Sunan Muria

SUNAN MURIA, EKSIS DALAM LEGENDA:

WALISANGA, ZIARAH PUSTAKA 2

      

Dari caranya memilih lokasi padepokan, Sunan Muria menjadi wali yang paling eksotik. Padepokan itu kini menjadi kompleks pemakaman di kaki Gunung Muria, Jawa Tengah, tepatnya di Colo, yang dari kakinya sendiri masih harus mendaki jalan melingkar sepanjang 7 kilometer. Disebut kaki gunung, tapi posisinya berada di suatu puncak.

Pada masa kini, peziarah bisa mencapai Colo dengan mobil, dan dari sana memanfaatkan jasa ojek karena jalan menjadi curam. Namun bisa disaksikan betapa masih banyak para peziarah ini menghayati perjalanan menuju puncak dengan jalan kaki – salah satu metode yang membuat banyak tempat suci sengaja ditempatkan di gunung, karena kelelahan pendakian serta udara tipis konon membantu kondisi mental untuk mendapatkan pengalaman spiritual.
Maka memang terlihat, dalam udara sejuk, wajah-wajah yang percaya kepada berkah yang sangat mungkin didapatkan dari ziarah, berduyun-duyun tanpa perasaan terbeban. Ojek-ojek berseliweran naik turun, tetapi itu tidak memberikan perasaan ketinggalan, justru semakin terhayati makna peziarahan dalam perjalanan. Mundur ke abad XV, tanpa aspal, raung sepeda motor, dan rumah tembok – terbayang sebuah suasana yang begitu layak didatangi dari jauh. Ini semua menjadi bagian dari sosok seorang wali, dan rupa-rupanya dengan cara itu mendapatkan wibawa dan memberi pengaruh, bahkan sampai jauh hari setelah mereka meninggal dunia.
Sejarawan De Graaf dan Pigeaud berdasarkan sumber-sumber literer menyatakan dalam Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa (1974) bahwa semula Demak merupakan sebuah distrik yang “terletak di pantai selat yang memisahkan Pegunungan Muria dari Jawa. Sebelumnya selat itu rupanya agak lebar dan dapat dilayari dengan baik, sehingga kapal-kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk berlayar ke Rembang. Tetapi sudah sejak abad XVII jalan pintas itu tidak lagi dapat dilayari setiap saat.”
Hanya saja, “Selama musim hujan orang dapat berlayar dengan sampan lewat tanah yang tergenang air, mulai dari Jepara sampai Pati di tepi Sungai Juwana. Pada tahun 1657, Tumenggung Pati mengumumkan bahwa ia bermaksud menggali saluran air baru dari Demak ke Juwana, hingga dapat menjadi pusat perdagangan. Boleh jadi ia bermaksud memulihkan jalan air lama, yang satu abad lalu masih dapat dipakai.”
Dalam bukunya yang lain, Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I (1961), De Graaf masih mencatat, “… residen ini dengan sebuah kapal kecil melewati daratan yang tergenang air di sebelah selatan Muria.” Dengan begitu, jika memang Sunan Muria hidup di abad XV, berarti ia menyeberangi selat itu lebih dahulu, sebelum mendaki sampai ke puncak Colo untuk mendirikan padepokannya.
Dalam buku Misteri Syeh Siti Jenar: Peran Walisongo dalam Mengislamkan Tanah Jawa (2004) tulisan Hasanu Simon, terdapat suatu tabel tentang periodisasi Walisanga yang mencapai enam angkatan, dan Sunan Muria tergolong dalam angkatan keenam, yang baru dimulai tahun 1478.
Dalam tabel ini, para wali angkatan pertama, antara 1404-1421, tidak ada yang bergelar sunan sama sekali. Sunan Ampel baru masuk pada angkatan kedua, antara 1421-1436; Syarif Hidayatullah dan Ja’far Shodiq yang kelak disebut Sunan Kudus, baru tercatat di angkatan ketiga, antara 1436-1463; Sunan Bonang, Sunan Gunungjati, Sunan Giri, Sunan Drajad, dan Sunan Kalijaga terdapat di angkatan keempat, antara 1463-1466; dalam angkatan kelima, antara 1466-1478, masuk nama Raden Fattah; dan baru dalam angkatan terakhir Sunan Muria masuk bersama Sunan Pandanaran.
Tabel ini hanya berlaku jika kelembagaan Walisanga memang harus sembilan, yang dalam kenyataannya tidak begitu, bahkan kata sanga (sembilan) di sana sering disebut berasal dari sana yang berasal dari kata Arab tsana’ (terpuji). Mengingat kata wali berasal dari awliya, yakni orang beriman, maka pengertian walisana tentu menunjukkan penghargaan masyarakat Jawa abad XV kepada para pendakwah tersebut, seperti terjelaskan oleh Widji Saksono dalam Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo (1995). Sarjana ini juga mencatat, setidaknya terdapat 21 wali yang termasuk dalam lingkaran Walisanga, sedangkan dari buku Hasanu Simon tercatat pula yang disebut wali nukba (pengganti), yang jumlahnya sampai 25 orang. Akan halnya Sunan Muria, Saksono mencatat terdapatnya ketidaksepakatan untuk memastikan, apakah ia tergolong wali utama atau wali pengganti. Kata sunan berasal dari susuhunan yang berarti junjungan menegaskan makna penghargaan tersebut, meski para pendakwah angkatan pertama, seperti Maulana Malik Ibrahim, tidak ada yang digelari sunan dan meski begitu tentu tak kurang dihargai pula – seperti bisa disaksikan dari mengalirnya peziarah ke makam para wali ini di mana pun mereka berada.
Keturunan Arab atau Jawa?

Ke atas gunung itulah, setapak demi setapak para peziarah mendaki, tetapi seberapa jauhkah mereka mengenal Sunan Muria? Bahkan para sejarawan “mati angin” jika mesti menuliskan biografi wali penggubah tembang sinom dan kinanthi ini.
Tiga peneliti yang bekerja sama dalam penulisan buku Islamisasi di Jawa (2000), yakni Ridin Sofwan, Wasit, dan Mundiri bahkan menulis dalam pengantarnya: “Lengkap dan tidaknya kisah-kisah pribadi Walisanga dalam kisah ini adalah tergantung pada sedikit dan banyaknya sumber rujukan yang didapatkan. Manakala sumber itu lengkap, maka lengkap pula pemaparan kisahnya dan bila tidak maka sebaliknya.” Akan halnya Sunan Muria, termasuk yang hanya bersumberkan cerita rakyat, dan hanya sebagian kecil berasal dari sumber babad, itu pun bukan tanpa masalah.
Pertama, tentang siapakah pribadi di balik gelar Sunan Muria itu saja silsilahnya terdapat dua versi; yang satu disebut sebagai putra Sunan Kalijaga, yang lain sebagai putra Sunan Ngudung. Dalam versi putra Sunan Kalijaga juga terdapat dua versi, yakni sebagai keturunan Arab dan keturunan Jawa. Tentang keturunan Arab itu terdapat versi dua buku, yakni karya C.L.N. Van Den Berg, De Handramaut et les Colonies Arabes maupun Pustoko Darah Agung, sedangkan tentang keturunan Jawa diyakinkan oleh Umar Hasyim dalam Sunan Muria, antara Fakta dan Legenda (1993).
Sementara itu, sebagai putra Sunan Kalijaga ataupun Sunan Ngudung, sebuah naskah tulisan tangan Keraton Cirebon, Purwaka Caruban Nagari, akan menghubungkan dua versi silsilah Sunan Muria ke satu nenek moyang, yakni Syekh Jumadil Kubro, tentunya keturunan Arab. Keruwetan ini belum terbereskan sampai sekarang, kecuali bahwa nama di balik Sunan Muria itu tersepakati adalah Raden Umar Said.
Kedua, ketiga peneliti yang kemudian merujuk legenda tentang Sunan Muria, juga mendapatkan lebih dari satu versi. Perbedaan itu mungkin saja merupakan dampak dari “politik bercerita” yang belum bisa dibahas sekarang, tetapi menarik untuk mengikuti kisah-kisah tersebut. Masalahnya, kisah mana yang paling sahih untuk diikuti? Ridin Sofwan dan kawan-kawan menemukan beberapa versi, Hasanu Simon juga mendapatkan versi lain. Sejauh tidak menjadi kontradiktif, Intisari merangkum cerita dari segenap sumber tersebut, dengan memberi catatan jika ditemukan perbedaan yang mengubah makna.
Instalasi Hutan : Romeo-Juliet Jawa?

Dalam apa yang disebut Legenda Hutan Jati Masin, diceritakan betapa Sunan Muria mempunyai banyak murid, yang bukan hanya belajar ilmu agama, melainkan juga berkesenian dan olah kanuragan. Murid-muridnya datang ke Colo dari berbagai tempat seperti Tayu, Pati, dan Pandanaran yang kini disebut Semarang – dari daerah inilah datang berguru Raden Bagus Rinangku. Syahdan, karena sang pemuda tampan dan sakti, putrinya yang bernama Raden Ayu Nawangsih saling jatuh hati dengan pemuda tersebut. Adapun Sunan Muria ternyata tidak merestuinya, karena telah memilih Kyai Caboleh sebagai menantu. Sampai di sini, kita saksikan suatu manuver yang sering ditemukan dalam legenda Jawa: Sunan Muria menugaskan Bagus Rinangku untuk menumpas para perusuh, yang merampok dan membunuh di sekitar Muria, tentu maksudnya agar Bagus Rinangku perlaya di tangan mereka. Namun ternyata pemuda Pandanaran ini bukan hanya berhasil membasminya, melainkan juga membuat salah seorang di antaranya bertobat dan memperdalam ilmu agama. Kelak mantan perampok ini terkenal sebagai Kiai Mashudi.
Maka Sunan Muria segera memberi tugas lain, yakni agar Bagus Rinangku menjaga sawah yang padinya sedang menguning di daerah Masin, yang untuk ukuran abad XV jauh letaknya dari Muria – dengan begitu ia berharap hubungan cinta pasangan itu terputus. Suatu hari, ketika ditengoknya, ternyata bukan saja burung-burung didiamkan saja menyambar padi, sehingga sawah tersebut tampak amburadul, tetapi juga dipergokinya Bagus Rinangku sedang bermain cinta dengan putrinya, Raden Ayu Nawangsih. Semakin naik darah Sunan Muria ketika ia menanyakan perkara sawah tersebut, dijawab bahwa adalah Sunan Muria yang memerintahkan agar dia menjaga supaya burung-burung bisa berpesta. Jawaban nekad ini masih disusul pamer kesaktian, dengan mengembalikan sawah yang hancur itu seperti keadaan semula.
Tindakan Bagus Rinangku ini mengundang petaka. Sunan Muria mengeluarkan panah dan mengancam Bagus Rinangku, tetapi panah itu melesat dari busurnya dan menembus dada pemuda itu sampai ke punggungnya. Lantas, mengikuti pola kisah klasik, Nawangsih menubruk tubuh kekasihnya, sehingga ujung panah yang telah menembus punggung itu menembus pula perutnya. Sepasang kekasih itu tewas bersama.
Bagus Rinangku dan Nawang Wulan lantas dimakamkan di puncak bukit dengan iringan airmata penduduk. Usai Sunan Muria berbicara dalam pemakaman itu, masih juga mereka tersedu-sedan, yang membuat Sunan Muria bersabda, “Kalian semua tidak beranjak, tidak bergerak seperti pohon jati.” Orang-orang yang masih tersedu-sedan itu pun menjadi pohon jati, yang kini merupakan hutan jati di Masin.
Riwayat semacam ini tentu tidak mencerminkan karakter Sunan Muria sebagai alim ulama yang bijaksana. Namun kesimpulan jangan terlalu cepat ditarik sebelum mengikuti kisah berikutnya.
Jangan Jadi Maling Kopo

Dalam legenda Maling Kopo, dikisahkan bahwa Sunan Muria menghadiri pesta tasyakuran (syukuran) di Juwana yang diadakan Ki Ageng Ngerang, kakek Juru Martani yang kelak akan menjadi pendukung penting Sutawijaya dalam mendirikan Kerajaan Mataram.
Konon pesta yang dihadiri murid-muridnya itu untuk mensyukuri tercapainya usia 20 dari putri Ki Ageng, yakni Dewi Roroyono. Adalah putri tersebut yang menghidangkan makanan dan minuman, dan apa boleh buat membuat salah seorang muridnya, Adipati Pethak Warak, terpesona begitu rupa sehingga berniat menculiknya.
Sebetulnya bukan hanya daya tarik Roroyono, melainkan perilaku Roroyono yang telah mempermalukan sang adipati memicu kehendaknya – dalam pesta itu Pethak Warak yang sudah beristri merayu dengan kasar dan menarik-narik tangan Roroyono, sehingga gadis muda itu tersinggung dan menyipratkan minuman ke baju Pethak Warak.
Sebelum Pethak Warak menjadi adipati di Mandalika, ketika ia berguru ke Juwana, Roroyono masih kecil, melihatnya kembali setelah dewasa ternyata membangkitkan nafsunya. Tak bisa menahan diri, malam itu juga ia menculik Roroyono, dan membawanya ke Mandalika di wilayah Keling. Tentu saja ini membuat Ki Ageng murka.
Barangkali sesuai adat waktu itu, Ki Ageng Ngerang lantas menyayembarakan putrinya tersebut: Barangsiapa mampu mengembalikan Roroyono boleh menjadi suaminya. Meski begitu, sayembara ini terasa berat, karena Pethak Warak dikenal sakti mandraguna. Adalah Sunan Muria yang mengajukan diri untuk merebut Roroyono, bukan karena bermaksud memperistri, melainkan sekadar membantu gurunya, karena ia sendiri juga sudah menikah.
Ketika ia berangkat, di jalan bertemu dengan dua bersaudara murid-murid Ki Ageng yang tidak ikut menginap, jadi belum mendengar peristiwa itu, yakni Genthiri dan Kopo. Mereka berdua langsung menawarkan bantuan, bahkan untuk menggantikan Sunan Muria, dan jika berhasil Roroyono tetap menjadi istri Sunan Muria. Adapun Sunan Muria setuju saja dan pulang ke Colo.
Alhasil, dengan bantuan orang sakti bernama Wiku Lodhang Datuk, Roroyono berhasil diambil kembali. Apa boleh buat, malah sekarang Kopo tersebut jatuh cinta kepada Roroyono sampai jatuh sakit. Padahal, Roroyono sudah diperistri Sunan Muria. Prihatin atas penderitaan adiknya, Genthiri berangkat ke Muria bermaksud merebut Roroyono, tetapi ia tewas dalam adu kesaktian melawan murid-murid Sunan Muria. Mendengar berita ini, Kopo berangkat menyusulnya, tapi menunggu saat yang baik, yakni ketika Sunan Muria dan murid-muridnya turun gunung. Setelah berhasil menculik Roroyono, Kopo dengan cerdik membawanya ke Pulau Seprapat, tempat Wiku Lodhang Datuk bermukim. Namun ternyata orang sakti itu kali ini tidak bersedia membantunya, sehingga ketika murid Sunan Muria yang mengejarnya tiba, Kopo hanya bisa memberi perlawanan sebentar sebelum mati terbunuh. Sejak saat itu, istilah “maling Kopo” diberikan kepada mereka yang membawa lari perempuan untuk dipaksa jadi istrinya.
Dari legenda ini, kita bisa mencatat, tak satu pun aksi dilakukan Sunan Muria sendiri, semuanya dikerjakan orang lain untuknya.

Jelawang, Towelo, Sigelap
Dalam legenda berikut ini, nama Sunan Muria terhubungkan dengan nama-nama tempat, seperti Jelawang, Towelo, dan Sige-lap, maupun dengan sebuah pintu gerbang di Rondole, Desa Muktiharjo, 15 kilometer di sebelah utara Pati, yang dipercaya berasal dari Trowulan, Majapahit.
Alkisah, Kebo Anabrang datang menghadap Sunan Muria dan mengaku sebagai anaknya. Sunan Muria tidak merasa mempunyai anak seperti Kebo Anabrang, tetapi pemuda itu mempunyai bukti yang diberikan ibunya. Menghadapi keadaan itu, Sunan Muria memerintahkan agar Kebo Anabrang mengambil pintu gerbang Majapahit dan membawanya ke Muria dalam semalam sebagai syarat pengakuan. Diceritakan betapa Kebo Anabrang nyaris berhasil, jika tidak dicegat oleh Raden Ronggo, putra Adipati Ronggojoyo dari Pati, yang tugasnya ternyata sama. Bedanya, tugas itu sebagai syarat pernikahannya dengan Roro Pujiwati, adik Roroyono tadi, artinya putri Ki Ageng Ngerang juga, yang ternyata selalu menyayembarakan anak-anak perempuannya.
Ronggo berangkat dengan semangat, apa daya di tengah jalan dilihatnya Kebo Anabrang sudah membawa pintu gerbang itu, dan sedang kebingungan karena ganjalnya jatuh entah di mana. Nah, ganjal pintu yang disebut ganjel lawang itu ternyata jatuh di tempat yang sekarang disebut Jelawang. Begitulah, berlangsung adu kesaktian nan seru antara Ronggo dan Anabrang memperebutkan pintu itu, sehingga terpaksa dipisahkan oleh Sunan Muria sendiri, yang mampu menyaksikan adu kesaktian (yang berbumbu gaib tentunya) secara kasatmata, yang dalam bahasa Jawa disebut ceto welo-welo, sehingga tempat pertarungan itu sekarang disebut Towelo.
Sunan Muria berujar, siapa yang mampu mengangkat pintu itu berhak membawanya. Ternyata Ronggo tidak kuat, jadi ia diberi palangnya saja dan dipersilakan balik ke Juwana. Namun karena hanya membawa palang saja, tentu ia tidak boleh mengawini Pujiwati, dan karena marah Ronggo mengayunkan palang itu ke kepala Pujiwati – saat itulah terdengar guntur dan Pujiwati pun raib.
Guntur dalam bahasa Jawa disebut gelap, maka tempat itu sekarang disebut Sigelap, begitu pula dengan jembatan yang ada di sana. Peristiwa itu konon terjadi tanggal 5 Sya’ban. Kini setiap tanggal 15 Sya’ban ketika bulan purnama, masih suka terlihat pasangan muda datang ke tempat yang terletak satu kilometer dari Juwana itu, seperti mau meminta berkah.
Tentang Anabrang, ia juga gagal, karena baru mau berangkat, ternyata ayam jantan sudah berkokok – artinya ia terlambat. Maka Sunan Muria menugaskan Kebo Anabrang yang merindukan seorang ayah agar menjaga pintu tersebut, sampai akhir hayatnya.
Cerita ini mempunyai versi kedua, bahwa Raden Ronggo itu putra Sunan Muria yang mau mengawini bibinya, yakni Pujiwati tersebut, adik Roroyono yang telah jadi istri Sunan Muria. Mungkin ini putra dari istri lain. Seperti biasa, untuk menggagalkannya ia diberi tugas berat oleh Sunan Muria, yakni mengambil pintu yang sama. Namun rupanya Kebo Anabrang, murid Sunan Muria sendiri, telah membawa pintu tersebut, dan dalam perebutan, Ronggo hanya mendapat palang – yang seperti versi sebelumnya, dipukulkan pula ke kepala Pujiwati, dengan alasan “saking cintanya” yang tentu tak bisa diterima sang empunya cerita, sehingga diraibkanlah Pujiwati dan lahirlah legenda.
Legenda dan Politik Makna

Fakta sejarah atas Sunan Muria dengan begitu nyaris tidak ada, tetapi legenda yang terhubungkan kepadanya adalah suatu fakta pula – berupa “fiksi” yang menjadi tugas sejarawan untuk menafsirkannya. Perhatikan bahwa jika Sunan Muria menjadi kode penyebaran Islam, ternyata masih terhubungkan dengan nama-nama berbau Hindu seperti Wiku Lodhang Datuk atau Kebo Anabrang, dan semua itu bukan tanpa makna dalam keberlangsungan budaya.
Tiga serangkai peneliti, Sofwan, Wasit, dan Mundiri menyimpulkan konstruksi makna dari sejumlah legenda tersebut sebagai berikut: (1) Sunan Muria adalah orang yang berani; (2) Sunan Muria adalah orang sakti; (3) Sunan Muria seorang yang berwibawa; (4) Sunan Muria pandai memecahkan masalah; (5) Sunan Muria banyak berjasa.
Untuk kesimpulan nomor 4, digunakan argumen seperti pemberian tugas kepada Kebo Anabrang, dan tentunya seperti juga kepada Raden Ronggo dan Bagus Rinangku. Dalam hal ini, pembaca tentu saja berhak menafsirkan sendiri, misalnya apakah pemecahan masalah seperti itu tidak merupakan cermin manuver taktis dalam dunia politik masa itu? Bukankah dalam versi kedua kisah tentang gerbang, bisa saja Kebo Anabrang diperintahkan oleh Sunan Muria sendiri, supaya tugas Ronggo dipastikan gagal? Suatu taktik yang barangkali masih berlaku dalam iklim politik masa kini. Ilmu sejarah masih tetap berfungsi, meski fakta yang didapatkannya hanya legenda, untuk menafsirkan makna dalam hubungan dengan kehidupan masa kini.
Bagi kita, barangkali cukup melegakan, bahwa legenda itu, yang bisa saja terkonstruksi dari berbagai versi akibat pertarungan makna selama ratusan tahun, kemungkinan tidak berhubungan Sunan Muria yang historik sama sekali. Kecuali bahwa nama sebenarnya memang Raden Umar Said. Dengan demikian, suatu ziarah pustaka menjadi penjelajahan baru.

 
Sumber: INTISARI, November 2005

About these ads

13 Tanggapan

  1. 1. Yang jelas Sunan Muria adalah pribadi yang berpikir jauh kedepan saat itu.
    2. Apa yang menjadi landasan cara dia berpikir sampai saat ini tidak ada penerus, terbukti tidak ada anak turunnya yang berhasil dikancah pemerintahan, hanya Tuty kirana bintang film yang ada.
    3. Saat ini pengelolaan makam sudah diambil alih oleh Pem Kab Kudus, silsilahnya pun sudah tidak terpampang disana jadi saya kira makin tidak terlacak akan hal ikwal Sunan Muria,…Bahkan Anak cucuknya tidak tahu tentang sejarah cikal bakalnya.

  2. wwauuu menakjubkan……………………….,,,,,,,,,,////////

  3. Lebih Menarik dari sudut Pandang Kethoprak

  4. InsyaAllah anak cucu sunan Muria masih Eksis sampai saat ini,kalau di bilang tidak ada yg berhasil dalam kancah Politik,mungkin benar.Sebab,kami memang tidak tertarik dalam dunia politik yang cenderung menghalalkan segala cara. Dalam Pemerintahan,memang belum ada keturunan Sunan Muria yang eksis,tetapi dalam bidang lain: anak keturunan Sunan Muria terbanyak terjun sebagai pendidik/Guru/Dosen di beberapa Perguruan tinggi terkenal di Indonesia Contohnya om Puger sebagai Guru besar di UniBrawijaya Malang dan ada yang di TNI dengan pangkat tertinggi >>> Kolonel Purnawirawan Slamet Soedibyo{dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta],Kolonel Purnawirawan Abdul Khodir[dimakamkan di Surabaya],juga banyak yang mendirikan Pondok Pesantren yang tersebar di Nusantara. Data yang dapat kami Himpun,kebanyakan menjadi Guru,sebab Profesi ini sejalan terhadap cita-cita Sunan Muria yang memberikan Pendidikan dan Pengajaran terhadap masyarakat sekitar Muria Kudus. Masalah Silsilah yang tidak terpampang,itu atas permintaan kami: Sebab ada alur Keturunan yang dimanipulasi oleh salah seorang Juru Kuncinya, Keturunan yang asli adalah dari pihak Perempuan[istri),namun yang ditulis disitu adalah dari pihak Laki_laki yang bukan keturunan langsung Sunan Muria.. Dengan kejadian itu: kami mencoba menata kembali,membenahi alur_alur Sisilah Keluarga anak keturunan Sunan Muria. Dan Alhamdulillah,dari salah satu Jalur: dapat kami Himpun sampai ke Generasi Ibu Kandung/ayah kandung Kami pada urutan Turunan ke 13 . Kami sepakati dalam keluarga besar: Silakan dibuat alur silsilah setelah Ibu/Ayah Kandung kami masing-masing. Setiap Tahun,kami silaturahmi,bertemu di tempat yang menjadi kesepakatan pertemuandi tahun tahun sebelumnya. Momentum Hari Raya Iedhul Fitri,merupakan pilihan kami untuk saling mengenal sesama generasi Trah Sunan Muria. Demikian sekelumit Tulisan saya,semoga dapat menjadi salah satu jawaban: Bahwa kami Punya kepedulian terhadap pelestarian ajaran Leluhur Sunan Muria. Terimakasih.

    Penulis : Dwi Widoyoko >> anak Suwarni dari Demak Trah Wongso Joyo>>>Sunan Muria Kudus
    Alamat : Jalan Selis 1 RT.01 RW.05 Kelurahan Bandung Kutoarjo
    Purworejo Jawa Tengah.
    Profesi : Guru SMP Negeri 12 Purworejo

    • bpk Dwi_ yg saya hormati.

      kali ini ikt t’ksimak m’baca artikel bpk..krn prasaan sy slma ni slu dwrnai penasarn yg mndlm,,,, kt org2 pintr sy ini msih ada kturunn sunan muria, g tw sil2ahx gmn dr pihk ibu!! mhon tgpnx… mk$h.

    • Pak Dwi, nderek tanglet nggih. Saya sebenarnya sampai sekarang masih penasaran. Namun berdasar atas gerakan hati, perasaan saya seakan kuat mengatakan bahwa beliau sebenarnya adalah trah dari sunan Ngudung. Satu ayah berbeda ibu dengan sunan kalijaga. Apakah benar atau tidak, memang ini adalah sebatas perasaan saya sewaktu berziarah ke makam beliau berdua, meskipun perasaan dapat dikalahkan oleh saksi sejarah. Rasa rasanya keraguan cukup kuat disaat ada ahli sejarah mengatakan bahwa sunan Muria adalah satu trah dekat dengan sunan Kalijaga. Sedikit orang percaya, pada saat saya ada masalah yang cukup pelik, beliau sempat hadir dan menemui saya dalam alam bawah sadar.

    • Ada lagi Mbah Murtoyo pendiri SMA Trimurti Surabaya,….nah kalau memang turunan Mbah Sunan Muria itu ada dan bersatu lha ya mbok di kumpulkan,…lha yang katanya sama sama turunan Sunan Muria satu RW didaerah semarang aja nggak pada kenal,…
      Soal Mbah Kartotaruno,….memang bukan turun Mbah Sunan Muria, tetapi amat disayangkan kalau silsilah itu dihilangkan, bayangkan kalau ada audara yang jauh jauh datang dari jakarta yang hendak melihat membuktikan bahwa buyutnya yang katanya masih turun ke 11 ternyata sarasilahnya sudah tidak ada,…dan ada lagi,…setelah di kelola oleh PEMDA…nilai religusnya lalu hilang,…lokasi jadi semrawut, tidak tertata,…nah alangkah baiknya bila mulai sekarang didata dari turun yang ke 11 siapa2 saja,…diubungi,….gitu dhong Maaasss

  5. JADILAH TELADAN DAN PEDANG KEBENARAN DIMANAPUN ANDA BERADA

  6. sayapun juga pnh dbritaukan ttg silsilah dari sunan muria dr keluarga saya>….bayu malang

  7. mas adakah yng pernah kenal sama raden suradi mbah buyut saya yng beristrikan mbah sondong

  8. sebaiknya silsilah itu jangan sampai terjadi manipulasi termasuk juga silsilah para wali “sunan muria” saya kira apa perlunya jika hal itu terjadi, bukankah Allah sudah menyatakan dalam Al-qur’an bahwa yang paling tinggi derajatnya disisi-Nya adalah yang paling bertaqwa, jika menipulasi atau pengakuan dari keturunan salah satu dari para wali jika tidak di imbangi dengan amal salih apa gunanya, jadi sekedar usul bahwa jangan sekali-kali memanipulasi data silsilah…

  9. Setunggal maleh bopo lan ibu sekalian …. satu titipan pesan yang kami terima dari seseorang di nun jauh disana, bahwa sislsilah beliau memang sengaja di rahasiakan dan tidak untuk dipublikasikan. Hanya yang memang asli trah beliau, akan terpanggil dengan sendirinya entah bagaimana caranya, tapi ybs akan merasa sendiri meskipun oranglain tidak mengakuinya. Akan nampak dari tingkah laku dan doa doanya yang dimunajatkan kepada Alloh SWT. Seandainya ybs berdakwah-pun, cara cara nya sangat unik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 359 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: