Sang Kolektor

Catatan Desember:

Sang Kolektor

                                                    

Konsumsi terdahsyat tahun ini tentulah arca abad IV. Bukan main!

Jangan salah tafsir, pada dasarnya saya menghargai para kolektor
karena, tanpa mereka, kondisi dokumentasi di Indonesia akan lebih
mengenaskan. Bukankah HB Jassin dahulu membeli segala macam buku
secara kiloan, dengan tujuan menjadikannya dokumentasi sastra, yang
terbukti kemudian pernah menjadi terlengkap di Indonesia dan menjadi
rujukan dunia?

Arswendo Atmowiloto memiliki komik Indonesia tahun 1930-an, dan itu
berarti koleksinya lebih lengkap dari Pusat Data Komik Republik
Indonesia yang tentu saja memang tidak ada. Adalah semangat koleksi
yang membuat Misbach Yusa Biran dapat membangun Sinematek Indonesia.

Koleksi seperti representasi kerakusan dan keserakahan. Seorang
kolektor ingin memiliki semuanya dengan selengkap-lengkapnya. Bagi
seorang kolektor sejati, kelengkapan adalah kata kunci, dan pada
gilirannya kelengkapan itu kemudian memperkaya pengetahuannya.

Maka, kelengkapan dokumentasi segala perkara yang berbau sastra bagi
HB Jassin memainkan peran penting bagi kredibilitasnya sebagai
kritisi sastra.

Ini juga berlaku dengan komik bagi Arswendo, orang Indonesia pertama
yang meliput dunia komik secara komprehensif. Demikian pula Sumarah
Adhyatman dengan koleksi kendi, yang melahirkan buku Kendi.

Ini juga berlaku dengan kolektor lain, seperti Asmoro Damais dan
Iwan Tirta dengan batiknya, Raka Sumichan dengan lukisan Affandi-
nya, atau Butet Kartaredjasa dengan bungkus rokoknya.

Saya perhatikan, para penulis buku tentang keris dan wayang kulit
adalah juga kolektor fanatik dengan kualitas riset yang tak kalah
dibanding peneliti akademik. Ditulis sendiri atau dituliskan, jasa
mereka jelas.

Jadi, saya kagum kepada para kolektor, yang kecintaannya terhadap
koleksi menjelma sebagai pengetahuan yang berguna bagi orang banyak.
Secara etis, kerakusan dan keserakahan mereka boleh dihalalkan
karena maknanya yang produktif, yakni menyelamatkan harta budaya dan
mencerdaskan bangsa.

Tetapi, bagaimana dengan kolektor arca kuno yang tidak memahami
koleksinya sendiri? Apakah saya juga harus mengaguminya jika sang
kolektor ternyata tak tahu-menahu tentang arkeologi, cara terbaik
memaknai arca kuno, meskipun secara amatiran?

Atau, mungkinkah saya justru harus kagum dengan “pengetahuannya”,
bukan tentang arkeologi, melainkan nilai nominal arca kuno itu
beberapa tahun mendatang?

Nah!

                         

Sumber: Kompas,edisi Jumat, 28 Desember 2007

About these ads

13 Tanggapan

  1. Hahaha…
    brilliant, menggelitik benar
    terima kasih
    -salam-

  2. pinter2nya sang kolektor, pinter2nya kita juga.
    jika kolektor tak terlalu anggap penting arkeologi,
    kita anggap kolektor itu sendiri dari kacamata arkeologi.
    Ya, kolektor menjadi penting dan mengagumkan.
    karena, dia termasuk manusia langka.

  3. kalau saya mau jadi Kolektor karya2mu,
    boleh kan sukab?

  4. sebuah benda tak akan berarti kalau tak di apresiasi.
    tapi usaha penyelamatan benda oleh kolektor, perlu di acungi jempol. tapi, jangan cuma jadi pajangan di museum dong.

  5. kunjungi http://kedaiantique.wordpress.com
    ayo saling tukar informasi mengenai dunia barang antik di indonesia maupun manca negara

  6. Saya ada patung nenek-nenek jawa antik umur kayu ratusan tahun di pahat abstrak bila ada yang minat bisa dilihat dan contak.02171311106 / 081398410789

    Terimakasih

    Sangkan Paraning Dumadi

  7. Saya menemukan rakyat berupa remis/kerang sungai/musi (20 buahan) karena terpecah waktu pengalian sumur cucian berkisar ribuan th mungkin masih ada lagi, sekarang saya simpan beratnya kira2 9 1/2 ons.

  8. hub; nomor tlp (0711)441639, kalau mau/berminat sekitar 1 1/2 th yang lalu ditemukan. siapa tahu bernilai tinggi seperti kepala buddha di yogya/magelang waktu saya keborobudur tapi daging kerangnya sedikit jadi pasir intannya tidak seperti kepala buddha di mesium Borobudur.

  9. mas seno, saya punya ribuan mainan-mainan antik,yang saya kumpulkan 15 tahun terakhir ini. kebayakan dari kaleng, plastik, karet, besi, juga boneka, poster atau apa saja yang berhubungan dengan mainan. saya ingin membikin suatu museum kecil, seperti yang ada di negara2 tetangga, malaysia dan Singapura yang mempunyai museum mainan. museum mereka sih belum seberapa dibandingkan museum yang ada di jepang, Inggris atau Amerika Serikat. tujuan museum ini agar anak-anak dapat memahami orang tua mereka yang tumbuh dengan mainan-mainannya di masa lalu. kontak ya jika berminat, diskusi atau mau rekomendasi. jika ingin melihat-lihat kunjungi blog saya di. serba vintage.

  10. kelupaan telp saya yang bisa dikunjungi, selain bisa lihat-lihat barang saya di serba vintage adalah. 0812 96 13545. Denny yuriandi. saya alumni Cenematografi angkatan 87

  11. jadi keinget di era 85-an dulu, sempat terpengaruh seorang sepupu gw yg dari jogja, sepulang sekolah SD, berburu bungkus rokok bekas, duh bangganya klo koleksi kita terlengkap diantara kawan2….

  12. Saya turut prihatin atas ter-degradasinya esensi moralitas kolektor. Terlebih ber-imigrasinya peninggalan2 bersejarah Indonesia; dari Arca Agastya sampai Naskah Bujangga Manik yang kini tergeletak dalam kemewahan Museum Oxford. Tentunya masih akan terus ada harapan; Ditangan para kolektor Indonesia, apapun jenis koleksinya, akan membuat asa yang pupus kembali bersinar untuk menyingkap kabut hitam berkepanjangan. Lestari Pusaka Nusantara

  13. kang seno,
    saya juga sedang berusaha mengoleksi celoteh, bualan, dan khayalanmu.. hehehe

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 251 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: