[Membaca Kembali] DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI oleh SGA

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

 Pada saat yang sudah ditentukan, Pak RT datang ke tempat itu.

“Sabar Pak, sebentar lagi,” kata hansip.

”Waktunya selalu tepat pak, tak pernah meleset, ” sambung warga yang lain.

Pak RT manggut-manggut dengan bijak. Ia melihat arloji.

”Masih satu menit lagi,” ujarnya.

Satu menit segera lewat. Terdengar derit pintu kamar mandi. Serentak orang-orang yang mengiringi Pak RT mengarahkan telinganya ke lobang angin, seperti mengarahkan antena parabola ke Amerika seraya mengacungkan telunjuk di depan mulut.

”Ssssstttt!”

Pak RT melihat wajah-wajah yang bergairah, bagaikan siap dan tak sabar lagi mengikuti permainan yang seolah-olah paling mengasyikkan di dunia.

Lantas segalanya jadi begitu hening. Bunyi pintu yang ditutup terdengar jelas. Begitu pula bunyi resluiting itu, bunyi gesekan kain-kain busana itu, dendang-dendang kecil itu, yang jelas suara wanita. Lantas byar-byur-byar-byur. Wanita itu rupa-ruapnya mandi dengan dahsyat sekali. Bunyi gayung menghajar bak mandi terdengar mantab dan penuh semangat.

Namun yang dinanti-natikan Pak RT bukan itu. Bukan pula bunyi gesekan sabun ke tubuh yang basah, yang sangat terbuka untuk ditafsirkan sebebas-bebasnya. Yang ditunggu Pak RT adalah suara wanita itu. Dan memang dendang kecil itu segera menjadi nyanyian yang mungkin tidak terlalu merdu tapi ternyata merangsang khayalan menggairahkan. Suara wanita itu serak-serak basah, entah apa pula yang dibayangkan orang-orang di balik tembok dengan suara yang serak-serak basah itu. Wajah mereka seperti orang lupa dengan keadaan sekelilingnya. Agaknya nyanyian wanita itu telah menciptakan sebuah dunia di kepala mereka dan mereka sungguh-sungguh senang berada disana.

Hanya hansip yang masih sadar.

”Benar kan Pak?”

Pak RT tertegun. Suara wanita itu sangat merangsang dan menimbulkan daya khayal yang meyakinkan seperti kenyataan.

Pak RT memejamkan mata. Memang segera tergambar suatu keadaan yang

mendebarkan. Bunyi air mengguyur badan jelas hanya mengarah tubuh yang telanjang. Bunyi sabun menggosok kulit boleh ditafsirkan untuk suatu bentuk tubuh yang sempurna. Dan akhirnya ya suara serak-serak basah itu, segera saja membayangkan suatu bentuk bibir, suatu gerakan mulut, leher yang jenjang, dan tenggorokan yang panjang—astaga, pikir Pak RT,

alangkah sensualnya, alangkah erotisnya, alangkah sexy!

Ketika Pak RT membuka mata, keningnya sudah berkeringat. Dengan terkejut

dilihatnya warga masyarakat yang tenggelam dalam ekstase itu mengalami orgasme.

”Aaaaaaahhhhh!”

Dalam perjalanan pulang, hansip memberondongnya dengan pertanyaan.

”Betul kan pak, suaranya sexy sekali ?”

”Ya.”

“Betul kan Pak, suaranya menimbulkan imajinasi yang tidak-tidak?”

”Ya.”

”Betul kan Pak nyanyian di kamar mandi itu meresahkan masyarakat?”

”Boleh jadi.”

”Lho, ini sudah bukan boleh jadi lagi Pak, sudah terjadi! Apa kejadian kemarin belum

cukup?”

***

Kemarin sore, ibu-ibu warga sepanjang gang itu memang memenuhi rumahnya.

Mereka mengadu kepada Pak RT, bahwa semenjak terdengar nyanyian dari kamar mandi rumah Ibu Saleha pada jam-jam tertentu, kebahagiaan rumah tangga warga sepanjang gang itu terganggu.

”Kok Bisa?” Pak RT bertanya.

”Aduh, Pak RT belum dengar sendiri sih! Suaranya sexy sekali!”

”Saya bilang sexy sekali, bukan hanya sexy. Kalau mendengar suaranya, orang langsung membayangkan adegan-adegan erotis Pak!”

”Sampai begitu?”

”Ya, sampai begitu! Bapak kan tahu sendiri, suaranya yang serak-serak basah itu disebabkan karena apa!”

”Karena apa? Saya tidak tahu.”

”Karena sering di pakai dong!”

”Dipakai makan maksudnya?”

”Pak RT ini bagaimana sih? Makanya jangan terlalu sibuk mengurusi kampung. Sesekali nonton BF kek, untuk selingan supaya tahu dunia luar.”

”Saya, Ketua RT, harus nonton BF, apa hubungannya?”

”Supaya Pak RT tahu, kenapa suara yang serak-serak basah itu sangat berbahaya untuk stabilitas sepanjang gang ini. Apa Pak RT tidak tahu apa yang dimaksud dengan adegan-adegan erotis? Apa Pak RT tidak tahu dampaknya bagi kehidupan keluarga? Apa Pak RT selama ini buta kalau hampir semua suami di gang ini menjadi dingin di tempat tidur?

Masak gara-gara nyanyian seorang wanita yang indekos di tempat ibu Saleha, kehidupan seksual warga masyarakat harus terganggu? Sampai kapan semua ini berlangsung? Kami ibu-ibu sepanjang gang ini sudah sepakat, dia harus diusir!”

”Lho, lho, lho, sabar dulu. Semuanya harus dibicarakan baik-baik. Dengan

musyawarah, dengan mufakat, jangan main hakim sendiri. Dia kan tidak membuat kesalahan apa-apa? Dia hanya menyanyi di kamar mandi. Yang salah adalah imajinasi suami ibu-ibu sendiri, kenapa harus membayangkan adegan-adegan erotis? Banyak penyanyi jazz suaranya serak-serak basah, tidak menimbulkan masalah. Padahal lagu-lagunya tersebar ke seluruh

dunia.”

”Ooo itu lain sekali Pak. Mereka tidak menyanyikannya di kamar mandi dengan iringan bunyi jebar-jebur. Tidak ada bunyi retsluiting, tidak ada bunyi sabun menggosok kulit, tidak ada bunyi karet celana dalam. Nyanyian di kamar mandi yang ini berbahaya, karena ada unsur telanjangnya Pak! Porno! Pokoknya kalau Pak RT tidak mengambil tindakan, kami sendiri yang akan beramai-ramai melabraknya!”

Pak RT yang diserang dari segala penjuru mulai kewalahan. Ia telah menjelaskan bahwa wanita itu hanya menyanyi di kamar mandi, dan itu tidak bisa di sebut kesalahan, apalagi melanggar hukum. Namun ia tak bisa menghindari kenyataan bahwa ibu-ibu di sepanjang gang itu resah karena suami mereka menjadi dingin di tempat tidur. Ia tidak habis

pikir, bagaimana suara yang serak-serak basah bisa membuat orang berkhayal begitu rupa, sehingga mempengaruhi kehidupan seksual sepasang suami istri. Apakah yang terjadi dengan kenyataan sehingga seseorang bisa bercinta dengan imajinasi? Yang juga membuatnya bingung, kenapa para suami ini bisa mempunyai imajinasi yang sama?

”Pasti ada yang salah dengan sistem imajinasi kita,” pikirnya.

Sekarang setelah mendengar sendiri suara yang serak-serak basah itu, Pak RT mesti mengakui suara itu memang bisa dianggap sexy dengan gambaran umum mengenai suara yang sexy. Meski begitu pak RT juga tahu bahwa seseorang tidak harus membayangkan pergumulan di ranjang mendengar nyanyian dari kamar mandi itu, walaupun ditambah dengan bunyi byar-byur-byar-byur, serta klst-klst-klst bunyi sabun menggosok kulit.

Karenanya, Pak RT berkeputusan tidak akan mengusir wanita itu, melainkan

mengimbaunya agar jangan menyanyi di kamar mandi, demi kepentingan orang banyak.

Ditemani Ibu Saleha yang juga sudah tahu duduk perkaranya, Pak RT menghadapi wanita itu. Seorang wanita muda yang tidak begitu cantik tapi juga tidak tergolong jelek. Seorang wanita muda yang hidup dengan sangat teratur. Pergi kantor dan pulang ke rumah pada waktu yang tepat. Bangun tidur pada jam yang telah di tentukan. Makan dan membaca buku pada saat

yang selalu sama. Begitu pula ketika ia harus mandi, sambil menyanyi dengan suara serak-serak basah.

”Jadi suara saya terdengar sepanjang gang di belakang rumah?”

”Betul, Zus”

”Dan ibu-ibu meminta saya agar tidak menyanyi supaya suami mereka tidak

berpikir yang bukan-bukan?”

”Ya, kira-kira begitu Zus.”

”Jadi, selama ini ternyata para suami di sepanjang gang di belakang rumah membayangkan tubuh saya telanjang ketika mandi, dan membayangkan bagaimana seandainya saya bergumul dengan mereka di ranjang, begitu?”

Pak RT sudah begitu malu. Saling memandang dengan Ibu Saleha yang wajahnya pun sama-sama sudah merah padam. Wanita yang parasnya polos itu membasahi bibirnya dengan lidah. Mulutnya yang lebar bagaikan mengandung tenaga yang begitu dahsyat untuk memamah apa saja di depannya.

Pak RT melirik wanita itu dan terkesiap melihat wajah itu tersenyum penuh rasa maklum. Ia tidak menunggu jawaban Pak RT.

”Baiklah Pak RT, Saya usahakan untuk tidak menyanyi di kamar mandi,” ujarnya dengan suara yang serak-serak basah itu, ”akan saya usahakan agar mulut saya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, supaya para suami tidak membayangkan diri mereka bergumul dengan saya, sehingga mengganggu kehidupan seksual keluarga sepanjang gang ini”.

”Aduh, terimakasih banyak Zus. Harap maklum Zus, saya cuma tidak ingin

masyarakat menjadi resah.”

Begitulah semenjak itu, tak terdengar lagi nyanyian bersuara serak-serak basah dari kamar mandi di ujung gang itu. Pak RT merasa lega. ”Semuanya akan berjalan lancar,” pikirnya. Kadang-kadang ia berpapasan dengan wanita yang penuh pengertian itu. Masih terbayang di benak Pak RT betapa lidah wanita itu bergerak-gerak membasahi bibirnya yang sungguh-sungguh merah.

***

Namun Pak RT rupanya masih harus bekerja keras. Pada suatu sore hansip

melapor.

”Kaum Ibu sepanjang gang ternyata masih resah Pak.”

”Ada apa lagi? Wanita itu sudah tidak menyanyi lagi kan?”

”Betul Pak, tapi menurut laporan ibu-ibu kepada saya, setiap kali mendengar bunyi jebar-jebur dari kamar mandi itu, para suami membayangkan suaranya yang serak-serak basah. Dan karena membayangkan suaranya yang serak-serak basah yang sexy, lagi-lagi mereka membayangkan pergumulan di ranjang dengan wanita itu Pak. Akibatnya, kehidupan seksual warga kampung sepanjang gang ini masih belum harmonis. Para ibu mengeluh suami-suami mereka masih dingin ditempat tidur, Pak!”

”Jangan-jangan khayalan para ibu tentang isi kepala suami mereka sendiri juga berlebihan! Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu juga membayangkan yang tidak-tidak meski hanya mendengar jebar-jebur orang mandi saja?”

Hansip itu tersenyum malu.

”Saya belum kawin, Pak.”

”Aku tahu, maksudku kamu membayangkan adegan-adegan erotis atau tidak kalau mendengar dia mandi?”

”Ehm! Ehm!”

”Apa itu Ehm-Ehm?”

”Iya, Pak”

”Nah, begitu dong terus terang. Jadi Ibu-ibu maunya apa?”

”Mereka ingin minta wanita itu diusir Pak.”

Terbayang di mata Pak RT wajah ibu-ibu sepanjang gang itu. Wajah wanita-wanita yang sepanjang hari memakai daster, sibuk bergunjing, dan selalu ada gulungan keriting rambut di kepalanya. Wanita-wanita yang selalu menggendong anak dan kalau teriak-teriak tidak kira-kira kerasnya, seperti di sawah saja. Wanita-wanita yang tidak tahu cara hidup lain

selain mencuci baju dan berharap-harap suatu hari bisa membeli meubel yang besar-besar untuk ruang tamu mereka yang sempit.

”Tidak mungkin, wanita itu tidak bersalah. Bahkan melarangnya nyanyi saja sudah keterlaluan.”

”Tapi imajinasi porno itu tidak bisa dibendung Pak.”

“Bukan salah wanita itu dong! Salahnya sendiri kenapa mesti membayangkan yang tidak-tidak? Apa tidak ada pekerjaan lain?”

“Salah atau tidak, menurut Ibu-ibu adalah wanita itu penyebabnya Pak.

Ibu-ibu tidak mau tahu. Mereka menganggab bunyi jebar-jebur itu masih mengingatkan bahwa itu selalu diiringi nyanyian bersuara serak-serak basah yang sexy, sehingga para suami masih membayangkan suatu pergumulan di ranjang yang seru.”

Pak RT memijit-mijit keningnya.

”Terlalu,” batinnya, ”pikiran sendiri ke mana-mana, orang lain disalahkan.”

Pengalamannya yang panjang sebagai ketua RT membuatnya hafal, segala sesuatu bisa disebut kebenaran hanya jika dianut orang banyak. Sudah berapa maling digebuk sampai mati di kampung itu dan tak ada seorangpun yang dituntut ke pengadilan, karena dianggap memang sudah seharusnya.

”Begitulah Zus, ” Pak RT sudah berada di hadapan wanita itu lagi. ”Saya harap Zus berbesar hati menghadapi semua ini. Maklumlah orang kampung Zus, kalau sedang emosi semaunya sendiri.”

Wanita itu lagi-lagi tersenyum penuh pengertian. Lagi-lagi ia menjilati bibirnya sendiri sebelum bicara. “Sudahlah Pak, jangan dipikir, saya mau pindah ke kondominium saja, supaya tidak mengganggu orang lain.”

Maka hilanglah bunyi jebar-jebur pada jam yang sudah bisa dipastikan itu. Ibu-ibu yang sepanjang hari cuma mengenakan daster merasa puas, duri dalam daging telah pergi.

Selama ini alangkah tersiksanya mereka, karena ulah suami mereka yang menjadi dingin di tempat tidur, gara-gara membayangkan adegan ranjang seru dengan wanita bersuara serak-serak basah itu.

***

Pada suatu sore, di sebuah teras, sepasang suami istri bercakap-cakap.

”Biasanya jam segini dia mandi,” kata suaminya.

”Sudah. Jangan diingat-ingat” sahut istrinya cepat-cepat.

”Biasanya dia mandi dengan bunyi jebar-jebur dan menyanyi dengan suara serak-serak basah.”

”Sudahlah. Kok malah diingat-ingat sih?”

”Kalau dia menyanyi suaranya sexy sekali. Mulut wanita itu hebat sekali, bibirnya merah dan basah. Setiap kali mendengar bunyi sabun menggosok kulit aku tidak bisa tidak membayangkan tubuh yang begitu penuh dan berisi. Seandainya tubuh itu kupeluk dan kubanting ke tempat tidur. Seandainya ..”

Belum habis kalimat suami itu, ketika istrinya berteriak keras sekali, sehingga terdengar sepanjang gang.

”Tolongngngngng! Suami saya berkhayal lagi! Tolongngngngng!”

Ternyata teriakan itu bersambut. Dari setiap teras rumah, terdengar teriakan para ibu melolong-lolong.

”Tolongngngngng! Suami saya membayangkan adegan ranjang lagi dengan

wanita itu! Tolongngngngng!”

Suasana jadi geger. Hansip berlari kian kemari menenangkan Ibu-ibu. Rupa-

rupanya tanpa suara nyanyian dan bunyi byar-byur-byar-byur orang mandi, para suami tetap bisa membayangkan adegan ranjang dengan wanita bersuara serak-serak basah yang sexy itu. Sehingga bisa dipastikan kebahagiaan rumah tangga warga sepanjang gang itu akan terganggu.

Pak RT pusing tujuh keliling. Bagaimana caranya menertibkan imajinasi? Tapi sebagai Ketua RT yang berpengalaman, ia segera mengambil tindakan. Dalam rapat besar esok harinya ia memutuskan, agar di kampung itu didirikan fitness centre. Pak RT memutuskan bahwa di fitness centre itu akan diajarkan Senam Kebahagiaan Rumah Tangga yang wajib diikuti ibu-ibu, supaya bisa membahagiakan suaminya di tempat tidur. Pak RT juga sudah berpikir-pikir, pembukaan fitness center itu kelak, kalau bisa dihadiri Jane Fonda.

Kemudian, disepanjang gang itu juga berlaku peraturan baru:

DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI

Taman Manggu, 29 Desember 1990.

*) “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” (1991), harian Suara Pembaruan, 1991. Dimuat kembali

dalam Lembaran Mastera, sisipan Horison, Dewan Sastera (Malaysia) dan Bahana (Brunei

Darussalam) untuk Majelis Sastra Asia Tenggara. Dokumentasi dari Horison No. 2/Januari, 2000.

Mayat Yang Mengambang Di Danau

Mayat Yang Mengambang Di Danau

 

Barnabas mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan, saat angin dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan, sangat amat pelan, nyaris seperti berbisik, menyampaikan segenap rahasia yang bagai tidak akan pernah terungkapkan.

Memang hanya langit, hanya langit itulah yang ditunggu-tunggu Barnabas, karena apabila kemudian ia menyelam di dekat batang-batang pohon ke bawah permukaan danau untuk menombak ikan, secercah cahaya pun cukuplah untuk melihat segala sesuatu yang bergerak, hanya bergerak, tiada lain selain bergerak, ketika hanya dengan sudut matanya pun ia tahu mana bukan ikan gabus mana bukan ikan merah. Ya, tangannya hanya akan bergerak menombak secepat kilat bagaikan tak menunggu perintah otak, apabila kedua jenis ikan itu lewat meski melesat, berombongan maupun terpisah dan tersesat, yang mana pun takkan lepas dari sambaran tombaknya yang sebat.

Kacamata yang digunakannya untuk menyelam memang sudah terlalu tua dan agak kabur jika digunakan untuk melihat dalam keremangan, yang kali ini tampaknya masih akan bertahan cukup lama, karena langit mendung dan mega hitam bergumpal-gumpal. Dari dalam air, tanpa harus melirik ke permukaan, tahulah Barnabas hujan rintik telah menitik di seluruh permukaan danau. Namun apalah artinya hujan rintik-rintik bagi seseorang yang menyelam dan memburu ikan, bukan? Barnabas terus berenang di dalam air nyaris seperti ikan, memburu ikan, tanpa ikan-ikan itu harus tahu betapa jiwanya sedang terancam. Tentu ia mengenal ikan seperti mengenal dirinya sendiri.

Ikan-ikan tak berotak, pikirnya, pantaslah begitu mudah ditombak.

Namun Barnabas juga tahu, justru karena otak ikan sangat amat kecil, sehingga tidak mencukupi untuk berpikir, naluri ikan terhadap bahaya bekerja dengan kepekaan tinggi. Jadi Barnabas pun tetap harus menipunya. Makanya ia pun berenang seperti ikan, mengapung seperti kayu, menyelam seperti pemberat—dan sekali tangannya bergerak, memang harus melesatkan tombaknya lebih cepat dari bekerjanya naluri ikan. Ia telah memperhatikan, betapa ikan dalam rombongan akan lebih kurang berhati-hati daripada ikan yang berenang sendirian, mungkin karena merasa aman bersama banyak ikan, sehingga memang tak sadar bahaya mengancam.

Ikan yang terlepas dari rombongan dan kebingungan kadang lebih menarik perhatian Barnabas. Ia suka mengintai dan mengincarnya dengan hati-hati, kadang tanpa kentara memojokkannya, untuk pada saat yang tepat menombaknya tanpa ikan itu sempat mengelak.

Ikan merah artinya ikan gabus merah, sedap jika dibakar. Ikan gabus artinya ikan khahabei, besarnya bisa sebesar betis, persembahan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan, tak kalah sedap digoreng, tetapi Barnabas beranggapan minyak goreng bukanlah bagian dari kehidupannya, karena memang tak pernah membelinya. Bahkan Barnabas tak pernah lagi makan ikan yang diburunya itu. Jika langit yang keungu-unguan itu telah menjadi lebih terang, setidaknya dua puluh sampai tiga puluh ikan yang bernasib malang di tangannya sudah tergantung di salah satu tiang dermaga. Jumlah yang cukup guna menyambung hidup untuk sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, tak penting benar berapa lama, karena Barnabas setiap harinya menyelam jua—kecuali, tentu kecuali, pada hari Minggu, karena pada hari itu Barnabas beribadah.

Pada hari apa pun ikan-ikan tidak beribadah, pikirnya lagi, jadi ke manakah mereka pergi hari ini?

Bukanlah karena hujan maka ikan-ikan tidak terlihat, mungkin juga tiada sebab apa pun selain sedang berombongan mencari makan di tempat lain dengan moncongnya yang tak habis bergerak memamah-mamah. Namun tetap saja Barnabas merasa jengkel karena ini membuatnya terpaksa memburu ikan lebih lama. Ia memang tak suka memasang bubu dan tak juga suka memasang jala seperti banyak orang lainnya di pulau-pulau di dalam danau, karena memasang bubu bukanlah berburu dan memasang jala juga bukanlah berburu, sedangkan ia hanya ingin jadi pemburu ikan dan tiada lain selain berburu ikan seperti yang selama ini dianggapnya sebagai panggilan.

Ada orang ingin jadi pendeta, pikirnya pula, aku ingin jadi pemburu ikan.

Dari masa kecil diketahuinya orang-orang menyelam tanpa kacamata dan bahkan bisa mendapatkan ikan lebih banyak darinya sekarang. Mungkinkah air danau dahulu tidak seperti air danau sekarang? Lebih jernih karena memang lebih bersih dan mata penyelam tak harus menjadi pedas meskipun menyelam berlama-lama?

Barnabas tentu ingat betapa pada masa lalu di danau itu segala sesuatunya tidaklah sama dengan sekarang.

Dulu tidak ada raungan Johnson, pikir Barnabas, karena perahu bolotu tidak bermesin tempel. Dari pulau ke pulau, atau dari pulau ke daratan, orang-orang menggunakan bolotu yang hanya perlu didayung. Kadang penumpang bantu mendayung, tetapi tanpa bantuan penumpang pun, perjalanan dari pulau kecil yang satu ke pulau kecil lain di dalam danau yang dikelilingi perbukitan itu tetap bisa berlangsung, tanpa peduli apakah itu cepat ataukah lambat karena memang tiada waktu yang terlalu tepat maupun terlambat. Langit dan bumi bersenyawa tanpa peduli detak arloji—dan Barnabas lebih suka menjadi bagian langit maupun bagian bumi daripada arloji.

Maka tiada yang dikhawatirkan Barnabas jika pagi ini ikan-ikan seperti bersembunyi. Langit memang gelapnya agak lebih lama karena mendung dan hujan dan tentu saja ini harus dianggap biasa saja, begitu biasa, bagaikan tiada lagi yang lebih biasa, dan sungguh Barnabas sama sekali tiada keberatan karenanya.

Aku sabar menunggumu ikan, batinnya, setiap orang harus cukup bersabar menantikan makhluk yang akan menyerahkan jiwa hari ini demi kelanjutan hidup pembunuhnya. Apalah artinya menahan lapar sejenak untuk hidup lebih lama? Nikmatilah hidupmu yang amat sementara itu ikan, karena pada akhirnya aku akan membawamu ke pasar dan pedagang ikan akan segera memajang dirimu di meja kayu murahan, tempat koki restoran di tepi danau itu akan menunjukmu, membelimu, membuang sisik dan isi perutmu, lantas menggorengmu bagi santapan para wisatawan yang akan membuang tulang-tulang dan kepalamu untuk menjadi rebutan ikan-ikan emas di kolam yang tak tahu menahu betapa cepat atau lambat mereka juga segera akan jadi santapan dan tulang-tulang serta kepalanya juga akan dilempar sebagai pertunjukan kebuasan dunia yang tampaknya justru meningkatkan selera makan.

Barnabas tiba-tiba teringat, Klemen anaknya, yang putus sekolah teologia, pernah mengucapkan suatu kata yang tak dimengertinya.

”Homo homini lupus….”

Saat itu Barnabas memang bertanya, apa maknanya Klemen tidak melanjutkan sekolah untuk menjadi pendeta, menyia-nyiakan tabungan hasil berpuluh-puluh tahun berburu ikan. Di negeri danau, tempat setiap bukit berpuncak salib, menjadi pendeta adalah kehidupan terpuji.

Namun inilah jawaban Klemen anak tunggalnya itu, yang pada suatu hari tiba-tiba saja muncul kembali dari balik kabut di atas danau sambil mendayung bolotu, meninggalkan sekolah di kota untuk selama-lamanya.

”Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi….”

Selama tinggal di rumah mereka, tempat kecipak air danau selalu terdengar dari bawah lantai papan dari malam ke malam, Klemen tampak sering tepekur. Ibunya sudah lama meninggal karena cacing pita dan mereka hanya hidup berdua saja, sampai Klemen pergi ke kota, atas restu pendeta, untuk belajar menjadi pendeta.

”Kampus tempat belajar agama pun diobrak-abrik tentara,” katanya, ”benarkah sudah cukup kita hanya berdoa?”

Barnabas bukan tak mendengar orang-orang berbicara dengan nada rendah tentang penembakan dan kerusuhan di berbagai tempat lainnya. Klemen pernah membacakan pesan pada benda kecil yang sering digunakannya pula untuk bicara.

Aku masih di hongyeb, beberapa hongibi, dan syidos tahu persis siapa pelaku penembakan di gidinya, bekas nyahongyeb Dadbdedsya katanya punya data nama-nama pelaku penembakan. Mereka adalah (self-censorship oleh pengarang) yang menyamar sebagai pasukan sagangrod Tjhitgosoe ede dede nyalabi, seragamnya sama dengan sagangrod ini, senjatanya yang beda. Ini informasi A1, tapi kudu hati-hati, kami media tinggal tunggu siapa otoritas yang berani sebut siapa mereka. Jangan percaya omongan para petinggi munafik….

Barnabas sungguh tak mengerti apa yang harus dikatakannya. Negerinya hanyalah sebatas danau dengan tiga puluhan pulau yang dikelilingi tebing serba terjal dan meliuk berteluk-teluk itu. Ia tidak pernah tahu dan tidak butuh apa pun yang lain selain cakrawala negeri danaunya itu, yang telah memberikan kepadanya mega-mega terindah di langit biru, bukit-bukit menghijau, dan kedalaman di balik permukaan danau tempatnya memburu ikan-ikan yang baginya merupakan segala dunia yang lebih dari cukup. Ditambah khotbah para pendeta yang menyejukkan setiap akhir pekan dan pesta rakyat dari segenap pulau setiap tahun, itu semua sudah lebih dari apa pun yang bisa dimintanya.

Namun Barnabas merasakan perubahan yang terjadi belakangan ini, bahwa pendeta yang tidak bicara tentang kemerdekaan gerejanya akan sepi.

***

Hujan tampak menderas dan ketika Barnabas mengambil napas di permukaan danau memang sepanjang mata memandang hanyalah dunia yang kelabu karena tirai hujan dengan latar belakang bayangan punggung perbukitan di kejauhan.

Perutnya terasa agak lapar tetapi tenaganya sama sekali belum berkurang. Ia bisa membawa ikatan dua puluh sampai tiga puluh ekor ikan ke pasar, tetapi jika hanya membawa sepuluh atau lima belas pun tidak ada yang harus disesalinya sama sekali. Bahkan jika ikan yang ditombaknya cukup besar—dan ikan-ikan terbesar suka menyendiri—maka seekor atau dua ekor pun justru akan dibayar lebih tinggi daripada sepuluh ikan yang biasa.

Ya, ikan-ikan tak tahu kapan akan mati, batin Barnabas, tetapi pagi ini tampaknya belum ada yang akan mati. Setidaknya di dekat permukaan ini.

Maka Barnabas menyelam, menyelam, dan menyelam semakin dalam, ke tempat ikan besar biasanya menyendiri.

Namun gagasan tentang ikan besar yang menyendiri ini, yang memisahkan dirinya secara alamiah karena tak dapat lagi berombongan ke sana kemari dengan ikan-ikan kecil meskipun dari jenisnya sendiri, mengingatkan Barnabas kepada dirinya. Sedikit pemburu di antara penjala dan pemasang bubu, dan di antara pemburu yang biasanya bekerja siang atau malam, hanyalah Barnabas yang selalu bekerja tepat menjelang fajar merekah—jelas membuatnya berbeda, keberbedaan yang mungkin menurun kepada Klemen. Memang banyak hal tak dimengertinya pula dari gagasan-gagasan Klemen, apalagi ketika ia bicara tentang pernyataan untuk merdeka….

Manusia kadang masih seperti ikan, pikirnya, tak dapat bercampur baur dan hanya nyaman dengan golongan sejenisnya.

Di danau itu telah dimasukkan ikan dari tempat asing, seperti ikan gabus Toraja, yang ternyata lebih suka memakan telur ikan gabus asli dari danau itu maupun ikan-ikan lainnya. Ikan gabus asli yang disebut khahabei itu harus dicari para penyelam di bagian danau terdalam. Sedangkan ikan lohan yang juga asing di danau itu, tak hanya memakan telur-telur ikan gabus, anak-anak ikan gabus, dan ikan-ikan kecil lain, tetapi juga udang dan jengkerik . Maka ikan-ikan asli lain seperti ikan seli, ikan gete-gete besar dan kecil, ikan gastor, ikan gabus merah, ikan gabus hitam yang dahulu berlimpah kini hanya tertangkap dalam jumlah sedang; yang masih banyak tinggal ikan-ikan hewu atau ikan pelangi, tetapi ikan kehilo semakin susah dicari, mungkin karena makin jauh bersembunyi, mungkin juga memang tinggal sedikit sekali. Tempat mereka telah diisi ikan-ikan asing yang disebut ikan mata merah, ikan tambakan, ikan sepat siam, ikan nila, ikan nilem, dan ikan mas. Barnabas tahu benar, dahulu setidaknya terdapat dua puluh sembilan jenis ikan, termasuk ikan laut yang masuk dari muara sungai di sebelah timur, dan sekarang hanya enam belas jenis, itu pun tinggal sembilan jenis yang asli.

Ikan makan ikan, apakah manusia tidak memakan manusia? Barnabas tidak terlalu peduli apakah ia pernah menjawab pertanyaannya sendiri.

Sudah beberapa hari Klemen menghilang. Tetangganya menyampaikan kadang ada orang datang bertanya-tanya tentang Klemen—bukan, mereka bukan sesama penduduk di negeri danau yang saling mengenal sejak dilahirkan. Perahu bolotu yang digunakan Klemen juga masih di tempatnya, ketika beberapa malam lalu mendadak terdengar deru perahu Johnson di kejauhan pada tengah malam. Penduduk yang masih terjaga saling berpandangan. Mereka yang terbiasa menyendiri memang harus menghadapi segala sesuatunya sendirian.

Barnabas menyelam makin dalam, bahkan sampai menyentuh lumpur di dasar danau. Seekor ikan khahabei besar yang waspada berkelebat, mengepulkan lumpur yang segera saja menutupi pandangan. Barnabas tidak dapat melihat apa pun. Cahaya yang sejak pagi tidak pernah lebih terang dari kekelabuan dalam hujan, di dasar danau ini tak dapat juga memperlihatkan sesuatu kepada Barnabas.

Namun di antara kepulan lumpur pekat Barnabas merasakan sesuatu datang dari dasar danau dan ia segera menghindarinya. Tak urung, sesuatu yang mengambang karena gerakan ikan khahabei itu telah melepaskan keterikatannya dari akar-akaran di dasar danau, menyentuh tubuhnya juga dalam perjalanan ke permukaan danau.

Ia terkesiap dan melepaskan dirinya dari kepulan lumpur, melesat dan menyusul sesuatu yang segera jelas merupakan sesosok mayat. Dari balik kacamata selamnya yang buram, matanya terpaku kepada sosok itu, yang perlahan tetapi pasti menuju ke atas sampai mengapung di permukaan danau. Dengan cahaya yang sedikit lebih baik daripada di dasar danau, meskipun tidak terlalu jelas, Barnabas dapat memastikan bahwa tangan dan kaki mayat itu terikat, dan pengikatnya adalah robekan bendera bergaris biru putih, sedangkan mulutnya disumpal dengan kain merah.

Di permukaan itu hujan bukan semakin mereda tetapi menderas. Angin keras menyapu seluruh permukaan danau, sehingga air hujan yang turun dari langit tersibak bagaikan tirai raksasa yang melambai-lambai. Di antara deru angin yang menarik-narik daun pohon nyiur di semua pulau, terdengarlah jeritan panjang dari tengah danau.

”Klemeeeeeeeennnn!”

Jayapura, 12-14 November 2011

*)cerpen Kompas, 8 Januari 2012

PRING RE-KE-TEG GUNUNG GAMPING AMBROL

PRING RE-KE-TEG GUNUNG GAMPING AMBROL

Seno Gumira Ajidarma

Ribuan orangbaik-baik telah berkumpul di atas bukit, siap menyerbu perkampungan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, yang terletak di tepi sebuah sungai yang mengalir dan berkelok dengan tenang, begitu tenang, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih tenang, yang memantulkan cahaya kemerah-merahan membara di langit meskipun matahari sudah terbenam.

Ribuan, barangkali lebih dari sepuluhribu, sebut saja beribu-ribu orang baik-baik telah siap dengan segenap senjata tajam, parang-golok-kelewang, tombak, linggis, pentungan besi, rantai, alu, kayu, maupun badik yang lekuk liku dan geriginya jelas dibuat agar ketika ditusukkan mampu menembus perut dengan mulus, dan ketika ditarik keluar membawa serta seluruh isi perut itu tanpa dapat dibatalkan.

Beribu-ribu orang baik-baik, tiada satu pun tiada membawa senjata, tampak sangat amat siap menggebuk dan menyabet, mencincang dan membantai, memenggal dan menyembelih, bagai tiada tujuan lain dalam hidup ini selain melakukan pembunuhan dan tiada lain selain pembunuhan. Orang baik-baik yang sebelumnya tampak sebagai orang-orang yang selalu ketakutan, karena memang penakut dan pengecut jika sendirian,
mendadak bagai kerasukan setan ketika melebur dalam jumlah ribuan.

Terdengar dentang parang saling diadukan seperti tiada sabar lagi untuk ditetakkan, suara kelewang diasah pada batu basah demi jaminan betapa darah pasti akan tersemburkan, semua orang sibuk dengan alat-alat pembunuhan, senjata tajam maupun senjata tumpul, yang telah disahihkan untuk memberlangsungkan pembinasaan.

Sebentar lagi, tepat pada saat hari menjadi gelap, telah disepakati menjadi waktu penyerbuan.
”Jika mereka masih tidak mau menyerahkan pemerkosa itu,” kata seseorang sambil mengacungkan pentungan, “perkampungan itu harus dibakar.”

Disebutkan betapa anak perempuan Pak Carik telah diperkosa. Ia ditemukan terkapar di jalan keluar desa setelah hilang semalaman. Para penggali kapur yang berangkat pada pagi hari berembun segera membawanya kembali ke desa, yang segera saja menjadi gempar.
Mirah, kembang desa sederhana, tetapi yang justru karena itu layak dipuja, telah dihinakan begitu rupa sehingga nyaris takbisa menangis dan takbisa berbicara.

“Siapa mereka, Mirah? Siapa?”

Pak Lurah yang berkumis melintang tampak begitu berang, bertanya terus sambil memaksa, karena baginya penghinaan ini bukanlah hanya penistaan kepada seorang perawan umur 16 tahun yang diperkosa, melainkan juga penghinaan kepada desa. Pak Carik sendiri, ayah dari korban yang takbisa bersuara, kaku beku membisu seribu bahasa.

“Katakan Mirah, katakan! Supaya aku tidak membunuh sembarang manusia!”

Wajah Mirah sulit diceritakan, karena perasaan yang terbayang di wajahnya pun mustahil diterjemahkan. Namun cerita para penggali kapur tentang kain dan kebayanya yang koyak moyak dan centang perenang, tanpa harus bernoda darah segala, bagi orang-orang desa itu sudah lebih dari segala pengungkapan.

Sebetulnya belum jelas bagaimana Mirah bisa ditemukan terkapar pada pagi hari di tempat itu. Di desa terpencil seperti itu, anak gadis seperti Mirah pasti sudah berada di dalam rumah pada pukul enam sore. Untuk berada di sana, seseorang atau beberapa orang, harus menculiknya—dan pikiran semua orang memang Mirah itu pasti diculik, diperkosa di tengah jalan itu, lantas dibuang…

Tepatnya lebih baik begitu, supaya terdapat pihak yang bisa diganyang.

Tidak jelas juga mengapa kecurigaan dan kesalahan harus dialamatkan kepada perkampungan para pencuri. Namun beberapa saat lagi, ribuan orang yang merupakan gabungan duapuluh desa di sekitar pegunungan kapur itu sudah akan menyerbu perkampungan.

***

“Seandainya pun tidak ada peristiwa pemerkosaan ini, perkampungan candala[i] itu memang sudah lama harus dibakar,” kata Pak Lurah kepada Jagabaya yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa kata. Sebagai penjaga keamanan ia tahu diri betapa selama ini hanya menjadi tertawaan para pencuri, perampok, pembunuh, dan
pelacur yang menghuni perkampungan itu.

Jalan keluar itu memang terarah menuju perkampungan di bawah sebuah bukit kapur, tetapi penduduk desa tidak pernah menapakinya turun ke sana, melainkan percabangannya yang menuju ke atas, tempat mereka melinggis dinding-dinding di bukit kapur, dan mengumpulkan bongkahannya yang menggelinding. Batu-batu kapur yang putih kekuning-kuningan telah lama menjadi sumber kehidupan mereka, sampai mereka lupa sebelumnya orangtua mereka mendapatkan penghasilan darimana.

Di pegunungan kapur tidak ada sawah, jadi nenekmoyang mereka, bahkan sampai kepada orangtua mereka yang beberapa di antaranya masih hidup, tentu mempertahankan kehidupan dengan segala cara. Mulai dari berburu dan menjerat binatang, mencari ikan di sungai, dan sekadar berkebun di tengah hutan supaya ada yang bisa dimakan. Bagi mereka yang belum pernah melakukan perjalanan keluar desa, dijamin tidak pernah mengunyah nasi dan sudah cukup bahagia dengan ubi.

Ketika jalan aspal dibuat nun di balik pegunungan kapur, dan dari jalan aspal itu muncul sejumlah truk yang bersedia membeli dan mengangkut bongkahan batu-batu kapur, tidak kurang dari duapuluh desa sampai hari ini hidup dari penggalian kapur. Dalam waktu empatpuluh tahun wajah pegunungan itu sudah berubah. Apa yang semula tampak sebagai pegunungan dengan punggung bukit memanjang, separuhnya kini lebih
terlihat sebagai dinding-dinding tegak lurus dan jurang-jurang baru yang terbentuk karena penggalian. Maka jalan setapak bisa juga berarti jalan setapak dengan jurang dalam di sisi kiri dan kanan …

Pada jalan setapak seperti itulah Mirah ditemukan.

“Ini saat yang tepat untuk membasmi mereka,” ujar Pak Lurah berulang-ulang.

Dengan datangnya truk-truk pengangkut bongkahan batu kapur, sedikit demi sedikit datang pula orang-orang dari luar desa, yang jika tidak ikut menggali atau membuka warung makan bagi para pekerja, di antaranya ada pula yang menjadi perantara pembelian bongkahan batu-batu, membuka kios rokok dan shampoo untuk membersihkan rambut dari serbuk-serbuk kapur, dan sejumlah pekerjaan yang tidak begitu dipahami penduduk desa. Di antara pekerjaan itu antara lain menyewakan pengeras suara dan televisi untuk menyanyi-nyanyi. Adapun mereka yang menyewa pengeras suara dan televisi itu dilayani perempuan pekerja yang menyediakan minuman, ikut menyanyi, dan hampir selalu tersenyum dengan amat sangat manis sekali.

Senyuman itu juga dipermasalahkan penduduk desa, karena tidak dianggap sebagai senyum keramahan melainkan senyum rayuan.

“Senyum rayuan beracun!”
Kata orang-orang yang merasa wajib menjaga kesucian di setiap desa orang baik-baik.

Sebetulnya hanya para penggali kapur dari luar desa sajalah yang dalam kesepian dan keterasingan alam pegunungan kapur datang ke sana untuk melewatkan waktu. Namun pemandangan orang menyanyi dan tertawa-tawa rupanya memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi orang-orang yang merasa dirinya suci.

“Lagipula, siapa bilang penduduk desa suatu hari tidak akan pernah tergoda?”

Tentu saja senyum yang manis adalah senyum yang manis. Apalagi jika itu senyuman yang manis sekali. Manusia yang bermata dan berhati tidak akan terlalu keberatan, jika suatu ketika secara suka rela merasa lebih baik tergoda sahaja.

Mirah masih terpaku beku tanpa suara. Pandangan matanya sungguh tanpa makna, bagaikan mata itu terbuat dari kelereng layaknya. Sebetulnya tidak ada kesimpulan yang bisa diambil dari pandangan mata seperti itu. Namun tergeletaknya anak Pak Carik di jalan keluar desa yang mengarah ke perkampungan itu bagai telah menyimpulkan sesuatu.

Memang benar, apabila ada pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan, selalu saja kecurigaan terarah ke perkampungan itu. Memang benar pula betapa tiada pernah ada bukti, karena kambing yang lenyap dari kandang tak meninggalkan jejak, begal menyambar dan menghilang pada remang senja bagaikan bayangan, dan mayat korban selalu merupakan buangan dari desa takdikenal yang tidak pernah menunjuk langsung siapa pembunuhnya. Betapapun kali ini seperti terdapat kesepakatan tanpa perlu
peresmian, bahwa perkampungan itu sudah waktunya dimusnahkan, jika perlu bahkan
tanpa alasan!

Kebencian, ya kebencian yang tidak mungkin dicari alasannya, adalah satu-satunya alasan itu sendiri…

Orang-orang luar, orang-orang yang berbeda, orang-orang yang tidak mungkin sepenuhnya dimengerti, menimbulkan kebencian karena selalu tampak menyanyi dan tertawa-tawa.

Telah dikirimkan Jagabaya yang selalu gagal menjaga datangnya bahaya itu ke sana, dengan tugas meminta penyerahan sang pemerkosa.

Jagabaya itu, yang sejak awal sudah selalu ragu, pulang dengan tangan hampa.

“Apa kata mereka?”

Jagabaya pun menirukan jawaban kepala perkampungan di bawah sana.

“Pemerkosa? Tidak ada pemerkosa di kampung ini! Mungkin kami memang sebangsa candala, tetapi kami sama sekali tidak perlu memperkosa siapapun di luar kampung ini untuk mendapatkan cinta, karena di kampung ini cinta macam apapun setelah dibagi rata masih selalu bersisa. Tidakkah kalian sadari betapa semua perempuan memang pelacur di kampung ini? Dan perempuan kampung ini sudah jelas senyumannya manis sekali, baik kepada orang luar, apalagi kepada saudara candalanya sendiri! Tuduhan apalagi yang ingin ditimpakan kepada kami? Kami telah membuka warung makan dan kami telah membuka kios rokok maupun shampoo maupun sabun untuk membasuh debu-debu kapur, tetapi kalian rupanya lebih suka menganggap kami sebagai candala! Katakan kepada bangsamu, bangsa orang-orang yang menamakan dirinya orang baik-baik itu, kami tidak takut mati, karena apapun yang kami lakukan selalu kami pertanggungjawabkan dengan seluruh hidup kami!”

Dalam keremangan, tetap saja terasa betapa wajah Pak Lurah merah dan padam.

“Dasar bejad!”

Ia mengangkat pedangnya bagaikan Drestajumena bersiap memimpin balatentara Pandawa dalam Perang Bharatayudha. Langit yang tadi kemerah-merahan dan membara sekarang memang sudah gelap. Perlu waktu sehari penuh untuk berkeliling dari desa ke desa, meyakinkan setiap lurahnya untuk ikut membasmi kampung candala.

“Serbu!”

Maka ribuan orang baik-baik dari duapuluh desa yang mengelilingi bukit bersama lurahnya masing-masing segera menyerbu ke bawah dengan senjata di tangan. Mereka berlari dalam gelap sambil berteriak-teriak, sebagian besar untuk menutupi ketakutannya sendiri. Ada yang tersandung batu dan jatuh tertelungkup lantas mati terinjak ribuan penyerbu di belakangnya. Ada yang menahan lari karena takut mati tetapi
terseret dan terpaksa melaju ke depan jua. Ada pula yang menyerbu dengan semangat tekad bulat seolah-olah memang membela keadilan dan kebenaran, meski jika diamati jelas tidak menguasai cara bertempur sama sekali. Namun dalam kegelapan segala perbedaan hanya melebur dalam gelombang serbuan penuh amarah, karena berita yang tersebar dari mulut ke mulut bahwa Mirah putri Pak Carik telah diperkosa. Siapa lagi pelakunya jika bukan begundal dari kampung candala?

***

Syahdan, di perkampungan takbernama di tepi sungai yang mengalir dengan tenang dan berkelok yang selama ini dikenal sebagai kampung tempat bermukimnya para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, tampak semua orang dengan wajah sungguh-sungguh telah bersiap menyambut penyerbunya. Mereka tidak perlu berteriak-teriak dan
hanya dengan saling memandang telah sangat siaga. Jumlah mereka tidak sampai seratus orang, tetapi wajah mereka tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.

Nyaris tidak ada seorangpun yang memegang senjata karena apapun yang dipegangnya bisa menjadi senjata yang sangat berguna. Ada yang memegang batang kayu, ada yang memegang gagang sapu, dan ada pula yang cukup memegang sebatang lidi. Para pelacur yang senyumnya manis, begitu manis, bagaikan tiada lagi yang lebih manis, ada yang tampak mengebutkan selendang dan ada pula yang menggenggam ratusan jarum.

Tidakkah segenap orang baik-baik itu menyadari, betapa tindakan mereka itu seperti bunuh diri sahaja? Tidakkah mereka sadari, betapa para candala, jika memang candala, dan tiada lain selain candala, yang selalu terpinggirkan dari zaman ke zaman, tentulah jauh lebih siap menghadapi pertempuran terbuka daripada mereka, meskipun
dikeroyok orang baik-baik begitu banyaknya? Tidakkah telah sering mereka bicarakan juga, meskipun takpernah dan tiada akan pernah dengan bukti nyata, betapa para candala sebagai manusia memang digjaya dengan segala mantra sirep, tenung, teluh, kebal tubuh, dan setelah merapal ilmu halimunan bila perlu dapat menghilang bersama senja?

Tidakkah ribuan orang baik-baik yang menyerbu bagaikan air bah ke bawah menuju perkampungan candela di pegunungan kapur itu taksadar, setaksadartaksadarnya, betapa batang kayu, gagang sapu, dan sebatang lidi itu sekali digerakkan, sembari melenting-lenting di atas kepala, akan memakan korban jiwa, setidaknya ratusan dari mereka dalam seketika? Begitulah, ribuan orang baik-baik yang sedang berteriak-teriak sambil berlari-lari itu, betapapun tidaklah pernah membayangkan, bagaimana selendang
yang halus dan wangi itu akan dapat memecahkan kepala, dan betapa ratusan jarum dalam genggaman akan melesat seketika bagaikan bermata untuk mencabut ratusan nyawa.

Banjir darah akan membuat bukit kapur itu menjadi merah.

“Serbuuuuuuuuu!”

Teriakan membahana yang terdengar dari jauh itulah yang telah menggugah kembali kesadaran Mirah, sehingga matanya yang semula bagaikan kelereng itu kini tampak bersukma dan bibirnya bergetar seperti mau berbicara.

Namun, betapapun, segalanya sudah terlambat.

Sudah terlambat bagi Mirah untuk menyampaikan, bahwa yang telah menyambarnya ketika ia kembali dari sumur pada pagi buta, melarikannya ke jalan itu dan berusaha—ya, masih berusaha—memaksakan suatu kehendak yang tidak dipahaminya, tiada lain dan tiada bukan adalah anak Pak Lurah adanya…

Kampung Utan, Sabtu 1 Januari 2011. 23:23.

 

sumber: KOMPAS Minggu 5 Juni 2011

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 340 pengikut lainnya.