Dongeng Sebelum Tidur

Dongeng Sebelum Tidur

“Jadi, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?”

Ibunya hanya tersenyum, memandang keluar jendela. Ada rembulan di luar sana.

“Kututup gordennnya Sari?”

“Biarkan begitu Mama, aku ingin memandnag rembulan itu, seperti mereka.”

Ibunya menahan sesuatu yang hampir dikatakannya. Lantas mengecup pipi Sari.

“Selamat tidur Sari.”

“Selamat malam Mama.”

Lantas ibunya mematikan lampu, menutup pintu, meninggalkan Sari sendirian. Sari memiringkan kepalanya, matanya berkedipi-kedip memandang rembulan. Ia sama sekali tidak bisa tidur.
Malam ini cerita ibunya lain sama sekali. Barangkali karena simpanan cerita ibunya sudah habis. Dari ibunya Sari telah mendengar hampir semua cerita. Sejak berumur lima tahun, ibunya biasa bercerita sebelum tidur, karena kalau tidak, Sari tidak bisa tidur. Kini Sari sudah berumur sepuluh tahun. Sudah sekitar 1825 cerita didengarnya, dan semua menempel baik-baik di kepala Sari yang terlatih ia tidak mau mendengarkan cerita ulangan.
Ibunya, seorang wanita karier yang sibuk, sesibuk-sibuknya tetap berusaha menceritakan sebuah dongeng kepada anaknya sebelum tidur. Jika ia berada di luar kota, atau di luar negeri, ia menelpon tepat pada waktunya untuk bercerita. Kalau ia mesti mengadakan perjalanan panjang, dengan pesawat terbang semalam suntuk misalnya, ia meninggalkan dongengnya dalam rekaman. Ibunya itu bisa bercerita dengan menarik, habis dulunya suka main sandiwara sih. Sari sungguh beruntung.
Tapi setelah selama lima tahun bercerita setiap malam, persediaan ceritanya habis. Ia sudah menghabiskan kisah seribu satu malam, ia sudah mengingat-ingat sebisanya semua fable Aesop, bahkan juga cerita wayang lengkap dengan carangan-carangannya, tapi tak juga ia temukan satu saja yang belum diceritakannya kepada Sari.

“Barangkali aku sudah mulai tua,” keluhnya pada sopir.

“Ah, tua bagaimana sih Nyonya, yang menaksir juga masih banyak gitu kok.”

“Huss!”

“Bener lho, itu kata sopir-sopir temen saya.”

“Aku ini ditaksir supir-supir?”

“Bukan begitu Nyonya, sopir-sopir itu menceritakan kembali omongan tuannya.”

“Jadi yang naksir aku tuan-tuan mereka?”

“Iya!”

“Hmmhh! Orasudi!”

“Lho, siapa yang bilang harus sudi?”

“Apa mereka tidak tahu kalau aku ini punya suami?”

“Lha itu, makanya!”

“Makanya kenapa?”

“Malah kepingin!”

“O, dasar gemblung!”

“Orang Jakarta kan memang gemblung Nyonya.”

“Ah, sudahlah, yang jelas aku ini baru bingung, kehabisan cerita buat Sari. Anak itu kok ya hafal semua cerita yang sudah kuceritakan. Bingung aku. Coba, semua versi cerita Asal Mula Padi dari Jawa,Bali, Lombok, sampai irian sudah kuceritakan, aku tidak bisa mengingat cerita apa-apa lagi sekarang. Katak Hendak Jadi Lembu sudah. Burung Punguk Merindukan Bulan sudah. Calon Arang sudah. Bandung Bandawasa sudah. Sangkuriang sudah. Asal Mula Gunung Batok juga sudah. Aku sudah tidak punya cerita lagi, sudah lupa, sudh tua, apa kuputerin laser-disc saja, kuputerin Beauty and the Beast begitu?”

“Lho jangan Nyonya, dongeng seorang ibu sebelum tidur itu lain dengan laser-disc yang mekanis, diputar untuk siapapun keluarnya sama, Nyonya boleh saja canggih, tapi harus tetap jadi manusia. Bercerita kepada anak tetap harus ada hubungan personal.”

“Eh, kamu kok pinter?”

“We lha, jelek-jelek gini kan droup-out dari universitas lho Nyonya.”

“Wah universitas mana?”

“Salatiga!”

“Universitas Salatiga? Droup-out apa dipecat?”

“Aduh Nyonya, mbok jangan menyindir.”

“Siapa yang menyindir? Kamu yang merasa sendiri kok!”

Sebelum tiba di rumah, sopir yang jebolan universitas itu berhasil meyakinkan ia punya majikan, agar mengarang saja cerita untuk Sari. Ibu Sari setuju. Masalahnya, ia tidak merassa bisa mengarang. Pandai bercerita tidak harus berarti pandai mengarang bukan?

“Tapi aku tidak bisa mengarang.”

“Ah, kalau Cuma cerita menarik, di koran juga banyak.”

“Itu bukan cerita kan Nyonya, maksud saya juga bisa diceritakan?”

“Apa ada berita menarik di koran?”

Mobil sudah hampir sampai rumah.

“Aduh, hampir sampai, bagaimana dong?”

“Lihat saja dulu dikoran Nyonya, pasti ada saja satu dua yang bisa dibacakan.”
Melewati pintu garasi, Sari sudah menghambur sambil membawa bonekanya.

“Mama malah sekali sih? Sari sudah mengantuk nih.”

“Biasa kan? Rapat mulur, jalanan macet, tadi kan Mama sudah nelpon dari jalan.”
Ibunya menggendong Sari.

“Ayo dong mendongeng, cepetan!”

“Buka sepatu saja belum.”

Sembari masih menggendong, ibunya menyambar koran di meja. Entah koran kapan. Selintas saja disambarnya judul-judul berita. Ketika ia meletakkan Sari di tempat tidur, sambil mencopot sepatu hak tinggi, dan membuka blazer-nya, sebuah berita menempel di kepalanya. Ia masih mempertimbangkan, apakah berita itu akan disulapanya menjadi sebuah cerita.

“Cerita tentang apa sekarang Mama?”

Ibunya menghela nafas. Di manakah batas antara dongeng dan kenyataan?

“Dengarlah Sari, cerita ini dimulai dari pengakuan seorang ibu.”

Lantas ibunya membaca berita itu.
Saya sudah tinggal di sini sejak usia delapan tahun sampai memiliki tiga anak dan seorang cucu. Tiba-tiba saja, pada usia yang ke-39 sekarang ini jadi setelah 31 tahun hidup di sini, setelah saya makin merasa bahwa inilah kampong halaman saya, kampong halaman anak-anak dan cucu saya, saya dipaksa pindah dan hanya diberi uang Rp 400.000. Siapa yang tidak marah diperlakukan seperti itu? Adilkah ganti rugi dengan nilai sekecil itu?
Saya bersama suami saya memang tinggal diatas tanah negara. Tapi saya punya KTP, taat membayar PBB dan tak pernah melawan pemerintah. Kini, setelah rumah saya terbakar dan dibongkar, setelah barang-barang kami rusak semua, kami tidak memiliki apa-apa lagi. Seharusnya mereka tidak membiarkan kami seperti ini. Kami juga tidak tahu harus kemana setelah ini.

Apa yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah mengungsikan sebagian anak-anak saya. Saya kini menunggu kepastian. Uang Rp 400.000 untuk kontrak sebuah keluarga yang layak, sangat tidak cukup. Uang sebesar itu hanya bisa dipakai untuk kontrak rumah alakadarnya selama tiga bulan. Ini pun kalau belum naik, dan jika uang itu hanya dipakai untuk kontrak rumah saja. Bagaimana jika kami harus menyewa truk untuk mengangkut sisa barang kami? Saya juga meragukan bisa tinggal di rumah susun. Untuk membayangkan saja belum pernah, apalagi mempercayai janji bahwa kami bisa hidup lebih baik di rumah susun itu nanti…

Lantas, ibunya mencoba bercerita berdasarkan foto-foto yang ada di koran itu, begitu asyik, sampai tak tahu betapa Sari terperangah.
Dongeng-doneng sebelum tidur yang diceritakan ibunya biasanya sangat romantis, indah, dan membayangkan suatu alam yang tenang. Tapi kini debu mengepul dalam bayangan Sari, bulldozer menggasak rumah-rumah penduduk, dalam waktu singkat satu kampong menjadi rata dengan tanah. Ibu-ibu diseret, anak-anak menangis, dan bapak-bapak berkelahi melawan petugas. Sari memejamkan mata, namun ibunya terus bercerita tentang kebakaran yang berkobar-kobar, jeritan orang-orang yang kehilangan rumah, dan terik matahari yang seakan menjadi lebih menyengat dari biasanya.

Ketika mengakhiri ceritanya, dengan gambaran matahari senja yang bulat,merah, dan besar turun perlahan-lahan di balik siluet jalan laying yang berseliweran, ibunya merasa bagai habis berlari lama sekali dan kini terengah-engah.

“Jadi, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?”

Sari masih ingat, ibunya hanya tersenyum, memandang rembulan di luar jendela, menahan sesuatu yang hampir dikatakanya, lantas mengecup pipi. Sari memandang rembulan itu. Kali ini dongeng ibunya membuat ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.

Ayahnya, yang baru pulang menjelang dini hari, terkejut melihat Sari belum tidur ketika membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Sari memandang rembulan sambil menyedot ibu jari.

“Ada apa?” Ia bertanya pada istrinya yang masih menonton CNN.

Istrinya menunjuk koran yang dibacanya tadi. Suaminya membaca selintas.

“Kamu bercerita tentang penggusuran?”

Istrinya tidak menjawab, malah balik bertanya.

“Kamu tidak akan membredelnya hanya karena membuat Sari tidak bisa tidur kan?”
Suaminya hanya mendengus. Ia menyingkap gorden, melihat rembulan yang terang di atas pohon palem.

Jakarta,1 november 1994

ANAK ANAK LANGIT

ANAK ANAK LANGIT

    

Anak-anak itu tidak dilahirkan oleh seorang ibu, mereka dilahirkan oleh rahim kemiskinan. Begitu lahir mereka langsung berumur 3,5,8, atau 12 tahun. Pada saat malam gelap gulita, tanpa sepotong bulan pun dilangit, mereka muncul ke jalan raya, merayap dari dalam gorong-gorong yang berbau serba busuk dengan tubuh penuh lumpur.
Mula-mula merayap, lantas merangkak, kemudian berdiri, langsung mengulurkan tangan di perempatan jalan. Dari dalam lobang gorong-gorong itu muncul banyak sekali anak-anak kecil. Tangan mereka menguak dari dalam lobang, menyingkirkan tutup gorong-gorong dari besi, lantas melata dengan tubuh masih penuh lumpur yang menetes-netes ke aspal. Anak-anak kecilyang manis, anak-anak kecil yang matanya manis, cemerlang bak bintang kejora, tapi yang pelupuk matanya tetap saja layu. Dengan Lumpur yang mengerting dan menjadi daki yang melekat bertahun-tahun, mereka menengadahkan tangannya ke kaca-kaca jendela mobil tanpa harapan mendapatkan apapun.

Mereka mengulurkan tangan sambil mengulurkan tangan sambil mengkuyu-kuyukan wajahnya. Kadang-kadang mereka bertepuk tangan dengan mulut seolah-olah bernyanyi padahal tidak karena memang hanya mangap-mangap tanpa suara karena toh para pengemudi mobil itu tidak akan mendengar suara mereka sedangkan kalau mendengar pun juga tidak akan pernah menganggapnya indah meski hanya untuk secuil saja dari
keindahan sebuah suara yang bisa disebut indah walah mata anak-anak itu tetap saja indah seindah pada saat ketika dilahirkan dimana mereka langsung jadi pengemis yang penuh dengan tipu daya akal bulus supaya dikasihani namun mata mereka tetap mata yang murni seperti mata-mata anak-anak mana pun di seluruh pelosok bumiyang selalu memikat karena anak-anak di mana pun memang selalu murni tak peduli kelak ketika
sudah dewasa mereka akan jadi bajingan yang paling tengik paling norak paling kampungan paling busuk dan paling tidak tahu diri.

Orang-orang di dalam mobil yang memenuhi jalan itu esoknya tidak pernah tahu darimana anak-anak itu berasal. Mereka tiba-tiba saja berada di sana dengan tubuh penuh Lumpur, mengulurkan tangan meminta-minta dengan mata menghiba-hiba tapi yang tetap kelihatan hanya berpura-pura karena apabila lampu merah menjadi hijau dan mobil-mobil melaju kembali secepat kilat seperti ingin meninggalkan kenyataan anak-anak itu kembali saling bercanda dan bermain tali berguling-gulingan bagai berada di taman impian bagai berada di taman raja-raja bagai anak-anak pangeran padahal tak lebih dan tak kurang
mereka hanya berada di sebuah petak semen yang tak juga mulus malah jebol-jebol di mana lampu hijau itu berganti merah kembali.

Orang-orang di dalam mobil sudah kehabisan rasa kasihan melihat anak-anak itu. Orang-orang di dalam mobil meluncurkan kalimat-kalimat cerdas yang membenarkan bahwa tak baik mendidik anak-anak itu menjadi pengemis sambil mengeraskan volume CD Player yang melantunkan suara seorang penyanyi opera, “Quando me’n vo soletta,” sementara
anak-anak yang memukul terban dan kecrekan bikinan sendiri dari tutup-tutup botol yang dipakukan ke kayu memandang ke balik kaca dengan lapisan film-hitam 60% melihat betapa penumpang di jok belakang itu sama selali tidak menoleh dan hanya terus menerus membaca majalah The Economist.

Pada siang hari lumpur di tubuh mereka memang mongering, rontok, tapi tetap menyisakan daki yang menghitam di kulit mereka, melumut dan menghitam bagaikan tiada pernah akan hilang seperti takdir yang telah mematok nasib mereka di jalanan itu tak bisa diubah-ubah lagi meskipun mereka bisa mandi seratus kali sehari di sungai itu, sungai yang airnya mengalir pelan-pelan saja yang airnya hitam bercampur minyak dan oli hitan legam entah dari mana, mengalir pelan-pelan dengan plastik atau mayat menggenang terseok-seok tiada yang akan peduli sampai membusuk seperti bangkai kucing yang perutnya menggembung-bung-bung entah siapa dia – entah siapa dia betapa
kesepian mati sendiri tidak terkubur tidak terupacarakan meski barangkali lebih baik mati dan terbebaskan dari kesunyian jalanan yang begitu ramai tapi tiada seorangpun dari orang-orang di dalam mobil yang mampu menghayati penderitaan meski Cuma secuil karena mereka memang berusaha menghindarinya berusaha lepas lari tak ingin tak tahu
tak ingin mengerti tak sudi menatap kemiskina yang begitu kelam tapi begitu nyata tampil hadir di depan mereka mengulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba diiringi wajah lain yang menyanyi-nyanyi tak jelas sambil menepuk-nepuk tangan.

Dari balik kaca jendela dengan lapisan film-hitam 60% dan sejuk udara AC yang membuat suhu diluar semakin panas, nampak jelas anak-anak berambut merah dengan baju dekil berlubang-lubang berjalan dari satu jendela ke jendela lain tanpa terlalu banyak berharap seolah-olah mereka tidak betul-betul terlalu lapar dan hanya menjalankan peran
mereka sebagai anak-anak jalanan yang getir yang akan terus menerus berada di sana karena harus selalu ada peran itu di dunia ini karena betapa ajaib jika di dunia ini tidak ada penderitaan tidak ada kegetiran atau apapun yang membuat kebahagiaan menjadi istimewa.

Tapi kenapa anak-anak itu nampak bahagia? Mata mereka cemerlang seperti bintang kejora. Wajah mereka murni dan tanpa dosa, sampai tiba saatnya mereka merambah suatu keadaan di mana anak laki-laki akan membayar pelacur yang termurah di bawah jembatan pada umur 12 tahun dan anak perempuan akan menjadi pelacur juga pada umur 12 tahun. Hidup memberi pelajaran pada umur 12 tahun. Hidup memberi pelajaran kepada anak-anak perempuan bagaimana memanfaatkan tubuhnya dari hari ke hari
dari tahun ke tahun sampai tubuh itu tak bisa dimanfaatkan lagi menjadi rongsokan di bawah jembatan laying ditemukan orang sebagai mayat gelandangan yang sangat bisa berguna untuk dibedah dan di potong-potong sebagai bahan pelajaran mahasiswa Kedokteran. Tengkorak mereka diawetkan, jantung mereka di masukkan stoples, dan suatu saat para mahasiswa itu akan menjadi kaya raya karena pengetuan mereka
tentang susunan urat syaraf, otot, kelenjar, dan segala macam jeroan yang contohnya diambil dari mayat perempuan tak dikenal yang barangkali saja pelacur murahan terbuang yang dulunya berasal dari dalam gorong-gorong.

Di dalam gorong-gorong yang gelap, suram dan berbau bacin, anak-anak yang menunggu untuk keluar duduk berjajar-jajar menanti giliran. Mereka akan selalu ada di sana, tidak bisa dihapuskan dan di lenyapkan, makin hari malah makin banyak bermunculan dari setiap lobang gorong-gorong di seluruh kota. Begitu muncul mereka langsung
mengulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba, mereka memberi tanda betapa mereka butuh uang untuk makan hari itu saja, seolah-olah mereka, seolah-olah mereka tidak tahu bahwa mereka memang dilahirkan supaya merasa lapar, supaya menjadi pengemis, supaya menjadi bukti bahwa kemiskinan itu ada. Mereka tetap mengulurkan tangan dari satu jendela ke jendela lain sambil mencoba menengok ke dalam mobil yang berlampu diamana orang-orang membaca Koran Asian Wallstreet Journal dengan penuh keluh dan penuh kesah karena perdagangan telah menjadi sulit dan membuat utang mereka makin membengkak. Menurut kalkulasi para akuntan, mereka jauh lebih miskin dari para pengemis di luar itu, yang meski begitu busuk, hina, dan buruk rupa, sama sekali tidak punya utang. Satu sen pun tidak. Mereka menghela nafas. Hidup begitu berat, pikir mereka. Sebagai hiburan, mereka mengubah mobilnya jadi gedung opera. Dengarlah Monserrat Caballe berkumandang, “Spira sul mare esulla terra.”

* * *

Aku memikirkan semua itu sambil memandang mega-mega. Hamparan lautan kapas memutih bagaikan surga kanak-kanak yang terindah. Dari balik jendela pesawat terbang, matahari memang menjadi lain, cahayanya jatuh dengan lembut, keungu-unguan, keemas-emasan, kemerah-merahan, menyepuh bantalan mega-mega yang seolah begitu empuk dan begitu membahagiakan. Pramugari memintaku memilih minuman, dan aku memilih anggur putih dengan nama yang sulit diucapkan. Setidaknya cocok untuk
menyantap ikan dengan pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri, dengan serbet di leher, gaya makan orang-orang beradab, sambil menatap awan gemawan yang berwarna selembut yoghurt, terbentang tanpa batas, sungguh suatu pemandangan impian. Di telingaku terpasang headphone, membawaku ke gedung La Scala di Milan. Kudengar Placido Domingo bernyanyi, “L’alba vindice appar.”. Menoleh lagi ke jendela, suaranya
bagaikan berada di langit itu. Seolah-olah ia berada di sana, dengan penonton yang duduk meluruskan kaki di antara mega-mega.

Mengembara di antara awan memberikan perasaan betapa dunia ini begitu luas. Dikau bisa melompat berlari dari bantalan mega yang satu ke mega yang lain. Bisa juga membayangkan diri menunggang seekor kuda terbang, atau Lembu Andini, keluar masuk celah awan yang gemilang dalam perubahan warna yang tak tertahan dari saat ke saat, dari pesona ke pesona, dari dunia ke dunia. Langit tak pernah sama dengan bumi.
Setiap lapis yang ditembus memberikan makna dan cerita lain.

Menjelajah langit adalah mengarungi dunia cerita yang serba membentang serba menghampar dan serba menjanjikan adanya sesuatu yang lebih menarik di balik awan. Kulihat juga dirimu mengelus kucing itu, seperti seorang dewi yang berkelebat dari mimpi ke mimpi, dari sana ke sini, terlihat sebentar lantas menghilang lagi.

 “E lucevan lestele.”. Apakah kamu masih mendengarkan Puccini? Aku masih di dalam pesawat duduk diikat sabuk pengaman, menyantap makanan beradab. Langit yang ungu bersepuh merah. Kutenggak anggur putih. Lantas bersendawa. Ikan salmon yang ku telan menyublim ke udara.

Pramugari mengambil baki. Tak kulihat lagi kamu di luar jendela itu. Kemanakah kamu? Apakah kamu masih menemui aku nanti di bumi? Aku sudah terlalu biasa dengan perpisahan – semuanya selalu berakhir seperti itu. “Tutto e fenito.”. Selalu menyedihkan untuk menyadari, bahwa setiap pertemuan dalam dirinya sudah mengandung perpisahan. Awan merekah. Cahaya mengalir seperti sungai. Pesawat terbang menjadi perahu. Mega-mega bagaikan busa sabun yang mengapung. Kemudian dari balik awan mega-mega yang terbentang seperti lautan kapas menyembul anak-anak itu.

Anak-anak dengan tubuh penuh lumpur membumbung langsung dari gorong-gorong menembus mega dan mengulurkan tangannya di jendela pesawat terbang. Aku terperangah. Kulepaskan headphone. Apakah ini Cuma khayalanku? Ternyata tidak, karena para penumpang juga menjadi gempar. Di setiap jendela disisi kiri maupun kanan muncul satu, dua, sampai tiga anan yang menjulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba dan mata yang dikuyu-kuyukan, nampak sekali berpura-pura, sedangkan yang lain menepuk-nepukkan kerecekan dengan mulut mangap-mangap tak jelas menyanyi lagu apa, darimana pula anak-anak itu tahu sebuah lagu, kalalu tahu pun sudah pasti bukan opera, dan anak yang lain lagi seperti biasa hanya bermodal tepuk-tepukan tangan dengan mata yang tidak terlalu berharap karena sudah terlalu biasa menerima lambaian penolakan.

Para penumpang yang duduk di bagian tengah berebutan melepaskan sabuk pengaman dan berlompatan ke sisi kiri atau kanan jendela. Sebagian dengan cepat segera memotret dan merekamnya dengan kamera video. Para pramugari yang biasanya tegas mengatur tata tertib kini ikut histeris malah tanpa malu-malu melompati penumpang supaya bisa melongok ke jendela. Ajaib. Anak-anak dari kolong bumi yang hanya pantas hidup
dalam kekelaman dan hanya pantas hidup dalam penderitaan kini menembus mega-mega, menembus awan gemawan yang tebal melanjutkan kepengemisannya. Anak-anak itu bertebaran sepanjang langit, beterbangan kian kemari membawa terban, kercekan, atau hanya menepuk-nepukkan tangan, mengemis kepada setiap pesawat terbang yang
lalu lalang di atmosfir bumi. Mereka membubung langsung dari gorong-gorong yang bagai tiada habisnya terus menerus memuntahkan anak-anak bersimbah lumpur, membumbung langsung ke langit ke arah pesawat terbang dan mengulurkan tangan ke jendela-jendelanya. Di muka bumi anak-anak itu mengulurkan tangan dengan pandangan mata tahu bahwa akan ditolak. “Kami mengemis bukan karena butuh uang,” kata mata itu, “kami mengemis karena kami memang dilahirkan sebagai pengemis.” Maka anak-anak membumbung langsung dari gorong-gorong ke jendela setiap pesawat tanpa mengharap suatu ketika jendela itu akan dibuka dan akan menerima uang logam seratus atau dua ratus rupiah. Lagipula, mana mungkin jendela pesawat dibuka untuk memberi mereka sedekah?

Di langit yang senja, keindahan membentang bagaikan lautan syurgawi. Atap langit berkilau-kilau karena matahari yang lain. Para penumpang di dalam pesawat terbang terperangah oleh suara takbir dari langit yang menembus begitu halus ke badan pesawat. Di jendela, anak-anak yang berlumpur dengan mata yang murni itu menatap kami, dari dalam pesawat kami menatap mata anak-anak itu. Kemiskinan macam apakah kiranya yang tiada mungkin tertolong lagi dan kekayaan macam apakah kiranya yang tak pernah mungkin mengubah kemiskinan itu?

Dalam iringan takbir di langit yang menenggelamkan opera duniawi manapun, anak-anak itu membubung ke atas, melanjutkan perjalanannya. Kucoba menengok ke atas dan hanya kulihat berkas-berkas cahaya berkilauan.

Vancouver – Los Angeles, Februari 1999.

Dipublikasikan pertama kali dalam Kumpulan Cerpen: Iblis Tidak Pernah
Mati. Penerbit Bentang, 1999.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 359 pengikut lainnya.