Legenda Wongasu

  

Legenda Wongasu

    

    
SUATU ketika kelak, seorang tukang cerita akan menuturkan sebuah legenda, yang terbentuk karena masa krisis ekonomi yang berkepanjangan, di sebuah negeri yang dahulu pernah ada, dan namanya adalah Indonesia. Negeri itu sudah pecah menjadi berpuluh-puluh negara kecil, yang syukurlah semuanya makmur, tetapi mereka masih disatukan oleh bahasa yang sama, yakni Bahasa Indonesia, sebagai warisan masa lalu.Barangkali tukang cerita itu akan duduk di tepi jalan dan dikerumuni orang-orang, atau memasang sebuah tenda dan memasang bangku-bangku di dalamnya di sebuah pasar malam, atau juga menceritakannya melalui sebuah teater boneka, bisa boneka yang digerakkan tali, bisa boneka wayang golek, bisa juga wayang magnit yang digerakkan dari bawah lapisan kaca, dengan panggung yang luar biasa kecilnya. Untuk semua itu, ia akan menuliskan di sebuah papan hitam: Hari ini dan seterusnya “Legenda Wongasu”.
Berikut inilah legenda tersebut:

“Untung masih banyak pemakan anjing di Jakarta,” pikir Sukab setiap kali merenungkan kehidupannya. Sukab memang telah berhasil menyambung hidupnya berkat selera para pemakan anjing. Krisis moneter sudah memasuki tahun kelima, itu berarti sudah lima tahun Sukab menjadi pemburu anjing, mengincar anjing-anjing yang tidak terdaftar sebagai peliharaan manusia, memburu anjing-anjing tak berpening yang sedang lengah, dan tiada akan pernah mengira betapa nasibnya berakhir sebagai tongseng.

Semenjak di-PHK lima tahun yang lalu, dan menganggur lontang-lantung tanpa punya pekerjaan, Sukab terpaksa menjadi pemburu anjing supaya bisa bertahan hidup. Kemiskinan telah memojokkannya ke sebuah gubuk berlantai tanah di pinggir kali bersama lima anaknya, sementara istrinya terpaksa melacur di bawah jembatan, melayani sopir-sopir bajaj. Dulu ia begitu miskin, sehingga tidak mampu membeli potas, yang biasa diumpankan para pemburu anjing kepada anjing-anjing kurang pikir, sehingga membuat anjing-anjing itu menggelepar dengan mulut berbusa.

Masih terbayang di depan matanya, bagaimana ia mengelilingi kota sambil membawa karung kosong. Mengincar anjing yang sedang berkeliaran di jalanan, menerkamnya tiba-tiba seperti harimau menyergap rusa, langsung memasukkannya ke dalam karung dan membunuhnya dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini. Sukab tidak pernah peduli, apakah ia berada di tempat ramai atau tempat sepi. Tidak seorang pun akan menghalangi pekerjaannya, karena anjing yang tidak terdaftar boleh dibilang anjing liar, dan anjing liar seperti juga binatang-binatang di hutan yang tidak dilindungi, boleh diburu, dibinasakan, dan dimakan.

Apabila Sukab sudah mendapatkan seekor anjing di dalam karungnya, ia akan berjalan ke sebuah warung kaki lima di tepi rel kereta api, melemparkannya begitu saja ke depan pemilik warung sehingga menimbulkan suara berdebum. Pemilik warung akan memberinya sejumlah uang tanpa berkata-kata, dan Sukab akan menerima uangnya tanpa berkata-kata pula. Begitulah Sukab, yang tidak beralas kaki, bercelana pendek, dan hanya mengenakan kaus singlet yang dekil, menjadi pemburu anjing di Jakarta. Ia tidak menggunakan potas, tidak menggunakan tongkat penjerat berkawat, tapi menerkamnya seperti harimau menyergap rusa di dalam hutan.

Ia berjalan begitu saja di tengah kota, berjalan keluar-masuk kompleks perumahan, mengincar anjing-anjing yang lengah. Di kompleks perumahan semacam itu anjing-anjing dipelihara manusia dengan penuh kasih sayang. Bukan hanya anjing-anjing itu diberi makanan yang mahal karena harus diimpor, atau diberi makan daging segar yang jumlahnya cukup untuk kenduri lima keluarga miskin, tapi juga dimandikan, diberi bantal untuk tidur, dan diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan setiap bulan sekali. Sukab sangat tidak bisa mengerti bagaimana anjing-anjing itu bisa begitu beruntung, sedangkan nasibnya tidak seberuntung anjing-anjing itu.

Namun, anjing tetaplah anjing. Ia tetap mempunyai naluri untuk mengendus-endus tempat sampah dan kencing di bawah tiang listrik. Apabila kesempatan terbuka, tiba-tiba saja mereka sudah berada di alam belantara dunia manusia. Di alam terbuka mereka terpesona oleh dunia, mondar-mandir ke sana kemari seperti kanak-kanak berlarian di taman bermain, dan di sanalah mereka menemui ajalnya. Diterkam dan dibinasakan oleh Sukab sang pemburu, untuk akhirnya digarap para pemasak tongseng.

“Sukab, jangan engkau pulang dengan tangan hampa, anak-anak menantimu dengan perut keroncongan, jangan kau buat aku terpaksa melacur lagi di bawah jembatan, hanya supaya mereka tidak mengais makanan dari tempat sampah,” kata istrinya dahulu.

Kepahitan karena istrinya melacur itulah yang membuat Sukab menjadi pemburu anjing. Hatinya tersobek-sobek memandang istrinya berdiri di ujung jembatan, tersenyum kepada sopir-sopir bajaj yang mangkal, lantas turun ke bawah jembatan bersama salah seorang yang pasti akan mendekatinya. Di bawah jembatan istrinya melayani para sopir bajaj di bawah tenda plastik, hanya dengan beralaskan kertas koran. Tenda plastik biru itu sebetulnya bukan sebuah tenda, hanya lembaran plastik yang disampirkan pada tali gantungan, dan keempat ujungnya ditindih dengan batu. Sukab yang berbadan tegap lemas tanpa daya setiap kali melihat istrinya turun melewati jalan setapak, menghilang ke bawah tenda.

“Inilah yang akan terjadi jika engkau tidak bisa mencari makan,” kata istrinya, ketika Sukab suatu ketika mempertanyakan kesetiaannya, “pertama, aku tidak sudi anak-anakku mati kelaparan; kedua, kamu toh tahu aku ini sebetulnya bukan istrimu.”

Perempuan itu memang ibu anak-anaknya, tapi mereka memang hanya tinggal bersama saja di gubug pinggir kali itu. Tidak ada cerita sehidup semati, surat nikah apalagi. Mereka masih bisa bertahan hidup ketika Sukab menjadi buruh pabrik sandal jepit. Meski tidak mampu menyekolahkan anak dan tidak bisa membelikan perempuan itu cincin kalung intan berlian rajabrana, kehidupan Sukab masih terhormat, pergi dan kembali seperti orang punya pekerjaan tetap. Ketika musim PHK tiba, Sukab tiada mengerti apa yang bisa dibuatnya. Kehidupannya sudah termesinkan sebagai buruh pabrik sandal jepit. Begitu harus cari uang tanpa pemberi tugas, otaknya mampet karena sudah tidak biasa berpikir sendiri, nalurinya hanya mengarah kepada satu hal: berburu anjing.

Itulah riwayat singkat Sukab, sampai ia menjadi pemburu anjing. Kini ia mempunyai beberapa warung yang menjadi pelanggannya di Jakarta. Tangkapan Sukab disukai, karena ia piawai berburu di kompleks perumahan gedongan. Konon anjing peliharaan orang kaya lebih gemuk dan lebih enak dari anjing kampung yang berkeliaran. Tapi Sukab tidak pandang bulu. Ia berjalan, ia memperhatikan, dan ia mengincar. Anjing yang nalurinya tajam pun bisa dibuatnya terperdaya. Apa pun jenisnya, dari chihuahua sampai bulldog, dari anjing gembala Jerman sampai anjing kampung, seperti bisa disihirnya untuk mendekat, lantas tinggal dilumpuhkan, lagi-lagi dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Perburuan anjing itu menolong kehidupan Sukab. Perempuan yang disebut istrinya meski mereka tidak pernah menikah itu tak pernah pergi lagi ke bawah jembatan, melainkan memasak kepala anjing yang diberikan para pemilik warung kepada Sukab. Seperti juga ia melemparkan karung berisi anjing kepada pemilik warung sehingga menimbulkan bunyi berdebum, begitu pula ia melemparkan kepala anjing itu ke hadapan perempuan itu. Anak-anak mereka yang jumlahnya lima itu menjadi gemuk dan lincah, namun dari sinilah cerita baru dimulai.
***
SEPANJANG rel, tempat ia selalu membawa karung berisi anjing, anak-anak berteriak mengejeknya.

“Wongasu! Wongasu!”

Mula-mula Sukab tidak peduli, tapi kemudian perempuan yang disebut istrinya itu pun berkata kepadanya.

“Sukab! Mereka menyebut kita Wongasu!”

“Kenapa?”

“Katanya wajah kita mirip anjing.”

Mereka begitu miskin, sehingga tidak punya cermin. Jadi mereka hanya bisa saling memeriksa.

Betul juga. Mereka merasa wajah mereka sekarang mirip anjing.

“Anak-anak tidak lagi bermain dengan anak-anak tetangga, karena mereka semua mengejeknya sebagai Wongasu.”

Ia perhatikan, anak-anak mereka juga sudah mirip anjing. Perasaan Sukab remuk redam.

“Aduhai anak-anakku, kenapa mereka jadi begitu?” Sukab merenung sendirian. Kalaulah ini semacam karmapala karena perbuatannya sebagai pemburu anjing, mengapa hal semacam itu tidak menimpa para pemakan anjing saja? Bukankah perburuan anjing itu bisa berlangsung, hanya karena ada juga warung-warung penjual masakan anjing yang selalu penuh dengan pengunjung? Kenapa hanya dirinya yang menerima karmapala?

Orang-orang itu memakan anjing karena punya uang, begitu pikiran Sukab yang sederhana, sedangkan ia dan keluar-ganya memakan hanya kepalanya saja karena tidak punya uang. Sejumlah uang yang diterimanya dari para pemilik warung, yang mestinya cukup untuk membeli ikan asin dan nasi, biasa habis di lingkaran judi, tempat dahulu ia bertemu dengan perempuan itu-yang telanjur dicintainya setengah mati. Bukan berarti Sukab seorang penjudi, tapi ia juga punya impian untuk mengubah nasib secepat-cepatnya.

Namun kini mereka semua menjadi Wongasu.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup,” kata Sukab.

Perempuan itu menangis. Wajahnya yang cantik lama-lama juga menjadi mirip anjing. Meski sudah tidak melacur, tentu saja ia tetap ingin kelihatan cantik. Begitu juga Sukab. Anak-anak mereka terkucil dan setiap kali berkeliaran menjadi bahan ejekan.

Sukab tetap menjalankan pekerjaannya, dan pekerjaannya memang menjadi semakin mudah. Bukan karena anjing-anjing itu melihat kepala Sukab semakin mirip dengan mereka, melainkan karena penciuman mereka yang tajam mencium bau tubuh Sukab yang rupa-rupanya sudah semakin berbau anjing. Mereka datang seperti menyerahkan diri kepada Sukab yang telah sempurna sebagai Wongasu. Kadang-kadang Sukab cukup membuka karung dan anjing itu memasuki karung itu dengan sukarela, seperti upacara pengorbanan diri, meski Sukab tetap akan mengakhiri hidup mereka, tentu saja dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Ia akan datang dari ujung rel memanggul karung berisi anjing, melemparkannya ke hadapan pemilik warung berdingklik di tepi rel sehingga menimbulkan bunyi berdebum, dan segera pergi lagi setelah menerima sejumlah uang.

Di belakangnya anak-anak kecil berteriak.

“Wongasu! Wongasu!”

Pada suatu hari, ketika ia kembali ke gubugnya di pinggir kali, seseorang berteriak kepadanya.

“Wongasu! Mereka mengangkut keluargamu!”

Rumah gubugnya porak poranda. Seorang tua berkata kepadanya bahwa penduduk mendatangkan petugas yang membawa kerangkeng beroda. Perempuan dan anak-anaknya ditangkap. Mereka dibawa pergi.

“Ke mana?”

“Entahlah, kamu tanyakan sendiri saja sana!”

Waktu Sukab berjalan di sepanjang tepi kali, ia mendengar mereka berbisik-bisik dari dalam gubug-gubug kardus.

“Awas! Wongasu lewat! Wongasu lewat!”

“Heran! Kenapa kepalanya bisa berubah menjadi kepala anjing?”

“Itulah karmapala seorang pembunuh anjing.”

“Tapi kita semua makan anjing, siapa yang mampu beli daging sapi dalam masa sekarang ini? Bukankah justru….”

“Husssss…..”

Di kantor polisi terdekat Sukab bertanya, apakah mereka tahu akan adanya pengerangkengan tiada semena-mena sebuah keluarga di tepi kali.

“Oh, itu. Bukan polisi yang mengangkut, tapi petugas tibum.”

“Apa mereka melanggar ketertiban umum?”

Polisi itu kemudian bercerita, bagaimana salah seorang anak Sukab tidak tahan lagi karena selalu dilempari batu, sehingga mengejar pelempar batu dan menggigitnya. Bapak anak yang digigit sampai berdarah-darah itu tidak bisa menerima, lantas mengerahkan pemukim pinggir kali untuk mengepung gubug mereka. Kejadian itu dilaporkan kepada petugas tibum yang tanpa bertanya ini itu segera mengangkut mereka sambil menggebukinya.

Diceritakan oleh polisi itu bagaimana perempuan dan kelima anaknya itu berhasil dimasukkan ke dalam kerangkeng, hanya setelah memberi perlawanan yang luar biasa.

“Mereka menyalak-nyalak dan berkaing-kaing seperti anjing,” kata polisi itu, seolah-olah tidak peduli bahwa wajah Sukab juga seperti anjing.

“Hati-hati lewat sana,” katanya lagi, “mereka juga bisa menangkap saudara.”

“Kenapa Bapak tidak mencegah mereka, perlakuan itu kan tidak manusiawi?”

Polisi itu malah membentak.

“Apa? Tidak manusiawi? Apa saudara pikir makhluk seperti itu namanya manusia?”

“Mereka juga manusia, seperti Bapak!”

“Tidak! Saya tidak sudi disamakan! Mereka itu lain! Saudara juga lain! Sebetulnya saya tidak bisa menyebut Anda sebagai Saudara. Huh! Saudara! Saudara dari mana? Lagi pula, Anda bisa bayar berapa?”

Sukab berlalu. Nalurinya yang entah datang dari mana serasa ingin menerkam dan merobek-robek polisi itu, tapi hati dan otaknya masih manusia. Ia berjalan di kaki lima tak tahu ke mana harus mencari keluarganya.

Setelah malam tiba, ia kembali ke pinggir kali dengan tangan hampa. Ia berjongkok di bekas gubugnya yang hancur, menangis, tapi suara yang keluar adalah lolongan anjing.

Hal ini membuat orang-orang di pinggir kali lagi-lagi gelisah. Lolongan di bawah cahaya bulan itu terasa mengerikan. Ketakutannya membuat mereka mendatangi Sukab yang masih melolong ke arah rembulan dengan memilukan. Mereka membawa segala macam senjata tajam.
***
“MEREKA membantai Sukab,” ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas.

“Dibantai bagaimana?”

“Ya dibantai, kalian pikir bagaimana caranya kalian membantai anjing?”

“Terus?”

“Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing.”

“Terus?”

“Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?”

Ada yang menahan muntah, tapi masih penasaran dengan akhir ceritanya.

“Yang bener aje, masa’ Sukab dimakan?”

Tukang cerita itu tersenyum.

“Lho, itu tidak penting.”

Orang-orang yang mau pergi karena mengira cerita berakhir, berbalik lagi.

“Apa yang penting?”

“Esoknya, ketika matahari terbit, dan orang-orang bangun kesiangan karena makan terlalu kenyang dan mabuk-mabukan, terjadi suatu peristiwa di luar dugaan.”

“Apa yang terjadi?”

“Ketika terbangun mereka semua terkejut ketika saling memandang, mereka bangkit dan menyalak-nyalak, lari kian kemari sambil berkaing-kaing seperti anjing!”

“Haaaa?”

“Kepala mereka telah berubah menjadi kepala anjing!”

“Aaahhh!!!”

“Mereka semua telah berubah menjadi Wongasu!!”

Mulut tukang cerita membunyikan gamelan bertalu-talu sebagai tanda cerita berakhir, dan mulut para asistennya membunyikan suara lolongan anjing yang terasa begitu getir sebagai tangis perpisahan yang menyedihkan. Para penonton terlongong dengan lidah terjulur.

Di langit masih terlihat rembulan yang sama, dengan cahaya kebiru-biruan menyepuh daun yang masih juga selalu memesona.

Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk!

* Cirebon-Wangon-Jogja, Januari 2002.

* Pesan pengarang: Sayangilah anjing, sayangilah makhluk ciptaan Tuhan.

dimuat di: Kompas, Minggu 3 Maret 2002 

Topeng Monyet

  

Topeng Monyet

                                                        

Waktu ia menyeringai aku sudah tahu monyet itu siapa. Bumi ini cuma tempat persinggahan rohroh yang mencari tubuh. Ratusan ribu roh melesat kian kemari, ada yang mencari tubuh, ada yang lepas dari tubuh. Siapapun yang melihatnya akan menyaksikan pesta kembang api. Suaranya mendesing-desing dan ratusan ribu roh itu berkelebatan kian kemari dalam rotasi. Setiap detik berlangsung perpindahan roh dari tubuh yang habis masa berlakunya, ke tempat hunian baru. Perpindahan roh dari satu tubuh ke tubuh lain melewati suatu proses pencucian kembali, dengan cara mengelilingkannya ke seantero semesta, meski hanya berlangsung dalam satu detik saja. Dengan demikian diharapkan roh-roh itu tidak membawa pengaruh ketubuhannya yang lama ke dalam ketubuhannya yang baru. Jika prosedur ini tidak dijalankan, dan roh yang baru keluar dari tubuh anjing memasuki tubuh manusia, begitu lahir ia bisa langsung menyalak-nyalak. Setiap detik ada yang mati, setiap detik ada yang lahir, melangsungkan rotasi roh yang luar biasa, tetapi yang tidak jelas benar sistemnya, dan tidak akan pernah jelas, dan barangkali juga tidak perlu terlalu jelas.

“Beri hormat dulu,” kata Tukang Cerita, sambil memukul-mukul tambur. Maka monyet itu memberi hormat, sama seperti letnan jenderal memberi hormat kepada jenderal. Kemudian mulailah tukang cerita mendongeng, sementara monyet itu memeragakannya.

“Adalah sebuah negeri yang didirikan oleh manusia.”

Demikianlah para penonton menyaksikan monyet itu menirukan manusia. Penonton terpingkalpingkal, anak kecil bersorak, melihat monyet itu membawa payung, membaca buku, dan akhirnya menembakkan senapan.

Waktu ia membawa senapan kulihat matanya menyala -nyala, mulutnya menyeringai dengan kejam, aku tahu siapa dia. Mata yang menyala-nyala itu menatapku dengan tajam. Dia memang jauh lebih tua dariku, karena itu dia mati lebih dulu. Kini dia mengarahkan senapannya kepadaku, dengan mulut menyemburkan api biru, seperti api kompor gas.

“Ibu! Ibu! Bapak itu mau ditembak!”

Seorang anak di bawah umur lima tahun akan mampu melihat api biru yang menyembur itu, tapi mereka tidak tahu dari mana asalnya. Mereka tidak tahu itulah api neraka yang bisa membakar segala-galanya menjadi bencana tak tertahankan.

Kulihat Si Tukang Cerita. Tangan kirinya memegang rantai yang ujungnya mengunci leher monyet, dan tangan kanannya memegang tongkat kecil yang mampu membuat monyet itu menuruti segala perintahnya.

“Si Kliwon maju bertempur ke medan perang,” ujarnya.

Monyet itu menunduk-nunduk, seperti mengintai musuh dari balik semak-semak.

“Si Kliwon menembak!”

Monyet itu memegang senapannya seperti manusia memberondongkan senapan mesin, sementara tongkat tadi kemudian memukul-mukul tambur. Dung-derudung-dung-derudung-dung-derudung ramai sekali suaranya.

Anak-anak di bawah lima tahun melihat semuanya. Orang-orang tidak bersenjata rubuh ke tanah bersimbah darah. Mereka melihat siapa monyet itu dulunya. Mereka melihat orang-orang digiring ke tanah lapang dengan tangan terikat ke belakang, sambung menyambung sepanjang lapangan. Tubuh mereka tersentak-sentak ketika ditembak. Roh mereka masing-masing melejit dan langsung bergabung dalam proses maharotasi, melejit-lejit, melesat-lesat, berkelebat begitu cepat, mendesing-desing seperti mercon sos-dor yang tidak pernah meledak, sebelum akhirnya tahu-tahu lahir kembali dalam ujud seekor katak. Kung-kang, kung-kang, kung-kang, kung-kang, Anak-anak melihatnya, tapi mereka masih di bawah lima tahun. Tidak paham apa maknanya sejumlah orang bersenjata membantai sejumlah orang tidak bersenjata yang sebelum mati berseru:

“Allahu Akbar!”

Monyet itu menyeringai dengan mata iblis merah menyala, dari mulutnya menyembur api biru kompor gas, lantas menandak-nandak sambil memegang senapan di atas kepalanya. Tukang Cerita melanjutkan kata-katanya.

“Syahdan, negara berada dalam keadaan bahaya. Setiap wilayah ingin memisahkan diri. Raja menitahkan agar pemberontak ditumpas. Pasukan tentara diberangkatkan berperang ke pulau seberang. Para serdadu senang mendapat uang tambahan, dan kegemaran membunuh tersalurkan dengan pembenaran. Siapapun yang ditemui disikat tanpa pandang bulu. Siapapun yang tidak dikenal segera ditumpas, karena tidak kenal artinya asing, dan asing artinya berbahaya, dan segala sesuatu yang berbahaya harus dihapuskan.”

Tambur masih terus dipukul. Monyet itu melompat berjumpalitan. Anak kecil tertawa-tawa.

“Setelah puas membinasakan lawan yang tiada berdaya, pasukan tentara bersantai sambil
membicakan tindakan-tindakan ksatria, yakni membunuh dengan membabi buta. Perempuan dan anak-anaknya ditembak pula.”

Monyet itu merebahkan diri, dengan tangan kiri menyangga kepala, seperti seorang raja menikmati hiburan. Kulihat sekeliling. Orang-orang dewasa mengalihkan pandangannya, seperti baru saja dihadapkan kepada kenyataan. Anak-anak masih menonton dengan mulut ternganga. Aku tahu siapa dia, yang bersembunyi di balik tubuh seekor monyet, karena aku telah selalu memburunya dari zaman ke zaman. Tuanku telah memerintahkan aku untuk terus mengawasinya. Namun aku juga bukan makhluk sempurna. Aku terlalu sering lupa untuk membuntutinya. Aku harus mengganggunya terus-menerus agar ia tidak terlalu sering dan tidak terlalu mudah menyebarkan bencana. Aku harus terus mengikutinya, dari ruang ke ruang dari waktu ke waktu, sampai tidak lagi merasa bosan, meski tiada terhitung lagi berapa millennium lamanya aku telah mengikuti dia, yang mata iblisnya suka berpijar sesaat menyala-nyala merah warnanya. Suatu ketika aku kehilangan jejak dan aku kehilangan dia, sekejap saja sebetulnya, tapi itu sudah
100 tahun manusia. Bahkan sampai aku sendiri mati dan lahir kembali berkali-kali. Sekarang tibatiba ia muncul di hadapanku. Menyeringai dengan mata iblis merah menyala dan dari mulutnya menyembur api biru kompor gas.

“Si Kliwon pulang dengan bangga, rasanya puas karena telah membunuh banyak manusia.”

Topeng Monyet selesai. Tukang Cerita itu memerintahkan monyetnya memberi hormat kepada para penonton. Monyet itu memberi hormat seperti seorang letnan jenderal memberi hormat kepada jenderal. Setelah itu mereka pergi. Aku mengikuti mereka. Dari dalam kandang beroda yang diseret, dengan gembok besi yang terkunci, monyet itu memandangku. Tahukah ia siapa dirinya dulu? Kenalkah ia kepadaku?

Dari kampung ke kampung mereka mengembara, dan aku terus-menerus mengikutinya. Tukang Cerita itu melirikku.

“Kamu mau apa?”

Aku diam saja. Ia berjalan lagi. Aku mengikutinya lagi. Masih kuingat tugas Tuanku agar aku jangan sampai kehilangan iblis itu lagi. Tukang Cerita itu tentu tidak mengerti apa-apa tentang monyetnya. Ia sudah 50 tahun, sebagian rambutnya memutih, ditutupi topi tikar pandan yang sudah jebol-jebol pinggirnya. Bajunya lusuh dan warna kainnya sudah berubah. Ia menyeret kandang beroda itu naik dari kampung-kampung di tepi rawa ke kampung-kampung di perbukitan yang menghijau. Di sana mereka berhenti karena sejumlah orang yang sedang duduk-duduk di warung memintanya memainkan lakon Menunggu Godot. Maka Tukang Cerita itupun bercerita tentang orang-orang yang
menunggu Godot di bawah sebuah pohon, tapi sampai cerita berakhir Godot tidak pernah tiba. Monyet itu bermain dengan bagus menirukan manusia-manusia yang menunggu sambil bercakapcakap. Tentu saja percakapan itu dilakukan oleh Si Tukang Cerita.

Cerita itu ternyata lama sekali, tapi akhirnya berakhir juga ketika senja tiba.

“Ya, mari kita pergi.” Tukang Cerita itu mengakhiri, dan monyet itu tidak bergerak.

Orang-orang di warung bertepuk tangan, memberi upah, dan memuji-muji. Salah seorang
melemparkan buah pisang kepada monyet itu, yang segera memakannya setelah mengupas kulitnya terlebih dahulu.

“Pak, monyet itu bisa memainkan lima peran dalam Menunggu Godot, bagaimana melatihnya?”

“Ah, begitu saja, seperti melatih binatang sirkus,” kata Tukang Cerita itu merendah.

Lantas mereka melanjutkan perjalanan. Dalam cahaya senja yang menyapu punggung-punggung bukit kuikuti mereka naik turun jalan setapak, menembus hutan pinus, sampai turun ke sebuah lembah tempat sebuah sungai kecil mengalir. Ketika hari menjadi gelap, kulihat mata monyet itu semakin menyala.

Apa maksud Tuanku memberi tugas seperti ini, mengikuti roh keluar masuk tubuh dari abad ke abad? Apakah jalan hidup bisa ditentukan untuk selalu saling mengikuti seperti itu? Apakah artinya hidupku jika sudah ditentukan bahwa aku akan selalu membuntuti roh dalam tubuh monyet itu sepanjang semesta ini ada? Jika semesta ini merupakan ruang untuk mencuci dan menyucikan kembali roh yang melejit dari tubuh, mengapakah aku harus terus-menerus mengikutinya, dan apakah mungkin mengikutinya jika roh itu hanyalah semacam energi yang menghidupkan tubuh sehingga tidak ada beda antara roh satu dengan yang lain ketika sedang berkelebatan di angkasa raya? Aku tidak mengerti. Kurasa hidup ini memang sebuah misteri. Di langit kulihat sekian banyak roh melesat-lesat seperti mercon sos-dor yang tidak pernah meledak. Monyet itu tak pernah berkedip menatapku dari dalam kandangnya. Apakah ia tahu akulah yang ditugaskan Tuanku
mengikutinya? Apakah ia tahu akulah selama ini yang mengejarnya dan aku sempat kehilangan jejak sampai 100 tahun lamanya sehingga masa itu tercatat dalam kitab-kitab sebagai Abad Kegelapan?

Mereka tidur di tepi kali. Rembulan terang. Tukang Cerita itu mengambil kain sarung dari sebuah kotak di atas kandang beroda, lantas menggulung tubuhnya di atas batu datar yang malam itu menjadi putih kebiru-biruan. Kudengar air kali. Aku senang sekali mengikuti perjalanan mereka.

“Bukankah pada jam seperti ini kamu sudah seharusnya di rumah? Pulanglah, kalau sudah besar nanti kamu boleh mengembara.”

O, Tukang Cerita itu tidak tahu, aku sama sekali tidak ingin mengembara. Aku harus mengawasi roh dalam tubuh monyet itu, yang mata iblis merahnya menyala-nyala, agar ia tidak membunuh manusia seenak perutnya seperti selalu diperagakannya. Tapi tentu saja Tukang Cerita itu tidak akan mengerti, karena ia sudah 50 tahun. Sedangkan aku, baru seminggu lagi mencapai usia 5 tahun. Setelah itu, aku akan lupa dari mana aku berasal dan ke mana aku setelah mati – yang semacam itu hanya bisa kukira-kira saja.

Sudah pasti aku tertidur. Lewat tengah malam, Tukang Cerita itu membangunkan aku.

“Monyet itu hilang,” katanya dengan gugup.

Kulihat kandangnya. Gemboknya masih terkunci. ***

   

Pondok Aren, Selasa 8 Januari 2002
   

   

Suara Pembaruan – 2/10/2002

Badak Kencana

 

Badak Kencana

 

BAGIKU tidak ada yang terlalu menarik di Ujung Kulon, sampai kudengar perbincangan tentang Badak Kencana.

Perbincangan itu mulai kudengar di antara para nelayan. Semula aku tidak berpikir tentang Badak Kencana, melainkan tentang ikan-ikan yang kena kibul para nelayan: mereka mendekati lampu yang menyala untuk segera terperangkap dalam jala dan segera masuk ke perut manusia. Apakah ikan-ikan melihat sorga di balik cahaya, dan jika mereka mati demi kelanjutan hidup manusia, yang selalu diandaikan lebih mulia, mereka akan mendapatkan sorga? Jika memang demikian, ketika orang baik-baik mati dan masuk sorga, maka mereka akan berjumpa dengan ikan-ikan yang pernah mereka makan. Tuhan Maha Adil, orang baik-baik masuk sorga, dengan ikan-ikan yang membuat orang baik-baik hidup lebih lama juga masuk sorga. Berbahagialah mereka yang lahir kembali
sebagai ikan, karena jika mereka mati akibat kibul cahaya lampu yang mereka kira cahaya sorga dan dimakan manusia, setelah mati mereka akan masuk sorga juga.

Tapi selanjutnya kulupakan ikan-ikan, ketika para nelayan sambil mengangkat jala masih terus berbincang tentang Badak Kencana, dewa badak yang melindungi badak-badak bercula satu dari kepunahan. Di antara amis ikan di tengah lautan dalam kegelapan malam, dari perahu nelayan kadang terlihat secercah cahaya di tengah hutan, yang sesekali tampak dan sesekali menghilang — pemandangan yang membuat aku bertanya-tanya: benarkah di balik kelam itu terdapat Badak Kencana berkeliaran?

Sampai sekarang pun Ujung Kulon terpencil. Kukira para pemukim pertama datang melalui laut.  Tentu merekalah yang mewariskan sebuah cerita turun-temurun tentang Badak Kencana, yang konon selalu akan muncul setiap kali jumlah badak-badak bercula satu di Ujung Kulon mencapai titik nadir. Demikianlah diceritakan betapa Badak Kencana itu akan mengencani badak-badak betina dan meninggalkan mereka dalam keadaan bunting, sehingga jumlah badak yang makin menipis itu bisa bertahan, bahkan tidak jarang malah bertambah. Namun Badak Kencana itu bukanlah badak jantan. Ia disebutkan tidak mempunyai kelamin, karena ia memang bukan sembarang badak: ia tidak beranak dan ia tidak diperanakkan. Bahwa yang diberkahinya dengan keturunan adalah badak-badak betina, tak lebih dan tak kurang karena badak-badak jantan tidak mungkin bunting. Lewat tengah malam para nelayan makan. Mereka merebus mie instan bersama bungkusnya. Bungkus itu dibuka, dan ke dalam bungkus itu bumbu-bumbunya dituang, agar jangan sampai tersebar keluar bungkus. Mereka juga memasukkan telur-telur bebek ke dalam air yang merebus mie instan dan itulah yang kami makan sebagai lauk nasi.

Para nelayan tidak pernah melihat Badak Kencana, tetapi mereka percaya kisah nenek moyang bahwa setiap kali jumlah badak bercula satu menipis, Badak Kencana akan muncul menyelamatkan mereka dari kepunahan. Namun bukan hanya para nelayan yang mempercayai sesuatu tanpa melihatnya. Badak bercula satu diperkirakan tinggal 50 ekor, tetapi angka ini tidak bisa dipastikan, karena mungkin saja jumlahnya 60 ekor. Tim Sensus yang dikirim dari Jakarta menghitung jumlah badak bukan berdasarkan penglihatan atas badak-badak dengan mata kepala sendiri, melainkan, antara lain, berdasarkan jejak tapak kaki yang mereka tinggalkan.

Badak Kencana maupun badak-badak biasa sama -sama tidak pernah terlihat, namun keduanya kini berada di dalam kepalaku dan sulit kukeluarkan lagi seumur hidupku.

Jejak tapak itulah yang memberi petunjuk kemunculan kembali Badak Kencana dan menjadi perbincangan para nelayan. Ketika melacak jejak badak, Tim Sensus menemukan jejak tapak badak yang keemas-emasan. Suatu jejak tapak di tanah yang membuat butir-butir tanah yang terinjak itu seperti serbuk emas, yang bercahaya suram dalam keremangan hutan di antara gerimis. Tapak kaki Badak Kencana itu hanya satu, bukan empat, namun itu sudah cukup untuk menunjukkan kehadirannya.

“Badak Kencana…” desis salah seorang penunjuk jalan.

Bagi penduduk Tamanjaya, kampung nelayan dari mana perahu biasa berangkat menuju Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, atau Pulau Panaitan, kehadiran Badak Kencana sebagai dongeng telah melekat bagaikan kenyataan, sehingga jejak tapak badak keemas-emasan itu seperti bagian dari sebuah dunia yang telah mereka kenal.

Tim Sensus, yang selalu bekerja secara ilmiah, tentu bukan tergolong orang-orang yang percaya bahwa di dunia ini badak-badak bercula satu mempunyai dewa mereka sendiri yang bernama Badak Kencana, namun mereka mengakui bahwa jejak tapak yang mereka saksikan memang jejak kaki yang keemas-emasan. Setelah diselidiki, serbuk-serbuk emas itu bukan emas yang disebut logam mulia, tapi lebih mirip serbuk-serbuk cahaya. Di laboratorium, tak bisa dijelaskan serbuk-serbuk cahaya tersebut terdiri dari bahan apa.

Penemuan jejak yang keemasan-emasan itu mengingatkan kembali para nelayan betapa Badak Kencana itu belakangan ini sering muncul kembali dalam mimpi-mimpi mereka. Perbincangan tentang Badak Kencana itu sempat lama hilang, terutama ketika radio dan televisi memasuki desa. Hampir tiga puluh tahun lebih ingatan kepada Badak Kencana seperti terhapus dan menguap bersama udara.

Para nelayan di Tamanjaya berangkat jam empat sore ke laut untuk mencari ikan dan tiba kembali di pelabuhan jam delapan pagi keesokan harinya. Dalam perjalanan pulang itulah, dalam keadaan terkantuk-kantuk oleh buaian ombak dan angin pagi, para nelayan yang tergolek-golek akhirnya akan tertidur dan bermimpi. Dan dalam salah satu mimpi itulah beberapa di antara mereka menyaksikan Badak Kencana, yang memandang dengan tajam, sebelum akhirnya menghilang. Pada abad ke-19, jauh sebelum pemerintah Hindia Belanda memperlakukan Ujung Kulon sebagai cagar alam, para nelayan tidak asing dengan pemunculan Badak Kencana dalam mimpi. Saat itu badak-badak bercula satu sudah terancam punah, bukan terutama karena terdesak pemukiman manusia yang merajalela, atau karena Pulau Jawa sebagian besar masih hutan, melainkan oleh semangat berburu. Para pemburu andal dibayar mahal untuk mengikuti jejak tapak badak ke dalam hutan selama berminggu-minggu hanya untuk mengambil cula. Badak-badak bergelimpangan dalam hutan tanpa cula, atas nama kepercayaan tak masuk akal perihal
keampuhan cula itu sebagai pembangkit syahwat, obat kecantikan, maupun obat panjang umur. Kenyataannya, cula itu memang mendatangkan uang. Para pemburu badak, yang secara turun temurun mewarisi keahlian memburu badak, terus menerus menerima pesanan cula dari Batavia maupun Singapura, yang membuat mereka bisa masuk hutan setiap bulan untuk memenuhi pesanan itu. Tak ada sebuah cula pun yang bisa diambil tanpa membunuh badaknya terlebih dahulu.

Kemudian Badak Kencana muncul ke dalam mimpi orang-orang di sekitar Ujung Kulon, bukan hanya di Tamanjaya atau Tanjung Alang-alang, melainkan juga sampai Sumur dan Badur. Seolah-olah mimpi itu mempunyai suatu daya jangkau. Penampakan Badak Kencana, meskipun hanya dalam mimpi, sering diterima sebagai suatu isyarat, tetapi arti isyarat itu tidak pernah disepakati. Ada yang menafsirkannya sebagai keberuntungan, ada juga yang menangkapnya sebagai perkabungan.

Badak Kencana tidak hanya menampakkan diri di dalam mimpi. Badak Kencana  dihubungkan dengan kematian sejumlah pemburu ketika badak-badak mulai sangat berkurang jumlahnya. Sayang sekali para pemburu ini tidak bisa bercerita banyak, karena setiap kali ditemukan oleh pemburu lain mereka memang sudah mati. Di sekitar tempat mereka ditemukan terdapat serbukserbuk cahaya keemasan yang ajaib itu, maupun jejak tapak badak yang juga bercahaya. Bahkan tak jarang serbuk-serbuk cahaya itu menempel di lambung para pemburu yang tewas, seperti telah disodok oleh cula Badak Kencana.

Ada sekali peristiwa seorang pemburu masih hidup ketika berhasil mencapai muara Sungai Cigenter dan bertemu para pemburu rusa. Sebelum tewas ia sempat berkata, “Badak Kencana…” Seluruh tubuhnya penuh dengan serbuk cahaya keemasan itu, bagaikan telah diinjak-injak oleh Badak Kencana.

Demikianlah setiap nenek di Ujung Kulon bercerita kepada cucunya di tepi pantai sambil
memandang cakrawala di mana matahari akan terbenam.

“Nun di sana, di balik keremangan dan kekelaman itu, dalam kegelapan Tanjung Jawa yang sungguh-sungguh muram, terdapatlah Badak Kencana. Dalam dunia yang gelap, ia memiliki suatu kerajaan cahaya yang terlindung di balik tabir kehitaman di mana hanya Sang Badak Kencana bisa keluar masuk menembusnya. Dialah dewa badak, pelindung dan penjaga kesejahteraan badakbadak bercula satu sehingga mereka terselamatkan dari kepunahan. Janganlah mencoba memburu badak-badak itu atas nama apapun, karena barang siapa…”

Tidak usah dipungkiri betapa di antara pemburu badak itu ada juga yang ingin menaklukkan Badak Kencana itu sendiri. Mereka adalah manusia yang tidak bisa ditundukkan oleh dongeng, atau mereka tertantang oleh mitos, atau menyimpan dendam dan rasa penasaran atas tewasnya para sejawat, sesama pemburu badak yang tubuhnya bergelimang serbuk cahaya keemasan. Namun siapapun yang berangkat dan menghilang di balik cakrawala itu tidak pernah kembali lagi.
Siapapun. Sampai waktu berlalu.

AKU tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan Badak Kencana itu. Ia maupun badak-badak bercula satu biasa belum pernah kulihat.

Adakah seseorang, satu saja, yang terbukti pernah melihat Badak Kencana? Para pemburu yang mati memang sempat berdesis mengucapkan kata, “Badak Kencana…” Namun ini belum membuktikan apa-apa. Bukankah bisa saja seseorang merasa seolah-olah melihat Badak Kencana padahal yang dilihatnya hanyalah bayangannya sendiri? Aku yang tidak pernah melihat badak bercula satu selalu merasa seolah-olah pernah melihatnya, padahal aku hanya selalu membayangkannya. Begitu pula yang terjadi dengan Badak Kencana.

Di kampung nelayan itu memang ada seorang tua berusia 120 tahun yang dianggap pernah melihat Badak Kencana. Namun sebetulnya bukan Badak Kencana itu sendiri yang pernah dilihatnya ketika masih berusia 20 tahun, melainkan kilau keemasan yang berkelebat di balik semak.

“Peristiwa itu sudah seratus tahun lalu, tapi saya masih selalu teringat, seperti baru terjadi kemarin.Banyak sudah yang saya alami, tetapi tidak ada yang tetap tinggal dalam kepala saya seperti peristiwa itu.
Waktu itu saya mencari ular. Orang Belanda suka membeli kulit ular dengan harga mahal, danmenjualnya lagi ke Eropa. Meskipun pemerintah Hindia Belanda sudah melarang kami berburu di dalam hutan, tapi tidak ada tenaga untuk menjaga hutan itu seperti sekarang. Kami bisa keluar masuk dengan bebas, dengan risiko disergap macan tutul atau diseruduk badak.

Saat itu gelap, dan tak satu ular pun saya jumpai hari itu, padahal saya telah memelajari mantra pemanggil agar ular-ular itu mendekat. Mungkin memang belum nasib saya. Saya siap menempuh jalan kembali ketika terdengar bunyi berkerosak di balik semak. Saya menoleh dan melihat kilau cahaya keemasan, seperti kilau cahaya matahari senja, tetapi yang jauh lebih lemah dan lebih suram — seperti kesedihan. Cahaya ini bergerak menjauh dan menghilang. Jadi saya tidak melihat badak itu, yang saya lihat hanyalah jejaknya, itu pun hanya satu. Kami para pemburu biasa melihat jejak badak di hutan, dan jejak-jejak itu tidak pernah hanya satu. Jejak keemas-emasan ini memang jejak badak, tapi saya tidak mengerti, bagaimana badak bisa berdiri dengan satu kaki.

Ketika saya kembali ke kampung dan menceritakannya, mereka mendesah pelahan sembari menyebut kata ‘Badak Kencana…’ Karena saya orang perantauan, saya baru mendengar cerita tentang Badak Kencana itu kemudian. Menurut mereka, saya telah bertemu dengan Badak Kencana yang mereka kenal dari cerita nenek moyang. Disebutkan betapa saya harus merasa bersyukur karena masih hidup. Tapi sekarang saya sudah berumur 120 tahun dan saya sudah bosan hidup. Kalau pertemuan dengan Badak Kencana membuat saya mati, saya mau saja menemuinya sekali lagi.”

Rumahnya penuh dengan wartawan media cetak dan media elektronik yang memasuki rumah tanpa membuka sepatu, sampai lantai rumah panggung itu penuh dengan lumpur. Orang tua yang tidak pernah menikah itu bagaikan dipaksa untuk berkisah dengan terbata-bata. Ia tidak bisa berbahasa Indonesia, ia berbicara dengan bahasa Sunda campur Bugis, karena seratus tahun lalu ia tiba di Tamanjaya setelah berlayar bersama orangtuanya dari Bulukumba.

Para wartawan menyerbu rumah itu, dan meminta keterangan kepadanya, karena lelaki berusia 120 tahun itu dianggap pernah bertemu dengan Badak Kencana. Empat wartawan media elektronik dari Jakarta telah hilang dalam tugas mencari Badak Kencana. Tim SAR sebegitu jauh hanya menemukan jejak tapak badak keemas-emasan. Bukan empat tapak melainkan satu.

Di tengah kegemparan itu aku berpikir tentang soal lain. Jejak yang ditemukan Tim Sensus maupun lelaki itu seratus tahun yang lalu hanya satu. Mungkinkah Badak Kencana itu berdiri dengan satu kaki? Mungkinkah Badak Kencana itu suka berloncatan ke sana ke mari dengan satu kaki? Jejak satu kaki memperlihatkan bahwa badak itu berdiri di atas tapak kanan depan, seperti sedang main akrobat. Tidakkah Badak Kencana yang misterius ini barangkali suka bercanda?

Tapi membayangkan semua itu aku merasa bodoh, karena belum terbukti secara meyakinkan bahwa Badak Kencana itu memang ada.

MALAM telah turun. Langit cerah. Bintang-bintang terserak menyemarakkan langit. Pada cakrawala kulihat lampu-lampu pukat harimau dari negeri asing yang menyedot berton-ton ikan tanpa gangguan. Terlihat juga lampu lentera yang jauh lebih muram dari perahu-perahu nelayan, terserak di sana-sini, tidak terlalu banyak jumlahnya, yang semenjak berpuluh-puluh tahun selalu mencari ikan dengan cara yang sama. Memang perahu mereka sekarang bermesin, tetapi cara berpikir mereka tidak berubah, yakni mencari ikan seperlunya untuk dijual dan dimakan. Jika uang penghasilan itu cukup untuk bertahan hidup, maka tidak ada lagi yang masih harus dilakukan. Laut seperti selimut yang lembut tapi terus menerus bergoyang, membuat lentera yang tergantung
juga bergoyang-goyang. Kehidupan seolah-olah berhenti, tapi apakah yang betul-betul berhenti?

Sejak sore ribuan kalong telah meninggalkan pemukimannya, terbang dalam keremangan
memasuki malam, ketika manusia tertidur dan merasa sebaiknya kegelapan segera berlalu. Seorang anak nelayan yang diajak melaut mungkin tetap terjaga dan bertanya-tanya apakah yang berada di balik kegelapan itu.

“Bapak, ke mana ribuan kalong menghilang di balik kelam?”

Malam memberikan kegelapan, dan kegelapan memberi peluang sejuta dugaan. Terdengar sapuan ombak di bibir perahu. Angin dingin menyibak kelambu. Benarkah tidak ada sesuatu di balik kegelapan malam dan hanya ada dongeng yang dilahirkan angan-angan? Di Ujung Kulon yang terpencil, segala sesuatu telah dihitung secara ilmiah, sehingga badak bercula satu yang tidak pernah terlihat itu pun bisa diketahui jumlahnya. Tapi itu tidak termasuk Badak Kencana…

Waktu itu aku belum tahu, empat mayat dihanyutkan arus di muara Sungai Cigenter. Jenazah jenazah itu hanya berputar-putar, karena tertolak balik oleh gelombang lautan. Hari masih sama gelapnya seperti malam. Mayat-mayat itu kemudian terjerat di antara pohon-pohon bakau, bergoyang-goyang sebentar tapi lantas terdiam ketika ombak surut. Di antara batang, akar, sulur, dahan, dan ranting pohon-pohon bakau, tubuh-tubuh itu tergolek, seperti orang-orang yang bersandar menanti penjemputan.

Aku belum melihat mayat-mayat itu, karena mataku melihat ke arah lain. Ketika matahari muncul dari balik bukit, dari tengah laut yang ungu muda kulihat pemandangan itu: Badak Kencana yang berdiri dengan satu kaki, tepatnya kaki kanan depan, berputar seperti penari balet dalam cahaya keemas-emasan yang muram. Gerakannya begitu anggun, tapi matanya memancarkan kesedihan. Kukerjapkan mataku berkali-kali, karena aku masih berharap ini hanya mimpi.

    

Ujung Kulon — A102.PVJ-J, Februari 2004
   

    

Koran Tempo – 5/30/2004

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 362 pengikut lainnya.