Senja dan Sajak Cinta

Senja dan Sajak Cinta

 

Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.

Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?

Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan.

Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain diatas kampung-kampung. Diatas genting-genting. Diatas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.

Ada sisa layang-layang dilangit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang mengentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu.

Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual Koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan Koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip dilangit yang bersih. Seorang wanita, entah dimana, menyapukan lipstik ke bibirnya.

Malam telah turun di Jakarta. Dimeja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta.

langit muram, kau pun tahu
angin menyapu musim, gerimis melintas
pada senja selintas, aku tak tahu
masihkah ketemu malamku

kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
dalam jejak senyap semalam
menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan

About these ads

36 Tanggapan

  1. Bahasanya dahsyaaaatttt….

    Mau baca-baca yang lain ahh…

    Hehe, salam kenal ya Mas..

    ^^

  2. senja yang kau ceritakan selalu indah…..

  3. ah, saya selalu suka senja
    dan seno tentunya
    ^_^

  4. Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan…

    Seandainya…semua perpisahan mengesankan seperti senja…

  5. senja; keindahan yang sebentar, seperti kebahagiaan.. i love it!!! kita memang fana ya? (top!!!)

  6. kalo ingat senja pasti dia-dia lagi… siapa lagi kalo bukan Seno… kata ini menjadi khas Seno Gumira

    liat saja tulisannya pasti ada senja disitu… hehe tidak semua kalee

    cahayanya memantulmantul ke gedung bertingkat tukang becak, apa sih yang tidak ada senja,

    maka seno pasti terbayang…

  7. indah mas…
    kayaknya aku bakal kerasan di sini.
    baca2 yg lain ah…

    kukirim pesan singkat menjelang senja
    bilang, aku akan berjaga-jaga di sudut lengang
    bilang, aku berharap saat dia lewat
    dia mau buka kaca jendela agar bisa kulihat walau sekelebat

    aku hanya rindu
    terlalu

  8. mas, kok bisa mendeskripsikan senja sebegini dahsyatnya.
    senja=seno.

  9. [...] takjub dengan bola raksasa yang tenggelam di punggung bumi dan itu bisa dilukiskannya dengan begitu indahnya. Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan? (senja dan sajak cinta, 2008) [...]

  10. aku paling suka sama karya-karya yang menyentuh hati,aku akui karya di atas indah banget dan aku suka itu,nama aku vivi riandy,tapi nama emailku pakai nama buatan sendiri,buat temen-temen salam kenal ya dari aku vivi di pamekasan madura jawa timur…?

  11. ok…banget mas kata2nya
    indah….seindah senja yg kau lukiskan…
    ^ – ^

  12. Bagus banget mas cara mlukiskan Senja…

    Dari kecil orang tuaku kasi nama ak Senja…
    Sedikit aneh untuk jadi nama orang y…
    Tapi sejak baca sajak2 yang mas tulis,
    ak jdi cinta ma namaku…
    : )

  13. Lelah raga ini…
    Menapaki hari-hari
    Menggapai mimpi
    Hingga menjelang pagi

    Untungnya…..
    Jantung masih berdetak
    Semangat masih meledak
    dan usiaku masih muda

    Tak habis waktu berpeluh
    Tak jarang asa ku julang
    Semoga segera tiba waktu
    S’bab esok kuingin menjemputmu….

  14. buat anda2 yang mau jadi temanku.silahkan mengunjungi website ini ya..! aq tunggu kedatangan teman2 sekalian..!

  15. saya suka dengan puisi2 anda pak.

  16. selayang pandang melayang
    menghantarkan cinta penuh rasa
    senyum bahagia terpancar
    pesona harum rupawan
    kasih aku sayang
    aku cinta
    ………………..

  17. aku gila di pandang getar hatimu

  18. [...] takjub dengan bola raksasa yang tenggelam di punggung bumi dan itu bisa dilukiskannya dengan begitu indahnya. Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan? (senja dan sajak cinta, 2008) [...]

  19. menjerit di ufuk senja ha ha ha

  20. Angin bergerak tiada hentí, tinggalkan lara sesakkan dada, aw ada kikuk yg menggelayut hingga tak trsa bygmu mnjlma

  21. seno idolaku

  22. teganya gejolak itu menuliskan senja diwaktu itu

  23. Kukira yang ini karangan anak SD? tak lebih dari sepotong senja untuk pacarmu di tangan si pembunuh misterius. memaksa.

  24. ku tulis surat ini
    kala hujan gerimis
    bgi bunyi tmbur mainan
    anak-anak peri dunia yang gaib
    dan angin mendesah
    wahai,dik narti,
    aku cinta kepada mu
    ku tulis surat ini
    kala langit menangis
    dan dua ekor belibis
    bercinta an dlm kolam
    bgi dua anak nakal
    jenaka dan manis mengibaskan ekor
    serta menggetar kan bulu-bulunya………………..
    Salam buat HUSNI ARIP…………

  25. Apalagi ini…
    Apa antara engkau dan senja dan dia serta Dia;
    Andai iya, aku saksi yang duduk di pundak tuamu
    Ingin dihantarkan kemana saja mentari memancar.
    Andai tidak, aku cukupkan di sini
    Biar saja kematian berdiri di depan pintu, aku persilahkan Izroil duduk-duduk menenangkan sebelum mengambil dunia.

  26. senja..
    ah kau kunikmati selalu :D

    salam

  27. Wah good bangetz..senjanya..
    Sktika bwat imajinasi melayang layang masuk kdalam buaian senja…
    Mas seno,
    low bleh krim kta” mutiara ttg cinta dunk..thanks..

  28. sukab.wordpress.com’s done it once more. Superb read.

  29. indah sekali…..

    • Ketika sang laut dalam ketenangan,jiwa merasa damai dalm kesejukan alam…lalu ketika laut terlihat kemarahanya ketakutan akan hidup tak berarti dngan sekejap,,,ketika hati mrasa damai dalam pelukan seorang pujaan hati berharap ku akan memilki selamanya namun ketika amarah rasa sejati terhianati seakan mata tertutup dlm sekejap…itu berrti cintaku padamu sampai mati dan tak ingin tersakiti…

  30. duhh….bagus banget…

  31. mantap bnget,,gue suka yg nii

  32. Malam bintang bertabur jutaan galaksi
    Petikan gitar kaki gunung Baru Jari para pendaki
    Semua nikmati desiran malam Segara Anak
    Pantulan cahaya bulan perlihatkan rangkaian bukit laju puncak Rinjani

    Bulan penuh terang pantul cahaya matahari
    Riang gembira semangat pendaki
    Dengan tumpukan api kayu dipinggir kaki
    Kurenungkan apa yang kuperbuat tadi siang

    Meratapi kebnodohan dan semangat konyol
    Dimata orang tertawakan segalanya
    Tapi Segara Anak rayu hatiku pandanginya
    menopang anak Rinjani penuh pasir

    kuhabis malam bersamamu

    dipandang danau meluas gunung
    aku akan merindukanmu

    sabtu, 10 sept. 2011
    21.05 WITA

  33. nice :) kunjungi blogku juga ya http://ownwritten.blogspot.com/ :) enjoy read :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 358 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: