Melodrama di Negeri Komunis

Melodrama di Negeri Komunis

            

PEREMPUAN terindah itu meluncur di atas es, setiap kali melewatiku dari tangannya muncul seekor burung merpati. Lapangan es di dalam tenda pertunjukan akrobat itu putih menyilaukan dalam cahaya lampu, membuat perempuan yang meluncur itu di mataku seperti keluar-masuk tabir cahaya, membuatnya terlihat seperti bidadari, barangkali, jika bidadari memang ada — di negeri ini segala sesuatu yang tidak kelihatan ujudnya tiada pernah diterima sebagai makna.

Tapi, aku telanjur mengenal kata bidadari sehingga perempuan terindah yang meluncur dengan satu kaki terangkat ke belakang dan mengembangkan tangan itu memang bagiku tampak sebagai bidadari, sesuatu yang muncul dari balik ketiadaan, begitu tiba-tiba dan penuh pesona, apalagi setiap kali melewati tempatku memotret, dari tangannya muncul burung merpati, seolah-olah merpati itu hanya untukku.Setelah dua belas putaran, dua belas ekor pula burung merpati keluar dari tangannya, terbang mengikutinya seolah-olah memang memperpuan perempuan itu.

Segenap merpati itu putih, busana berkilatan perempuan itu putih, dan perempuan itu sendiri juga putih seputih-putihnya putih. Segalanya serbaputih seolah-olah tidak memberi kesempatan kepada warna lain, namun putih di dalam tenda ini adalah lebih baik dari kelabu. Di luar tenda ini, segalanya kelabu, gedung, jalanan, tatapan mata, semuanya kelabu. Hanya bendera-bendera raksasa berwarna merah, berkibar-kibar menggetarkan….”Tunggu aku di belakang, setelah pertunjukan,” katanya.

Begitulah, aku memotret, dan nanti aku akan menunggu. Dua belas merpati hinggap di tangannya yang mengembang. Ia menurunkan kakinya, dan meluncur mundur. Sorot lampu mengiringi ke mana pun ia pergi. Apakah yang sedang diberikan oleh perempuan yang meluncur dengan dua belas merpati di kedua lengannya itu? Keindahan? Ketenangan? Kebahagiaan? Senyumnya mengembang. Ia seorang perempuan yang betul-betul cemerlang. Sampai di manakah kiranya kecemerlangan bisa memudarkan penderitaan dalam kemiskinan?
Klik!
Kupindahkan ia ke dalam duniaku.

***
“Manusia adalah tuan dari segalanya,” ujarnya suatu ketika kepadaku,

“itulah ajaran pemimpin kami.”Aku tertegun.

“Segalanya?”

“Ya. Segalanya. Pada masa penjajahan Jepang, rakyat kami memohon pertolongan Tuhan, tapi tidak terjadi perubahan apa-apa, jadi pemimpin kami mengatakan, segala sesuatu harus diperjuangkan oleh manusia, dengan menggunakan akal dan alat apa pun yang ada di sekitar kita. Ternyata perjuangan manusialah yang berhasil mengusir penjajah. Jadi, meskipun memuja Tuhan atau apa pun yang gaib tidak dilarang, pemimpin kami berpendapat hanya usaha manusialah yang bisa mengubah nasibnya sendiri.”1

Kulihat patung raksasa pemimpin negeri ini.

“Rakyat negeri kami sangat berterima kasih dan merasa sangat berutang budi kepada pemimpin kami, patung dan berbagai monumen di kota ini merupakan bukti kecintaan rakyat kami kepada sang pemimpin. Betapa pun beliau telah membimbing kami keluar dari nestapa penjajahan, sehingga kami sekarang bisa merasakan apa artinya hidup bahagia.”
Bahagia. Bukankah itu yang dicari manusia?

“Beliau adalah pemimpin abadi kami.”

Hmm. Abadi.Di Balai Pembelajaran Rakyat kulihat banyak orang duduk dengan tekun. Mereka yang tidak mengerti isi buku yang dibacanya, boleh datang ke ruangan Tanya dan Jawab yang jumlahnya 250 kamar, tersebar di segenap lantai gedung mahabesar itu, dengan tiang-tiang raksasa, lantai marmer, dan lagi-lagi patung sang pemimpin dalam ukuran megah. Di setiap kamar tersedia seorang profesor, yang akan menjawab semua persoalan yang tidak bisa dimengerti oleh para pembaca buku itu. Segala bidang ilmu pengetahuan bisa dipelajari di dalam gedung itu, mulai matematika, sejarah, sampai bahasa — namun apabila pertanyaan mempersoalkan gagasan-gagasan sang pemimpin yang termuat dalam 5.000 risalah, maka jawabannya akan selalu mengarah kepada simpulan: sang pemimpin adalah kebenaran.

“Amerika selalu jahat kepada kami,” katanya lagi, “mereka selalu memberikan kesan yang buruk tentang kami kepada dunia.”

Baik dan buruk, benar dan salah — bagaimanakah hal itu boleh menjadi pasti? Kulihat sekeliling, meski wajah semua orang bagaikan serupa, tidak ada fesyen, dan negara berada di dalam kamar, anak-anak kulihat berlari-lari dengan pikiran bebas. Tapi sampai kapan?

“Sampai kapan?”

“Apanya?”

“Sampai kapan anak-anak hidup tanpa pengarahan negara?”

“Sampai mereka sekolah. Di negeri kami, sekolah adalah wajib dan gratis. Juga masih gratis di perguruan tinggi, meski tidak wajib lagi. Pemimpin kami sangat peduli kepada kesejahteraan jiwa, otak, maupun raga rakyat negeri ini.”

Barangkali kudengar. Barangkali tidak. Pikiranku tertuju kepada seorang perempuan yang tadi pagi kulihat di televisi: seorang perempuan yang meluncur di atas es dengan dua belas merpati yang hinggap pada kedua lengannya yang terkembang.Ia sekarang berada di hadapanku, tapi dengan tanda bintang di topinya itu, kenapa ia jadi begitu berubah. Ia tidak sedang memainkan peran dalam opera rakyat. Bila sedang tidak meluncur di atas es ia selalu mengenakan seragam Pengawal Merah. Seragam itu berwarna cokelat tua kehijau-hijauan, seperti bumi dan langit dibanding warna putih kemilau jika ia meluncur di atas es dengan kaki terangkat ke belakang dan tangan terkembang.Manakah yang lebih baik antara bumi dan langit? Aku tak tahu, namun matanya itu, matanya itu — di sebuah negeri di mana keajaiban dianggap kegaiban yang terlarang, bagaimanakah mata yang menatap dengan tajam, cemerlang, dan penuh gairah harus diberi nama?Ia tersenyum, memegang tanganku sebentar, lantas hilang ditelan pintu gedung besar yang menganga dan seperti tidak akan pernah mengeluarkan orang yang sama ketika keluar lagi. Begitu banyak orang masuk ke gedung itu, tapi ketika keluar lagi mereka semua seperti serupa.

***
“Jangan marah,” katanya di telepon.

“Kenapa?”

“Barangkali aku tidak akan datang.”

Kami berjanji untuk bertemu di Lapangan Sang Pemimpin, di depan gedung dengan lambang palu, sabit, dan pena.Ia tidak usah mengatakan barangkali. Ia pasti tidak akan datang. Maka kudatangi tenda hiburan rakyat yang juga gratis itu, menembus gelap malam dalam kota yang nyaris tiada berlistrik. Dari jauh ia sudah melihatku datang, ia berlari seperti kijang, membawaku hilang ke balik kegelapan.

“Mengapa kamu datang? Mengapa kamu datang? Apakah kamu tidak tahu kalau kamu selalu diawasi?”

Suaranya merupakan perpaduan antara cemas, gelisah, dan senang. Apakah yang harus kukatakan? Di negeri ini, segala gagasan adalah konkret, tidak ada yang abstrak. Perlambangan adalah pasti, dan tidak bisa ditafsir lain. Aku tidak mengerti kenapa aku datang. Apakah ia bisa mengerti, tentang seseorang yang tidak bisa mengerti? Adakah sesuatu yang bisa dimaklumi di luar kesadaran?Jika memotret saja tidak cukup, apalagi yang bisa dilakukan seorang tukang potret? Meski hanya seorang tukang, aku tidak bisa bersikap sekadar sebagai tukang. Harus ada alasan yang kuat untuk memotret maupun tidak memotret sesuatu, dan tentu juga ada alasan yang kuat untuk membuatku menembus tirai nilai. Musik orkestra di dalam tenda sudah berbunyi — tidakkah ia mestinya sudah berloncatan dari ayunan satu ke ayunan lain di ketinggian?

“Mengapa kamu datang? Mengapa kamu datang?”

Pertanyaan itu mengiang, meski ia tidak mengucapkannya lagi. Kulihat melodrama di matanya, air mata menggenang berkilatan. Bibirnya merah dan basah.Aku tidak perlu menjawab, karena tangannya merengkuh leherku.Kurasa mulutnya bau kimchi.

***

Enam belas tahun kemudian, sambil menyandang kamera digital, aku menunggu di depan gedung dengan lambang palu, sabit, dan pena itu lagi. Palu dan sabit adalah lambang buruh dan petani, lambang kelas pekerja, sedangkan pena adalah lambang kaum intelektual.

“Semangat kerja saja tidak cukup,” katanya dulu, “menurut pemimpin kami perjuangan juga memerlukan intelektualitas.”

Patung pemuda dan pemudi yang tangan kanannya mengacungkan bedil, pistol, palu, dan sabit, tangan kirinya sering juga membawa buku.Enam belas tahun telah berlalu, apakah cara berpikirnya masih sama? Saat itu, di bawah pagoda Buddha pernah kutanya kepadanya.

“Tentu kamu tidak percaya kepada Buddhisme lagi?”

“Aku memang tidak pernah percaya,” katanya, “aku hanya percaya kepada diriku sendiri.”

Dunia sudah banyak berubah, mungkinkah ada yang tidak berubah?Di samping kiri dan kanan gedung itu, masih terdapat potret besar Karl Marx dan Lenin.

“Di sebelah mana? Di bawah gambar Marx atau Lenin?”

“Marx,” kataku.Entah kenapa aku seperti ingin menjauhi gambar Lenin, yang telah membuat pemikiran Marx bersimbah darah. Sambil menunggu di bawah lampu terang benderang, kupandang fotonya. Ia sedang meluncur di atas es, dan matanya menatap ke arahku. Sebagian dari dua belas merpati itu hinggap di lengannya yang terkembang, sebagian lagi masih beterbangan mengikutinya.Setelah aku memotretnya enam belas tahun yang lalu, ia memang tidak pernah muncul ke belakang panggung. Aku menunggu seperti orang tolol sampai pertunjukan selesai, dan ia tidak pulang bersamaku. Hatiku hancur ketika itu, meski barangkali tidak terlalu banyak alasan untuk memunyai perasaan begitu.Kemudian, dari balik kegelapan, dari tangga jalan kereta api bawah tanah, muncul sesosok tubuh yang berjalan terpincang-pincang.

 Aku terpana. Aku begitu kagum kepada seorang penari di atas es yang bisa terbang ke atas langsung meloncat dari ayunan satu ke ayunan lain dengan ringan, seperti betul-betul terbang, sehingga aku nyaris mengira ia betul-betul seorang bidadari — sangatlah jarang kemampuan seperti itu sekaligus dimiliki satu orang. Kini ia muncul dengan sebuah kruk di ketiaknya. Ia tidak lagi mengenakan seragam tentara dengan topi berbintang. Ia berbusana seperti petani, dengan caping dan celana khaki.Di bawah potret raksasa Marx, segalanya menjadi jelas bagiku.”Kamu tidak tahu apa yang terjadi waktu itu — orang yang bertugas mengikuti kamu melaporkan perbuatan kita kepada atasanku, pemimpin rombongan akrobat yang sudah berkali-kali merayuku tanpa pernah berhasil. Kecemburuannya meledak menjadi usaha mencelakakan diriku. Ia telah mengerat tali ayunan yang dilemparkannya kepadaku, sehingga aku terjatuh ketika memegang pipa ayunan tempat kakiku biasa bergelantungan. Kami tidak pernah menggunakan jaring pengaman, karena kami sangat percaya kepada kemampuan kami yang terlatih. Perasaan cemburu tidaklah pernah menjadi bagian yang diperhitungkan disiplin berpikir kami.

“Aku terbayang bagaimana ia jatuh. Penonton yang tersentak melihat pipa itu lepas, dan bagaimana perempuan terindah yang berkilauan itu melayang ke bawah. Jatuh dari ketinggian seperti itu, hanya Tuhan yang tahu kenapa ia masih hidup. Gambaran tentang bagaimana ia jatuh itu terbayang berkali-kali dalam waktu yang singkat, berkeredapan dalam kepalaku seperti pijar lampu kilat. Seandainya ia bersayap, benar-benar bersayap, sehingga ia benar-benar bisa terbang seperti ia benar-benar bidadari. Seandainya, tapi apakah materialisme dialektik yang dianut negeri komunis ini memberi tempat kepada gagasan tanpa bentuk?3

“Kamu memang tidak tahu, karena tidak boleh ada yang terlihat buruk di negeri kami. Aku dilarikan ke rumah sakit lewat pintu yang lain, karena mereka tahu aku berhubungan dengan seseorang yang tidak jelas identitasnya. Bahkan aku pun tak tahu kamu itu siapa. Di negeri ini, gagasan tentang ketidakjelasan adalah sesuatu yang harus dijauhi, atau dihapuskan sama sekali, seperti bagaimana menghapuskan apa yang kamu sebut Tuhan….”

Lagu-lagu mars yang memuja Sang Pemimpin masih terdengar dari pengeras suara di kejauhan. Marxisme. Betapa gawat dalam pelintiran Leninisme. Apakah ia mengenal Lukacs dan Gramsci? Apakah negeri ini mempelajari Althusser dan mengenal Sekolah Frankfurt?4Aku tercenung, sementara ia terus bercerita. Setelah diadakan penyelidikan atas insiden itu, kejahatan atasannya diketahui, dan langsung mendapat hukuman memasuki lembaga reformasi selama sepuluh tahun, untuk mengevaluasi kembali kelakuannya.5 Namun, ia yang telah menjadi cacat tidak bisa berperan seperti bidadari lagi, bahkan karena cacatnya ia harus tinggal jauh di luar kota — tak pernah jelas apa alasannya. Padahal di negeri ini untuk bepergian antarkota saja memerlukan izin. Untuk menemuiku sekarang, ia memerlukan seribu satu izin, itu pun pasti berbohong, karena ia tidak mungkin berkata jujur telah mencintai seseorang yang bukan suaminya.Kulihat wajahnya yang kini penuh dengan kerut, bagiku ia selamanya indah seperti ketika pertama kali aku mengenalnya. Perasaanku tidak pernah berubah, tapi beberapa jam lagi aku harus pulang ke negeriku.

Pulang. Aku tidak selalu suka kata itu, meski suka atau tidak suka aku harus selalu pulang ke suatu tempat entah di mana. Terus terang, sebetulnya aku tidak pernah tahu harus pulang ke mana — itulah sebabnya aku selalu mengembara.Kuserahkan foto itu kepadanya. Ia menghela napas memandang dirinya meluncur dengan satu kaki di lapangan es yang putih, muncul dari balik tabir cahaya dengan busana putih berkilauan. Kedua tangannya terkembang dengan sebagian dari dua belas merpati itu hinggap dan sebagian lagi masih beterbangan mengikutinya. Ia memandang dirinya sendiri yang sekarang sedang menatap kepadanya.Aku terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Lagu-lagu mars sudah berhenti. Lapangan Sang Pemimpin itu sepi, hanya Marx dan Lenin dalam kesunyian lampu-lampu. Seluruh kota masih gelap seperti dulu.Ia mengangkat wajahnya dari foto itu, dan menatapku. Enam belas tahun kemudian, masih juga kulihat melodrama di matanya yang berlinang-linang.
Pyongyang, 29 Agustus 2002, 23.35
Catatan Kaki:

1. Falsafah ini disebut Gagasan Juche, yang berlaku sebagai ideologi negara Republik Rakyat Demokratik Korea: manusia adalah tuan dari segala sesuatu dan menentukan segalanya, dengan kreativitas dan kesadaran (Chajusong), yang sebagai makhluk sosial harus mengubah dunia demi kepentingan massa. Penggagas falsafah ini adalah Kim Il Sung. Baca misalnya Kim Jong Il, On The Juche Idea (1982).

2. Kimchi: makanan khas Korea.

3. Lenin dalam Materialism and Empirio-Criticism (1908), telah keliru mengatasnamakan Marxisme sebagai ‘materialisme dialektik’, seperti disalahpahaminya dari Plekhanov, karena mentornya tersebut lebih melakukan pendekatan dialektik daripada materialis. Plekhanov sendiri menggunakan istilah ‘materialis dialektik’. Menurut David Hawkes dalam Ideology (1996), keduanya tersesat dalam memahami Marx. Rincian terdapat pada bab ‘Marxism’, h. 106-9.

4.Menurut Kim Jong Il, Kimilsungisme yang berdasarkan Juche harus dibedakan dari Marxisme-Leninisme. Namun risalah Kim Jong Il, On Correctly Understanding The Originality of Kimilsungism (1984), lebih banyak merupakan pernyataan daripada perbincangan kritis. Pembaca buku Kim Il Sung, On Juche in Our Revolution (1982), juga akan menemukan jalan pikiran yang selalu mengacu kepada komunisme.

5. Baca Bab 8, Pasal 1, Ayat 145 dalam The Criminal Law of the Democratic People’s Republic of Korea (1992), h. 26-7.

Rasa Apa Yang Terselip Di Sana

Rasa Apa Yang Terselip Di Sana

   

rasa apa yang terselip disana?
angin datang menggetarkan permukaan danau
puluhan helai daun melayang terapung
kita sama-sama tersiksa dengan peristiwa ini
siapa menyelipkan aku disana?
ada yang berteriak
walaupun angin telah berhenti
tolong! kudengar teriakan itu sayup-sayup
di ujung yang lain dari bumi dan angin
kau mencariku di tiap tiupan
seakan kau dengar
aku berteriak-teriak memanggilmu
dari tiap celah angin

yogya 1976

ANAK ANAK LANGIT

ANAK ANAK LANGIT

    

Anak-anak itu tidak dilahirkan oleh seorang ibu, mereka dilahirkan oleh rahim kemiskinan. Begitu lahir mereka langsung berumur 3,5,8, atau 12 tahun. Pada saat malam gelap gulita, tanpa sepotong bulan pun dilangit, mereka muncul ke jalan raya, merayap dari dalam gorong-gorong yang berbau serba busuk dengan tubuh penuh lumpur.
Mula-mula merayap, lantas merangkak, kemudian berdiri, langsung mengulurkan tangan di perempatan jalan. Dari dalam lobang gorong-gorong itu muncul banyak sekali anak-anak kecil. Tangan mereka menguak dari dalam lobang, menyingkirkan tutup gorong-gorong dari besi, lantas melata dengan tubuh masih penuh lumpur yang menetes-netes ke aspal. Anak-anak kecilyang manis, anak-anak kecil yang matanya manis, cemerlang bak bintang kejora, tapi yang pelupuk matanya tetap saja layu. Dengan Lumpur yang mengerting dan menjadi daki yang melekat bertahun-tahun, mereka menengadahkan tangannya ke kaca-kaca jendela mobil tanpa harapan mendapatkan apapun.

Mereka mengulurkan tangan sambil mengulurkan tangan sambil mengkuyu-kuyukan wajahnya. Kadang-kadang mereka bertepuk tangan dengan mulut seolah-olah bernyanyi padahal tidak karena memang hanya mangap-mangap tanpa suara karena toh para pengemudi mobil itu tidak akan mendengar suara mereka sedangkan kalau mendengar pun juga tidak akan pernah menganggapnya indah meski hanya untuk secuil saja dari
keindahan sebuah suara yang bisa disebut indah walah mata anak-anak itu tetap saja indah seindah pada saat ketika dilahirkan dimana mereka langsung jadi pengemis yang penuh dengan tipu daya akal bulus supaya dikasihani namun mata mereka tetap mata yang murni seperti mata-mata anak-anak mana pun di seluruh pelosok bumiyang selalu memikat karena anak-anak di mana pun memang selalu murni tak peduli kelak ketika
sudah dewasa mereka akan jadi bajingan yang paling tengik paling norak paling kampungan paling busuk dan paling tidak tahu diri.

Orang-orang di dalam mobil yang memenuhi jalan itu esoknya tidak pernah tahu darimana anak-anak itu berasal. Mereka tiba-tiba saja berada di sana dengan tubuh penuh Lumpur, mengulurkan tangan meminta-minta dengan mata menghiba-hiba tapi yang tetap kelihatan hanya berpura-pura karena apabila lampu merah menjadi hijau dan mobil-mobil melaju kembali secepat kilat seperti ingin meninggalkan kenyataan anak-anak itu kembali saling bercanda dan bermain tali berguling-gulingan bagai berada di taman impian bagai berada di taman raja-raja bagai anak-anak pangeran padahal tak lebih dan tak kurang
mereka hanya berada di sebuah petak semen yang tak juga mulus malah jebol-jebol di mana lampu hijau itu berganti merah kembali.

Orang-orang di dalam mobil sudah kehabisan rasa kasihan melihat anak-anak itu. Orang-orang di dalam mobil meluncurkan kalimat-kalimat cerdas yang membenarkan bahwa tak baik mendidik anak-anak itu menjadi pengemis sambil mengeraskan volume CD Player yang melantunkan suara seorang penyanyi opera, “Quando me’n vo soletta,” sementara
anak-anak yang memukul terban dan kecrekan bikinan sendiri dari tutup-tutup botol yang dipakukan ke kayu memandang ke balik kaca dengan lapisan film-hitam 60% melihat betapa penumpang di jok belakang itu sama selali tidak menoleh dan hanya terus menerus membaca majalah The Economist.

Pada siang hari lumpur di tubuh mereka memang mongering, rontok, tapi tetap menyisakan daki yang menghitam di kulit mereka, melumut dan menghitam bagaikan tiada pernah akan hilang seperti takdir yang telah mematok nasib mereka di jalanan itu tak bisa diubah-ubah lagi meskipun mereka bisa mandi seratus kali sehari di sungai itu, sungai yang airnya mengalir pelan-pelan saja yang airnya hitam bercampur minyak dan oli hitan legam entah dari mana, mengalir pelan-pelan dengan plastik atau mayat menggenang terseok-seok tiada yang akan peduli sampai membusuk seperti bangkai kucing yang perutnya menggembung-bung-bung entah siapa dia – entah siapa dia betapa
kesepian mati sendiri tidak terkubur tidak terupacarakan meski barangkali lebih baik mati dan terbebaskan dari kesunyian jalanan yang begitu ramai tapi tiada seorangpun dari orang-orang di dalam mobil yang mampu menghayati penderitaan meski Cuma secuil karena mereka memang berusaha menghindarinya berusaha lepas lari tak ingin tak tahu
tak ingin mengerti tak sudi menatap kemiskina yang begitu kelam tapi begitu nyata tampil hadir di depan mereka mengulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba diiringi wajah lain yang menyanyi-nyanyi tak jelas sambil menepuk-nepuk tangan.

Dari balik kaca jendela dengan lapisan film-hitam 60% dan sejuk udara AC yang membuat suhu diluar semakin panas, nampak jelas anak-anak berambut merah dengan baju dekil berlubang-lubang berjalan dari satu jendela ke jendela lain tanpa terlalu banyak berharap seolah-olah mereka tidak betul-betul terlalu lapar dan hanya menjalankan peran
mereka sebagai anak-anak jalanan yang getir yang akan terus menerus berada di sana karena harus selalu ada peran itu di dunia ini karena betapa ajaib jika di dunia ini tidak ada penderitaan tidak ada kegetiran atau apapun yang membuat kebahagiaan menjadi istimewa.

Tapi kenapa anak-anak itu nampak bahagia? Mata mereka cemerlang seperti bintang kejora. Wajah mereka murni dan tanpa dosa, sampai tiba saatnya mereka merambah suatu keadaan di mana anak laki-laki akan membayar pelacur yang termurah di bawah jembatan pada umur 12 tahun dan anak perempuan akan menjadi pelacur juga pada umur 12 tahun. Hidup memberi pelajaran pada umur 12 tahun. Hidup memberi pelajaran kepada anak-anak perempuan bagaimana memanfaatkan tubuhnya dari hari ke hari
dari tahun ke tahun sampai tubuh itu tak bisa dimanfaatkan lagi menjadi rongsokan di bawah jembatan laying ditemukan orang sebagai mayat gelandangan yang sangat bisa berguna untuk dibedah dan di potong-potong sebagai bahan pelajaran mahasiswa Kedokteran. Tengkorak mereka diawetkan, jantung mereka di masukkan stoples, dan suatu saat para mahasiswa itu akan menjadi kaya raya karena pengetuan mereka
tentang susunan urat syaraf, otot, kelenjar, dan segala macam jeroan yang contohnya diambil dari mayat perempuan tak dikenal yang barangkali saja pelacur murahan terbuang yang dulunya berasal dari dalam gorong-gorong.

Di dalam gorong-gorong yang gelap, suram dan berbau bacin, anak-anak yang menunggu untuk keluar duduk berjajar-jajar menanti giliran. Mereka akan selalu ada di sana, tidak bisa dihapuskan dan di lenyapkan, makin hari malah makin banyak bermunculan dari setiap lobang gorong-gorong di seluruh kota. Begitu muncul mereka langsung
mengulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba, mereka memberi tanda betapa mereka butuh uang untuk makan hari itu saja, seolah-olah mereka, seolah-olah mereka tidak tahu bahwa mereka memang dilahirkan supaya merasa lapar, supaya menjadi pengemis, supaya menjadi bukti bahwa kemiskinan itu ada. Mereka tetap mengulurkan tangan dari satu jendela ke jendela lain sambil mencoba menengok ke dalam mobil yang berlampu diamana orang-orang membaca Koran Asian Wallstreet Journal dengan penuh keluh dan penuh kesah karena perdagangan telah menjadi sulit dan membuat utang mereka makin membengkak. Menurut kalkulasi para akuntan, mereka jauh lebih miskin dari para pengemis di luar itu, yang meski begitu busuk, hina, dan buruk rupa, sama sekali tidak punya utang. Satu sen pun tidak. Mereka menghela nafas. Hidup begitu berat, pikir mereka. Sebagai hiburan, mereka mengubah mobilnya jadi gedung opera. Dengarlah Monserrat Caballe berkumandang, “Spira sul mare esulla terra.”

* * *

Aku memikirkan semua itu sambil memandang mega-mega. Hamparan lautan kapas memutih bagaikan surga kanak-kanak yang terindah. Dari balik jendela pesawat terbang, matahari memang menjadi lain, cahayanya jatuh dengan lembut, keungu-unguan, keemas-emasan, kemerah-merahan, menyepuh bantalan mega-mega yang seolah begitu empuk dan begitu membahagiakan. Pramugari memintaku memilih minuman, dan aku memilih anggur putih dengan nama yang sulit diucapkan. Setidaknya cocok untuk
menyantap ikan dengan pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri, dengan serbet di leher, gaya makan orang-orang beradab, sambil menatap awan gemawan yang berwarna selembut yoghurt, terbentang tanpa batas, sungguh suatu pemandangan impian. Di telingaku terpasang headphone, membawaku ke gedung La Scala di Milan. Kudengar Placido Domingo bernyanyi, “L’alba vindice appar.”. Menoleh lagi ke jendela, suaranya
bagaikan berada di langit itu. Seolah-olah ia berada di sana, dengan penonton yang duduk meluruskan kaki di antara mega-mega.

Mengembara di antara awan memberikan perasaan betapa dunia ini begitu luas. Dikau bisa melompat berlari dari bantalan mega yang satu ke mega yang lain. Bisa juga membayangkan diri menunggang seekor kuda terbang, atau Lembu Andini, keluar masuk celah awan yang gemilang dalam perubahan warna yang tak tertahan dari saat ke saat, dari pesona ke pesona, dari dunia ke dunia. Langit tak pernah sama dengan bumi.
Setiap lapis yang ditembus memberikan makna dan cerita lain.

Menjelajah langit adalah mengarungi dunia cerita yang serba membentang serba menghampar dan serba menjanjikan adanya sesuatu yang lebih menarik di balik awan. Kulihat juga dirimu mengelus kucing itu, seperti seorang dewi yang berkelebat dari mimpi ke mimpi, dari sana ke sini, terlihat sebentar lantas menghilang lagi.

 “E lucevan lestele.”. Apakah kamu masih mendengarkan Puccini? Aku masih di dalam pesawat duduk diikat sabuk pengaman, menyantap makanan beradab. Langit yang ungu bersepuh merah. Kutenggak anggur putih. Lantas bersendawa. Ikan salmon yang ku telan menyublim ke udara.

Pramugari mengambil baki. Tak kulihat lagi kamu di luar jendela itu. Kemanakah kamu? Apakah kamu masih menemui aku nanti di bumi? Aku sudah terlalu biasa dengan perpisahan – semuanya selalu berakhir seperti itu. “Tutto e fenito.”. Selalu menyedihkan untuk menyadari, bahwa setiap pertemuan dalam dirinya sudah mengandung perpisahan. Awan merekah. Cahaya mengalir seperti sungai. Pesawat terbang menjadi perahu. Mega-mega bagaikan busa sabun yang mengapung. Kemudian dari balik awan mega-mega yang terbentang seperti lautan kapas menyembul anak-anak itu.

Anak-anak dengan tubuh penuh lumpur membumbung langsung dari gorong-gorong menembus mega dan mengulurkan tangannya di jendela pesawat terbang. Aku terperangah. Kulepaskan headphone. Apakah ini Cuma khayalanku? Ternyata tidak, karena para penumpang juga menjadi gempar. Di setiap jendela disisi kiri maupun kanan muncul satu, dua, sampai tiga anan yang menjulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba dan mata yang dikuyu-kuyukan, nampak sekali berpura-pura, sedangkan yang lain menepuk-nepukkan kerecekan dengan mulut mangap-mangap tak jelas menyanyi lagu apa, darimana pula anak-anak itu tahu sebuah lagu, kalalu tahu pun sudah pasti bukan opera, dan anak yang lain lagi seperti biasa hanya bermodal tepuk-tepukan tangan dengan mata yang tidak terlalu berharap karena sudah terlalu biasa menerima lambaian penolakan.

Para penumpang yang duduk di bagian tengah berebutan melepaskan sabuk pengaman dan berlompatan ke sisi kiri atau kanan jendela. Sebagian dengan cepat segera memotret dan merekamnya dengan kamera video. Para pramugari yang biasanya tegas mengatur tata tertib kini ikut histeris malah tanpa malu-malu melompati penumpang supaya bisa melongok ke jendela. Ajaib. Anak-anak dari kolong bumi yang hanya pantas hidup
dalam kekelaman dan hanya pantas hidup dalam penderitaan kini menembus mega-mega, menembus awan gemawan yang tebal melanjutkan kepengemisannya. Anak-anak itu bertebaran sepanjang langit, beterbangan kian kemari membawa terban, kercekan, atau hanya menepuk-nepukkan tangan, mengemis kepada setiap pesawat terbang yang
lalu lalang di atmosfir bumi. Mereka membubung langsung dari gorong-gorong yang bagai tiada habisnya terus menerus memuntahkan anak-anak bersimbah lumpur, membumbung langsung ke langit ke arah pesawat terbang dan mengulurkan tangan ke jendela-jendelanya. Di muka bumi anak-anak itu mengulurkan tangan dengan pandangan mata tahu bahwa akan ditolak. “Kami mengemis bukan karena butuh uang,” kata mata itu, “kami mengemis karena kami memang dilahirkan sebagai pengemis.” Maka anak-anak membumbung langsung dari gorong-gorong ke jendela setiap pesawat tanpa mengharap suatu ketika jendela itu akan dibuka dan akan menerima uang logam seratus atau dua ratus rupiah. Lagipula, mana mungkin jendela pesawat dibuka untuk memberi mereka sedekah?

Di langit yang senja, keindahan membentang bagaikan lautan syurgawi. Atap langit berkilau-kilau karena matahari yang lain. Para penumpang di dalam pesawat terbang terperangah oleh suara takbir dari langit yang menembus begitu halus ke badan pesawat. Di jendela, anak-anak yang berlumpur dengan mata yang murni itu menatap kami, dari dalam pesawat kami menatap mata anak-anak itu. Kemiskinan macam apakah kiranya yang tiada mungkin tertolong lagi dan kekayaan macam apakah kiranya yang tak pernah mungkin mengubah kemiskinan itu?

Dalam iringan takbir di langit yang menenggelamkan opera duniawi manapun, anak-anak itu membubung ke atas, melanjutkan perjalanannya. Kucoba menengok ke atas dan hanya kulihat berkas-berkas cahaya berkilauan.

Vancouver – Los Angeles, Februari 1999.

Dipublikasikan pertama kali dalam Kumpulan Cerpen: Iblis Tidak Pernah
Mati. Penerbit Bentang, 1999.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 359 pengikut lainnya.