“Pengarang dan Fakta” oleh SGA

Pengarang dan Fakta

Pengalaman dengan Srivijaya

oleh Seno Gumira Ajidarma

Jauh sebelum menulis Nagabumi saya sudah sangat tertarik dengan sejumlah prasasti yang mengandung kutukan, semuanya berhubungan dengan apa yang disebutkan sebagai Kadatuan Srivijaya.

Saya kutipkan salah satunya, yakni Prasasti Kota Kapur yang berbahasa Melayu Kuna dan ditulis dengan aksara Pallawa akhir, yang dalam terjemahan bahasa Indonesia modern berbunyi seperti berikut:

Keberhasilan! [disusul mantra kutukan yang takdapat diartikan]. Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan yang melindungi Provinsi [kadatuan] Srivijaya [ini]; juga kau Tandrun luah [?] dan semua dewata yang mengawali setiap mantra kutukan!

                   Bilamana di pedalaman semua daerah [bhumi] [yang berada di bawah provinsi (kadatuan) ini] akan ada orang yang memberontak […] yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak, yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk; biar sebuah ekspedisi [untuk melawannya]seketika dikirim di bawah pimpinan datu [atau beberapa datu?] Srivijaya, dan biar mereka dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagi pula biar semua perbuatannya yang jahat, [seperti] mengganggu ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja, saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, [semoga perbuatan-perbuatan itu] tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu, biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang takberbakti, yang taksetia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk, setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya: dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, kelimpahan segalanya untuk semua negeri mereka!

                Tahun Saka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha, pada saat inilah kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika balatentara Srivijaya baru berangkat untuk menyerang Tanah Jawa yang tidak takluk kepada Srivijaya.[1]

 

 

Model seperti ini juga tertera dalam prasasti Telaga Batu, Karang Brahi, Palas Pasemah, dan Karanganyar, yang semuanya berasal dari abad ke-7, dan ternyata bagi peneliti seperti Charles-Louis Damais, yang menjadikannya penasaran adalah mantra kutukan yang takdapat diartikan itu. Disebutkan, ia menolak bahasa kutukan itu sebagai suatu bahasa buatan. Setelah melakukan analisis kebahasaan dan filologi yang panjang dan ketat, dan dengan membandingkan istilah-istilah dari ‘bahasa kutukan’ dengan berbagai bahasa Austronesia, termasuk Campa dan Malagasi, dinyatakan bahwa yang dipersoalkan itu tidak lain selain bahasa Austronesia yang memang tidak dikenal, tetapi yang tidak perlu tertutup rahasia. Disebutkan pula, Damais yang termasyhur karena ketelitiannya, tetap berhati-hati waktu menarik kesimpulan, dan pintu dibiarkannya terbuka bagi pendekatan-pendekatan baru [2].

Sementara itu, George Coedes memberi catatan: “Mengingat bahwa dengan mantra yang terkandung di dalamnya diharapkan matilah siapapun yang melakukan perbuatan jahat yang tersebut dalam teks berikutnya, bukanlah takmungkin mantra itu dinyatakan dalam bahasa rahasia yang mempunyai aturan fonetik sendiri, atau kata-katanya dengan sengaja diubah dan sedikit banyak diperlunak keampuhannya agar pembaca yang tidak tahu-menahu dan takbersalah terhindar dari pengaruhnya yang dahsyat: dalam banyak bahasa, sumpah serapah mengalami gejala fonetis semacam itu. Sayang sekali ada kemungkinan besar bahwa kutukan yang diucapkan oleh raja Srivijaya itu akan tinggal teka-teki untuk selama-lamanya.”

Coedes memang telah bersikap, “Saya sendiri lebih suka tidak menerjemahkan bagian prasasti itu yang kata-katanya hampir taksepatah pun dapat dikenali, dan yang fonetiknya pun bersifat aneh.” [3]

Bagi kedua ilmuwan ini, tentu sahihlah bahwa ada masalah yang belum terpecahkan, dan masyarakat ilmiah sendiri jelas dapat menerima kebuntuan seperti itu. Namun bagi seorang penulis cerita silat masalahnya agak berbeda, karena masyarakat pembaca cerita silat tentu tidak merasa perlu ikut dipusingkan oleh kebuntuan-kebuntuan dalam filologi dan arkeologi—setidaknya terdapat suatu konvensi atawa tradisi dalam resepsi pembaca cerita silat, bahwa penulis cerita silat itu ‘tahu segalanya’ perihal materi yang diceritakannya, termasuk akurasi latar belakang sejarah dari cerita silat tersebut. Memang paradoksal, sementara meloncat setinggi pohon kelapa dianggap ‘normal’ saja dalam genre cerita silat, pada saat bersamaan fakta sejarah yang tidak akurat sama sekali tidak mendapat toleransi. Apa akal?

Bagi penulisan cerita silat, seperti yang telah saya alami, sebetulnya justru ruang kosong dalam dunia ilmiah itulah yang bisa diisi dengan ‘karangan’, tanpa harus mendapat predikat ngawur, karena ‘isi’ ruang kosong ini betapapun tertuntut untuk bersesuaian dengan fakta sejarahnya.

Dalam hal ini, apa yang menjadi kebuntuan bagi ilmuwan, justru berpeluang meletikkan gagasan bagi seorang pengarang, berdasarkan spekulasi para ilmuwan itu sendiri. Perhatikan catatan Coedes: …. [mantra kutukan itu] diperlunak keampuhannya agar pembaca yang tidak tahu-menahu dan takbersalah terhindar dari pengaruhnya yang dahsyat…

Saya kira penulis cerita silat tersahihkan memiliki sejumlah alternatif penceritaan dari spekulasi tersebut, misalnya (1) mantra itu mungkin saja ada dan berfungsi, tetapi tidak pernah terbukti, karena (2) hampir semua orang yang pernah berada di depan prasasti itu buta huruf, dan (3) bila mampu membacanya akan tetap mengalami kesulitan membaca mantra kutukan tersebut; atau (4) mantra itu sebagai gertak sambal diketahui oleh pembuatnya tidak akan pernah berfungsi, tetapi (5) karena tidak boleh pernah terbukti takberfungsi, maka sengaja dibuat takdapat dibaca siapapun, (6) justru dengan penempatan kata-kata yang dengan sengaja sangat tertata jangan sampai berarti apapun, di masa itu maupun di masa depan, (7) dan adalah ketertataan agar takberarti itulah, yang membuatnya seolah-olah merupakan ‘gejala fonetis’ tetapi yang akan selamanya takterbongkar, karena memang dimaksudkan begitu, sehingga menarik untuk membayangkan (8) penyusun mantra itu tersenyum-senyum menata huruf-huruf seperti yang terbaca oleh para ilmuwan sebagai: berjumlah 30 buah, tidak terdapat huruf s satupun, sebaliknya jumlah h-nya menakjubkan banyaknya; diftong ai yang dalam prasasti lainnya hanya muncul sekali dalam sebuah kata Melayu / di sini diulang sembilan kali.[4]

Memang tidak ada fakta sejarah bahwa penyusun kalimat dalam prasasti itu tersenyum-senyum ketika tiba pada ‘kutukan takberarti’ tersebut, tetapi siapakah kiranya yang tidak akan tersenyum-senyum, setidaknya dalam hati, pada abad ke-7 sekalipun, ketika tahu bahwa mantra yang disusunnya (9) hanyalah gertak sambal alias gombal, dan mungkin saja disusun sebuah kelompok elit-intelektual yang tertawa-tawa ketika merancangnya. Toh dengan jujur saya akui betapa saya sempat punya bayangan bahwa (10) ada saja orang yang jatuh berkelojot-kelojot dan tewas setelah membacanya.

Kemungkinan itu masih bisa dikembangkan sebanyak-banyaknya, tetapi tidak satupun yang sahih meloloskan diri dari konsekuensi fakta akurat, bahwa ketika banyak orang berkerumun di depan prasasti itu misalnya, yang dalam hal Prasasti Kota Kapur di Bangka tingginya 178 cm, diameter 15-30 cm, dan tulisannya ‘miring ke bawah’[5] itu, sehingga ketika membacanya pun kepala harus miring, pastilah orang-orang ini mengenakan busana seperti yang semestinya terdapat di Pulau Bangka pada masa kekuasaan Kadatuan Srivijaya saat itu, yakni ketika dan setelah prasasti itu didirikan pada 686 Masehi.

Jadi, seorang penulis cerita silat tentu bebas ‘bersilat’, tetapi sekaligus ia terikat untuk selalu konsisten dalam wacana pilihannya sendiri. Ini bukan sekadar perkara angka tahun, nama orang, cara berbusana, makanan-minuman, adat istiadat, dan hukum, melainkan yang terpenting adalah ‘cara berpikir’ masa itu; yang apabila terlalu naif menafsirkannya –meski takmungkin ‘benar’ pula—akan berdampak kepada segenap konstruksi naratifnya.

Sebagai reader naskah Nagabumi, Edi Sedyawati misalnya mengingatkan saya akan reaksi penduduk yang tanahnya diambil penguasa untuk bangunan Kamulan Bhumisambhara, dengan suatu catatan bahwa penolakan atau ketidakrelaan penduduk itu, yang sudah diambil tanahnya disuruh bekerja takdibayar pula padahal berlainan agama, jangan ditafsirkan ‘terlalu politis’, ketika saya tuliskan bahwa terdapat ‘pengerahan massa’. Tampaknya saya memang lantas mengubah-sesuaikan bagian itu.

Dalam hal ‘kebesaran Srivijaya’, cara berpikir yang dapat ditemukan melalui pembahasan para ilmuwan memang tidak seanggun ‘fiksi sejarah’, seperti misalnya dapat diendus dari catatan berikut:

………………………………………………………………………

Jalur perdagangan terawal berjalan melalui wilayah daratan, atau jika menggunakan pengangkutan melalui laut, di sepanjang pantai (untuk) menghemat ongkos pengangkutan di Tanah-genting Kra. Keadaan ini berubah sejak abad ke-4, ketika (bangsa) Melayu menanggapi kesempatan bagi (terbukanya jalur) perdagangan maritim langsung antara wilayah selatan Tiongkok dan bagian barat Asia melalui Selat Malaka. (Munculnya) peluang ini biasanya dijelaskan (dengan adanya) pembagian Tiongkok dan konsekuensi pertumbuhan kepentingan wilayah selatan Tiongkok, atas jalan masuk pengangkutan kapal ke pasar Asia bagian barat, tetapi ini merupakan indikator pasif. Inisiatif orang-orang Melayu dalam melakukan eksploitasi kemungkinan-kemungkinan juga mengemban (tuntutan) penelitian yang cermat. Orang-orang Melayu berpartisipasi sebagai pengangkut dan juga mengganti barang-barang baku dalam perdagangan dengan produk lokal. Proses organisasi politis (yang) timbul dalam gerakan di antara para pemimpin Melayu oleh sumber kemakmuran baru, mencapai fase kritis selama paruh terakhir abad ke-7, ketika penguasa dekat Palembang, di Sungai Musi di tenggara Sumatra, mencapai posisi tertinggi.[6] / … dua pelabuhan di tenggara Sumatra, Palembang dan saingan utamanya, Jambi-Malayu, berlokasi di dekat tempat-tempat yang menghasilkan bahan yang paling diminati para pedagang internasional.[7]

Meski disebutkan bahwa masih perlu penelitian lebih lanjut, tetapi gagasan tentang perilaku mengganti barang dagangan yang hanya diangkutkan, dengan barang sendiri yang dijual, dan tidak disebutkan sebagai spekulasi, memberikan suatu gambaran yang sama sekali berbeda dibandingkan ‘kebesaran Srivijaya’ dalam prasasti-prasasti.

Ditambah dengan fakta bahwa setelah abad ke-7 dominasi Srivijaya semakin memudar dan tuntas pada abad ke-11, saya kira seorang pengarang, cerita silat maupun non-silat, tersahihkan mengembangkan gagasan bahwa dominasi kadatuan yang berpusat di Palembang itu juga mendapat tantangan, secara serius maupun sporadis. Dalam hal saya, melalui fakta sejarah bahwa Kerajaan Jambi-Malayu ditaklukkannya, terbuka peluang untuk ‘mengarang’ terdapatnya perlawanan panjang kecil atau besar yang takpernah tercatat sejarah, yang melahirkan para lanun-pejuang pengganggu kapal-kapal Srivijaya, dalam usaha merongrong kewibawaannya. Pengalaman saya dalam menuliskannya menunjukkan, kebebasan seorang pengarang cerita dengan latar belakang sejarah, sungguh berkonsekuensi mengikatkan diri kepada fakta sejarah yang telah tergali secara ilmiah.

Sebegitu jauh, dalam hal genre cerita silat yang menantang imajinasi pengarang, meski keterikatan itu kadang ‘bikin pusing’, saya tidak merasa keterikatan itu membatasi kreativitas. Sebaliknya, seperti dalam hal artefak prasasti-prasasti kutukan tersebut, fakta sejarah takkurang-kurangnya justru memancing imajinasi tanpa harus diminta sama sekali. Maka, penemuan dan analisis cemerlang atas fakta-fakta sejarah lama maupun baru akan selalu saya tunggu.

SENO GUMIRA AJDARMA

(Catatan untuk diskusi “Sriwijaya dalam Prosa dan Arkeologi”, dalam Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat 2012, Borobudur Writers’ and Cultural Festival, Aula Hotel Manohara, Borobudur, Selasa 30 Oktober 2012).


[1] Dipinjam dari G. Coedes dan L-Ch. Damais, Kedatuan Sriwijaya: Penelitian tentang Sriwijaya (1989), diterjemahkan dari bahasa Prancis ke bahasa Indonesia oleh Wing Karjo, Joke Moeljono, dan Winarsih Arifin., h. 64-5. Penebalan sesuai aslinya.

[2] Dari “Kata Pengantar” oleh Pierre-Yves Manguin, ibid., h. xiv.

[3] Ibid., h. 65.

[4] Ibidem.

[5] Baru saya ketahui bentuknya yang unik seperti tugu kecil belakangan, melalui fotonya dalam Retno Sulistianingsih Sitowati dan John N. Miksic, Icons of Art: National Museum Jakarta (2006), h. 102.

[6] Tengok Keith W. Taylor, “The Early Kingdoms” dalam Nicholas Tarling (peny.), The Cambridge History of Southeast Asia: Volume One, Part One. From early times to c. 1500 (1999), h. 173. Huruf tebal dari penulis.

[7] Ibid., h. 198.

Telah Terbit : Panji Tengkorak; Kebudayaan dalam Perbincangan

Kajian komik Indonesia sepanjang sejarahnya terlalu sedikit, maka sebuah kajian yang mendalam layak dilakukan. Kajian ini membandingkan buku komik Panji Tengkorak yang digubah oleh Hans Jaladara sampai tiga kali, yakni tahun 1968, 1985, dan 1996, yang sebagai kesatuan disebut Tiga Panji Tengkorak.
Maksud dan tujuan kajian atas Tiga Panji Tengkorak adalah mencari tahu dan mengungkapkan bagaimana kebudayaan berlangsung.

Dalam kajian ini dapat diikuti sejumlah perbincangan, mulai dari politik identitas sampai bias gender, sehingga terbongkar bahwa ideologi yang tersandang dalam gambar realisme dan gambar kartun adalah konstruksi realitas. Tarik menarik antara objektivitas dan subjektivitas menjadi pergulatan antarwacana yang memberlangsungkan kebudayaan; yang memang akan selalu terhadirkan sebagai metakebudayaan, yakni kebudayan tentang kebudayaan , karena kebudayaan terhadirkan dalam proses perbincangan.

Ini berarti manusia yang berada di dalam kebudayaan, dalam hubungan dibentuk/membentuk kebudayaan, hanya akan melihat kebudayan sebagai suatu jejak. Tiga Panji Tengkorak adalah jejak-jejak kebudayaan yang dalam pembongkaran telah memperlihatkan berlansungnya kebudayaan.

Judul : Panji Tengkorak, Kebudayaan dalam Perbincangan

Terbit : 19 Agustus 2011

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta

(www.penerbitkpg.com)

RALAT pada cetakan pertama:

(1) Di bawah ini adalah bagan yang benar pada halaman  232

(2) Pada halaman 251 paragraf 2 baris 2  dari bawah, yang tertulis “rasistis” seharusnya “rasis” – Dengan ini  kesalahan cetak dibetulkan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 340 pengikut lainnya.