SOEHARTO dan PETRUS (Penembak Misterius)
“Sejarah dipelajari bukan hanya untuk ketepatan data, melainkan juga untuk memetik makna. Sebuah otobiografi bisa bermakna dengan cara…”
SEBUAH autobiografi secara politis boleh dibilang merupakan usaha legitimasi. Seolah-olah penulisnya berujar, “Inilah yang sebenarnya saya lakukan dan tidak ada yang lebih benar daripada ini.” Tidak aneh jika kata-kata seperti meluruskan sejarah sering diumbar untuk mengiringi penerbitan buku autobiografi seorang tokoh. Ini berarti, kalau ada seribu tokoh, akan ada seribu pelurusan dan seribu kebenaran. Mana yang betul-betul benar? Ilmu sejarah mempunyai metode yang bisa diperiksa bersama, dan syukurlah seiring dengan itu beribu-ribu autobiografi bisa diuji kembali. Uniknya, sebuah autobiografi ternyata bisa menjadi sumbangan terhadap penulisan sejarah lewat pembuktian yang merupakan kebalikan dari maksud penerbitannya.
Mayat-mayat itu ketika masih hidup dianggap sebagai penjahat, para gali, dan kaum kecu yang dalam sejarah memang selalu dipinggirkan, walau secara taktis juga sering dimanfaatkan. Pada saat penembak misterius merajalela, para cendekiawan, politisi, dan pakar hukum angkat bicara. Intinya, mereka menuding bahwa hukuman tanpa pengadilan adalah kesalahan serius. Meski begitu, menurut Soeharto, “Dia tidak mengerti masalah yang sebenarnya.” Mungkin tidak terlalu keliru untuk menafsir bahwa yang dimaksud Soeharto sebagai orang yang mengerti masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri. Seperti apakah itu?
Jadi, menurut pengakuannya, Soeharto sangat jijik terhadap kejahatan. Namun, apakah karena shock therapy yang dipelajarinya entah dari mana itu kejahatan memang mereda? Tanyakanlah kepada sindikat Kapak Merah. Tentang pendapat Soeharto atas kaum gali itu sendiri terdapat uraian menarik: “Mereka tidak hanya melanggar hukum, tetapi sudah melebihi batas perikemanusiaan.” Yang belakangan ini diperinci lagi: “Orang tua sudah dirampas pelbagai miliknya, kemudian masih dibunuh.” Atau juga: “….ada perempuan yang diambil kekayaannya dan istri orang lain itu masih juga diperkosa orang jahat itu di depan suaminya lagi. Itu sudah keterlaluan!” Perhatikan opini Soeharto berikut: “Kalau mengambil, ya mengambillah, tetapi jangan lantas membunuh.”
Nah, bolehkah kita menarik kesimpulan bahwa, bagi Soeharto, mengambil segala sesuatu yang bukan haknya, asal tidak keterlaluan, agaknya masih bisa ditoleransi? Kalau tidak, ia boleh dibunuh? Setidaknya, dari bab 69 ini kita mendapat beberapa ketegasan. Pertama, Soeharto mengetahui kehadiran penembak misterius. Kedua, Soeharto setuju dengan tindakan mereka membantai apa yang disebutnya “orang jahat”. Ketiga, Soeharto berpendapat bahwa kekerasan hanya bisa diatasi dengan kekerasan. Dan keempat, bagi Soeharto, “kejahatan yang menjijikkan” merupakan kejahatan yang tidak layak mendapat toleransi. Ada dikotomi kejahatan dalam pemikiran Soeharto, yakni kejahatan “menjijikkan di luar kemanusiaan” di satu sisi dan kejahatan “tidak menjijikkan di dalam kemanusiaan” di sisi lain. Kejahatan pertama boleh dibunuh, sedang kejahatan kedua tidak usah dibunuh. Dalam pengantar penerbit dituliskan, “Apa yang bisa dipelajari dari autobiografi ini adalah bagaimana anak seorang petani miskin dapat mencapai jenjang kepemimpinan tertinggi di negeri ini. Dan, semua itu dilakukan dengan kejujuran, ketekunan, dan ketabahan dalam menghadapi tantangan hidup ini. Semoga segala sikap dan tindakan dan cara kepemimpinan beliau dapat menjadi contoh dan teladan bagi generasi muda Indonesia yang akan mengemudikan bahtera negara di masa yang akan datang.”
Filed under: Esai Ditandai: | bromocorah, mayat bertato, petrus, Soeharto

maaf mas, boleh tanya, esai ini diterbit di mana?
salam.
mantap!
bagus lahh berantass jaa premanisme… pa lagi zaman modern w pengen tw da lage gaa.. yaaa kaya pak suharto..
[...] : Petrus, sisi kelam pemerintah Soeharto Soeharto dan Petrus (Penembak Misterius) SUHARTO BUKAN “PETRUK” TAPI “PETRUS” !! Korban Penembak Misterius Datangi [...]
setuju petrus 1000% !
Untuk memberantas kejahatan memang sulit, terlebih ketika hukum tidak mampu ditegakan bahkan oleh penegak hukum sekalipun. Disisi lain, rakyat mendambakan hidup damai, sejahtera, tidak merasa terancam padahal sang penjahat selalu mengintai mereka setiap saat. Ketika kejahatan terjadi, tak ada pihak yang mampu mengatasinya. Ketika penjahat tertangkap keesokan harinya bebas, rakyat kembali terancam.
Petrus adalah satu jenis hukum rimba yang dihadirkan oleh penguasa saat itu: positifnya, rakyat tentram, aman dan bisa berusaha bebas untuk memakmurkan negeri sendiri. Negatifnya, tidak dijalankan sesuai hukum yang berlaku dan hanya menunjukan bahwa hukum pada saat itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga cara petrus harus diambil.
Saat ini; kejahatan masih merajalela dengan beragam modusnya. Bagaimana tindakannya??
hanya tuhanlah yang tau
setuju banget coznya orang indonesia kalau di kasih kebebasan pada ngelunjak………………………………………. kalau indonesia mau bangkit la harus ada ya ditakuti bukan hanya disegani,segan saja tidak berarti apa2 bgi rakyat indonesia sendiri……………………
dan dimulailah era baru. di mana saat ini mulai ada petrus2 yang baru. nantikan perkembangan selanjutnya
Stuju petrus n orde baru 1000000%.. Rkyat aman,mkan trpenuhi. Yg g aman cm pnjahat n pjabat yg haus kekuasaan aj..
Setuju pada YTH Soeharto Palawan pemberantas preman. Seharusnya petrus dihidupakan lagi. Biar preman-preman itu tidak seenaknya saja menyerang, membunuh. Jangan sok bijak bicara HAM, sementara preman yg lebih rendah dari binanatang itu tak pernah perduli dengan HAM. Ayo Hidup kan lagi PETRUS !
Kejahatan tidak terkendali
hukum tidak berfungsi
aparat kurang peduli
akhirnya semua mati
dan PETRUS akan kembali
saya setuju 1000.000 kali
Siapa yg tau ttg kjdian dimasa silam,,
yg tersisa hanyalah sejarah,,
simpang siur dalam penyampaian fakta sejarah telah menimbulkan pro-kontra di elemen masyarakat…
sekarang marilah kita menatap kedepan…
biarkanLah sejarah tetap menjadi sejarah..
walah…anda terlalu puitis
hidupkan kembali petrus,,sasarannya genk motor yg biadab
sebetulnya bagi masyarakat saat itu Petrus lebih sering dikait-kaitkan kepada Jenderal LB Moerdani yang saat itu menjabat sebagai pangab (Panglima ABRI) dibandingkan dengan Jenderal Besar Soeharto.
Petrus benar-benar membuat angka kejahatan menurun drastis. Dulu terkenal perampokan dijalan raya dengan nama Bajing Loncat, saat itu tiba-tiba para Bajing Loncat seakan menghilang, curanmor nyaris tidak ada, dan masyarakat hidup dengan tenang.
yang tidak tenang adalah para bromocorah itu sendiri, selalu dibayang-bayangi akan menjadi target petrus berikutnya. banyak dari mereka yang memiliki Tato (dikala itu orang yang memiliki Tato dianggap sebagai preman) bersusah payah menghilangkan Tato nya dengan cara disetrika atau bahkan menyayat kulitnya sendiri.
seringkali terdapat pernyataan “petrus hanya mengincar preman kelas teri, sedangkan preman berdasi tidak”. bagi saya yang dilakukan petrus sudah tepat sasaran, karena kita sebagai ‘masyarakat biasa’ hanya menginginkan harga murah, keamanan terjamin, dan terjadinya stabilitas negara yang selama ini hanya bisa kita dapat dari masa Orde Baru. saya tidak peduli apa yang dilakukan para preman berdasi selama kebutuhan pokok saya tercukupi. justru preman kelas teri yang selalu menebar teror dan meresahkan masyarakat.
Ada gambarnya Petrus gak, sehingga ada dokumen visual yang bisa diabadikan.
negara berkembang jangan disamakan dgn negara maju dimana kesadaran akan hukumnyasdh tinggi, jadi negara berkembang hrs dipimpin oleh tangan besi bukan seperti saat ini, kalo mengikuti kemauan orang banyak ya macam-macam maunya apalagi ekonomi orangnya banyak yg korat-karit. sekarang apa hasilnya? banyak yg kebablasan..
kepolisian sudah tidak melayani dan melindungi,, azas mereka skrg hanya uang..
kembalikan stabilitas…!!
aktivkan lagi petrus..!!
Hanya Alloh yg maha mengetahui dan Dialah sebaik-baiknya hakim.
kenapa banyak org mberi stempel kalau produk soeharto 9 (orde baru) jelek?? padahal yang memberi stempel gak bisa berbuat apa2 bahkan malah buat kacau?? ada pertanyaan, apa yang dihasilkan era reformasi selain tawuran, preman, demo gak jelas, kesemrawutan birokrasi, dan kelaparan rakyat?? kalau petrus bisa jadi obat ketentraman saat ini, kenapa ngak dihidupkan lg sj?? kalau kita bukan sasaran, kenapa kita takut?? kalau ada yang takut, berarti pasti dia………..
mbasan Pak Harto tilar Donya / seda ,agi pada ngomong !!! mbiyen naliko urip ora pada wani.
PETRUS !!! ya apik wae , !!! begal ,kecu nekad !!! pateni !!!
Co”k tp lbih co”k lg law petrus diaktifkan kmbli ttp ssrannya jgn preman melainkan koruptor…….
kenp skrg penembak seperti itu tidak ada lagi, padahal sekarang ini petrus sangat diperlukan.,ya.. untuk membasmi kejahatan yg sudah tidak manusiawi lagi., saya setuju dengan petrus…agar perkosaan,perampokan dan pembunuhan tdk merajalela
saya tau petrus, krn waktu itu aq masih remaja, ya sejak ada petrus ,jakarta aman,dimana2 ,pernah nyasar malam2 ke priok naik mikrolet, tinggal aq ,supir dan satu cowok lagi, tapi alhamdulilah aman2 saja malah aq diantar kembli sama pa supir, kalau skrg waaah, serem..bisa diperkosa dan dilempar kejalan. sadissss.
petrus ……………………pukul rata semua jngn pandang bulu !!!!!!!!!!!!!!
Dari pd Petrus, lebih baik pake hukum Islam, putong tangan klu ketauan mencuri, hukum rajam klu berzina dan hukum mati para koruptor, dijamin beresss …..