Epilog: Surat

Alina tercinta,

Surat ini kutulis di bawah cahaya senja yang keemasan, yang membentuk sepetak lempeng emas di atas meja, di tempat sekarang aku memikirkan dirimu.
Apakah yang sedang kau lakukan Alina ? Apakah kamu sedang minum kopi ? Apakah kamu sedang menyetir di belantara kemacetan yang menjengkelkan ? Apakah kamu sedang berada di suatu tempat entah di mana di balik bumi yang memandang senja perlahan-lahan menjadi malam ?

Kutulis surat ini perlahan-lahan Alina, seolah bukan tangan yang bergerak di atas kertas, melainkan hati yang menerjemahkan dirinya ke dalam tinta, langsung membentuk huruf-huruf yang berusaha merengkuh dirimu, nun entah di ufuk yang mana. Kulihat langit di luar makin menggelap, dan lempengan emas di mejaku meredup, begitu rupa seolah-olah matahari di luar sana telah mengkerut dan tiba-tiba menjauh, tapi itu semua barangkali tidak penting bukan Alina ?
Matahari senja yang lenyap ditelan gedung-gedung bertingkat tidaklah lebih penting dari begitu banyak hal lain yang berlangsung hari ini – ulat yang menggeliat di atas daun, satpam yang tertidur di kursi jaga, seorang wanita berkaki satu yang mengemis di bawah jembatan layang, kereta api dari Yogya yang memasuki stasiun, gadis yang menangis, gelembung permen karet yang pecah, suara seruling, suara klakson, seorang menteri terbatuk-batuk, seorang penari mengibaskan selendang…

Aku tahu aku bisa saja menelponmu Alina, dan kita akan bicara, begitu lama, sebisanya, seperti hari-hari yang kita lewati bersama – tapi, kali ini, biarkanlah aku menulis surat ini untukmu, demi sesuatu yang barangkali saja bisa abadi. Siapa tahu. Kita kan boleh berharap segala sesuatu yang paling kecil, paling sepele, paling tidak penting, tapi mungkin indah bagi kita berdua, bisa tetap tinggal abadi ? Seperti daun melayang tertiup angin, yang kita tidak tahu lagi di mana, namun masih tetap tinggal indah dalam kenangan kita.

Begitulah memang aku ketemu kamu Alina, di sebuah ruang di bagian semesta yang gelap di mana waktu tak tercatat, seperti bisikan, di mana kita hanya saling menyentuh, dan tak selalu ketemu, tapi bisa saling merasa, dan dengan itu toh bisa membangun dunia kita sendiri. Dari kelam ke kelam kita arungi waktu Alina, dan dengan gumam perlahan-lahan karena ruang bukan milik kita, dan setiap orang selalu merasa punya kepentingan yang sama besarnya. Barangkali juga karena kepentingannya jauh lebih besar dari urusan kita. Bisakah diterima perasaan kita begitu penting untuk sebuah kota yang gemerlapan di mana senja tiada artinya ?

Kukira kamu masih ingat senja di pantai itu Alina. Senja yang memastikan bahwa hari telah berlalu, dan kita hanya bisa saling memandang, serta berkata diam-diam dalam hati : ” Betapa waktu begitu singkat.” Waktu memang tak akan pernah cukup Alina, tak akan penah cukup untuk sebuah keinginan yang memang tidak akan mungkin terpenuhi, seperti begitu banyak cita-cita tersembunyi selama-lamanya. Barangkali kita hanya harus merasa semua ini sudah cukup, dan bersyukur karena sempat mengalami saat-saat yang indah. Seperti perasaan kita ketika memandang matahari senja, yang toh tak bisa tetap tinggal di sana.

Alina tercinta,
Barangkali memang kita memang tidak usah terlalu peduli dengan semua ini. Karena serbuk-serbuk perasaan yang tersisa, juga telah lenyap ditiup angin bercampur baur dengan debu yang berterbangan, yang hanya kadang-kadang saja akan kita kenali kembali, jika arah angin menuju ke arah kita. Perasaan-perasaan yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal yang tidak harus kita mengerti Alina, ada saatnya kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa dan tidak perlu menyesali apa-apa, kecuali hanya merasa, bergerak, dan menjelma.

Tapi sudahlah Alina, kita kenang saja waktu dalam gelas kopi itu, yang akan segera mendingin sebelum senja tiba. Bukankah kita sudah cukup bahagia, meskipun hanya saling bertanya ? Begitu banyak kabar dari jauh, tentang ruang dan bumi yang selalu mengeluh. Begitu banyak kepedihan di jalanan, darah berceceran, dan kita begitu sibuk dengan perasan kita sendiri — tapi apalah salahnya ? Aku sering berpikir tentang betapa fana hidup kita. Sepotong riwayat di tengah jutaan tahun semesta. Dua orang di belantara peristiwa. Apakah kita masih punya arti Alina, dalam ukuran tahun cahaya ?

Aku pun bertanya-tanya, apakah semua itu ada maksudnya ? Sebuah sudut di dalam kafe, lampu remang di pojok teman, sepotong percakapan yang kadang-kadang terganggu. Semuanya bagai tak pernah utuh, tak pernah selesai, dan tidak mungkin jadi lengkap — namun siapa yang menuntut semua ini harus sempurna ? Kita sudah tahu semua ini memang tidak bisa jadi apa-apa, dan barangkali memang tidak perlu menjadi apa-apa. Kita toh sudah senang meski hanya saling memandang, dan menengok segala penyesalan sebelum pertemuan, dan tahu memang tidak ada yang bisa disalahkan, sehingga kita memang tidak perlu bertanya, ” Kenapa harus jadi begini ?”

Apa boleh buat. Hidup barangkali memang cuma seperti sebuah keemasan. Seperti opera sabun. Barangkali seperti itulah hidupku Alina — seperti opera sabun. Barangkali dari sensasi satu ke sansasi lain, dengan bau parfum yang berlainan setiap kali pulang, dan kita tidak punya cukup kemampuan untuk menghindarinya. Kulihat begitu banyak manusia berjejal di bawah sana, barangkali kamu berada di antara mereka Alina, begitu sesak kota ini, seperti tiada tempat lagi untuk bangunan batu. Gedung-gedung terus tumbuh ke atas, hanya untuk menampung manusia. Mereka semua akan menjadi bagian dari opera sabun itu Alina, opera sabun tentang orang-orang yang terus-menerus memburu sensasi dalam hidupnya. Barangkali, ya barangkali, kita memang harus berpesta sebelum tenggelam dalam sebuah perkabungan yang panjang.

Aku di sini saja Alina, menulis surat untukmu, di salah satu gua di belantara kota yang memabukkan. Pastilah hidup ini memabukkan Alina, sangat sering membuat kita lupa ada kematian. Dari senja ke senja kutulis surat kepadamu Alina, sekedar untuk mencoba merasa bahwa kehidupan yang fana itu masih ada, masih menggerakkan serat-serat halus perasaan kita, sekedar untuk membuktikan bahwa kita belum menjadi dodol yang lumutan. Kalaulah aku bisa menuliskan surat ini langsung ke dalam hatimu Alina, aku akan melakukannya, seperti awan mengubah dirinya menjadi hujan, supaya bisa menyatu ke daratan. Tapi aku tidak bisa melakukannya Alina, aku hanya bisa menulis surat seperti ini, surat seseorang yang barangkali agak kacau pikirannya – kurang lurus, tidak jernih, dan terlalu banyak mengumbar perasaan. Maafkanlah semua itu Alina, barangkali aku memang tidak dilahirkan untuk membahagiakan semua orang.

Alina tercinta, masih selalu tercinta, dan akan selalu tercinta.
Di luar senja telah menjadi ungu Alina, dan aku tiba-tiba merasa tua. Senja merah yang keemasan berubah menajdi ungu bagaikan akhir sebuah cerita yang muram. Jangan salahkan aku Alina, ini bukan keinginanku senditi. Aku hanya menulis surat yang menerjemahkan diriku kepadamu, dari salah satu ruang di sarang lebah di hutan belantara yang gemerlapan. Cahaya listrik berkeredap riang di antara kelam tapi tak juga mampu mengusik suasana hatiku yang lagi-lagi menjadi rawan. Apakah aku harus mengangkat telepon yang berdering itu, dan tenggelam ke dalam opera sabun yang lain ? Aku sudah capek Alina, capek memanjakan perasaan. Barangkali memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri. Membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan mencoba hidup bersama dengan kenyataan. Masalahnya, apakah kenyataan mau hidup sama kita ? Sudah terlalu sering aku mendengar tentang seseroang yang mati sendirian di kamar, kesepian tanpa teman, membusuk perlahan-lahan. Jangan-jangan aku akan mati seperti itu, duduk di kursi seperti sekarang, ketika sedang menulis surat untukmu, karena memang kamu yang selalu, selalu, dan selalu kukenang dan kucemaskan. Ah—sedang apa kamu Alina, sedang duduk melamun sendirian atau menyetir mobil di tengah hujan ? Apakah kamu masih selalu memanggil tukang pijat, setelah berhari-hari diterpa kelelahan yang seolah-olah merontokkan tulang ?

Begitulah keadaanku sekarang Alina, merasa tua, mudah capek dan mulai ubanan. Barangkali sudah waktunya aku mengundurkan diri dari dunia persilatan, menyembunyikan diri ke sebuah gua di puncak gunung, dan mempelajari kitab-kitab tentang kesempurnaan. Celakanya kehidupan ini tidaklah begitu mirip dengan dunia persilatan. Kehidupan ini bisa begitu menyiksa tanpa ada korban, karena segala sesuatunya memang keras tanpa ada kekerasan, kejam tanpa ada kekejaman, dan begitu menghancurkan tanpa harus ada penindasan.

Inilah suratku Alina, surat seseorang yang menyandarkan kehidupannya pada kenangan, dan kenangan itu adalah kamu. Kita semua memang menjadi tua Alina, tak apa, bumi begitu ungu di luar, ungu dan kelam – tapi siapakah yang akan merasa kehilangan ? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana Alina, percayalah, kita, kamu dan aku, akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika senja tiba, selamanya, karena aku telah menulis surat tentang kita, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang lagi untuk selama-lamanya.

*) dikutip dari Novel  “Jazz Parfum dan Insiden”, Yayasan Bentang Budaya, 1996

Bunyi Hujan di Atas Genting

Bunyi Hujan di Atas Genting

 

“Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri:

 Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di atas genting.

            Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar.

          
 
 Mungkin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato.

          Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya.
 
 Dadanya selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu dan menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil membungkuk.

Ia selalu merasa takut, tapi ia selalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat itu sudah terlanjur dikerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kakinya, tangannya atau paling sedikit tatonya.

Sawitri pernah membuka kain penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi ia tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis seperti masih hidup. Sebuah wajah yang menyeramkan.
 
 Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah.

Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna darah pada dada dan punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur.
 
 Kadang-kadang mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau ke neraka.

Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga melihat mata yang bertanya-tanya. Mata yang menuntut. Mata yang menolak takdir.
 
 Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasukan air hujan.

Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka berteriak-teriak sambil mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore.
 
 “Lihat! Satu lagi!”

            “Mampus!”

            “Modar!”

            “Tahu rasa dia sekarang!”

            “Ya, tahu rasa dia sekarang!”

            “Anjing!”

            “Anjing!”

Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupnya kembali setelah melihat sesosok mayat bertato.
 
 Sawitri akan menarik napas panjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat bertato itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul…

          Mayat-mayat itu menggeletak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahkan ada juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis di punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah itu rusak.
 
 Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang bertato itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak karena lubang peluru.

Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya lampu merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali tato di punggungnya yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati, bunga mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, huruf-huruf besar…

Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum.
 
 Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu!

Maka hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu rimbanya.
 
 Dulu mayat-mayat itu bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh di tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat itu sambil berteriak-teriak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu?

Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak di tempat yang tidak mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu.
 
 Apakah Pamuji telah menggeletak di suatu tempat seperti mayat-mayat di mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari Pamuji tanpa alamat pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pamuji tak akan tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia belum tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib yang sama?

Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke kanan…

           

“Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu.

  Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 364 pengikut lainnya.