Legenda Wongasu

  

Legenda Wongasu

    

    
SUATU ketika kelak, seorang tukang cerita akan menuturkan sebuah legenda, yang terbentuk karena masa krisis ekonomi yang berkepanjangan, di sebuah negeri yang dahulu pernah ada, dan namanya adalah Indonesia. Negeri itu sudah pecah menjadi berpuluh-puluh negara kecil, yang syukurlah semuanya makmur, tetapi mereka masih disatukan oleh bahasa yang sama, yakni Bahasa Indonesia, sebagai warisan masa lalu.Barangkali tukang cerita itu akan duduk di tepi jalan dan dikerumuni orang-orang, atau memasang sebuah tenda dan memasang bangku-bangku di dalamnya di sebuah pasar malam, atau juga menceritakannya melalui sebuah teater boneka, bisa boneka yang digerakkan tali, bisa boneka wayang golek, bisa juga wayang magnit yang digerakkan dari bawah lapisan kaca, dengan panggung yang luar biasa kecilnya. Untuk semua itu, ia akan menuliskan di sebuah papan hitam: Hari ini dan seterusnya “Legenda Wongasu”.
Berikut inilah legenda tersebut:

“Untung masih banyak pemakan anjing di Jakarta,” pikir Sukab setiap kali merenungkan kehidupannya. Sukab memang telah berhasil menyambung hidupnya berkat selera para pemakan anjing. Krisis moneter sudah memasuki tahun kelima, itu berarti sudah lima tahun Sukab menjadi pemburu anjing, mengincar anjing-anjing yang tidak terdaftar sebagai peliharaan manusia, memburu anjing-anjing tak berpening yang sedang lengah, dan tiada akan pernah mengira betapa nasibnya berakhir sebagai tongseng.

Semenjak di-PHK lima tahun yang lalu, dan menganggur lontang-lantung tanpa punya pekerjaan, Sukab terpaksa menjadi pemburu anjing supaya bisa bertahan hidup. Kemiskinan telah memojokkannya ke sebuah gubuk berlantai tanah di pinggir kali bersama lima anaknya, sementara istrinya terpaksa melacur di bawah jembatan, melayani sopir-sopir bajaj. Dulu ia begitu miskin, sehingga tidak mampu membeli potas, yang biasa diumpankan para pemburu anjing kepada anjing-anjing kurang pikir, sehingga membuat anjing-anjing itu menggelepar dengan mulut berbusa.

Masih terbayang di depan matanya, bagaimana ia mengelilingi kota sambil membawa karung kosong. Mengincar anjing yang sedang berkeliaran di jalanan, menerkamnya tiba-tiba seperti harimau menyergap rusa, langsung memasukkannya ke dalam karung dan membunuhnya dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini. Sukab tidak pernah peduli, apakah ia berada di tempat ramai atau tempat sepi. Tidak seorang pun akan menghalangi pekerjaannya, karena anjing yang tidak terdaftar boleh dibilang anjing liar, dan anjing liar seperti juga binatang-binatang di hutan yang tidak dilindungi, boleh diburu, dibinasakan, dan dimakan.

Apabila Sukab sudah mendapatkan seekor anjing di dalam karungnya, ia akan berjalan ke sebuah warung kaki lima di tepi rel kereta api, melemparkannya begitu saja ke depan pemilik warung sehingga menimbulkan suara berdebum. Pemilik warung akan memberinya sejumlah uang tanpa berkata-kata, dan Sukab akan menerima uangnya tanpa berkata-kata pula. Begitulah Sukab, yang tidak beralas kaki, bercelana pendek, dan hanya mengenakan kaus singlet yang dekil, menjadi pemburu anjing di Jakarta. Ia tidak menggunakan potas, tidak menggunakan tongkat penjerat berkawat, tapi menerkamnya seperti harimau menyergap rusa di dalam hutan.

Ia berjalan begitu saja di tengah kota, berjalan keluar-masuk kompleks perumahan, mengincar anjing-anjing yang lengah. Di kompleks perumahan semacam itu anjing-anjing dipelihara manusia dengan penuh kasih sayang. Bukan hanya anjing-anjing itu diberi makanan yang mahal karena harus diimpor, atau diberi makan daging segar yang jumlahnya cukup untuk kenduri lima keluarga miskin, tapi juga dimandikan, diberi bantal untuk tidur, dan diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan setiap bulan sekali. Sukab sangat tidak bisa mengerti bagaimana anjing-anjing itu bisa begitu beruntung, sedangkan nasibnya tidak seberuntung anjing-anjing itu.

Namun, anjing tetaplah anjing. Ia tetap mempunyai naluri untuk mengendus-endus tempat sampah dan kencing di bawah tiang listrik. Apabila kesempatan terbuka, tiba-tiba saja mereka sudah berada di alam belantara dunia manusia. Di alam terbuka mereka terpesona oleh dunia, mondar-mandir ke sana kemari seperti kanak-kanak berlarian di taman bermain, dan di sanalah mereka menemui ajalnya. Diterkam dan dibinasakan oleh Sukab sang pemburu, untuk akhirnya digarap para pemasak tongseng.

“Sukab, jangan engkau pulang dengan tangan hampa, anak-anak menantimu dengan perut keroncongan, jangan kau buat aku terpaksa melacur lagi di bawah jembatan, hanya supaya mereka tidak mengais makanan dari tempat sampah,” kata istrinya dahulu.

Kepahitan karena istrinya melacur itulah yang membuat Sukab menjadi pemburu anjing. Hatinya tersobek-sobek memandang istrinya berdiri di ujung jembatan, tersenyum kepada sopir-sopir bajaj yang mangkal, lantas turun ke bawah jembatan bersama salah seorang yang pasti akan mendekatinya. Di bawah jembatan istrinya melayani para sopir bajaj di bawah tenda plastik, hanya dengan beralaskan kertas koran. Tenda plastik biru itu sebetulnya bukan sebuah tenda, hanya lembaran plastik yang disampirkan pada tali gantungan, dan keempat ujungnya ditindih dengan batu. Sukab yang berbadan tegap lemas tanpa daya setiap kali melihat istrinya turun melewati jalan setapak, menghilang ke bawah tenda.

“Inilah yang akan terjadi jika engkau tidak bisa mencari makan,” kata istrinya, ketika Sukab suatu ketika mempertanyakan kesetiaannya, “pertama, aku tidak sudi anak-anakku mati kelaparan; kedua, kamu toh tahu aku ini sebetulnya bukan istrimu.”

Perempuan itu memang ibu anak-anaknya, tapi mereka memang hanya tinggal bersama saja di gubug pinggir kali itu. Tidak ada cerita sehidup semati, surat nikah apalagi. Mereka masih bisa bertahan hidup ketika Sukab menjadi buruh pabrik sandal jepit. Meski tidak mampu menyekolahkan anak dan tidak bisa membelikan perempuan itu cincin kalung intan berlian rajabrana, kehidupan Sukab masih terhormat, pergi dan kembali seperti orang punya pekerjaan tetap. Ketika musim PHK tiba, Sukab tiada mengerti apa yang bisa dibuatnya. Kehidupannya sudah termesinkan sebagai buruh pabrik sandal jepit. Begitu harus cari uang tanpa pemberi tugas, otaknya mampet karena sudah tidak biasa berpikir sendiri, nalurinya hanya mengarah kepada satu hal: berburu anjing.

Itulah riwayat singkat Sukab, sampai ia menjadi pemburu anjing. Kini ia mempunyai beberapa warung yang menjadi pelanggannya di Jakarta. Tangkapan Sukab disukai, karena ia piawai berburu di kompleks perumahan gedongan. Konon anjing peliharaan orang kaya lebih gemuk dan lebih enak dari anjing kampung yang berkeliaran. Tapi Sukab tidak pandang bulu. Ia berjalan, ia memperhatikan, dan ia mengincar. Anjing yang nalurinya tajam pun bisa dibuatnya terperdaya. Apa pun jenisnya, dari chihuahua sampai bulldog, dari anjing gembala Jerman sampai anjing kampung, seperti bisa disihirnya untuk mendekat, lantas tinggal dilumpuhkan, lagi-lagi dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Perburuan anjing itu menolong kehidupan Sukab. Perempuan yang disebut istrinya meski mereka tidak pernah menikah itu tak pernah pergi lagi ke bawah jembatan, melainkan memasak kepala anjing yang diberikan para pemilik warung kepada Sukab. Seperti juga ia melemparkan karung berisi anjing kepada pemilik warung sehingga menimbulkan bunyi berdebum, begitu pula ia melemparkan kepala anjing itu ke hadapan perempuan itu. Anak-anak mereka yang jumlahnya lima itu menjadi gemuk dan lincah, namun dari sinilah cerita baru dimulai.
***
SEPANJANG rel, tempat ia selalu membawa karung berisi anjing, anak-anak berteriak mengejeknya.

“Wongasu! Wongasu!”

Mula-mula Sukab tidak peduli, tapi kemudian perempuan yang disebut istrinya itu pun berkata kepadanya.

“Sukab! Mereka menyebut kita Wongasu!”

“Kenapa?”

“Katanya wajah kita mirip anjing.”

Mereka begitu miskin, sehingga tidak punya cermin. Jadi mereka hanya bisa saling memeriksa.

Betul juga. Mereka merasa wajah mereka sekarang mirip anjing.

“Anak-anak tidak lagi bermain dengan anak-anak tetangga, karena mereka semua mengejeknya sebagai Wongasu.”

Ia perhatikan, anak-anak mereka juga sudah mirip anjing. Perasaan Sukab remuk redam.

“Aduhai anak-anakku, kenapa mereka jadi begitu?” Sukab merenung sendirian. Kalaulah ini semacam karmapala karena perbuatannya sebagai pemburu anjing, mengapa hal semacam itu tidak menimpa para pemakan anjing saja? Bukankah perburuan anjing itu bisa berlangsung, hanya karena ada juga warung-warung penjual masakan anjing yang selalu penuh dengan pengunjung? Kenapa hanya dirinya yang menerima karmapala?

Orang-orang itu memakan anjing karena punya uang, begitu pikiran Sukab yang sederhana, sedangkan ia dan keluar-ganya memakan hanya kepalanya saja karena tidak punya uang. Sejumlah uang yang diterimanya dari para pemilik warung, yang mestinya cukup untuk membeli ikan asin dan nasi, biasa habis di lingkaran judi, tempat dahulu ia bertemu dengan perempuan itu-yang telanjur dicintainya setengah mati. Bukan berarti Sukab seorang penjudi, tapi ia juga punya impian untuk mengubah nasib secepat-cepatnya.

Namun kini mereka semua menjadi Wongasu.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup,” kata Sukab.

Perempuan itu menangis. Wajahnya yang cantik lama-lama juga menjadi mirip anjing. Meski sudah tidak melacur, tentu saja ia tetap ingin kelihatan cantik. Begitu juga Sukab. Anak-anak mereka terkucil dan setiap kali berkeliaran menjadi bahan ejekan.

Sukab tetap menjalankan pekerjaannya, dan pekerjaannya memang menjadi semakin mudah. Bukan karena anjing-anjing itu melihat kepala Sukab semakin mirip dengan mereka, melainkan karena penciuman mereka yang tajam mencium bau tubuh Sukab yang rupa-rupanya sudah semakin berbau anjing. Mereka datang seperti menyerahkan diri kepada Sukab yang telah sempurna sebagai Wongasu. Kadang-kadang Sukab cukup membuka karung dan anjing itu memasuki karung itu dengan sukarela, seperti upacara pengorbanan diri, meski Sukab tetap akan mengakhiri hidup mereka, tentu saja dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Ia akan datang dari ujung rel memanggul karung berisi anjing, melemparkannya ke hadapan pemilik warung berdingklik di tepi rel sehingga menimbulkan bunyi berdebum, dan segera pergi lagi setelah menerima sejumlah uang.

Di belakangnya anak-anak kecil berteriak.

“Wongasu! Wongasu!”

Pada suatu hari, ketika ia kembali ke gubugnya di pinggir kali, seseorang berteriak kepadanya.

“Wongasu! Mereka mengangkut keluargamu!”

Rumah gubugnya porak poranda. Seorang tua berkata kepadanya bahwa penduduk mendatangkan petugas yang membawa kerangkeng beroda. Perempuan dan anak-anaknya ditangkap. Mereka dibawa pergi.

“Ke mana?”

“Entahlah, kamu tanyakan sendiri saja sana!”

Waktu Sukab berjalan di sepanjang tepi kali, ia mendengar mereka berbisik-bisik dari dalam gubug-gubug kardus.

“Awas! Wongasu lewat! Wongasu lewat!”

“Heran! Kenapa kepalanya bisa berubah menjadi kepala anjing?”

“Itulah karmapala seorang pembunuh anjing.”

“Tapi kita semua makan anjing, siapa yang mampu beli daging sapi dalam masa sekarang ini? Bukankah justru….”

“Husssss…..”

Di kantor polisi terdekat Sukab bertanya, apakah mereka tahu akan adanya pengerangkengan tiada semena-mena sebuah keluarga di tepi kali.

“Oh, itu. Bukan polisi yang mengangkut, tapi petugas tibum.”

“Apa mereka melanggar ketertiban umum?”

Polisi itu kemudian bercerita, bagaimana salah seorang anak Sukab tidak tahan lagi karena selalu dilempari batu, sehingga mengejar pelempar batu dan menggigitnya. Bapak anak yang digigit sampai berdarah-darah itu tidak bisa menerima, lantas mengerahkan pemukim pinggir kali untuk mengepung gubug mereka. Kejadian itu dilaporkan kepada petugas tibum yang tanpa bertanya ini itu segera mengangkut mereka sambil menggebukinya.

Diceritakan oleh polisi itu bagaimana perempuan dan kelima anaknya itu berhasil dimasukkan ke dalam kerangkeng, hanya setelah memberi perlawanan yang luar biasa.

“Mereka menyalak-nyalak dan berkaing-kaing seperti anjing,” kata polisi itu, seolah-olah tidak peduli bahwa wajah Sukab juga seperti anjing.

“Hati-hati lewat sana,” katanya lagi, “mereka juga bisa menangkap saudara.”

“Kenapa Bapak tidak mencegah mereka, perlakuan itu kan tidak manusiawi?”

Polisi itu malah membentak.

“Apa? Tidak manusiawi? Apa saudara pikir makhluk seperti itu namanya manusia?”

“Mereka juga manusia, seperti Bapak!”

“Tidak! Saya tidak sudi disamakan! Mereka itu lain! Saudara juga lain! Sebetulnya saya tidak bisa menyebut Anda sebagai Saudara. Huh! Saudara! Saudara dari mana? Lagi pula, Anda bisa bayar berapa?”

Sukab berlalu. Nalurinya yang entah datang dari mana serasa ingin menerkam dan merobek-robek polisi itu, tapi hati dan otaknya masih manusia. Ia berjalan di kaki lima tak tahu ke mana harus mencari keluarganya.

Setelah malam tiba, ia kembali ke pinggir kali dengan tangan hampa. Ia berjongkok di bekas gubugnya yang hancur, menangis, tapi suara yang keluar adalah lolongan anjing.

Hal ini membuat orang-orang di pinggir kali lagi-lagi gelisah. Lolongan di bawah cahaya bulan itu terasa mengerikan. Ketakutannya membuat mereka mendatangi Sukab yang masih melolong ke arah rembulan dengan memilukan. Mereka membawa segala macam senjata tajam.
***
“MEREKA membantai Sukab,” ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas.

“Dibantai bagaimana?”

“Ya dibantai, kalian pikir bagaimana caranya kalian membantai anjing?”

“Terus?”

“Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing.”

“Terus?”

“Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?”

Ada yang menahan muntah, tapi masih penasaran dengan akhir ceritanya.

“Yang bener aje, masa’ Sukab dimakan?”

Tukang cerita itu tersenyum.

“Lho, itu tidak penting.”

Orang-orang yang mau pergi karena mengira cerita berakhir, berbalik lagi.

“Apa yang penting?”

“Esoknya, ketika matahari terbit, dan orang-orang bangun kesiangan karena makan terlalu kenyang dan mabuk-mabukan, terjadi suatu peristiwa di luar dugaan.”

“Apa yang terjadi?”

“Ketika terbangun mereka semua terkejut ketika saling memandang, mereka bangkit dan menyalak-nyalak, lari kian kemari sambil berkaing-kaing seperti anjing!”

“Haaaa?”

“Kepala mereka telah berubah menjadi kepala anjing!”

“Aaahhh!!!”

“Mereka semua telah berubah menjadi Wongasu!!”

Mulut tukang cerita membunyikan gamelan bertalu-talu sebagai tanda cerita berakhir, dan mulut para asistennya membunyikan suara lolongan anjing yang terasa begitu getir sebagai tangis perpisahan yang menyedihkan. Para penonton terlongong dengan lidah terjulur.

Di langit masih terlihat rembulan yang sama, dengan cahaya kebiru-biruan menyepuh daun yang masih juga selalu memesona.

Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk!

* Cirebon-Wangon-Jogja, Januari 2002.

* Pesan pengarang: Sayangilah anjing, sayangilah makhluk ciptaan Tuhan.

dimuat di: Kompas, Minggu 3 Maret 2002 

Topeng Monyet

  

Topeng Monyet

                                                        

Waktu ia menyeringai aku sudah tahu monyet itu siapa. Bumi ini cuma tempat persinggahan rohroh yang mencari tubuh. Ratusan ribu roh melesat kian kemari, ada yang mencari tubuh, ada yang lepas dari tubuh. Siapapun yang melihatnya akan menyaksikan pesta kembang api. Suaranya mendesing-desing dan ratusan ribu roh itu berkelebatan kian kemari dalam rotasi. Setiap detik berlangsung perpindahan roh dari tubuh yang habis masa berlakunya, ke tempat hunian baru. Perpindahan roh dari satu tubuh ke tubuh lain melewati suatu proses pencucian kembali, dengan cara mengelilingkannya ke seantero semesta, meski hanya berlangsung dalam satu detik saja. Dengan demikian diharapkan roh-roh itu tidak membawa pengaruh ketubuhannya yang lama ke dalam ketubuhannya yang baru. Jika prosedur ini tidak dijalankan, dan roh yang baru keluar dari tubuh anjing memasuki tubuh manusia, begitu lahir ia bisa langsung menyalak-nyalak. Setiap detik ada yang mati, setiap detik ada yang lahir, melangsungkan rotasi roh yang luar biasa, tetapi yang tidak jelas benar sistemnya, dan tidak akan pernah jelas, dan barangkali juga tidak perlu terlalu jelas.

“Beri hormat dulu,” kata Tukang Cerita, sambil memukul-mukul tambur. Maka monyet itu memberi hormat, sama seperti letnan jenderal memberi hormat kepada jenderal. Kemudian mulailah tukang cerita mendongeng, sementara monyet itu memeragakannya.

“Adalah sebuah negeri yang didirikan oleh manusia.”

Demikianlah para penonton menyaksikan monyet itu menirukan manusia. Penonton terpingkalpingkal, anak kecil bersorak, melihat monyet itu membawa payung, membaca buku, dan akhirnya menembakkan senapan.

Waktu ia membawa senapan kulihat matanya menyala -nyala, mulutnya menyeringai dengan kejam, aku tahu siapa dia. Mata yang menyala-nyala itu menatapku dengan tajam. Dia memang jauh lebih tua dariku, karena itu dia mati lebih dulu. Kini dia mengarahkan senapannya kepadaku, dengan mulut menyemburkan api biru, seperti api kompor gas.

“Ibu! Ibu! Bapak itu mau ditembak!”

Seorang anak di bawah umur lima tahun akan mampu melihat api biru yang menyembur itu, tapi mereka tidak tahu dari mana asalnya. Mereka tidak tahu itulah api neraka yang bisa membakar segala-galanya menjadi bencana tak tertahankan.

Kulihat Si Tukang Cerita. Tangan kirinya memegang rantai yang ujungnya mengunci leher monyet, dan tangan kanannya memegang tongkat kecil yang mampu membuat monyet itu menuruti segala perintahnya.

“Si Kliwon maju bertempur ke medan perang,” ujarnya.

Monyet itu menunduk-nunduk, seperti mengintai musuh dari balik semak-semak.

“Si Kliwon menembak!”

Monyet itu memegang senapannya seperti manusia memberondongkan senapan mesin, sementara tongkat tadi kemudian memukul-mukul tambur. Dung-derudung-dung-derudung-dung-derudung ramai sekali suaranya.

Anak-anak di bawah lima tahun melihat semuanya. Orang-orang tidak bersenjata rubuh ke tanah bersimbah darah. Mereka melihat siapa monyet itu dulunya. Mereka melihat orang-orang digiring ke tanah lapang dengan tangan terikat ke belakang, sambung menyambung sepanjang lapangan. Tubuh mereka tersentak-sentak ketika ditembak. Roh mereka masing-masing melejit dan langsung bergabung dalam proses maharotasi, melejit-lejit, melesat-lesat, berkelebat begitu cepat, mendesing-desing seperti mercon sos-dor yang tidak pernah meledak, sebelum akhirnya tahu-tahu lahir kembali dalam ujud seekor katak. Kung-kang, kung-kang, kung-kang, kung-kang, Anak-anak melihatnya, tapi mereka masih di bawah lima tahun. Tidak paham apa maknanya sejumlah orang bersenjata membantai sejumlah orang tidak bersenjata yang sebelum mati berseru:

“Allahu Akbar!”

Monyet itu menyeringai dengan mata iblis merah menyala, dari mulutnya menyembur api biru kompor gas, lantas menandak-nandak sambil memegang senapan di atas kepalanya. Tukang Cerita melanjutkan kata-katanya.

“Syahdan, negara berada dalam keadaan bahaya. Setiap wilayah ingin memisahkan diri. Raja menitahkan agar pemberontak ditumpas. Pasukan tentara diberangkatkan berperang ke pulau seberang. Para serdadu senang mendapat uang tambahan, dan kegemaran membunuh tersalurkan dengan pembenaran. Siapapun yang ditemui disikat tanpa pandang bulu. Siapapun yang tidak dikenal segera ditumpas, karena tidak kenal artinya asing, dan asing artinya berbahaya, dan segala sesuatu yang berbahaya harus dihapuskan.”

Tambur masih terus dipukul. Monyet itu melompat berjumpalitan. Anak kecil tertawa-tawa.

“Setelah puas membinasakan lawan yang tiada berdaya, pasukan tentara bersantai sambil
membicakan tindakan-tindakan ksatria, yakni membunuh dengan membabi buta. Perempuan dan anak-anaknya ditembak pula.”

Monyet itu merebahkan diri, dengan tangan kiri menyangga kepala, seperti seorang raja menikmati hiburan. Kulihat sekeliling. Orang-orang dewasa mengalihkan pandangannya, seperti baru saja dihadapkan kepada kenyataan. Anak-anak masih menonton dengan mulut ternganga. Aku tahu siapa dia, yang bersembunyi di balik tubuh seekor monyet, karena aku telah selalu memburunya dari zaman ke zaman. Tuanku telah memerintahkan aku untuk terus mengawasinya. Namun aku juga bukan makhluk sempurna. Aku terlalu sering lupa untuk membuntutinya. Aku harus mengganggunya terus-menerus agar ia tidak terlalu sering dan tidak terlalu mudah menyebarkan bencana. Aku harus terus mengikutinya, dari ruang ke ruang dari waktu ke waktu, sampai tidak lagi merasa bosan, meski tiada terhitung lagi berapa millennium lamanya aku telah mengikuti dia, yang mata iblisnya suka berpijar sesaat menyala-nyala merah warnanya. Suatu ketika aku kehilangan jejak dan aku kehilangan dia, sekejap saja sebetulnya, tapi itu sudah
100 tahun manusia. Bahkan sampai aku sendiri mati dan lahir kembali berkali-kali. Sekarang tibatiba ia muncul di hadapanku. Menyeringai dengan mata iblis merah menyala dan dari mulutnya menyembur api biru kompor gas.

“Si Kliwon pulang dengan bangga, rasanya puas karena telah membunuh banyak manusia.”

Topeng Monyet selesai. Tukang Cerita itu memerintahkan monyetnya memberi hormat kepada para penonton. Monyet itu memberi hormat seperti seorang letnan jenderal memberi hormat kepada jenderal. Setelah itu mereka pergi. Aku mengikuti mereka. Dari dalam kandang beroda yang diseret, dengan gembok besi yang terkunci, monyet itu memandangku. Tahukah ia siapa dirinya dulu? Kenalkah ia kepadaku?

Dari kampung ke kampung mereka mengembara, dan aku terus-menerus mengikutinya. Tukang Cerita itu melirikku.

“Kamu mau apa?”

Aku diam saja. Ia berjalan lagi. Aku mengikutinya lagi. Masih kuingat tugas Tuanku agar aku jangan sampai kehilangan iblis itu lagi. Tukang Cerita itu tentu tidak mengerti apa-apa tentang monyetnya. Ia sudah 50 tahun, sebagian rambutnya memutih, ditutupi topi tikar pandan yang sudah jebol-jebol pinggirnya. Bajunya lusuh dan warna kainnya sudah berubah. Ia menyeret kandang beroda itu naik dari kampung-kampung di tepi rawa ke kampung-kampung di perbukitan yang menghijau. Di sana mereka berhenti karena sejumlah orang yang sedang duduk-duduk di warung memintanya memainkan lakon Menunggu Godot. Maka Tukang Cerita itupun bercerita tentang orang-orang yang
menunggu Godot di bawah sebuah pohon, tapi sampai cerita berakhir Godot tidak pernah tiba. Monyet itu bermain dengan bagus menirukan manusia-manusia yang menunggu sambil bercakapcakap. Tentu saja percakapan itu dilakukan oleh Si Tukang Cerita.

Cerita itu ternyata lama sekali, tapi akhirnya berakhir juga ketika senja tiba.

“Ya, mari kita pergi.” Tukang Cerita itu mengakhiri, dan monyet itu tidak bergerak.

Orang-orang di warung bertepuk tangan, memberi upah, dan memuji-muji. Salah seorang
melemparkan buah pisang kepada monyet itu, yang segera memakannya setelah mengupas kulitnya terlebih dahulu.

“Pak, monyet itu bisa memainkan lima peran dalam Menunggu Godot, bagaimana melatihnya?”

“Ah, begitu saja, seperti melatih binatang sirkus,” kata Tukang Cerita itu merendah.

Lantas mereka melanjutkan perjalanan. Dalam cahaya senja yang menyapu punggung-punggung bukit kuikuti mereka naik turun jalan setapak, menembus hutan pinus, sampai turun ke sebuah lembah tempat sebuah sungai kecil mengalir. Ketika hari menjadi gelap, kulihat mata monyet itu semakin menyala.

Apa maksud Tuanku memberi tugas seperti ini, mengikuti roh keluar masuk tubuh dari abad ke abad? Apakah jalan hidup bisa ditentukan untuk selalu saling mengikuti seperti itu? Apakah artinya hidupku jika sudah ditentukan bahwa aku akan selalu membuntuti roh dalam tubuh monyet itu sepanjang semesta ini ada? Jika semesta ini merupakan ruang untuk mencuci dan menyucikan kembali roh yang melejit dari tubuh, mengapakah aku harus terus-menerus mengikutinya, dan apakah mungkin mengikutinya jika roh itu hanyalah semacam energi yang menghidupkan tubuh sehingga tidak ada beda antara roh satu dengan yang lain ketika sedang berkelebatan di angkasa raya? Aku tidak mengerti. Kurasa hidup ini memang sebuah misteri. Di langit kulihat sekian banyak roh melesat-lesat seperti mercon sos-dor yang tidak pernah meledak. Monyet itu tak pernah berkedip menatapku dari dalam kandangnya. Apakah ia tahu akulah yang ditugaskan Tuanku
mengikutinya? Apakah ia tahu akulah selama ini yang mengejarnya dan aku sempat kehilangan jejak sampai 100 tahun lamanya sehingga masa itu tercatat dalam kitab-kitab sebagai Abad Kegelapan?

Mereka tidur di tepi kali. Rembulan terang. Tukang Cerita itu mengambil kain sarung dari sebuah kotak di atas kandang beroda, lantas menggulung tubuhnya di atas batu datar yang malam itu menjadi putih kebiru-biruan. Kudengar air kali. Aku senang sekali mengikuti perjalanan mereka.

“Bukankah pada jam seperti ini kamu sudah seharusnya di rumah? Pulanglah, kalau sudah besar nanti kamu boleh mengembara.”

O, Tukang Cerita itu tidak tahu, aku sama sekali tidak ingin mengembara. Aku harus mengawasi roh dalam tubuh monyet itu, yang mata iblis merahnya menyala-nyala, agar ia tidak membunuh manusia seenak perutnya seperti selalu diperagakannya. Tapi tentu saja Tukang Cerita itu tidak akan mengerti, karena ia sudah 50 tahun. Sedangkan aku, baru seminggu lagi mencapai usia 5 tahun. Setelah itu, aku akan lupa dari mana aku berasal dan ke mana aku setelah mati – yang semacam itu hanya bisa kukira-kira saja.

Sudah pasti aku tertidur. Lewat tengah malam, Tukang Cerita itu membangunkan aku.

“Monyet itu hilang,” katanya dengan gugup.

Kulihat kandangnya. Gemboknya masih terkunci. ***

   

Pondok Aren, Selasa 8 Januari 2002
   

   

Suara Pembaruan – 2/10/2002

Badak Kencana

 

Badak Kencana

 

BAGIKU tidak ada yang terlalu menarik di Ujung Kulon, sampai kudengar perbincangan tentang Badak Kencana.

Perbincangan itu mulai kudengar di antara para nelayan. Semula aku tidak berpikir tentang Badak Kencana, melainkan tentang ikan-ikan yang kena kibul para nelayan: mereka mendekati lampu yang menyala untuk segera terperangkap dalam jala dan segera masuk ke perut manusia. Apakah ikan-ikan melihat sorga di balik cahaya, dan jika mereka mati demi kelanjutan hidup manusia, yang selalu diandaikan lebih mulia, mereka akan mendapatkan sorga? Jika memang demikian, ketika orang baik-baik mati dan masuk sorga, maka mereka akan berjumpa dengan ikan-ikan yang pernah mereka makan. Tuhan Maha Adil, orang baik-baik masuk sorga, dengan ikan-ikan yang membuat orang baik-baik hidup lebih lama juga masuk sorga. Berbahagialah mereka yang lahir kembali
sebagai ikan, karena jika mereka mati akibat kibul cahaya lampu yang mereka kira cahaya sorga dan dimakan manusia, setelah mati mereka akan masuk sorga juga.

Tapi selanjutnya kulupakan ikan-ikan, ketika para nelayan sambil mengangkat jala masih terus berbincang tentang Badak Kencana, dewa badak yang melindungi badak-badak bercula satu dari kepunahan. Di antara amis ikan di tengah lautan dalam kegelapan malam, dari perahu nelayan kadang terlihat secercah cahaya di tengah hutan, yang sesekali tampak dan sesekali menghilang — pemandangan yang membuat aku bertanya-tanya: benarkah di balik kelam itu terdapat Badak Kencana berkeliaran?

Sampai sekarang pun Ujung Kulon terpencil. Kukira para pemukim pertama datang melalui laut.  Tentu merekalah yang mewariskan sebuah cerita turun-temurun tentang Badak Kencana, yang konon selalu akan muncul setiap kali jumlah badak-badak bercula satu di Ujung Kulon mencapai titik nadir. Demikianlah diceritakan betapa Badak Kencana itu akan mengencani badak-badak betina dan meninggalkan mereka dalam keadaan bunting, sehingga jumlah badak yang makin menipis itu bisa bertahan, bahkan tidak jarang malah bertambah. Namun Badak Kencana itu bukanlah badak jantan. Ia disebutkan tidak mempunyai kelamin, karena ia memang bukan sembarang badak: ia tidak beranak dan ia tidak diperanakkan. Bahwa yang diberkahinya dengan keturunan adalah badak-badak betina, tak lebih dan tak kurang karena badak-badak jantan tidak mungkin bunting. Lewat tengah malam para nelayan makan. Mereka merebus mie instan bersama bungkusnya. Bungkus itu dibuka, dan ke dalam bungkus itu bumbu-bumbunya dituang, agar jangan sampai tersebar keluar bungkus. Mereka juga memasukkan telur-telur bebek ke dalam air yang merebus mie instan dan itulah yang kami makan sebagai lauk nasi.

Para nelayan tidak pernah melihat Badak Kencana, tetapi mereka percaya kisah nenek moyang bahwa setiap kali jumlah badak bercula satu menipis, Badak Kencana akan muncul menyelamatkan mereka dari kepunahan. Namun bukan hanya para nelayan yang mempercayai sesuatu tanpa melihatnya. Badak bercula satu diperkirakan tinggal 50 ekor, tetapi angka ini tidak bisa dipastikan, karena mungkin saja jumlahnya 60 ekor. Tim Sensus yang dikirim dari Jakarta menghitung jumlah badak bukan berdasarkan penglihatan atas badak-badak dengan mata kepala sendiri, melainkan, antara lain, berdasarkan jejak tapak kaki yang mereka tinggalkan.

Badak Kencana maupun badak-badak biasa sama -sama tidak pernah terlihat, namun keduanya kini berada di dalam kepalaku dan sulit kukeluarkan lagi seumur hidupku.

Jejak tapak itulah yang memberi petunjuk kemunculan kembali Badak Kencana dan menjadi perbincangan para nelayan. Ketika melacak jejak badak, Tim Sensus menemukan jejak tapak badak yang keemas-emasan. Suatu jejak tapak di tanah yang membuat butir-butir tanah yang terinjak itu seperti serbuk emas, yang bercahaya suram dalam keremangan hutan di antara gerimis. Tapak kaki Badak Kencana itu hanya satu, bukan empat, namun itu sudah cukup untuk menunjukkan kehadirannya.

“Badak Kencana…” desis salah seorang penunjuk jalan.

Bagi penduduk Tamanjaya, kampung nelayan dari mana perahu biasa berangkat menuju Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, atau Pulau Panaitan, kehadiran Badak Kencana sebagai dongeng telah melekat bagaikan kenyataan, sehingga jejak tapak badak keemas-emasan itu seperti bagian dari sebuah dunia yang telah mereka kenal.

Tim Sensus, yang selalu bekerja secara ilmiah, tentu bukan tergolong orang-orang yang percaya bahwa di dunia ini badak-badak bercula satu mempunyai dewa mereka sendiri yang bernama Badak Kencana, namun mereka mengakui bahwa jejak tapak yang mereka saksikan memang jejak kaki yang keemas-emasan. Setelah diselidiki, serbuk-serbuk emas itu bukan emas yang disebut logam mulia, tapi lebih mirip serbuk-serbuk cahaya. Di laboratorium, tak bisa dijelaskan serbuk-serbuk cahaya tersebut terdiri dari bahan apa.

Penemuan jejak yang keemasan-emasan itu mengingatkan kembali para nelayan betapa Badak Kencana itu belakangan ini sering muncul kembali dalam mimpi-mimpi mereka. Perbincangan tentang Badak Kencana itu sempat lama hilang, terutama ketika radio dan televisi memasuki desa. Hampir tiga puluh tahun lebih ingatan kepada Badak Kencana seperti terhapus dan menguap bersama udara.

Para nelayan di Tamanjaya berangkat jam empat sore ke laut untuk mencari ikan dan tiba kembali di pelabuhan jam delapan pagi keesokan harinya. Dalam perjalanan pulang itulah, dalam keadaan terkantuk-kantuk oleh buaian ombak dan angin pagi, para nelayan yang tergolek-golek akhirnya akan tertidur dan bermimpi. Dan dalam salah satu mimpi itulah beberapa di antara mereka menyaksikan Badak Kencana, yang memandang dengan tajam, sebelum akhirnya menghilang. Pada abad ke-19, jauh sebelum pemerintah Hindia Belanda memperlakukan Ujung Kulon sebagai cagar alam, para nelayan tidak asing dengan pemunculan Badak Kencana dalam mimpi. Saat itu badak-badak bercula satu sudah terancam punah, bukan terutama karena terdesak pemukiman manusia yang merajalela, atau karena Pulau Jawa sebagian besar masih hutan, melainkan oleh semangat berburu. Para pemburu andal dibayar mahal untuk mengikuti jejak tapak badak ke dalam hutan selama berminggu-minggu hanya untuk mengambil cula. Badak-badak bergelimpangan dalam hutan tanpa cula, atas nama kepercayaan tak masuk akal perihal
keampuhan cula itu sebagai pembangkit syahwat, obat kecantikan, maupun obat panjang umur. Kenyataannya, cula itu memang mendatangkan uang. Para pemburu badak, yang secara turun temurun mewarisi keahlian memburu badak, terus menerus menerima pesanan cula dari Batavia maupun Singapura, yang membuat mereka bisa masuk hutan setiap bulan untuk memenuhi pesanan itu. Tak ada sebuah cula pun yang bisa diambil tanpa membunuh badaknya terlebih dahulu.

Kemudian Badak Kencana muncul ke dalam mimpi orang-orang di sekitar Ujung Kulon, bukan hanya di Tamanjaya atau Tanjung Alang-alang, melainkan juga sampai Sumur dan Badur. Seolah-olah mimpi itu mempunyai suatu daya jangkau. Penampakan Badak Kencana, meskipun hanya dalam mimpi, sering diterima sebagai suatu isyarat, tetapi arti isyarat itu tidak pernah disepakati. Ada yang menafsirkannya sebagai keberuntungan, ada juga yang menangkapnya sebagai perkabungan.

Badak Kencana tidak hanya menampakkan diri di dalam mimpi. Badak Kencana  dihubungkan dengan kematian sejumlah pemburu ketika badak-badak mulai sangat berkurang jumlahnya. Sayang sekali para pemburu ini tidak bisa bercerita banyak, karena setiap kali ditemukan oleh pemburu lain mereka memang sudah mati. Di sekitar tempat mereka ditemukan terdapat serbukserbuk cahaya keemasan yang ajaib itu, maupun jejak tapak badak yang juga bercahaya. Bahkan tak jarang serbuk-serbuk cahaya itu menempel di lambung para pemburu yang tewas, seperti telah disodok oleh cula Badak Kencana.

Ada sekali peristiwa seorang pemburu masih hidup ketika berhasil mencapai muara Sungai Cigenter dan bertemu para pemburu rusa. Sebelum tewas ia sempat berkata, “Badak Kencana…” Seluruh tubuhnya penuh dengan serbuk cahaya keemasan itu, bagaikan telah diinjak-injak oleh Badak Kencana.

Demikianlah setiap nenek di Ujung Kulon bercerita kepada cucunya di tepi pantai sambil
memandang cakrawala di mana matahari akan terbenam.

“Nun di sana, di balik keremangan dan kekelaman itu, dalam kegelapan Tanjung Jawa yang sungguh-sungguh muram, terdapatlah Badak Kencana. Dalam dunia yang gelap, ia memiliki suatu kerajaan cahaya yang terlindung di balik tabir kehitaman di mana hanya Sang Badak Kencana bisa keluar masuk menembusnya. Dialah dewa badak, pelindung dan penjaga kesejahteraan badakbadak bercula satu sehingga mereka terselamatkan dari kepunahan. Janganlah mencoba memburu badak-badak itu atas nama apapun, karena barang siapa…”

Tidak usah dipungkiri betapa di antara pemburu badak itu ada juga yang ingin menaklukkan Badak Kencana itu sendiri. Mereka adalah manusia yang tidak bisa ditundukkan oleh dongeng, atau mereka tertantang oleh mitos, atau menyimpan dendam dan rasa penasaran atas tewasnya para sejawat, sesama pemburu badak yang tubuhnya bergelimang serbuk cahaya keemasan. Namun siapapun yang berangkat dan menghilang di balik cakrawala itu tidak pernah kembali lagi.
Siapapun. Sampai waktu berlalu.

AKU tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan Badak Kencana itu. Ia maupun badak-badak bercula satu biasa belum pernah kulihat.

Adakah seseorang, satu saja, yang terbukti pernah melihat Badak Kencana? Para pemburu yang mati memang sempat berdesis mengucapkan kata, “Badak Kencana…” Namun ini belum membuktikan apa-apa. Bukankah bisa saja seseorang merasa seolah-olah melihat Badak Kencana padahal yang dilihatnya hanyalah bayangannya sendiri? Aku yang tidak pernah melihat badak bercula satu selalu merasa seolah-olah pernah melihatnya, padahal aku hanya selalu membayangkannya. Begitu pula yang terjadi dengan Badak Kencana.

Di kampung nelayan itu memang ada seorang tua berusia 120 tahun yang dianggap pernah melihat Badak Kencana. Namun sebetulnya bukan Badak Kencana itu sendiri yang pernah dilihatnya ketika masih berusia 20 tahun, melainkan kilau keemasan yang berkelebat di balik semak.

“Peristiwa itu sudah seratus tahun lalu, tapi saya masih selalu teringat, seperti baru terjadi kemarin.Banyak sudah yang saya alami, tetapi tidak ada yang tetap tinggal dalam kepala saya seperti peristiwa itu.
Waktu itu saya mencari ular. Orang Belanda suka membeli kulit ular dengan harga mahal, danmenjualnya lagi ke Eropa. Meskipun pemerintah Hindia Belanda sudah melarang kami berburu di dalam hutan, tapi tidak ada tenaga untuk menjaga hutan itu seperti sekarang. Kami bisa keluar masuk dengan bebas, dengan risiko disergap macan tutul atau diseruduk badak.

Saat itu gelap, dan tak satu ular pun saya jumpai hari itu, padahal saya telah memelajari mantra pemanggil agar ular-ular itu mendekat. Mungkin memang belum nasib saya. Saya siap menempuh jalan kembali ketika terdengar bunyi berkerosak di balik semak. Saya menoleh dan melihat kilau cahaya keemasan, seperti kilau cahaya matahari senja, tetapi yang jauh lebih lemah dan lebih suram — seperti kesedihan. Cahaya ini bergerak menjauh dan menghilang. Jadi saya tidak melihat badak itu, yang saya lihat hanyalah jejaknya, itu pun hanya satu. Kami para pemburu biasa melihat jejak badak di hutan, dan jejak-jejak itu tidak pernah hanya satu. Jejak keemas-emasan ini memang jejak badak, tapi saya tidak mengerti, bagaimana badak bisa berdiri dengan satu kaki.

Ketika saya kembali ke kampung dan menceritakannya, mereka mendesah pelahan sembari menyebut kata ‘Badak Kencana…’ Karena saya orang perantauan, saya baru mendengar cerita tentang Badak Kencana itu kemudian. Menurut mereka, saya telah bertemu dengan Badak Kencana yang mereka kenal dari cerita nenek moyang. Disebutkan betapa saya harus merasa bersyukur karena masih hidup. Tapi sekarang saya sudah berumur 120 tahun dan saya sudah bosan hidup. Kalau pertemuan dengan Badak Kencana membuat saya mati, saya mau saja menemuinya sekali lagi.”

Rumahnya penuh dengan wartawan media cetak dan media elektronik yang memasuki rumah tanpa membuka sepatu, sampai lantai rumah panggung itu penuh dengan lumpur. Orang tua yang tidak pernah menikah itu bagaikan dipaksa untuk berkisah dengan terbata-bata. Ia tidak bisa berbahasa Indonesia, ia berbicara dengan bahasa Sunda campur Bugis, karena seratus tahun lalu ia tiba di Tamanjaya setelah berlayar bersama orangtuanya dari Bulukumba.

Para wartawan menyerbu rumah itu, dan meminta keterangan kepadanya, karena lelaki berusia 120 tahun itu dianggap pernah bertemu dengan Badak Kencana. Empat wartawan media elektronik dari Jakarta telah hilang dalam tugas mencari Badak Kencana. Tim SAR sebegitu jauh hanya menemukan jejak tapak badak keemas-emasan. Bukan empat tapak melainkan satu.

Di tengah kegemparan itu aku berpikir tentang soal lain. Jejak yang ditemukan Tim Sensus maupun lelaki itu seratus tahun yang lalu hanya satu. Mungkinkah Badak Kencana itu berdiri dengan satu kaki? Mungkinkah Badak Kencana itu suka berloncatan ke sana ke mari dengan satu kaki? Jejak satu kaki memperlihatkan bahwa badak itu berdiri di atas tapak kanan depan, seperti sedang main akrobat. Tidakkah Badak Kencana yang misterius ini barangkali suka bercanda?

Tapi membayangkan semua itu aku merasa bodoh, karena belum terbukti secara meyakinkan bahwa Badak Kencana itu memang ada.

MALAM telah turun. Langit cerah. Bintang-bintang terserak menyemarakkan langit. Pada cakrawala kulihat lampu-lampu pukat harimau dari negeri asing yang menyedot berton-ton ikan tanpa gangguan. Terlihat juga lampu lentera yang jauh lebih muram dari perahu-perahu nelayan, terserak di sana-sini, tidak terlalu banyak jumlahnya, yang semenjak berpuluh-puluh tahun selalu mencari ikan dengan cara yang sama. Memang perahu mereka sekarang bermesin, tetapi cara berpikir mereka tidak berubah, yakni mencari ikan seperlunya untuk dijual dan dimakan. Jika uang penghasilan itu cukup untuk bertahan hidup, maka tidak ada lagi yang masih harus dilakukan. Laut seperti selimut yang lembut tapi terus menerus bergoyang, membuat lentera yang tergantung
juga bergoyang-goyang. Kehidupan seolah-olah berhenti, tapi apakah yang betul-betul berhenti?

Sejak sore ribuan kalong telah meninggalkan pemukimannya, terbang dalam keremangan
memasuki malam, ketika manusia tertidur dan merasa sebaiknya kegelapan segera berlalu. Seorang anak nelayan yang diajak melaut mungkin tetap terjaga dan bertanya-tanya apakah yang berada di balik kegelapan itu.

“Bapak, ke mana ribuan kalong menghilang di balik kelam?”

Malam memberikan kegelapan, dan kegelapan memberi peluang sejuta dugaan. Terdengar sapuan ombak di bibir perahu. Angin dingin menyibak kelambu. Benarkah tidak ada sesuatu di balik kegelapan malam dan hanya ada dongeng yang dilahirkan angan-angan? Di Ujung Kulon yang terpencil, segala sesuatu telah dihitung secara ilmiah, sehingga badak bercula satu yang tidak pernah terlihat itu pun bisa diketahui jumlahnya. Tapi itu tidak termasuk Badak Kencana…

Waktu itu aku belum tahu, empat mayat dihanyutkan arus di muara Sungai Cigenter. Jenazah jenazah itu hanya berputar-putar, karena tertolak balik oleh gelombang lautan. Hari masih sama gelapnya seperti malam. Mayat-mayat itu kemudian terjerat di antara pohon-pohon bakau, bergoyang-goyang sebentar tapi lantas terdiam ketika ombak surut. Di antara batang, akar, sulur, dahan, dan ranting pohon-pohon bakau, tubuh-tubuh itu tergolek, seperti orang-orang yang bersandar menanti penjemputan.

Aku belum melihat mayat-mayat itu, karena mataku melihat ke arah lain. Ketika matahari muncul dari balik bukit, dari tengah laut yang ungu muda kulihat pemandangan itu: Badak Kencana yang berdiri dengan satu kaki, tepatnya kaki kanan depan, berputar seperti penari balet dalam cahaya keemas-emasan yang muram. Gerakannya begitu anggun, tapi matanya memancarkan kesedihan. Kukerjapkan mataku berkali-kali, karena aku masih berharap ini hanya mimpi.

    

Ujung Kulon — A102.PVJ-J, Februari 2004
   

    

Koran Tempo – 5/30/2004

Cinta di Atas Perahu Cadik

Cinta di Atas Perahu Cadik

     
     
Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera
menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil
menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak
kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan
matahari pagi menyapu pantai, membuat pasir yang basah berkilat
keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu
karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak
semalam, sejak bertahun, sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bukankah
memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding
karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu.

Para nelayan memang hanya tahu perahu. Bulan sabit mereka hubungkan
dengan perahu, gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik
penyeimbang perahu, seolah-olah angkasa raya adalah ruang pelayaran
bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki, bahkan atap rumah-rumah
mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Tentu, bagaimana mungkin
kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu?

Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air
pada bahunya. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat,
melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset
sama sekali, sekaligus bagaikan terlapis karet atau plastik alas
sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di
atas batu-batu karang yang tajam tiada berperi.

“Sukab! Tunggu aku!”

Di pantai, tiba-tiba terdengar derum suara mesin.

“Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu.

Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel
tersebut, melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya
itu. Hayati berlari begitu cepat, seolah-olah beban di bahunya tiada
mempunyai arti sama sekali. Ia meletakkannya begitu saja di samping
gubuknya, lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab.

“Hayati! Mau ke mana?”

Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Terlihat Hayati mengangkat
kainnya dan berlari cepat sekali. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam
laju lari Hayati. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu
ribut, yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang terjadi. Seekor
anjing bangkit dari lamunannya yang panjang, lantas melangkah ringan
sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak
kaki Sukab dan Hayati.

Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Seorang lelaki muncul dari dalam
gubuk.

“Ke mana Hayati, Mak?”

Nenek tua itu menoleh dengan kesal.

“Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa
kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang, bukannya mengamuk malah merestui!”

Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.

“Hayati dan Sukab saling mencintai, kami akan bercerai dan biarlah dia
bahagia menikahi Sukab, aku juga sudah bicara kepadanya.”

Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.

“Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan
usus Sukab jahanam itu!”

Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali, masih terdengar
suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk.

“Cabut badik? Heheheh. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari
istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!”

Angin bertiup kencang, sangat kencang, dan memang selalu kencang di
pantai itu. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta
membara di atasnya.

Pada akhir hari setelah senja menggelap, burung-burung camar
menghilang, dan perahu-perahu lain telah berjajar-jajar kembali di
pantai sepanjang kampung nelayan itu, perahu Sukab belum juga kelihatan.

Menjelang tengah malam, nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk
lain, menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa
Hayati di atasnya. Jawaban mereka bermacam-macam, tetapi membentuk
suatu rangkaian.

“Ya, kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. Kulihat
mereka tertawa-tawa.”

“Perahu Sukab menyalipku, kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi
kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia.”

“Oh, ya, jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu
menuruti angin, mesinnya sudah mati, tetapi tidak tampak seorang pun
di atasnya.”

Nenek itu memaki.

“Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!”

Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain.

“Aku lihat perahunya, tetapi tidak seorang pun di atasnya. Bukankah
memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?”

“Ya, tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab, bukannya
tambah penumpang, tetapi orangnya malah berkurang?”

Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang, nenek tua
itu menggerundal sendirian.

“Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!”

Ia menuju gubuk Sukab. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah
membuka pintu itu, di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang
karena malaria.

“Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?”

Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh,
mulutnya bergemeletuk seperti sebuah mesin. Wajahnya pucat,
berkeringat, dan di dahinya tertempel sebuah koyo. Ia hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala.

Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Isinya sama saja dengan isi semua
gubuk nelayan yang lain. Dipan yang buruk, lemari kayu yang buruk,
pakaian yang buruk tergantung di sana-sini, meja buruk, kursi buruk,
dan jala di dinding kayu, berikut pancing dan bubu. Ada juga pesawat
televisi, tetapi tampaknya sudah mati. Alas kaki yang serba buruk,
tentu saja tidak ada sepatu, hanya sandal jepit yang jebol. Sebuah
foto pasangan bintang film India, lelaki dan perempuan yang sedang
tertawa dengan mata genit, dari sebuah penanggalan yang sudah
bertahun-tahun lewat.

Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh, tapi mungkin ada juga yang
lain. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk
rumah gubuk ini, di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Nyamuk
berterbangan masuk karena pintu dibuka.

Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya.

“Mana Bapakmu?”

Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut, ombak yang berdebur dan
mengempas dengan ganas.

Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala.

“Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!”

Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu
dan burung hong. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda
mesin malaria.

Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa, ketika
terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu.

“Aku sudah tahu…”

“Apa yang kamu sudah tahu, Waleh?”

“Tentang mereka…”

Nenek itu mendengus.

“Ya, kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota
dengan Wiji, begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia
sepanjang pantai, dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami
Wiji. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang
yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika
melewati mereka, tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu
tidak memakai apa-apa meski suamiku tidak kelihatan di bawahnya!
Mengerti kamu?”

Waleh yang menggigil hanya memandangnya, seperti sudah tidak sanggup
berpikir lagi.

“Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki
bukan suaminya dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan
pernah keliru! Hanya para pendosa akan menjadi korban kutukannya! Tapi
kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!”

Mendengar ucapan itu, Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya
agar bisa berbicara.

“Aku memang hanya orang kampung, Ibu, tetapi aku tidak mau menjadi
orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku
pulang dengan selamat—dan jika dia bahagia bersama Hayati, melalui
perceraian, agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan.”

Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk
mengeluarkan kata-kata seperti itu, langsung menggigil dan mulutnya
bergemeletukan kembali, matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi.

Nenek tua itu terdiam.

Hari pertama, kedua, dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga
kembali, orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan, bahwa
jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala, maka tentu mayat
Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke
pantai. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali,
mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hal itu
selalu mungkin dan sangat mungkin, karena memang sering terjadi.
Mereka bisa terseret ombak ke sebuah negeri lain dan kembali dengan
pesawat terbang, atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.

“Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan, perahu
mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita,” kata seseorang.

“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini, sejak dulu ia selalu
berlayar sendiri, mana mau ia mencari ikan bersama kita,” sahut yang
lain, “apalagi jika di perahunya ada Hayati.”

“Apakah mereka bercinta di atas perahu?”

“Saat kulihat tentu tidak, banyak lumba-lumba melompat di samping
perahu mereka.”

Segalanya mungkin terjadi. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga
Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya
tahu pasti apa yang akan mereka alami.

Di pantai, kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya
yang bisu, menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir
basah. Kadang-kadang pula tampak Dullah yang menyusuri pantai saat
para nelayan kembali, mereka seperti masih berharap dan menanti siapa
tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Namun
setelah hari keempat, tidak seorang pun dari para nelayan di kampung
itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali.

“Kukira mereka tidak akan kembali, mungkin bukan mati, tetapi kawin
lari ke sebuah pulau entah di mana. Kalian tahu seperti apa orang yang
dimabuk cinta…”

Namun pada suatu malam, pada hari ketujuh, di tengah angin yang selalu
ribut terlihat perahu Sukab mendarat juga, Hayati melompat turun
begitu lunas perahu menggeser bibir pantai dan mendorong perahu itu
sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar kecilnya. Sukab
tampak lemas di atas perahu. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan
besar yang lebih besar dari perahu mereka, yang tentu saja sudah mati
dan bau amisnya menyengat sekali. Tombak ikan bertali milik Sukab
tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang
telah menyeret mereka berdua selama ini, setelah bahan bakar untuk
mesinnya habis.

Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang
lusuh sekali. Kulit terbakar, pakaian basah kuyup, dan gigi keduanya
jika terlihat tentu sudah kuning sekali—tetapi mata keduanya
menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api cinta yang
membara. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti, cerita
tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka
masing-masing, yang dengan ini tak bisa dihindari lagi.

Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa
mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini.

    
Sabang, Desember 2006/

Merauke, April 2007.

                  

              

kompas, 10 Juni 2007

Jawaban Alina

Jawaban Alina

 

Sukab yang malang,

Senja yang kau kirimkan sudah kuterima, kukira sama lengkap seperti ketika engkau memotongnya di langit yang kemerah-merahan itu, lengkap dengan bau laut, desir angin dan suara hempasan ombak yang memecah pantai. Ada juga kepak burung-burung, lambaian pohon-pohon nyiur dalam kekelaman, sementara di kejauhan perahu layar merayapi cakrawala dan melintasi matahari yang sedang terbenam. Aku pun tahu Sukab, senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan, ketika segala makhluk dan benda menjadi siluet, lantas menyatu dalam kegelapan. Kita sama-sama tahu, keindahan senja itu, kepastiannya untuk selesai dan menjadi malam dengan kejam. Manusia memburu senja kemana-mana, tapi dunia ini fana Sukab, seperti senja. Kehidupan mungkin saja memancara gilang-gemilang, tetapi ia berubah dengan pasti. Waktu mengubah segalanya tanpa sisa, menjadi kehitaman yang membentang sepanjang pantai. Hitam, sunyi dan kelam.

Rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir. Senja yang engkau kirimkan telah menimbulkan bencana tak terbayangkan. Apakah engkau tahu suratmu itu baru sampai sepuluh tahun kemudian? Ah, engkau tidak akan tahu Sukab, seperti juga engkau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan senja yang kau kirimkan ini. Senja paling taik kucing dalam hidupku Sukab, senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia.

Senja ini baru tiba setelah sepuluh tahun, karena tukang pos yang jahil itu rupanya penasaran dengan cahaya merah kemas-emasan yang memancara dari amplop itu Sukab. Cahaya itu telah mengganggunya semenjak ia menggenjot sepeda dari kantor pos, berkilau-kilau dan memancar di tas surat yang tergantung di boncengan sepeda, begitu rupa sehingga cuaca siang hari menjadi kacau, angin menderu dan ombak terdengar menghempas-hempas, meskipun ia bersepeda mendaki bukit kapur. Demikianlah, maka ia suatu ketika berhenti. Dari dalam tas itu terdengar suara-suara, ia buka tas itu, dan ia melihat amplop Federal Express yang sudah tidak putih lagi melainkan merah keemas-emasan Sukab, seperti senja dengan matahari terbenam di balik cakrawala. Tukang pos itu mengambil amplop tersebut, menimang-nimangnya, agak berat juga. Maklumlah bukankah amplop itu berisi senja Sukab? Senja dengan matahari merah membara yang turun perlahan-lahan di balik cakrawala, seperti semua senja yanga ada di balik kartu pos, tapi yang kamu kirim itu bukan kartu pos Sukab, yang kau kirim itu senja di tepi pantai dengan hempasan ombak, bau laut dan angina yang asin. Kamu pikir berapa ton beratnya pasir di sepanjang pantai itu Sukab? Kira-kira sedikit dong! Masih lumayan tukang pos itu kuat menggenjot sepedanya mendaki bukit kapur. Busyet. Kalo anak-anak kecil tahu ada matahari terbenam di dalam amplop itu lantas bagaimana? Kau tahulah sukab, anak-anak di daerah bukit kapur begini tidak punya mainan yang aneh-aneh seperti di kota. Mereka hanya tahu kambing dan kerbau, ikan dan belut, sungai dan jagung. Nasi saja jarang meraka sentuh. Anak-anak yang tidak pernah tahu mainan robot berjalan dengan cahaya didadanya berkedip-kedip pasti akan penasaran sekali dengan cahaya senja yang memancar berkilauan., berkilauan merah dan keemas-emasan itu Sukab.

Mereka tidak pernah melihatnya Sukab, karena tukang pos itulah yang telah mendahului meraka. Ia menimang-nimang bungkusan berisi senja itu, mendengar-dengarkan, dan akhirnya mengintip. Tentu saja didalam amplop itu dilihatnya senja Sukab. Senja terindah yang paling mungkin berlangsung di muka bumi. Ia mengintip dan terpesona. Ia buka amplop itu. Sebetulnya menurut kode etik profesi itu tidak boleh. Tapi manusia manapun bisa melakukan kesalahan bukan? Ia buka terus amplop itu, dan melihat senja dengan langit merah kemas-emasan didalam sana, dan melihat mega-mega berpencar seperti perahu di danau, memebrikan perasaan nyaman dan tenang.  Siapa yang tidak suka merasa nyaman dan tenang di dunia Sukab, di sebuah dunia  yang miskin masih bersimbah darah pula? Maka jangan salahkan tukang pos itu Sukab, jika ia kemudian menjadi begitu penasaran dan memasuki senja yang terbentang. Tidak ada yang tahu apa nasib waktu(1). Ketika anak-anak akhirnya berkerumun di sekita sepeda yang tergeletak itu, mereka hanya melihat cahaya senja yang kemerah-merahan yang semburat membakar langit. Amplop itu hanya bocor sedikit, tapi akiatnya sudah begitu rupa. Ini semua gara-gara kamu Sukab.

Sukab yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,

Sepuluh tahun lamanya tukang pos itu mengembara didalam amplop, kita tidak pernah tahu apa yang diklakukanya disana. Apakah dia kawin, beranak pinak, dan berbahagia? Atau selama itu dia hanya duduk saja memandang matahari terbenam dengan perasaan kehilangan, sementara langit yang tadinya merah keemas-emasan perlahan-lahan menggelap kebiru-biruan – aku juga tidak tahu bagaimana caranya menikmati senja di dalam amplop Sukab, sebuah ruang yang sungguh-sungguh terdiri dari waktu. Apakah waktu bisa diulang atau bagaimana, aku belum pernah memasuki senja di dalam amplop. Atau, apakah didunia ini sebetulnya seperti didalam amplop ya Sukab, dimana kita tidak tahu apa yang berada di luar diri kita, dimana kita merasa hidup penuh dengan makna padahal yang menonton kita tertawa-tawa sambil berkata, “Ah, kasihan betul manusia.” Apakah begitu Sukab, kamu yang suka berkhayal barangkali tahu. Tapi aku tidak mau khayalan, aku tidak mau kira-kira, meskipun usaha kira-kira itu begitu canggihnya sehingga disebut ilmiah, aku mau tahu yang sebenarnya. Apakah ada yang menyaksikan kita sambil tertawa-tawa? Kalau iya, apalah artinya hidup kita ini sukab? Tidakkkah nasib manusia memang seperti ikan, yang diternakkan hanya unutk mengisi akuarium diruang tamu seseorang yang barangkali juga tidak teralalu peduli kepada makna kehidupan ikan-ikan itu?

Aku tidak pernah tahu, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dialami tukang pos itu didalam amplop, sampai ia keluar sepuluh tahun kemudian dengan wajah bahagia. Ia sudah sepuluh tahun menghilang didalam amplop, tapi ia tidak tampak betambah tua. Apakah waktu di dalam amplop tidak bergerak? Tepatnya apakah senja didalam amplop tidak berhubungan dengan waktu? Apakah tidak ada waktu di dalam amplop Federal Express itu? Hmm. Apakah aku harus peduli dengan semua ini sukab, apakah aku harus peduli? Kamu betul betul merepotkan aku Sukab, dasar lelaki tidak tahu diri.

Sukab yang malang, goblok dan menyebalkan,

Kamu tahu apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Tukang pos itu tiba di depan rumah kami. Ya, rumah kami. Setelah sepuluh tahun banyak yang terjadi dong Sukab, misalnya bahwa kemudian aku kawin,  beranak pinak dan berbahagia. Jangan kaget. Dari dulu aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego dikasih isyarat tidak mau mendengarkan. Sekali lagi, aku tidak mencintai kamu. Kalau toh aku kelihatan baik selama ini padamu, terus terang harus ku katakana sekarang, sebetulnya aku cuma kasihan. Terus terang aku kasihan sama kamu Sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak mencintai kamu. Makanya jangan terlalu banyak berkhayal Sukab, pakai otak dong sedikit, hanya dengan begitu kamu akan selamat dari perasaan cintamu yang tolol itu. Tapi bukan cinta taik kucing ini yang sebetulnya ingin ku ceritakan padamu Sukab.  Soal cinta ini sama sekali tidak penting.

Kamu harus tahu apa akibat perbuatanmu ini Sukab, mengirim sepotong senja untuk orang yang sama sekali tidak mencintai kamu. Tahu apa akibatnya? Begitu tukang pos itu pulang, setelah menceritakan kenapa kiriman Federal Express bisa terlambat sepuluh tahun, kubuka amplop berisi senja itu, dan terjadilah semua ini. Apa kamu tidak tahu Sukab, senja itu meski cuma sepotong, sebetulnya juga semesta yang utuh? Kamu kira matahari terbenam itu besarnya seperti apa? Seperti apem? Kalau sepotong senja itu di dalam amplop terus sih tidak apa-apa, tapi ini keluar dan lautnya membludag tak tertahankan lagi. Bagaimana aku tahu amplop itu berisi senja Sukab? Aku bukan pengkhayal seperti kamu. Hidupku penuh dengan perhitungan yang matang. Aku tahu betul untung rugi setiap perbuatan, terutama apa untung ruginya untuk diriku sendiri. Betapa pentingnya hidupku selamat, demi suamiku dan anak-anakku. Pura-puranya aku ini juga perempuan yang setia. Itu pula sebabnya, sebelum maupun sesudah kawin aku tidak sudi berhubungan dengan kamu Sukab. Lagi pula aku tidak mencintai kamu. Mau apa? Tapi kamulah yang tidak tahu diri, mengirim senja tanpa kira-kira. Dunia ini jadi berantakan tahu? Berantakan dan hancur lebur tiada terkira.

Setelah amplop itu kubuka dan senja itu keluar, matahari yang terbenam dari senja dalam amplop itu berbenturan dengan matahari yang sudah ada(2). Langit yang biru bercampur aduk dengan langit yang kemerah-merahan yang terus menerus berkeredap menyilaukan karena cahaya keemas-emasan yang menjadi semburat tak beraturan. Senja yang seperti potongan kue menggelegak, pantai terhampar seperti permadani di atas bukit kapur, lautnya terhempas langsung membanjiri bumi dan menghancurkan segala-galanya. Bisalah kau bayangkan Sukab, bagaimana orang tidak panik dengan gelombang raksasa yang tidak datang dari pantai tapi dari atas bukit?

Air bah membanjiri bumi seperti jaman Nabi Nuh. Dunia menjadi gempar, tidak semua perahu yang ada cukup untuk seluruh umat manusia kan? Lagipula sampai kapan kapal dan perahu itu bisa bertahan? Tiada satu kota pun yang selamat, lautan dari senjamu yang membuat langit merah membara itu menghempas dan membanjiri bumi dengan cepat sekali. Gedung-gedung pencakar langit di setiap kota besar di seluruh dunia, gunung-gunung tertinggi di muka bumi, semuanya terendam air. Sukab, bumi ini sekarang sudah terendam air. Dimana-mana air dan langit senja tak kunjung berubah menjadi malam. Segalanya kacau Sukab, gara-gara cintamu yang tak tahu diri.

Sukab yang malang, paling malang, dan akan selalu malang,

Aku menulis surat ini dengan kertas dan pena terakhir di dunia, di atas puncak himalaya. Di depanku ada senuah sampan kecil dengan sepasang dayung dan sebungkus supermi. Itulah makanan terakhir di muka bumi. Sisa manusia yang menjadi pengembara lautan di atas kapal dan perahu telah mati semua, karena kehabisan bahan makanan maupun mayat teman-temannya sendiri. Manusia memang banyak akal, tapi menghadapi senja dari dalam amplop itu tidak ada jalan keluar. Banyak orang mempertanyakan diriku, kenapa aku membuat dirimu begitu cinta menggebu-gebu, padahal cinta secuil pun juga tidak, sehingga kamu mengirimkan sepotong senja itu kepadaku, dan tumpah ruah membanjiri bumi. Tapi coba katakan, tapi itu bukan salahku toh Sukab? Aku tidak mau disalahkan atas bencana yang menimpa umat manusia. Mengapa cinta harus menjadi begitu penting sehingga kehidupan terganggu? Ini bukan salahku.

Air laut kulihat makin dekat, setidaknya setengah jam lagi tempat aku menulis surat ini sudah akan terendam seluruhnya. Aku akan naik perahu, mendayung sampai teler, makan supermi mentah, lantas menanti maut. Akan ku kirim kemana surat ini? Barangkali kamu pun sudah mati Sukab. Semua pengembara di lautan sudah mati.  Sedangkan di puncak tertinggi di dunia ini tinggal aku  sendiri, dari hari kehari memandang senja yang selesai, dimana matahari tidak pernah terbenam lebih dalam lagi. Semesta dalam amplop itu telah menjadi pemenang dalam benturan dua semesta, namun semesta dalam amplop itu cuma sepotong senja, sehingga dunia memang tidak akan pernah sama lagi. Kalu aku mati nanti, bumi ini akan tetap tinggal senja selama-lamanya. Dengan matahari terbenam separuh yang tidak pernah turun lagi. Langit merah selama-lamanya, lautan jingga selama-lamanya, tetapi tiada seorang manusia pun memandangnya. Segenap burung sudah punah karena kelelahan terbang tanpa henti. Tinggal ikan-ikan menjadi penguasa bumi. Di kejauhan, ku lihat Ikan Paus Merah yang menjerit dengan sedih.

Sukab,

Aku akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan ke laut lepas.  Buakn tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu(3). kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapau semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seprti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.

   

Selamat berpisah semuanya. Selamat tinggal.

   

   

Alina

   

   

   

     

Pondok Aren, Sabtu 10 Februari 2001,  20:45

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 365 pengikut lainnya.