Air Terjun di Dalam Rumah

Air Terjun di Dalam Rumah

 

Dengan membeli air terjun, apakah manusia Jakarta menciptakan semesta dalam dirinya?

Ada sebuah cerita tentang Sjuman Djaya (1934-1985), sutradara film Indonesia yang kontroversial. Di dalam rumahnya, di Jalan Kotabumi No.1 terdapat sebuah air terjun kecil yang berkericik. Konon setiap kali bangun, dan biasanya siang, ia menyempatkan diri duduk diam di depan air terjun itu, merenung, “Memikirkan hal yang baik,” sebelum akhirnya tenggelam dengan kontrak sosialnya di dunia yang fana. Saya lupa, kutipan itu saya ambil dari mana, tapi pastilah dari wawancara di suatu majalah. Ternyata air terjun kecil itu terdapat juga di sebuah artikel :
                   Waktu diminta masuk, ternyata dia sedang merenung dekat dinding yang membersitkan air ke kolam kecil di bawahnya. Gemercik air bagaikan di alam bebas pegunungan. Ah, masih tetap romantis dia. (S. M. Ardan, “Mengenang Seorang Sobat”, Sinema Indonesia Np. 5 – Juli 1986).
                   Itulah yang selalu saya ingat, apabila di abad XXI ini saya lihat orang menjual air terjun di pinggir jalan. Menjual air terjun. Saya kira istilah ini cukup surealistis, bayangkan : menjual air terjun! Tapi hal ini rupanya sudah menjadi barang biasa di Jakarta. Air terjun dari berbagai jenis dan berbagai ukuran dijual begitu saja di tepi jalan, sama seperti menjual kacang rebus atau pisang goreng. Barang biasa, tapi tetap saja luar biasa. Manusia Jakarta ingin menelan semesta di dalam kepalanya. Bagi saya sensasi jual beli air terjun ini sama dengan sensasi pemindahan Taman Sriwedari dari kahyangan ke Maespati oleh Sukasrana.
                   “Berilah aku Taman Sriwedari,” kata Dewi Citrawati kepada Arjuna Sasrabahu, maka sang raja memerintah Patih Suwanda alias Sumantri, dan ksatria rupawan itu pada gilirannya meminta tolong kepada adiknya yang buruk rupa, si raksasa cebol Sukasrana. Hal itu memang terjadi, Taman Sriwedari di kahyangan, tempat pemukiman para dewa, pindah ke Maespati, lengkap dengan kolam, air terjun, dan burung-burungnya. Hanya Sukasrana yang sakti mampu memindahkannya, meski ia akhirnya terbunuh oleh panah Sumantri, yang tak sengaja terlepas ketika berusaha mengusirnya, karena Sumantri malu oleh wajah Sukasrana yang buruk rupa.
                   Namun bagi orang Jakarta, tidak diperlukan keajaiban untuk memindahkan air terjun, mereka cukup membayar suatu harga, dan pindahlah air terjun yang gemericik di bebatuan, ke sebuah rumah dalam gang entah di mana. Di luar rumah, anak kecil berlari-lari, penjual otak-otak menggenjot sepeda, perempuan-perempuan berlilit kain mejeng dipotret Mat Kodak, dan di dalam rumah terdapat air terjun. Apakah manusia Jakarta mencoba memecahkan masalah ruang? Air terjun di pinggir jalan ini tidak dibeli orang kaya, karena orang kaya di Jakarta bisa membeli hutan, gunung, dan pulau. Air terjun di pinggir jalan itu dibeli warga Jakarta yang belum mampu membeli hutan, gunung, dan pulau. Mereka bekerja keras, merelakan dirinya diperkuda mekanisme Jakarta, dan kalau ada sedikit uang bisa disisihkan, mereka membeli air terjun.
                   Saya teringat taman Zen di rumah Jepang yang serba sempit. Tempat tidur mereka tergulung dalam lemari sejajar dinding, kamar mandinya cuma seukuran orang berdiri, dan ada taman Zen itu yang terkadang hanya 40 cm x 1 meter saja luasnya – dan katanya itu semesta, lengkap dengan puncak gunung dan awan bermega-mega. Busyet. Bukankah usaha manusia itu sungguh luar biasa? Taman Zen, seperti juga Sjuman dengan air terjunnya, adalah sumber permenungan yang membuat seseorang jadi manusia. Perkara bahwa di luar rumah para perenung kembali jadi manusia memble, barangkali ia meninju rekannya di parlemen, itu adalah perkara lain.
                   Hakikat akuarium berisi ikan sebetulnya juga seperti itu. Seseorang berusaha melihat dan belajar dari sebuah dunia. Terkadang kita terkejut melihat seekor ikan memburu dan memangsa ikan lain, sampai tewas dan perutnya dhedel dhuwel – tapi apakah manusia tidak melakukan hal yang sama? Dengan air terjun di dalam rumah, manusia Jakarta bagaikan ingin merengkuh alam semesta ke dalam gua garbanya. Rumah-rumah sempit di dalam gang atau kompleks yang warganya tak saling bertutur sapa mengepam air terjun dalam dirinya. Seberapa jauhkah semua ini berpengaruh kepada kontrak-kontrak sosio-kultural di luarnya?
                   Barangkali, air terjun yang sebenarnya, yang berada di gunung dan hutan, sudah bukan referensi yang kontekstual lagi di sini. Air terjun di dalam rumah adalah suatu karya baru, ketika manusia Jakarta yang terpaksa hidup berdesak-desak menerjemahkan alam dalam dirinya yang merindukan sesuatu, menjadi gemericik air yang membawanya ke suatu tahap kontemplatif. Menarik bagi saya, bahwa air terjun yang dijual di pinggir jalan itu merupakan suatu jalan masuk ke ruang dalam manusia Jakarta. Bukan sekadar masalah ruang yang sedang dihadapi di sini, tapi masalah kejiwaan – dan seterusnya ….

Sumber : “Affair : Obrolan tentang Jakarta” Published  by Penerbit Bukubaik Yogyakarta – July 2004

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 358 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: