Dongeng Sebelum Tidur

Dongeng Sebelum Tidur

“Jadi, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?”

Ibunya hanya tersenyum, memandang keluar jendela. Ada rembulan di luar sana.

“Kututup gordennnya Sari?”

“Biarkan begitu Mama, aku ingin memandnag rembulan itu, seperti mereka.”

Ibunya menahan sesuatu yang hampir dikatakannya. Lantas mengecup pipi Sari.

“Selamat tidur Sari.”

“Selamat malam Mama.”

Lantas ibunya mematikan lampu, menutup pintu, meninggalkan Sari sendirian. Sari memiringkan kepalanya, matanya berkedipi-kedip memandang rembulan. Ia sama sekali tidak bisa tidur.
Malam ini cerita ibunya lain sama sekali. Barangkali karena simpanan cerita ibunya sudah habis. Dari ibunya Sari telah mendengar hampir semua cerita. Sejak berumur lima tahun, ibunya biasa bercerita sebelum tidur, karena kalau tidak, Sari tidak bisa tidur. Kini Sari sudah berumur sepuluh tahun. Sudah sekitar 1825 cerita didengarnya, dan semua menempel baik-baik di kepala Sari yang terlatih ia tidak mau mendengarkan cerita ulangan.
Ibunya, seorang wanita karier yang sibuk, sesibuk-sibuknya tetap berusaha menceritakan sebuah dongeng kepada anaknya sebelum tidur. Jika ia berada di luar kota, atau di luar negeri, ia menelpon tepat pada waktunya untuk bercerita. Kalau ia mesti mengadakan perjalanan panjang, dengan pesawat terbang semalam suntuk misalnya, ia meninggalkan dongengnya dalam rekaman. Ibunya itu bisa bercerita dengan menarik, habis dulunya suka main sandiwara sih. Sari sungguh beruntung.
Tapi setelah selama lima tahun bercerita setiap malam, persediaan ceritanya habis. Ia sudah menghabiskan kisah seribu satu malam, ia sudah mengingat-ingat sebisanya semua fable Aesop, bahkan juga cerita wayang lengkap dengan carangan-carangannya, tapi tak juga ia temukan satu saja yang belum diceritakannya kepada Sari.

“Barangkali aku sudah mulai tua,” keluhnya pada sopir.

“Ah, tua bagaimana sih Nyonya, yang menaksir juga masih banyak gitu kok.”

“Huss!”

“Bener lho, itu kata sopir-sopir temen saya.”

“Aku ini ditaksir supir-supir?”

“Bukan begitu Nyonya, sopir-sopir itu menceritakan kembali omongan tuannya.”

“Jadi yang naksir aku tuan-tuan mereka?”

“Iya!”

“Hmmhh! Orasudi!”

“Lho, siapa yang bilang harus sudi?”

“Apa mereka tidak tahu kalau aku ini punya suami?”

“Lha itu, makanya!”

“Makanya kenapa?”

“Malah kepingin!”

“O, dasar gemblung!”

“Orang Jakarta kan memang gemblung Nyonya.”

“Ah, sudahlah, yang jelas aku ini baru bingung, kehabisan cerita buat Sari. Anak itu kok ya hafal semua cerita yang sudah kuceritakan. Bingung aku. Coba, semua versi cerita Asal Mula Padi dari Jawa,Bali, Lombok, sampai irian sudah kuceritakan, aku tidak bisa mengingat cerita apa-apa lagi sekarang. Katak Hendak Jadi Lembu sudah. Burung Punguk Merindukan Bulan sudah. Calon Arang sudah. Bandung Bandawasa sudah. Sangkuriang sudah. Asal Mula Gunung Batok juga sudah. Aku sudah tidak punya cerita lagi, sudah lupa, sudh tua, apa kuputerin laser-disc saja, kuputerin Beauty and the Beast begitu?”

“Lho jangan Nyonya, dongeng seorang ibu sebelum tidur itu lain dengan laser-disc yang mekanis, diputar untuk siapapun keluarnya sama, Nyonya boleh saja canggih, tapi harus tetap jadi manusia. Bercerita kepada anak tetap harus ada hubungan personal.”

“Eh, kamu kok pinter?”

“We lha, jelek-jelek gini kan droup-out dari universitas lho Nyonya.”

“Wah universitas mana?”

“Salatiga!”

“Universitas Salatiga? Droup-out apa dipecat?”

“Aduh Nyonya, mbok jangan menyindir.”

“Siapa yang menyindir? Kamu yang merasa sendiri kok!”

Sebelum tiba di rumah, sopir yang jebolan universitas itu berhasil meyakinkan ia punya majikan, agar mengarang saja cerita untuk Sari. Ibu Sari setuju. Masalahnya, ia tidak merassa bisa mengarang. Pandai bercerita tidak harus berarti pandai mengarang bukan?

“Tapi aku tidak bisa mengarang.”

“Ah, kalau Cuma cerita menarik, di koran juga banyak.”

“Itu bukan cerita kan Nyonya, maksud saya juga bisa diceritakan?”

“Apa ada berita menarik di koran?”

Mobil sudah hampir sampai rumah.

“Aduh, hampir sampai, bagaimana dong?”

“Lihat saja dulu dikoran Nyonya, pasti ada saja satu dua yang bisa dibacakan.”
Melewati pintu garasi, Sari sudah menghambur sambil membawa bonekanya.

“Mama malah sekali sih? Sari sudah mengantuk nih.”

“Biasa kan? Rapat mulur, jalanan macet, tadi kan Mama sudah nelpon dari jalan.”
Ibunya menggendong Sari.

“Ayo dong mendongeng, cepetan!”

“Buka sepatu saja belum.”

Sembari masih menggendong, ibunya menyambar koran di meja. Entah koran kapan. Selintas saja disambarnya judul-judul berita. Ketika ia meletakkan Sari di tempat tidur, sambil mencopot sepatu hak tinggi, dan membuka blazer-nya, sebuah berita menempel di kepalanya. Ia masih mempertimbangkan, apakah berita itu akan disulapanya menjadi sebuah cerita.

“Cerita tentang apa sekarang Mama?”

Ibunya menghela nafas. Di manakah batas antara dongeng dan kenyataan?

“Dengarlah Sari, cerita ini dimulai dari pengakuan seorang ibu.”

Lantas ibunya membaca berita itu.
Saya sudah tinggal di sini sejak usia delapan tahun sampai memiliki tiga anak dan seorang cucu. Tiba-tiba saja, pada usia yang ke-39 sekarang ini jadi setelah 31 tahun hidup di sini, setelah saya makin merasa bahwa inilah kampong halaman saya, kampong halaman anak-anak dan cucu saya, saya dipaksa pindah dan hanya diberi uang Rp 400.000. Siapa yang tidak marah diperlakukan seperti itu? Adilkah ganti rugi dengan nilai sekecil itu?
Saya bersama suami saya memang tinggal diatas tanah negara. Tapi saya punya KTP, taat membayar PBB dan tak pernah melawan pemerintah. Kini, setelah rumah saya terbakar dan dibongkar, setelah barang-barang kami rusak semua, kami tidak memiliki apa-apa lagi. Seharusnya mereka tidak membiarkan kami seperti ini. Kami juga tidak tahu harus kemana setelah ini.

Apa yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah mengungsikan sebagian anak-anak saya. Saya kini menunggu kepastian. Uang Rp 400.000 untuk kontrak sebuah keluarga yang layak, sangat tidak cukup. Uang sebesar itu hanya bisa dipakai untuk kontrak rumah alakadarnya selama tiga bulan. Ini pun kalau belum naik, dan jika uang itu hanya dipakai untuk kontrak rumah saja. Bagaimana jika kami harus menyewa truk untuk mengangkut sisa barang kami? Saya juga meragukan bisa tinggal di rumah susun. Untuk membayangkan saja belum pernah, apalagi mempercayai janji bahwa kami bisa hidup lebih baik di rumah susun itu nanti…

Lantas, ibunya mencoba bercerita berdasarkan foto-foto yang ada di koran itu, begitu asyik, sampai tak tahu betapa Sari terperangah.
Dongeng-doneng sebelum tidur yang diceritakan ibunya biasanya sangat romantis, indah, dan membayangkan suatu alam yang tenang. Tapi kini debu mengepul dalam bayangan Sari, bulldozer menggasak rumah-rumah penduduk, dalam waktu singkat satu kampong menjadi rata dengan tanah. Ibu-ibu diseret, anak-anak menangis, dan bapak-bapak berkelahi melawan petugas. Sari memejamkan mata, namun ibunya terus bercerita tentang kebakaran yang berkobar-kobar, jeritan orang-orang yang kehilangan rumah, dan terik matahari yang seakan menjadi lebih menyengat dari biasanya.

Ketika mengakhiri ceritanya, dengan gambaran matahari senja yang bulat,merah, dan besar turun perlahan-lahan di balik siluet jalan laying yang berseliweran, ibunya merasa bagai habis berlari lama sekali dan kini terengah-engah.

“Jadi, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?”

Sari masih ingat, ibunya hanya tersenyum, memandang rembulan di luar jendela, menahan sesuatu yang hampir dikatakanya, lantas mengecup pipi. Sari memandang rembulan itu. Kali ini dongeng ibunya membuat ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.

Ayahnya, yang baru pulang menjelang dini hari, terkejut melihat Sari belum tidur ketika membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Sari memandang rembulan sambil menyedot ibu jari.

“Ada apa?” Ia bertanya pada istrinya yang masih menonton CNN.

Istrinya menunjuk koran yang dibacanya tadi. Suaminya membaca selintas.

“Kamu bercerita tentang penggusuran?”

Istrinya tidak menjawab, malah balik bertanya.

“Kamu tidak akan membredelnya hanya karena membuat Sari tidak bisa tidur kan?”
Suaminya hanya mendengus. Ia menyingkap gorden, melihat rembulan yang terang di atas pohon palem.

Jakarta,1 november 1994

About these ads

14 Tanggapan

  1. keren..kdg sy jg pengin bisa mendongeng untuk anak saya pas mau tdr,wl kdg tdr yg kedua.ia selalu bangun saat sy pulang jam sebelas malem hingga pagi.ide utk mendongeng cerita dr koran bgs juga,dongeng yg tdk akan habis kec.ketika semua media diberangus.slm 4 mas seno,dr tetangga sebelah

  2. baca tulisan seno ini ketika saya masih berseragam.
    ide yang menendang kemana-mana.
    saya copy ke blog saya ya..

  3. aduh, hampir menangis saya membacanya … “gila” si seno itu

  4. nice stroy, dan terkadang dongeng yang diceritakan itu tidak melulu yang indah, romantis dan menyenangkan melainkan juga fakta yang ada di sekitar mereka dan sehari-hari mereka hidup berdampingan dengan masalah-masalah sosial itu

  5. Salam,

    Manusia (atau saya sajalah) dapat dengan mudah menerima sesuatu yang baik, indah, dan menguntungkan. Tapi tak banyak yang bisa menerima kenyataan hidup yang tidak mengenakan.

    Saya sendiri memaknai cerita Mas Seno seperti itu. Dan sesuai pemaknaan itu, saya boleh bilang ini tulisan yang cerdas, dengan pesan moral yg kuat.

  6. Saya melihat rembulan, meski bukan diatas pohon palem
    Membaca cerita ini, seakan-akan rembulan tertutup awan yang masih bisa terlihat.
    Samar, namun kita tau, bahwa ketidak adilan itu nyata
    -sok tau barangkali saya-

  7. SALAM,

    Dongeng sebelum tidur, sebuah kenangan lama yang membekas dan sulit terhapus dalam memori saya hingga tua seperti sekarang. Petualangan indah, lincah dan liar, namun juga sendu, pilu dan terkadang menyedihkan. Seperti dongeng dalam cerpen Seno yang setiap orang yang masih punya hati nurani pasti akan tersentuh bila membacanya.
    YA, dongeng sebelum sebelum tidur, yang masih belum bisa saya jabarkan dengan bahasa terindah pada anak saya, Alfiah(5 th)yang masih belum bisa berbicara, meski entah, ia mengerti bila saya mendongeng sebelum lelap mendatangi tubuh kecilnya. Cepatlah berceloteh, cintaku…

  8. melalui dongeng, saya melatih adik saya Dewa meningkatkan kemampuan berbicaranya. karenannya, dongeng perlu diajarkan kepada para orang tua untuk mendidik anak mereka. Untuk Dewanto Azmi Pradana, adikku yang kini menginjak usia 3 tahun, kakak akan terus membacakan cerita-cerita yang lucu dan menarik.
    jadilah adik yang cerdas dan kreatif ya!
    Dewi puspitasari- jurusan pendidikan bahasa dan sastra indonesia-UNY

  9. Dongeng sebelum tidur keren abizzzzzz!!!!!!, dah dech pokokny agak bisa diungkapin lewat kata- kata , indahhhhhhhhhhhhhhhh bgtzzzzzz

  10. maaf, seperti belum selesai..
    makasih..

  11. Ibunya menghela nafas. Di manakah batas antara dongeng dan kenyataan?

  12. Reblogged this on RadarNeptunus and commented:
    Sekali lagi Reblogging Seno, hehe

  13. […] Kalimat pertama dikutip dari cerpen karya Seno Gumira berjudul “Dongeng Sebelum Tidur” […]

  14. I will immediately grab your rss feed as I can not find your email subscription link or enewsletter service. Do you have any? Kindly let me know so that I could subscribe. Thanks. geddcbbgekdabdgf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 362 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: