Cerpen Karya Seno Gumira, Cerpen Terbaik Kompas 2007

Kompas – Kamis, 26/6/2008 | 23:40 WIB

Cerpen Karya Seno Gumira,

Cerpen Terbaik Kompas 2007

 JAKARTA, KAMIS –  Cerita pendek (cerpen) berjudul Cinta di Atas Perahu Cadik karya Seno Gumira Ajidarma terpilih sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2007 sekaligus menjadi judul antologi Cerpen Kompas Pilihan 2007.

Antologi cerpen yang seluruhnya berisi 15 cerpen Kompas terpilih yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas itu diluncurkan di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (26/6) petang. Bersamaan dengan itu, juga digelar Pameran Ilustrasi Kompas.

Atas karya terbaiknya itu, Seno mendapat penghargaan yang diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Bambang Sukartiono. Bagi Seno ini adalah cerpen keduanya yang terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas. Beberapa tahun sebelumnya,  saat pertama kali Kompas membukukan cerpen-cerpen pilihannya, cerpennya berjudul Pelajaran Mengarang, terpilih sebagai cerpen terbaik.

Direktur Penerbit Buku Kompas yang juga Wakil Pemimpin Umum Kompas St Sularto dalam sambutannya mengatakan, pihaknya tetap mencoba berani menerbitkan antologi cerpen tersebut, meskipun dari segi pemasaran, saat ini penjualan karya fiksi tidak sebaik masa lalu (Orde Baru -pen) ketika cerpen dijadikan pembaca sebagai alternatif untuk mencari berita yang benar.

“Tapi kami percaya  masih ada pembaca yang akan mencarinya,” katanya dalam acara yang juga dihadiri para cerpenis yang cerpennya masuk dalam antologi, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo yang juga Wakil pemimpin umum Kompas, Pemimpin Redaksi Kompas, Bambang Sukartiono, para seniman dan budayawan.  Sularto juga percaya masih banyak “pelanggan lama” yang bakal membeli antologi tersebut.

Sularto juga menyinggung model pemilihan sehingga terpilih 15 cerpen pilihan di antara cerpen-cerpen pernah dimuat Kompas sepanjang 2007.  Tahun ini, katanya, pihaknya melanjutkan model pemilihan yang  sudah dimulai tahun lalu, yakni mengundang pihak luar Kompas untuk melakukan penilaian. Tahun ini, pemilihan dilakukan oleh Ayu Utami dan Sapardi Dko Damono.

Ayu Utami dikenal sebagai seorang novelis,  kolumnis  yang juga menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2006-2009.  Ia juga pernah menjadi redaktur jurnal kebudayaan Kalam. Sedangkan Sapardi Djoko Damono adalah guru besar emeritus yang dikenal sebagai penyair, penulis cerpen, kritikus sastra, dan pernah menjadi redaktur pada majalah kebudayaan seperti Basis dan Horison.

Dari seluruh cerpen yang terbit di harian Kompas setiap hari Minggu sepanjang tahun 2007 , keduanya memilih 15 cerpen. Satu di antaranya  berjudul Cinta di Atas Perahu Cadik karya Seno Gumira Ajidarma, sekaligus terpilih sebagai cerpen terbaik.

Dalam pidato pertanggungjawabannya selaku juri Sapardi menyatakan agak sulit menetukan dan menjelaskan alasan mana cerpen yang terbaik, sebab penilaian juri subyektif. 

“Ada beberapa catatan, antar alain, dari 52 cerpen yang dinilai, tidak ada sesuatu yang cukup berbeda dibanding cerpen-cerpen yang dimuat Kompas dua tahun lalu. Dalam dunia sastra sekarang ini, sulit menentukan isme-isme, karena cerpen umumnya bicara masalah kepincangan sosial, percintaan, dan masalah pribadi dan sekitarnya. Kecenderungan yang sangat kuat adalah kelisanan, ” katanya.

Sementara itu Ayu Utami yang menulis prolog untuk antologi itu antara lain menyebut, ada hal-hal yang menjadi usang dan tidak boleh diulang sebagai ciptaan, termasuk dalam menulis cerpen. Sementara Sapardi dalam  epilognya menghubungkan sifat koran yang ruangnya semakin terbatas dengan kemampuan cerpenis menyusun cerpen koran yang meyakinkan. Dua pemikiran itu pula yang mendasari pemilihan cerpen yang diterbitkan sebagai antologi Cerpen Kompas Pilihan 2007.

Selain Cinta di Atas perahu Cadik, ke-14 cerpen lain terpilih ialah Lampu Ibu karya Adek Alwi; Kisah Pilot Bejo (Budi Dharma); Koh Su (Putu EA);  Serdadu Tua dan Jipnya (Wilson Nadeak); Gerhana Mata (Djenar Maesa Ayu); Sinai (F Dwi Ria Utari); Belenggu Salju (Triyanto Triwikromo); Bigau (Damhuri Muhammad); Lak-uk Kam (Gus tf Sakai); Candik Ala (GM Sudharta); Tukang Jahit (Agus Noor); Sepatu Tuhan (Ugoran Prasad); Hari Terakhir Mei Lan (Soeprijadi Tomodihardjo); dan Gerimis yang Sederhana (Eka Kurniawan).

Dalam sambutan singkatnya Seno mengatakan, “Dalam ilmu surat tidak ada juara satu. Yang ada hanya keberuntungan wacana.” Kalau harus berbicara, katanya, maka kita hanya perlu kembali kepada  firman Tuhan (sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci Al Quran), “Bacalah!”. (NAL/WIP)

Sumber : http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/06/26/23401299/cerpen.karya.seno.gumira.cerpen.terbaik.kompas.2007

Kepribadian Sandal Jepit

Kepribadian Sandal Jepit

                   

Mengenakan sandal jepit di kantor adalah negosiasi terhadap hegemoni sepatu .

Lee laccocca tidak mengenakan sandal jepit. Donal Trump juga tidak. Sekretaris mereka juga pasti tidak. Tapi wanita itu– cantik, wangi, dan mengenakan blazer hitam– memakai sandal jepit, karena memang bukan sekretaris Akio Morita. Ia sekretaris yang kalau malam pulang ke gang Bluntas. Ia memang bekerja di sebuah gedung dahsyat di segitiga emas Jakarta. Sebuah kantor modern: pasti ber-AC, desain interior yang elegan, dengan wall paper yang berwarna lembut, dan lukisan yang memberi cita rasa artistik. Ia sedang menelpon sambil memijit-mijit keyboard computer. Di sekelilingnya semua wanita ber-blazer hitam, semua pria berbaju putih lengan panjang. Tentu tidak semua memakai sandal jepit, Sepatu pria disemir mengkilat, sepatu wanita haknya tinggi, tapi di bawah setiap meja nampaklah sepasang sandal jepit. Kalau ada ninja masuk sebuah kantor di Segitiga Emas Jakarta pada malam hari, ia bisa mengangkut sekarung sandal jepit dari setiap lantai.

Dalam teori apapun yang berhubungan dengan etiket perkantoran modern, tentu saja sandal jepit tidak pernah disebut-sebut. Kalau tidak percaya, Tanya saja John Robert Powers. Toh dengan mata tertutup kita sudah bisa pastikan, sandal jepit adalah bagian yang terpisahkan dari dunia perkantoran di Segitiga Emas Jakarta, dunia kaum Yuppies Indonesia.

Secara kongkret, orang memakai sandal jepit di kantor karena merasa tidak betah memakai sepatu. Kalau pakai sepatu lebih dari sekian jam, apalagi sepatu hak tinggi, untuk berjalan-jalan pula, kaki rasanya terbakar. Apa boleh buat, sang sekretaris pun mondar-mandir dengan sandal jepit.

Peradaban sepatu, sejarahnya memang belum lama di Indonesia. Sampai hari ini, masih sering kita dengar betapa anak-anak sekolah di desa berangkat dengan memakai sepatu, namun ketika pulang mencangkingnya. Sepatu adalah suatu siksaan , sepatu hanya suatu formalitas. Begitulah formalitas mengajarkan kita berangkat ke kantor memakai sepatu. Sesampai di kantor kita mengenakan sandal jepit, aneh, absurd malah, tapi nyata, dengan logika itu, seharusnya kita berangkat memakai sandal.

Lee Laccoca memang tidak memakai sandal jepit. Toh itu tidak harus berarti derajatnya lebih tinggi dari yuppies Indonesia, karena memakai sandal jepit di kantor, betapapun tidak cocoknya dengan teori etiket perkantoran modern, adalah sebuah kejujuran, sebuah pengakuan, atas ketidakbetahan memakai sepatu: yakni pengakuan atas asal-usul kebudayaan agraris, kebudayaan para petani. Banyak orang yang mengingkari asal-usul yang memalukan, namun bersandal jepit di kantor, betapapun mulut tiada berucap, adalah sebuah pengakuan yang bersahaja. “saya tidak betah memakai sepatu”.

Ketidakbetahan memakai sepatu, Memang adalah perilaku yang diwarisi dari tradisi petani tanpa sepatu. Sandal jepit bagi para petani, sebetulnya sudah merupakan sepatu, biasanya berjalan kemana-mana tanpa alas kaki. Supaya lebih sopan, dikenakanlah sepatu.

Ini semua hanya menunjukan, bahwa begitu banyak barang yang dikonsumsi tidak sebagai fungsi, melainkan symbol. Itulah kepribadian sandal jepit, yang bertebaran di Segitiga Emas, puncak piramida kisah sukses di Jakarta, ini juga menunjukan kejujuran sejarah, betapa masa lalu tidak bisa di bunuh, apalagi diingkari.

Salam

SGA.

LEPAS LANDAS

Jakarta, Jumat Legi 20 Februari 1998

LEPAS LANDAS

              

Bung,
Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Wah, kalau saya ingat-ingat masa lalu, geli saya. Setidaknya tiga istilah laku keras: lepas landas, globalisasi, dan memasuki abad XXI. Mulai dari pejabat tinggi sampai pejabat ceremende, berbusa-busa mulutnya oleh omong kosong, pernyataan-pernyataan tanpa dasar, prediksi tanpa penelitian, asal mangap, waton suloyo. Padahal para birokrat itu kebanyakan juga bangsanya intelektual lho! Setidak-tidaknya bergelar doktor begitu–meskipun sekarang ini terlalu banyak doktor katrolan. Ajaib. Tiga abad setelah descartes(1596-1650): “Tidak bisa diragukan lagi bahwa saya ragu”–dunia majunya malah mundur.

Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Apakah dia berbicara dengan mulut, otak, atawa dengkulnya? Ataukah ia cuma membaca naskah pidato siap pakai? Sudah lama saya berpikir tentang ini. Siapakah mereka? Apakah mereka punya nama? mengapa mereka sudi mengorbankan namanya untuk diatasnamakan pajabat ini dan pejabat itu? Mengapa mereka menyembunyikan namanya? Apakah ini pembenaran atas ketidakberanian bertanggung jawab? Apakah ini kesempatan untuk bersembunyi sebagai seorang pengecut? Apakah pertanggungjawaban mereka menulis bangsa ini mau lepas landas seenak udelnya? Apakah Guru SD mereka tidak mengajari bagaimana caranya menulis tanpa istilah “Dalam rangka“?

Well, well, well, siapa dulu yang suka ngomong lepas landas/ Saya ingin mencari orangnya, ingin bertanya kepadanya, atas dasar apa maka sebuah negara suatu bangsa kok diibaratkannay sebagai pesawat terbang. Seolah-olah sejarah adalah suatu run-way di cengkareng sana, dan tahun 2000 adalah ujungnya. Eh, apakah itu sebuah metafor? cuma sebuah kidung? Hembusan angis surga yang meboikot sikap kritis? Saya ingin bertanya kepadanya darimana ia mengambil dan menyambung nyambung kata seperti pembangunan, nasional, transparan, manusia seutuhnya, dan lagi-lagi lepas landas? Betul-betul mengharukan.

Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Barangkali ia mengerti istilah analitik a priori yang diperkenalkan immanuel kant(1724-1804). Barangkali ia mengerti bahwa kalimat yang disambung-sambungnya dengan berbusa-busa dengan penuh retorika itu cuma merupakan pardobosan, karena seluruh kalimat yang disambung-sambungnya itu tidak menambah informasi apa-apa, seperti berkata lingkaran adalah bulat. Tahukan anda apa itu pardobosan? Nah, kalau itu istialah abru sumbangan saya: suatu aksen Batak untuk kata dasar Jawa–dobos. Orang Jawa akan mengucapkannya: ndobos. Hahahaha!

Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Saya ingat lagi para penulis naskah pidato itu. Mereka tidak terlalu bego sebetulnya. Jelek-jelek bisa menulis naskah pidato. Tapi mereka melakukan apa yang disebut pengkhianatan intelektual. Tidak menggunakan daya berpikirnya untuk bersikap kritis. Mereka sengaja menumpulkan diri. Membutakan diri. Jika dalam Johann Wolfgang Von Goethe(1695-1832), ilmuwan Faust menjual jiwanya kepada iblis Mephisto demi ilmu penegtahuan, mereka menjual jiwanya demi apa? Saya ingin bertemu dengan para penulis naskha pidato ini. Ingin bertanya: apa yang sebenarnya ada di dalam hati nurani meraka?

Bung,
Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Dimanakah mereka sekarang? Saya sudah lama tidak melihat batang hidungnya. Apakah Anda melihatnya? Kalau ketemu, tolong tanyakan: Kenapa sekarang tidak pernah ngomong lepas landas lagi? saya rindu dengan istilah itu–lepas landas….

Salam dari Palmerah.

SGA

  
NB. Sukab berkata: “Lepas landas? Nyungsep!

                      

Sumber: JAKARTA JAKARTA No 605 .Maret 1998

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 339 pengikut lainnya.