Bibir

Bibir

   

Ia memaki-maki. Aku telah memberikan minuman yang salah. Kalau bukan dia yang memaki-maki sekasar itu, aku tak terlalu kaget. Bar tempatku bekerja itu adalah bar murahan. Di sini tidak ada sopan-santun bergaya anggun. Para pedagang yang jenuh bermanis-manis dan bersopan santun sepanjang hari, memuas-muaskan keliarannya. Mereka minum banyak-banyak. Mereka bicara banyak-banyak. Dan meraka tertawa banyak-banyak.

Mereka bisa memaki-maki dengan bebas dan bisa dimaki-maki dengan bebas. Dan bar ini sebetulnya tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah panti pijat di lantai atas. Para pemijat yang tidak selalu cantik, dan tidak selalu bias memijat, menunggu pedagang-pedagang itu untuk adegan yang tidak selalu mesra. Pedagang-pedagang datang dan tanpa basa-basi langsung menerkam pemijat-pemijat.

Setelah selesai mereka akan turun dan minum-minum sampai mabuk. Sambil mabuk mereka akan bercakap-cakap dengan suara keras dan tertawa-tawa dengan suara yang juga keras. Mendekati tengah malam meraka sudah mabuk berat dan bisa memaki-maki tanpa rasa risi. Wanita-wanita yang menemani tamu duduk dan bercakap-cakap juga ikut tertawa keras dan memaki-maki keras. Mereka sering tertawa keras-keras karena gurauan mesum yang diucapkan keras-keras. Maka, semua orang bicara mesum dengan keras-keras.

Malam berikutnya penyanyi itu lebih ramah.

“Minta Martini[2], jangan salah lagi ya?”

Aku tersenyum. Kubuat campuran yang istimewa. Dan penyanyi itu tersenyum.

“Anda cantik sekali kalau memagang gelas. Dan alangkah cantiknya kalau memandangi cap bibir pada gelas.”

Mata penyanyi itu tampak cerah. Aku ingin sekali membuatnya tetap duduk. Namun, MC memanggilnya ke panggung. Ia meletakkan gelas. Ia beranjak. Dan ia segera ditelan tugasnya sehari-hari. Di antara asap dan riuh obrolan, aku mendengar ia menyanyi.

Do you know where you’re going to
Do you think the things that life is showing you
Where are you going to, do you know?  [3]

Aku menunggu kalau ia akan balik lagi dan duduk sambil bercakap-cakap di hadapanku. Tapi, ia tak pernah kembali, meskipun minumannya belum habis. Selesai menyanyi ada tamu mengundangnya duduk. Setelah bar tutup lewat tengah malam, ia pulang bersama tamu itu.

Sampai di tempat indekosan, aku tak bisa tidur. Bibirnya terbayang-bayang selalu. Bibir yang bergerak-gerak ketika bercakap. Bibir yang bergerak-gerak di muka mikrofon ketika menyanyi. Bibir  yang merah dan berkilat-kilat. Bibir yang melengkung indah dan sangat jelas gurat-guratnya. Bibir yang mendekati bibir gelas. Bibir yang basah dan makin basah oleh minuman.
Ketika tertidur aku bermimpi tentang bibir itu.

 

 

————————–

[2] Martini: mungkin cocktail(campuran) yang paling terkenal dengan ribuan variasi, tergantung dari perbandingan takaran antara gin(jenewer) dan vermouth(air anggur). Setidaknya ada tiga variasi standar. Sweet martini(gin, sweet vermouth), dry martini(gin, dry vermouth), medium martini(gin, dry vermouth, sweet vermouth).

[3] Dari Theme from Mahogany, Diana Ross, 1976. disebut juga Do you Know where You’re going to? Ditulis oleh Michael Masser dan Gerry Goffin. Lagu itu menjadi bagian dari soundtrack film mahogany (Berry Jordi Jr, 1975), film kedua yang dibintangi Diana Ross. Lagu ini menjadi nominee untuk Best Song dalam perebutan Academy Award(Oscar).

Linguae

Linguae

      

Seperti cinta,” kataku. “Ya. Seperti cinta,” katanya.

Dalam remang, entah pagi entah siang entah sore entah malam, kami terus menerus saling menguji daya cinta lidah kami. Selalu remang. Hanya remang. Lebih baik remang—karena cinta yang jelas dan terang, yakin dan pasti, bersih dan steril, seperti bukan cinta lagi. Jadi memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas—apakah  yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah yang terlalu dekat, begitu dekat, sehingga tak berjarak, ketika saling menguji lidah, selain ketakjelasan dalam keremangan dengan cahaya lembut yang berusaha menerobos gorden?

Mungkin itu sebabnya aku lebih sering ingat gorden daripada wajahnya, karena hanya dari balik gorden itu datang cahaya yang hanya membuat ruang menjadi temaram. “Tutup matamu,” katanya. Kupejamkan mataku dan kutahu ia memejamkan matanya. “Berikan cintamu,” katanya dan kupersembahkan cintaku dalam percakapan tanpa kata karena lidah kami menyatakan segalanya dengan lebih nyata daripada kata-kata dalam tatabahasa sempurna mana pun di dunia.

***

“Jangan bicara,” katanya —tapi bicara juga menyenangkan sebenarnya. Artinya bicara dengan tangan bergandengan sambil menatap langit-langit. Memang, hanya langit-langit, dan bukan langit—karena mereka yang bercinta dalam keremangan semesta tak akan pernah mengenal langit, yang bersih dan terang, dengan matahari dan awan, maupun bintang-bintang dan rembulan. Tak akan pernah. Hanya langit-langit dan di langit-langit tak ada rembulan maupun matahari, hanya sepasang cicak berlari-lari.

“Jangan bicara,” katanya. Jangan bicara tentang cinta maksudnya—karena cinta lebih baik di alami dan dinyatakan, tidak usah dirumuskan.

Maka kami pun berbicara dengan bergandengan tangan sambil menatap langit-langit dalam keremangan hanya keremangan selalu keremangan dan tiada lain selain keremangan.

Apakah yang bisa dibicarakan dalam keremangan? Banyak. Diantara yang banyak adalah impian—yang seperti semua impian lain tak akan pernah jelas bisa menjadi kenyataan atau tetap tinggal sebagai impian.

Namun bahkan suatu impian yang hanya diperbincangkan ternyata bias membahagiakan.

“Katakanlah tentang cinta,” katanya. Namun kami tak akan bicara tentang cinta. Kami akan bicara tentang sebuah rumah terpencil ditepi sebuah danau di dataran tinggi. Danua itu tentunya akan tampak kebiru-biruan, dengan gunung gemunung yang ungu di kejauhan dan setiap hari kami akan makan ikan.

Kami akan hidup berdua saja, hanya berdua, tiada lain selain berdua selama sisa hidup kami karena tidak akan banyak lagi waktu tersisa. Setiap hari aku akan memakai sarung dan ia akan berkain kebaya—tidakkah memang indah membayangkan diri hidup bersama dengan seseorang yang benar-benar kita cintai sepenuhnya  dan tiada lain selain dia? Aku sering terpana menyadari betapa dunia dan segala urusannya menjadi tidak terlalu penting selama kita mendapatkan cinta. Masalahnya, begitu sering orang yang mendambakan cinta tetapi tidak mendapatkannya malah mengacaukan dunia.

Keindahan dalam keremangan, masihkah akan tetap indah dalam dunia yang bersih dan terang?

Ketika berpisah, aku hanya akan teringat bahunya yang telanjang dalam keremangan. Bahu, pundak, dan lehernya yang telanjang—  yang kukira aku tahu betul rasanya.

***

Menunggu dia yang entah berada dimana dan sedang apa.

Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lamapun selama aku mencintainya. Menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri. Kalau kita ketemu hanya lima menit dan menunggu selama 95 menit maka itu berarti pertemuan berlangsung 100 menit. Perpisahan pun sering tidak berarti apa-apa—seperti tidak pernah ada perpisahan bagi orang yang saling mencintai. Mereka saling memaki ketika bertemu tetapi tetap saling mengenang ketika berpisah. Perpisahan yang sebenarnya akan terjadi ketika tidak pernah ingat lagi kepada seseorang meskipun kita hidup bersamanya. Juga jika seseorang sudah mati, selama kita masih mengingat dan mengenangnya berarti tiada perpisahan sama sekali.

Namun menunggu adalah menunggu. Lima menit bias menjadi 500 tahun —dan waktu yang kosong bisa diisi sejarah berabad-abad.

Dulu dia hanya duduk disana, menoleh padaku, menyebut namaku dengan nada bertanya, dan mengajukan tangannya untuk bersalaman, sambil menyebutkan namanya.

“Kenapa tidak saat itu saja kita menguji kepekaan lidah kita akan cinta? Kenapa harus menunggu begitu lama untuk mengembara dalam dunia yang begitu remang terlalu remang taram temaram untuk memahami betapa lidah begitu penting tidak hanya untuk berkata-kata melainkan justru ketika tidak perlu mengatakan apa-apa?”
Itulah dia. Kenapa tidak sejak pertemuan pertama dia berkata, “Sentuhlah aku dengan lidahmu..”

“Ya, kenapa tidak? Kenapa tidak kamu saja yang bicara begitu?” katanya.
“Kalau aku bilang ’Sentuhlah aku dengan lidahmu’ apakah kau akan menyentuhku dengan lidahmu?”
Ia tidak menjawab saat itu, hanya menyentuh lidahku, dengan lidahnya.
Aku masih menunggu dia yang entah berada dimana dan sedang apa.

Aku berpikir apakah yang membuat kita yakin bahwa kita benar-benar mencintai seseorang dan tidak sekedar menyukai lidahnya.

***

Aku bermimpi buruk. Suatu hari aku bangun tanpa lidah. Bukan soalnya apakah aku tidak mampu bicara, karena bagiku tidak berbicara adalah menghemat tenaga. Namun bagaimana aku akan menyentuh, meraba, dan menyatakan sesuatu kepada seseorang yang sangat kucintai dengan lidah jika aku tak berlidah? Cinta mungkin tidak perlu kata-kata tetapi aku tidak tahu bagaimana nasib cinta jika para pecinta kehilangan lidahnya.

Bisakah dikatakan bahwa cinta berada dalam masalah ketika lidah tak lagi berperan di dalamnya? Aku tak tahu apakah ada filsuf yang pernah berbicara tentang lidah dengan segala kemanusiaan yang paling mungkin dihadirkan oleh keberadaan lidah itu. Dalam roman picisan sering dituliskan: Ia menyelusuri tubuh kekasihnya itu dengan lidahnya dan kekasihnya merasa telah berada dalam kereta kencana bersayap yang melaju diatas sungai susu di langit ke tujuh …

Mungkinkah suatu hari aku akan terbangun betul-betul tanpa lidah? Bukan soalnya bahwa dalam hidup ini suara kita sering dibungkam dan kata-kata kita dianggap merusak ketenangan, melainkan justru karena terlalu banyak hal yang tak terkatakan hanya bisa disampaikan melalui lidah. Artinya memang lidah itu tak tergantikan.

“Apakah kamu masih akan mencintaiku kalau aku suatu hari bangun tanpa lidah dan tidak bisa lagi menyatakan cinta dan menyentuhmu dengan lidahku?”

“Kalau kamu?” Ia balik bertanya, sambil menjulurkan lidahnya.

Kalau ia tidak berlidah? Aku teringat cerita tentang Sasuke, seorang pelayan yang menjalin hubungan cinta terselubung dengan shunkin, perempuan majikannya. Suatu penganiayaan oleh saingannya dalam karir sebagai pemain shamisen telah membuat shunkin buta. Atas nama cinta, meski tidak pernah menyatakannya, Sasuke lantas membutakan matanya sendiri.

Menurutku itu memang kebersamaan cinta yang luar biasa. Kalau aku ingin seperti Sasuke, aku tentu harus  memotong lidahku. Sanggupkah aku?

Apakah sentuhan cinta terindah hanya bisa disampaikan oleh lidah? Tidak bisakah cinta disampaikan oleh tungkak?

Kukira aku sedang tidak ingin memikirkannya.

     

Pondok Aren, Selasa 10 Mei 2005. 16:25

1. Linguae, bahasa latin, artinya: lidah.
2. Dari Shunkinso(1933) karya Junichiro Tanizaki, melalui Tanizaki, “A Portrait of Shunkin” dalam Seven Japanese Tales (terjemahan Howard Hibbet), New York: berkley Medallion book, 1965, 11-60
3. Tungkak, dari bahasa Jawa, artinya: tumit.

              
“Linguae”, dalam M Firman Ichsan dkk., yang tercinta / The Loved Ones (Jakarta; Yayasan Pendidikan dan Pengembangan Budaya Visual Oktagon, 2005), sebagai penafsiran foto karya Oscar Matuloh.

Linguae

Linguae

                                                                  

       

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama Maret 2007

Daftar Isi:     

1. “Cermin Maneka”, Kompas 8 Oktober 2000
2. “Cintaku Jauh Di Komodo”, Kompas 17 Agustus 2003
3. “Rembulan dalam Cappuccino”, Kompas 30 November 2003
4. “Tong Setan”, Koran Tempo 8 Februari 2004
5. “Badak Kencana”, Koran Tempo 30 Mei 2004
6. “Senja di Pulau Tanpa Nama”, Koran Tempo 7 Maret 2005
7. “Linguae”, dalam M. Firman Ichsan dkk, Yang tercinta / The Loved Ones (Jakarta: Yayasan Pendidikan dan Pengembangan Budaya Visual Oktagon 2005), sebagai penafsiran foto karya Oscar Motuloh
8. “Joko Swiwi”, Koran Tempo 18 Juni 2006
9. “SimSalabim”, Koran tempo 27 Agustus 2006
10. “Sebatang Pohon di tengah Padang”, Koran Tempo 12 November 2006
11. “Gerobak”, Kompas 15 Oktober 2006
12. “Perahu Nelayan Melintas Cakrawala”, belum pernah di Publikasikan
13. “Kopi, dan Lain-Lain”, majalah Civitas, edisi 1/2007
14.  “Senja di Kaca Spion”, Harian suara Pembaruan Maret 2007
                        
                

Resensi :

 

 Linguae artinya lidah. Cerpen “Linguae” dalam kumcer berjudul sama karya Seno Gumira Ajidarma ini bercerita tentang makna lidah bagi manusia. Bagaimana nasib para pecinta jika organ tubuh yang satu ini hilang? Begitu banyak peran lidah yang tak dapat digantikan oleh organ lain seperti dengkul, misalnya. Cerpen ini berkisah, dalam sebuah percintaan, lidah memang menyatakan segalanya dengan lebih nyata daripada kata-kata dalam tatabahasa sempurna mana pun di dunia.Tiga belas cerpen lainnya mengungkapkan beraneka kisah. “Cintaku Jauh di Komodo” bercerita tentang cinta yang tak pernah hilang di antara dua manusia yang terus bereinkarnasi sepanjang masa. Bahkan, sampai salah satu dari mereka berubah wujud menjadi komodo! “Rembulan dalam Cappucino” mengisahkan seorang perempuan yang baru cerai dengan suaminya memesan capucinno dengan rembulan terapung di dalam cangkirnya. Silakan menerjemahkan dengan bebas metafora rembulan yang diungkap SGA dalam cerpen ini. Sementara, cerpen “Joko Swiwi” adalah cerpen yang sangat imanjinatif dalam buku ini. Dikisahkan, seorang anak lahir dengan sayap di tubuhnya. Ia menjadi pahlawan di kampungnya, namun pada akhirnya mesti terusir dari sana karena suatu pengkhianatan.Cerpen-cerpen lainnya ditulis dengan gaya bercerita SGA yang khas, unik, dan penuh imajinasi yang tak terduga.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 360 pengikut lainnya.