatkan diri kamu, pergilah langsung ke Cengkareng, terbang ke Singapore atau Hong Kong. Pokoknya ada tiket. Kamu selalu bawa paspor kan? Tinggalkan mobilnya di tempat parkir. Kalau terpaksa ke Sydney tidak apa-apa. Pokoknya selamat. Di sana kan ada Oom dan Tante,” kata Mama lagi.

Saya memang sering ke luar negeri belakangan ini. Pontang-panting mengurusi perusahaan Papa yang nyaris bangkrut karena utangnya dalam dolar tiba-tiba jadi bengkak. Saya ngotot untuk tidak mem-PHK para buruh. Selain kasihan, itu juga hanya akan menimbulkan kerusuhan. Papa marah-marah. ”Kita tidak punya uang untuk membayar buruh. Selain produksi sudah berhenti, yang beli pun kagak ada. Sekarang ini para buruh hidup dari subsidi perusahaan patungan kita di luar negeri. Mereka pun sudah mencak-mencak profitnya dicomot. Sampai kapan mereka sudi membayar orang-orang yang praktis sudah tidak bekerja?”

Saya masih ngotot. Jadi Papa putuskan sayalah yang harus mengusahakan supaya profit perusahaan patungan kami di Hong Kong, Beijing, dan Macao diperbesar. Tetesannya lumayan untuk menghidupi para buruh, meskipun produksi kami sudah berhenti. Itu sebabnya saya sering mondar-mandir ke luar negeri dan selalu ada paspor di tas saya.

Tapi, kenapa saya harus lari sekarang, sementara keluarga saya terjebak seperti tikus di rumahnya sendiri? Saya melaju lewat jalan tol supaya cepat sampai di rumah. Saya memang mendengar banyak kerusuhan belakangan ini. Demonstrasi mahasiswa dibilang huru-hara. Terus terang saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Saya terlalu tenggelam dalam urusan bisnis. Koran cuma saya baca judul-judulnya. Itu pun maknanya tidak pernah jelas. Namun, setidaknya saya yakin pasti bukan mahasiswa yang membakar dan menjarah kompleks perumahan, perkotaan, dan mobil-mobil yang lewat. Bahkan bukan mahasiswa pun sebenarnya tidak ada urusan membakar-bakari rumah orang kalau tidak ada yang sengaja membakar-bakar.

Saya tancap gas. BMW melaju seperti terbang. Di kiri kanan jalan terlihat api menerangi malam. Jalan tol itu sepi, BMW terbang sampai 120 kilometer per jam. Hanya dalam sepuluh menit saya akan segera tiba di rumah. Tapi, di ujung itu saya lihat segerombolan orang. Sukar sekali menghentikan mobil. Apakah saya harus menabraknya? Pejalan kaki tidak dibenarkan berdiri di tengah jalan tol, tapi saya tidak ingin menabraknya. Saya menginjak rem, tidak langsung, karena mobil akan berguling-guling. Sedikit-sedikit saya mengerem, dan toh roda yang menggesek aspal semen itu tetap mengeluarkan bunyi Ciiiiiiitttt! Yang sering dianggap sebagai petanda betapa para pemilik mobil sangat jumawa.

Setelah berhenti, saya lihat ada sekitar 25 orang. Semuanya laki-laki.

”Buka jendela,” kata seseorang.

Saya buka jendela.

”Cina!” ”Cina!” Mereka berteriak seperti menemukan intan berlian.

Belum sempat berpikir, kaca depan BMW itu sudah hancur karena gebukan. Aduh, benarkah sebegitu bencinya orang-orang ini kepada Cina? Saya memang keturunan Cina, tapi apa salah saya dengan lahir sebagai Cina?

”Saya orang Indonesia,” kata saya dengan gemetar.

Braakk! Kap mobil digebuk. Seseorang menarik saya dengan kasar lewat jendela. Saya dilempar seperti karung dan terhempas di jalan tol.

”Sialan! Mata lu sipit begitu ngaku-ngaku orang Indonesia!” Pipi saya menempel di permukaan bergurat jalan tol. Saya melihat kaki-kaki lusuh dan berdaki yang mengenakan sandal jepit, sebagian tidak beralas kaki, hanya satu yang memakai sepatu. Kaki-kaki mereka berdaki dan penuh dengan lumpur yang sudah mengering.

”Berdiri!” Saya berdiri, hampir jatuh karena sepatu uleg saya yang tinggi. Saya melihat seseorang melongok ke dalam mobil. Membuka-buka laci dashboard, lantas mengambil tas saya. Isinya ditumpahkan ke jalan. Berjatuhanlah dompet, bedak, cermin, sikat alis, sikat bulu mata, lipstik, HP, dan bekas tiket bioskop yang saya pakai nonton bersama pacar saya kemarin. Dompetnya segera diambil, uangnya langsung dibagi-bagi setengah rebutan. Sejuta rupiah uang cash amblas dalam sekejap. Tidak apa-apa. Mobil masih bisa dikendarai dengan kaca pecah, dan saya tidak perlu uang cash. Di dalam dompet ada foto pacar saya. Orang yang mengambil dompet tadi mengeluarkan foto itu, lantas mendekati saya.

”Kamu pernah sama dia?”

Saya diam saja. Apa pun maksudnya saya tidak perlu menjawabnya.

Plak! Saya ditampar. Bibir saya perih. Barangkali pecah.

”Jawab! Pernah kan? Cina-cina kan tidak punya agama!” Saya tidak perlu menjawab.

Bug! Saya ditempeleng sampai jatuh.

Seseorang yang lain ikut melongok foto itu.

”Huh! Pacarnya orang Jawa!” Saya teringat pacar saya. Saya tidak pernah peduli dia Jawa atau Cina, saya cuma tahu cinta.

”Periksa! Masih perawan atau tidak dia!” Tangan saya secara refleks bergerak memegang rok span saya, tapi tangan saya tidak bisa bergerak. Ternyata sudah ada dua orang yang masing-masing memegangi tangan kanan dan tangan kiri saya. Terasa rok saya ditarik. Saya menyepak-nyepak. Lagi-lagi dua pasang tangan menangkap kedua kaki saya.

”Aaaahhh! Tolongngng!” Saya menjerit. Mulut saya dibungkam telapak kaki berdaki. Wajah orang yang menginjak mulut saya itu nampak dingin sekali. Berpuluh-puluh tangan menggerayangi dan meremas-remas tubuh saya.

”Diem lu Cina!” Rok saya sudah lolos….

***

Wanita itu menangis. Mestinya aku terharu. Mestinya. Setidaknya aku bisa terharu kalau membaca roman picisan yang dijual di pinggir jalan. Tapi, menjadi terharu tidak baik untuk seorang petugas seperti aku. Aku harus mencatat dengan rinci, objektif, deskriptif, masih ditambah mencari tahu jangan-jangan ada maksud lain di belakangnya. Aku tidak boleh langsung percaya, aku harus curiga, sibuk menduga kemungkinan, sibuk menjebak, memancing, dan membuatnya lelah supaya cepat mengaku apa maksudnya yang sebenarnya. Jangan terlalu cepat percaya kepada perasaan. Perasaan bisa menipu. Perasaan itu subjektif. Sedangkan aku bukan subjek di sini. Aku cuma alat. Aku cuma robot. Taik kucing dengan hati nurani. Aku hanya petugas yang membuat laporan, dan sebuah laporan harus sangat terinci bukan?

”Setelah celana dalam kamu dicopot, apa yang terjadi?”

Dia menangis lagi. Tapi masih bercerita dengan terputus-putus. Ternyata susah sekali menyambung-nyambung cerita wanita ini. Bukan hanya menangis. Kadang-kadang dia pingsan. Apa boleh buat, aku harus terus bertanya.

”Saya harus tahu apa yang terjadi setelah celana dalam dicopot, kalau kamu tidak bilang, apa yang harus saya tulis dalam laporan?”

***

Saya tidak tahu berapa lama saya pingsan. Waktu saya membuka mata, saya hanya melihat bintang-bintang. Di tengah semesta yang begini luas, siapa yang peduli kepada nasib saya? Saya masih terkapar di jalan tol. Angin malam yang basah bertiup membawa bau sangit. Saya menengok dan melihat BMW saya sudah terbakar. Rasanya baru sekarang saya melihat api dengan keindahan yang hanya mewakili bencana. Isi tas saya masih berantakan seperti semula. Saya melihat lampu HP saya berkedip-kedip cepat, tanda ada seseorang meninggalkan pesan.

Saya mau beranjak, tapi tiba-tiba selangkangan saya terasa sangat perih. Bagaikan ada tombak dihunjamkan di antara kedua paha saya. O, betapa pedihnya hati saya tidak bisa saya ungkapkan. Saya tidak punya kata-kata untuk itu. Saya tidak punya bahasa. Saya hanya tahu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk urusan bisnis. Kata orang, bahasa Cina sangat kaya dalam hal menggambarkan perasaan, tapi saya tidak bisa bahasa Cina sama sekali dari dialek manapun, kecuali yang ada hubungannya dengan harga-harga. Saya cuma seorang wanita Cina yang lahir di Jakarta dan sejak kecil tenggelam dalam urusan dagang. Saya bukan ahli bahasa, bukan pula penyair. Saya tidak tahu apakah di dalam kamus besar Bahasa Indonesia ada kata yang bisa mengungkapkan rasa sakit, rasa terhina, rasa pahit, dan rasa terlecehkan yang dialami seorang wanita yang diperkosa bergiliran oleh banyak orang –karena dia seorang wanita Cina. Sedangkan pacar saya saja begitu hati-hati bahkan hanya untuk mencium bibir saya. Selangkangan saya sakit, tapi saya tahu itu akan segera sembuh. Luka hati saya, apakah harus saya bawa sampai mati? Siapakah kiranya yang akan membela kami? Benarkah kami dilahirkan hanya untuk dibenci?

Saya tidak bisa bergerak sampai seorang ibu tua datang terbungkuk-bungkuk. Dia segera menutupi tubuh saya dengan kain.

”Maafkan anak-anak kami,” katanya, ”mereka memang benci dengan Cina.”

Saya tidak sempat memikirkan arti kalimat itu. Saya bungkus tubuh saya dengan kain, dan tertatih-tatih menuju tempat di mana isi tas saya berserakan. Saya ambil HP saya, dan saya dengar pesan Papa: ”Kalau kamu dengar pesan ini, mudah-mudahan kamu sudah sampai di Hong Kong, Sydney, atau paling tidak Singapore. Tabahkanlah hatimu Clara. Kedua adikmu, Monica dan Sinta, telah dilempar ke dalam api setelah diperkosa. Mama juga diperkosa, lantas bunuh diri, melompat dari lantai empat. Barangkali Papa akan menyusul juga. Papa tidak tahu apakah hidup ini masih berguna. Rasanya Papa ingin mati saja.”

***

Dia menangis lagi. Tanpa airmata. Kemudian pingsan. Kudiamkan saja dia tergeletak di kursi. Ia hanya mengenakan kain. Seorang ibu tua yang rumahnya berada di kampung di tepi jalan tol telah menolongnya. ”Dia terkapar telanjang di tepi jalan,” kata ibu tua itu. Aku sudah melaporkan soal ini kepada pimpinanku. Lewat telepon dia berteriak, ”Satu lagi! Hari ini banyak sekali perkara beginian.

Tahan dia di situ. Jangan sampai ada yang tahu. Terutama jangan sampai ketahuan wartawan dan LSM!” Pesuruh kantor membaukan PPO ke hidungnya. Matanya melek kembali.

”Jadi kamu mau bilang kamu itu diperkosa?”

Dia menatapku.

”Padahal kamu bilang tadi, kamu langsung pingsan setelah … apa itu … rok kamu dicopot?”

Dia menatapku dengan wajah tak percaya.

”Bagaimana bisa dibuktikan bahwa banyak orang memperkosa kamu?”

Kulihat di matanya suatu perasaan yang tidak mungkin dibahasakan. Bibirnya menganga. Memang pecah karena terpukul. Tapi itu bukan berarti wanita ini tidak menarik. Pastilah dia seorang wanita yang kaya. Mobilnya saja BMW. Seorang wanita eksekutif. Aku juga ingin kaya, tapi meskipun sudah memeras dan menerima sogokan di sana-sini, tetap begini-begini saja dan tidak pernah bisa kaya. Naik BMW saja aku belum pernah. Aku memang punya sentimen kepada orang-orang kaya –apalagi kalau dia Cina. Aku benci sekali. Yeah. Kainnya melorot, dan tampaklah bahunya yang putih….

”Jangan terlalu mudah menyebarkan isyu diperkosa. Perkosaan itu paling sulit dibuktikan. Salah-salah kamu dianggap menyebarkan fitnah.”

Di matanya kemarahan terpancar sekejap. Bahwa dia punya nyali untuk bercerita, memang menunjukkan dia wanita yang tegar.

”Saya mau pulang,” ia berdiri. Ia hanya mengenakan kain yang menggantung di bahu. Kain itu panjangnya tanggung, kakinya yang begitu putih dan mulus nampak telanjang.

”Kamu tidur saja di situ. Di luar masih rusuh, toko-toko dibakar, dan banyak perempuan Cina diperkosa.”

”Tidak, saya mau pulang.”

”Siapa mau mengantar kamu dalam kerusuhan begini. Apa kamu mau pulang jalan kaki seperti itu? Sedangkan pos polisi saja di mana-mana dibakar.”

Dia diam saja.

”Tidur di situ,” kutunjuk sebuah bangku panjang, ”besok pagi kamu boleh pulang.”

Kulihat dia melangkah ke sana. Dalam cahaya lampu, lekuk tubuhnya nampak menerawang. Dia sungguh-sungguh cantik dan menarik, meskipun rambutnya dicat warna merah. Rasanya aku juga ingin memperkosanya. Sudah kubilang tadi, barangkali aku seorang anjing, barangkali aku seorang babi — tapi aku mengenakan seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya. Masalahnya: menurut ilmu hewan, katanya binatang pun tidak pernah memperkosa.

Tentu saja tentang yang satu ini tidak perlu kulaporkan kepada pimpinan. Hanya kepadamu aku bisa bercerita dengan jujur, tapi dengan catatan — semua ini rahasia. Jadi, jangan bilang-bilang.

 

Jakarta, 26 Juni 1998

*) Menggunakan istilah dari novel Saman, “aku seorang burung

About these ads

53 thoughts on “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”

  1. Terima kasih untuk cerita ini. Saya harap “terima kasih” dapat mengungkap ketergugahan, kesedihan, kepedihan, serta amarah dan sedikit miris yang hilang timbul saat saya membaca cerita ini. :)

  2. Good, sebuah teropong untuk melihat sembari mengingat masa kelam kita. Sebuah diskripsi untuk menjadi pembelajaran kita dimasa depan. Semoga tidak terulang lagi kejadian seperti yang dinarasikan Seno. Bangsa kita sudah cukup dengan kebobrokan seperti itu.

  3. cerita dalam cerpen tersebut sangat menarik buat diperdebatkan lagi,jika ditinjau lebih jauh lagi ternyata bangsa indonesia pada era reformasi sangat membnci cina.Berdasarkan info yang saya terima ternyata bangsa cina pada saat itu dipelakukan dengan sangat istimewa oleh pemerintah.Dalam segala hal,berbeda dengan penduduk pribumi yang hanya dipandang sebelah mata…..Jadi,terkesan bahwa pemerintah pada saat itu pilih kasih.??????????????????…..jangan terlalupercaya…..ini hanya info burung yang saya dapet…

  4. kapan ya ada seniman besar yang mengangkat penderitaan korban kerusuhan Sampit? Penderitaan mereka tak kalah tragis, kalau tidak mau disebut lebih dahsat?

  5. Sy jd terharu……..(~_~)
    memang sekolompok orang ada yg membenci ras Cina. menrut teman2 saya mereka membenci cina krena biasanya org cina curang dalam dlm berdgang. syangnya sekolompok org itu meyamakanratakan bhwa semua org cina itu curang.

    saya adl org madura dg ciri2 fisik sperti org cina, tp sy bukn ktrunan cina(itu anggapan sy skrg krn belum banyk tahu ttg silsila keluarga sy), ketika sy skolah d madrasah tmn2 banyak bertnya kpd sy “apa kamu org Cina?” tp untunglah mereka bertnya sprt itu krn merasa heran “kok ada orang madura sprti sy?’.

    alhamdulillah, di madura segala etnis penduduk bs hidup dg damai, bahkan terjadi perkawinan campuran sejak jaman kerjaan.

  6. COOOL….
    cerpen ini mengungkapkan tragedi yang terjadi pada komunitas china pada masa2 runyam.
    apa yang salah dengan mereka ?
    kenapa harus marah?
    bukankah perbedaan memunculkan keberagaman?
    lalu,,,
    bukankah mereka juga saudara kita?
    mereka juga sama seperti kita.
    adaakh yang salah dari mere3ka?

  7. pertama kali aku baca cerpen ini waktu aku SMA. dari buku iblis tak pernah mati, aku langsung baca judul ini krn judulnya sama dengan namaku. tapi begitu baca bukunya, waduh-waduh… ternyata kayak gini… sejak itulah saya jadi pecinta karya SGA yg ‘kelam’ tapi nyata…

    1. tolong jgn menfitnah ya…anda orang beragama kan?…klo islam kejam mungkin anda sdh pindah ke dunia lain ya…saya takutnya memprovokasi orang yg kurang ahlaknya ..fanatisme yg berlebihan seperti paus urbanus yg akhirnya menyebabkan perang salib…coba anda perbaiki diri anda dulu ..terapkan ajaran cinta kasih seperti agama anda ajarkan kpd keluarga anda dan anda sendiri, …peace…peace…..saya percaya di dunia ini cuma ada orang baik dan orang jahat terlepas dari ajaran agamnya..

    2. woe,apaan tu bawa2 islam!yg bener lu klo ngomong!ISLAM bukan agama seperti itu!ISLAM mengajarkan untuk melindungi wanita!jangan sembarangan menafsirkan ayat2 suci Allah!
      nb: namanya Al-Qur’an, bukan “kur’an”

    3. tapi bukan perkosaan kaya gitu caranya, nich caranya:

      an untuk masalah perbudakan, penjarahan setelah perang berfungsi untuk memulihkan ekonomi yang hancur karena perang.

      dan masalah pemerkosaan itu adalah fitnah, karena para tawanan wanita yang tertangkap tidak diperkosa, akan tetapi dinikahi dulu, baru disetubuhi. berarti ada upacara pernikahan, dan wanita tawanan tersebut melihat dan ikut dalam upacara pernikahan tersebut.

      dalam upacara pernikahan banyak orang hadir, para pemuka agama,pamong desa, lebai datang, penduduk desa datang, keluarga dan para orang tua datang.satu sama lain pengunjung upacara pernikahan mengobrol dan bersilaturahmi, mengucapkan selamat kepada mempelai, makan bersama.dan kedua mempelai juga melihat dan ikut meramaikan upacara pernikahan.

    4. it’s definitely very touching…
      our history… yang seharusnya jadi pelajaran, bukan buat diperdebatin dan nyalahin agama…
      kita hidup hari ini karena gift dari tuhan..
      tidak ada yang bisa disalahkan….
      we learn today from this, in orther that not happen tomorrow…
      dan yang udah jadi victim, kita cuma bisa berdoa untuk nya…
      dan

    5. Kok banyak komentar-komentar tidak bertanggung jawab ya? Adminnya bisa tolong di seleksi komentar-komentar yang menjatuhkan atau menghina? soalnya bisa jadi konflik antar agama. Terimakasih

  8. Setiap membaca kembali tulisan2 SGA, saya selalu bisa merasakan ‘sesuatu’. Sensasi yg sama ketika membaca untuk yg pertama kali kalinya. Dan kali ini, setelah membaca “Clara” untuk yang entah keberapa kalinya, lagi2 saya bergidik!

    Semoga kemanusiaan tak lagi mati..

  9. mengapa seolah ku merenungi nasibku???
    namanya yang sama dgn nama ku.
    Setiap kali membaca yang dialaminya, mengapa ku bereaksi serupa?

  10. like this . sampai tergugu dan bergetar membacanya .
    seakan kepedihan clara benar2 terjadi pada ku .
    hmm..
    lalu , sebenarnya apa yg SGA maksud dari cerpen ini ?
    adakah simbol2 tersembunyi ?

  11. kejadian itu sdh mnjadi rahasia umum..bukan salah mereka,bukan pula salah orang cina..
    tapi adalah salah si Bento biang kladinya..
    dia lah yang memicu konflik horizontal antara etnis cina dgn pribumi..
    yg di katakan sdr. Andi merupakan isu yg sangat masuk akal dan benar..

    coba anda renungkan pd si tokoh “markus” saat ini,.

    1. emak loe aj loe perkosa dasar cabul jaga tuh mulut..nanti islam lagi deh yg di salahin…gara2 kelakuan setan kayak loe..

  12. sungguh mengharukan n menyedihkan kisah si cina ini. dari sini kita bisa melihat betapa bencinya dan kejamnya bangsa pribumi terhadap orang-oarng cina. saya mengetahui cerita ini dari dosen saya. terimakasih bu

    waduhhh kenapa keji sekali ya orang pribumi ini? apa karena rasa benci yang sangat mendalam???

  13. cerita SGA ko jadi gini?
    saya orang Islam. agama manapun yang melakukan hal keji, tentu saja salah. Tapi jangan bawa2 agamanya tentang prilaku yg buruk, toh semua agama ngga ada yang ngajak kesesatan. orang yang nafsirin salah satu agama sesat. itu malah dirinya yg so tau. intinya semua agama pasti ngajar yg benar. orangnya aja yg ngga ngerti..

  14. cerita SGA ko jadi gini?
    saya orang Islam. agama manapun yang melakukan hal keji, tentu saja salah. Tapi jangan bawa2 agamanya tentang prilaku yg buruk, toh semua agama ngga ada yang ngajak kesesatan. orang yang nafsirin salah satu agama sesat. itu malah dirinya yg so tau. intinya semua agama pasti ngajar yg benar, orangnya aja yg ngga ngerti..

  15. tolong dong pak moderator, komen2 yg ada disaring dulu.. yg gak ada sangkut pautnya thd esensi cerita, mending di reject aja. semoga pengunjung yg mencari keindahan sastra dan perenungan dari sastra tidak terganggu dgn komen2 yg tidak penting dan gak nyambung..
    thx moderator..

  16. ya ampun masalah pertama belum selesai kok ada masalah lain lagi, inilah kalau anak negeri gampang dihasut dan mudah dipengaruhi. Semuanya disuruh ini ayuh, disuruh itu ayuh, dah gak ada naruninya. Dikasih alasan yg goblok juga percaya aja, yah kan supaya terkenal, sok peduli lah. Padahal gak tau masalah sebenarnya.
    Giliran harus ada yg bertanggung jawab pada ngacir semua. Yang adakan jadi mengkambing hitamkan ras atau agama tertentu, kadang malah orang tertentu lagi yg disalahkan. Penyakit kronis masyarakat selalu yg lemah yg dikorbankan, sadarlah kalau semua bisa jadi korban dengan sistem lemah kayak gini.

    Soalnya musuh sudah melesat jauh ke depan kita suruh ngekor jauh dibelakang mau aja. Bodoh…bodoh.

  17. Cerita bagus, seni tinggi….tapi dikomentari ma orang2 yang ga tau seni,….jadi ilang esensi ceritanya….

    Setuju ma mas rian, ini seni bukan fanatisme agama….

  18. ceritany sangat berkesan..dan ad pesan di dalamny…
    sangt” bagus…semoga di zaman sekarang tidak ad lg kyak yg d cerpen..
    semoga d zaman sekarang tidak ad perbedaan d antara sesama manusia …..

  19. maaf, tapi yang blm pernah baca alqur’an tlg jangan caci maki islam, ayat di al-qur’an itu sma dg sastra yakni mengandung makna kiasan, jadi jg salah paham dg apa yang ditulis di dalam al-quran, toh orang china kan bukan orang kafir, dan lagi, saya bangga punya teman orang cina …..

    1. Siip, and makasih masukannya Kak. Semua yg pakai kosakata intimidatif-provokatif dan postingan spam sudah kami filter, tetapi untuk menghargai kebebasan berekspresi, kami masih memberi toleransi pada diskusi yg dilakukan dengan proporsional walau kandungan sastranya minim.

      Salam
      dari para Admin yang manis-manis :)

  20. Bukan Islamnya bos. tapi orangnya. Apapun itu, jangan sangkutkan dengan Agama. Saya orang yg tak setuju apapun yg menyangkutkan Agama. Saya orang Islam, dan gak seperti komentar diatas yg gak nyambung dengan isi cerita.

    Jadi kalo anda ngomong “Dasar orang Islam” berarti anda memprovokasikan nilai2 agama apapun itu. So, lebih baik fikirin diri sendiri sudah baikkah dimata masyarakat dah Tuhan ?

  21. tul bgt t rian..aq setuju ma kmu….
    jgn remehkn orng islam(kta” dasar orng islam it kta’ny itu seolah” meremehkn orng islam….
    n bg yg komens gx nyambung t bkn salah islamny..
    tp orngny itu yg bermasalh…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s