Metakomik Scott McCloud

Metakomik Scott McCloud

Seno Gumira Ajidarma

Metakomik adalah komik tentang komik. Dalam konteks perjuangan bahasa, metakomik tercapai dalam kurun waktu yang terlalu lama meskipun jika patokan kelahiran komik mengambil waktu yang paling muda, yakni 1896 (The Yellow Kid, Richard Felton Outcault), karena faktor determinan kehidupan komik lebih banyak membentuk praksis lahirnya karya komik, dan bukannya perbincangan teoretis tentang komik itu sendiri. Teori-teori komik berkembang terbatas karena sebagai gejala agaknya dianggap tidak terlalu layak diperbincangkan secara radikal, sebaliknya gejala tersebut menjadi argumen untuk menggawatkannya sebagai produk kebudayaan populer yang berbahaya bagi kanak-kanak.

Betapapun lemahnya argumen dalam buku seperti The Seduction of The Innocent (Fredric Wertham, 1954), yang antara lain seolah mengatakan bahwa kecenderungan homoseksual bisa didorong oleh ”pasangan” Batman dan Robin yang pakai cawat, ternyata ditelan tanpa periksa oleh para pendidik dan persatuan orangtua murid sehingga dari Amerika Serikat sampai Indonesia pembakaran serta razia komik bisa sungguh-sungguh terjadi. Mitos komik sebagai racun ideologis serta prestisenya yang rendah dalam wacana kebudayaan dominan menyebabkan berlangsungnya suatu kebutaan teoretis: meskipun fenomenal tetap saja tidak dikenali secara ilmiah sebagai bahasa, apakah itu bahasa komunikasi maupun bahasa seni, singkatnya sebagai representasi kebudayaan.

Kemudian, tentu saja banyak pembelaan, penelitian, pembuktian, bahkan dengan argumen yang seolah-olah tidak bisa lebih meyakinkan lagi. Di Indonesia, Arswendo Atmowiloto melakukan kampanye ideologis bertajuk Komik Itu Baik, dengan suatu seri laporan tentang komik Indonesia pada harian Kompas sepanjang tahun ’80-an, yang boleh dianggap berhasil menarik perhatian meski belum berhasil menumbuhkan kembali ”industri” komik Indonesia yang pernah begitu fenomenal, dan telah diteliti Marcel Bonneff pada 1973. Harap dicatat bahwa ”semacam teori” yang sebetulnya dimaksudkan sebagai teknik penggubahan komik, tetapi dengan begitu memunculkan segenap kemungkinan komik sebagai bentuk representasi, dalam konteks Amerika Serikat, baru muncul tahun 1985 melalui The Sequential Art karya pionir novel grafis Will Eisner.

Ini berarti komik selalu diungkapkan keunikannya melalui bahasa lain. Dalam hal Arswendo, laporan jurnalistik dengan ilustrasi sepanil (kotak segi empat tempat gambar berada) atau dua panil komik; dalam hal Eisner sebuah buku petunjuk, yang meski menunjuk cara berbahasa komik melalui banyak contoh gambar, pada dasarnya menggunakan bahasa literer sahaja. Dengan kata lain, jika komik memang memiliki keunikan berbahasa, hal itu tidak pernah diungkapkan melalui bahasa komik. Selalu seperti pinjam tangan media lain. Adalah Scott McCloud yang membuatnya terwujud, melalui tiga buku yang secara tuntas mengakhiri inferioritas bahasa komik dalam pergulatan antarwacana, yakni Understanding Comics (1993), Reinventing Comics (2000), dan Making Comics (2006). Dikatakan tuntas karena segenap perbincangan tentang komik ini berwujud komik, sebagai pembuktian segala daya bahasa komik.

Kosmologi komik

Salah satu tantangan berbahasa adalah bagaimana caranya menyampaikan pengertian- pengertian sulit. Dalam ketiga buku ini McCloud menggambarkan dirinya sendiri sebagai narator, yang sedang berbicara kepada pembaca dari kamar kerjanya, tetapi yang kemudian segera timbul tenggelam dalam dunia komik tersebut. Timbul tenggelam artinya suatu kali ia menjelaskan sesuatu di luar panil (terutama ketika membicarakan karya orang lain), kali lain ia berada dalam panil yang digubahnya—segalanya demi penjelasan untuk memahami bahasa komik. Untuk mengambil analogi dunia literer, ketiga komik ini bukan suatu fiksi, melainkan nonfiksi, tetapi kali ini tentang komik itu sendiri.

Dalam buku pertama, Understanding Comics, tampaknya McCloud memang memberikan kepada dirinya sendiri suatu tugas yang berat karena ia mencoba berteori tentang komik secara radikal, bukan sekadar sebagai bentuk, tetapi dalam pengertiannya yang abstrak. Pengungkapan atas pengertian absrak dengan kata-kata literer tentu sudah biasa, tetapi komik adalah media yang menempatkan kata-kata sebagai bagian dari gambar bukan? Tantangan bagi bahasa komik ini dijawab McCloud, bukan saja dari cara pengungkapannya sebagai komik, tetapi dengan cara pengungkapan itu ternyata ia ajukan tesis berbeda.

Jika bagi Eisner keberuntutan panil-panilnya merupakan dasar seni komik, bagi McCloud justru yang terletak di antara panil-panil itulah, yang tidak terlihat tetapi disimpulkan dalam kepala pembaca, yang disebutnya closure, merupakan dasar seni komik yang sebenarnya. Maka, jika bagi Eisner komik adalah seni keberuntutan (sequential art), yang disetujui McCloud, tetapi yang masih meneruskan perumusannya sebagai seni dari yang tidak terlihat (invisible art). Tentulah ini perbedaan persepsi terhadap materi yang sama. Eisner memandang dunia di dalam panil, McCloud memandang dunia tempat panil-panil berada. Sementara bagi Robert C Harvey dalam The Art of the Comic Book (1996), yang disebut closure tidak terdapat antarpanil, tetapi antara kata dan gambar. Artinya, dengan segala argumentasi dalam keunikan metakomiknya, tidaklah berarti segenap wacananya tentang komik menjadi lebih sahih daripada yang berargumentasi secara literer.

Betapapun, meski yang seperti ini selalu dianggap berlebihan, dengan sangat baiknya McCloud merujuk cara berbahasa manusia melalui keberuntutan gambar sejak ribuan tahun lalu, untuk menunjukkan relevansi penggunaan bahasa komik pada manusia kiwari. Dijabarkannya hubungan kata dengan gambar, bahwa huruf juga seperti gambar, yang begitu simboliknya sehingga menjadi terpisah dari gambar, tetapi yang bagi komik haruslah diantisipasi bukan hanya maknanya ketika menjadi kata, melainkan penggambarannya di dalam komik sebagai bentuk visual maupun representasi bunyi.

Penjabaran McCloud pada dasarnya berusaha menjelajahi kehidupan internal komik, mulai dari apa yang telah berlangsung sepanjang sejarah kebahasaannya, sampai yang mungkin digali dari kemungkinan berbahasanya, tersurat maupun tersirat. Penjelasan tentang proses transisi antarpanil, misalnya, boleh dianggap sebagai bagian dari tata bahasa komik, tetapi tata bahasa yang juga mampu melahirkan puisi. Bermula dari keberuntutan panil sebagai seni yang dimainkan komik, McCloud membahas garis dan bidang sampai kepada ruang dan waktu dalam komik, dengan aspek permainan semiotiknya, termasuk kata-kata, yang tidak terbatas. Dengan kata lain, McCloud memberikan kepada pembacanya suatu kosmologi komik, yang tentunya merupakan prestasi dua jurusan: sebagai pencapaian karya komik dan sebagai tesis filosofis tentang komik.

Komik dalam dunia virtual

Dalam buku kedua, Reinventing Comics, seperti dikatakannya sendiri, perbincangan beralih ke masalah eksternal. Jika yang pertama adalah dimensi abstrak dari komik, yang kedua ini adalah dimensi konkret, yakni melakukan evaluasi atas pertumbuhan komik, sebagai bentuk seni maupun industri, dalam abad XX. Tentu sebagai metakomik, kita masih melihat demonstrasi bahasa komik, melalui penceritaan atas pertumbuhan genre, yang ternyata tidak mandek, dan kenyataan bahwa dunia yang memasuki abad digital sangat amat mungkin mengembangkan komik—baik sebagai seni maupun industri. Melalui buku ini, McCloud menggali potensi komik, jika melepaskan diri dari ke-buku-annya, menjadi seni yang tak terbatasi oleh sirkulasi pemasaran tradisional karena, menurutnya, faktor fisik media cetak itulah yang menjadi kendala bagi pertumbuhan komik.

Pada masa depan, seni komik akan dan harus memasuki lingkungan hidup baru, yang bukan lagi lembaran kertas terjilid untuk dibuka ke kanan atau ke kiri, melainkan dunia virtual dengan segala potensi komputer sebagai sumbernya. Dalam media nonkertas itu, bukan sekadar ciri definitif komik seperti permainan kata dan gambar dalam seni keberturutan akan tetap bertahan, melainkan berkembang ke segala jurusan, sesuai dengan kekayaan komputer yang seolah mampu menerjemahkan segenap gagasan visual. Bahkan, juga jika gagasan itu berupa revolusi dalam seni komik karena halaman kertas sebagai meta-panel telah berganti layar komputer dengan segenap kemungkinannya.

Tentu ini merupakan antisipasi terhadap dunia ”membaca” dalam abad digital, yang bukan lagi berwujud mata terbuka dan tangan membalik halaman, melainkan mata terbuka sembari tangan bermain ”tikus” dan jari meng-”klik”, tempat pembaca menjadi pengembara dalam semesta virtual. Nah, komik akan memanfaatkan, menjadi alternatif, bahkan dapat menjadi semesta virtual tersebut, suatu dimensi yang tak akan dicapainya dengan lembaran kertas. Dua faktor utama yang memungkinkan hal itu, menurut McCloud, adalah hiperteks dan model spasial—keduanya akan menjadi pilar komik-jaringan (webcomics), yang bukan khayalan, karena McCloud melalui metakomik ini dapat meng-gambar-kan bagaimana semua itu akan berlangsung secara rinci. Apa boleh buat, ini membuat komik-kertas bagaikan sangat amat ”primitif”.

Kemanusiaan komik

Demikianlah setelah menjadi teoretisi dan filsuf dalam Understanding Comics, menjadi peneliti pasar dan pemikir futuristik dalam Reinventing Comics, dalam buku ketiga, Making Comics, sepertinya McCloud ingin menjadi seniman lagi. Tentu tidaklah aneh jika ia mengulang lagi sejumlah pernyataan pada buku pertama karena membongkar tentang bagaimana seni menjadi seni, betapapun adalah pembongkaran tentang bahasa. Seni adalah bahasa eksklusif, semakin eksklusif semakin ”nyeni” dia, tetapi yang pada prinsipnya harus menjadi inklusif, yakni mungkin dikenali dari segala arah tanpa harus mengandalkan pengetahuan eksklusif tentang seni itu sendiri.

Dalam hal ini McCloud menekankan seni komik sebagai seni bercerita. Jadi suatu ”sastra gambar”, seperti dibongkarnya dalam perbincangan tentang komik, manga (”komik Jepang”), dan novel grafis—ketiganya tetap saja komik, hanyalah gaya dan ideologi yang membedakannya. Namun, jika dalam Understanding Comics ia membongkar bahasa komik dalam posisi pengamat, dalam Making Comics ia membongkar seni berbahasanya sebagai pembuat komik. Maka, sangat mengesankan caranya memperkenalkan bukan sekadar dari segi teknis, melainkan ”kemanusiaan” komik sebagai bahasa komunikasi itu sendiri. Adapun sisi manusiawi ini ditunjukkan dari berbagai aspek di balik yang visual maupun literer, maupun kombinasinya, yakni totalitasnya dalam menyentuh ”rasa”.

Ini tidak mudah karena banyaknya wacana teknis yang mesti diterjemahkannya sebagai aspek mental, sampai kepada titik dan garisnya, tetapi justru di sanalah ke-metakomik-an karya ini bekerja: gamblang sebagai penjelasan, sekaligus menarik sebagai komik. Pada dasarnya McCloud memperkenalkan cara membuat komik, bukan dengan mengajari teknik menggambar, melainkan dengan memperkenalkan bagaimana komik telah dibuat dalam berbagai genre. Artinya, McCloud memperkenalkan berbagai macam idiom, tidak untuk dicontoh, tetapi agar setiap (calon) penggubah komik mengetahui atau menentukan tempatnya sendiri dalam peta bumi komik dunia. Maka, buku ini bukan sekadar berguna bagi pembuat komik karena membuat pembaca komik berpengetahuan dan dengan begitu lebih bermodal dalam menghargai komik.

Dalam hal manga, harus dicatat betapa McCloud pun mengakuinya sebagai dunia tersendiri, dengan segala wacana yang meski sangat menarik dan membuka jalan, tetaplah masih berposisi pinggiran dari sudut pandang komik mainstream. Padahal, jika sudut pandang di balik, atau misalnya diletakkan dalam konteks pasar Indonesia, justru manga itulah yang merupakan arus besar, dan komik yang disebut mainstream hanyalah berposisi di pinggiran. McCloud sendiri menyebut fenomena manga sebagai Efek Madagaskar, dari nama pulau yang flora dan faunanya tidak ada di tempat lain, begitu pula dengan manga di Jepang, yang berkembang dengan percabangan luar biasa semenjak Osamu Tezuka, tetapi hanya berkutat di dalam negeri Jepang. Jenis manga yang dominan dalam dunia kreatif komik Indonesia, misalnya, hanya bagian amat sangat kecil dari lautan genre komik Jepang yang terlalu kaya.

Tiada yang baik dan benar

Secara keseluruhan, ketiga metakomik Scott McCloud menunjukkan bagaimana bahasa berproses dalam konteks media. Bahasa tidaklah tersedia secara siap pakai seperti tesaurus raksasa atau buku besar tata bahasa, bahasa itu diproses dalam praksis, termasuk dalam eksplorasi kreatifnya, tumbuh setiap saat bersama pembebanan makna kepadanya. Tidak ada bahasa ”yang baik dan benar” dalam arti yang sama selamanya. Seperti komik, bahkan hak hidupnya pun pernah ditolak dan dibasmi bagaikan penyakit menular dengan pembakaran, tetapi akhirnya meraih martabat dalam prosesnya, berkat perjuangan ideologis yang mewujud dalam pembahasaannya.

Sebagai gerakan politik, komik diproklamasikan sebagai seni kesembilan pada tahun 1957, tetapi baru menjelang seratus tahun, melalui Understanding Comics pada 1993, bahasa komik sungguh terkukuhkan kesahihannya, untuk pertama kalinya dengan bahasanya sendiri, yakni melalui sebuah metakomik.

SENO GUMIRA AJIDARMA, Wartawan

KOMPAS Senin, 8 September 2008 http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/08/01085825/metakomik.scott.mccloud

pantun melayu: Keindahan dan Perlawanan

pantun melayu

Keindahan dan Perlawanan

Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Kanon keindahan adalah mitos, yang dilahirkan oleh suatu konotasi ideologis, yang dari waktu ke waktu telah terus-menerus disempurnakan, sehingga menjadi tonggak dalam sejarah sastra yang tidak bisa dihapuskan lagi—dengan suatu dampak sosial, bahwa bentuknya kemudian menjadi standar keindahan. Bagi para penulis yang telanjur beriman kepada suatu keyakinan atas standar tertentu, di dalam standar itulah terdapat ”substansi” atawa ”esensi” sastra, yang secara metaforik sering disebut sebagai ”roh”.

Dampak sosial kepada para penulis ini kemudian berkonsekuensi dengan semakin canggih dan sempurnanya konstruksi estetik tertentu, yang sudah jelas mendapatkan kemuliaannya dalam kesepakatan sebagai apa yang disebut ”sastra”.

Sebagai ilustrasi perbincangan, izinkanlah saya mengambil contoh kasus pantun Melayu. Di Indonesia, cara menulis sajak yang bersanjak itu, yakni pola dua larik pertama sampiran, dua larik kedua ”isi”, dengan akhiran bunyi tiap larik yang ”harmonis” dalam berbagai variasinya (a-b-a-b, a-a-b-b, a-b-b-a) telah mengalami puncak kecanggihannya pula dalam sastra modern, seperti ditunjukkan oleh karya-karya Roestam Effendi dan kemudian Amir Hamzah. Bahwa pantun Melayu tradisional ini saya sebut modern dalam kasus Indonesia karena format sajak yang bersanjak, yakni yang bunyi dan iramanya ”sesuai aturan”, yang biasanya mengelus-elus sistem nilai komunal yang penuh ketundukan kepada ”peraturan” pula, mendadak jadi ungkapan protes sosial dari ”jiwa yang bebas”.

Dalam hal ”ilmu a-b-a-b” ini, meskipun Chairil Anwar yang (pernah) mengabaikan bentuknya, Sutardji Calzoum Bachri yang juga (pernah) bahkan melepaskan kata dari makna, dan Afrizal Malna yang ”memprosakan” bahkan ”me-nonfiksi-kan” puisi, boleh dibilang mengobrak-abrik dan menghancurkan pantun Melayu; tetap saja para penyair yang mengimaninya berhasil menjaga dan menyempurnakan ”pedoman” a-b-a-b ini, meski sudah tidak setia pada ”rumus” sampiran dan isi lagi.

Sajak-sajak yang ditulis Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, sampai Nirwan Dewanto, meski tidak dalam keseluruhan karyanya, pada dasarnya (masih) mengukuhkan standar estetik pantun Melayu yang mengutamakan tertib bentuk maupun bunyi itu.

Musikalitas

Pada akhirnya sastra adalah (tetap) masalah permainan atas musikalitasnya (baca: struktur dan bunyi) juga; karena jika tidak, mengapa sastra harus bisa disebut sastra, dan bukannya pengumuman atau berita? Namun selama ini hanyalah konstruksi para tukang kibul, dan bukan firman Tuhan, segenap standar estetik tidaklah akan pernah menjurus kepada suatu substansi maupun esensi.

Persoalannya, meskipun memang benar ”roh” dalam sastra dan seni apa pun hanyalah takhayul; tetapi adalah benar pula bahwa kecanggihan dan kesempurnaan pada presentasi dalam standar estetik tertentu, bagi siapa pun yang (terlalu) mengenal wacananya, akan terlihat seolah-olah sebagai pencapaian ”telah menangkap roh” Dewa Keindahan yang dipujanya itu.

Jadi memang tiada makna yang akan selalu berlaku tetap, universal dan abadi; yang ada hanyalah konstruksi standar estetik dalam konsensus sosial yang pada dasarnya akan terus-menerus selalu berubah. Bahkan makna adalah medan perjuangan berbagai konotasi ideologis, baik dalam penulisan maupun pembacaan atas tulisan tersebut. Bukankah kata yang sama akan mendapat makna berbeda dalam artikulasi wacana, konteks sosial historis, dan kepentingan politik kelompok yang berbeda pula? Jika artikulasi kata yang sama pun membuat makna bukan hanya berbeda, melainkan dimungkinkan bertentangan, maka apatah lagi jika seluruh gaya dan konstruksinya kemudian saling menjungkirbalikkan pula.

Bukan standar estetik, melainkan penafsiran atas makna yang membuat salah satu baris puisi Rendra dalam ”Sajak SLA” ini (masih) diterima sebagai ”sastra”.

Mengikuti peta bumi bahasa ”resmi”, baris seperti ini tempatnya adalah buku porno stensilan, yang bersama kata-kata seperti berak dan mengangkang, oleh pengamat sastra Indonesia, A Teeuw, disebut sebagai antipuisi; tetapi adalah konteks sosial historis, wacana, dan kepentingan politik berbeda yang justru menempatkan kalimat itu sahih sebagai bagian dari buku Potret Pembangunan dalam Puisi, yang merupakan ujung tombak ”sastra perlawanan”.

Sejak tahun 1978, sampai dua puluh tahun kemudian, ketika Wiji Thukul yang masih hilang sampai sekarang, ikut menyumbang dalam pergerakan reformasi dengan satu baris bertuah: hanya ada satu kata: lawan!, sebenarnyalah estetika atawa filsafat keindahan yang mendasari sajak-sajak Rendra maupun Wiji Thukul itu masih selalu dipertanyakan. Orang mempertanyakan bukan karena tidak mengerti, melainkan tidak sepakat, bahwa sastra ternyata juga bisa dan perlu melayani kebutuhan praktis, seperti pengumuman dan berita, sehingga tidak menjadi sastra yang ”murni” lagi.

Masalahnya, hari gini, siapa itu yang belum melihat terangnya matahari, masih bicara tentang murni dan asli, substansi dan esensi?

Seno Gumira Ajidarma Wartawan

sumber: KOMPAS Minggu, 31 Januari 2010

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/31/03343323/keindahan.dan.perlawanan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 339 pengikut lainnya.