Bajing Melintas di Kabel Listrik

Bajing Melintas di Kabel Listrik

 

Suatu pagi di jalan, sekilas pintas terlihat oleh saya seekor bajing berlari diatas kabel listrik tebal yang melintang di atas jalan tersebut. Jalan yang saya lalui pagi itu adalah suatu jalan tembus, dan karena namanya jalan tembus, tentu saja semua orang ingin memanfaatkannya sehingga dengan segera jalan tembus itu lantas berkategori “padat merayap”—artinya di dalam mobil yang merayap perlahan-lahan saya bisa berpikir sejenak tentang makna keberadaan bajing yang berlari lincah di atas kabel listrik itu.

Dengan menerima bajing itu sebagai binatang liar atau makhluk yang bebas, artinya bukan hewan peliharaan yang lepas, kita bisa mengandaikan bahwa bajing memang berada di lingkungan hidup semacam itu secara alamiah. Kita sering melihat bajing di perkebunan kelapa, kita sering melihat bajing di hutan atau di pepohonan liar, dan barangkali pernah kita melihat bajing yang ditangkap dan dimasukkan “kandang berputar”. Apa itu? sebuah kadang jeruji kawat tipis yang bentuknya seperti bulatan pipih, lebarnya hanya cukup untuk bajing itu—nah dasar kandang itu bisa berputar, dan sang bajing memang cenderung untuk terus menerus berlari, sehingga kita bisa melihat bajing ini berlari ditempat. Semakin cepat bajing itu berlari semakin cepat dasar kandang itu berputar, dan tentu saja bajing itu tidak sampai kemana-mana. Kasihan sekali.

Sadarkah bajing itu? Karena ia terus berlari, boleh kita anggap ia tak sadar sedang berlari di tempat, jadi ia tidak sadar sedang dipermainkan didalam kandang berputar tersebut. Sekarang kita perluas lingkungan bajing yang semula kandang, ke lingkungan tempatnya hidup dan berkembang: sebuah kompleks pemukiman kelas menengah yang padat, berdampingan dengan kampung di kiri dan kanan sebagai “sisa” dari penduduk asli yang tanah-tanahnya sudah di borong konglomerasi real estate, yang meskipun konsepnya barangkali “ekslusif” tetap tak berdaya menghalangi agar jalannya tidak di tembus sembarang orang, dan menjadi inklusif, “milik semua orang”  seperti sekarang.

Jadi saya membayangkan sebelum pengusaha real estate mebujuk, merayu, dan barangkali setengah memaksa penduduk untuk menjual tanah-tanahnya, tempat itu adalah sebuah “kampung betawi” biasa dengan pepohonannya yang khas: rambutan, durian, jambu air, mangga, dan tentu juga kelapa. Pepohonan yang tidak dimaksudkan sebagai perkebunan, tetapi memang sedah ada disana sebagai bagian dari “konsep kampung”-nya betawi yang kadang masih terlihat disana-sini: rumah satu dengan yang lain tidak saling berdempet, tanah kosong diantaranya sebagai halaman yang tak selalu berpagar, dan pada setiap tanah kosong terdapatlah pohon-pohon buah yang tidak terlalu penting milik siapa. Dibawah pohon kadang terlihat dipan bamboo tempat seorang ibu deduk menggendong bayi, atau ibu-ibu berderet menguraikan rambutnya saling mencari kutu. Ditempat yang sama, seorang lelaki biasanya langsung tidur.

Di antara pohon-pohon itulah nenek moyang bajing itu, menurut Multatuli, “naik toeron klapa mentjari penghidoepan”—karena bajing tidak bermigrasi seperti burung. Ibarat kata melalui leluhurnya bajing sudah ada di tempatnya sejak dahulu kala, tetapi saya hanya mengincar masa sebelum real estate tersebut menggusur kampung betawi. Nah, bajing yang lewat itu sendiri tentu lahir setelah kekacauan ini berlangsung, alam bagi bajing ini sekarang bukanlah dunia sejuk kampung betawi, melainkan absurditas jalan tembus di pemukiman kontemporer, yang meski dimaksud ekslusif, menjadi inklusif karena terhubungkan dengan perkampungan masa lalu yang tak lagi eksotik melainkan urban: penuh kabel listrik, antena parabola, dan pemuda-pemuda punk rock bergitar yang rambutnya  ajaib, yang cuma bisa memandang perempuan cantik menyetir Audi—boro-boro memacarinya, sementara di belakangnya menggeram-geram mobil tinja .

Betatapun,dunia absud ini masih menyediakan pepohonan bagi bajing tersebut. Jika tidak, mereka tak mungkin sembunyi dan beranak pinak di langit-langit rumah seperti tikus kan? Keluarga besar bajing itu masih meiliki dunia hutannya sendiri, meski hutan yang tentunya sudah jauh berbeda: ya, sebuah hutan urban.  Memang ada pohon, tiang listrik, dan macam-macam lagi—toh setiap pohon memang bermakna penting, karena pohon tidak lagi sekadar pohon, melainkan tempat burung-burung berdatangan, berkicau, bahkan kadang bersarang dan bertelur di situ.  Semut, serangga, ulat dan kupu-kupu yang berterbangan, jangan ditanya lagi—mungkin juga ular melingkar di dahan tanpa pernah mengganggu. Bukankah kehadiran bajing, yang melintasi kabel listrik melintang jalan pada suatu pagi itu, memang tidak mewakili dirinya sendiri, melainkan sebuah dunia dari kerajaan hewan yang memang sudah lama terdesak?

Jika diijinkan merumuskan sesuatu, ada suatu makna yang dapat diberikan oleh Homo Jakartensis terhadap pemahaman atas kota yang baru: bahwa kota ini tidak sekadar belantara tanda-tanda simbolik, melainkan bagai kembali kepada pengertiannya yang organik—tempat bajing, burung-burung, kelelawar, dan serangga bertahan hidup, yang bagi mereka tanda apapun tiada bermakna.
Sumber: Tabloid Djakarta No. 110, juli 2008.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 359 pengikut lainnya.