Simsalabim

Simsalabim

 

PADA suatu hari di wilayah bencana itu datanglah seorang tukang
sulap. Bencana telah lama pergi sebenarnya, tetapi kehidupan mereka
sebelum bencana itu tiba tidak pernah kembali. Sekali korban tetap
korban. Entah kenapa sulit sekali mengubah kehidupan mereka sebagai
korban. Sekian waktu telah berlalu, tetapi mereka semuanya masih
hidup di bawah tenda, masih mengantre jatah makan, dan masih
mendapatkan segala kebutuhan pokok untuk hidup dari sumbangan.

Bencana itu telah meluluhlantakkan jiwa mereka, mengubah mereka dari
manusia bersemangat yang rajin bekerja dan pantang menyerah menjadi
manusia yang hanya mampu duduk-duduk dengan wajah kosong. Tiada
bencana yang lebih memilukan selain bencana yang melenyapkan
semangat untuk hidup. Hanya mereka yang mampu menegakkan kembali
jiwanya boleh dibilang selamat dalam pengertian yang sebenarnya,
sedangkan mereka yang jiwanya rontok benar-benar menjadi korban yang
mengalami nasib lebih buruk dari kematian.

Pada saat semacam itulah tukang sulap itu tiba. Ia muncul dari balik
bukit dengan busananya yang aneh. Ia mengenakan semacam jas
bertambal-tambal yang panjangnya sampai ke lutut dan warnanya tidak
jelas lagi, yang tentunya menyimpan segenap tipuan sulapnya. Ia juga
mengenakan topi kain yang juga kusam tetapi dihiasi bulu-bulu burung
dengan warna mencolok. Bulu-bulu burung berwarna kuning, biru,
merah, dan hijau. Bulu-bulu burung itu sangat indah. Hmm. Apakah ia
telah mencerabutinya dari burung-burung langka? Celananya yang belel
dengan banyak kantong juga tidak bisa disebutkan berwarna apa.
Sepatunya adalah sepatu tenis butut yang masing-masing tampak sekali
bukan pasangannya. Ia tidak mengenakan kaus kaki dan sebagian jari
kakinya terlihat pada lubang di ujung sepatu yang kiri maupun yang
kanan.

Sembari turun dari bukit tukang sulap itu meniup seruling,
memperdengarkan lagu-lagu yang riang. Anak-anak, yang memang paling
cepat melupakan bencana, segera mengikuti tukang sulap itu dari
belakang sambil menari-nari. Mereka melompat-lompat mengikuti irama
seruling maupun gerak tukang sulap tersebut dan rombongan yang
menuruni bukit itu memang segera menarik perhatian. Orang-orang
dewasa yang sejak pagi terkantuk-kantuk dan berkaparan di tenda-
tenda segera memperlihatkan kepalanya. Mata mereka yang mengantuk
tampak menjadi agak terbuka.

“Siapa lagi ini?”

Mereka memang sudah muak dengan orang-orang yang mengambil
keuntungan dari bencana. Orang-orang yang menjadi terkenal karena
memberi sumbangan, orang-orang yang mempunyai kepentingan dan
teruntungkan jika diberitakan mengunjungi korban bencana, orang-
orang yang tidak mampu memberi apa pun selain mengambil sesuatu dari
keberadaan para korban bencana–mengambil gambar, mengambil cerita,
mengambil gagasan, mengambil apa pun–dan tidak pernah
mengembalikannya sebagai pemberian yang mengubah keadaan mereka
sebagai korban.

Mereka melihat tukang sulap itu segera beraksi.

“Lihat, anak-anak!”

Ia mengeluarkan pisau lantas memotong lidahnya sendiri.

“Hiiiii!” Anak-anak berteriak ngeri.

Lidah itu memang tidak putus, tapi tetap saja mengeluarkan darah.
Setelah darah itu habis, ternyata lidahnya baik-baik saja.

“He-he-he!” Tukang sulap itu tertawa melihat anak-anak ternganga.
Lantas ia mendekati mereka sambil membuka sebuah kotak korek api.

“Hiiiiiiiii!” Terdengar lagi anak-anak berteriak ngeri, anak-anak
perempuan bahkan sampai berlari-lari, meski sambil tertawa-tawa
geli, karena di dalam kotak korek api itu terdapat jari manusia yang
terpotong dan berdarah.

“He-he-he-he!” Tukang sulap itu tertawa lagi dengan penuh
kemenangan.

“Ayo, jangan lari, ini kan hanya sulap, coba lihat tongkat ini!”

Ia meletakkan tongkat itu di punggung jari-jari tangannya, lantas ia
miringkan tangannya itu, ternyata tongkat itu tidak jatuh. Anak-anak
ternganga.

“Kok bisa, ya?” Anak-anak berpandangan.

“Sakti!”

Tukang sulap itu menyahut.

“Ya, tongkat ini memang tongkat wasiat! Coba lihat!”

Dari balik jas panjangnya yang kumal, ia keluarkan sebuah teko
kecil. Ia buka tutupnya.

“Coba lihat, anak-anak!”

Ia masukkan tongkatnya ke dalam teko. Ternyata tembus ke dasar teko.
Ia miringkan teko itu. Memang tidak ada air di dalamnya. Bukankah
teko itu berlubang?

“Anak-anak, bisakah teko ini untuk masak air?”

“Tidaaaaaakkk.” Anak-anak menjawab serentak. Maka tukang sulap itu
memukulkan tongkat wasiatnya ke teko.

“Simsalabim!”

Ia memiringkan teko itu. Ajaib. Keluarlah air yang mengucur. Ia
minta seorang anak mengulurkan tangan untuk menyentuh air itu.

“Ah!” Anak itu segera menarik tangannya.

“Panas!”

Orang-orang yang berkerumun itu mulutnya bergumam. Mereka mulai
percaya tukang sulap itu sakti. Tukang sulap itu terus beraksi. Ia
keluarkan sebatang lilin dari balik jasnya. Ia nyalakan lilin itu.
Terlihat apinya menyala.

“Perhatikan, anak-anak, Bapak bisa mematikan api ini hanya dengan
memandangnya!”

Ia memandangi api itu. Beberapa saat lamanya, api itu belum mati
juga.

“Sulap mana pun tidak mungkin mematikan api dengan pandangan mata,”
seorang dewasa bergumam.

“Barangkali memang bukan sulap, barangkali dia betul-betul sakti,”
seorang dewasa lain berbisik menyahut.

Mereka perhatikan tukang sulap itu memandangi api. Ternyata api itu
kemudian memang mati. Terdengar gumam kagum dari kerumunan manusia
yang makin lama makin banyak itu.

“Enak benar jadi orang sakti, ya? Barangkali ia bisa mengubah batu
jadi onde-onde.”

“Atau mengubah daun jadi uang.”

Rupanya tukang sulap itu mendengar perbincangan tersebut. Ia
nyalakan lilin lain yang diambil dari balik jasnya dengan korek api.

“Lihat! Siapa mau uang untuk jajan?”

Anak-anak dan orang dewasa menjawab serentak.

“Sayaaaaaaaaaaaaa!”

Tukang sulap itu tersenyum.

“Wah, tentu tidak bisa dapat semua.”

Lantas ia perlihatkan kedua tangannya yang kosong. Setelah itu
dihampirinya lilin yang menyala tadi dan diangkatnya dengan tangan
kiri. Tangan kanannya meraba-raba nyala lilin, lalu menggenggam
seolah-olah memegang api, untuk dipindahkan ke tangan kiri yang
memegang lilin. Ia tiup lilin itu sampai mati dan meletakkannya di
meja yang kebetulan ada di dekatnya. Ketika tangan kirinya dibuka,
sudah terdapat uang logam yang langsung diberikannya kepada seorang
gadis kecil yang manis sekali.

Gumam terdengar riuh rendah karena keajaiban itu.

“Beri kami sejuta rupiah!”

“Ya, beri kami semua masing-masing sejuta! Bapak pasti bisa!”

Tukang sulap itu tertawa terkekeh-kekeh.

“He-he-he-he!”

Namun ia melanjutkan saja unjuk keahliannya. Tidak terlalu
diperhatikannya bahwa bayangan tentang uang yang bisa diciptakan
dari ketiadaan mempunyai pengaruh besar kepada manusia-manusia tanpa
uang itu.

“Bapak-bapak tidak punya uang rokok? Sebetulnya Bapak-bapak tinggal
berkhayal agar khayalan itu jadi kenyataan. Tidak percaya? Coba
lihat!”

Tukang sulap itu berpantomim, memerankan seseorang yang menggulung
tembakau dengan kertas. Setelah seolah-olah menjadi rokok,
diletakkannya rokok yang tidak terlihat itu di mulutnya. Lantas
dengan korek api sesungguhnya ia menyalakan rokok khayalan tersebut.
Ajaib. Tiba-tiba di mulutnya terdapat rokok baru yang dinyalakan
korek api tersebut. Ia hembuskan asapnya ke udara dengan senyum
kemenangan.

“He-he-he-he!”

Orang-orang dewasa yang menonton berpandangan. Tukang sulap yang
hidupnya selalu mengembara dan tidak pernah membaca koran, menonton
televisi, atau mendengarkan radio itu tidak terlalu waspada bahwa
wilayah yang dikunjunginya kali ini adalah wilayah bencana. Ia tidak
terlalu sadar betapa kemiskinan yang dilihatnya kali ini tidak
terlalu sama dengan berbagai macam kemiskinan lain yang telah
disaksikannya. Kemiskinan yang satu dengan kemiskinan yang lain
baginya tampak sama saja, kumuh dan nestapa, tetapi yang anehnya
tidak menimbulkan rasa belas baginya.

“Orang-orang yang membahagiakan dirinya dengan mimpi,” pikirnya,
“memang layak dikibuli dengan mimpi-mimpi.”

Dan mimpi-mimpi itulah yang diberikannya kepada mereka, bahwa segala
sesuatu bisa berubah dengan seketika. Simsalabim. Bahwa segala
sesuatu yang tidak mungkin ternyata bisa menjadi mungkin.

“Dasar bego,” pikirnya pula.

IA sudah siap mengedarkan tampah untuk menampung uang saweran sambil
berpikir, “Enak aje mau hiburan gratis,” ketika terdengar suara
seorang dewasa.

“Bapak, apa yang Bapak lakukan?”

“Oh, itu sekadar sukarela saja, maklum namanya juga cari makan.”

“Bapak tahu tidak, Bapak sedang cari makan di mana?”

Tukang sulap itu baru menyadari bahwa penonton anak-anak sudah
terhalangi oleh jajaran orang dewasa yang maju mendekatinya.

“Ya, Bapak dengar-dengar wilayah ini pernah terkena musibah.”

“Pernah?”

“Lho!”

Orang-orang itu menggelengkan kepala dan berdecak sebal.

“Kami tidak pernah bisa bangkit dari musibah itu, Bapak, kami
seperti orang-orang terkutuk, seperti musibah itu tidak pernah pergi
lagi.”

“Oh.” Tukang sulap itu mengangguk-angguk tidak tahu harus menjawab
apa.

“Bapak….”

“Ya.”

“Bisakah Bapak mengubah nasib kami?”

Tukang sulap itu mengernyitkan dahi.

“Mengubah nasib?”

“Ya, mengubah nasib. Kami lihat Bapak begitu sakti, mengubah yang
ada menjadi tiada dan menjadikan ada dari tiada. Bapak sangat sakti.
Tolonglah kami, Bapak. Hanya seorang tukang sulap seperti Bapak bisa
mengubah nasib kami dari masyarakat korban menjadi masyarakat yang
selamat.”

Wajah tukang sulap itu tampak sangat heran. Rambut yang sebagian
tertutup topi kain berbulu-bulu burung warna-warni bagaikan semakin
memutih seketika.

“Lho, saya ini cuma seorang tukang sulap.”

“Justru tukang sulap itulah yang sangat kami butuhkan sekarang.
Sudah lima presiden, seratus menteri, ribuan pejabat, dan orang-
orang terkenal datang ke mari, dan sudah terbukti mereka tidak mampu
mengubah nasib kami. Tolonglah kami, Bapak. Kami telah menyaksikan
sendiri betapa Bapak sangat sakti. Tolonglah, Bapak, sulaplah kami.
Tolong, sulaplah kami dari orang yang menderita menjadi orang yang
berbahagia. Tolonglah kami, Bapak. Kami tidak minta beras, kami
tidak minta uang, kami tidak minta rumah bagus dari langit yang
langsung jadi. Tolonglah kami, Bapak, sulaplah nasib kami agar tidak
menjadi korban.”

Orang-orang dewasa itu tambah mendekat, sampai tukang sulap itu
terdesak mundur.

“Bapak-bapak, mohon sabar dahulu. Saya sama sekali tidak sakti. Saya
hanya seorang tukang sulap. Saya memang bermain sulap, tetapi saya
tidak mampu menyihir. Sedangkan ilmu sihir, kalau memang ada, juga
tidak mampu mengubah nasib. Coba lihat!”

Tukang sulap itu membuka jas panjangnya yang bertambal-tambal.

“Saya cuma memakai pisau ganda untuk sulapan memotong lidah, pisau
yang seperti memotong lidah sebetulnya berongga.”

“Tapi tadi berdarah kok lidahnya?”

“Ah, itu kan teres pewarna. Lihat!”

Ia perlihatkan serbuk teres yang ketika bertemu ludah menjadi mirip
darah.

“Jari dalam korek api itu?”

Maka tukang sulap itu terpaksa membongkar segala rahasianya, bahwa
korek api itu memang berlubang untuk dimasuki jarinya sendiri, yang
ketika dibantu teres pewarna tampak meyakinkan sebagai jari
terpotong yang berdarah-darah. Tongkat tampak tidak jatuh ketika
punggung jari-jari tangan dimiringkan karena peranan seutas benang;
dinding teko dibuat rangkap dengan ruang kosong di tengah, sehingga
tongkat bisa menembusnya; sumbu lilin ternyata memang terpotong di
dalam lilin sehingga tentu saja api akan mati; uang logam terdapat
dalam lubang pada lilin yang tidak menghadap penonton, dan tinggal
dimiringkan supaya uang jatuh ke telapak tangan; rokok yang muncul
dari ketiadaan sebetulnya ada di dalam kotak korek api yang setengah
terbuka, dengan pura-pura menutupi api dari angin, rokok itu
disambar dengan mulut–dan asap boleh dihembuskan dengan senyuman.*

Tukang sulap itu mencermati wajah-wajah para pengepungnya. Baru kali
ini ia harus membongkar rahasia ilmu sulapnya. Keajaiban hilang
lenyap tertiup angin.

“Bapak-bapak mengerti kan saya hanya seorang tukang sulap, benar-
benar tukang sulap, dan karena itu tidak akan mampu mengubah nasib?”

Para korban semula tertegun. Wajah mereka kecewa berat. Namun
sejenak kemudian ternyata mereka tetap mendesak.

“Bapak seorang tukang sulap, tolonglah sulap nasib kami. Tolong,
Pak, tolonglah kami!”

Tukang sulap itu mundur terus sampai jatuh terkapar karena
tersandung sesuatu. Orang-orang tidak menolongnya. Tetap
mengerumuninya sambil berdiri. Tukang sulap itu yang sekarang minta
tolong.

“Tolonglah saya, Bapak-bapak, saya hanya seorang tukang sulap miskin
yang mengembara dari kota ke kota untuk mencari sekadar nafkah bagi
keluarga saya di kampung. Sudah lama saya tidak pulang, Pak,
keluarga saya mungkin juga sudah kelaparan sekarang karena sawah
kami disapu banjir bandang. Saya tidak mengerti bencana macam apa
yang telah Bapak-bapak alami, tetapi percayalah saya mengerti apa
artinya tertimpa musibah, Pak, saya mengerti–maafkan kekhilafan
saya kalau ada kesalahan yang tidak saya sengaja.”

Seseorang membungkuk dan meraih leher tukang sulap yang masih
mengenakan topi dengan bulu-bulu burung warna-warni itu.

“Bapak sama sekali tidak bersalah, tapi Bapak sungguh tega kepada
kami jika tidak sudi menyulap nasib kami.”

Wajah tukang sulap itu betul-betul memancarkan rasa heran yang luar
biasa.

“Menyulap nasib? Aku hanya seorang tukang sulap! Permintaan kalian
salah alamat! Cobalah untuk mengerti!”

“Hanya tukang sulap bisa menyulap nasib, mohon Bapak juga mengerti!
Siapa pun yang pernah datang kemari tidak mampu mengubah nasib kami!
Bapak jangan salah paham, kami sudah meminta kepada pihak-pihak yang
kami perkirakan mampu bukan saja menyulap nasib, tetapi juga
menyulap apa pun dengan kekuasaannya–kenyataannya nasib kami tidak
pernah berubah! Bukan kami tidak pernah berusaha, Pak, tetapi
keadaan kami tidak memungkinkan kami berbuat apa-apa! Sekarang
harapan kami tinggal kepada Bapak! Tolong, Pak, sulaplah nasib kami!”

Tukang sulap itu melihat wajah-wajah yang putus asa sekaligus murka.
Ia merasa kehilangan daya.

“Tuhan, selamatkanlah saya,” ujarnya dalam hati, dan mulutnya
komat-kamit berdoa.

“Tukang sulap! Engkau sungguh tega kepada kami! Sungguh tega kepada
kami!”

Ia masih memejamkan matanya ketika teriakan-teriakan itu makin keras
saja terdengarnya. Dalam kegelapan ia merasa tubuhnya ditendang,
digebuk, dan dibacoki.

Dari kejauhan kerumunan itu seperti bukit manusia yang bergerak-
gerak. Kadang-kadang terlihat pantulan senjata tajam dalam cahaya
matahari. Anak-anak sudah pergi menjauh, menyaksikan semua kejadian
itu dari atas bukit.

Ketika senja tiba, tinggal bulu-bulu burung warna-warni terserak di
tempat itu, di atas rerumputan yang terciprat tetesan darah.

Simsalabim.
Pondok Aren, Jumat, 21 Juli 2006, 16.04
<Catatan>
* Teknik sulap dirujuk dari Houdini dan kawan-kawan, <I>Seni Sulap
Ajaib<I>, Bandung-Jakarta: Kompas Pengetahuan, 1982, Saduran Oerip
Zaman.

About these ads

3 Tanggapan

  1. mas Seno selalu menyajikan keajaiban kata-kata dalam setiap karyanya

  2. Aku lahir di negeri sulap.Aku besar d republik sulap.Negrinya para pakar pesulap,suka menyulap apa saja:dari ga ada,hingga d ada-ada.dari yg ada hingga tiada.Bimsalabim abrakadabraaa gedebuuuusss..!!!!!

  3. Reblogged this on Umar Abdul Jabbar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 340 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: