Senja dan Sajak Cinta

Senja dan Sajak Cinta

 

Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.

Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?

Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan.

Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain diatas kampung-kampung. Diatas genting-genting. Diatas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.

Ada sisa layang-layang dilangit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang mengentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu.

Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual Koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan Koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip dilangit yang bersih. Seorang wanita, entah dimana, menyapukan lipstik ke bibirnya.

Malam telah turun di Jakarta. Dimeja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta.

langit muram, kau pun tahu
angin menyapu musim, gerimis melintas
pada senja selintas, aku tak tahu
masihkah ketemu malamku

kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
dalam jejak senyap semalam
menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan

Hujan, Senja, dan Cinta

Hujan, Senja, dan Cinta

                                    

Karena ia mencintai dia, dan dia menyukai hujan, maka ia menciptakan hujan untuk dia .1

Begitulah hujan itu turun dari langit bagaikan tirai kelabu yang lembut dengan suara yang menyejukkan. Dia sudah tahu saja dari mana hujan itu datang.duduk di depan jendela, diusapnya kaca jendela yang berembun. Jari-jari-nya yang mungil mengikuti aliran air yang menurun perlahan di kaca itu.

”Hujan, o hujan …” Dia berbisik.

Dia begitu berbahagia menyadari cinta kekasihnya yang begitu besar, sehingga menjelma hujan yang selalu dirindukannya. Dia tahu betapa ia selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya. Dia terharu dengan cinta yang membuat segala benda dan peristiwa menjadi bermakna. Dia memandang keluar jendela, menembus tirai kelabu, melewati desau pohon-pohon bambu yang basah dan berkilat dalam hujan dan angin, mengirimkan getaran cinta yang melesat sepanjang langit mnuju kekasihnya di balik kabut. Kilat berkeredap dan guntur menggelegar diatas gunung dalam pertemuan cinta yang panas dan membara.

Hujan itu tidak pernah meninggalkan dia lagi. Hujan itu selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Ke mana pun dia datang, datang pula hujan ke tempat itu. Sambil menyetir, dari dalam mobil selalu diusapnya kaca jendela. Dingin hujan itu dirasakannya sebagai dekapan hangat kekasihnya. Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka. Cinta membuat sepasang kekasih saling memikirkan dan saling merindukan, menciptakan getaran cinta yang merayapi partikel udara, melucur dan melaju ke tujuan yang sama dalam denyutan semesta. Dari milan, dari Kyoto, dari Jakarta…

Terkadang dibukanya jendela mobil, ditadahinya air hujan dengan tangannya, lantas direguknya. Begitulah caranya cinta meresap kedalam tubuh, menjadi bagian dari alam. Meskipun bukan musim hujan, selalu ada hujan yang turun hanya untuk dirinya. Bila dia keluar  rumah, lenyap pula hujan. Hujan itu mengikuti mobilnya sepanjang jalan. Sepanjang jalan yang dilaluinya menjadi basah karena hujan, dan hanya jalan yang dilaluinya saja menjadi basah dan sejuk sebentar karena hujan yang turun ke bumi mengikuti dia atas nama cinta.

”Heran,” kata pembantu rumah tangga di rumahnya, ”setiap kali ibu pergi, hujan berhenti, kalau Ibu datang, hujan lagi.”

”Heran,” kata kawan-kawannya, ”belakangan ini, asal kamu datang pasti hujan, kamu pergi hujan hilang. Padahal bukan musim hujan.”

Suaminya, yang selalupeka terhadap suasana hati istrinya, menadahi air hujan itu, dan membawanya ke laboratorium.

”Ah, ini hujan karena cinta,” katanya kemudian, ”siapa lagi yang jatuh cinta kali ini?”

Dia terkesiap dalam hati. Tapi wajahnya dingin saja.

”Tidak ada apa-apa. Kenapa sih?”

”Kamu kira bisa menutupi perasaanmu yang berbunga-bunga?”

Dia diam saja. Memang hatinya berbunga-bunga.
Diluar hujan masih saja menderas. Air hujan menganak sungai disela-sela rumput, dedaunan basah dan bergoyang-goyang. Tanpa diketahui suaminya dia mengusap seluruh embun disetiap kaca jendela rumah dengan kedua telapak tangannya., lantas membasuh wajahnya. Tubuhnya bergetar dan jiwanya menangis karena terharu. Hujan yang sangat disukainyatak pernah lenyap lagi dari hidupnya. Kekasihnya yang tak terlihat telah mengirimkannya dari jauh atas nama cinta, hanya untuk dirinya saja.

”Hujan, o hujan” desahnya sembari memandang keluar jendela setiap malam.

***

Kemudian tibalah saat ketika cinta diantara dia dan ia memudar. Sebarapa lama sih umur cinta? Hujan yang semula mewakili perasaan cinta yang dahsyat itu sekarang terasa sangat menganggu.

”Cinta kita sudah berakhir, kenapa hujan itu masih saja mengikuti aku ke mana-mana? Lihat  semua orang jadi terganggu. Setap keluar mobil aku harus pakai payung. Jalan-jalan di halaman rumah sendiri harus pakai jas hujan. Gimana dong?  Kasihan tamu-tamuku. Dimana-mana asal orang berurusan denganku menjadi kehujanan dan basah. Bisa nggak kamu tarik hujanmu ini?”

”Mana bisa? Hujan itu akan selalu ada selama aku masih mencintai kamu.”

”Kamu kira aku senang dicintai kamu? Nggak usah cinta-cintaan lagilah. Tarik hujanmu ini.”

”Sudah kubilang, selama aku mencintai kamu, tidak bisa.”

”Kalau begitu jangan mencintai aku. Bikin repot saja.”

”Bukan salahku. Siapa yang cintanya memudar? Dulu minta-minta dikasih hujan, sekarang omongannya begitu.”

”Bukan salahku aku tidak mencintai kamu lagi. Cewek seabreg begitu. Mana kutahu kamu tetap setia?”

”Aku tetap setia. Menyentuh pun aku tidak pernah.”

”Bukan itu ukuran kesetiaan”

”Apa dong?”

”Sudah kubilang cinta itu abstrak.”

”Tidak.”

”Menurut kamu?”

”Cinta itu konkret.”

”Buktinya?”

”Hujan itu.”

Ia dan dia betengkar sampai malam sambil minum bir plethok. Aneh sekali. Mereka bahagia dalam pertengkaran itu. Barangkali karena mabuk.

”Setidaknya kita masih punya perasaan,” meraka merumuskan setangah mabuk.
Namun hubungan mereka tidak tertolong. Semenjak pertemuan terakhir itu, ia dan dia tidak pernah berjumpa lagi. Meskipun begitu hujan itu tetap mengiringi dia. Perempuan itu selalu bisa melihatnya dari balik jendela loteng, dimana dia mengalihkan cintanya melalu e-mail ke seluruh dunia.

”Masih cinta juga tuh si doi sama istri macam kamu?” suaminya menyindir.

Dia tak pernah menjawab. Tapi dia tahu jika ia masih mencintainya.

***

Sulit sekali bagi ia untuk tidak mencintai dia. Selama itu pula ia tidak mampu menarikkembali hujan cintanya yang menderas dari langit.

”Pikirkan saja istri kamu,” kata istrinya yang menangkap kegelisahan suaminya, ”jangan istri orang lain jadi beban pikiran.”

Ia tak pernah menjawab, karena tidak ada yang bisa dijelaskan. Setiap kali ia melewati jalan layang yang terlihat di mana sepetak hujan itu berada, tapi ia sudah tidak menghendaki perjumpaan macam apapun. Hatinya hancur berantakan seperti keramik jatuh ke landasan dari pesawat kargo yang sedang take off. Dengan kesal dihapusnya nomor-nomor telepon dia dari hand-phone, namun ini hanya membuat ia semakin kesal, karena toh masih hapal juga. Terlalu banyak hal dari dia telah meresap kedalam dirinya dan tak mungkin dihapus untuk selama-lamanya. Gambar-gambar, foto-foto, kata-kata. Waktu meninggalkan jejak, begitu pula saat-saat yang dilaluinya bersama dia. Segenap makna perjumpaanya meresap kedalam hatinya dan ia tidak bisa melupakan dia. Ia tak bisa lagi memandang segala sesuatu didunia ini seperti sebelum berjumpa dengan dia, ia tak bisa lagi berpikir di luar cara berpikir seperti dia. Mereka telah berpisah, tapi tidak terpisahkan. Begitukah caranya cinta berada? Pikirnya. Tapi setiap kali berpikir ia teringat dia. Maka ia berusaha berhenti berpikir. Ia marah sekali dengan cinta.

”Taik kucing dengan cinta,” umpatnya dalam hati.

Namun pada suatu senja yang gemilang, cinta jualah yang menyelamatkanya, ketika seorang dia yang lain muncul kembali dari balik kenangan yang sudah terhapus. Dia tidak berkata apa-apa, seperti kutipan sebuah saja: Tidak ada janji | pada pantai.2 

Ia pun tahu, tak ada janji pada perjumpaan yang manapun – tapi janji-janji memang tidak diperlukannya, karena janji sebuah cinta yang paling mebara sekali pun hanyalah janji seuatu senja yang terindah. Kecuali di negeri senja, adakah senja yang tidak berakhir?

”kuberikan segalanya untukmu,” katanya kepada dia, ”kuberikan cintaku, jiwaku, hidupku, apa saja yang kau mau.”

Dia hanya tersenyum menghela napas, memandang senja yang dipantulkan kaca-kaca gedung bertingkat.

”Lihatlah senja di kaca gedung itu,” kata ia kepada dia.

”Kenapa?”

”Bila engkau melewati jalan ini, senja itu masih akan berada disana, selama-lamanya.”

”Bisa?”

”Bisa sekali, selama engkau masih mencintaiku.”

”Aku tidak pernah mengatakan apa-apa kepadamu.”

”Tidak perlu. Senja itu sudah mengatakannya.”

Dia melihat langit senja yang menjadi abadi di kaca-kaca gedung bertingkat itu. Dia tahu betapa sulitnya melihat matahari tenggelam di Jakarta. Tapi kini ia telah mengabadikan senja ke kaca-kaca gedung bertingkat untuk dirinya saja. Dia bahagia sekali, namun tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun tidak berkata apa-apa.

Mereka berdua menatap langit, kubah senja yang merah membara bagaikan sebuah impian yang menjanjikan bahwa Negeri Senja memang betul-betul ada. Tapi langit yang semburat kemerah-merahan itu hanyalah sebuah janji yang sebaliknya. Setiap detik terjadi perubahan warna, dari merah yang membara sampai memancar keemas-emasan ketika matahari mestinya telah terbenam. Mereka tak bisa melihat matahari di balik gedung. Senja yang keemasan-emasan itu kemudian dengan pasti menggelap, semakin gelap, dan menjadi malam. Bagi mereka yang terbiasa mengamati senja, akan selalu tahu bahwa senja belum betul-betul berakhir ketika matahari terbenam, dan senja masih juga berbisiki-bisik ketika langit jadi gelap dan permukaan air laut yang tadinya berwarna emas seolah-olah mendadak lenyap, tinggal kecipak suara lidah ombak. Pada saat seperti itu, sebuah renungan telah mencapai kesimpulannya.

Namun mereak tidak berada di pantai. Mereka di tengah kemacetan jakarta yang tidak membri peluang untuk kalimat yang – seperti kutipan sebuah sajak–-bisa berlarat-larat .3

”Mengapa kita tidak mencari bir plethok,” ujar perempuan itu.

Ia mengangguk. Ia berkesimpulan, banyak perempuan Jakarta suka bir plethok.4
***

Dia memandang keluar jendela lagi pagi itu. Sudah beberapa minggu ini diperhatikannya hujan itu berubah, dulunya lumayan deras, sekarang kederasannya lumayan berkurang, meski belum jadi gerimis.

”Apakah cintanya mulai berkurang?” pikirnya.

Kali ini dia sendiri yang menadahi air hujan itu dengan sebuah gelas, dan membawanya ke laboratorium.

Cinta mulai berkurang. Begitu tertulis dalam kertas laporan, dan dia merasa kecewa. Aneh, dia sendiri yang dahulu menolak hujan itu, dan sekarang ketika hujan itu menujukkan tanda-tanda mereda, dia merasa penasaran.

”Kenapa cintanya bisa berkurang? Cinta itu mestinya abadi dong!”

Dengan setengah panik dia memencet-mencet handphone, tapi tiada jawaban. Dia kirimkan sebuah lagu kelompok Queen melewati voice mail. Sebuah lagu yang menjerit:I Stil Love Youuuu!

Tapi semuanya sudah terlambat. Pada senja hari itu juga hujan yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi berubah menjadi gerimis dan akhirnya berhenti sama sekali.

”Hujan, o hujan, kemana kamu hujan,” desahnya

Pada senja hari itu dia menatap keluar dari jendela lotengnya, dilihatnya langit yang kemerah-merahan. Langit begitu cerah. Hujan sduah berhenti. Dia tahu betapa ia menyukai langit senja yang kemerah-merahan seperti itu. Dia ingin mengirimkan senja itu kepadanya, sebagai tanda bahwa dia masih mencintainya – mungkin cintanya memang masih ada sedikit, mungkin agak banyak, mungkin pula hatinya tak pernah berubah sebetulnya, tak jelaslah. Saat itu, detik itu, dia ingin sekali.
Dia menatap langit senja di kejauhan sana, dan tahu itu bukan miliknya. Dia menghela napas dan berusaha mengatasi perasaanya.
 
”Mungkin aku terlalu sentimentil,” pikirnya.6
 
Pondok Aren, Minggu 30 Juli 2000.

 
1. Dalam cerita ini, ia adalah kataganti orang ketiga lelaki, dan dia adalah kata ganti orang ketiga perempuan.
2. Dari sajak Goenawan Mohamad, pada sebuah pantai: interlude(1973)
3. Ibidem
4. Cocktail dengan unsure bird an tequila
5. Dari lagu Love of My Love dalam album Live Killers (Juli 1979) vocal oleh Freddy Merkuri (1946-1991)
6. Sajak Pada sebuah Pantai: Interlude(1973) dimulai dengan: semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak sentimentil

Linguae

Linguae

      

Seperti cinta,” kataku. “Ya. Seperti cinta,” katanya.

Dalam remang, entah pagi entah siang entah sore entah malam, kami terus menerus saling menguji daya cinta lidah kami. Selalu remang. Hanya remang. Lebih baik remang—karena cinta yang jelas dan terang, yakin dan pasti, bersih dan steril, seperti bukan cinta lagi. Jadi memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas—apakah  yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah yang terlalu dekat, begitu dekat, sehingga tak berjarak, ketika saling menguji lidah, selain ketakjelasan dalam keremangan dengan cahaya lembut yang berusaha menerobos gorden?

Mungkin itu sebabnya aku lebih sering ingat gorden daripada wajahnya, karena hanya dari balik gorden itu datang cahaya yang hanya membuat ruang menjadi temaram. “Tutup matamu,” katanya. Kupejamkan mataku dan kutahu ia memejamkan matanya. “Berikan cintamu,” katanya dan kupersembahkan cintaku dalam percakapan tanpa kata karena lidah kami menyatakan segalanya dengan lebih nyata daripada kata-kata dalam tatabahasa sempurna mana pun di dunia.

***

“Jangan bicara,” katanya —tapi bicara juga menyenangkan sebenarnya. Artinya bicara dengan tangan bergandengan sambil menatap langit-langit. Memang, hanya langit-langit, dan bukan langit—karena mereka yang bercinta dalam keremangan semesta tak akan pernah mengenal langit, yang bersih dan terang, dengan matahari dan awan, maupun bintang-bintang dan rembulan. Tak akan pernah. Hanya langit-langit dan di langit-langit tak ada rembulan maupun matahari, hanya sepasang cicak berlari-lari.

“Jangan bicara,” katanya. Jangan bicara tentang cinta maksudnya—karena cinta lebih baik di alami dan dinyatakan, tidak usah dirumuskan.

Maka kami pun berbicara dengan bergandengan tangan sambil menatap langit-langit dalam keremangan hanya keremangan selalu keremangan dan tiada lain selain keremangan.

Apakah yang bisa dibicarakan dalam keremangan? Banyak. Diantara yang banyak adalah impian—yang seperti semua impian lain tak akan pernah jelas bisa menjadi kenyataan atau tetap tinggal sebagai impian.

Namun bahkan suatu impian yang hanya diperbincangkan ternyata bias membahagiakan.

“Katakanlah tentang cinta,” katanya. Namun kami tak akan bicara tentang cinta. Kami akan bicara tentang sebuah rumah terpencil ditepi sebuah danau di dataran tinggi. Danua itu tentunya akan tampak kebiru-biruan, dengan gunung gemunung yang ungu di kejauhan dan setiap hari kami akan makan ikan.

Kami akan hidup berdua saja, hanya berdua, tiada lain selain berdua selama sisa hidup kami karena tidak akan banyak lagi waktu tersisa. Setiap hari aku akan memakai sarung dan ia akan berkain kebaya—tidakkah memang indah membayangkan diri hidup bersama dengan seseorang yang benar-benar kita cintai sepenuhnya  dan tiada lain selain dia? Aku sering terpana menyadari betapa dunia dan segala urusannya menjadi tidak terlalu penting selama kita mendapatkan cinta. Masalahnya, begitu sering orang yang mendambakan cinta tetapi tidak mendapatkannya malah mengacaukan dunia.

Keindahan dalam keremangan, masihkah akan tetap indah dalam dunia yang bersih dan terang?

Ketika berpisah, aku hanya akan teringat bahunya yang telanjang dalam keremangan. Bahu, pundak, dan lehernya yang telanjang—  yang kukira aku tahu betul rasanya.

***

Menunggu dia yang entah berada dimana dan sedang apa.

Aku tidak pernah keberatan menunggu siapapun berapa lamapun selama aku mencintainya. Menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri. Kalau kita ketemu hanya lima menit dan menunggu selama 95 menit maka itu berarti pertemuan berlangsung 100 menit. Perpisahan pun sering tidak berarti apa-apa—seperti tidak pernah ada perpisahan bagi orang yang saling mencintai. Mereka saling memaki ketika bertemu tetapi tetap saling mengenang ketika berpisah. Perpisahan yang sebenarnya akan terjadi ketika tidak pernah ingat lagi kepada seseorang meskipun kita hidup bersamanya. Juga jika seseorang sudah mati, selama kita masih mengingat dan mengenangnya berarti tiada perpisahan sama sekali.

Namun menunggu adalah menunggu. Lima menit bias menjadi 500 tahun —dan waktu yang kosong bisa diisi sejarah berabad-abad.

Dulu dia hanya duduk disana, menoleh padaku, menyebut namaku dengan nada bertanya, dan mengajukan tangannya untuk bersalaman, sambil menyebutkan namanya.

“Kenapa tidak saat itu saja kita menguji kepekaan lidah kita akan cinta? Kenapa harus menunggu begitu lama untuk mengembara dalam dunia yang begitu remang terlalu remang taram temaram untuk memahami betapa lidah begitu penting tidak hanya untuk berkata-kata melainkan justru ketika tidak perlu mengatakan apa-apa?”
Itulah dia. Kenapa tidak sejak pertemuan pertama dia berkata, “Sentuhlah aku dengan lidahmu..”

“Ya, kenapa tidak? Kenapa tidak kamu saja yang bicara begitu?” katanya.
“Kalau aku bilang ’Sentuhlah aku dengan lidahmu’ apakah kau akan menyentuhku dengan lidahmu?”
Ia tidak menjawab saat itu, hanya menyentuh lidahku, dengan lidahnya.
Aku masih menunggu dia yang entah berada dimana dan sedang apa.

Aku berpikir apakah yang membuat kita yakin bahwa kita benar-benar mencintai seseorang dan tidak sekedar menyukai lidahnya.

***

Aku bermimpi buruk. Suatu hari aku bangun tanpa lidah. Bukan soalnya apakah aku tidak mampu bicara, karena bagiku tidak berbicara adalah menghemat tenaga. Namun bagaimana aku akan menyentuh, meraba, dan menyatakan sesuatu kepada seseorang yang sangat kucintai dengan lidah jika aku tak berlidah? Cinta mungkin tidak perlu kata-kata tetapi aku tidak tahu bagaimana nasib cinta jika para pecinta kehilangan lidahnya.

Bisakah dikatakan bahwa cinta berada dalam masalah ketika lidah tak lagi berperan di dalamnya? Aku tak tahu apakah ada filsuf yang pernah berbicara tentang lidah dengan segala kemanusiaan yang paling mungkin dihadirkan oleh keberadaan lidah itu. Dalam roman picisan sering dituliskan: Ia menyelusuri tubuh kekasihnya itu dengan lidahnya dan kekasihnya merasa telah berada dalam kereta kencana bersayap yang melaju diatas sungai susu di langit ke tujuh …

Mungkinkah suatu hari aku akan terbangun betul-betul tanpa lidah? Bukan soalnya bahwa dalam hidup ini suara kita sering dibungkam dan kata-kata kita dianggap merusak ketenangan, melainkan justru karena terlalu banyak hal yang tak terkatakan hanya bisa disampaikan melalui lidah. Artinya memang lidah itu tak tergantikan.

“Apakah kamu masih akan mencintaiku kalau aku suatu hari bangun tanpa lidah dan tidak bisa lagi menyatakan cinta dan menyentuhmu dengan lidahku?”

“Kalau kamu?” Ia balik bertanya, sambil menjulurkan lidahnya.

Kalau ia tidak berlidah? Aku teringat cerita tentang Sasuke, seorang pelayan yang menjalin hubungan cinta terselubung dengan shunkin, perempuan majikannya. Suatu penganiayaan oleh saingannya dalam karir sebagai pemain shamisen telah membuat shunkin buta. Atas nama cinta, meski tidak pernah menyatakannya, Sasuke lantas membutakan matanya sendiri.

Menurutku itu memang kebersamaan cinta yang luar biasa. Kalau aku ingin seperti Sasuke, aku tentu harus  memotong lidahku. Sanggupkah aku?

Apakah sentuhan cinta terindah hanya bisa disampaikan oleh lidah? Tidak bisakah cinta disampaikan oleh tungkak?

Kukira aku sedang tidak ingin memikirkannya.

     

Pondok Aren, Selasa 10 Mei 2005. 16:25

1. Linguae, bahasa latin, artinya: lidah.
2. Dari Shunkinso(1933) karya Junichiro Tanizaki, melalui Tanizaki, “A Portrait of Shunkin” dalam Seven Japanese Tales (terjemahan Howard Hibbet), New York: berkley Medallion book, 1965, 11-60
3. Tungkak, dari bahasa Jawa, artinya: tumit.

              
“Linguae”, dalam M Firman Ichsan dkk., yang tercinta / The Loved Ones (Jakarta; Yayasan Pendidikan dan Pengembangan Budaya Visual Oktagon, 2005), sebagai penafsiran foto karya Oscar Matuloh.

Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?

Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?

                         

“Lihatlah bagaimana aku mencintaimu kekasihku. sudah begitu lama kita berpisah, tapi aku ingin mengawinimu. Telah kuraih gelar MBA dari harvard. Telah kududuki jabatan manajer perusahaan multinasional. Telah kukumpulkan harta benda berlimpah-limpah. Kawinlah denganku. Kuangkat kamu dari lembah hitam. Marilah jadi istriku. Jadi orang baik-baik, terhormat dan kaya. Ayo pergi dari sini, kita kawin sekarang juga.”

Ia tersenyum, masih seperti dulu. Ada kerutan di ujung matanya, tapi masih menatap dengan jalang. Dan setiap kali aku menatap mata itu, dadaku rasanya bagai tersirap.

”Ayolah kekasihku, cepat, kita pergi dari sini. Lihatlah Baby Benz yang menunggumu. Akan kumanjakan kamu seperti ratu. Pergilah dari tempat busuk ini. Jauhilah lagu dangdut. Jauhilah bir hitam, marilah memasuki dunia yang elit dan canggih. Kuperkenalkan kamu nanti dengan dunia Mercantile Club, dunia para pedagang dan para manajer internasional. Kuajari kamu main polo, kuajari kamu naik kuda, kuajari kamu bicara Prancis, sambil sedikit-sedikit mengutip Simone De Beauvoir. kujadikan kamu seorang wanita diantara wanita. Berparfum Poison keluaran Christian Dior, berbaju rancangan Lacroix, bercelana dalam Wacoal. Cepat kekasihku, pergi bersama aku. Waktu melesat seperti anak panah. Jangan sampai kamu jadi tua disini. Menjadi kecoa yang tidak berguna.”

Ia tersenyum lagi. Matanya jalang sekali. Rambutnya keriting dan panjang.

”Ayo cepat kekasihku. Cepat. Jangan sampai dunia berubah. Tak ada yang kekal didunia ini. Tak ada yang setia. Ayo cepat. Tunggu apa lagi?”

Wanita itu merebahkan tubuhnya. Bau wangi yang kampungan meruap dalam kamar yang lembab. Alangkah lembabnya. Alangkah kumuhnya. Di ranjang itu juga dulu, ia memitingku sehari semalam. Seprti baru kemarin rasanya. Dua belas tahun yang lalu.
Di luar terdengar dangdut saling menghentak dari setiap rumah. Pada sebuah tembok tertulis dengan huruf merah: Termiskin di Dunia. Entah apa maksudnya.

”Apa lagi yang kamu tunggu kekasihku? Inilah kesempatan emas bagimu. Cepat kemasi barang-barangmu. Aman kopormu? Biar aku bantu. Tinggalkanlah rawa-rawa sipilis ini, pindah ke pondok indah. Ayo cepat. Besok pagi kamu sudah bisa terjun kekolam renang, beitu mentas langsung membaca International Herald Tribune, sambil menelpon teman-teman di Beverly Hills. Ayolah cepat kekasihku. Jangan sampai ketinggalan kereta. Kesempatan tidak datang dua kali. Tinggalkan saja barang-barangmu disini. Kita akan segera memborong gantinya di Shinjuku.”

Matanya mengerling tajam dan masih jalang. Apakah ia melihat lembaran Dollar Amerika? Kulihat dari belahan bajunya yang terbuka, ada tato kupu-kupu diatas buah dada. Gambar itulah sensasi masa remajaku. Aku selalu senang mengingatnya karena memberikan persaan aneh dan mendebarkan. Ia menyulut rokok sambil tetap tiduran. Bibirnya merah dan sungguh-sungguh basah. Ia menghembuskan sap rokok ke wajahku, lantas kakiknya naik ke pundakku.

”Siapakah kamu anak muda yang menggebu-gebu? Aku tidak kenal kamu. Dua belas tahun lalu ? aku sudah lupa. Terlalu banyak yang sudah tidur denganku. Aku tidak mengerti. Bagaimana kamu bisa mencintaiku?”

”Janganlah bertanya-tanya. Ikutlah aku sekarang. Penjelasannya nanti saja belakangan.”

”Jelaskan padaku anak muda, jelaskan. Jangan sampai aku berbicara dengan orang yang tak bernama. Apalagi kamu bicara tenang perkawinan.”

”Untuk apa? Bukankah kamu tidak perlu nama-nama? Toh kamu akirnya selalu lupa. Ikutlah saja denganku. Bersenang-senang. Bermewah-mewah. Akan ku bawa kamu ke dunia yang ada dalam iklan-iklan.”

Ia tertawa lepas, seperti mengejekku. Matanya menerawang ke luar jendela, kelangit, ke bintang-bintang. Masih terdengar orang-orang mendendangkan Gubuk Derita. Para pelacur berjajar-jajar duduk di luar sambil menaikkan kaki. Leher mereka penuh cupang yang mengerikan.
Seseorang nampaknya baru dihajar, lewat sambil menangis meraung-raung. Bau minuman keras murahan menyesakkan udara bercampur bau keringat para pelacur yang ajojing habis-habisan sampai teler, mencoba melupakan nasib yang entah kenapa bisa begitu buruk dan begitu nestapa. Aku merasa gerah. Aku sudah terbiasa hidup dalam ruangan AC. Jakarta terlalu panas dan menyesakkan. Terlalu banak orang-orang yang bernasib malang. Ia masih tertawa.

”kenapa kamu tertawa?”

”Aku tidak bisa ikut kamu anak muda. Maafkanlah aku.”

Hatiku rontok. Mulutku kering. Keseimbanganku goyah.

”Kenapa? Apa yang kurang dariku, aku lulusan Harvard dan aku …”

”Aku sudah punya pacar.”

”Siapa? Apanya yang lebih hebat dari aku?”

”Dia Cuma tukang jual obat di pojok jalan. Tapi aku bangga sama dia.”

”Hahaha! Tukang obat? Apanya yang bisa dibanggakan?”

”O, aku sangat bangga padanya. Setidaknya dia tidak sombong seperti kamu. Dia bisa bicara tentang segala macam hal, dan dia bisa bicara tentang semua itu dengan meyakinkan. Kamu, meskipun sudah sekolah di Harvard, tdak akan pernah mengalahkan Sukab. Dia adalah segala-galanya bagiku.”

”Hahaha! Sukab seorang tukang jual obat!obat apa? Paling-paling obat kumis! Obat kuat! Seorang penjual omong kosong! Aku tahu orang-orang semacam itu Pembual! Kamu pasti sudah dibohonginya. Kamu sudah di rayu dengan segenap kegombalannya. Mungkin juga kamu sudah dipeletnya, dngan ilmu semar mesem! Atau dia punya batu akik kecubung pengasihan! Jangan mau ditipu. Coba, siapa yang bukan penipu di Jakarta ini? Jangan mau jadi korba!”

”Aku bukan korban. Aku cinta padanya. Dia membuatku bahagia. Dialah satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan hidup. Dia sangat pintar. Sama pintar dengan menteri. Dia sangat lucu. Sama lucunya dengan asmuni.”

”Hebat. Hebat. Seperti roman picisan. Kamu mau kawin sama dia?”
Ia menggeleng. Wajahnya jadi muram. Membanting puntung rokok kedalam kloset. Sejumlah kecoa berterbangan.

”Kenapa?”

Ditenggaknya segelas bir sebelum menjawab, nyaris tanpa suara.

”Dia sudah kawin.”  

Hatiku yang tadi sudah jatuh berkeping-keping bagaikan melayang saling melekat kembali.

”Kalau begitu, Ayo! Cepat! Kita pergi dari sini! Aku sudah tidak tahan bau apek di kamr ini!”

Ia diam saja. Membuka bajunya. Lantas terkapar. Kulihat tato kupu-kupu itu. rasanya makin aneh dan makin mendebarkan.

”Aku akan tetap disini. Menanti setiap orang yang datang dan pergi. Aku akan tetap setia padanya, meskipun ia tak akan pernah mengawiniku.”

Goblok! Goblok! Ia seorang wanita yang bodoh atau mulia?

”Baiklah. Kalau begitu, sebagai pelacur kebeli dirimu. Kukawini kamu. Kubayar kamu seharga  500.000 dollar Amerika ”

No,” jawabnya tanpa menatapku, namun nadanya menegaskan ia memang sunguh-sungguh.

”Kamu memang bodoh sekali kekasihku, alagkah bodohnya kamu. Dari dolly samapi St Paulli belum pernah kutemui pelacur seperti kamu. Apakah kamu memang seorang pelacur kekasihku?”

Seekor kecoa terbang, dari atas lemari ke kutang, yang trgantung di jemuran.

”Mungkin aku bodoh. Tapi aku punya cinta. Pelacur profesiku. Cuma lima ribu tarifku. Tapi tak kujual diriku. Nyahlah engkau anak muda. Kembalilah ke Harvard.”
Akhirnya kuambil juga botol bir itu. Kutenggak sampai tandas. Aku ngeloyor pergi. Kutengok kebelakang sekali lagi. Ia masih di jendela itu. Melambaikan tangan seperti dua belas tahun yang lalu. Astaga. Bahkan pelacur pun menolak cintaku. Apakah aku mesti mengiris telingaku seperti Van Gogh? Sistem nilaiku guncang. Ternyata masih ada orang punya cinta. Ternyata masih ada orang bodoh. Terlalu!

                        

Jakarta 1989.

                

                  

*) Dimuat diharian Suara pembaruan, 1989, sebagai Gombal.

Cinta di Atas Perahu Cadik

Cinta di Atas Perahu Cadik

     
     
Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera
menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil
menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak
kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan
matahari pagi menyapu pantai, membuat pasir yang basah berkilat
keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu
karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak
semalam, sejak bertahun, sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bukankah
memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding
karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu.

Para nelayan memang hanya tahu perahu. Bulan sabit mereka hubungkan
dengan perahu, gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik
penyeimbang perahu, seolah-olah angkasa raya adalah ruang pelayaran
bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki, bahkan atap rumah-rumah
mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Tentu, bagaimana mungkin
kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu?

Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air
pada bahunya. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat,
melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset
sama sekali, sekaligus bagaikan terlapis karet atau plastik alas
sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di
atas batu-batu karang yang tajam tiada berperi.

“Sukab! Tunggu aku!”

Di pantai, tiba-tiba terdengar derum suara mesin.

“Cepatlah!” ujar lelaki bernama Sukab itu.

Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel
tersebut, melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya
itu. Hayati berlari begitu cepat, seolah-olah beban di bahunya tiada
mempunyai arti sama sekali. Ia meletakkannya begitu saja di samping
gubuknya, lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab.

“Hayati! Mau ke mana?”

Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Terlihat Hayati mengangkat
kainnya dan berlari cepat sekali. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam
laju lari Hayati. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu
ribut, yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang terjadi. Seekor
anjing bangkit dari lamunannya yang panjang, lantas melangkah ringan
sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak
kaki Sukab dan Hayati.

Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Seorang lelaki muncul dari dalam
gubuk.

“Ke mana Hayati, Mak?”

Nenek tua itu menoleh dengan kesal.

“Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa
kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang, bukannya mengamuk malah merestui!”

Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.

“Hayati dan Sukab saling mencintai, kami akan bercerai dan biarlah dia
bahagia menikahi Sukab, aku juga sudah bicara kepadanya.”

Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.

“Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan
usus Sukab jahanam itu!”

Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali, masih terdengar
suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk.

“Cabut badik? Heheheh. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari
istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!”

Angin bertiup kencang, sangat kencang, dan memang selalu kencang di
pantai itu. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta
membara di atasnya.

Pada akhir hari setelah senja menggelap, burung-burung camar
menghilang, dan perahu-perahu lain telah berjajar-jajar kembali di
pantai sepanjang kampung nelayan itu, perahu Sukab belum juga kelihatan.

Menjelang tengah malam, nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk
lain, menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa
Hayati di atasnya. Jawaban mereka bermacam-macam, tetapi membentuk
suatu rangkaian.

“Ya, kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. Kulihat
mereka tertawa-tawa.”

“Perahu Sukab menyalipku, kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi
kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia.”

“Oh, ya, jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu
menuruti angin, mesinnya sudah mati, tetapi tidak tampak seorang pun
di atasnya.”

Nenek itu memaki.

“Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!”

Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain.

“Aku lihat perahunya, tetapi tidak seorang pun di atasnya. Bukankah
memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?”

“Ya, tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab, bukannya
tambah penumpang, tetapi orangnya malah berkurang?”

Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang, nenek tua
itu menggerundal sendirian.

“Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!”

Ia menuju gubuk Sukab. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah
membuka pintu itu, di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang
karena malaria.

“Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?”

Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh,
mulutnya bergemeletuk seperti sebuah mesin. Wajahnya pucat,
berkeringat, dan di dahinya tertempel sebuah koyo. Ia hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala.

Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Isinya sama saja dengan isi semua
gubuk nelayan yang lain. Dipan yang buruk, lemari kayu yang buruk,
pakaian yang buruk tergantung di sana-sini, meja buruk, kursi buruk,
dan jala di dinding kayu, berikut pancing dan bubu. Ada juga pesawat
televisi, tetapi tampaknya sudah mati. Alas kaki yang serba buruk,
tentu saja tidak ada sepatu, hanya sandal jepit yang jebol. Sebuah
foto pasangan bintang film India, lelaki dan perempuan yang sedang
tertawa dengan mata genit, dari sebuah penanggalan yang sudah
bertahun-tahun lewat.

Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh, tapi mungkin ada juga yang
lain. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk
rumah gubuk ini, di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Nyamuk
berterbangan masuk karena pintu dibuka.

Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya.

“Mana Bapakmu?”

Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut, ombak yang berdebur dan
mengempas dengan ganas.

Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala.

“Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!”

Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu
dan burung hong. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda
mesin malaria.

Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa, ketika
terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu.

“Aku sudah tahu…”

“Apa yang kamu sudah tahu, Waleh?”

“Tentang mereka…”

Nenek itu mendengus.

“Ya, kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota
dengan Wiji, begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia
sepanjang pantai, dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami
Wiji. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang
yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika
melewati mereka, tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu
tidak memakai apa-apa meski suamiku tidak kelihatan di bawahnya!
Mengerti kamu?”

Waleh yang menggigil hanya memandangnya, seperti sudah tidak sanggup
berpikir lagi.

“Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki
bukan suaminya dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan
pernah keliru! Hanya para pendosa akan menjadi korban kutukannya! Tapi
kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!”

Mendengar ucapan itu, Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya
agar bisa berbicara.

“Aku memang hanya orang kampung, Ibu, tetapi aku tidak mau menjadi
orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku
pulang dengan selamat—dan jika dia bahagia bersama Hayati, melalui
perceraian, agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan.”

Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk
mengeluarkan kata-kata seperti itu, langsung menggigil dan mulutnya
bergemeletukan kembali, matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi.

Nenek tua itu terdiam.

Hari pertama, kedua, dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga
kembali, orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan, bahwa
jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala, maka tentu mayat
Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke
pantai. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali,
mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hal itu
selalu mungkin dan sangat mungkin, karena memang sering terjadi.
Mereka bisa terseret ombak ke sebuah negeri lain dan kembali dengan
pesawat terbang, atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.

“Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan, perahu
mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita,” kata seseorang.

“Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini, sejak dulu ia selalu
berlayar sendiri, mana mau ia mencari ikan bersama kita,” sahut yang
lain, “apalagi jika di perahunya ada Hayati.”

“Apakah mereka bercinta di atas perahu?”

“Saat kulihat tentu tidak, banyak lumba-lumba melompat di samping
perahu mereka.”

Segalanya mungkin terjadi. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga
Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya
tahu pasti apa yang akan mereka alami.

Di pantai, kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya
yang bisu, menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir
basah. Kadang-kadang pula tampak Dullah yang menyusuri pantai saat
para nelayan kembali, mereka seperti masih berharap dan menanti siapa
tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Namun
setelah hari keempat, tidak seorang pun dari para nelayan di kampung
itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali.

“Kukira mereka tidak akan kembali, mungkin bukan mati, tetapi kawin
lari ke sebuah pulau entah di mana. Kalian tahu seperti apa orang yang
dimabuk cinta…”

Namun pada suatu malam, pada hari ketujuh, di tengah angin yang selalu
ribut terlihat perahu Sukab mendarat juga, Hayati melompat turun
begitu lunas perahu menggeser bibir pantai dan mendorong perahu itu
sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar kecilnya. Sukab
tampak lemas di atas perahu. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan
besar yang lebih besar dari perahu mereka, yang tentu saja sudah mati
dan bau amisnya menyengat sekali. Tombak ikan bertali milik Sukab
tampak menancap di punggungnya yang berdarah—tentu ikan besar ini yang
telah menyeret mereka berdua selama ini, setelah bahan bakar untuk
mesinnya habis.

Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang
lusuh sekali. Kulit terbakar, pakaian basah kuyup, dan gigi keduanya
jika terlihat tentu sudah kuning sekali—tetapi mata keduanya
menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api cinta yang
membara. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti, cerita
tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka
masing-masing, yang dengan ini tak bisa dihindari lagi.

Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa
mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini.

    
Sabang, Desember 2006/

Merauke, April 2007.

                  

              

kompas, 10 Juni 2007

Epilog: Surat

Alina tercinta,

Surat ini kutulis di bawah cahaya senja yang keemasan, yang membentuk sepetak lempeng emas di atas meja, di tempat sekarang aku memikirkan dirimu.
Apakah yang sedang kau lakukan Alina ? Apakah kamu sedang minum kopi ? Apakah kamu sedang menyetir di belantara kemacetan yang menjengkelkan ? Apakah kamu sedang berada di suatu tempat entah di mana di balik bumi yang memandang senja perlahan-lahan menjadi malam ?

Kutulis surat ini perlahan-lahan Alina, seolah bukan tangan yang bergerak di atas kertas, melainkan hati yang menerjemahkan dirinya ke dalam tinta, langsung membentuk huruf-huruf yang berusaha merengkuh dirimu, nun entah di ufuk yang mana. Kulihat langit di luar makin menggelap, dan lempengan emas di mejaku meredup, begitu rupa seolah-olah matahari di luar sana telah mengkerut dan tiba-tiba menjauh, tapi itu semua barangkali tidak penting bukan Alina ?
Matahari senja yang lenyap ditelan gedung-gedung bertingkat tidaklah lebih penting dari begitu banyak hal lain yang berlangsung hari ini – ulat yang menggeliat di atas daun, satpam yang tertidur di kursi jaga, seorang wanita berkaki satu yang mengemis di bawah jembatan layang, kereta api dari Yogya yang memasuki stasiun, gadis yang menangis, gelembung permen karet yang pecah, suara seruling, suara klakson, seorang menteri terbatuk-batuk, seorang penari mengibaskan selendang…

Aku tahu aku bisa saja menelponmu Alina, dan kita akan bicara, begitu lama, sebisanya, seperti hari-hari yang kita lewati bersama – tapi, kali ini, biarkanlah aku menulis surat ini untukmu, demi sesuatu yang barangkali saja bisa abadi. Siapa tahu. Kita kan boleh berharap segala sesuatu yang paling kecil, paling sepele, paling tidak penting, tapi mungkin indah bagi kita berdua, bisa tetap tinggal abadi ? Seperti daun melayang tertiup angin, yang kita tidak tahu lagi di mana, namun masih tetap tinggal indah dalam kenangan kita.

Begitulah memang aku ketemu kamu Alina, di sebuah ruang di bagian semesta yang gelap di mana waktu tak tercatat, seperti bisikan, di mana kita hanya saling menyentuh, dan tak selalu ketemu, tapi bisa saling merasa, dan dengan itu toh bisa membangun dunia kita sendiri. Dari kelam ke kelam kita arungi waktu Alina, dan dengan gumam perlahan-lahan karena ruang bukan milik kita, dan setiap orang selalu merasa punya kepentingan yang sama besarnya. Barangkali juga karena kepentingannya jauh lebih besar dari urusan kita. Bisakah diterima perasaan kita begitu penting untuk sebuah kota yang gemerlapan di mana senja tiada artinya ?

Kukira kamu masih ingat senja di pantai itu Alina. Senja yang memastikan bahwa hari telah berlalu, dan kita hanya bisa saling memandang, serta berkata diam-diam dalam hati : ” Betapa waktu begitu singkat.” Waktu memang tak akan pernah cukup Alina, tak akan penah cukup untuk sebuah keinginan yang memang tidak akan mungkin terpenuhi, seperti begitu banyak cita-cita tersembunyi selama-lamanya. Barangkali kita hanya harus merasa semua ini sudah cukup, dan bersyukur karena sempat mengalami saat-saat yang indah. Seperti perasaan kita ketika memandang matahari senja, yang toh tak bisa tetap tinggal di sana.

Alina tercinta,
Barangkali memang kita memang tidak usah terlalu peduli dengan semua ini. Karena serbuk-serbuk perasaan yang tersisa, juga telah lenyap ditiup angin bercampur baur dengan debu yang berterbangan, yang hanya kadang-kadang saja akan kita kenali kembali, jika arah angin menuju ke arah kita. Perasaan-perasaan yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal yang tidak harus kita mengerti Alina, ada saatnya kita tidak harus mengerti apa-apa, tidak perlu memaklumi apa-apa dan tidak perlu menyesali apa-apa, kecuali hanya merasa, bergerak, dan menjelma.

Tapi sudahlah Alina, kita kenang saja waktu dalam gelas kopi itu, yang akan segera mendingin sebelum senja tiba. Bukankah kita sudah cukup bahagia, meskipun hanya saling bertanya ? Begitu banyak kabar dari jauh, tentang ruang dan bumi yang selalu mengeluh. Begitu banyak kepedihan di jalanan, darah berceceran, dan kita begitu sibuk dengan perasan kita sendiri — tapi apalah salahnya ? Aku sering berpikir tentang betapa fana hidup kita. Sepotong riwayat di tengah jutaan tahun semesta. Dua orang di belantara peristiwa. Apakah kita masih punya arti Alina, dalam ukuran tahun cahaya ?

Aku pun bertanya-tanya, apakah semua itu ada maksudnya ? Sebuah sudut di dalam kafe, lampu remang di pojok teman, sepotong percakapan yang kadang-kadang terganggu. Semuanya bagai tak pernah utuh, tak pernah selesai, dan tidak mungkin jadi lengkap — namun siapa yang menuntut semua ini harus sempurna ? Kita sudah tahu semua ini memang tidak bisa jadi apa-apa, dan barangkali memang tidak perlu menjadi apa-apa. Kita toh sudah senang meski hanya saling memandang, dan menengok segala penyesalan sebelum pertemuan, dan tahu memang tidak ada yang bisa disalahkan, sehingga kita memang tidak perlu bertanya, ” Kenapa harus jadi begini ?”

Apa boleh buat. Hidup barangkali memang cuma seperti sebuah keemasan. Seperti opera sabun. Barangkali seperti itulah hidupku Alina — seperti opera sabun. Barangkali dari sensasi satu ke sansasi lain, dengan bau parfum yang berlainan setiap kali pulang, dan kita tidak punya cukup kemampuan untuk menghindarinya. Kulihat begitu banyak manusia berjejal di bawah sana, barangkali kamu berada di antara mereka Alina, begitu sesak kota ini, seperti tiada tempat lagi untuk bangunan batu. Gedung-gedung terus tumbuh ke atas, hanya untuk menampung manusia. Mereka semua akan menjadi bagian dari opera sabun itu Alina, opera sabun tentang orang-orang yang terus-menerus memburu sensasi dalam hidupnya. Barangkali, ya barangkali, kita memang harus berpesta sebelum tenggelam dalam sebuah perkabungan yang panjang.

Aku di sini saja Alina, menulis surat untukmu, di salah satu gua di belantara kota yang memabukkan. Pastilah hidup ini memabukkan Alina, sangat sering membuat kita lupa ada kematian. Dari senja ke senja kutulis surat kepadamu Alina, sekedar untuk mencoba merasa bahwa kehidupan yang fana itu masih ada, masih menggerakkan serat-serat halus perasaan kita, sekedar untuk membuktikan bahwa kita belum menjadi dodol yang lumutan. Kalaulah aku bisa menuliskan surat ini langsung ke dalam hatimu Alina, aku akan melakukannya, seperti awan mengubah dirinya menjadi hujan, supaya bisa menyatu ke daratan. Tapi aku tidak bisa melakukannya Alina, aku hanya bisa menulis surat seperti ini, surat seseorang yang barangkali agak kacau pikirannya – kurang lurus, tidak jernih, dan terlalu banyak mengumbar perasaan. Maafkanlah semua itu Alina, barangkali aku memang tidak dilahirkan untuk membahagiakan semua orang.

Alina tercinta, masih selalu tercinta, dan akan selalu tercinta.
Di luar senja telah menjadi ungu Alina, dan aku tiba-tiba merasa tua. Senja merah yang keemasan berubah menajdi ungu bagaikan akhir sebuah cerita yang muram. Jangan salahkan aku Alina, ini bukan keinginanku senditi. Aku hanya menulis surat yang menerjemahkan diriku kepadamu, dari salah satu ruang di sarang lebah di hutan belantara yang gemerlapan. Cahaya listrik berkeredap riang di antara kelam tapi tak juga mampu mengusik suasana hatiku yang lagi-lagi menjadi rawan. Apakah aku harus mengangkat telepon yang berdering itu, dan tenggelam ke dalam opera sabun yang lain ? Aku sudah capek Alina, capek memanjakan perasaan. Barangkali memang sudah waktunya kita harus menjadi kejam kepada diri kita sendiri. Membiarkan perasaan kita menggelepar seperti ikan, dan mencoba hidup bersama dengan kenyataan. Masalahnya, apakah kenyataan mau hidup sama kita ? Sudah terlalu sering aku mendengar tentang seseroang yang mati sendirian di kamar, kesepian tanpa teman, membusuk perlahan-lahan. Jangan-jangan aku akan mati seperti itu, duduk di kursi seperti sekarang, ketika sedang menulis surat untukmu, karena memang kamu yang selalu, selalu, dan selalu kukenang dan kucemaskan. Ah—sedang apa kamu Alina, sedang duduk melamun sendirian atau menyetir mobil di tengah hujan ? Apakah kamu masih selalu memanggil tukang pijat, setelah berhari-hari diterpa kelelahan yang seolah-olah merontokkan tulang ?

Begitulah keadaanku sekarang Alina, merasa tua, mudah capek dan mulai ubanan. Barangkali sudah waktunya aku mengundurkan diri dari dunia persilatan, menyembunyikan diri ke sebuah gua di puncak gunung, dan mempelajari kitab-kitab tentang kesempurnaan. Celakanya kehidupan ini tidaklah begitu mirip dengan dunia persilatan. Kehidupan ini bisa begitu menyiksa tanpa ada korban, karena segala sesuatunya memang keras tanpa ada kekerasan, kejam tanpa ada kekejaman, dan begitu menghancurkan tanpa harus ada penindasan.

Inilah suratku Alina, surat seseorang yang menyandarkan kehidupannya pada kenangan, dan kenangan itu adalah kamu. Kita semua memang menjadi tua Alina, tak apa, bumi begitu ungu di luar, ungu dan kelam – tapi siapakah yang akan merasa kehilangan ? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana Alina, percayalah, kita, kamu dan aku, akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika senja tiba, selamanya, karena aku telah menulis surat tentang kita, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang lagi untuk selama-lamanya.

*) dikutip dari Novel  “Jazz Parfum dan Insiden”, Yayasan Bentang Budaya, 1996

Senja di Pulau Tanpa Nama

Senja di Pulau Tanpa Nama

 

SEPERTI Kawabata, aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernah
ada. Jika dia memang ada, tentunya ia sedang berdiri di sana, di
pulau tanpa nama itu, dalam remang senja tanpa langit yang kemerah-
merahan tanpa mega bersepuh cahaya keemasan-emasan tanpa segala
sesuatu yang seperti biasanya membuat senja menjadi begitu sendu dan
mengharukan begitu indah dan menggetarkan–tanpa itu semua, tanpa
segala pesona senja yang akan membuat kita terlalu mudah jatuh cinta.
Tanpa itu semua. Tetapi hatiku sudah penuh dengan segala sesuatu yang
seolah-olah seperti cinta.

Senja tentunya telah turun di pulau tanpa nama itu menjadikannya
sebuah gundukan menghitam ketika permukaan laut seperti puisi seperti
permukaan agar-agar berwarna kelam yang terus menerus bergerak
pelahan dengan lembut dan memberi perasaan rawan. Betapa tidak akan
menjadi rawan ketika langit menjadi gelap, menghitam, dan muram?
Hanya ada sedikit mega di sana dengan sisa-sisa cahaya yang sudah
sangat terlalu remang dan meski keremangan bukanlah kegelapan tetapi
keremangan lebih memberi perasaan rawan daripada kegelapan.
Tentunya ke sanalah aku dengan perahu motorku terbang di atas ombak
dalam keremangan senja yang menguji ketabahan. Betapa tidak akan
menguji ketabahan–jika sesuatu yang sudah seolah-olah seperti cinta
masih juga tidak memberi jaminan kebahagiaan? Namun apakah masih
boleh disebut semacam cinta jika tidak terdapat kebahagiaan padanya
meski setidak-tidaknya sesuatu seperti kebahagiaan dalam penderitaan?
Tetapi siapakah yang terlibat dalam kebahagiaan dan penderitaan
sebenarnya–perempuan itu tidak pernah ada meskipun aku sedang menuju
ke arahnya, dan sesuatu yang tidak ada mestinya tidak perlu membawa
kebahagiaan maupun penderitaan.
Hanya ada senja dan seorang perempuan yang tidak ada tetapi yang
tetap menunggu dengan segala kemungkinannya dan aku sedang menuju ke
sana untuk menjemput kemungkinan-kemungkinan itu.

Lautan hanya remang, permukaan agar-agar yang mulus, halus, dengan
ombak berkecipak di tepi perahu motor yang meraung dalam keremangan.
Tentunya juga akan kucari sisa-sisa senja yang mestinya menjadi
bagian terindah dari senja. Itulah saat ketika matahari tenggelam
seutuhnya ke balik cakrawala dan langit hanya merah semerah-merahnya
senja–tetapi saat itu sudah lewat, aku terlambat. Aku tidak bisa
tiba di tepi pantai di pulau tanpa nama itu ketika senja sedang
kemerah-merahan ketika warna emas semburat di langit dan menyepuh
kulitnya yang tembaga. Perempuan berkulit tembaga itu mengenakan kain
sebatas dada dengan rambut tergerai kecoklat-coklatan dan warna
kulitnya yang tembaga menjadi keemasan-emasan dalam cahaya senja dan
tentunya aku sedang menuju ke arahnya.
NAMUN senja sudah sampai kepada batasnya. Perahu motorku melaju dalam
keremangan menuju ke pulau tanpa nama. Ini tidak seperti yang pernah
kubayangkan sebelumnya. Semula aku mengira akan melihatnya berada di
tepi pantai yang berkilat karena pantulan cahaya. Dia akan tampak
sebagai siluet yang berjalan di atas pasir yang basah dan karena itu
menjadi berkilat-kilat karena setiap butir pasir mengertap membiaskan
cahaya di pantai yang landai, begitu landai sehingga jejak telapak
kakinya yang mungil tampak memanjang lurus tak berkelok tak berbelok
dan hanya lurus karena rupa-rupanya ia berjalan dalam lamunan.
Siapakah kiranya yang bisa menebak lamunan seorang perempuan yang
sedang berjalan sendirian di pantai dalam senja yang keemasan tetapi
yang hanya tampak sebagai siluet dalam senja yang memang semula
keemas-emasan dengan bias menyilaukan pada pasir yang basah dalam
angin yang asin dan juga basah?
Aku melaju di atas perahu motorku menuju ke pulau tanpa nama itu,
yang masih saja ada sebagai pulau tanpa nama yang memang tak pernah
bernama sejak pertama kali manusia menemukannya. Mungkin saja pulau
itu pernah punya nama suatu ketika pada suatu masa entah kapan di
masa yang sudah terlalu silam bahkan berganti-ganti nama tetapi tiada
seorangpun mengetahuinya–mungkin saja, kenapa tidak, mungkin saja.
Namun aku sedang menuju ke sebuah pulau tanpa nama yang memang tak
bernama tak pernah punya nama tak perlu punya nama tak usah punya
nama untuk apa jika pulau itu memang tidak membutuhkan nama. Sebuah
pulau tanpa nama dalam senja yang kuharapkan sejak semula akan tetap
saja merah begitu merah ketika matahari tenggelam ke balik cakrawala
meninggalkan langit yang akan mendadak semburat keemas-emasan.
Haruskah ada yang lebih indah dari senja–meski tanpa kisah cinta di
dalamnya?
Tetapi tentunya aku akan terlambat. Senja yang keemasan sudah lewat.
Barangkali aku tidak terlambat, hanya saja dilahirkan beberapa saat
lebih lambat. Kalau aku dilahirkan beberapa saat lebih cepat, aku
akan tiba di tepi pantai di pulau tanpa nama itu tepat ketika
piringan matahari merah raksasa itu sedang terbenam saat perahu
nelayan lewat di jauhan melintas cakrawala. Senja yang keemasan dan
seorang perempuan dalam siluet berjalan pelahan meninggalkan jejak
panjang dengan lamunan di kepalanya ketika buih ombak menghempas ke
pantai yang landai–apakah pemandangan itu memang ada ketika aku
melihatnya? Aku melaju ke pulau tanpa nama itu mengejar matahari yang
terbenam seolah-olah begitu cepat ke balik cakrawala.

Tentunya aku memang akan terlambat, senja telah lama menghitam dan
menggelap.Aku sedang menuju ke pulau itu, yang tentunya telah menjadi
gundukan nan hitam nan gelap menantikan malam. Tentunya, tentu, dan
aku memang belum melihatnya–tentunya aku melaju ke pulau tanpa nama
itu, membayangkan perempuan berkulit tembaga itu lenyap ditelan
bayang-bayang menghitam. Senja meremang di atas lautan, kalau aku
tidak terlambat aku masih akan bisa melihatnya. Perempuan itu mungkin
masih setia dalam penantian di tengah keremangan. Tiada lagi senja
kemerahan, tiada lagi senja keemasan–tiada lagi pemandangan
mengesankan karena memang tiada lagi siluet seorang perempuan
berambut panjang mengenakan kain sebatas dada yang berjalan di pantai
dengan kaki telanjang membentuk jejak yang panjang di atas pasir
basah yang mengertapkan cahaya keemas-emasan. Tiada lagi, karena yang
tersisa hanyalah keremangan, dengan sisa sedikit saja cahaya di balik
mega. Sisa cahaya yang membuat keremangan bertahan dalam kegelapan.

TIADA lagi senja yang keemasan, tapi ini masih senja. Bukan senja
yang kemerah-merahan melainkan yang remang menjelang malam. Ini masih
sebuah senja di sebuah pulau tanpa nama yang menghitam dan perempuan
itu masih mungkin berada di pantai menatap lidah-lidah ombak yang
masih saja berdebur dan menghempas meninggalkan busa yang mendesis
ketika diserap pasir basah dalam gelap. Permukaan laut masih tampak
seperti agar-agar tentunya, agar-agar yang ungu membiru dan akhirnya
menggelap tapi masih saja tampak menjelang gelap yang tentunya akan
menjadi gelap segelap-gelapnya malam. Tentunya, karena ini masih
senja, senja yang nyaris gelap–nyaris, tapi belum menjadi benar-
benar gelap, dan apakah kiranya yang bisa kita saksikan dalam
kegelapan yang pekat, begitu pekat, sehingga tiada lagi yang bisa
dilihat selain gelap? Juga tentunya, karena aku tidak yakin semua ini
akan menjadi nyata, meski seperti mengharapkannya.Aku akan melaju
bersama perahu motorku berlomba dengan kegelapan itu menjemput
seorang perempuan yang menunggu.
“Ia akan berada di sana pada suatu senja,” kubayangkan seseorang
akan berkata,” jemputlah perempuan itu dan bawalah ia kemari dengan
segera. Kami sudah berjanji. Dia sudah tahu akan dijemput pada suatu
senja di pulau tanpa nama, tolong, sekali lagi tolong, jemputlah dia.
Bawalah dia kemari dengan segera. Aku sangat mencintainya. Dia sudah
lama menunggu dan aku sudah berjanji akan menjemputnya. Kami saling
mencintai, sangat saling mencintai, bahkan maut tak bisa memisahkan
hati kami yang telah menyatu, erat merekat, lengket seperti ketan.
Segeralah, pergilah, jemputlah dia segera. Jangan sampai terlambat.”
Mungkinkah aku membayangkan diriku sendiri untuk sebuah adegan yang
tidak akan pernah ada?
Seandainya, ya seandainya ini memang nyata, tentu aku tidak akan
pernah tahu apakah perempuan itu memang menunggu, sebetulnya tidak
menunggu, atau bahkan tidak ada hubungannya sama sekali. Sudah
terlalu sering aku melihat pemandangan semacam itu, seorang perempuan
yang berjalan di pantai seperti menunggu sesuatu, seorang perempuan
yang berjalan dalam siluet ketika angin yang asin berhembus dan
mengibarkan rambutnya dengan semacam lamunan dalam kepalanya. Tentu
aku tidak pernah tahu pasti apakah seorang perempuan di pantai dengan
kain sebatas dada yang melangkah dengan kaki telanjang meninggalkan
jejak-jejak memanjang di pasir basah yang mengertap keemasan sedang
melamun atau tidak melamun, tetapi mungkinkah, ya mungkinkah, ketika
berada di tepi pantai dalam senja dengan langit kemerah-merahan yang
membuat permukaan laut menjadi semburat jingga seseorang tidak akan
melamun sama sekali, sama sekali, sangat-sangat-sangat tidak tersirat
sesuatu sama sekali?

TETAPI, begitulah, apa yang tidak mungkin di dunia ini? Seperti juga
mungkin perempuan itu memang tidak pernah ada tetapi mungkin saja
ternyata memang ada. Ia bisa ada, bisa tidak ada, aku tidak bisa
memastikannya.

“Tolonglah,” mungkin memang diriku sendiri yang akan berkata lagi,
“tolonglah, jemput dia di sana sebelum senja menjadi begitu gelap dan
begitu muram. Senja memang indah, tetapi ketika berakhir ia menjadi
begitu rawan dan memberi perasaan kehilangan. Tolonglah, jangan
sampai dia tenggelam dalam kegelapan jangan sampai dia disapu malam
meskipun itu malam yang paling berbintang. Tolonglah, jemputlah dia
ketika senja sedang kemerah-merahan ketika senja sedang keemas-emasan
dan dia tampak sebagai siluet berjalan sepanjang pantai meninggalkan
jejak yang panjang di pasir basah. Tolonglah, jemput dia sebelum
senja menjadi gelap.”

Tentunya hampir semua pulau di balik cakrawala itu tidak bernama,
atau pernah punya nama tetapi tiada seorang pun di antara para
nelayan yang merasa ingat apakah ada satu saja nama meski untuk salah
satu saja dari begitu banyak pulau-pulau kecil di balik cakrawala
itu. Aku tentunya melaju dengan perahu motorku menuju sebuah pulau
tanpa nama yang belum pernah kuketahui keberadaannya tetapi yang
tentunya menjelang senja berakhir seperti ini telah menjadi gundukan
menghitam agak seram tanpa harus bersetan untuk membuatnya tampak
keramat seolah-olah menyimpan rahasia sejarah dan rahasia alam.
Kalau saja pulau itu ada apakah perempuan itu masih ada? Jika
perempuan berkulit tembaga berkain sebatas dada dengan rambut
kecoklatan berkibaran itu hanya menantikan sebuah perahu yang akan
menjemputnya setiap senja ketika langit masih kemerah-merahan setelah
matahari terbenam ke balik cakrawala apakah ia masih akan ada ketika
senja ternyata semakin lama semakin meremang, menggelap, dan
merawankan perasaan?Aku tidak akan bisa menjawab pertanyaanku sendiri
dan tentunya tidak perlu.

Seperti Kawabata, aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernah
ada. Tidak pernah ada seorang perempuan yang berjalan dengan kaki
telanjang yang tampak sebagai siluet di pantai meninggalkan jejak
yang panjang pada pasir basah yang membiaskan langit senja yang
keemas-emasan. Tidak ada pulau dan tidak ada pantai. Tidak ada lautan
dan tidak ada senja. Tidak ada cinta dan tidak ada diriku.
Tiada cerita.

Makassar-M/Q 304-Jakarta,
September 2004/April 2005.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 365 pengikut lainnya.