Sepotong Senja Untuk Pacarku

Sepotong Senja Untuk Pacarku

                               

                                     

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

–Cerpen Pililihan Kompas 1993

Apakah Hidup Seperti Jazz ?

 Apakah Hidup Seperti Jazz ?

 

 

Jazz isn’t music. it’s language. Communication.
(Enos Payne)

 

JAZZ – apakah kita pernah tahu arti kata itu ? Dalam album panjang Wynton Marsalis, Soul Gesture in Southern Blue, yang terdiri  dari tiga volume. Terdapat sebuah lagu berjudul So this is Jazz, Huh? di Volume 1. Dalam pengantar yang ditulis Stanley crouch untuk album itu, dikatakan bahwa pertanyaan itu diucapkan sepasang penonton, ketika tiba di sebuah  konser jazz.

“Barangkali mereka pernah mendengar jenis musik yang pop dari jazz, dan datang dengan penuh harapan, ”tulis Crouch, “musik pun dimulai, ternyata suatu blues dengan tonalitas mayor, suatu suara sendu menggunakan cengkok rinci yang mengingatkan kepada suara radio di larut malam. “Maka, satu dari pasangan itu bertanya ,”Do we like this?” dan dijawab sendiri berbarengan,”So this is jazz, huh?”

Anehnya, judul lagu yang sama muncul lagi dalam volume 3, tapi lain bunyinya. Untuk lagu itu, Stanley Crouch, yang nampaknya merupakan pengamat khusus karya-karya Whynton Marsalis, menulis: So this is jazz, Huh? Adalah pertanyaan yang selalu diucapkan  mereka yang tidak mengerti. Namun sekali mereka menemukan, well, mereka tidak akan pernah lupa.”

Katanya sih jazz bisa berarti apa saja. Tergantung dari mana mulainya. Ada yang bilang jazz itu berarti seks. Busyet. Tentu  bukan itu yang kucari. Toh tidak pernah ada jawaban memuaskan dari sumber apapun. Tepatnya, tidak pernah ada jawaban final. Bukalah buku-buku tentang jazz yang standar: Early Jazz dari Gunther Schuller,  Jazz Style oleh Mark C.Gridley,  atau Jazz yang disusun John Fordhman  dan penuh gambar-gambar itu-kita tidak akan pernah tahu apa persisnya arti jazz.

Meski begitu, toh ada satu pengertian yang rasanya kusukai. Bacalah kalimat Fordham berikut:”Ketika penulis F.Scott Fitzgerald menyatakan datangnya abad jazz pada tahun ’20-an, ia maksudkan kata jazz untuk menjabarkan suatu sikap. Anda tidak usah tahu musiknya untuk memahami rasanya…”Tentu Fitzgerald menyatakan pendapatnya, dalam konteks pembebasan sebuah sub kultur dari rasa rendah diri, yakni sub kultur budak-budak hitam amerika keturunan afrika, namun yang penting dari pernyataan itu- kita tidak usah menjadi ahli musik untuk menyukai jazz. Sehingga tidak penting jazz itu apa, yang penting kita dengar saja musiknya. Rasa yang ditularkannya. Emosi yangditeriakannya.Jeritan yang dilengkingkannya. Raungan yang mengemuruh memuntahkan kepahitan.

Itulah uniknya jazz bagiku. Ia seperti hiburan, tapi hiburan yang pahit, sendu, mengungkit-ungkit rasa duka. Selalu ada luka dalam jazz, selalu ada keperihan. Seperti selalu lekat  rintihan itu-rintihan dari lading-ladang kapas maupun daerah lampu merah. Ketika menuliskan ini, aku teringat lagu Berta, Berta dalam album Branford Marsalis, I Heard You Twice The First Time, sebuah nyanyian bersama tanpa iringan instrument, tanpa bermaksud menjadikanya suatu paduan suara yang canggih, diiringi suara rantai terseret. Itulah rantai yang mengikat pergelangan tangan dan kaki para budak- rantai perbudakan. Mereka tidak menjadi bebas karena nyanyian, namun tak ada ranatai yang mampu menghalangi mereka menyanyi. Itulah hakikat jazz: pembebasan jiwa.

Tentu saja setiap jenis musik, bahkan setiap jenis kesenian bisa dinyatakan hakikatnya sebagai pembebasan jiwa. Namun dalam jazz, kata pembebasan itu hadir secara konkret dalam suatu ruang yang bernama improvisasi. Ya, barangkali lebih tepat dikatakan hakikat jazz adalah improvisasi. Dengarkanlah bebop, perhatiakan suara instrument itu satu per satu, maka kita akan mendengar betapa saxophone Charlie Parker saling kejar-mengejar denag terompet Dizzy Gillespie. Dengarkanlah apa saja dari jazz, maka kita akan mendengarkan instrumen  yang berdialog. Itulah beda jazz dengan jenis musik lain. Jazz adalah suatu percakapan akrab yang terjadi dengan seketika, spontan dan tanpa rencana.

Memang ada kerangka sebuah lagu, namun setiap musisi bisa  memainkan instrumennya secara akrobatik di sekitar kerangka itu. Bersama waktu, suara-suara setiap instrument itu mengalir bagai mengikuti suatu garis penunjuk, namun mereka tidak betul-betuk selalu mengikuti garis itu, kadang-kadang mereka berbelok entah kemana, menghilang lantas kembali lagi, atau memang mengikuti garis itu, tapi sambil meloncat-loncat, menari, jungkir balik- semuanya secara imprivisatoris dan tidak saling merusak. Bila tiba saatnya satu instrument ditonjolkan, dimana sang musisi mendemonstrasikan kepiawaian individualnya, yang lain secara otomatis tahu diri untuk tidak mengacaunya. Suara-suara itu saling sahut-menyahut. Seringkali suara itu seolah-olah begitu kacau, tapi bukan karena lepas kendali, melainkan karena mereka memang memainkan ketertiban, bermain main dengan keharusan, serta bercanda dengan peraturan musical. Suara-suara sengaja dibelokkan, dipelesetkan, bahkan di jungkir balikkan. Tentu saja permainan dengan kekacauan ini hanya bisa dilakukan para musisi yang sudah beres urusanya dengan ketertiban, tapi yang merasa segenap kaidah musical tak cukup menyalurkan kebutuhannya untuk bicara lewat instrumennya. Mereka tidak ingin memainkan sebuah lagu, mereka ingin mengungkapkan kata hatinya,tapi bahkan bahasa kata tak pernah cukup mewakili kata hatinya itu,maka betapa terampilnya mereka yang mampu menyampaikan kata hati itu lewat suara instrumennya.Seringkali begitu menyentuh suara-suar itu, begitu rinci menggambarkan setiap inci kata hati.Kita mendengar rasa, dalam bahasa suara.

Itulah jazz, mendengarkan jazz seperti mendengar bahasa percakapan, yang tidak direncanakan.Sekarang bisa kumengerti, mengapa rekaman lama para dedengkot seperti Charlie “Bird” Parker dikeluarkan kembali, tapi bukan hanya versi release saja, melainkan seluruh versi yang sempat terekam, karena setiap versi itu memang lain-lain.Bagaimana mungkin improvisasi bisa sama? Apalagi improvisasi seorang jenius. Dalam album Bird and Diz yang dikeluarkan tahun 1986, berdasarkan rekaman tanggal 6 juni 1950 di new york, kita bisa mendengarkan master take maupun alternate take dari lagu-lagu macam An Oscar for Treadwell, Mohawk, my melancholy baby dan relaxin’ with lee. Lagu Leap Frog bahkan hadir empat kali, karena tambahan dua alternate take yang merupakan penemuan hasil riset.Sebelumnya dua alternate take ini tidak pernah terdengar. Tersembunyi dan membisu  dalam tumpukan pita-pita dokumentasi verse records selama 36 tahun. Bagiku peristiwa berbunyinya kembali rekaman yang tadinya merupakan versi tidak terpakai itu, yang tidak berlaku bagi rekaman para jenius, merupakan jasa teknologi yang harus disyukuri. Maka dengarlah betapa setiap take dari lagu yang sama menjadi lain hasilnya, karena suasana hati para musisi memang akan menjadi lain pada momen yang berbeda. Setiap gerakan pada suasana hati yang berbeda ini akan memberi suara yang berbeda ketika instrumennya berbunyi. Dan ini tak pernah bisa diduga karena berlangsung seketika.Aku teringat sebuah adegan dari film New York, New York. Seorang pemain saxophone, yang dimainkan Robert Deniro, mengubah dengan seketika tempo permainannya, dari pelan kecepat, karena melihat Liza Minelli, berperan sebagai penyanyi yang menjadi istrinya, bersipa naik panggung, mungkin untuk berpartisipasi menyanyi. Perubahan tempo dan nada yang segera ditanggapi para musisi lain ini membuat Liza Minelli batal naik panggung. Robert Deniro melakukannya sebagai ekspresi ketidaksukaan dan kemarahan, lewat instrumennya. Ini memang salah satu contoh terbaik, tentang bagaimana jazz menjdi bahasa ekspresi suasan hati pemainnya, dengan seketika.

Bagaimana aku berkenalan dengan jazz? Entahlah. Barangkali telinga bawah sadarku sudah lama mendengarnya. Namun sejauh bisa kuingat, kenangan tentang jazz selalu membawaku ke sebuah gudang kumuh di tepi jalan yang menjadi tempat tinggal seorang kawan. Aku selalu datang kesana bila sudah capek menyusuri larut malam.Dari luar sudah terdengar suara-suara kekelaman itu, dari balik pintu yang selalu setengah terbuka, melepaskan cahaya lampu yang selalu redup.

“Musik apa ini, kok aneh?”

“Tapi enak ya?”

“Wah, maut.”

“Memang, tapi nggak jelas musik apa.”

Begitulah caraku menghbiskan malam pada suatu masa yang sudah silam, sebelum kembali menghindari matahari. Aku masih ingat betapa kumuhruangan itu, dimana terdapat sebuah tempat tidur susun yang hanya dilapisi sleeping-bag, poster Jimi Hendrix, kerangaka sepeda tanpa roda yang digantung terbalik dilangit-langit, meja penuh peralatan elektronik, sepeda motor butut, serta tape recorder rombeng itu, yang telanjang tanpa body- tapi mampu membunyikankembali suara-suara itu, yang meski kualitas suaranya kini boleh dianggap memprihatinkan, namun tak bisa menghalangi pesona saxophone yang baru belakangan bisa kukenali kembali sebagai permainan seorang John Coltrane, karena dulu kasetnya pun tak berlabel, dan smpulnya hilang entah kemana.
Terkenang masa lalu, terkenang kehidupanku, aku berpikir-pikir: Apakah hidup seperti jazz? Kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi.Banyak peristiwa tak terduga yang harus salalu kita atasi. Kita tak pernah tahu kemana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hiduyp takm selalu berjalan seperti kemauan kita. Barangali kita tidak pernah mencapai tujuan kita. Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak pernah kita bayangakan. Barangkali juga kita tidak punya tujuan dalam hidup ini, tapi hidup ini akan selalu memberikan kejutan-kejutanya sendiri. Banyak kejutan. Banyak insiden. Seperti jazz? Entahlah. Aku agak mabuk.

Kuhabiskan whisky-cola di gelasku. Kulihat arloji digital yang menunjuk waktu tanpa kesalahan. Dia belum datang, tapi aku seolah sudah mencium bau parfumnya.
 

*) dari Novel “Jazz, Parfum & Insiden”, Yayasan Bentang Budaya, 1996

Seorang Wanita dengan Parfum OBSESSION

Seorang Wanita dengan

  

Parfum Obsession

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

                                                                                                                   

“CERITAKANLAH padaku tentang seorang wanita,” Katanya padaku

Maka, kuceritakan padanya tentang seorang wanita dengan parfum Obsession.

Sahibul Hikayat, Calvin Klein jatuh cinta sampai termehek-mehek kepada seorang wanita yang kelak akan menjadi istrinya. Untuk menuntaskan perasaanya, diciptakanlah olehnya parfum bernama Obsession. Maksudnya, barangkali, kalau ia tak bisa mengawini wanita itu, lebih baik mati. Wanita itu menjadi obsesi baginya.

Dengan latar belakang pengetahuan itu, seorang wanita selalu berparfum obsession jika sedang jatuh cinta. Ia sengaja mengoleskan obsession, yang aromanya menyergap dan menyerang, karena ia berpendapat seperti ini.

“Kalau aku jatuh cinta pada seorang lelaki, siapapun dia, aku akan berusaha mendapatkanya, dengan segala cara. Aku buka seorang wanita yang menunggu siapapun yang melamarku. Aku tidak merasa bersalah untuk menyerbu lelaki yang kucintai, apapun kata orang. Aku akan menyatakan dengan segala cara, bahwa aku mencintai dan menghendakinya – kalau tidak suka caraku, bilang saja, aku akan menjauh. Sampai ada lelaki lain yang menarik hatiku.” 

Mengahadapi wanita seperti itu, wel, well, well, bisa senang, bisa juga merepotkan. Senang karena ia seperti selalu ada setiap kali kita butuhkan. Repot, karena ia masih ada meskipun sudah tidak kita butuhkan. Padahal kita biasanya tidak tega mengatakan, “Aku tidak butuh kamu lagi.” Kita biasanya tidak berkata apa-apa, tapi menunjukkannya. Berharap sang wanita bisa mengerti sendiri. Namun, meski mengerti, seorang wanita tak selalu mau memahami. Dalam hal wanita berparfum obsession ini, ia bukan hanya bisa pura-pura tidak mengerti. Ia menolak untuk ditolak, kemudian ia menyerang. Busyet.

Wanita, perempuan, betina – ketiga istilah ini sebenarnya menyatu dalam satu makhluk: ia bisa mengasihi seperti seorang ibu, mesra bagaikan kekasih impian, dan begitu jalang ibarat pelacur yang paling menantang.

Aku bertemu dengan wanita berparfum obsession ini lewat telepon. Rupa-rupanya teleponnya nyasar.

“Jadi ini bukan nomor heweshewesheweshewes?

“Bukan, ini nomor hawushawushawushawus.

Suaranya. Suaranya itu. Wel, well, well. Suara yang sangat erotik.
Akulah yang lantas bernafsu.

“Ini Siapa?”

Ia sebutkah sebuah nama.

“Sebenarnay mau mencari siapa ?”

Ia sebutkan sebuah nama lagi.

“Kenapa tidak mencari saya saja?”

Ia bertanya. Kinai ia bertanya.

“Kamu siapa?”

Aku sebutkan sebuah nama.

“Ini kantor apa?”

Aku sebutkan sebuah nama lain.

“Kukira kita bisa ngobrol,” katanya pula.

 

Lantas ketika aku datang ke kafe yang baru dua hari dibuka itu, kulihat seorang wanita berambut medusa, dewi Yunani yang rambutnya terdiri dari sejumlah ular. Kira-kira begitulah. Roknya mini. Sepatunya seperti sepatu tentara. Kulitnya putih. Tinggi. Mengenakan kaos ketat, sehingga dadanya yang tipis tetap saja menonjol.

Ia tidak cantik, tapi juga tidak jelek. Kecantikan – bukankah ini sesuatu yang sulit? Toh aku harus mengakui, ketika ia mulai bicara, suaranya adalah bagian dari keindahan. Bukan. Suaranya bukan seuara yang merdu. Suaranya serak. Seperti ada sekat di kerongkonganya. Tapi, aneh, aku mersakan sebagai sesuatu yang indah. Percayalah, ini bukan karena aku menyukai Louis Amstrong.

Sambil mengobrol, ia suka melempar makanan ke atas kepalanya, dan ular-ular yang bergeliatan di kepalanya itu melahapnya. Mula-mula aku ngeri. Rasanya seperti mimpi buruk. Namun ini nyata. Kuhirup bau parfumnya.

“Apa parfummu?”

“Obsession.”

Aku mencatatnya baik-baik dalam ingatanku, karena aku selalu berusaha mengingat nama parfum yang keharumannya mengesankan. Baru belakangan aku menyadari seni bau ini, dan betapa kita harusa berterima kasih kepada para pencipta parfum. Dunia barangkali tidak akan menjadi lebih buruk tanpa parfum, tapi aku tidak bisa membayangkan seandainya parfum itu tidak pernah diadakan. Parfum bisa mewakili suatu citra kewanitaan, keanggunan – bahkan jika parfum itu dibuat untuk pria. Tapi sekali lagi percayalah, aku sendiri belum tega mengenakan parfum apapun.

“Bau ketiakmu enak,” ujar wanita itu, pada suatu ruang dan waktu yang lain tentu saja. Ya, tapi ularnmya itu Nek.

Sebenarnya rambut wanita ituhanya menjadi ular pada malam hari. Ketika matahri terbit, ular-ular itu raib, dan rambut wanita itu sungguh-sungguh bagus. Bila bangun tidur, rambutnya yang hitam kelam dan bergelombang sudah menggosok-ngosok hidungku. Seringkali aku bingung, mana kiranya yang lebih menraik hatiku: rambut ulanya, suaranya, atau parfumnya. Kupikir tiga-tiganya salah. Barangkali aku tertarik akrena wanita ini berani menyerang. Agresif dan tidak malu-malu.

“Kalu tidak suka padaku, katakanlah sekarang, aku tidak akan menghubungimu lagi.”

Tapi sebuah perpisahan tak harus dihubungkan dengan suka atau tidak suka.
Pertemuan, perpisahan, astaga, betapa semua ini menjadi bagian kehidupan. Kupikir aku selalu siap berpisah dengan siapapun wanita yang kutemui. Namun ketika saat perisahan itu tiba., rasanya ku tidak pernah siap.

“Kita harus berpisah, kita tidak punya masa depan,” begitulah kalimat itu selalu.

“Apakah suatu hubungan tidak ada artinya, meski tidak akan menjadi apa-apa?”

“Kamu sangat berarti bagiku, tapi untuk apa semua ini, untuk apa ?”

Aku sudah capek denga perdebatan semacam itu. Aku ingin babak-babak kehidupan semacam ituberlalu dengan cepat. Kenyataanya, babak-babak semacam itu selalu datang lagi, nyaris seperti adegan ulangan. Toh, begitulah, perpisahan tidak pernah menjadi mudah. Kupandang ular-ular yang bergeliatan di kepalanya. Aku akan kehilangan ular-ular itu.

“Apakah wanita seperti itu ada?” wanita itu memotong ceritaku.

“Wanita berkepala ular maksudnya?”

“Bukan.”

“Wanita yang menyerang?”

“Bukan.”

“Apa dong?”

“Wanita yang tidak mengharapkan apa-apa.”

Terdengar piano memainkan At a Perfume Counter. Aku menghirup udara. Rasanya bau parfum wanita ini belum kukenal.

“Kukira kamu lebih tahu”

“Tidak, aku tidak tahu.”

“Aku juga tidak.”

Wanita itu tersenyum.

“Kuteruskan ceritanya?”

“Ya,ya, sorry ku potong.”

Hubungan manusia seperti kontrak. Cepat atau lambat hubunga itu akan berakhir dengan perpisahan. Kami bertemu lewat telepon, dan kami juga bepisah lewat telepon.

“Aku tidak bisa lagi menemui kamu.”

“Kenapa?”

“Sudahlah, hubungan kita sudah berakhir.”

“Kenapa harus begitu?  Kenapa harus berakhir ?”

“Tidak apa-apa, aku hanya tidak bisa lagi.”

“Jelaskan dong – aku kan tidak mengharapkan apa-apa dari kamu. Aku tidak pernah minta kamu mengawini aku.”

“Aku tidak mau bertengkar.”

“Aku tidak mau berpisah.”

“Aku ingin berpisah.”

“Aaaahhhh!”

Astaga, sulit sekali menghadapi wanita yang menangis. Padahal dulu dia begitu sombong.

“Aku senang dengan hidupkum,” katanya “Aku senang denga piliha-pilahn yang kulakukan, dan menerima kegagalan dengan sportif. Aku punya banyak pacar, mereka semua memberikan kebahagiaan yang berbeda-beda.”

Untunglah. Untunglah aku tidak pernah mencintainya – dan tidak mungkin: karena hatiku sudah kuberikan untuk seorang wanita berparfum True Love.

Aku tidak pernah bertemu dia lagi semenjak percakapan yang mengakhiri segala hubungan itu. Aku sering merasa aneh dengan kenyataan, betapa kita bisa begitu dekat dengan seseorang, namun bila tiba saatnya berpisah, kita bisa saja tidak pernah berjumpa lagi dengan orang itu, barangkali sampai mati.

“Aku sudah bercerita tentang seorang wanita,” kataku, “Kini ceritakanlah padaku tentang dirimu.”

“Boleh, tapi aku mau minta tambah minuman, dan mau minta lagu. Kamu amu lagu apa?”

Wanita itu memsan Tequila. Kulihat penyanyi wanita itu, ia menyanyi sampil main piano di sudut yang remang. Aku merasa ingat sesuatu, tapi lupa-lupa ingat. Apakah sejarah memang ahrus tergantung pada kenangan?

“Ayo lagu apa? Biar kutulis.”

Misty.

*) Dari Novel “Jazz, Parfum & Insiden”, Yayasan Bentang Budaya, 1996 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 359 pengikut lainnya.