[Membaca Kembali] DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI oleh SGA

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

 Pada saat yang sudah ditentukan, Pak RT datang ke tempat itu.

“Sabar Pak, sebentar lagi,” kata hansip.

”Waktunya selalu tepat pak, tak pernah meleset, ” sambung warga yang lain.

Pak RT manggut-manggut dengan bijak. Ia melihat arloji.

”Masih satu menit lagi,” ujarnya.

Satu menit segera lewat. Terdengar derit pintu kamar mandi. Serentak orang-orang yang mengiringi Pak RT mengarahkan telinganya ke lobang angin, seperti mengarahkan antena parabola ke Amerika seraya mengacungkan telunjuk di depan mulut.

”Ssssstttt!”

Pak RT melihat wajah-wajah yang bergairah, bagaikan siap dan tak sabar lagi mengikuti permainan yang seolah-olah paling mengasyikkan di dunia.

Lantas segalanya jadi begitu hening. Bunyi pintu yang ditutup terdengar jelas. Begitu pula bunyi resluiting itu, bunyi gesekan kain-kain busana itu, dendang-dendang kecil itu, yang jelas suara wanita. Lantas byar-byur-byar-byur. Wanita itu rupa-ruapnya mandi dengan dahsyat sekali. Bunyi gayung menghajar bak mandi terdengar mantab dan penuh semangat.

Namun yang dinanti-natikan Pak RT bukan itu. Bukan pula bunyi gesekan sabun ke tubuh yang basah, yang sangat terbuka untuk ditafsirkan sebebas-bebasnya. Yang ditunggu Pak RT adalah suara wanita itu. Dan memang dendang kecil itu segera menjadi nyanyian yang mungkin tidak terlalu merdu tapi ternyata merangsang khayalan menggairahkan. Suara wanita itu serak-serak basah, entah apa pula yang dibayangkan orang-orang di balik tembok dengan suara yang serak-serak basah itu. Wajah mereka seperti orang lupa dengan keadaan sekelilingnya. Agaknya nyanyian wanita itu telah menciptakan sebuah dunia di kepala mereka dan mereka sungguh-sungguh senang berada disana.

Hanya hansip yang masih sadar.

”Benar kan Pak?”

Pak RT tertegun. Suara wanita itu sangat merangsang dan menimbulkan daya khayal yang meyakinkan seperti kenyataan.

Pak RT memejamkan mata. Memang segera tergambar suatu keadaan yang

mendebarkan. Bunyi air mengguyur badan jelas hanya mengarah tubuh yang telanjang. Bunyi sabun menggosok kulit boleh ditafsirkan untuk suatu bentuk tubuh yang sempurna. Dan akhirnya ya suara serak-serak basah itu, segera saja membayangkan suatu bentuk bibir, suatu gerakan mulut, leher yang jenjang, dan tenggorokan yang panjang—astaga, pikir Pak RT,

alangkah sensualnya, alangkah erotisnya, alangkah sexy!

Ketika Pak RT membuka mata, keningnya sudah berkeringat. Dengan terkejut

dilihatnya warga masyarakat yang tenggelam dalam ekstase itu mengalami orgasme.

”Aaaaaaahhhhh!”

Dalam perjalanan pulang, hansip memberondongnya dengan pertanyaan.

”Betul kan pak, suaranya sexy sekali ?”

”Ya.”

“Betul kan Pak, suaranya menimbulkan imajinasi yang tidak-tidak?”

”Ya.”

”Betul kan Pak nyanyian di kamar mandi itu meresahkan masyarakat?”

”Boleh jadi.”

”Lho, ini sudah bukan boleh jadi lagi Pak, sudah terjadi! Apa kejadian kemarin belum

cukup?”

***

Kemarin sore, ibu-ibu warga sepanjang gang itu memang memenuhi rumahnya.

Mereka mengadu kepada Pak RT, bahwa semenjak terdengar nyanyian dari kamar mandi rumah Ibu Saleha pada jam-jam tertentu, kebahagiaan rumah tangga warga sepanjang gang itu terganggu.

”Kok Bisa?” Pak RT bertanya.

”Aduh, Pak RT belum dengar sendiri sih! Suaranya sexy sekali!”

”Saya bilang sexy sekali, bukan hanya sexy. Kalau mendengar suaranya, orang langsung membayangkan adegan-adegan erotis Pak!”

”Sampai begitu?”

”Ya, sampai begitu! Bapak kan tahu sendiri, suaranya yang serak-serak basah itu disebabkan karena apa!”

”Karena apa? Saya tidak tahu.”

”Karena sering di pakai dong!”

”Dipakai makan maksudnya?”

”Pak RT ini bagaimana sih? Makanya jangan terlalu sibuk mengurusi kampung. Sesekali nonton BF kek, untuk selingan supaya tahu dunia luar.”

”Saya, Ketua RT, harus nonton BF, apa hubungannya?”

”Supaya Pak RT tahu, kenapa suara yang serak-serak basah itu sangat berbahaya untuk stabilitas sepanjang gang ini. Apa Pak RT tidak tahu apa yang dimaksud dengan adegan-adegan erotis? Apa Pak RT tidak tahu dampaknya bagi kehidupan keluarga? Apa Pak RT selama ini buta kalau hampir semua suami di gang ini menjadi dingin di tempat tidur?

Masak gara-gara nyanyian seorang wanita yang indekos di tempat ibu Saleha, kehidupan seksual warga masyarakat harus terganggu? Sampai kapan semua ini berlangsung? Kami ibu-ibu sepanjang gang ini sudah sepakat, dia harus diusir!”

”Lho, lho, lho, sabar dulu. Semuanya harus dibicarakan baik-baik. Dengan

musyawarah, dengan mufakat, jangan main hakim sendiri. Dia kan tidak membuat kesalahan apa-apa? Dia hanya menyanyi di kamar mandi. Yang salah adalah imajinasi suami ibu-ibu sendiri, kenapa harus membayangkan adegan-adegan erotis? Banyak penyanyi jazz suaranya serak-serak basah, tidak menimbulkan masalah. Padahal lagu-lagunya tersebar ke seluruh

dunia.”

”Ooo itu lain sekali Pak. Mereka tidak menyanyikannya di kamar mandi dengan iringan bunyi jebar-jebur. Tidak ada bunyi retsluiting, tidak ada bunyi sabun menggosok kulit, tidak ada bunyi karet celana dalam. Nyanyian di kamar mandi yang ini berbahaya, karena ada unsur telanjangnya Pak! Porno! Pokoknya kalau Pak RT tidak mengambil tindakan, kami sendiri yang akan beramai-ramai melabraknya!”

Pak RT yang diserang dari segala penjuru mulai kewalahan. Ia telah menjelaskan bahwa wanita itu hanya menyanyi di kamar mandi, dan itu tidak bisa di sebut kesalahan, apalagi melanggar hukum. Namun ia tak bisa menghindari kenyataan bahwa ibu-ibu di sepanjang gang itu resah karena suami mereka menjadi dingin di tempat tidur. Ia tidak habis

pikir, bagaimana suara yang serak-serak basah bisa membuat orang berkhayal begitu rupa, sehingga mempengaruhi kehidupan seksual sepasang suami istri. Apakah yang terjadi dengan kenyataan sehingga seseorang bisa bercinta dengan imajinasi? Yang juga membuatnya bingung, kenapa para suami ini bisa mempunyai imajinasi yang sama?

”Pasti ada yang salah dengan sistem imajinasi kita,” pikirnya.

Sekarang setelah mendengar sendiri suara yang serak-serak basah itu, Pak RT mesti mengakui suara itu memang bisa dianggap sexy dengan gambaran umum mengenai suara yang sexy. Meski begitu pak RT juga tahu bahwa seseorang tidak harus membayangkan pergumulan di ranjang mendengar nyanyian dari kamar mandi itu, walaupun ditambah dengan bunyi byar-byur-byar-byur, serta klst-klst-klst bunyi sabun menggosok kulit.

Karenanya, Pak RT berkeputusan tidak akan mengusir wanita itu, melainkan

mengimbaunya agar jangan menyanyi di kamar mandi, demi kepentingan orang banyak.

Ditemani Ibu Saleha yang juga sudah tahu duduk perkaranya, Pak RT menghadapi wanita itu. Seorang wanita muda yang tidak begitu cantik tapi juga tidak tergolong jelek. Seorang wanita muda yang hidup dengan sangat teratur. Pergi kantor dan pulang ke rumah pada waktu yang tepat. Bangun tidur pada jam yang telah di tentukan. Makan dan membaca buku pada saat

yang selalu sama. Begitu pula ketika ia harus mandi, sambil menyanyi dengan suara serak-serak basah.

”Jadi suara saya terdengar sepanjang gang di belakang rumah?”

”Betul, Zus”

”Dan ibu-ibu meminta saya agar tidak menyanyi supaya suami mereka tidak

berpikir yang bukan-bukan?”

”Ya, kira-kira begitu Zus.”

”Jadi, selama ini ternyata para suami di sepanjang gang di belakang rumah membayangkan tubuh saya telanjang ketika mandi, dan membayangkan bagaimana seandainya saya bergumul dengan mereka di ranjang, begitu?”

Pak RT sudah begitu malu. Saling memandang dengan Ibu Saleha yang wajahnya pun sama-sama sudah merah padam. Wanita yang parasnya polos itu membasahi bibirnya dengan lidah. Mulutnya yang lebar bagaikan mengandung tenaga yang begitu dahsyat untuk memamah apa saja di depannya.

Pak RT melirik wanita itu dan terkesiap melihat wajah itu tersenyum penuh rasa maklum. Ia tidak menunggu jawaban Pak RT.

”Baiklah Pak RT, Saya usahakan untuk tidak menyanyi di kamar mandi,” ujarnya dengan suara yang serak-serak basah itu, ”akan saya usahakan agar mulut saya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, supaya para suami tidak membayangkan diri mereka bergumul dengan saya, sehingga mengganggu kehidupan seksual keluarga sepanjang gang ini”.

”Aduh, terimakasih banyak Zus. Harap maklum Zus, saya cuma tidak ingin

masyarakat menjadi resah.”

Begitulah semenjak itu, tak terdengar lagi nyanyian bersuara serak-serak basah dari kamar mandi di ujung gang itu. Pak RT merasa lega. ”Semuanya akan berjalan lancar,” pikirnya. Kadang-kadang ia berpapasan dengan wanita yang penuh pengertian itu. Masih terbayang di benak Pak RT betapa lidah wanita itu bergerak-gerak membasahi bibirnya yang sungguh-sungguh merah.

***

Namun Pak RT rupanya masih harus bekerja keras. Pada suatu sore hansip

melapor.

”Kaum Ibu sepanjang gang ternyata masih resah Pak.”

”Ada apa lagi? Wanita itu sudah tidak menyanyi lagi kan?”

”Betul Pak, tapi menurut laporan ibu-ibu kepada saya, setiap kali mendengar bunyi jebar-jebur dari kamar mandi itu, para suami membayangkan suaranya yang serak-serak basah. Dan karena membayangkan suaranya yang serak-serak basah yang sexy, lagi-lagi mereka membayangkan pergumulan di ranjang dengan wanita itu Pak. Akibatnya, kehidupan seksual warga kampung sepanjang gang ini masih belum harmonis. Para ibu mengeluh suami-suami mereka masih dingin ditempat tidur, Pak!”

”Jangan-jangan khayalan para ibu tentang isi kepala suami mereka sendiri juga berlebihan! Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu juga membayangkan yang tidak-tidak meski hanya mendengar jebar-jebur orang mandi saja?”

Hansip itu tersenyum malu.

”Saya belum kawin, Pak.”

”Aku tahu, maksudku kamu membayangkan adegan-adegan erotis atau tidak kalau mendengar dia mandi?”

”Ehm! Ehm!”

”Apa itu Ehm-Ehm?”

”Iya, Pak”

”Nah, begitu dong terus terang. Jadi Ibu-ibu maunya apa?”

”Mereka ingin minta wanita itu diusir Pak.”

Terbayang di mata Pak RT wajah ibu-ibu sepanjang gang itu. Wajah wanita-wanita yang sepanjang hari memakai daster, sibuk bergunjing, dan selalu ada gulungan keriting rambut di kepalanya. Wanita-wanita yang selalu menggendong anak dan kalau teriak-teriak tidak kira-kira kerasnya, seperti di sawah saja. Wanita-wanita yang tidak tahu cara hidup lain

selain mencuci baju dan berharap-harap suatu hari bisa membeli meubel yang besar-besar untuk ruang tamu mereka yang sempit.

”Tidak mungkin, wanita itu tidak bersalah. Bahkan melarangnya nyanyi saja sudah keterlaluan.”

”Tapi imajinasi porno itu tidak bisa dibendung Pak.”

“Bukan salah wanita itu dong! Salahnya sendiri kenapa mesti membayangkan yang tidak-tidak? Apa tidak ada pekerjaan lain?”

“Salah atau tidak, menurut Ibu-ibu adalah wanita itu penyebabnya Pak.

Ibu-ibu tidak mau tahu. Mereka menganggab bunyi jebar-jebur itu masih mengingatkan bahwa itu selalu diiringi nyanyian bersuara serak-serak basah yang sexy, sehingga para suami masih membayangkan suatu pergumulan di ranjang yang seru.”

Pak RT memijit-mijit keningnya.

”Terlalu,” batinnya, ”pikiran sendiri ke mana-mana, orang lain disalahkan.”

Pengalamannya yang panjang sebagai ketua RT membuatnya hafal, segala sesuatu bisa disebut kebenaran hanya jika dianut orang banyak. Sudah berapa maling digebuk sampai mati di kampung itu dan tak ada seorangpun yang dituntut ke pengadilan, karena dianggap memang sudah seharusnya.

”Begitulah Zus, ” Pak RT sudah berada di hadapan wanita itu lagi. ”Saya harap Zus berbesar hati menghadapi semua ini. Maklumlah orang kampung Zus, kalau sedang emosi semaunya sendiri.”

Wanita itu lagi-lagi tersenyum penuh pengertian. Lagi-lagi ia menjilati bibirnya sendiri sebelum bicara. “Sudahlah Pak, jangan dipikir, saya mau pindah ke kondominium saja, supaya tidak mengganggu orang lain.”

Maka hilanglah bunyi jebar-jebur pada jam yang sudah bisa dipastikan itu. Ibu-ibu yang sepanjang hari cuma mengenakan daster merasa puas, duri dalam daging telah pergi.

Selama ini alangkah tersiksanya mereka, karena ulah suami mereka yang menjadi dingin di tempat tidur, gara-gara membayangkan adegan ranjang seru dengan wanita bersuara serak-serak basah itu.

***

Pada suatu sore, di sebuah teras, sepasang suami istri bercakap-cakap.

”Biasanya jam segini dia mandi,” kata suaminya.

”Sudah. Jangan diingat-ingat” sahut istrinya cepat-cepat.

”Biasanya dia mandi dengan bunyi jebar-jebur dan menyanyi dengan suara serak-serak basah.”

”Sudahlah. Kok malah diingat-ingat sih?”

”Kalau dia menyanyi suaranya sexy sekali. Mulut wanita itu hebat sekali, bibirnya merah dan basah. Setiap kali mendengar bunyi sabun menggosok kulit aku tidak bisa tidak membayangkan tubuh yang begitu penuh dan berisi. Seandainya tubuh itu kupeluk dan kubanting ke tempat tidur. Seandainya ..”

Belum habis kalimat suami itu, ketika istrinya berteriak keras sekali, sehingga terdengar sepanjang gang.

”Tolongngngngng! Suami saya berkhayal lagi! Tolongngngngng!”

Ternyata teriakan itu bersambut. Dari setiap teras rumah, terdengar teriakan para ibu melolong-lolong.

”Tolongngngngng! Suami saya membayangkan adegan ranjang lagi dengan

wanita itu! Tolongngngngng!”

Suasana jadi geger. Hansip berlari kian kemari menenangkan Ibu-ibu. Rupa-

rupanya tanpa suara nyanyian dan bunyi byar-byur-byar-byur orang mandi, para suami tetap bisa membayangkan adegan ranjang dengan wanita bersuara serak-serak basah yang sexy itu. Sehingga bisa dipastikan kebahagiaan rumah tangga warga sepanjang gang itu akan terganggu.

Pak RT pusing tujuh keliling. Bagaimana caranya menertibkan imajinasi? Tapi sebagai Ketua RT yang berpengalaman, ia segera mengambil tindakan. Dalam rapat besar esok harinya ia memutuskan, agar di kampung itu didirikan fitness centre. Pak RT memutuskan bahwa di fitness centre itu akan diajarkan Senam Kebahagiaan Rumah Tangga yang wajib diikuti ibu-ibu, supaya bisa membahagiakan suaminya di tempat tidur. Pak RT juga sudah berpikir-pikir, pembukaan fitness center itu kelak, kalau bisa dihadiri Jane Fonda.

Kemudian, disepanjang gang itu juga berlaku peraturan baru:

DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI

Taman Manggu, 29 Desember 1990.

*) “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (1991), harian Suara Pembaruan, 1991. Dimuat kembali

dalam Lembaran Mastera, sisipan Horison, Dewan Sastera (Malaysia) dan Bahana (Brunei

Darussalam) untuk Majelis Sastra Asia Tenggara. Dokumentasi dari Horison No. 2/Januari, 2000.

Mayat Yang Mengambang Di Danau

Mayat Yang Mengambang Di Danau

 

Barnabas mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan, saat angin dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan, sangat amat pelan, nyaris seperti berbisik, menyampaikan segenap rahasia yang bagai tidak akan pernah terungkapkan.

Memang hanya langit, hanya langit itulah yang ditunggu-tunggu Barnabas, karena apabila kemudian ia menyelam di dekat batang-batang pohon ke bawah permukaan danau untuk menombak ikan, secercah cahaya pun cukuplah untuk melihat segala sesuatu yang bergerak, hanya bergerak, tiada lain selain bergerak, ketika hanya dengan sudut matanya pun ia tahu mana bukan ikan gabus mana bukan ikan merah. Ya, tangannya hanya akan bergerak menombak secepat kilat bagaikan tak menunggu perintah otak, apabila kedua jenis ikan itu lewat meski melesat, berombongan maupun terpisah dan tersesat, yang mana pun takkan lepas dari sambaran tombaknya yang sebat.

Kacamata yang digunakannya untuk menyelam memang sudah terlalu tua dan agak kabur jika digunakan untuk melihat dalam keremangan, yang kali ini tampaknya masih akan bertahan cukup lama, karena langit mendung dan mega hitam bergumpal-gumpal. Dari dalam air, tanpa harus melirik ke permukaan, tahulah Barnabas hujan rintik telah menitik di seluruh permukaan danau. Namun apalah artinya hujan rintik-rintik bagi seseorang yang menyelam dan memburu ikan, bukan? Barnabas terus berenang di dalam air nyaris seperti ikan, memburu ikan, tanpa ikan-ikan itu harus tahu betapa jiwanya sedang terancam. Tentu ia mengenal ikan seperti mengenal dirinya sendiri.

Ikan-ikan tak berotak, pikirnya, pantaslah begitu mudah ditombak.

Namun Barnabas juga tahu, justru karena otak ikan sangat amat kecil, sehingga tidak mencukupi untuk berpikir, naluri ikan terhadap bahaya bekerja dengan kepekaan tinggi. Jadi Barnabas pun tetap harus menipunya. Makanya ia pun berenang seperti ikan, mengapung seperti kayu, menyelam seperti pemberat—dan sekali tangannya bergerak, memang harus melesatkan tombaknya lebih cepat dari bekerjanya naluri ikan. Ia telah memperhatikan, betapa ikan dalam rombongan akan lebih kurang berhati-hati daripada ikan yang berenang sendirian, mungkin karena merasa aman bersama banyak ikan, sehingga memang tak sadar bahaya mengancam.

Ikan yang terlepas dari rombongan dan kebingungan kadang lebih menarik perhatian Barnabas. Ia suka mengintai dan mengincarnya dengan hati-hati, kadang tanpa kentara memojokkannya, untuk pada saat yang tepat menombaknya tanpa ikan itu sempat mengelak.

Ikan merah artinya ikan gabus merah, sedap jika dibakar. Ikan gabus artinya ikan khahabei, besarnya bisa sebesar betis, persembahan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan, tak kalah sedap digoreng, tetapi Barnabas beranggapan minyak goreng bukanlah bagian dari kehidupannya, karena memang tak pernah membelinya. Bahkan Barnabas tak pernah lagi makan ikan yang diburunya itu. Jika langit yang keungu-unguan itu telah menjadi lebih terang, setidaknya dua puluh sampai tiga puluh ikan yang bernasib malang di tangannya sudah tergantung di salah satu tiang dermaga. Jumlah yang cukup guna menyambung hidup untuk sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, tak penting benar berapa lama, karena Barnabas setiap harinya menyelam jua—kecuali, tentu kecuali, pada hari Minggu, karena pada hari itu Barnabas beribadah.

Pada hari apa pun ikan-ikan tidak beribadah, pikirnya lagi, jadi ke manakah mereka pergi hari ini?

Bukanlah karena hujan maka ikan-ikan tidak terlihat, mungkin juga tiada sebab apa pun selain sedang berombongan mencari makan di tempat lain dengan moncongnya yang tak habis bergerak memamah-mamah. Namun tetap saja Barnabas merasa jengkel karena ini membuatnya terpaksa memburu ikan lebih lama. Ia memang tak suka memasang bubu dan tak juga suka memasang jala seperti banyak orang lainnya di pulau-pulau di dalam danau, karena memasang bubu bukanlah berburu dan memasang jala juga bukanlah berburu, sedangkan ia hanya ingin jadi pemburu ikan dan tiada lain selain berburu ikan seperti yang selama ini dianggapnya sebagai panggilan.

Ada orang ingin jadi pendeta, pikirnya pula, aku ingin jadi pemburu ikan.

Dari masa kecil diketahuinya orang-orang menyelam tanpa kacamata dan bahkan bisa mendapatkan ikan lebih banyak darinya sekarang. Mungkinkah air danau dahulu tidak seperti air danau sekarang? Lebih jernih karena memang lebih bersih dan mata penyelam tak harus menjadi pedas meskipun menyelam berlama-lama?

Barnabas tentu ingat betapa pada masa lalu di danau itu segala sesuatunya tidaklah sama dengan sekarang.

Dulu tidak ada raungan Johnson, pikir Barnabas, karena perahu bolotu tidak bermesin tempel. Dari pulau ke pulau, atau dari pulau ke daratan, orang-orang menggunakan bolotu yang hanya perlu didayung. Kadang penumpang bantu mendayung, tetapi tanpa bantuan penumpang pun, perjalanan dari pulau kecil yang satu ke pulau kecil lain di dalam danau yang dikelilingi perbukitan itu tetap bisa berlangsung, tanpa peduli apakah itu cepat ataukah lambat karena memang tiada waktu yang terlalu tepat maupun terlambat. Langit dan bumi bersenyawa tanpa peduli detak arloji—dan Barnabas lebih suka menjadi bagian langit maupun bagian bumi daripada arloji.

Maka tiada yang dikhawatirkan Barnabas jika pagi ini ikan-ikan seperti bersembunyi. Langit memang gelapnya agak lebih lama karena mendung dan hujan dan tentu saja ini harus dianggap biasa saja, begitu biasa, bagaikan tiada lagi yang lebih biasa, dan sungguh Barnabas sama sekali tiada keberatan karenanya.

Aku sabar menunggumu ikan, batinnya, setiap orang harus cukup bersabar menantikan makhluk yang akan menyerahkan jiwa hari ini demi kelanjutan hidup pembunuhnya. Apalah artinya menahan lapar sejenak untuk hidup lebih lama? Nikmatilah hidupmu yang amat sementara itu ikan, karena pada akhirnya aku akan membawamu ke pasar dan pedagang ikan akan segera memajang dirimu di meja kayu murahan, tempat koki restoran di tepi danau itu akan menunjukmu, membelimu, membuang sisik dan isi perutmu, lantas menggorengmu bagi santapan para wisatawan yang akan membuang tulang-tulang dan kepalamu untuk menjadi rebutan ikan-ikan emas di kolam yang tak tahu menahu betapa cepat atau lambat mereka juga segera akan jadi santapan dan tulang-tulang serta kepalanya juga akan dilempar sebagai pertunjukan kebuasan dunia yang tampaknya justru meningkatkan selera makan.

Barnabas tiba-tiba teringat, Klemen anaknya, yang putus sekolah teologia, pernah mengucapkan suatu kata yang tak dimengertinya.

”Homo homini lupus….”

Saat itu Barnabas memang bertanya, apa maknanya Klemen tidak melanjutkan sekolah untuk menjadi pendeta, menyia-nyiakan tabungan hasil berpuluh-puluh tahun berburu ikan. Di negeri danau, tempat setiap bukit berpuncak salib, menjadi pendeta adalah kehidupan terpuji.

Namun inilah jawaban Klemen anak tunggalnya itu, yang pada suatu hari tiba-tiba saja muncul kembali dari balik kabut di atas danau sambil mendayung bolotu, meninggalkan sekolah di kota untuk selama-lamanya.

”Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi….”

Selama tinggal di rumah mereka, tempat kecipak air danau selalu terdengar dari bawah lantai papan dari malam ke malam, Klemen tampak sering tepekur. Ibunya sudah lama meninggal karena cacing pita dan mereka hanya hidup berdua saja, sampai Klemen pergi ke kota, atas restu pendeta, untuk belajar menjadi pendeta.

”Kampus tempat belajar agama pun diobrak-abrik tentara,” katanya, ”benarkah sudah cukup kita hanya berdoa?”

Barnabas bukan tak mendengar orang-orang berbicara dengan nada rendah tentang penembakan dan kerusuhan di berbagai tempat lainnya. Klemen pernah membacakan pesan pada benda kecil yang sering digunakannya pula untuk bicara.

Aku masih di hongyeb, beberapa hongibi, dan syidos tahu persis siapa pelaku penembakan di gidinya, bekas nyahongyeb Dadbdedsya katanya punya data nama-nama pelaku penembakan. Mereka adalah (self-censorship oleh pengarang) yang menyamar sebagai pasukan sagangrod Tjhitgosoe ede dede nyalabi, seragamnya sama dengan sagangrod ini, senjatanya yang beda. Ini informasi A1, tapi kudu hati-hati, kami media tinggal tunggu siapa otoritas yang berani sebut siapa mereka. Jangan percaya omongan para petinggi munafik….

Barnabas sungguh tak mengerti apa yang harus dikatakannya. Negerinya hanyalah sebatas danau dengan tiga puluhan pulau yang dikelilingi tebing serba terjal dan meliuk berteluk-teluk itu. Ia tidak pernah tahu dan tidak butuh apa pun yang lain selain cakrawala negeri danaunya itu, yang telah memberikan kepadanya mega-mega terindah di langit biru, bukit-bukit menghijau, dan kedalaman di balik permukaan danau tempatnya memburu ikan-ikan yang baginya merupakan segala dunia yang lebih dari cukup. Ditambah khotbah para pendeta yang menyejukkan setiap akhir pekan dan pesta rakyat dari segenap pulau setiap tahun, itu semua sudah lebih dari apa pun yang bisa dimintanya.

Namun Barnabas merasakan perubahan yang terjadi belakangan ini, bahwa pendeta yang tidak bicara tentang kemerdekaan gerejanya akan sepi.

***

Hujan tampak menderas dan ketika Barnabas mengambil napas di permukaan danau memang sepanjang mata memandang hanyalah dunia yang kelabu karena tirai hujan dengan latar belakang bayangan punggung perbukitan di kejauhan.

Perutnya terasa agak lapar tetapi tenaganya sama sekali belum berkurang. Ia bisa membawa ikatan dua puluh sampai tiga puluh ekor ikan ke pasar, tetapi jika hanya membawa sepuluh atau lima belas pun tidak ada yang harus disesalinya sama sekali. Bahkan jika ikan yang ditombaknya cukup besar—dan ikan-ikan terbesar suka menyendiri—maka seekor atau dua ekor pun justru akan dibayar lebih tinggi daripada sepuluh ikan yang biasa.

Ya, ikan-ikan tak tahu kapan akan mati, batin Barnabas, tetapi pagi ini tampaknya belum ada yang akan mati. Setidaknya di dekat permukaan ini.

Maka Barnabas menyelam, menyelam, dan menyelam semakin dalam, ke tempat ikan besar biasanya menyendiri.

Namun gagasan tentang ikan besar yang menyendiri ini, yang memisahkan dirinya secara alamiah karena tak dapat lagi berombongan ke sana kemari dengan ikan-ikan kecil meskipun dari jenisnya sendiri, mengingatkan Barnabas kepada dirinya. Sedikit pemburu di antara penjala dan pemasang bubu, dan di antara pemburu yang biasanya bekerja siang atau malam, hanyalah Barnabas yang selalu bekerja tepat menjelang fajar merekah—jelas membuatnya berbeda, keberbedaan yang mungkin menurun kepada Klemen. Memang banyak hal tak dimengertinya pula dari gagasan-gagasan Klemen, apalagi ketika ia bicara tentang pernyataan untuk merdeka….

Manusia kadang masih seperti ikan, pikirnya, tak dapat bercampur baur dan hanya nyaman dengan golongan sejenisnya.

Di danau itu telah dimasukkan ikan dari tempat asing, seperti ikan gabus Toraja, yang ternyata lebih suka memakan telur ikan gabus asli dari danau itu maupun ikan-ikan lainnya. Ikan gabus asli yang disebut khahabei itu harus dicari para penyelam di bagian danau terdalam. Sedangkan ikan lohan yang juga asing di danau itu, tak hanya memakan telur-telur ikan gabus, anak-anak ikan gabus, dan ikan-ikan kecil lain, tetapi juga udang dan jengkerik . Maka ikan-ikan asli lain seperti ikan seli, ikan gete-gete besar dan kecil, ikan gastor, ikan gabus merah, ikan gabus hitam yang dahulu berlimpah kini hanya tertangkap dalam jumlah sedang; yang masih banyak tinggal ikan-ikan hewu atau ikan pelangi, tetapi ikan kehilo semakin susah dicari, mungkin karena makin jauh bersembunyi, mungkin juga memang tinggal sedikit sekali. Tempat mereka telah diisi ikan-ikan asing yang disebut ikan mata merah, ikan tambakan, ikan sepat siam, ikan nila, ikan nilem, dan ikan mas. Barnabas tahu benar, dahulu setidaknya terdapat dua puluh sembilan jenis ikan, termasuk ikan laut yang masuk dari muara sungai di sebelah timur, dan sekarang hanya enam belas jenis, itu pun tinggal sembilan jenis yang asli.

Ikan makan ikan, apakah manusia tidak memakan manusia? Barnabas tidak terlalu peduli apakah ia pernah menjawab pertanyaannya sendiri.

Sudah beberapa hari Klemen menghilang. Tetangganya menyampaikan kadang ada orang datang bertanya-tanya tentang Klemen—bukan, mereka bukan sesama penduduk di negeri danau yang saling mengenal sejak dilahirkan. Perahu bolotu yang digunakan Klemen juga masih di tempatnya, ketika beberapa malam lalu mendadak terdengar deru perahu Johnson di kejauhan pada tengah malam. Penduduk yang masih terjaga saling berpandangan. Mereka yang terbiasa menyendiri memang harus menghadapi segala sesuatunya sendirian.

Barnabas menyelam makin dalam, bahkan sampai menyentuh lumpur di dasar danau. Seekor ikan khahabei besar yang waspada berkelebat, mengepulkan lumpur yang segera saja menutupi pandangan. Barnabas tidak dapat melihat apa pun. Cahaya yang sejak pagi tidak pernah lebih terang dari kekelabuan dalam hujan, di dasar danau ini tak dapat juga memperlihatkan sesuatu kepada Barnabas.

Namun di antara kepulan lumpur pekat Barnabas merasakan sesuatu datang dari dasar danau dan ia segera menghindarinya. Tak urung, sesuatu yang mengambang karena gerakan ikan khahabei itu telah melepaskan keterikatannya dari akar-akaran di dasar danau, menyentuh tubuhnya juga dalam perjalanan ke permukaan danau.

Ia terkesiap dan melepaskan dirinya dari kepulan lumpur, melesat dan menyusul sesuatu yang segera jelas merupakan sesosok mayat. Dari balik kacamata selamnya yang buram, matanya terpaku kepada sosok itu, yang perlahan tetapi pasti menuju ke atas sampai mengapung di permukaan danau. Dengan cahaya yang sedikit lebih baik daripada di dasar danau, meskipun tidak terlalu jelas, Barnabas dapat memastikan bahwa tangan dan kaki mayat itu terikat, dan pengikatnya adalah robekan bendera bergaris biru putih, sedangkan mulutnya disumpal dengan kain merah.

Di permukaan itu hujan bukan semakin mereda tetapi menderas. Angin keras menyapu seluruh permukaan danau, sehingga air hujan yang turun dari langit tersibak bagaikan tirai raksasa yang melambai-lambai. Di antara deru angin yang menarik-narik daun pohon nyiur di semua pulau, terdengarlah jeritan panjang dari tengah danau.

”Klemeeeeeeeennnn!”

Jayapura, 12-14 November 2011

*)cerpen Kompas, 8 Januari 2012

PRING RE-KE-TEG GUNUNG GAMPING AMBROL

PRING RE-KE-TEG GUNUNG GAMPING AMBROL

Seno Gumira Ajidarma

Ribuan orangbaik-baik telah berkumpul di atas bukit, siap menyerbu perkampungan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, yang terletak di tepi sebuah sungai yang mengalir dan berkelok dengan tenang, begitu tenang, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih tenang, yang memantulkan cahaya kemerah-merahan membara di langit meskipun matahari sudah terbenam.

Ribuan, barangkali lebih dari sepuluhribu, sebut saja beribu-ribu orang baik-baik telah siap dengan segenap senjata tajam, parang-golok-kelewang, tombak, linggis, pentungan besi, rantai, alu, kayu, maupun badik yang lekuk liku dan geriginya jelas dibuat agar ketika ditusukkan mampu menembus perut dengan mulus, dan ketika ditarik keluar membawa serta seluruh isi perut itu tanpa dapat dibatalkan.

Beribu-ribu orang baik-baik, tiada satu pun tiada membawa senjata, tampak sangat amat siap menggebuk dan menyabet, mencincang dan membantai, memenggal dan menyembelih, bagai tiada tujuan lain dalam hidup ini selain melakukan pembunuhan dan tiada lain selain pembunuhan. Orang baik-baik yang sebelumnya tampak sebagai orang-orang yang selalu ketakutan, karena memang penakut dan pengecut jika sendirian,
mendadak bagai kerasukan setan ketika melebur dalam jumlah ribuan.

Terdengar dentang parang saling diadukan seperti tiada sabar lagi untuk ditetakkan, suara kelewang diasah pada batu basah demi jaminan betapa darah pasti akan tersemburkan, semua orang sibuk dengan alat-alat pembunuhan, senjata tajam maupun senjata tumpul, yang telah disahihkan untuk memberlangsungkan pembinasaan.

Sebentar lagi, tepat pada saat hari menjadi gelap, telah disepakati menjadi waktu penyerbuan.
”Jika mereka masih tidak mau menyerahkan pemerkosa itu,” kata seseorang sambil mengacungkan pentungan, “perkampungan itu harus dibakar.”

Disebutkan betapa anak perempuan Pak Carik telah diperkosa. Ia ditemukan terkapar di jalan keluar desa setelah hilang semalaman. Para penggali kapur yang berangkat pada pagi hari berembun segera membawanya kembali ke desa, yang segera saja menjadi gempar.
Mirah, kembang desa sederhana, tetapi yang justru karena itu layak dipuja, telah dihinakan begitu rupa sehingga nyaris takbisa menangis dan takbisa berbicara.

“Siapa mereka, Mirah? Siapa?”

Pak Lurah yang berkumis melintang tampak begitu berang, bertanya terus sambil memaksa, karena baginya penghinaan ini bukanlah hanya penistaan kepada seorang perawan umur 16 tahun yang diperkosa, melainkan juga penghinaan kepada desa. Pak Carik sendiri, ayah dari korban yang takbisa bersuara, kaku beku membisu seribu bahasa.

“Katakan Mirah, katakan! Supaya aku tidak membunuh sembarang manusia!”

Wajah Mirah sulit diceritakan, karena perasaan yang terbayang di wajahnya pun mustahil diterjemahkan. Namun cerita para penggali kapur tentang kain dan kebayanya yang koyak moyak dan centang perenang, tanpa harus bernoda darah segala, bagi orang-orang desa itu sudah lebih dari segala pengungkapan.

Sebetulnya belum jelas bagaimana Mirah bisa ditemukan terkapar pada pagi hari di tempat itu. Di desa terpencil seperti itu, anak gadis seperti Mirah pasti sudah berada di dalam rumah pada pukul enam sore. Untuk berada di sana, seseorang atau beberapa orang, harus menculiknya—dan pikiran semua orang memang Mirah itu pasti diculik, diperkosa di tengah jalan itu, lantas dibuang…

Tepatnya lebih baik begitu, supaya terdapat pihak yang bisa diganyang.

Tidak jelas juga mengapa kecurigaan dan kesalahan harus dialamatkan kepada perkampungan para pencuri. Namun beberapa saat lagi, ribuan orang yang merupakan gabungan duapuluh desa di sekitar pegunungan kapur itu sudah akan menyerbu perkampungan.

***

“Seandainya pun tidak ada peristiwa pemerkosaan ini, perkampungan candala[i] itu memang sudah lama harus dibakar,” kata Pak Lurah kepada Jagabaya yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa kata. Sebagai penjaga keamanan ia tahu diri betapa selama ini hanya menjadi tertawaan para pencuri, perampok, pembunuh, dan
pelacur yang menghuni perkampungan itu.

Jalan keluar itu memang terarah menuju perkampungan di bawah sebuah bukit kapur, tetapi penduduk desa tidak pernah menapakinya turun ke sana, melainkan percabangannya yang menuju ke atas, tempat mereka melinggis dinding-dinding di bukit kapur, dan mengumpulkan bongkahannya yang menggelinding. Batu-batu kapur yang putih kekuning-kuningan telah lama menjadi sumber kehidupan mereka, sampai mereka lupa sebelumnya orangtua mereka mendapatkan penghasilan darimana.

Di pegunungan kapur tidak ada sawah, jadi nenekmoyang mereka, bahkan sampai kepada orangtua mereka yang beberapa di antaranya masih hidup, tentu mempertahankan kehidupan dengan segala cara. Mulai dari berburu dan menjerat binatang, mencari ikan di sungai, dan sekadar berkebun di tengah hutan supaya ada yang bisa dimakan. Bagi mereka yang belum pernah melakukan perjalanan keluar desa, dijamin tidak pernah mengunyah nasi dan sudah cukup bahagia dengan ubi.

Ketika jalan aspal dibuat nun di balik pegunungan kapur, dan dari jalan aspal itu muncul sejumlah truk yang bersedia membeli dan mengangkut bongkahan batu-batu kapur, tidak kurang dari duapuluh desa sampai hari ini hidup dari penggalian kapur. Dalam waktu empatpuluh tahun wajah pegunungan itu sudah berubah. Apa yang semula tampak sebagai pegunungan dengan punggung bukit memanjang, separuhnya kini lebih
terlihat sebagai dinding-dinding tegak lurus dan jurang-jurang baru yang terbentuk karena penggalian. Maka jalan setapak bisa juga berarti jalan setapak dengan jurang dalam di sisi kiri dan kanan …

Pada jalan setapak seperti itulah Mirah ditemukan.

“Ini saat yang tepat untuk membasmi mereka,” ujar Pak Lurah berulang-ulang.

Dengan datangnya truk-truk pengangkut bongkahan batu kapur, sedikit demi sedikit datang pula orang-orang dari luar desa, yang jika tidak ikut menggali atau membuka warung makan bagi para pekerja, di antaranya ada pula yang menjadi perantara pembelian bongkahan batu-batu, membuka kios rokok dan shampoo untuk membersihkan rambut dari serbuk-serbuk kapur, dan sejumlah pekerjaan yang tidak begitu dipahami penduduk desa. Di antara pekerjaan itu antara lain menyewakan pengeras suara dan televisi untuk menyanyi-nyanyi. Adapun mereka yang menyewa pengeras suara dan televisi itu dilayani perempuan pekerja yang menyediakan minuman, ikut menyanyi, dan hampir selalu tersenyum dengan amat sangat manis sekali.

Senyuman itu juga dipermasalahkan penduduk desa, karena tidak dianggap sebagai senyum keramahan melainkan senyum rayuan.

“Senyum rayuan beracun!”
Kata orang-orang yang merasa wajib menjaga kesucian di setiap desa orang baik-baik.

Sebetulnya hanya para penggali kapur dari luar desa sajalah yang dalam kesepian dan keterasingan alam pegunungan kapur datang ke sana untuk melewatkan waktu. Namun pemandangan orang menyanyi dan tertawa-tawa rupanya memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi orang-orang yang merasa dirinya suci.

“Lagipula, siapa bilang penduduk desa suatu hari tidak akan pernah tergoda?”

Tentu saja senyum yang manis adalah senyum yang manis. Apalagi jika itu senyuman yang manis sekali. Manusia yang bermata dan berhati tidak akan terlalu keberatan, jika suatu ketika secara suka rela merasa lebih baik tergoda sahaja.

Mirah masih terpaku beku tanpa suara. Pandangan matanya sungguh tanpa makna, bagaikan mata itu terbuat dari kelereng layaknya. Sebetulnya tidak ada kesimpulan yang bisa diambil dari pandangan mata seperti itu. Namun tergeletaknya anak Pak Carik di jalan keluar desa yang mengarah ke perkampungan itu bagai telah menyimpulkan sesuatu.

Memang benar, apabila ada pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan, selalu saja kecurigaan terarah ke perkampungan itu. Memang benar pula betapa tiada pernah ada bukti, karena kambing yang lenyap dari kandang tak meninggalkan jejak, begal menyambar dan menghilang pada remang senja bagaikan bayangan, dan mayat korban selalu merupakan buangan dari desa takdikenal yang tidak pernah menunjuk langsung siapa pembunuhnya. Betapapun kali ini seperti terdapat kesepakatan tanpa perlu
peresmian, bahwa perkampungan itu sudah waktunya dimusnahkan, jika perlu bahkan
tanpa alasan!

Kebencian, ya kebencian yang tidak mungkin dicari alasannya, adalah satu-satunya alasan itu sendiri…

Orang-orang luar, orang-orang yang berbeda, orang-orang yang tidak mungkin sepenuhnya dimengerti, menimbulkan kebencian karena selalu tampak menyanyi dan tertawa-tawa.

Telah dikirimkan Jagabaya yang selalu gagal menjaga datangnya bahaya itu ke sana, dengan tugas meminta penyerahan sang pemerkosa.

Jagabaya itu, yang sejak awal sudah selalu ragu, pulang dengan tangan hampa.

“Apa kata mereka?”

Jagabaya pun menirukan jawaban kepala perkampungan di bawah sana.

“Pemerkosa? Tidak ada pemerkosa di kampung ini! Mungkin kami memang sebangsa candala, tetapi kami sama sekali tidak perlu memperkosa siapapun di luar kampung ini untuk mendapatkan cinta, karena di kampung ini cinta macam apapun setelah dibagi rata masih selalu bersisa. Tidakkah kalian sadari betapa semua perempuan memang pelacur di kampung ini? Dan perempuan kampung ini sudah jelas senyumannya manis sekali, baik kepada orang luar, apalagi kepada saudara candalanya sendiri! Tuduhan apalagi yang ingin ditimpakan kepada kami? Kami telah membuka warung makan dan kami telah membuka kios rokok maupun shampoo maupun sabun untuk membasuh debu-debu kapur, tetapi kalian rupanya lebih suka menganggap kami sebagai candala! Katakan kepada bangsamu, bangsa orang-orang yang menamakan dirinya orang baik-baik itu, kami tidak takut mati, karena apapun yang kami lakukan selalu kami pertanggungjawabkan dengan seluruh hidup kami!”

Dalam keremangan, tetap saja terasa betapa wajah Pak Lurah merah dan padam.

“Dasar bejad!”

Ia mengangkat pedangnya bagaikan Drestajumena bersiap memimpin balatentara Pandawa dalam Perang Bharatayudha. Langit yang tadi kemerah-merahan dan membara sekarang memang sudah gelap. Perlu waktu sehari penuh untuk berkeliling dari desa ke desa, meyakinkan setiap lurahnya untuk ikut membasmi kampung candala.

“Serbu!”

Maka ribuan orang baik-baik dari duapuluh desa yang mengelilingi bukit bersama lurahnya masing-masing segera menyerbu ke bawah dengan senjata di tangan. Mereka berlari dalam gelap sambil berteriak-teriak, sebagian besar untuk menutupi ketakutannya sendiri. Ada yang tersandung batu dan jatuh tertelungkup lantas mati terinjak ribuan penyerbu di belakangnya. Ada yang menahan lari karena takut mati tetapi
terseret dan terpaksa melaju ke depan jua. Ada pula yang menyerbu dengan semangat tekad bulat seolah-olah memang membela keadilan dan kebenaran, meski jika diamati jelas tidak menguasai cara bertempur sama sekali. Namun dalam kegelapan segala perbedaan hanya melebur dalam gelombang serbuan penuh amarah, karena berita yang tersebar dari mulut ke mulut bahwa Mirah putri Pak Carik telah diperkosa. Siapa lagi pelakunya jika bukan begundal dari kampung candala?

***

Syahdan, di perkampungan takbernama di tepi sungai yang mengalir dengan tenang dan berkelok yang selama ini dikenal sebagai kampung tempat bermukimnya para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, tampak semua orang dengan wajah sungguh-sungguh telah bersiap menyambut penyerbunya. Mereka tidak perlu berteriak-teriak dan
hanya dengan saling memandang telah sangat siaga. Jumlah mereka tidak sampai seratus orang, tetapi wajah mereka tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.

Nyaris tidak ada seorangpun yang memegang senjata karena apapun yang dipegangnya bisa menjadi senjata yang sangat berguna. Ada yang memegang batang kayu, ada yang memegang gagang sapu, dan ada pula yang cukup memegang sebatang lidi. Para pelacur yang senyumnya manis, begitu manis, bagaikan tiada lagi yang lebih manis, ada yang tampak mengebutkan selendang dan ada pula yang menggenggam ratusan jarum.

Tidakkah segenap orang baik-baik itu menyadari, betapa tindakan mereka itu seperti bunuh diri sahaja? Tidakkah mereka sadari, betapa para candala, jika memang candala, dan tiada lain selain candala, yang selalu terpinggirkan dari zaman ke zaman, tentulah jauh lebih siap menghadapi pertempuran terbuka daripada mereka, meskipun
dikeroyok orang baik-baik begitu banyaknya? Tidakkah telah sering mereka bicarakan juga, meskipun takpernah dan tiada akan pernah dengan bukti nyata, betapa para candala sebagai manusia memang digjaya dengan segala mantra sirep, tenung, teluh, kebal tubuh, dan setelah merapal ilmu halimunan bila perlu dapat menghilang bersama senja?

Tidakkah ribuan orang baik-baik yang menyerbu bagaikan air bah ke bawah menuju perkampungan candela di pegunungan kapur itu taksadar, setaksadartaksadarnya, betapa batang kayu, gagang sapu, dan sebatang lidi itu sekali digerakkan, sembari melenting-lenting di atas kepala, akan memakan korban jiwa, setidaknya ratusan dari mereka dalam seketika? Begitulah, ribuan orang baik-baik yang sedang berteriak-teriak sambil berlari-lari itu, betapapun tidaklah pernah membayangkan, bagaimana selendang
yang halus dan wangi itu akan dapat memecahkan kepala, dan betapa ratusan jarum dalam genggaman akan melesat seketika bagaikan bermata untuk mencabut ratusan nyawa.

Banjir darah akan membuat bukit kapur itu menjadi merah.

“Serbuuuuuuuuu!”

Teriakan membahana yang terdengar dari jauh itulah yang telah menggugah kembali kesadaran Mirah, sehingga matanya yang semula bagaikan kelereng itu kini tampak bersukma dan bibirnya bergetar seperti mau berbicara.

Namun, betapapun, segalanya sudah terlambat.

Sudah terlambat bagi Mirah untuk menyampaikan, bahwa yang telah menyambarnya ketika ia kembali dari sumur pada pagi buta, melarikannya ke jalan itu dan berusaha—ya, masih berusaha—memaksakan suatu kehendak yang tidak dipahaminya, tiada lain dan tiada bukan adalah anak Pak Lurah adanya…

Kampung Utan, Sabtu 1 Januari 2011. 23:23.

 

sumber: KOMPAS Minggu 5 Juni 2011

Dodolitdodolitdodolibret

Dodolitdodolitdodolibret

oleh: Seno Gumira Ajidarma

Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.
“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.
Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.
“Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, “karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”
Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.
Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.
Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.
“Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, “untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”
Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.
Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.
Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.
Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.
“Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.
Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.
“Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, “dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”
Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.
Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.
Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.
“Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya?

Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Danau seluas lautan,” pikirnya, “apalagi yang masih bisa kukatakan?”
Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.
Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.
“Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.
Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!
“Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, “mereka berdoa dengan cara yang salah.”
Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.
Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.
Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!
“Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.
Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.
“Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.
Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.
Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.
“Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.
Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.
“Guru! Lihat!”
Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!
Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?
Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.
“Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”

Ubud, Oktober 2009 / Kampung Utan, Agustus 2010.

*) Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.

Sumber: Kompas Minggu, 26 September 2010

Ibu yang Anaknya Diculik Itu

KOMPAS Minggu, 16 November 2008

Ibu yang Anaknya Diculik Itu

Seno Gumira Ajidarma

Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Pintu, jendela, televisi, telepon, perabotan, buku, cangkir teh, dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu, masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.

Telepon berdering. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Diangkatnya ke telinga. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Ketika disambarnya pula, deringnya sudah berhenti. Ibu bergumam.

”Hmmh. Ibu Saleha, ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku, seperti Saras itu punya dua ibu. Dulu almarhum Bapak suka sinis sama Ibu Saleha, karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya tidak bisa terus menerus menunggu Satria. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat simpati,’ kata Bapak. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran sama siapapun. ’Saya selalu teringat Satria, Ibu, saya tidak bisa’,” katanya.

”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria, sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini,’ kataku, ’tapi cinta adalah soal kata hati, Saras, karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan, nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah, Saras, memang rasanya ia seperti anakku juga. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu, rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini, membantu aku membereskan kamar Satria, seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…”

Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi, dan duduk lagi di situ. Ibu terdiam, melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. Lantas melihat ke sekeliling.

”Bapak… Kursi itu, meja itu, lukisan itu, ruangan ini, ruang dan waktu yang seperti ini, kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. Seperti ini juga keadaannya, bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali, dan kami masih seperti orang menunggu. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya, kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat, apa jadinya kalau harapan saja kita tidak punya…

”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Berharap dan menunggu. Berharap dan menunggu. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. ’Satria sudah mati,’ katanya!”

Ia menggigit bibir, berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis.

”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku, bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati.”

Ibu memandang ke arah kursi Bapak.

”Pak, Bapak, kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan,’ katamu. Nanti dulu, Pak. Menerima? Menerima? Baik. Aku terima Satria sudah mati sekarang. Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik, dianiaya, dan akhirnya dibunuh.”

Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali.

”Bapak sendiri yang bilang, ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas tutup matanya dibuka. Di hadapannya, orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto-foto di atas meja. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Foto orangtuanya, foto saudara-saudaranya. Lantas orang-orang itu berkata, ’Kami tahu siapa saja keluarga Saudara.’

”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita, suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua boleh kita terima begitu saja?”

Saat Ibu menghela nafas, ruangan itu bagaikan mendadak sunyi.

”Sudah sepuluh tahun. Satria sudah mati. Bapak sudah mati. Munir juga sudah mati.”

Dipandangnya kursi Bapak lagi. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini.

”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria, menata gelas dan piring, sekarang untuk kalian berdua, setiap waktu makan tiba, padahal aku selalu makan sendirian saja. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada lagi di muka bumi ini, tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau berpikiran seperti itu?”

Sejenak Ibu terdiam, hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar.

”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua, tetapi kalau terbangun, aku masih juga terkenang-kenang kalian berdua, dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah mati. Impian, kenangan, kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi.

Jiwa terasa memberat, tapi tubuh serasa melayang-layang…”

Lantas nada ucapannya berubah sama sekali, seperti Ibu berada di dunia yang lain.

”…. jauh, jauh, ke langit, mengembara dalam kekelaman semesta, bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah, meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab, menyatu dengan jiwa terluka, luka sayatan yang panjang dan dalam, seperti palung terpanjang dan terdalam, o palung-palung luka setiap jiwa, palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya membara, membara dan menyala-nyala, berkobar menantikan saat membakar dunia…”

Ibu mendadak berhenti bicara, berbisik tertahan, memegang kepalanya, menutupi wajahnya.

”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!”

Namun ia segera melepaskan tangannya.

”Tapi…. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya, jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu.”

Nada bicaranya menjadi dingin.

”Menculik anak orang dan membunuhnya. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?”

Hanya Ibu sendiri di ruangan itu, tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya, meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri.

”Bapak… aku yakin dia ada di sana, karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana; tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang, bahwa Satria tentu sudah tidak ada. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang dan bahagia hanya dengan akalnya, tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana perasaanku bisa membuatku yakin, jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? Ya, begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!”

Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu, tempat seolah-olah ada seseorang diajaknya bicara.

”Pak, Bapak, apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?”

Namun Ibu segera menoleh ke arah lain.

”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup, dan aku masih tidak tahu apa-apa. Hanya bertanya-tanya. Mencoba menjawab sendiri. Lantas bertanya-tanya lagi. Dulu aku bisa bertanya jawab dengan Bapak. Sekarang aku bertanya jawab sendiri….

”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu, ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu, bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?”

Terdengar dentang jam tua. Tidak jelas jam berapa, tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. Ibu masih berbicara sendiri, dan hanya didengarnya sendiri.

”Bapak, kadang aku seperti melihatnya di sana, di kursi itu, membaca koran, menonton televisi, memberi komentar tentang situasi negeri. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak itu, pakai kaos oblong dan sarung, menyeruput teh panas, makan pisang goreng yang disediakan Si Mbok, lantas ngomong tentang dunia. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal, menyusul Bapak, menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun…

”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria, malah seperti lupa, sampai setahun lamanya, sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu malam entah karena apa.

”Sudah sepuluh tahun, banyak yang sudah berubah, banyak juga yang tidak pernah berubah.”

Di luar rumah, tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga, tukang bakmi langganan Satria, lewat. Ibu tampak mengenali, tapi tidak memanggilnya.

”Bagiku Satria masih selalu ada. Tidak pernah ketemu lagi memang. Tapi selalu ada. Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari luar negeri, datang menengok cuma hari Lebaran. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham, satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan, kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin orang. ’Ya enggaklah kalau ngibul,’ kataku, ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Dasar Bapak. Ada saja yang dia omongin itu.

”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Susah rasanya mengingat-ingat apapun. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. Lupa ini-itu. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…”

Ibu tersenyum geli sendiri.

”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. Ia selalu bertanya, ’Seperti apa Satria kalau masih hidup sekarang?’, atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’, atau kadang-kadang keluar amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata, sembunyi-sembunyi pula!’

Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi.

”Bapak, kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini, bagaimana dia diperlakukan, dan apa sebenarnya yang telah terjadi.

”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. Muncul dong sekali-sekali Bapak. Duduk di kursi itu seperti biasanya.

”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak, bahkan juga dalam mimpi-mimpiku, tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. Hanya lewat, tanpa senyum, seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk.

”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria.

”Ceritakanlah semua rahasia….”

Ibu masih berbicara, kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan.

”Kursi itu tetap kosong. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya?

”Rahasia sejarah. Rahasia kehidupan.

”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu.

”Ini suatu aib, suatu kejahatan, yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar….

Telepon genggam Ibu berdering. Ibu seperti tersadar dari mimpi. Ibu beranjak mengambil telepon genggam.

”Pasti ibunya Saras lagi,” gumamnya.

Tapi rupanya bukan.

”Eh, malah Si Saras.”

Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga.

”Ya, hallo… “

Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras, telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut, seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum.

”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu.

”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden!”

 

Teriakan di Pagi Buta

Teriakan di Pagi Buta

 

Pada hari lebaran itu Mintuk melihat Ngatiyo pulang kampung. Alangkah gagahnya dia. Lihatlah jaketnya, rambutnya yang berkilauan dipotong pendek dan rapi seperti sobekan gambar majalah diwarungnya Sabar gandhul, celananya ketat dan melilit bermerek lepis.  Waduh waduh alangkah berbedanya ngatiyo sekarang menurut pemandangan Mintuk. Dulu Ngatiyo, temannya menggembala kerbau dan kambing gombal dua biji itu, cuma bercelana hitam komprang yang lusuh.. suatu hari ia lenyap. Kata pakliknya ia ke Jakarta. Ya, ya Jakarta. Seringkali mintuk mendengar nama kota itu di radio maupun televisinya pak lurah. Jakarta, jakarta …
Ngatiyo memang gagah sekarang. Juga tetap gagah meskipun ia tampak kepanasan di siang lebaran itu disekap jaketnya yang tebal. Lebih-lebih bila mintuk menatap kacamatanya, hebat sekali kacamata ngatiyo itu, hitam berkilat sampai sampai bisa dipakai untuk bercermin. Di buk selokan itu ngatiyo berkacak pinggang penuh kemenangan, sebelah kakinya terangkat keatas buk, dan tampaklah mintuk akan sepatu kulit yang ujungnya lancip dan panjangnya sampai lutut. Astaga ngatiyo, siapa nyana?
Dalam bis yang meluncur di kegelapan itu Mintuk tak bisa memicingkan mata. Mimpinya berkilauan sebelum tidur, makin tak bisa tidur ia. Teringat olehnya kata-kata ngatiyo.
”Datanglah ke jakarta, di sana duit banyak. Banyaaaak sekali.”
”Banyak? Kalau begitu gampang cari duit?”
”Ya, gampang. ”
”Bagaimana caranya?”
”Nah itu yang sulit”

Mintuk ingat kembali tape recorder yang ditetentang ngatiyo kemana-mana. Aku juga pengin seperti itu. Supaya bisa nyetel lagu-lagu diana nasution seuka hati, bisa sekerasnya, dan berkali-kali pula…. tiada lagi asmara seperti duluuuuu… ah, ia sudah membayangkan lagu itu akan dibolak-baliknya, samil mengenang surini yang kini telah bertransmigrasi ke lampung.
Pada hari lebaran yang kedua Mintuk minta pamit dan pangestu dari segenap sanak kadang di desanya. Ia sudah bertekad mau mengadu nasib di desanya. Ia sudah bertekad mau mengadu nasib di jakarta, tidak ada gunanya menjadi buruh tani didesa menggarap sawah orang lain. Orang harus berani mengambil keputusan untuk mennetukan jalan hidupnya, dan aku sudah memutuskan untuk pergi kejakarta. Ke Jakarta meninggalkan sawit, desa sunyi yang sudah tidak memberi harapan apa-apa lagi kepadanya. Meninggalkan ibunya yang tua dan saudara-saudaranya yang lebih suka terbengong-bengong dipinggir sungai menggembala itik, mending kalau kepunyaan sendiri. Aku akan pulang kelak dengan kacamata hitam, jaket, celana, sepatu, dan arloji seperti yang dipakai ngatiyo, aku harus membuktikan kalau aku mampu aku akan cari duit di Jakarta. Aku mau bekerja jadi… lha! Jadi apa? Kata ngatiyo kita bisa jadi apa saja. Ah, kalu begitu Jakarta memang surga, bayangkan, kita bisa jadi apa saja!

Orang-orang yang pulang kembali setelah berlebaran dikampungnya berjejal memenuhi setiap kendaraan  umum yang menuju Jakarta. Setiap orang punya harapan baru untuk menggaet kehidupan yang lebih baik. Dalam bis itulah, dan dalam bis yang lain, berjejal-jejal, berbondong-bondong, berduyun-duyun orang-orang bagai semut menuju madu kea rah Jakarta. Dikampung tak ada harapan untuk kemajuan, makin lama, makin melarat, kita harus berontak melawan nasib dan tidak nrimo saja. Kita tidak mau mati konyol atau menjadi gila nembang sendirian di pasar kliwon…

Malam bagaikan jubah hitam raksasa, dilangit tak ada bintang, di kiri kanan jalan sepi. Jalanan tak terlalu lengang. Bis-bis malam tak bisa memamerkan kebolehannya membalap, iring-iringan bis bagaikan gerbong kereta api yang jalan sendiri-sendiri dan saling menyalip dalam kesempatan pertama. Paling tidak sudah dua kali mintuk melihat bis terguling di pinggir jalan, yang satu nungging, moncongnya nyungsep kedalam lumpur sawah, satunya terbalik dan penyok-penyok. Pohon-pohon berlari kebelakang, inilah untuk pertama kalinya mintuk naik bis cepat, dalam jarak  yang jauh pula.  Biasanya ia memakai bis kacang kedelai dari sawit ke prambansari PP yang cuma berjarak 15 kilometer, tapi ditempuh dalam tiga jam saking buruk jalannya. Sepanjang malam bias cepat yang ditunggangi mintuk riuh dengan lagu-lagu cinta Diana Nasution kegemarannya … Bagaikan mimpi, hidupku, penuh penderitaan. Mintuk merasa dirinya melakukan tindakan yang besar dan penting saat itu.
Dalam kegelapan yang menegangkan itu Mintuk teringat Surini. Wah, sudah seperti apa dia sekarang? Katanya di Lampung mereka lumayan meskipun setiap saat siap ditubruk macan. Pakde ngatimin sudah dimakan simbah tiga bulan yang lalu. Orang lebih bilang suka bilang simbah alias nenek atau kakek kalau meneybut macan, takut dia tiba-tiba muncul. Surini, ah surini dimanakah kau surini? Mintuk ingat betul waktu kecil dulu Surini suka melagukan Ilir-ilir di tepi sungai. Surini sekarang sudah bergigi emas, kata dulcowek ketika lebaran yang lalu pulang. Surini tidak mau pakai kain kebaya lagi, ia sekarang pakai rok rambutnya dipotong pendek dan dikeriting pula, anting-antingnya bundar dan besar. Seperti itu lho, seperti Jipsi, kata Dulcowek lagi. Apa itu jipsi?  Mintuk tak tahu. Tak apa. Ia pasti tambah ayu. Adik mintuk yang di keriting juga tambah ayu. Surini pasti lebih ayu lagi. Tapi kenapa surini tak pernah kirim surat lagi? Mintuk tak tahu. Biar saja nanti aku susul ke Lampung kalau sudah punya uang. Sekarang ke jakarta dulu. Kata ngatiyo aku bisa jadi apa saja.
Sopir bus itu ngebut supaya kantuknya hilang, dari tadi bis ini terus menerus menyalip. Mintuk akhirnya tertidur juga, entah mimpi apa dia.

***

Pulogadung berisik dalam kegelapan dan dingin pagi. Ngadul, Pamuji dan Warno panen besar-besaran. Para penumpang dari Jawa tengah yang lelah dan kuyu disaput kantuk itu banyak yang tak menyadari bahwa harta mereka telah lenyap. Nagdul menag sudah ahli memainkan silet. Tas plastik, kantong blue-jean maupun koper murahan adalah makananya sehari-hari.  Ini memang kemahirannya sejak kecil dulu ikut-ikutan kakanya di Surabaya sana. Kalau penumpang itu sadar adayang tidak wajar, maka giliran pamuji untuk menyelesaikannya. Dengan badannya yang besar seperti herkules[1] dan kumis baplang Warok Suromenggolo[2] itu, dengan satu kali senyuman berdarah dingin, kederlah sudah hati para penumpang yang rata-rata ndeso itu. Yang sok jago pun tinggal disikat sekali pukul.
Namun kalo ada jago karate kesasar di Pulo Gadung dan melawan untuk berbagi nasib dengan komplotan ini, nah tiba giliran Warno untuk memberesi. Sebab meskipun pamuji berbadan kuli tapi hatinya kesut melawan korban yang berani. Beda dengan Warno yang halus seperti Damarwulan[3], tapi kalau sudah tidak sabar pisaunya langsung saja menancap ditubuh korban.
Pulo Gadung memang seperti kalajengking raksasa kalau pagi masih gelap. Bis bis yang ngebut itu kadang-kadang tiba terlalu pagi di Jakarta. Penumpang baru saja tidur setelah makan di restoran padang dekat Bumiayu. Ini semua sudah dipelajari Warno. Sungguh tepat pilihannya mengajak Ngadul dan pamuji. Korban-korban,  terutama yang datang sendirian dengan tenang di gertak, diancam dengan pisau yang menempel ditengkuk. Tak ada yang tahu, orang mengira itu semua  adegan haru setelah lama tak ketemu saudara. Seret ketempat gelap dan geledah.
”Gimana Dul, baik-baik semua?”
”Beres kang, kita masih bisa beroperasi sejam lagi, kawan-kawan sudah kukasih bagian semua.”
”Awas jangan ngawur dul, juga kamu ji, jangan kesusu, waktu masih panjang.”
”Beres Kang.”

Cukup satu saja korban dari setiap bis, mereka bisa hidup makan ayam goreng setiap hari. Juga bagi ngadul dan warno yang sudah berkeluarga. Warno mempunya istri asal dari Bandung, wanita baik-baik. Setahu istrinya itu warno adalah pegawai Bank disalah satu bank di Jakarta. Sedangkan istri Ngadul adalah bekas pelacur dari ancol yang kini buka warung di tanah abang , sesekali kalau keuangan lagi mepet istri ngadul ini masih melacur juga di Bongkaran. Tapi kepada istrinya ini Ngadul jujur mengaku bahwa profesinya copet dan bila perlu dan terpaksa bis ajuga jadi perampok alias garong atawa begal.
Dan lihatlah Ngadul ini mendemonstrasikan kemahirannya di muka pamuji yang Cuma bisa geleng-geleng kepala. Ngadul biasanya menabrak kerumunan penumpang yang baru saja turun kemruyuk itu, sambil sempoyongan kekiri dan ke kanan tangannya meraih dompet dari kantong celana seseorang, kemudian sambil meminta maaf ia menggunakan tubuh korbannya itu untuk menolakkan dirinya ke calon korban di belakannya.
”Eee minta maaf.
Sambil menghindar dari kerumunan itu tanganya sudah menggenggam kalung emas. Ini masih ditambaha dengan satu siletan jitu pada koper yang nongol dari pintu belakang bis, meskipun dari situ ia Cuma mendapat selembar BH yang segera dibuangnya sebelum menghilang.
Ngadul memang kadang-kadang melawak dalam menjalankan pekerjaannya. Lain dengan Warno yang serius. Warno memang anak guru di Tegal , sedang Ngadul anak pembuat peti mati di Malang, sementara pamuji tidak tahu betul siapa Ibu Bapaknya, ai hanya ikut seorang penjual dawet pasar klewer di solo yang  dipanggilnya bulik.
Siapa pula yang mengatur pertemuan tiga manusia dari tempat yang berlainan itu sampai bias kompak bahu-membahu? Mereka bertiga pun tak tahu. Bertiga mereka berjuang selama lima tahun terakhir ini. Hubungan mereka sudah seperti saudara.
Seleret langit merah mengambang dari sebelah timur. Pamuji menguap.
”Kita pulang saja kang,” katanya pada Warno, ”hampir pagi sekarang.”
”Tunggu, itu satu lagi,” sahut ngadul. Warno diam saja. Sebetulnya memang masih terlalu awal untuk berhenti kerja. Tapi mungkin pamuji terlalu ngantuk, sudah beberapa hari ini ia ngendong dirumah pacarnya, itu kembangnya pelacur kebon Sayur dipinggir kereta api. Warno melirik arlojinya, baru jam empat kurang seperempat.
Dan itulah bis satu lagi yang disebut ngadul. Seperti ayam masuk perangkap ular, bis itu berguncang memasuki stanplat. Mintuk mebuka matanya, inilah Jakarta, wah sudah sampai jakarta ya? Nah aku akan segera jadi orang, dapat uang uang dan bisa pulang memakai kaca mata hitam seperti Ngatiyo, juga tidak lupa beli sepatu Lars yangujungnya lancip. Oh surini, surini, tunggulah aku di lampung, nantikan aku, aku akan menjemputmu naik pesawat terbang!
Para penumpang berlompatan turun meskipun bis belum berhenti. Tapi mintuk tidak ikut-ikutan, ia menunggu dulu sampai bis benar-benar berhenti. Ia ingin turun dari bis dengan tenang. Tidak usah keburu. Sabar itu subur. Orang sabar kekasih Tuhan. Nah. Jadi ketika Mintuk turun, bis itu sudah kosong, tinggal supir dan kernetnya doang yang merasa  aneh melihat mintuk tersenyum pringas-pringis sendiri.
Bingun juga mintuk. Kemana sekarang? Ini sudah sampai di Jakarta lho! Ia ingin lekas-lekas bekerja dan dapat uang. Bintang-bintang dilangit sana masih sama saja dengan yang bertaburan di desanya. Kemana sekarang? Ya, kemana? Ah, sudah jalan saja dulu. Sambil menjinjing tas yang berisi pakaiannya ia mulai melangkah. Itu tampaknya seperti pintu keluar, orang-orang keluar dari sana. Tapi banyak yang tidur di stanplat itu, kenapa ya? Ah, aku tidak ada urusan, jalan saja dulu.
Banyak taksi diluar, apa itu taksi? Kata ngatiyo taksi itu seperti becak, tapi tidak oleh nawar. Wah, tidak punya duit, jalan kaki saja, toh sudah sampai Jakarta. Mintuk melihat seseorang mengikuti dari belakang. Ia ingin menunggunya, tapi orang itu malah berhenti. Mintuk melangkah terus. Ditempat gelap ia melihat seseorang yang tinggi besar. Tanpa curiga ia bertanya.
”Mas ini jalan masuk ke kota?”
”Huahahahaha, sampean mau kemana mas?Huahahaha,”
Pamuji tertawa ngakak, geli melihat calon korbannya tak sadar akan dimangsa.
”Saya mau ke Jakarta sini, sampeyan kenapa kok malah ketawa?”
”Ji, jangan buak waktu Ji” Warno memperingatkan dari kegelapan.
”Sudah, tidak usah banyak mulut, serahkan semua barang kamu dan semua uang kamu!” gertak Pamuji. Mintuk melangkah mundur, ia melihat ke belakang. Terlihat disana Ngadul berkalungkan clurit sambil berkacak pinggang.
”Mau lari kemana sampean? Sudah, serahkan semua sebelum kamu jadi mayat!”
”Waduh…” keluh Mintuk tak sadar.
”Ayo cepat! Sebelum aku kehilangan kesabaran!”
”Tapi saya tidak punya apa-apa,” rintih mintuk dengan gemetaran, baru sadar ia apa yang terjadi. Lututnya serasa mau copot, rasanya ia kecing di celana. Pamuji datang dengan marah. Ia menampar Mintuk. Merebut tas dan melemparkannya ke arah Warno.
”Cuma sedikit,” kata Warno setelah memeriksa, ”pasti masih ada dikantongnya.” Pamuji mengeluarkan pisau dari balik bajunya, emnimang nimang sambil mendekati mintuk. Tidak usah disuruh, Mintuk etlah merogoh kantong dan menyerahkan sisa uang yang dimintannya kian kemari dengan susah payah di desanya.
”ini juga sedikit,” kata Pamuji, ”Mlarat amat sih kamu? Dasar gembel”
”Gembel ya jangan dirampok,” Mintuk memberanikan diri untuk akrab, tapi Pamuji naik pitam.
”Eee, sialan kamu ya? Berani ngomong? Nih!” tendangan Pauji pun melayang ke ulu hati Mintuk yang langsung saja terguling kesakitan.
”Ambil semuanya,” tukas Warno lagi dari sebelah sana, agaknya komplotan ini seperti kawana anjing kurus yang melihat cap cay ditengah padang pasir, menjilat piringnya sampai tandas tanpa sisa seperti baru dicuci kembali.
”Buka!” bentak pamuji.
”Apanya?”
”Pakaianmu goblok!”
”Jangan, saya tidak punya apa-apa lagi,” hampir menangis Mintuk mengucapkan itu.
”Copot sekarang ayo! Cepat! Ato kamu ku…,” kata pamuji lagi sambil menggerakkan tangan seperti siap maju menggampar. Bagaikan terbang hati Mintuk melihat beringas muka pamuji yang brewok. Ya Allah, mbah buyut udeg-udeg gantung siwur, sial bener nasibku, sialan bener. Sambil membuka kancing bajunya Mintuk teringat Ngatiyo. Kacamatanya, minyak rambutnya, senyumnya.
”Celananya juga!”
”Celananya juga? Waduh mbok jangan Mas,” Mintuk menghiba-hiba. Tapi tiada ampun bagi mintuk. Ngadul mengacungkan cluritnya. Dan lemaslah mintuk. Ia teringat surini sekilas. Ah, kalau saja da tahu aku diblejeti begini. Mintuk melorotkan celananya seperti membuang semua cita-citanya. Astaga mintuk, siapa nyana? Dan ia teringat mata sayu simboknya.
”Lempar ke sini!” celana yang tidak begitu bagus itu dilemparnya ke Pauji.
”Sialan! Kamu kencing ya?” Pamuji melemparkan kembali celana itu kemuka mintuk. Mintuk merasakan sendiri basah kencing dicelannya itu, terasa dingin mengusap pipinya.
”Sialan bau kecing kamu itu, bau pete,” sambil mengusap punggung tanggan kiri ke celananya, pamuji mengomel ”tapi lumayan bisa diloakkan seribu perak.”
Pamuji menatap mituk. Dan dilihatnya seorang pemuda desa berkulit coklat dengan celana dalam bermerek crocodile berwarna hijau muda, ketakutan dan nampak merana sekali.
”cawetnya sekalian kang warno? Lumayan, mereknya krokodail.”
”Ndak usah, paling-paling basah juga, nanti malah jadi penyakit,” jawab Ngadul sambil berjalan memutari Mintuk. Susana tiba-tiba jadi hening, mereka sedang menikmati ketakutan mintuk yang papa. Mendadak Ngadul menempelkan celuritnya ke pipi Mintuk.
”He! Siapa namamu kunyuk?” tanya Ngadul.
”Mintuk,” jawab Mintuk perlahan.
”Siapa? Coba yang keras.”
”Mintuk.”
”Mintuk?” Ngadul mengulangi, dan mengulanginya lagi sambil berjalan menjauh.  Tiba-tiba Ngadul tertawa terbahak-bahak. Disusul Pamuji terpingkal-pingkal.
”Hahahahaha…. Huahahahahahahahahhihihihuhuhu…hahahahahuhuuuu.”
Mintuk bengong sendiri. Airmata menitik. Tiba-tiba dari ekgelapan Warno berteriak.
”Ji! Kamu lupa lagi ji!”
”Apa Kang?”
”Coba lihat, kamu lupa apa?” Tawa mereka terhenti. Pamuji meneliti Mintuk.
”Oh hiya, heh sialan kamu! Lepas sepatumu! Ayo! Cepat! Lepas sepatumu cepaaat!”
Sambil menangis terseguk tapi ditahan-tahan, mintuk melepas sepatunya yang buruk itu.
”Kaos kakimu juga, ayo cepat, sialan kamu!” Astaga, kaos kaki juga? Alangkah dinginnya tanah jakarta di telapak kaki Mintuk.
”Sudah, sekarang kamu minggat sana,” mintuk beranjak, pipinya basah, mulutnya melengkung buruk menahan tangis yang bisa jadi keras.
”Lari kamu sana! Ayo cepat! Lari! Lari! Yang cepat! Cepat! Ayo! Atau kulempar pisau kamu! Ayo cepat! Lari! Haiya! Haiyaaah!” Pamuji berteriak-teriak seperti menggebah angsa tolol.
Mintuk berlari tak bisa cepat.
“Ayo cepat sialan!”  Pisau pamuji mendesing lewat kupingnya dan menancap di pohon nangka. Ada pikiran untuk mempergunakannya.
“Ayo lari kamu, ayo!” datang Ngadul berlari sambil mengayunkan celuritnya. “Haiyya! Haiyyaaah!” dan larilah Mintuk seperti terbang.
Tak pernah Mintuk lari secepat ini, kakinya melesat bagaikan ia memliki ilmu Rase terbang di atas rumput[4]. Sambil beberapa jarak Ngadul masih menggebahnya, tapi kemudia berhenti karena tak sanggup menhan tawanya. Bertiga mereka ketawa sampai berkaparan di aspal tepi jalan.

***

Dan alangkah frustasinya mintuk. Ia lari terus tanpa bisa berhenti. Otaknya tak bisa menyuruh kakinya berhenti. Ia berlari terus. Berlari. Berlari. Maunya sampai hilang pedih dan perih. Peristiwa itu tak termakan olehnya. Ia tak bisa terima. Bagaikan gila rasa otak dan hatinya. Dan ia berlari terus sambil airmatanya terus berbuncah-buncah menyiprat kanan-kiri.
Pagi mengambang di atas kota jakarta, orang-orang masih tidur. Tapi cukup banyak orang yang lari-lari pagi. Dan mintuk pun memasuki jakarta menyalipi para pelari. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana perasaan mintuk. Dunianya goncang. Khayalannya hancur bagaikan hancurnya kenyataan itu sendiri. Ah, mintuk, mintuk yang malang.
Mintuk lari terus menyalipi para pelari.  Tak dilihatnya aspal mentereng dan gedung megah menjulang yang baru pertama kali itu diketahuinya. Airmata mengaburkan pandangannya. Dunia mengabur dan penyok-penyok di mata mintuk. Orang-orang dengan kagum melihat kecepatan larinya. Betul-betul seperti memiliki ilmu rase terbang di atas rumput, tak kalah dengan Gundala Putra Petir[5]. Dalam waktu singkat jalanan ajkarta telah dijelajahinya tanpa tahu kemana harus menuju. Ia lari terus, terus, terus, sampai ke Thamrin.
Di aspal jalanan itu mintuk mendesing, larinya tambah cepat melesat. Dan bagaikan pesawat terbang yang take-off meninggalkan landasan Mintuk tiba-tiba melayang seperti superman[6]. Betul-betul mintuk terbang melayang ke atas sepanjang thamrin dan menclok dengan lembut di atas tugu selamat datang.
Dan dipagi buta itu, para tamu yang menginap di hotel indonesia, hotel Mandari, hotel Sari Pasific, terbangun oleh suatu teriakan Tarzan[7] yang keras membahana.
”HOOOOOOOOoooooiiiiiiiii yyyyyaaaaaaAAAAAA iiiiiiiyyyyyyYYYYOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!”


Sepasang tamu Hotel Indonesia, sepasang pengantin baru yang tengah berbulan madu, terbangun juga karena teriakan itu. Tapi mereka berbeda pendapat.
”Kau dengar teriakan itu tadi?”
”Ya, kudengar, ah…cuma mimpi…”
“Tapi kurasa itu betul sayang…”
“Sudahlah, mungkin itu cuma mimpi buruk kita saja, lebih baik tidur lagi.”

Jakarta, 5 agustus 1982

 

1. Herkules: tokoh bertenaga besar dalam mitologi yunani.
2. Warok suromenggolo: tokoh cerita rakyat Ponorogo.
3. Damarwulan: tokoh cerita yang membunuh Minakjinggo dari Blambangan, sebuah dongeng yang melegitimasikan Majapahit.
4. Ilmu lari dengan kemampuan meringankan tubuh, seperti dimiliki pendekar Panji Tengkorak dan Pandu Wialantara dalam komik silat Si Rase Terbang(1969) karya Hans Jaladara.
5. Tokoh dalam komik-komik Superhero ciptaan Hasmi yang mempunyai keistimewaan lari cepat, seperti Flash, tokoh komik superhero amerika.
6. tokoh dalam komik superhero amerika yang bisa terbang ciptaan Jerry Siegel dan Joe Schuster paad 1938. istilah superhero dimulai dengan seperman ini, dan sampai sekareang menjadi tambang emas bagi DC Comics.
7. Tarzan adalah tokoh kreasi Edger Rice Borroughs(1875-1950) yang diakui sebagai pengaruh antusiasmenya terhadap Darwinisme. Cerita tentang manusia yang dibesarkan Gorila dihutan itu. Tarzan of te apes, ditulis tahun 1911, dan di beli All story tahun berikutnya, seharga US$700.

Suara-Suara

Suara-Suara

 

Aku bangun terlalu pagi. Biasanya aku bangun di atas jam dua belas. Entah kenapa aku bangun secepat ini. Dibawah pintu kulihat koran. Aku segera menyambar koran itu. Langsung membuka di tempat iklan-iklan yang menawarkan pekerjaan.
Memang aku merasa cocok jadi bartender. Namun, aku tak terlalu tolol untuk terus menerus mengabdi pada pekerjaan itu. Aku datang jauh-jauh ke ibukota bukan untuk menjadi bartender, tukang campur minuman. Sebetulnya aku pernah punya keinginan jadi wartawan, tapi sayangnya aku tidak bisa menulis. Seakarang aku tidak tahu persis ingin jadi apa.

Kepalaku agak pusing. Mataku terasa pedas. Aku menelusuri huruf-huruf surat kabar yang meriwayatkan macam-macam kejadian, tapi aku tak membacanya. Aku mencari lowongan pekerjaan.
Lowongan-lowongan itu tertulis dalam bahasa inggris. Aku mengejanya dengan terbata-bata. Meskipun aku sarjana, bahasa inggrisku pas-pasan saja. Kalimat terhormat untuk kenyataan yang sama: tidak becus. Aku tahu, aku tak akan pernah menulis surat lamaran dengan bahasa inggris. Tapi, aku tahu juga apa yang kucari.

Mereka mencari manajer pemasaran. Meraka mencari insinyur pertambangan. Mereka mencari nahkoda kapal tanker. Mereka mencari akuntan. Mereka mencari sekretaris berkepribadiaan menarik. Tak ada satupun dari lowongan-lowongan itu yang membuat aku tertarik. Tapi aku sendiri tak tahu pasti apa yang kucari. Aku hanya merasa harus mencari sesuatu. Meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu ketika nasib akan membaik.

Kuletakkan koran tanpa membaca berita-beritanya. Kubuka jendela, tapi segera kututup lagi. Aku tak tahan cahaya matahari yang menerobos secepat kilat. Mataku perih. Aku segera membaringkan diri ketempat tidur kembali. Mencoba menyambung tidur. Aku memejamkan mata lama sekali, tapi tak kunjung tertidur. Di luar terdengar suara-suara pagi. Suara-suara yang jarang kudengar.
Aku mendengar suara tukang daging. Aku mendengar suara tukang sayur. Aku mendengar suara anak-anak sekolah. Aku mendengar suara bel becak. Aku mendengar suara bajaj. Aku mendengar siaran berita. Aku mendengar suara wanita memanggil-manggil. Lantas, kadang-kadang mendadak sepi. Kadang-kadang suara itu campur aduk jadi satu. Kututup telingaku dengan bantal. Aku merasa harus tidur lagi.

Sayup-sayup suara air dari keran terdengar mengucur. Lantas, terdengar desis kompor gas. Suara-suara itu menembus mimpiku.

Ketika aku bangun lagi, hari sudah siang. Dari cahaya yang menembus kolong pintu, kuperkirakan sudah lewat tengah hari. Udara dalam kamar terasa panas. Segera kubuka jendela dan kubuka pintu. Dengan kuyu aku melangkah ke kamar mandi. Langsung berendam.

Sambil berendam aku melanjutkan tidurku. Dari balik dinding terdengar musik yang lembut. Aku memejamkan mata dan mecoba melupakan segala peristiwa.

Tubuhku tersa ringan. Air yang hangat memijat-mijat persendian. Dari balik dinding masih terdengar orang bercakap-cakap.

“Rasanya sedih sekali.”

“Kenapa?”

“Tidak tahu, tapi rasanya sedih.”

“Mesti ada sebabnya, dong.”

“Aku sudah bilang aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya sedih sekali. Coba pegang dadaku ini. Ngilu.”

“kamu, kenapa sih, bilang dong, cerita ….”

Aku menyanyi-nyanyi agar orang itu menjauh. Apakah mereka mendengar  suaraku? Tapi aku terus saja menyanyi-nyanyi. Menyanyikan lagu yang sering terdengar di apocalypse.

Look at me, I’m as helpless as a kitten up tree. [4]

 

 

———————–
[4] Misty adalah lagu wajib di kafe. Dibuat oleh erol graner(1923-1977), seorang pianis jazz yang kemudian menjadi composer, pada tahun 1950. inspirasi lagu ini muncul saat garner dalam penerbangan San fransisco – Denver, melihat pelangi dari jendala pesawat yang buram oleh embun. Lagi itu menjadi sangat popular, dan merupakan lagu yang paling banyak direkam selama dua dekade setelah lagu tercipta.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 365 pengikut lainnya.