Buku Terbaru SGA “Kentut Kosmopolitan”

Buku Terbaru SGA:

“Kentut Kosmopolitan”

                     

Dalam dunia kita, kesehatan itu lebih dari berguna. Menahan kentut dianjurkan oleh kesopanan, tetapi sangat tidak berguna untuk kesehatan. Nalar manusia harus bekerja, jangan menyerah kepada yang tidak masuk akal, karena konsensus kentut sedunia ini sangat-sangat-sangat bisa diubah. Jika tidak, kehidupan akan masih penuh dengan kebohongan, karena konflik kepentingan antara kesopanan dan kesehatan ternyata diatasi dengan dagang sapi: dalam pergaulan orang- orang sopan, kentut tetap diberlangsungkan diam-diam. Hanya Si Buta dari Gua Hantu yang bisa mendengarnya, apakah di dalam rapat kabinet terdengar bunyi psssttt, atau di tribun kehormatan, dalam riuh genderang dari drumband yang sedang lewat, sebetulnya terdengar juga bunyi brrooootttt!

Judul Buku : Kentut Kosmopolitan
Jumlah Halaman : x + 296 halaman
Tahun : Cetakan I, Agustus 2008
Penerbit : Penerbit Koekoesan
Harga : Rp. 49.000

Novelisasi Film: Sebuah Pengalaman dengan Biola Tak Berdawai

               

Novelisasi Film: Sebuah Pengalaman dengan

Biola Tak Berdawai

        

Sebagai penulis, saya menganggap diri saya sebagai tukang, dengan begitu saya merasa wajib mempelajari segala bentuk penulisan, agar mampu melayani semua pesanan. Dalam kenyataannya, saya memang berusaha memenuhi segala pesanan. Bagi mereka yang merasa dirinya penulis besar barangkali ini memalukan sekali. Contoh-contoh pesanan ini seperti berikut:

“Tolong bikinkan cerpen dengan Tema No.1 karena untuk terbitan pertama setelah Tahun Baru.”
“Minta cerpen dengan tema ulangtahun karena majalah kami berulang tahun.”
“Minta cerpen apa saja untuk sisipan khusus, tapi jangan terlalu sastra.”
“Minta cerpen dengan tema hadiah, karena ini untuk edisi khusus tentang hadiah.”
“Minta cerpen untuk hari Natal.”
“Tolong bikin cerpen yang bisa dibaca anak-anak, tapi remaja juga bisa ikut baca.”
“Minta cerpen yang eksperimental.”
“Ada cerpen bertema belanja?”
“Bisa menulis cerpen bertema ciuman?”

Semua permintaan itu biasanya diiringi deadline, mulai dari sebulan, seminggu, sampai satu hari saja—yang paling ajaib, setelah cerpen jadi masih ada saja permintaan khusus.

“Ini terlalu serius, pembaca kami nggak akan ngerti, bisa dibikin nggak usah terlalu bagus?”
“Ini kurang panjang, sisipkan filsafat-filsafat sedikitlah sekitar dua halaman.”

Selama tidak bertele-tele, saya menanggapi segala pesanan sebagai katalisator gagasan: bagaimana caranya pesanan terpenuhi tetapi gagasan saya tetap berkembang dengan bebas. Misalnya saja ketika menjelang millennium baru saya mendapat pesanan cerita bertema futuristik, maka saya berikan cerita tentang pengakuan korban, pelaku, maupun anak yang lahir dari pemerkosaan rasial 13-14 Mei 1998, tapi di masa depan, tepat 40 tahun kemudian. Dengan cara seperti ini, pesanan yang manapun takharus menjadi belenggu bagi saya.

***

Maka, pada suatu hari menjelang akhir tahun 2003, saya mendapat tawaran untuk menuliskan film Biola Tak Berdawai yang disutradarai Sekar Ayu Asmara menjadi sebuah novel. Ini mengingatkan saya kepada fenomena “boovies” (“book-movies”) pada tahun ’70-an, ketika film-film Hollywood yang sukses segera disusul oleh buku yang sekadar menuliskan kembali cerita film tersebut—dan bisa ditebak bahwa penulisannya akan sangat setia. Dalam hal ini, buku taklebih merupakan bagian dari merchandise film tersebut, bagian dari kaos oblong, boneka, stiker, poster, topi, tas, gantungan kunci, maupun rekaman soundtrack, yang diharapkan akan sama laris manis seperti filmnya. Buku menjadi bagian dari benda-benda cinderamata sebuah film.

Pihak penerbit sendiri menganggapnya juga sebagai eksplorasi bisnis, bahwa novelisasi film, setidaknya di Indonesia, belum pernah dilakukan orang. Mengingat film Biola Tak Berdawai yang mendapat sejumlah penghargaan di luar negeri tak terlalu sukses di pasar komersial dalam negeri, penerbit tampaknya berusaha membuat penerbitan buku ini sebagai bagian dari re-launch di kota-kota tempat film itu belum diputar. Dalam waktu yang sama diedarkan versi VCD, DVD, dan rekaman soundtrack film tersebut. Dengan kata lain, tuntutan untuk setia kepada cerita film itu dalam tafsiran saya adalah mutlak.

Setahu saya, ada film lain yang pernah dinovelkan dengan setia. Itulah Pengkhianatan G30S karya Arifin C.Noer yang dinovelkan oleh Arswendo Atmowiloto pada 1986. Mengingat kecenderungan propagandis film ini demi kepentingan rejim Orde Baru, pada prinsipnya Arswendo tentunya juga harus setia. Sejauh saya periksa, Arswendo memindahkan yang visual menjadi literer, dengan polesan pada aspek bahasa. Alur, sudut pandang, dan karakterisasi sesuai dengan skenario dan filmnya.
Saya belum bisa menjawab tawaran ini, sebelum saya membaca skenario maupun menonton DVD-nya, untuk melihat seberapa banyak materi yang bisa saya tuliskan. Tentunya saya bertanya, “Mintanya berapa halaman?” Yang segera dijawab, “Kira-kira 200-300 halaman, format buku saku.” Maka saya ambil sebuah buku saku Agatha Christie dan menghitung berapa kata terdapat dalam satu halaman. Secara kasar, dari jumlah kata per baris dikalikan jumlah baris, dalam setiap halaman terdapat 150 kata; dikalikan 300, berarti saya harus menulis 45.000 kata. Mengingat novel itu ditargetkan terbit dalam waktu kira-kira sebulan setelah pertemuan, berarti setiap hari saya harus menulis 1.500 kata. Sebelum tawaran itu tiba, setidaknya dua kali saya mempunyai pengalaman menulis cerita bersambung di koran, yang berarti setiap tiga hari saya harus menulis sekitar 2.000 kata. Saya anggap saja saya sanggup menulis 1.500 kata tiap hari, tinggal kini melihat apakah skenario dan novel Biola Tak Berdawai memberi peluang untuk dituliskan sebanyak itu.

Mula-mula saya baca skenarionya, yang ditulis oleh sutradaranya sendiri, dan terkesan dengan jernihnya penulisan skenario itu dalam menjabarkan gambaran-gambaran filmisnya, maupun jelasnya skenario itu mengungkapkan gagasan terpendam di dalamnya—lain sekali dari pengalaman saya membaca berbagai skenario film Indonesia yang ruwet. Ketika melihat filmnya, saya juga merasa bahwa sutradara film ini mempunyai selera artistik yang elegan, meski tentu dia juga harus berterimakasih kepada segenap kru penuh bakat yang mewujudkannya. Mulai dari artistik sampai musik, juga permainan Ria Irawan, membuat saya berpikir apakah saya bisa mengimbangi mereka semua dalam penulisan kembali. Masalah yang jadi keberatan banyak orang atas film ini, yakni ritmenya yang lamban, bagi saya bukanlah masalah karena sesuai dengan suasana Yogya dalam film itu maupun karakter stereotip Jawa yang memang serba lamban.

Masalah bagi saya justru cerita film itu sendiri. Jika saya setia hanya kepada alur yang tersedia, barangkali saya hanya mampu menuliskannya sepanjang 30 halaman. Ditambah kibul sana-sini, tetap saja tak akan mencapai 100 halaman. Apa akal?

Saya juga kebingungan dengan sudut pandang yang harus saya pilih. Sudut pandang sang juru cerita, yakni sudut pandang “Tuhan” yang mengetahui dan menentukan segala-galanya, ataukah sudut pandang salah satu tokoh? Sedangkan kalau saya ambil salah satu tokoh, atas alasan apa dan kenapa? Sampai berhari-hari saya lewatkan saat seharusnya sudah start menulis karena tidak punya alasan kuat untuk memilih satu sudut pandang di antara tokoh-tokoh dalam film itu.

Secara ringkas film itu bercerita tentang perempuan Renjani yang mengelola panti asuhan untuk anak-anak yang otaknya cacat, dan berpengaruh kepada inderanya sehingga disebut tunadaksa. Di antara anak-anak tunadaksa itu, Dewa adalah yang paling dekat dengan Renjani, seperti anaknya sendiri. Di panti asuhan, terdapatlah Mbak Wid, dokter yang bila malam menjadi peramal dengan kartu-kartu tarot. Lantas muncul Bhisma, pemain biola muda yang jatuh cinta kepada Renjani, dan berusaha menggambarkan kembali dunia Dewa melalui biolanya. Renjani mati karena kanker rahim dan takpernah sempat mendengar karya Bhisma, yang hanya sempat memainkannya di depan kuburan perempuan yang dicintainya itu.

Mula-mula saya ingin mengambil sudut pandang Renjani, yang karakterisasinya paling lengkap dalam film itu. Tapi kemudian saya lebih tertarik kepada tokoh Kliwon, semacam abdi tua di panti asuhan, yang dalam film hanya tampak sekilas-sekilas dengan peran yang kurang jelas—justru karena takbanyak yang terlanjur diketahui tentang dirinya. Saya sudah membayangkan pembukaan seperti berikut: Nama saya Kliwon. Saya bukan tokoh cerita ini. Namun sebuah kalimat dalam skenario memberi saya jalan masuk yang lain:

MBAK WID

Duh, Renjaniiii, Renjani, saya tahu kamu sangat sayang kepada Dewa. Tapi itu anak tidak mengerti omongan kita. Itu anak tidak mengerti apa-apa. Dia bukan saja jaringan otaknya yang rusak, tapi juga autistic. Matanya terbuka tapi tidak melihat. Telinganya tidak mendengar. Kamu sendiri kan sudah melihat hasil testnya.

RENJANI

Tapi hasil test itu kan cuma memberi tahu keadaan fisiknya saja. Kita tidak pernah bisa tahu bagaimana perasaan Dewa.

                  
Jika “Aku” yang bercerita adalah Dewa, pikir saya, siapakah yang bisa menyangkalnya? Bukankah siapapun tidak pernah bisa tahu “perasaan” Dewa? Saya menafsirkan kata “perasaan” ini sebagai dunia-dalam tempat Dewa bersolilokui, bercakap dengan dirinya sendiri, dan tentu pula dengan bahasa yang hanya dihayatinya sendiri. Pilihan ini memberi saya sebuah ruang untuk bercerita dengan bebas, tanpa mengkhianati cerita yang telah membentuk alur seperti bisa dibaca dari skenario dan dilihat dalam filmnya.
                 
***

Demikianlah, saya membuka novel ini dengan sebuah prolog, tempat tokoh Dewa ini melakukan monolog. Membuka novel dengan prolog memang kebiasaan saya, tetapi kali ini lebih merupakan siasat untuk “menghemat bahan”—saya harus selalu punya materi untuk melanjutkan cerita yang tidak akan saya ubah ini. Pada dasarnya saya memang tidak mengubah apapun, tetapi menambahi sebanyak-banyaknya, yang sangat dimungkinkan melalui sudut pandang Dewa yang cuma dirinya sendiri yang tahu itu. Namun sebebas-bebas tokoh “aku” itu ngibul ke sana kemari, tetap saja beliau itu terikat kepada konteks bukan? Dengan kata lain, kebebasan yang saya dapatkan melalui sudut pandang Dewa, tetap saya rasakan belum cukup memenuhi permintaan atas volume novel yang harus saya penuhi.

Peluang lain kemudian saya dapatkan ketika Mbak Wied menyebut-nyebut Gandari, tokoh wayang yang mempunyai anak seratus orang dan disebut Kurawa. Dalam skenario terbaca:

MBAK WID

Hati memang teka-teki yang abadi. Terkadang kuat, terkadang luat. Bayangkan perasaan Gandari yang harus mengubur keseratus anaknya… yang gugur di medan Kurusetra…

Pertanyaan yang muncul ketika sampai di sini, juga ketika menonton filmnya, apakah semua orang tahu wayang dan tahu siapa Gandari? Dalam konteks Yogyakarta atau kebudayaan “Jawa”, mestinya wayang adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Nama-nama tokoh wayang berikut peran simbolik mereka mestinya dikenal sama akrab dengan nama-nama malaikat atau nabi-nabi, seperti tokoh-tokoh mitologi Yunani bagi kebudayaan Barat. Saya sebut “mestinya” karena dalam kenyataannya tidak begitu. Bukan saja pembaca atau penonton filmnya jelas tak akan terbatas berasal dari Jawa dan memahami konteks wayang dalam kebudayaan Jawa, tetapi juga bahkan bagi mereka yang tergolongkan sebagai “orang Jawa”-pun tidak bisa dipastikan akan langsung memahami siapa Gandari. Mengingat bahwa riwayat setiap tokoh ataupun peristiwa yang disebut-sebut sebagai penting dalam wayang adalah menarik, saya ambil peluang untuk menceritakannya kembali dengan senang hati, bukan sekadar untuk mempertebal buku, melainkan juga kebutuhan takterhindarkan, bahwa nama-nama wayang dalam novel ini akan kehilangan arti jika pemahaman mengenai wayang itu diabsenkan.

Dengan begitu, setiap kali ada nama wayang yang bersumber dari Mahabharata itu disebut, dan ternyata cukup sering juga, saya anggap relevan untuk selalu menyambungnya dengan sebuah bab tentang tokoh tersebut. Sehingga, dalam konteks penulisan novel, tentu menjadi masalah: siapa yang bercerita? Kalau konsisten dengan sudut pandang Dewa, meski pembaca taktahu apa saja yang mungkin berada di dalam dunia dewa, saya rasa tidak proporsional jika harus Dewa pula yang berkisah tentang Mahabharata. Saya anggap lebih bisa diterima jika ada pencerita lain entah siapa, dan tidak penting siapa, yang menceritakan kisah wayang itu—pokoknya cerita tentang tokoh-tokoh itu harus ada. Soal konsistensi sudut pandang, apa iya bikin novel itu harus begitu? Dengan cerita-cerita wayang yang bagaikan terlampir di dalam novel, saya hanya ingin memberi latar belakang, yang dalam pembacaan bisa menyumbang pembermaknaan, selain cerita wayang itu sendiri selalu saya anggap sebagai cerita menarik. Memang, tak selalu bentuk “cerita” itu saya pilih, cerita tentang Sangkuni misalnya, saya perbincangkan seperti menulis esai.

Jadi, Mahabharata itu bisa tampil sebagai buku lain di dalam Biola Tak Berdawai (“beli satu dapat dua” ), saya bahkan membedakan hurufnya, termasuk dalam daftar isi yang ternyata taktercetak ketika bukunya terbit. Ini juga berarti soal konsistensi sudut pandang terselesaikan, bahwa memang ada pencerita kedua selain “aku.” Dalam siasat penyelipan semacam ini, saya tidak hanya mendapat peluang bercerita tentang wayang, melainkan juga tentang kartu tarot dan legenda sekitar Prambanan, tempat berlangsungnya dua kali konser Bhisma dalam cerita.

Berbeda dengan wayang, yang saya kenal baik, saya tidak tahu apa-apa tentang tarot, meski sangat tertarik dengan tema kartu-kartu yang digunakan untuk meramal nasib itu, terutama gambarnya, yang menurut saya juga sangat bercerita. Gambar kartu itulah yang saya coba tuliskan, dari yang visual menjadi yang literer, dengan pembermaknaan tertentu, karena bagi saya ramalan gambar-gambar itu sungguh misterius, dan memasuki serta menafsirkan misteri masa depan dalam kartu itu adalah salah satu cara untuk bercerita.

Jadi itulah pendekatan saya: Mencari apa saja yang bisa dikembangkan. Nama wayang telah menjadi sejumlah bab; kartu tarot bahkan saya sertakan gambarnya dari sebuah buku loak yang saya beli di Kanada; dan lokasi Prambanan, tepatnya Candi Rara Jonggrang, sebagai tempat konser bisa saya hubungkan dengan legenda Bandung Bandawasa maupun studi arkeologi tentang Candi Sewu yang menjadi bagian legenda itu. Pada dasarnya, yang saya pertahankan sebetulnya bukan sekadar kesetiaan kepada alur, melainkan kesenangan bercerita—tanpa bisa mengembangkan gagasan sendiri, hanya menceritakan ulang sebuah cerita akan menjadi beban yang sangat menyiksa. Orientasi kepada arkeologi membawa saya kepada studi filologi tentang suasana kehidupan sehari-hari ketika candi itu masih berfungsi—tentu saya tidak ingin membanggakannya sebagai hasil riset serius, saya hanya ingin berbagi kesenangan atas berbagai kemungkinan yang diberikan dalam novelisasi film itu. Tanpa legenda Rara Jonggrang, tidakkah candi megah sebagai latar belakang Bhisma main biola itu hanya akan menjadi batu?

***

Dengan suatu cara, saya juga melakukan hal yang sama ketika menghadapi filmnya, karena rupanya telah terjadi metamorfosis, dari kata dalam skenario ke gambar dalam film, kembali ke kata lagi sebagai novel. Film adalah visualisasi skenario, tapi novelisasi bukanlah sekadar litererisasi film, karena jika begitu maka sudah akan dipenuhi oleh skenario definitif yang merupakan turunan dari filmnya. Novelisasi artinya kita bisa bercerita dengan berbusa-busa yang dalam film disebutkan pun tidak, selain hanya kelihatan sebagai gambar.

Dalam skenario Biola Tak Berdawai ada yang disebut sebagai Ruangan Lilin, sekadar sebagai informasi—tetapi dalam filmnya sebuah ruang yang dimaksudkan sebagai diterangi hanya oleh nyala seratus lilin menjadi maknawi, apapun yang bisa dibermaknakan dari sana. Sebuah novel bisa berkisah tentang cahaya kuning seratus lilin dan bayang-bayang yang selalu bergerak pada tembok tanpa harus tampak sebagai mengada-ada. Itulah pula yang saya lakukan dengan kupu-kupu kering terbingkai kaca yang tampak dalam film, seolah-olah tanpa konteks, tetapi yang bagi sebuah novel bisa dihubungkan dengan adegan ketika Renjani dan Dewa bermain kupu-kupu. Dengan kata lain, seperti juga mengembangkan dunia-dalam Dewa yang dalam film selalu tertunduk membisu, saya bisa menuliskan dunia-dalam benda-benda, seperti cahaya lilin, kupu-kupu dalam kaca, dan apapun yang secara visual bagai tanpa konteks, tetapi yang selama menjadi bagian dari film itu haruslah termungkinkan untuk diberi konteks yang relevan.
Kadang saya juga tak usah mencari dari yang visual dan secara sinematografis mungkin dianggap spektakuler, melainkan cukup yang hanya disebut saja, seperti berikut:

MBAK WID

Kamu bilang tadi Dewa memegang kerang? Mungkin itu karmanya, mungkin itu pertanda… dia sedang berjalan ke alam lain. Mungkin di kehidupan sebelumnya Dewa terlahir sebagai kerang.

                 
Dalam film, soal kerang ini takpernah dilanjutkan dan karena itu tidak bisa dianggap penting, tapi adegan itu bisa saya pisahkan sebagai bab tersendiri berjudul Di Pantai: Balada Kerang. Baiklah saya kutipkan, cukup bagian terakhir dari bab itu, sekadar memberi gambaran bagaimana pengembangan bisa dilakukan:

Dulu aku adalah kerang yang diam dan menunggu dalam waktu. Semestaku hanyalah rumahku yang telah melekat bersama diriku. Aku hanyalah kerang yang tumbuh di dasar lautan di balik batu karang. Begitu banyak kerang di sekitarku, mungkin kami berasal dari induk yang sama, tetapi meski kami tahu ada sesuatu di luar semesta kami, tiada cara untuk mampu saling menahu. Kami hanya diam, terdiam dan berdiam di dalam dunia kami sendiri. Apakah kami bahagia? Apakah kami berduka? Aku sudah lupa. Karena kami adalah kerang yang bisa membuka dan menutup rumah kami tentu kami berjiwa, tetapi kami sungguh-sungguh lupa apakah kami mempunyai hati. Ada kalanya kami melebur bersama menjadi terumbu karang. Dari kerang ke karang—hanya satu huruf jaraknya, namun memerlukan waktu jutaan tahun bagi kami untuk menjadi karang terindah dalam cahaya matahari yang tidak diam tetapi tumbuh dengan sangat amat pelahan.

Mungkin aku kerang, mungkin aku karang. Apakah ini berarti lahir kembali sebagai bayi tunadaksa adalah suatu kemajuan? Tetapi aku hanya bisa meraba masa laluku dengan samar-samar. Apabila rumah itu tertutup aku hanya berdiam dalam kegelapan. Tetapi kegelapan bukanlah kesepian. Di dasar laut kami tergeser oleh gelombang sampai berkilo-kilo meter jauhnya, bagaikan suatu pengembaraan. Setiap kali setelah rumah tertutup, setiap kami membukanya sudah berada di tempat lain. Mungkinkah semuanya berpindah dalam suatu eksodus panjang ke pulau seberang, namun aku tetap tinggal terbenam dalam lumpur kegelapan?

Mungkin aku kerang, tapi mungkin tidak pernah menjadi karang. Terbayangkan olehku kisah perjalanan hidup yang barangkali tidak terlalu membosankan. Aku adalah kerang yang memang teronggok di antara karang. Gelombang lautan sedikit demi sedikit membawaku mendekati tepi pantai, sehingga para nelayan yang gagal mendapat ikan tuna mengambil kerang karena tiada pilihan. Beratus-ratus kilo kerang terlelang di pelabuhan dan diangkut menuju pedalaman. Aku berada di antara tumpukan karung-karung berisi ribuan kerang yang diangkut kendaraan dengan bak terbuka naik turun perbukitan menembus hutan menuju ke kota di mana terdapat warung tenda yang hanya buka pada malam hari dan menyediakan kerang rebus sebagai menu makanan.
Dari pasar kami terpisah-pisah ke berbagai jurusan. Seorang laki-laki pemilik warung tenda membawa sebagian dari kami dalam sebuah karung yang hanya terisi setengahnya. Isi karung itu kemudian dipindahkan ke dalam keranjang, dan bersama keranjang itu dibawa para pembantu pemilik warung ke tempat mereka akan memasang tenda warung dengan gambar kepiting, kerang, udang, dan ikan yang bagai melambai-lambai dengan janji kelezatan.
Semula aku terletak paling atas, namun ketika isi keranjang dipindah ke ember, aku terletak paling bawah. Demikianlah warung di tepi kaki lima itu mulai didatangi orang-orang kelaparan. Mereka makan ikan, mereka makan kepiting, mereka makan udang, dan akhirnya mereka juga makan kerang. Sedikit demi sedikit tumpukan di atasku menipis.
“Tambah lagi dong kerangnya,” begitu kudengar suara di balik meja.
Tiba saatnya aku terserok bersama sekitar duapuluh kerang lain, langsung dimasukkan air panas mendidih.
Barangkali juga dikau yang menelanku malam itu, waktu dikau makan kerang rebus itu bersama dengan kekasihmu. Jika memang ini yang terjadi, berarti aku harus berterimakasih kepadamu, karena setidaknya dikau menjadi perantara kelahiranku kembali ke dunia—dari kerang menjadi anak tunadaksa.

 Sepintas lalu memang tampak begitu bebas, tapi konteksnya jelas perkara tubuh dan jiwa. Dewa, anak tunadaksa yang melihat tapi takmelihat, mendengar tapi takmendengar, terandaikan tetap memiliki jiwa lengkap dengan kehendaknya, meski memang sulit dibaca. Lagipula, kebebasan itu hanya bisa dimanfaatkan secara proporsional—saya sudah merasa terlalu sering bermain-main dengan pikiran yang keluar dari tubuhnya ini. Anak-anak panti asuhan yang mati misalnya, dalam novel bisa saya tuliskan melayang-layang di udara dan bercakap-cakap dengan Dewa.
Dalam adegan lain, dikisahkan Renjani melarung barang-barang miliknya ke laut. Termasuk di antaranya sepatu ballet. Saya kira masuk akal jika Aku yang bercerita bisa saja menduga-duga apa yang akan terjadi ketika sepatu ballet itu ditemukan orang. Saya tidak berani memastikan sesuatu, hanya bermain dengan kemungkinan-kemungkinan, memang demi kemungkinan itu sendiri, karena adalah keserba mungkinan itulah yang membuat novelisasi paling setia pun akan tetap menyenangkan.

***

Dalam waktu sebulan, tepatnya 29 hari, saya ternyata hanya mampu menulis 25 bab, setiap bab rata-rata terdiri antara 1500-2000 kata, dan ketika terbit tebalnya hanya 198 halaman. Jadi kurang dua halaman dari target minimal. Saya menghibur diri dengan menganggap itu disebabkan karena hurufnya yang cukup kecil. Sebetulnya saya ingin memasukkan juga petikan gambar-gambar komik Mahabharata karya R.A. Kosasih dalam setiap bab tentang wayang, karena komik yang sama juga muncul dalam filmnya. Tetapi meski lembaran yang dibuka adegan pembuangan Pandawa di hutan, yang dibicarakan adalah adegan pelecehan Drupadi. Saya ingin mengulanginya secara lebih rinci, karena memang dimungkinkan oleh format buku, tetapi pihak penerbit mungkin kekurangan waktu untuk mengurus masalah hak cipta.

Memang, yang agak repot dalam menulis Biola Tak Berdawai adalah di satu pihak saya membayangkan pembaca yang sudah menonton filmnya dan mencari yang sama dalam novel; di lain pihak saya juga membayangkan pembaca yang belum dan mungkin saja tidak akan pernah menonton filmnya. Kepada yang pertama, mereka harus terjamin menemukan kembali apa yang mereka dapatkan dalam film, meski kali ini dari sudut pandang anak yang sepanjang film membisu, ditambah bonus pengembangan saya sendiri; golongan ini akan mengenali bagaimana saya bermain-main—dan ini tidak akan terjadi dengan pembaca golongan kedua. Kepada yang kedua, saya mengandaikan setidaknya mereka mendapat sebuah cerita yang tetap terasa utuh, meski tidak akan pernah menonton filmnya. Jika kemudian mereka menonton, maka memang terdapat risiko bahwa dalam film itu tidak terdapat banyak hal yang terdapat dalam novel. Namun sejauh film itu memang bercerita dengan bahasa medianya sendiri, saya ragukan bahwa hal itu harus terjadi—gambar masih bisa dituliskan kembali meski nuansanya tentu berbeda, tetapi musik terlalu abstrak untuk bisa dialihkan ke dalam kata-kata, yang bisa saya lakukan dengan kata-kata hanyalah mengimbanginya.

Semula, “ketepatan” penafsiran memang sempat menjadi obsesi saya; sebegitu jauh, Sekar Ayu Asmara menghindar untuk berdialog tentang novelisasi ini –kemudian saya akan tahu— supaya saya menulis dengan bebas. Saya kira jiwa besarnya ini saya syukuri, bukan saja karena risiko yang mungkin saja ditanggungnya karena perbedaan penafsiran telah dia pasrahkan, melainkan juga karena telah menghindarkan saya dari berbagai keterikatan yang mungkin saja terjadi. Saya baru bersua untuk pertama kalinya setelah novel selesai ditulis, dan dikatakannya ia merasa senang bahwa saya mengambil sudut pandang Dewa.

Novelisasi pada dasarnya adalah adaptasi. Dalam hal itu saya mempunyai pengalaman dari dunia penulisan skenario film, apakah itu adaptasi dari cerita pendek, naskah drama, novel, bahkan prosa lirik seperti Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG yang sepintas lalu seperti takmungkin dijadikan film. Sebaliknya, saya juga telah mengadaptasi sejumlah skenario saya sendiri ke bentuk prosa. Pernah terjadi, saya mengadaptasi sebuah cerpen saya ke skenario film, lantas mengembalikannya lagi ke prosa, sehingga saya mempunyai dua karya dengan judul yang sama, tetapi yang sudah berbeda sama sekali. Yang ingin saya tunjukkan tentu, bahwa karya adaptasi sebetulnya sama sahihnya sebagai karya baru, sama seperti karya yang dianggap “asli”—bahkan bagi saya melakukan adaptasi secara teknis jauh lebih sulit, justru karena terdapat komitmen untuk mempertahankan “keaslian”, yang sebetulnya tidak mungkin karena dalam adaptasi berlangsung peleburan materi lama menjadi karya baru.

Namun apabila saya menulis langsung dari kepala saya sendiri, apakah sebetulnya yang bisa dijamin sebagai asli, jika bahasa dan wacananya toh juga barang pinjaman? Meski rupanya prestise yang “asli” ini secara sosial lebih tinggi dari yang adaptasi, sehingga novel seperti Biola Tak Berdawai misalnya tidak bisa dinilai dalam kompetisi sastra—meski saya merasa menuliskannya tidak menjadi lebih mudah hanya karena merupakan adaptasi. Harap maklum, perbincangan tentang hancurnya keaslian memang belum tersosialisasikan dengan terlalu baik, karena eksotisisme keaslian memang masih menjadi wacana dominan. Selama teks dalam diri saya merupakan akibat saja dari konstruksi sosial, selama itu pula teks yang saya tuliskan hanyalah penanda atas jalinan wacana yang berkait-kelindan dalam diri saya sebagai situs pertarungan ideologis.

Dalam hal ini, tak salah jika dikatakan bahwa pengarang atau penulis hanyalah suatu medium, sehingga takpenting benar sebetulnya, seberapa jauh saya telah menafsir Biola Tak Berdawai dengan tepat, melainkan seberapa jauh konstruksi sosial telah menjadi faktor determinan sebuah novelisasi. Lantas di manakah sang pengarang? Saya sendiri tidak tahu, apakah pertanyaan ini masih relevan. Perbincangan bisa sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada karangan asli; bisa pula sampai kepada kemungkinan semua karangan adalah asli—mungkin pula dikotomi asli-takasli memang takpenting lagi. Namun setidaknya kita bisa memperbincangkannya.

                                  
Pondok Aren, Kamis 23 Februari 2006. 16:38.

 

(Catatan untuk diskusi “Film in Translation”, The Center for Southeast Asian Studies, University of Hawai’i, 15 Maret 2006).

Suara-Suara

Suara-Suara

 

Aku bangun terlalu pagi. Biasanya aku bangun di atas jam dua belas. Entah kenapa aku bangun secepat ini. Dibawah pintu kulihat koran. Aku segera menyambar koran itu. Langsung membuka di tempat iklan-iklan yang menawarkan pekerjaan.
Memang aku merasa cocok jadi bartender. Namun, aku tak terlalu tolol untuk terus menerus mengabdi pada pekerjaan itu. Aku datang jauh-jauh ke ibukota bukan untuk menjadi bartender, tukang campur minuman. Sebetulnya aku pernah punya keinginan jadi wartawan, tapi sayangnya aku tidak bisa menulis. Seakarang aku tidak tahu persis ingin jadi apa.

Kepalaku agak pusing. Mataku terasa pedas. Aku menelusuri huruf-huruf surat kabar yang meriwayatkan macam-macam kejadian, tapi aku tak membacanya. Aku mencari lowongan pekerjaan.
Lowongan-lowongan itu tertulis dalam bahasa inggris. Aku mengejanya dengan terbata-bata. Meskipun aku sarjana, bahasa inggrisku pas-pasan saja. Kalimat terhormat untuk kenyataan yang sama: tidak becus. Aku tahu, aku tak akan pernah menulis surat lamaran dengan bahasa inggris. Tapi, aku tahu juga apa yang kucari.

Mereka mencari manajer pemasaran. Meraka mencari insinyur pertambangan. Mereka mencari nahkoda kapal tanker. Mereka mencari akuntan. Mereka mencari sekretaris berkepribadiaan menarik. Tak ada satupun dari lowongan-lowongan itu yang membuat aku tertarik. Tapi aku sendiri tak tahu pasti apa yang kucari. Aku hanya merasa harus mencari sesuatu. Meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu ketika nasib akan membaik.

Kuletakkan koran tanpa membaca berita-beritanya. Kubuka jendela, tapi segera kututup lagi. Aku tak tahan cahaya matahari yang menerobos secepat kilat. Mataku perih. Aku segera membaringkan diri ketempat tidur kembali. Mencoba menyambung tidur. Aku memejamkan mata lama sekali, tapi tak kunjung tertidur. Di luar terdengar suara-suara pagi. Suara-suara yang jarang kudengar.
Aku mendengar suara tukang daging. Aku mendengar suara tukang sayur. Aku mendengar suara anak-anak sekolah. Aku mendengar suara bel becak. Aku mendengar suara bajaj. Aku mendengar siaran berita. Aku mendengar suara wanita memanggil-manggil. Lantas, kadang-kadang mendadak sepi. Kadang-kadang suara itu campur aduk jadi satu. Kututup telingaku dengan bantal. Aku merasa harus tidur lagi.

Sayup-sayup suara air dari keran terdengar mengucur. Lantas, terdengar desis kompor gas. Suara-suara itu menembus mimpiku.

Ketika aku bangun lagi, hari sudah siang. Dari cahaya yang menembus kolong pintu, kuperkirakan sudah lewat tengah hari. Udara dalam kamar terasa panas. Segera kubuka jendela dan kubuka pintu. Dengan kuyu aku melangkah ke kamar mandi. Langsung berendam.

Sambil berendam aku melanjutkan tidurku. Dari balik dinding terdengar musik yang lembut. Aku memejamkan mata dan mecoba melupakan segala peristiwa.

Tubuhku tersa ringan. Air yang hangat memijat-mijat persendian. Dari balik dinding masih terdengar orang bercakap-cakap.

“Rasanya sedih sekali.”

“Kenapa?”

“Tidak tahu, tapi rasanya sedih.”

“Mesti ada sebabnya, dong.”

“Aku sudah bilang aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya sedih sekali. Coba pegang dadaku ini. Ngilu.”

“kamu, kenapa sih, bilang dong, cerita ….”

Aku menyanyi-nyanyi agar orang itu menjauh. Apakah mereka mendengar  suaraku? Tapi aku terus saja menyanyi-nyanyi. Menyanyikan lagu yang sering terdengar di apocalypse.

Look at me, I’m as helpless as a kitten up tree. [4]

 

 

———————–
[4] Misty adalah lagu wajib di kafe. Dibuat oleh erol graner(1923-1977), seorang pianis jazz yang kemudian menjadi composer, pada tahun 1950. inspirasi lagu ini muncul saat garner dalam penerbangan San fransisco – Denver, melihat pelangi dari jendala pesawat yang buram oleh embun. Lagi itu menjadi sangat popular, dan merupakan lagu yang paling banyak direkam selama dua dekade setelah lagu tercipta.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 339 pengikut lainnya.