Ideologi Komik dan Komik Ideologis

KOMPAS Minggu, 30 September 2007

Ideologi Komik dan Komik Ideologis

SENO GUMIRA AJIDARMA

Komik adalah suatu bentuk komunikasi. Cara berkomunikasi yang
memainkan gambar dan kata-kata ini tergolong muda.

Dengan patokan tahun 1896 yang diresmikan panel internasional para
pakar di Lucca, Italia, tahun 1989, melalui karya Richard Felton
Outcault, The Yellow Kid, yang karakteristiknya dianggap definitif
pada 1896 tersebut, usianya baru seratus tahun lebih.

Banyak debat tentu tentang kapan lahirnya komik (orang Indonesia suka
ngandelin relief Borobudur sebagai komik juga), tetapi orang seperti
Maurice Horn dalam 100 Years of American Newspaper Comics (1996)
memberi argumen: The Yellow Kid menandai lahirnya naratif yang
disampaikan melalui sekuen gambar, keberlanjutan watak, inklusi dialog
atau teks dalam bingkai gambar, selain pendekatan bercerita dinamis
yang akan memikat mata untuk mengikuti dari panil satu ke panil
berikutnya.

Ideologi komik

Adalah pengertian terakhir, mengenai pendekatan bercerita itu, yang
memisahkan komik secara meyakinkan dari sebagian besar naratif
bergambar abad-abad silam. Komik itu lebih dari sekadar keberuntutan
gambar, sama seperti film bukan sekadar keberuntutan foto-foto.
Argumen semacam ini memang sangat Amerika-sentris, tetapi begitulah
klaim yang ada: Karena dari Amerika Serikat itulah istilah “komik”
berasal, yakni dari buku komik (comic books), yang merupakan bundel
potongan komik (comic strip) harian dalam lembaran the funnies atau
yang lucu-lucu, karena comic memang maksudnya lucu. Dengan argumen
ini, bahkan yang selama ini dianggap “bapak komik” seperti Rodolphe
Topffer dari Swiss dengan cerita-gambarnya pada tahun 1830-an dan
1840-an pun tergusur.

Dengan kata lain, komik dipersoalkan dan akhirnya dikukuhkan sebagai
bahasa. Dalam konteks Amerika Serikat, pionir seperti Will Eisner
(1917-2005) telah melakukan eksplorasi kebahasaan ini sepanjang
kariernya. Karya awalnya pada tahun 1940-an, potongan komik The Spirit
penuh inovasi artistik, yang sebetulnya boleh dianggap sebagai inovasi
kebahasaan, tempat penemuan demi penemuan cara menyampaikan gagasan
pada gilirannya tersusun sebagai konstruksi dan gudang perbendaharaan
bahasa komik.

Ketika Eisner kemudian bergabung dengan militer dan bergulat dengan
komik pengajaran (instructional comics), tantangan kepiawaian
berbahasa agaknya berhasil ia taklukkan sehingga ketika pengabdiannya
selesai dan kembali ke dunia kreatif pada tahun 1978 dilahirkannya
karya yang untuk pertama kali berlabel novel grafis (graphic novel)
dalam A Contract With God. Seperti diketahui, setelah itu dunia komik
semakin terkukuhkan kemandirian identitasnya sebagai seni maupun bahasa.

Komik ideologis

Karya terakhir Will Eisner, The Plot: The Secret Story of The
Protocols of The Elders of Zion (2005), diberi pengantar oleh Umberto
Eco, yang menegaskan bahwa ini bukan buku komik (baca: lucu),
melainkan tragik (menyedihkan) , karena komik ini memang membongkar
konspirasi vulgar pemburukan nama Yahudi, yang celakanya berhasil
membentuk citra buruk Yahudi di mata siapa pun yang jauh dari kritis.

Dalam pengantarnya sendiri, Eisner berkata: “Inilah saat saya
meninggalkan cara bercerita grafis yang murni, dan berusaha
memanfaatkan media penuh daya ini untuk menyampaikan kepedulian
personal saya.” Artinya, kita melihat pengakuan atas suatu kepentingan
yang politis sifatnya, dalam hal ini menunjuk hidung konspirasi Eropa
sejak abad ke-19 dalam mengesahkan keburukan Yahudi.

Dalam konteks pertumbuhan bahasa komik, bolehkah kita katakan inovasi
berhenti dan eksploitasi dimulai? Dalam kalimat kredo puisi Sutardji
Calzoum Bachri, kini kata tak lagi bermain-main sebagai dirinya
sendiri, melainkan menjadi budak pengertian, meski dalam hal Eisner,
dan seluruh perbincangan ini, harus kita beri konotasi produktif:
Adalah kemapanan (tata) bahasa komik tersebut yang pada akhirnya
memungkinkannya berfungsi sebagai penyampai gagasan dengan misi
strategis. Apalagi jika bukan suatu pertempuran semesta.

Kemungkinan komik yang seperti itu juga telah dimanfaatkan komik 9/11:
Kegagalan Amerika Melindungi Warganya (Sid Jacobson & Ernie Colon,
2006; terjemahan Indonesia terbit 2007) yang bersumber dari buku The
9/11 Commission Report: Final Report of The National Commission on
Terrorist Attacks Upon The United States, yang bukan saja tebalnya 600
halaman, tetapi juga dalam kelengkapannya berarti segenap rincian
tersampaikan berikut segala kerumitannya.

Kesan semula, mungkin akan dikira komik ini bagian dari perang
ideologi mutakhir tempat hegemoni Amerika Serikat mengalami resistensi
terorisme. Posisi kesetimbangan itu belum berubah, bahwa karena ada
yang hegemonik maka ada yang harus melawan, tetapi dalam kenyataannya
komik Amerika Serikat ini menjadi kritik dan pembongkaran terbuka atas
mitos Amerika Serikat itu sendiri sebagai negara adidaya.

Negara dengan persenjataan militer terkuat di muka bumi ternyata
pertahanannya sangat lemah terhadap bentuk perang baru yang
dilancarkan Al Qaeda, bukan karena teknologi yang kurang canggih,
melainkan kesalahan dan kelengahan manusia, yang terbukti berakibat
fatal. Indikasi ke arah penabrakan pesawat ke Menara Kembar itu
sebetulnya sudah terendus berdasarkan data intelijen, tetapi tidak
seorang pun berpikir akan mungkin dilakukan. Tidak salah jika
dikatakan, peristiwa 9/11 itu mengatasi imajinasi.

Komik ini berhasil menerjemahkan secara efisien segenap laporan komisi
yang rinci, lengkap, dan rumit, menjadi “cerita bergambar” yang mudah
dibaca; yang tentu saja merupakan tujuannya. Perbincangan ini tidak
akan menyiasati kebijakan politiknya, tetapi mengingatkan betapa
kemapanan bahasa komik—dalam hal ini komik Amerika Serikat—telah
menjadikannya media yang sungguh efektif dalam berbagai perjuangan
ideologis di seluruh dunia. Setidaknya dua komik ini, The Plot dan
9/11, menjadi bukti bahwa pemanfaatannnya berfungsi: Siapa pun yang
membacanya sulit membantah bahwa segala kejahatan serta keburukan
bangsa Yahudi maupun kedahsyatan Amerika dalam pertahanan militer
maupun sipil ternyata hanya mitos.

Dalam hal Yahudi, tertunjukkan dokumen Dialogue in Hell (Maurice Joly,
1864) yang merupakan dialog imajiner antara Machiavelli dan
Montesquieu, yang “dipindahkan” dengan sangat kentara untuk menjadi
“dokumen Zionisme” oleh Mathieu Golovinski pada 1898 dan
dipublikasikan pertama kali untuk kepentingan aristokrasi Rusia pada
1905. Kelak, rezim Nazi di bawah Hitler dengan senang hati memercayai,
menerjemahkan, dan menyebarluaskannya sebagai “kebenaran”.

Dalam hal Amerika Serikat, terdapat contoh sederhana: Seluruh sistem
evakuasi gedung WTC itu ternyata tak berfungsi. Jadi, tanpa ditabrak
pesawat pun, kedua gedung itu sudah bersituasi rawan. Tersiratnya
aspek penyadaran pertahanan sipil, bukannya militer—dalam pengertian
menyerang pikiran terorisme itu sendiri, yang akan membatalkan segala
serangan, sayang sekali tertelan berbagai aspek militer dan intelijen.

Menarik disadari kontramitos ini tercapai oleh kemapanan bahasa, yang
dalam dirinya adalah produk suatu mitos pula. Ini berarti yang bermain
di sini adalah perjuangan konotasi, karena bahasa memang tidak lagi
menjadi dirinya sendiri. Bahasa telah menjadi pesuruh ideologi yang
menerjemahkan dirinya sebagai konotasi, sehingga mitos kemapanan
bahasa komik berhasil termanfaatkan sebagai kontramitos. Perbedaan
mitos dan kontramitos hanyalah perbedaan konotasi—dan konotasi adalah
representasi kepentingan ideologis. Ini berarti koran (dan teks apa
pun) harus dibaca dengan hati-hati!

Seno Gumira Ajidarma Wartawan

Rekonsiliasi Fakta dengan Fiksi

oleh : Savitri Scherer

Meminjam judul puisi Ranggawarsita dari abad ke-19, yakni Kalatidha,
Seno, penulis abad ke-21, merangkum cerita yang berkisar tentang
peristiwa kekerasan di Indonesia pada sekitar tahun 1965.

Dituturkan melalui pandangan bocah laki-laki berusia tujuh tahun
yang mempunyai kebolehan masuk-keluar dunia bayangan yang berkabut.
Kebolehannya mengikuti usianya yang menjadi dewasa, hingga dunia
tersebut terkadang bercahaya gemilang, ataupun merupakan samudra
dari titik-titik kristal yang berkilauan.

Bocah pengamat pasif, dari suatu kejadian ketika rumah tetangga
diserang penduduk setempat dan dibakar. Bocah itu sempat melihat
satu dari gadis kembar penghuni rumah lolos dari pengepungan,
sedangkan kembarannya tewas.

“Aku tidak mengerti, tetapi kuketahui betapa nasib keduanya sangat
berbeda. Yang satu menjelma bayangan yang kadang tampak dan
terkadang hilang, yang lain masih berkeliaran di muka bumi dengan
diri yang kadang hilang kadang kembali” (hlm 46). Suatu kekayaan
imajinasi penulis yang berpotensi untuk dikembangkan ke sana kemari.

Korban dari sistem

Seno memakai kesempatan ini untuk menyinggung berbagai segi
spiritual dari dunia istimewa yang diakrabi bocah tadi dengan meramu
unsur-unsur budaya spiritual Jawa yang memasuki dunia nyata, dan
berbagai dunia kehidupan yang dijatahkan kepada si gadis yang lolos,
tetapi terguncang jiwanya.

Ditambah selingan dari dunia Johnny Malin Kundang, pasien di rumah
sakit jiwa tempat mereka berdua dirawat dan ditambah lagi dunia yang
penuh perkibulan dari pengusaha serong (bocah ketika dewasa?).

Penyiksaan yang sempat di terima gadis, korban politik waktu itu,
dan penyiksaan dalam cara merawat-menatar, baik di rumah sakit
maupun di kantor polisi dan di penjara untuk semua narapidana,
digambarkan untuk menunjukkan situasi yang sejajar bagi semua warga
yang telah kehilangan hak untuk hadir dalam peradaban manusia.

Peradaban yang aturan dan kodenya dibuat oleh setiap penguasa
zamannya, Neraka dunia ini, penjara dan rumah sakit jiwa sudah
dijabarkan ahli filsafat Perancis Foucault (M Foucalt, Naissance de
la clinique, Paris, PUF, 1963 dan Surveiller et punir, Paris,
Gallimard, 1975)

Dalam Kalatidha, gadis simbol yang mewakili korban dari suatu
sistem, tanpa rasa dan pikiran. Pengarangnya kemudian mengembangkan
tubuh si gadis menjadi sosok yang dititisi arwah kembarannya dan
membuat gadis tadi menjadi jawara wanita yang mengacu pada garapan
Seno yang terdahulu, Perempuan Preman di Melawai (Dunia Sukab, 2001,
hlm 145-155).

Jawara dalam Kalatidha, setelah diisi arwah kembarannya,
menghancurkan semua deretan sosok yang pernah menyiksanya, kecuali
Johnny yang sempat berambisi untuk menjadi pemain sepak bola. Dia
hanya menendang-nendang si gadis, tanpa memperkosanya.

Dalam adegan lain, yang sempat dialami bocah, ia dan kakeknya
mengalami suatu peristiwa spiritual yang canggih digambarkan Seno
dalam bab 12 berjudul: Perburuan (hlm 93-97).

Bagian ini dirancang seolah menjadi pembuka jalan atas suatu
pertanyaan si pengarang: apakah pembalasan selalu lebih kejam? yang
dirangkumnya di bab 13. Misteri ini dijawabnya sendiri dengan
merangkum bab 19: Sang Mata di Tepi Pantai (hlm 163-171). Jawara
preman Melawai itu menyelamatkan dua bocah yang sedang bermain di
laut (hlm 171). Hanya saja samudra tadi dengan kekuasaannya selalu
mencoba menelan bocah-bocah lain yang bermain di situ yang tidak
menggubris pengalaman dua bocah yang sempat terselamatkan.

Seno mencoba mengutarakan harapan bahwa ada kemungkinan gadis yang
dititisi kembarannya berubah menjadi jawara penyelamat. Walaupun si
pengarang ataupun pembacanya tahu bila pergantian peranan dari
jawara preman (pembalas dendam) menjadi jawara Sri Asih (sosok
garapan RA Kosasih) tidak otomatis menyelamatkan seluruh bocah di
dunia dari bahaya.

Berpikir positif

Seno sebagai pengarang, yang telah merancang-rancang dunia
bayangannya yang kejam, berdarah-darah di mana hutan bambu digusur
menjadi pasar toserba raksasa, tetap membawa suatu harapan positif
terhadap semua kemungkinan yang terburuk dari peradaban.

Ia percaya ada warga dunia yang peduli dan berkapasitas memperbaiki
nilai kemanusiaan kita semua. Pandangan positif ini dibutuhkan bagi
pembaca untuk memperbaiki lingkungannya. Bahwa manusia berkapasitas
mempunyai welas asih, suatu unsur terpenting dalam sejarah peradaban
dunia.

Seno mengakhiri ceritanya begini, “Miliaran sosok kristal yang
mengalir membentuk suatu arus menyilaukan ke balik sebuah lembah
yang penuh dengan cahaya di baliknya.” (hlm 226). Ada cahaya di
balik cahaya. Pilihan Seno untuk berpihak pada cahaya didukung oleh
fakta, tanpa matahari seluruh ekosistem jagat kita akan bubar.

Sebagai pengarang yang menggarap suatu insiden dalam sejarah
Indonesia yang kontroversial, di mana dia terlalu muda ketika
peristiwa 1965 terjadi (dilahirkan 1958), usahanya membawa nilai
khusus bagi pembaca Indonesia untuk memikirkan prioritas apa saja
yang harus didahulukan dalam memajukan kesejahteraan kehidupan
bersama di tengah dunia yang selalu rancu. Keganasan di Rwanda, atau
di Kamboja di bawah Pol Pot, di Irak dan Palestina tidak perlu
terjadi. Semua terletak pada itikad manusianya sendiri.

Punya rasa sendiri

Rahasia hidup memang membawa pesona khusus. Hal ini digarap Seno
dengan dua cara. Pertama, secara faktual dengan memasukkan berbagai
dokumen arsip dari periode yang dia bayangkan, yaitu guntingan-
guntingan surat kabar. Ini untuk mengingatkan publik pemikiran apa-
apa saja sebetulnya dilontarkan di periode itu yang memicu kejadian.

Cara kedua adalah membandingkan kejadian yang sempat mewujud di
sekitar tokoh fiksi karangannya itu dengan, misalnya, isi kepala
pasien Johnny Malin Kundang. Semakin gombal bayangan dunia Johnny,
yang menyangkut peranannya sendiri dalam suatu insiden, semakin
rancu pula ramuan di kepalanya antara si pelaku, si pengamat, atau
korban yang dipaksakan bertanggung jawab.

Yang masih bisa diandalkan sebagai “fakta” di dalam kepala Johnny
hanya sisa-sisa ingatannya yang berbentuk “rasa” dari sederetan
makanan, seperti tempe mendoan atau botok teri (hlm 86-90).

Gamblangnya, peristiwa yang sudah lewat itu masing-masing mempunyai
rasanya sendiri. Tidak semua hambar dan tidak selalu harus sesuai
dengan kenyataan perasaan sensasi pada waktu kejadian. Rasa pada
waktu kejadian dan rasa dari ingatan mengenai kejadian itu tidak
mungkin sama.

Melalui sisipan Johnny ini, Seno seolah ingin membawa pembacanya
menerima segala kontradiksi kehidupan sebagai urusan yang tidak akan
selesai diuraikan. Fakta atau kebenaran tidak dapat diramu melulu
melalui ingatan, apakah itu ingatan seorang gila, seorang korban
perkosaan, ataupun seorang pengarang.

Setiap zaman edan dalam setiap era sejarah menghasilkan segepok
orang-orang gilanya sendiri yang dengan logika masing-masing,
meluruskan versi sejarah kehadiran mereka. Sebaliknya, pelurusan
tersebut bukanlah suatu proses acak yang diramu hanya bedasarkan
makian yang menyebut berbagai macam makanan Jawa; walau sudah
seluruh makanan diucapkan.

Dengan Kalatidha, Seno menawarkan gaya penulisan untuk mengungkapkan
bagaimana menyelaraskan sebagian dari bunyi-bunyi sumbang ke dalam
rangkuman dunia tanpa melupakan betapa hidup ini sesungguhnya kocak,
acak dan edan.

Keputusan itu yang diambil Johnny, “Aku bukan pembunuh. Aku hanya
membebaskan jiwa yang terikat kepada tubuh dan otak yang
mengharukan, yang diperas seperti apa pun untuk berpikir tidak akan
pernah mampu mengenal dunia dalam arti yang sebenar-benarnya. Gulai
Otak. Bedakah rasanya otak pintar dan otak bodoh jika di goreng
dalam bungkus telor?” (hlm 90).

(Savitri Scherer, Jurnalis Bermukim di Paris)
sumber : harian Kompas, Senin, 20 Agustus 2007
rubrik : Pustakaloka; resensi
judul buku : Kalatidha
Penulis buku : Seno Gumira Ajidarma

SYEKH SITI JENAR

  

SYEKH SITI JENAR

NAMANYA MELARISKAN BUKU

                            

Siapakah Syekh Siti Jenar? Meskipun setidaknya Intisari telah menjejaki – yang disebut sebagai – dua kuburan Syekh Siti Jenar, masing-masing di Kemlaten, Cirebon maupun Gedong Ombo, Tuban, agaknya Syekh Siti Jenar tidak bisa dipastikan keberadaan historisnya secara ilmiah dalam kategori positivistik. Keberadaan Syekh Siti Jenar adalah keberadaan sebuah makna, baik dalam bentuk suatu ajaran yang tercatat pada berbagai naskah, maupun makna keberadaan dalam penafsiran politis, sebagai tokoh oposisi terhadap hegemoni kekuasaan rohani para wali. Suatu konstelasi yang sebetulnya juga merupakan tipologi konstelasi politik duniawi, ketika kerajaan-kerajaan Islam di Jawa telah menjadi dominan, tetapi pusat-pusat kekuasaan pra-Islam dengan segenap aliran kepercayaannya, belum sepenuhnya terleburkan – bahkan sampai hari ini.
                                    

Wali yang mencemaskan

Dalam ziarah pustaka ini, gambaran Nancy K. Florida tentang Tiga Guru Jawa (Syekh Siti Jenar, Syekh Malang Sumirang, Ki Ageng Pengging) dalam disertasinya, Menyurat Yang Silam Menggurat Yang Menjelang (1995) akan dikutip sebagai pengantar:

“Di antara ketiga empu tersebut, Syekh Siti Jenarlah yang paling dikenal, dengan ketenarannya sebagai wali pembangkang yang paling utama di Jawa bahkan hingga saat ini. Berbagai versi kisahnya, baik lisan maupun tulisan, melimpah. Dialah tokoh yang mewakili penyebarluasan, dan yang disebarluaskannya adalah pengetahuan esoteris eksklusif yang keluar dari kalangan elite politik-spiritual ke dalam budaya khalayak ramai. Atas penyebarluasan inilah maka para wali merasa terpanggil untuk memusnahkan Syekh Siti Jenar. Mereka melihat ancaman politik yang benar-benar nyata dalam dirinya; lantaran sebagai sosok penyebarluasan dan populisme dia dengan sendirinya menentang pemusatan dan penyatuan kekuasaan.

“Dalam benak khalayak ramai, Siti Jenar dikenang sebagai patron wong cilik. Garis besar kisah hidupnya menggarisbawahi keterkaitan organisnya dengan lapis terendah masyarakat. Dalam versi kisahnya yang paling tersebar luas, Siti Jenar diceritakan sebagai seekor cacing tanah yang secara ajaib berubah menjadi manusia. Pengubahan ini terjadi karena sang cacing secara kebetulan menerima pengetahuan esoteris yang mengantarnya menuju Hakikat Sejati. Sekali menjadi manusia, dia yang semula cacing ini kemudian berani untuk membuka tabir Pengetahuan Makrifat ini kepada khalayak ramai. Barangkali anggapan bahwa penyampaian pengetahuan semacam itu akan dapat mengubah martabat “cacing-cacing” yang lain adalah kecemasan elite spiritual-politik di ibu negeri Demak.

“Selain dosanya ‘menyingkap sang Rahasia’ kepada khalayak ramai, Siti Jenar juga dipersalahkan karena menyepelekan syariat, hukum suci Islam. Dan di dalam banyak penuturan kisahnya, dia dituduh sebagai orang yang mengaku dirinya Allah. Bagaimanapun juga, yang paling mencuat dan diberitakan adalah dosanya menyebarluaskan Ilmu Gaib; dan lantaran dosa inilah sang wali diadili dan dijatuhi hukuman mati. Terdapat berbagai versi tentang ‘pengadilan’ dan eksekusinya. Masing-masing versi perlu untuk dipahami dengan latar belakang ingatan kolektif masyarakat tentang kisahnya dan dalam bandingan dengan versi lainnya. Yang terpenting untuk diperhatikan adalah keragaman kisah atas apa yang terjadi dengan jasad sang wali; berkisar dari ekstrem yang satu bahwa jasadnya berubah menjadi bangkai busuk seekor anjing hingga ke ekstrem yang lain (yakni pada versi Babad Jaka Tingkir) bahwa sang wali akhirnya mikraj ke surga.”

Adapun asal nama Kemlaten, kuburan Syekh Siti Jenar di Cirebon, terasalkan dari kisah dalam Babad Cerbon, bahwa ketika para wali membongkar kuburan Siti Jenar setelah dihukum mati, untuk membuktikan kebenaran ajarannya: bahwa jika ia mati di dunia ini artinya hidup abadi di dunia yang sebenarnya -ternyata memang tak menemukan jasad, melainkan sekuntum bunga melati. Seperti juga telah sering ditemukan dalam riwayat wali yang sembilan, istilah “politik dongeng” menegaskan terdapatnya kepentingan ideologis di balik segenap “sejarah” tersebut. Kesadaran tentang perlu diabaikannya keberadaan dongeng-dongeng tersebut sebagai fakta historis, juga tersurat dalam catatan sejarawan Graaf dan Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1974), seperti ketika memberi catatan atas keberadaan Dewan Walisanga:

“Sudah jelas bahwa Musyawarat orang-orang suci menurut cerita legenda ini, yang dihadiri oleh mereka semua, sukar kiranya dapat sungguh-sungguh terjadi. Dugaan ini wajar, karena antara kedua tokoh historis Sunan Ngampel Denta dan Sunan Kudus terdapat jarak waktu beberapa generasi (dari pertengahan abad ke-15 sampai dekade-dekade pertama abad ke-16).”
                                   

Ajaran tentang ada

Lantas, ajaran macam apa sebetulnya, yang dianggap “benar tapi berbahaya”, sehingga penyebarnya begitu patut menerima hukuman mati dalam pandangan Walisanga? Dalam kenyataannya, buku-buku yang memuat dan menyebarkan teks yang disebut sebagai “ajaran” Syekh Siti Jenar ini beredar luas pada masa kini, beberapa di antaranya bahkan berpredikat best seller alias laris manis tanjung kimpul, yang bukan hanya tidak mengundang kecaman apa pun dari para pemeluk teguh syariat, melainkan justru ditulis oleh para ahli agama itu sendiri. Untuk menyebut beberapa, bisa diperiksa dua buku laris Abdul Munir Mulkhan, Syekh Siti Jenar: Pergumulan Islam-Jawa (1999) dan Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar (2001), Muhammad Sholikhin, Sufisme Syekh Siti Jenar: Kajian Kitab Serat dan Suluk Siti Jenar (2004), Sudirman Tebba, Syaikh Siti Jenar: Pengaruh Tasawuf Al-Hallaj di Jawa (2003), dan yang ditulis dengan sapaan hangat serta indah karya Achmad Chodjim, Syekh Siti Jenar: Makna “Kematian” (2002). Namun untuk mengintip apa yang disebut “ajaran rahasia” tersebut, pustaka yang akan diziarahi masih dari karya ilmiah P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa (1935).

Tidak mungkin memindahkan ulasan panjang lebar dalam disertasi Zoetmulder tersebut, tapi kita mulai saja dengan petikan atas kutipan dari Serat Siti Jenar yang diterbitkan oleh Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:

Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku, ketenteraman langgeng dalam Ada sendiri.

Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.

Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak seperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.

Dalam disertasi filsafat ini Zoetmulder menekankan, bahwa dengan teks semacam ini Syekh Siti Jenar dan murid-muridnya telah ditafsirkan memberi kesan seolah-olah Tuhan itu tidak ada, padahal, “Menurut hemat kami ucapan-ucapan serupa hendaknya ditafsirkan sebagai sebuah polemik serta penolakan terhadap ide mengenai seorang Tuhan yang berpribadi; sebaliknya Siti Jenar mengetengahkan ide mengenai suatu Jiwa Semesta, ia manunggal dengan Hyang Suksma, manunggal dengan hidup yang tunggal, yakni dirinya sendiri.”
 
                                 
Bukan Al-Hallaj, tapi India

Syekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-Husain ibnu Mansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj sahaja, sufi Persia abad ke-10, yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar, karena ia memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang penyatuannya kembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena konsep satunya Tuhan dan dunia mengucapkan kalimat, “Akulah Kenyataan Tertinggi,” yang menjadi alasan bagi hukuman matinya pada 922 Masehi di Baghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-Hallaj menjadi monumen keberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga bahkan diandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak ada, maka dongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-Hallaj, bagi yang mendukung maupun yang menindas ajaran tersebut. Tepatnya persona Syekh Siti Jenar memang dihidupkan untuk dimatikan.

Namun karena penelitiannya tentang segenap pengaruh terhadap sastra suluk Jawa, Zoetmulder berpendapat lain tentang ajaran Syekh Siti Jenar. “Jelaslah betapa besar pengaruh dari ide-ide India. Pengaruh itu tampak juga dari sikap terhadap nilai dan kenyataan dunia, yang dianggap hanya suatu permainan pancaindera, sebuah impian, segalanya hanya bersifat semu dan tak ada sesuatu yang nyata, suatu godaan, sebuah sulapan yang menimbulkan keinginan manusia dan dengan demikian mengurungnya. Singkatnya, di mana-mana kita mengenal kembali pandangan dari India.

“Akhirnya, juga kematian Siti Jenar – menurut logatnya sendiri, masuknya ke dalam kehidupan -seperti dilukiskan dalam versi yang kami bahas di sini, bernafaskan suasana India. Dengan menutup sendiri semua pintu dengan dunia luar ia membiarkan nafas kehidupan keluar dari badannya yang lalu mempersatukan diri dengan Sukma semesta. Dalam segala uraian ini hanya sedikit sekali pengaruh dari dunia Islam, sekalipun kadang-kadang disebut sebuah kutipan dalam bahasa Arab sekadar bahan pendukung. Sebaliknya menonjol sekali, betapa ajaran ini serasi dengan suatu bagian dari Arjunawiwaha yang melukiskan bagaimana Bhatara Indra dalam wujud seorang resi tua menyampaikan ajaran kesempurnaan kepada Arjuna yang sedang bertapa.

“Bila akhirnya tokoh Siti Jenar kita bandingkan dengan apa yang kita ketahui mengenai Al-Hallaj, maka tampak, bahwa keserasian hanya berkaitan dengan beberapa sifat dari kisah itu, tetapi kesamaan dalam hal ajaran jarang kita jumpai.”

Setelah menguraikan konsep ajaran Al-Hallaj yang dirujuknya dari peneliti sufisme terkenal Louis Massignon, hanya satu hal dianggap Zoetmulder agak mirip, yakni tentang permintaan maaf telah mengungkap rahasia ilahi (ifsa-al-asrar) – itu pun menurutnya Siti Jenar tidak minta maaf. Dijelaskannya, “Tidak mengherankan, bahwa dalam ajaran Siti Jenar tak terdapat bekas-bekas ajaran otentik Al-Hallaj.”

Ia pun merumuskan, “Perbedaan pokok antara kedua tokoh itu ialah Al-Hallaj selalu ditampilkan sebagai seorang sufi yang terbenam dalam cinta akan Tuhan, sedangkan dalam diri Siti Jenar sifat tadi hampir tidak tampak. Siti Jenar terutama dikisahkan sebagai seorang yang mandiri, akal bebas yang tidak menghiraukan raja maupun hukum agama; tak ada sesuatu pun yang menghalanginya menarik kesimpulan dari ajarannya. Dengan demikian ia menjadi wali yang paling digemari rakyat dan yang riwayatnya masih hidup di tengah-tengah orang Jawa.”

                                   

Lemah Abang serba pinggiran

Dengan konteks pengaruh India dan bukan Islam da lam ajaran Syekh Siti Jenar, menjadi jelas konteks duniawi yang terpadankan dengannya, seperti teruraikan oleh Graaf dan Pigeaud mengenai kedudukan politis Pengging sebagai kerajaan “kafir” terhadap kekuasaan Demak. Dalam legenda, Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging adalah murid Syekh Siti Jenar yang membangkang dan tidak bersedia tunduk maupun melawan Sultan Demak – yang membuat kedudukannya sulit diatasi meski Sunan Kudus ia izinkan untuk membunuhnya. “Tindakan Sunan Kudus yang sangat terkenal terhadap ‘si bid’ah’ Kebo Kenanga itu sesuai dengan ketegasan terhadap penghujah Allah Syekh Lemah Abang (atau Pangeran Siti Jenar) sendiri. Syekh itu adalah guru ilmu kebatinan empat bersaudara: Yang Dipertuan di Pengging, di Tingkir, di Ngerang, dan di Butuh.” Bahwa Pengging sebelumnya disebut-sebut sebagai kerajaan “kafir” yang masih berdiri setelah Majapahit runtuh, jelas menunjukkan personifikasi Syekh Siti Jenar sebagai representasi perlawanan, terhadap dominasi Demak sebagai representasi hegemoni kekuasaan rohani sekaligus duniawi.

Mungkinkah bisa dipahami sekarang, mengapa banyak wilayah di Jawa bernama Lemah Abang, dan selalu terletak di pinggiran?
 

Sumber : INTISARI No. 517 TH. XLIII, AGUSTUS 2006

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 359 pengikut lainnya.