Seno: Saya Hanya Ingin Mengembara

seno

Seno Gumira Ajidarma. Penyandang nama Jawa ini lahir di Boston, Amerika Serikat 19 Juni 1958. Ia memiliki tinggi badan di atas rata-rata orang Indonesia, perutnya sedikit buncit. Rambut gondrongnya mulai dipenuhi uban. Dari dulu sampai sekarang, jambang dan kumisnya tebal. Sorot matanya tajam, tapi terkesan cuwek. Tapi bukan ciri-ciri fisik yang membuat laki-laki anak Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo itu diperhitungkan di dunia kepenulisan, melainkan karya-karyanya.

Karya Seno bukan sekadar banyak dan menyentuh pelbagai ragam jenis tulisan, tapi juga selalu baru dan kreatif, dan oleh karena itu penerbit mencetak ulang karyanya, masyarakat mencarinya, mendiskusikannya serta menghargainya.

Seno menerima wawancara tiga kru Surah di mobil Avansa hitam yang joknya masih dibalut plastik. Seno nyupir sendiri, Dedik Priyanto duduk di sampingnya. Sementara Zakki Zulhazmi, M Sabqi, dan Hamzah Sahal, duduk di jok tengah. Bagian belakang mobil tampak penuh. Ada tas ransel, buku-buku, satu set CD Robert Johnson berjudul The Complete Recordings, sandal, sepatu, handuk, dan lain-lain.

Berikut ini sari wawancara yang berlangsung dua jam lebih, di sepanjang perjalanan dari Cikini hingga Kebon Jeruk. Kami menjadikan hujan deras dan macet saat itu sebagai teman, sehingga kami tetap ringan dan riang; wawancara, ketawa, wawancara, ketawa, sesekali berceloteh tentang motor polisi yang meraung-raung tak peduli, sesekali juga mengomentari bajaj yang cuwek.

Apa komentar Anda tentang sastra hari ini?

Saya itu tidak terlalu mengikuti.

Mengapa, Mas?

Enggaklah. Perhatian saya di yang lain. Saya kan bukan ahli sastra. Kalau ahli sastra itu bacasemua. Saya bukan. Ya, bebas saya..hahaha..

Apa yang sedang digeluti?

Apa saja, suka-suka.

Dalam sebuah wawancara, Anda katakan tidak ada sastra yang adiluhung. Bagaimana maksudnya?

Iya. Sastra saja tidak ada kok. Kenapa harus namanya sastra? Yang ada, tulisan semua itu boleh disebut sastra. Kenapa harus ada yang namanya sastra, dan ada yang bukan? Sudah kuno itu. Sastra dan bukan sastra itu nggak perlu ada. Kurang kerjaan itu.

Lalu disebut apa?

Sastra juga boleh, tapi ya tidak penting. Disebut tulisan juga boleh. Ya, kayak orang ngobrollah. Ngobrol boleh, tidak ngobrol juga tidak masalah. Sastra juga begitu.

Apa yang sedang Anda tulis sekarang?

Menamatkan Naga Bumi. Tapi dengan susah payah mengerjakannya. Ya seperti begini ini, macet, tidak ada waktu, dan lain sebagainya itu, yang harus disesuaikan. Harus a sosial dulu.

SGA tergolong penulis yang padat aktivitasnya. Mengajar di Institut Kesenian Jakarta, jadi pembicara di mana-mana, menulis untuk majalah, koran atau seminar, menulis novel dan skenario, melayani wawancara, dan tentu saja urusan keluarga. Tapi dia juga mengaku waktunya banyak habis di jalan, tapi juga tidak bisa menikmati suasana jalanan, tidak mampu cari makanan di tempat-tempat asyik di Jakarta, karena macet dan tidak aman.

“Saya suka sate kambing. Tapi tidak seperti Danarto yang mengejar warung sate di mana-mana. Saya cukup sate di sekitar TIM (Taman Ismail Marzuki, red.) saja. Kalau saya mengejar kabar warung sate andalan teman-teman, bisa gila saya..hahaha..,” ungkap Seno sambil terkekeh-kekeh.

Mas, omong-omong tentang dongeng atau cerita rakyat. Apa pendapat Anda tentang dongeng?

Cerita rakyat itu memang yang harus digali kembali. Itu kan harta karun yang disia-siakan. Harus banyak digali. Masih sangat sedikit. Kalau pun ada, itu cuma eksotis saja. Genit.

Yang tidak genit itu seperti apa?

Ya yang tidak genit, hahaha.. Tidak genit itu ya tidak disastra-sastrakan.

Seperti apa itu?

Ya, harus ditulis. Tidak disastra-sastrakan, tidak difilosofiskan, tidak diberat-beratkan. Itu namanya diberi beban.

Tapi “Mengirim Senja” lama-lama juga jadi dongeng ya?

Hahaha.. Ya, silakan. Semoga bahagia, hahaha..

Dari semua karya Anda, mana paling disukai, Mas?

Semua karyaku itu adalah anakku.

Ada anak kesayangan?

Enggak. Semua anakku. Bapak yang adil menyayangi semua, yang bagus yang jelek memang ada, tapi semua anakku, hahaha..

Tentang creative writing, menurut Anda, metode yang paling pas bagaimana?

Pakai musik. Suruh dengarkan musik. Lalu suruh nulis. itu saja. Musiknya yang bagus-baguslah, yang merangsang orang. Kecuali dia budeg, baik budeg artistik atau budeg fisik, hahaha..

Lagunya biasanya apa mas? Jazz? Tarling?

Wah, tak terumuskan musik apa. Dengarkan yang dapat memantik. Terus mereka suruh menulis. Ya terus mereka saya kasih PR. Baca buku, bikin esai tentang buku-buku itu. Tak kasih yang berat-beratlah. Ya, nggak berat sih, tapi dengan baca itu mereka akan mengenal sesuatu.

Bukunya apa?

Misalnya buku Kata-kata karya Jean Paul Sartre. Itu kan hanya terdiri dari 2 bab. Bab pertama membaca, bab 2 menulis. Ketika itu sendirinya menjadi urusan mereka, bukan? Ya, bacalah.

Buku berjudul Kata-kata (2000) adalah karya terjemahan Jean Couteau. Edisi bahasa Indonesia tersebut diterbitkan Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Forum Jakarta-Paris. Les Mots, judul aslinya, merupakan otobiografi Jean-Paul Satre (1964). Dunia yang digeluti filosof Prancis ini, seperti sastra, drama, bahasa, keluarganya, dan lika-liku hidupnya ditulis dengan apik dan reflektif.

Satre yang bernama lengkap Jean-Paul Sartre Charles Aymard lahir di Paris, 21 Juni 1905 di Paris. Ayahnya, Polytechnique, meninggal saat Satre berumur 15 bulan. Ia melahirkan banyak karya di bidang filsafat, sastra, drama, dan lain-lain. Satre mendapat Nobel Sastra (Nobel Prize in Literature) tahun 1964. Tapi dunia terhenyak, karena ia menolak hadiah paling bergengsi di dunia kepengarangan ini. Ia merasa yang pantas menerima nobel itu Pablo Neruda, penyair Komunis dari Chile, bukan dirinya. Konon, Satre juga tidak mau karyanya dibaca orang karena mendapatkan nobel. Satre meninggal 15 April 1980. 50 ribu orang berdiri di jalanan untuk menghormatinya, menghormati karya-karya seorang anak yatim itu.

seno gumira

Seno Gumira Ajidarma banyak mendapatkan penghargaan di bidang satra, di antaranya SEA Write Award tahun 1987, Dinny O’Hearn Prize for Literary tahun 1997, Khatulistiwa Literary Award tahun tahun 2005. Dua cerpennya, Pelajaran Mengarang (1993) dan Cinta Di atas Perahu Cadik menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas. Tahun 2012 ia mendapat Ahmad Bakrie Award, tapi menolaknya.

Menulis itu bebas ya, Mas?

Iya. Itu saya tidak mengarahkan ke sastra. Apa aja. Akhir dari kelas saya di IKJ, bikin buku atau tulisan apapun, ataurannya 5000 kata. Itu ada yang bikin buku judulnya Cara-cara Mengebom Kantor Gubernur, hahaha..

Oh ya itu lengkap ada gambarnya, petanya. Gubernur ini, DKI ini. Ya, ini kreatif. Belajar di internet semua. Tugas akhirnya itu. Bebas.

Itu dapat nilai apa? Hahaha..

Dapat A dong, hahaha.. Itu, yang penting kreatif. Malah bagus pun nggak penting. Yang penting kreatif. Banyak juga yang hebat, tapi nggak pingin jadi penulis. Ya, mereka jadi orang film. Ada itu, 90 terus nilainya. Top markotop itu. jadi ya dia jadi orang film. Dia kepinteren saja.

Kalau antara komik, film, musik dan sastra, lebih suka yang mana?

Suka semuanya. Makanan juga suka, sate kambing juga. Apalagi dingin begini.

Di mana itu mas? Kasih rekomendasilah kita, hahaha..

Di TIM itu. Di Ma’ruf itu. Paling enak sedunia itu. Nanti kalau Kalian ambil motor di TIM, coba saja itu. Sate kambingnya, soto juga.

Umar Kayam begitu juga?

Iya. Nyari dia. Padahal nggak sehat lagi makanan itu, hahaha..

Mas Seno tiap hari masih menulis?

Enggak juga. Sekarang itu ya, waktunya ini loh yang berat. Nulis yang kita mau maksudnya. Sekarang ini kan menulis itu tidak kayak seniman dan itu kehilangan juga rasanya. Sekarang itu karena kepentingan. Makalah, misalnya. Ini yang tanpa kepentingan.

Apa yang Anda pikirkan ketika macet begini?

Ya banyak. Kolom-kolom Djakarta itu kan lahirnya dari macet begini. Buku Kentut Kosmpolitan itu dari sini. Artikel saya Bakpao itu juga sama.

Kalau film yang bagus, apa nih mas buat pelatihan menulis.

Berbagi Suami dari Nia Dinata itu bagus. Yang baru ya Life of Pi karya Ang Lee.

Kalau silat tetap Kho Ping Ho?

Saya itu kok baru ngeh kalau Kho Ping Ho itu tidak terlalu bagus ya. Saya kira silat SH. Mintardja. Itu lain. Bacalah itu.

Sebagai seorang penulis, Anda sudah selesai urusan semuanya, termasuk dianggap mampu berada di puncak. Lalu, apa yang ingin Anda raih selanjutnya?

“Saya tidak ingin apa-apa. Saya hanya ingin mengembara.”

 

  Seno Gumira Ajidarma  
  Judul Tahun Jenis  
1 Mati Mati Mati 1975 Puisi  
2 Bayi Mati 1978 Puisi  
3 Catatan-catatan Mira Sato 1978 Puisi  
4 Saksi Mata 1987 Kumpulan Cerpen  
5 Manusia Kamar 1988 Kumpulan Cerpen  
6 Pelajaran Mengarang 1993 Kumpulan Cerpen  
7 Penembak Misterius 1993 Kumpulan Cerpen  
8 Saksi Mata l994 Kumpulan cerpen  
9 Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi 1995 Kumpulan cerpen  
10 Sebuah Pertanyaan untuk Cinta 1996 Kumpulan cerpen  
11 Iblis Tidak Pernah Mati 1999 Kumpulan cerpen  
12 Atas Nama Malam 1999 Kumpulan cerpen  
13 Negeri Kabut 1999 Kumpulan cerpen  
14 Kematian Donny Osmond 2001 Kumpulan cerpen  
15 Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian 2004 Kumpulan cerpen  
16 Linguage 2007 Kumpulan cerpen  
17 Jazz, Parfum dan Iinsiden 1996 novel  
18 Wisanggeni Sang Buronan 2000 Novel  
19 Negeri Senja 2003 Novel  
20 Biola Tak Berdawai 2004 Novel  
21 Kitab Omong Kosong 2004 Novel  
22 Kalathida 2007 novel  
23 Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara 1997 nonfiksi  
24 Layar Kata 2000 nonfiksi  
25 Kisah Mata 2002 nonfiksi  
26 Surat dari Palmerah 2002 nonfiksi  
27 Sembilan Wali dan Siti Jenar 2007 nonfiksi  
28 Mengapa Kau Culik Anak Kami? 2001 nonfiksi  
29 Sukab Intel Melayu 2002 Komik  
30 Jakarta 2039 2001 Komik  
31 Taxi Blues 2001 Komik  
32 Nagabumi 2007 – sekarang Cerita bersambung