Sarman

S A R M A N

                       

Ceritakanlah padaku tentang kejenuhan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka Juru cerita itu pun bercerita tentang Sarman:

Pada suatu hari yang cerah, pada suatu hari gajian, Sarman membuat kejutan. Setelah menerima amplop berisi uang gaji dan beberapa tunjangan tambahan, dan setelah menorehkan paraf, sarman termenung-menung. Tak lama.
Ia segera berteriak dengan suara keras.

”Jadi, untuk ini aku bekerja setiap hari, ya? Untuk setumpuk kertas sialan ini, ya?!”

Ia berdiri dengan wajah tegang. Tangan kirinya mengenggam amplop, tangan kanannya menuding-nuding amplop itu, dan matanya menatap amplop itu dengan penuh rasa benci.

”Kamu memang bangsat! Kamu memang sialan! Kamu brengsek! Kamu persetan! Memble! Aku tidak sudi kamu perbudak! Aku menolak Kamu!”

Kantor yang sehari-harinya sibuk, sejuk, saling tak peduli, dengan musik yang lembut itu, pun mendadak jadi gempar.

”Lho ada apa Man? Kok pagi-pagi sudah nyap-nyap?”

”Eh, Sarman kenapa dia?”

”Jangan-jangan ia belum makan.”

”Kesurupan barangkali.”

”Man! Sarman! Sabar man! Nanti kamu dimarahi!”

Tapi Sarman tidak hanya berhenti disini. Ia melompat ke atas meja. Ia robek amplop cokelat itu. Ia keluarkan uang dari dalamnya. Ia robek bundel uangnya. Dan sebagian uangnya ia lemparkan ke udara.

”Nih! Makan itu duit! Mulai hari ini aku tidak perlu di gaji! Dengar tidak kalian!? Tidak perlu digaji! Aku akan bekerja suka rela, tetap rajin seperti biasa! Dengar tidak kalian monyet-monyet?!”

Berpuluh-puluh uang lembar Rp 10.000,- berguling-guling di udara dihembus angin AC. Kantor itu seperti dikocok-kocok. Para pegawai tanpa malu-malu berebutan uang gaji Sarman. Pria maupun wanita saling berdesak, bersikutan, dorong mendorong, berlompatan meraih rejeki yang melayang-layang diudara. Mereka cepat sekali memasukkan uang itu sekenanya dalam kantong bajunya. Lantas pura-pura tidak tahu.
Sarman menendang semua benda yang berserakan di mejanya, map-map yang bertumpuk, mesin tik, segelas the, bahkan foto keluarganya ia tending melayang. Layer monitor computer pun pecah digasaknya

“Sarman! Kamu gila!”

Sarman melompat dari meja ke meja denganr ingan seperti pendekar dalam cerita silat. Ia tendang semua barang-barang di atas meja karyawan-karyawan lain, sambil terus memaki-maki. Tak jelasa benar apa yang dimaki.
Dalam waktu singkat, kator yang terletak di tingkat 17 itu pun berantakan. Sekretaris-sekretaris wanita menjerit: ”Aaaa!” Dan para karyawan pria memperlihatkan jiwa pengecut mereka, tidak berani berbuat apa-apa. Meski dalam hati mengharap Sarman melempar-lempar lagi sisa uang yang dipegangnya. Dan Sarman bukannya tak tahu.

”Kalian mau uang? Ha? Kamu mau uang? Sukab! Kamu mau uang? Nih! Kamu mau uang? Nih! Kalian semua mau uang? Nih! Nih! Nih! Makan!”

Sambil masih melompat dari meja ke meja, Sarman, melempar-lemparkan uang ditangannya. Para karyawan berubah jadi serangga yang mengikuti kemanapun Sarman pergi. Suasana kantor sungguh menjadi  hingar bingar. Wajah karyawan-karyawan itu seperti kucing kelaparan. Mereka berebutan dengan rakus. Yang sudah melompat, jatuh terdorong. Yang menubruk uang dilantai, diseret kakinya. Tidak sedikit uang robek dalam pergulatan. Tarik menarik, cakar-mencakar, tendang-menendang, tanpa pandang bulu.

”He, kalian masih mau uang lagi?” tanya Sarman sambil berdiri di atas meja kepala bagian. Mereka serentak menjawab.

”Mauuu!”

Sarman tersenyum. Keringat menetes didahinya. Ia longarkan dasi yang mencekiknya.

”Baik! Tapi kalian harus berteriak Hidup Uang! Hidup Uang! Setuju?”

”Setujuuuuu!”

Maka, seperti pemain softball melempar bola, Sarman pun segera melemparkan lagi segepok uang ditangannya. Uang itu berhamburan diudara, menari-nari bagaikan salju khayalan di hari Natal pada panggung sandiwara. Mata para karyawan dan karyawati berbinar-binar dengan riang, mulut mereka menganga, wajah mereka menujukkan semangat tekad bulat yang sangat mengharukan.

”Serbuuuu!” teriak mereka bersamaan. Pertarungan pun dimulai kembali. Kini mereka berebutan bagai pemain disuah pesta. Mereka tertawa terkikik-kikik. Saking asyiknya, mereka lupa bahwa banyak kancing baju mereka yang lepas, sepatu copot, rok tersingkap, dan rambut terburai-burai. Sarman berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Ia melompat dari meja ke meja sambil bersalto. Ruangan riuh dengan yel, meskipun tidak terlalu serempak, karena mereka berteriak sambil berebutan uang di udara dan dikolong-kolong meja: Hidup Uang! Hidup Uang!

Mendadak muncul Kepala Bagian. Ia diam saja di pintu, menatap bawahan-bawahannya berpesta pora. Wajahnya disetel supaya berwibawa. Lantas ia melangkah seperti tak terjadi apa-apa, menuju ke mejanya.
Mula-mula para pegawai itu tidak tahu, mereka masih berebut sambil tertawa-tawa. Namun yang tahu segera terdiam, dan kembali ke mejanya, pura-pura bekerja. Padahal mejanya sudah berantakan dikacaukan sarman.
Lambat laun semuanya tahu kehadiran kepala bagian. Mereka mundur dengan tersipu-sipu. Tangan mereka kedua-duanya menggenggam uang. Sisa uang bertebaran di lantai, di kursi, di meja, di bak sampah, bercampur tumpahan kopi dan gelas yang pecah. Kertas-kertas terserak-serak, morat-marit, kacau-balau, kata peribahasa seperti kapal pecah.
Sarman masih berdiri di salah satu meja. Rambutnya kacau, wajahnya buas seperti binatang tersudut, pakaianya yang biasa rapi, dan sepatunya yang berkilat-kilat, kini kumal. Kepala bagian hampir tak mengenali Sarman, karyawan paling rajin dan kedudukannya menanjak dengan cepat.

”Coba, tolong jelaskan apa artinya semua ini,” ujarnya kemudian, dengan sabar, tapi tetap tegas.

Semua terdiam. Tapi mata mereka semua tertuju kearah Sarman, yang masih terengah-engah, menjulang diatas meja. Dalam sunyi, musik yang lembut terdengar lagi, namun tak membuat suasana menjadi dingin.
Pandangan kepala bagian akhirnya pun tertuju pada Sarman.

”Sarman apakah kamu bisa turun dari atas meja itu?” Tanyanya.

”Bisa pak, tapi saya tidak mau.”

”Kenapa?”

”Jawabnya panjang sekali Pak, tidak perlu saya jelaskan.”

”Kenapa tidak? Kita bisa membicarakanya diruangan lain dan …”

”Tidak Pak! Jangan coba-coba merayu!” tukas Sarman, ”Hari ini saya menolak gaji, menolak bekerja, menolak menuruti Bapak. Pokoknya menolak apa saja yang seharusnya terjadi! Saya tidak suka keadaan ini! Saya benci!”

Kepala Bagian mendekat, dengan wajah kebapakkan ia mencoba menenangkan pegawai kesayangannya itu.

”Apakah kamu mau cuti Sarman? Kamu boleh ambil cuti besar, cutilah satu bulan. Kamu sudah bekerja sepuluh tahun.”

Tapi Sarman malah menjejak meja, menendang sisa tumpukan kertas di meja itu, lantas melompat lagi ke meja lain. Seorang wanita yang duduk disitu terpaku dengan ketakutan, tidak berani bergerak.

”Jangan mendekat! Saya sudah coba jelaskan mulai hari ini saya menolak apa saja! Mengerti tidak? Saya menolak apapun kemauan kalian!”
Kepala bagian itu sebetunya ingin marah, dan mengusir Sarman, tapi Sarman terlalu penting untuk perusahaan. Lagi pula alangkah tak layak memecat seorang pegawai yang sangat berjasa seperti Sarman. Sementara itu berdatanganlah para karyawan dari bagian lain. Kejadian itu begitu cepat tersebar. Beberapa petugas keamanan memasuki ruangan. Mereka akan bertindak, tapi Kepala Bagian menahan.

”Tunggu! Biar saya yang mengatasinya! Saya kenal dia, saya kenal dia, Sarman anak buah saya selama bertahun-tahun.”

Maka petugas-petugas keamanan pun hanya sibuk dengan HT mereka. Telepon berdering disalah satu meja, memecahkan keheningan, tapi Sarman keburu melompat kesana dan menendangnya. Ia masih menggenggam sebundel uang. Gajinya memang termasuk tinggi di kantor itu. Maklumlah ia sudah bekerja disana selama sepuluh tahun.

”Untuk apa kamu lakukan semua ini Sarman? Untuk apa?” tanya Kepala Bagian.

”Itu sama sekali tidak penting!”

”Lantas kamu mau apa, aku sudah menawarkan cuti besar, langsung mulai hari ini, tunjangannya bisa kamu ambil hari ini juga. Kamu juga boleh pakai hotel milik perusahaan kita di Bali, pakai Vila kantor kita di Puncak, pergilah dengan tenang biar kami selesaikan pekerjaanmu. Terus terang, selama ini kami memang terlalu…”

”Apa? Cuti? Cuti kata Bapak tadi?” Ujar Sarman sambil meletakkan tangan ditelinga, ”Cuti besar setelah sepuluh tahun bekerja. Cuti? Ha-ha-ha-ha! Cuti? Hua-ha-ha-ha! Cuti besar lantas masuk lagi, dan bekerja sepuluh tahun lagi? Huaha-ha-ha! Hua-ha-ha-ha! Ambillah cutimu Pak!”

Dan Sarman dengan lompatan karate menerjang jendela. Jendela tebal di tingkat 17 itu tidak langsung pecah. Sarman meninjunya beberapa kali sampai tangannya berdarah, lantas ia mengambil kursi, mengahantamkannya ke jendela, barulah jendela itu pecah. Angin yang dahsyat menyerbu masuk kantor. Kertas-kertas berterbangan. Sarman melompat ke jendela. Siap melompat kebawah. Orang-orang gempar dan menjerit-jerit.

”Sarman! Jangan bunuh diri Sarman!”

”Jangan akhiri hidupmu dengan sia-sia Sarman! Iangat anak istrimu! Ingat orang tuamu dikampung! Ingat Sahabat-sahabat kamu!”

”Sarman! Pakai oatakmu! Gunakan Akal sehatmu! Hidup ini cukup berharga! Hidup ini tidak sia-sia!”

Sarman yang sudah menhadap kejalan raya berbalik, sambil menendang sisa kaca di kusen jendela, ia berteriak dengan marah.

”Bangsat kalian semua! Bangsat! Sudah sepuluh tahun aku bangun tiap pagi dan berangkat dengan tergesa-gesa ke kantor ini! Sudah sepuluh tahun aku berangkat pagi hari dan pulang sore hari melalui jurusan yang sama. Sudah sepuluh tahun aku memasukkan kartu absen di mesin keparat itu tiap pagi dan sore! Sudah sepuluh tahun aku melakukan pekerjaan yang itu-itu saja delapan jam sehari! Sudah sepuluh tahun! Dan akan berpuluh-puluh tahun lagi! Memang aku dibayar untuk itu dan bayaran itu tidaklah terlalu kecil! Ini bukan salah kalian! Ini juga bukan salah perusahaan! Ini semua hanya omong kosong! Mengerti tidak kalian monyet-monyet? Ini semua Cuma omong kosong!”

”Sarman sudah gila,” bisik seseorang.

”Kenap sih dia bisa begitu?” desis yang lain.

”Semua ini Cuma lewat dan berlalu seperti debu!”

Sarman masih terus nerocos,
”Apa kalian masih ingat angka-angka yang kalian tuliskan kemarin? Apa kalian masih ingat kalimat-kalimat yang kalian tulis kemarin? Apakah kalian masih ingat nama-nama pada daftar relasi kita kemarin? Apa kalian masih ingat nomer-nomer mobil kantor kita yang baru? Apa kalian masih ingat nama-nama pegawai baru kita? Apa kalian masih ingat nama kawan-kawan kita yang sudah keluar dari perusahaan ini? Apa kalian masih ingat nama gombal-gombal yang selalu kita beri komisi? Begitu banyak, begitu dekat, tapi alangkah tidak berarti. Kita semua memang gombal! Aku jug acuma gombal! Jadi, sudahlah, jangan repot-repot! Besok kalian akan lupakan kejadian ini! Lenyap hilang seperti debu! Seperti gombal di pojok gudang! Seperti oli di lantai bengkel! Seperti sekrup…. ”

Sementara Sarman masih terus berpidato, para petugas keamanan tidak kehilangan akal. Mereka memanggil petugas pemadam kebakaran, tapi kedatangannya menimbulkan geger.

”Mana yang kebakaran Pak?”

”Bukan kebakaran!”

”Ada apa?”

”Ada orang mau bunuh diri!”

”Di mana?”

”Tuh!”

Syahdan diketinggian tingkat 17, tampaklah jendela yang terbuka itu menganga. Sarman tampak kecil, tapi jelas, menghadap kedalam sedang berteriak-teriak. Orang-orang yang sedang berada dibawah berhenti, menatap kesana. Mobil-mobil juga berhenti. Jalanan macet. Dengan mendadak, Sarman jadi tontonan. Beberapa orang menggunakan teropong. Bahkan ada yang memotret dengan lensa Tele. Petugas pemadam kebakaran membentangkan jala. Tangga mobil pemadam kebakaran, yang Cuma 40,9 meter, diulurkan. Semprotan air disiapkan, untuk menaha laju kejatuhan tubuh Sarman, kalau jadi melompat. Jalanan macet total. Helikopter polisi merang-raung diudara. Para penonton duduk di atap mobil. Beberapa orang bertaruh dengan jumlah lumayan, Sarman jadi bunuh diri atau tidak. Namun kru televisi terlambat datang.
Jalan lain untuk mencegah Sarman juga diambil. Di Helikopter polisi itu terdapatlah keluarga Sarman, istri Sarman dan anaknya yang bungsu.

”Sarman, lihat itu anak istrimu!” teriak para karyawan dalam gedung.

”Ya, itu anak istrimu! Ingatlah mereka Sarman! Jangan berbuat nekad!”

”Sarman! Sarman! Aku istrimu Sarman! Aku mencintai kamu! Anak-anak juga mencintai kamu! Jangan melompat Sarman!” teriak istrinya sambil menangis, Suaranya menggema lewat penegeras suara di celah raungan helikopter.

”Bapak! Bapak!” seru anaknya.

Sarman berbalik. Dilihatnya wanita itu melambai dengan air mata tumpah ruah. Hatinya tercekat. Ia ingin melambai kembali. Seperti dilakukannya setiap pagi ketika berangkat kantor. Namun ini mengingatkannya pada segepok uang yang masih digenggamnya. Sarman kumat lagi. Tapi dari dalam kantor, dua petugas kemanan merayap perlahan ke jendela.

”Ingat anak-anak kita Sarman! Mereka mebutuhkan kamu! Ingat ibumu, ia mau datang minggu ini dari kampung! Sarman, o Sarman, jangan tinggalkan aku Sarman!” teriak istrinya lagi.

”Apa? Pulang untuk ketemu kamu?! Ketemu dengan segenap tetek-bengekmu?! Pulang utnuk menemui segenap omong kosongmu?! Kamu tidak pernah mau tahu perasaanku! Kamu Cuma tahu kewajiban-kewajibanku! Kamu Cuma tahu ini!”
Sarman mengacungkan uang ditangannya,

”Kamu Cuma tahu ini kan?!”

”Bukan begitu Sarman, aku tidak bermaksud begitu, kamu salah sangka Sarman, aku …”

”Ini uang kamu! Makan!”

Dan Sarman melempar ratusan ribu rupiah ke udara. Uang ditangannya sudah habis. Lembaran-lembaran uang itu berteberan ditiup angin, berguling-guling dan berkilauan dalam siraman cahaya matahari.

”Sarman, o Sarman…” Istrinya menangis tersedu-sedu. Anaknya hanya bisa berteriak,

”Bapak! Bapak!”

Angin masih bertiup kencang diketinggian itu. Sarman melihat uang gajinya berguling-guling melayang kebawah. Kertas-kertas itu belum sampai tanah. Masih melayang-layang menyebar. Orang-orang dikantor yang ada ditingkat bawah dari kantor Sarman terkejut melihat uang berterbangan di udara. Dibawah anak-anak maupun orang dewasa bersiap-siap menangkap uang itu. Suasana sangat meriah. Sarman termenung. Sekilas terlintas untuk megakhiri sandiwara ini.
Saat itulah kedua petugas keamanan yang merayap, tiba di jendela. Salah seorang meyergap, berusaha merangkul Sarman, namun gerakkan yang abru pertama kali ia lakukan dalam hidupnya itu kurang sempurna. Sarman malah jadinay terpeleset, ketika membuat gerakan refleks menghindar. Petugas itu hanay mencengkeram sepatu sarman.
Orang-orang dibawah berteriak histeris. Oarang-orang dalam gedung berebutan melongok dari jendela.tubuh sarman meluncur. Dalam jarak yang cukup jauh Sarman sempat berpikir, sandiwaranya kini menjadi kenyataan. Dengan gerak mirip tarian, tubuh Sarman menembus sebaran uang kertas yang belum juga sampai kebumi. Di bawah, pemadam kebakaran telah membentangkan jala penyelamat lebar-lebar. Empat selang memancarkan air dengan keras ke atas.

”Apakah Sarman akhirnya bisa diselamatkan?” desak Alina yang sudah tidak sabar.

”Oh, itu sama sekali tidak penting Alina,” jawab si juru cerita, ”Itu sama sekali tidak penting.”

Apakah Hidup Seperti Jazz ?

 Apakah Hidup Seperti Jazz ?

 

 

Jazz isn’t music. it’s language. Communication.
(Enos Payne)

 

JAZZ – apakah kita pernah tahu arti kata itu ? Dalam album panjang Wynton Marsalis, Soul Gesture in Southern Blue, yang terdiri  dari tiga volume. Terdapat sebuah lagu berjudul So this is Jazz, Huh? di Volume 1. Dalam pengantar yang ditulis Stanley crouch untuk album itu, dikatakan bahwa pertanyaan itu diucapkan sepasang penonton, ketika tiba di sebuah  konser jazz.

“Barangkali mereka pernah mendengar jenis musik yang pop dari jazz, dan datang dengan penuh harapan, ”tulis Crouch, “musik pun dimulai, ternyata suatu blues dengan tonalitas mayor, suatu suara sendu menggunakan cengkok rinci yang mengingatkan kepada suara radio di larut malam. “Maka, satu dari pasangan itu bertanya ,”Do we like this?” dan dijawab sendiri berbarengan,”So this is jazz, huh?”

Anehnya, judul lagu yang sama muncul lagi dalam volume 3, tapi lain bunyinya. Untuk lagu itu, Stanley Crouch, yang nampaknya merupakan pengamat khusus karya-karya Whynton Marsalis, menulis: So this is jazz, Huh? Adalah pertanyaan yang selalu diucapkan  mereka yang tidak mengerti. Namun sekali mereka menemukan, well, mereka tidak akan pernah lupa.”

Katanya sih jazz bisa berarti apa saja. Tergantung dari mana mulainya. Ada yang bilang jazz itu berarti seks. Busyet. Tentu  bukan itu yang kucari. Toh tidak pernah ada jawaban memuaskan dari sumber apapun. Tepatnya, tidak pernah ada jawaban final. Bukalah buku-buku tentang jazz yang standar: Early Jazz dari Gunther Schuller,  Jazz Style oleh Mark C.Gridley,  atau Jazz yang disusun John Fordhman  dan penuh gambar-gambar itu-kita tidak akan pernah tahu apa persisnya arti jazz.

Meski begitu, toh ada satu pengertian yang rasanya kusukai. Bacalah kalimat Fordham berikut:”Ketika penulis F.Scott Fitzgerald menyatakan datangnya abad jazz pada tahun ’20-an, ia maksudkan kata jazz untuk menjabarkan suatu sikap. Anda tidak usah tahu musiknya untuk memahami rasanya…”Tentu Fitzgerald menyatakan pendapatnya, dalam konteks pembebasan sebuah sub kultur dari rasa rendah diri, yakni sub kultur budak-budak hitam amerika keturunan afrika, namun yang penting dari pernyataan itu- kita tidak usah menjadi ahli musik untuk menyukai jazz. Sehingga tidak penting jazz itu apa, yang penting kita dengar saja musiknya. Rasa yang ditularkannya. Emosi yangditeriakannya.Jeritan yang dilengkingkannya. Raungan yang mengemuruh memuntahkan kepahitan.

Itulah uniknya jazz bagiku. Ia seperti hiburan, tapi hiburan yang pahit, sendu, mengungkit-ungkit rasa duka. Selalu ada luka dalam jazz, selalu ada keperihan. Seperti selalu lekat  rintihan itu-rintihan dari lading-ladang kapas maupun daerah lampu merah. Ketika menuliskan ini, aku teringat lagu Berta, Berta dalam album Branford Marsalis, I Heard You Twice The First Time, sebuah nyanyian bersama tanpa iringan instrument, tanpa bermaksud menjadikanya suatu paduan suara yang canggih, diiringi suara rantai terseret. Itulah rantai yang mengikat pergelangan tangan dan kaki para budak- rantai perbudakan. Mereka tidak menjadi bebas karena nyanyian, namun tak ada ranatai yang mampu menghalangi mereka menyanyi. Itulah hakikat jazz: pembebasan jiwa.

Tentu saja setiap jenis musik, bahkan setiap jenis kesenian bisa dinyatakan hakikatnya sebagai pembebasan jiwa. Namun dalam jazz, kata pembebasan itu hadir secara konkret dalam suatu ruang yang bernama improvisasi. Ya, barangkali lebih tepat dikatakan hakikat jazz adalah improvisasi. Dengarkanlah bebop, perhatiakan suara instrument itu satu per satu, maka kita akan mendengar betapa saxophone Charlie Parker saling kejar-mengejar denag terompet Dizzy Gillespie. Dengarkanlah apa saja dari jazz, maka kita akan mendengarkan instrumen  yang berdialog. Itulah beda jazz dengan jenis musik lain. Jazz adalah suatu percakapan akrab yang terjadi dengan seketika, spontan dan tanpa rencana.

Memang ada kerangka sebuah lagu, namun setiap musisi bisa  memainkan instrumennya secara akrobatik di sekitar kerangka itu. Bersama waktu, suara-suara setiap instrument itu mengalir bagai mengikuti suatu garis penunjuk, namun mereka tidak betul-betuk selalu mengikuti garis itu, kadang-kadang mereka berbelok entah kemana, menghilang lantas kembali lagi, atau memang mengikuti garis itu, tapi sambil meloncat-loncat, menari, jungkir balik- semuanya secara imprivisatoris dan tidak saling merusak. Bila tiba saatnya satu instrument ditonjolkan, dimana sang musisi mendemonstrasikan kepiawaian individualnya, yang lain secara otomatis tahu diri untuk tidak mengacaunya. Suara-suara itu saling sahut-menyahut. Seringkali suara itu seolah-olah begitu kacau, tapi bukan karena lepas kendali, melainkan karena mereka memang memainkan ketertiban, bermain main dengan keharusan, serta bercanda dengan peraturan musical. Suara-suara sengaja dibelokkan, dipelesetkan, bahkan di jungkir balikkan. Tentu saja permainan dengan kekacauan ini hanya bisa dilakukan para musisi yang sudah beres urusanya dengan ketertiban, tapi yang merasa segenap kaidah musical tak cukup menyalurkan kebutuhannya untuk bicara lewat instrumennya. Mereka tidak ingin memainkan sebuah lagu, mereka ingin mengungkapkan kata hatinya,tapi bahkan bahasa kata tak pernah cukup mewakili kata hatinya itu,maka betapa terampilnya mereka yang mampu menyampaikan kata hati itu lewat suara instrumennya.Seringkali begitu menyentuh suara-suar itu, begitu rinci menggambarkan setiap inci kata hati.Kita mendengar rasa, dalam bahasa suara.

Itulah jazz, mendengarkan jazz seperti mendengar bahasa percakapan, yang tidak direncanakan.Sekarang bisa kumengerti, mengapa rekaman lama para dedengkot seperti Charlie “Bird” Parker dikeluarkan kembali, tapi bukan hanya versi release saja, melainkan seluruh versi yang sempat terekam, karena setiap versi itu memang lain-lain.Bagaimana mungkin improvisasi bisa sama? Apalagi improvisasi seorang jenius. Dalam album Bird and Diz yang dikeluarkan tahun 1986, berdasarkan rekaman tanggal 6 juni 1950 di new york, kita bisa mendengarkan master take maupun alternate take dari lagu-lagu macam An Oscar for Treadwell, Mohawk, my melancholy baby dan relaxin’ with lee. Lagu Leap Frog bahkan hadir empat kali, karena tambahan dua alternate take yang merupakan penemuan hasil riset.Sebelumnya dua alternate take ini tidak pernah terdengar. Tersembunyi dan membisu  dalam tumpukan pita-pita dokumentasi verse records selama 36 tahun. Bagiku peristiwa berbunyinya kembali rekaman yang tadinya merupakan versi tidak terpakai itu, yang tidak berlaku bagi rekaman para jenius, merupakan jasa teknologi yang harus disyukuri. Maka dengarlah betapa setiap take dari lagu yang sama menjadi lain hasilnya, karena suasana hati para musisi memang akan menjadi lain pada momen yang berbeda. Setiap gerakan pada suasana hati yang berbeda ini akan memberi suara yang berbeda ketika instrumennya berbunyi. Dan ini tak pernah bisa diduga karena berlangsung seketika.Aku teringat sebuah adegan dari film New York, New York. Seorang pemain saxophone, yang dimainkan Robert Deniro, mengubah dengan seketika tempo permainannya, dari pelan kecepat, karena melihat Liza Minelli, berperan sebagai penyanyi yang menjadi istrinya, bersipa naik panggung, mungkin untuk berpartisipasi menyanyi. Perubahan tempo dan nada yang segera ditanggapi para musisi lain ini membuat Liza Minelli batal naik panggung. Robert Deniro melakukannya sebagai ekspresi ketidaksukaan dan kemarahan, lewat instrumennya. Ini memang salah satu contoh terbaik, tentang bagaimana jazz menjdi bahasa ekspresi suasan hati pemainnya, dengan seketika.

Bagaimana aku berkenalan dengan jazz? Entahlah. Barangkali telinga bawah sadarku sudah lama mendengarnya. Namun sejauh bisa kuingat, kenangan tentang jazz selalu membawaku ke sebuah gudang kumuh di tepi jalan yang menjadi tempat tinggal seorang kawan. Aku selalu datang kesana bila sudah capek menyusuri larut malam.Dari luar sudah terdengar suara-suara kekelaman itu, dari balik pintu yang selalu setengah terbuka, melepaskan cahaya lampu yang selalu redup.

“Musik apa ini, kok aneh?”

“Tapi enak ya?”

“Wah, maut.”

“Memang, tapi nggak jelas musik apa.”

Begitulah caraku menghbiskan malam pada suatu masa yang sudah silam, sebelum kembali menghindari matahari. Aku masih ingat betapa kumuhruangan itu, dimana terdapat sebuah tempat tidur susun yang hanya dilapisi sleeping-bag, poster Jimi Hendrix, kerangaka sepeda tanpa roda yang digantung terbalik dilangit-langit, meja penuh peralatan elektronik, sepeda motor butut, serta tape recorder rombeng itu, yang telanjang tanpa body- tapi mampu membunyikankembali suara-suara itu, yang meski kualitas suaranya kini boleh dianggap memprihatinkan, namun tak bisa menghalangi pesona saxophone yang baru belakangan bisa kukenali kembali sebagai permainan seorang John Coltrane, karena dulu kasetnya pun tak berlabel, dan smpulnya hilang entah kemana.
Terkenang masa lalu, terkenang kehidupanku, aku berpikir-pikir: Apakah hidup seperti jazz? Kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi.Banyak peristiwa tak terduga yang harus salalu kita atasi. Kita tak pernah tahu kemana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hiduyp takm selalu berjalan seperti kemauan kita. Barangali kita tidak pernah mencapai tujuan kita. Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak pernah kita bayangakan. Barangkali juga kita tidak punya tujuan dalam hidup ini, tapi hidup ini akan selalu memberikan kejutan-kejutanya sendiri. Banyak kejutan. Banyak insiden. Seperti jazz? Entahlah. Aku agak mabuk.

Kuhabiskan whisky-cola di gelasku. Kulihat arloji digital yang menunjuk waktu tanpa kesalahan. Dia belum datang, tapi aku seolah sudah mencium bau parfumnya.
 

*) dari Novel “Jazz, Parfum & Insiden”, Yayasan Bentang Budaya, 1996

Sebuah Pohon di Tengah Padang

Sebuah Pohon di Tengah Padang

  

DARI jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang.
Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan
terpanggang matahari, pemandangan pohon yang rimbun seperti itulah
yang sekarang kubutuhkan. Kuhabiskan isi kantong airku untuk
membasahi kerongkongan. Aku tidak takut lagi akan kehabisan air
seperti hari-hari yang baru saja kulalui, karena aku tahu tidak
akan ada pohon yang bisa menjadi begitu rimbun tanpa sumber air.

Hanya ada satu pohon di tengah padang ini, tinggi tegak menjulang,
menjanjikan keteduhan bagi siapa pun yang akan beristirahat di
bawahnya. Ke sanalah langkah kakiku yang tidak pernah mempunyai
tujuan ini mengarah.

Kini telah menjadi jelas dan pasti. Aku ingin beristirahat di bawah
pohon itu. Aku ingin menggeletak di atas rerumputan dengan nyaman.
Melemparkan tongkat dan buntalan bekal sekenanya lantas menggeletak
begitu saja di atas rumput tebal yang empuk dan hijau sehijau-
hijaunya rumput yang paling hijau. Sudah waktunya telapak kakiku
yang pecah-pecah meski dialasi kasut ini merasakan kelembutan
setelah berbulan-bulan hanya menapak di daerah kering.

Daerah kering artinya tanah yang sudah pecah-pecah bahkan membatu
karena kekeringan bertahun-tahun tanpa henti. Melewati daerah kering
artinya melewati daerah berdebu, rumah-rumah tanah, dan manusia-
manusia yang juga berbalut debu dan tanah. Rumah-rumah tanah
terletak sangat berjauhan satu sama lain. Kelompok-kelompok rumah
yang hanya terdiri dari dua sampai lima keluarga masing-masing
terletak sangat berjauhan, dengan sumur-sumur mahadalam yang
terletak lebih jauh lagi. Makin jauh aku berjalan, makin sedikit
kelompok rumah yang kulewati, dan makin jauh pula jarak
rumah yang satu dengan lainnya. Rumah yang terakhir bahkan hanya
berpenghuni satu orang tua, entah laki entah perempuan, terkantuk-
kantuk di atas bangku kayu, seperti hanya menanti kematian tiba.
Rambutnya merah dan berdebu, kulitnya hitam dan berselaput debu,
seolah-olah ia tiada pernah bergerak sehingga tiada sebutir debu
pun yang jatuh ke tanah.

Waktu aku lewat di depannya ia tertawa.
“Pengembara bodoh,” katanya, “untuk apa berjalan terus-menerus tanpa
tujuan yang jelas. Hidup kita hanya berakhir dengan kematian, duduk
di sini saja bersamaku. Nanti kematian toh akan datang juga.”

Aku berjalan terus, meski aku memang tidak mempunyai tujuan yang
jelas. Namun apakah yang bisa terlalu jelas di mata manusia yang
pandangannya selalu terbentur cakrawala? Ada sebuah cermin yang
bagaikan tidak ada gunanya lagi di rumah itu. Mungkin dahulu kala ia
mempunyai seorang istri yang menggunakan cermin itu, tetapi kuingat
kembali betapa tak jelas ia lelaki atau perempuan. Sempat kulihat
diriku di luar pintu pada cermin itu, keadaanku ternyata sama saja
dengan orang tua itu. Seluruh tubuhku penuh dengan debu.

Itulah rumah terakhir yang kulewati dalam perjalananku di daerah
kering ini. Aku membawa kantong kulit berisi air yang sangat kuhemat
meminumnya, sehingga aku bisa bertahan lama melawan matahari yang
membara. Tanah yang terpanggang panasnya menembus kasutku dan hal
itu membuat aku berjalan semakin cepat karena hanya ketika kaki
terangkat panasnya terasa berkurang. Dari hari ke hari dari minggu
ke minggu aku masih bisa bertahan dengan air dan daging kering dalam
kantong bekalku. Kadang kala aku masih terus berjalan pada malam
hari sampai betul-betul tidak kuat lagi. Namun kini aku sudah sampai
kepada batas kemampuan tubuhku. Meskipun masih ada air yang
mencukupi untuk beberapa hari lagi, mungkin aku tidak akan mampu
melewati daerah kering ini.

Kini aku melangkah menuju pohon yang tegak menjulang dan menjanjikan
keteduhan di bawahnya. Apakah daerah kering sudah sampai kepada
batasnya? Ternyata tidak. Aku memerlukan waktu satu hari untuk
mencapai pohon itu. Semula kukira pohon itu hanyalah semacam
fatamorgana. Ternyata tidak, tetapi memang ternyata masih jauh
sekali. Bayangkanlah sendiri betapa besar dan tinggi pohon itu, jika
dari kejauhan pun tampaknya begitu dekat. Mula-mula tanah kering
membatu tempat kakiku melangkah berubah menjadi tanah berumput.
Namun rumputnya masih rumput kering dan tanahnya masih keras tiada
terkira.

Sebenarnyalah kekeringan itu tidak pernah berakhir ketika aku sampai
ke pohon itu. Namun berada di bawah pohon tersebut memang kita tidak
akan merasakan kekeringan itu sama sekali. Hari menjelang senja
ketika aku tiba. Matahari di cakrawala bagaikan lebih rendah dariku.
Bayang-bayangku memanjang bagaikan menjangkau ujung dunia. Aku
tergeletak kelelahan dan segera tahu betapa akan nyaman hidup selama-
lamanya di bawah pohon itu. Begitu menggeletak, hari segera menjadi
gelap, dan aku terbawa ke alam mimpi.
MIMPIKU hanyalah ulangan perjalananku yang panjang. Otot-otot kakiku
yang pegal mengirim kembali pengalamannya ke dalam otakku yang, alih-
alih tertidur, memberikan gambaran mimpi yang melelahkan. Bahkan di
dalam mimpi aku berjuang menghindari ulangan perjalanan tiada
habisnya yang menguji ketabahan seorang pejalan. Melakukan
perjalanan sendirian tanpa menjumpai seorang manusia pun dalam
keletihan dan kebosanan bukanlah suatu pesta makan.

Namun aku terbangun dengan perasaan tenang. Hari masih pagi dan
pohon yang begitu rindang ini seperti menjanjikan keteduhan abadi.
Pohon besar yang perkasa ini hanya sendirian saja di tengah padang.
Seolah-olah dunia hanya terdiri dari padang tandus dengan hanya satu
pohon tegak menjulang. Ini berarti jika aku berangkat lagi setelah
beristirahat, perjalanan yang berat menapak padang tandus kering
kerontang itu akan kembali berulang. Namun siapakah yang begitu
terburu-buru berangkat sekarang? Kakiku rasanya melepuh karena panas
bumi dan rerumputan yang begitu sejuk selembut kain sutera ini
menghalangiku melangkah kembali.

Aku membiarkan diriku berbaring cukup lama menikmati nyanyian
burung-burung. Begitu besarnya pohon ini sehingga memungkinkan
berbagai jenis burung bisa hidup di sini. Burung-burung itu
tercukupi kebutuhan hidupnya tanpa harus terbang jauh menyeberangi
padang. Bukan hanya burung yang hidup di sekitar pohon, tetapi juga
berbagai macam serangga dan binatang melata yang kecil-kecil,
termasuk ular yang sering menyantap telur dari sarang burung-burung
itu.

Pohon ini bagaikan sebuah dunia tersendiri bagi makhluk-makhluk yang
hidup bersamanya. Pohon besar dan perkasa itu mampu melindungi
makhluk-makhluk dari sengatan matahari yang panas membara. Matahari
memang luar biasa terik di padang tandus ini, pantulan cahayanya
yang menyilaukan begitu rupa mengacaukan kesadaran. Bahkan berteduh
di bawah pohon yang rindang itu, panas udara dari padang tandus
tersebut sering masih terasa ketika dibawa angin melintas padang.

Pohon itu memang besar, tegak dan menjulang, tetapi di tengah padang
tandus yang mahaluas tempat dataran bumi tampak sebagai bulatan,
hanya jika berada di bawahnyalah segala keteduhannya bisa terasakan.
Di luar lingkaran bayang-bayang pohon, kesejukan itu menguap begitu
saja dalam kekeringan taktertahankan. Kupejamkan mataku kembali.
Benarkah terdengar suara air? Aku melompat berdiri dan berjingkat di
atas rerumputan empuk yang begitu nyaman bagi telapak kakiku yang
sudah pecah-pecah.

Karena begitu luas lingkaran bayang-bayang yang terbentuk oleh
naungan pohon besar ini, tidak kuperhatikan bahwa di salah satu sisi
bayang-bayang pohon itu terdapat sebuah jurang yang tidak terlalu
curam, dengan aliran sungai kecil yang mengalir di bawahnya. Sungai
kecil ini sebetulnya berada di bawah tanah, mengalir di bawah padang
yang tampaknya tandus dan kering kerontang, dan hanya di dekat pohon
ini saja permukaan tanah di atasnya merekah, sebelum akhirnya
tertutup kembali. Melalui rekahan itulah terbentuk sepotong jurang
yang memperlihatkan aliran sungai mengalir. Aliran yang bagai muncul
begitu saja dari sebuah celah dan berakhir di sebuah celah yang
lain.

Di tepi aliran sungai berbatu-batu itu terbentuk lubuk kecil tempat
ikan-ikan bertelur dan ketika aku sampai ke tepi sungai terlihat
pula jejak-jejak antilop dan impala. Apakah aku keliru jika
kukatakan aku bisa hidup selamanya seperti makhluk-makhluk di
sekitar pohon ini di sini? Jangankan daging binatang buruan yang
bisa menghidupiku selama enam bulan, dengan buah-buahan dari pohon
yang tiada jelas apa namanya ini saja aku bisa hidup di sini selama
yang kuinginkan. Kupandang sekeliling, di luar lingkaran bayang-
bayang sepagi ini matahari sudah begitu terik dan membakar. Tidak
juga jelas sampai di mana padang tandus ini berakhir. Sebelum
melihat pohon ini saja sudah kutemukan kerangka manusia di
sana-sini.
BEGITULAH akhirnya aku hidup bersama pohon besar itu. Bergabung
dengan burung-burung, kadal, ular, dan berbagai jenis serangga yang
hidup dalam dunia tersendiri di padang tandus ini. Alangkah ajaibnya
betapa sebuah pohon bisa mempunyai makna begitu besar. Di bawah
akarnya yang menjalar ke mana-mana itu tanah memang tak lagi kering
dan terlihat begitu banyak lubang yang menyarankan terdapatnya
kemaharajaan semut, laron, cacing, dan entah apa lagi di dalam bumi.
Burung-burung berbagai jenis sebetulnya juga tidak perlu terbang ke
mana pun untuk mencari mangsa.

Begitupun diriku, dengan kemampuan menyalakan api untuk memasak dan
memanggang, tempat ini menjadi surga bagiku. Setiap hari aku bisa
mandi sesuka hati, berendam sepuasnya dalam deras air kali, dan
tiada kesulitan makanan apa pun yang sehat dan alami. Daun pohon itu
menjadi sayur, ikan menjadi sashimi, dan buahnya pencuci mulut
terlezat yang pernah kucicipi. Aku tahu akan bisa hidup selama
mungkin di tempat ini, kalau perlu sampai aku mati.

Sambil duduk di bawah pohon sehabis makan, duduk berleha-leha tanpa
pekerjaan dan hanya mengipas-ngipaskan topi akar pandan dengan
malas, terpandang olehku cakrawala nun di sana yang mengundang
segala pertanyaan. Apakah kiranya yang berada di balik cakrawala
itu?

Dalam perjalananku menuju tempat ini, kadang-kadang kulihat jejak
beberapa ekor singa. Berbagai kerangka manusia maupun binatang yang
kujumpai dalam perjalananku bukan tidak mungkin juga merupakan
korban keganasan singa yang kelaparan. Sebenarnya pada malam hari
pun ada kalanya kudengar aum singa. Dalam kegelapan kadang terlihat
juga sepasang mata memantulkan cahaya api unggun. Tampaknya pohon
ini menegaskan batas wilayah kekuasaan binatang buas itu, karena
mereka tidak pernah mendekat untuk memangsaku.

Barangkali ini semacam pohon yang sudah ada bersama dengan
terciptanya dunia. Pohon asal segala pohon. Sehingga ketika rimba
raya harus punah menjadi padang tandus, pohon itu masih tegak
berdiri. Makhluk-makhluk barangkali mengerti arti keberadaan pohon
tersebut. Dengan aman setiap malam aku tidur di atas rumput. Tiada
lagi kelelahan terasa di tubuhku.

Memandang padang tandus yang begitu luas bagaikan tanpa batas, aku
tahu inga-singa itu akan mengikuti jejakku jika aku meneruskan
perjalanan. Setelah mengikuti perlahan-lahan dari belakang maupun di
samping kiri dan kanan, mungkin mereka akan menyerbu, atau mungkin
juga menunggu sampai aku begitu lelah dan terjatuh dengan
sendirinya. Tidak kubayangkan bagaimana singa-singa itu akan
menyantap diriku. Aku tidak ingin menjadi santapan singa, tidak akan
kubiarkan mereka menerkam aku.

Maka begitulah, dari hari ke hari aku termangu-mangu di bawah pohon
di tengah padang ini. Aku menulis dalam buku catatan. Mencatat
segala peristiwa dengan bahasa yang paling mungkin untuk
menceritakan semuanya. Bila aku harus mati di tempat ini, maka aku
harus mati meninggalkan sesuatu yang berguna bagi mereka yang kelak
juga akan tiba di tempat ini. Kuceritakan dalam buku catatanku
bagaimana seseorang, setelah menyeberangi padang tandus yang begitu
luas, akan bisa hidup terus selamanya sampai harus mati secara
alamiah karena usia tua. Kuceritakan apa saja yang
bisa dilakukan di tempat ini, apa saja yang bisa membuat hidup
seseorang berguna dan berbahagia.

Dalam waktu setahun, telah kupersembahkan segala macam catatan untuk
dunia tentang burung-burung, daun-daun, angin, dan kadal. Telah
kuberi petunjuk kepada siapa pun yang akan tiba di tempat ini kelak,
tempat yang terbaik untuk menyaksikan senja terindah ketika matahari
turun di balik cakrawala itu dan bayang-bayang pohon itu akan tampak
memanjang, begitu panjang, sehingga hanya berakhir di sisi cakrawala
lain. Kuberi catatan tentang musim-musim tertentu ketika cahaya
senja akan memerahkan langit begitu rupa, sehingga tampak langit itu
menjadi merah menyala-nyala seperti sedang terbakar. Pada musim
lain, hanya akan ungu saja langit, atau kelabu, atau langit tertutup
awan gelap bergulung-gulung mendatangkan hujan. Namun dalam hujan
yang derasnya membuat dunia menjadi kelabu sekalipun, tiada setetes
air akan menembus kerimbunan pohon di tengah padang ini.

Kuperingatkan siapa pun mereka agar jangan tergoda dengan suara-
suara yang akan terdengar setelah malam tiba. Kesendirian dan
kesepian akan membuat suara-suara malam terdengar seperti lagu
bisikan yang memanggil-manggil. Lagu bisikan dan rembulan purnama
dengan mudah akan membuatmu berjalan ke tengah padang, terkecoh oleh
cahaya keperakan yang memantul dari dataran berbatu-batu. Dalam
embusan angin sepoi-sepoi dikau akan mengira segalanya memang
diciptakan hanya untukmu. Saat itulah, ketika dikau jauh dari pohon
yang kerindangannya menjamin kebahagiaan hidup, moncong seekor singa
tanpa kausadari sudah akan menancap di lehermu.
DI BAWAH pohon yang rindang kutatap cakrawala di kejauhan. Apakah
aku harus tinggal di sini, sampai mati sendiri dalam meditasi di
alam sunyi? Aku teringat kata-kata manusia terakhir yang kujumpai
sebelum tiba di sini–aku teringat ia mengatakan sesuatu tentang
perjalanan dan kematian. Benarkah perjalanan yang berakhir dengan
kematian adalah suatu kesia-siaan? Tidakkah perjalanan hidup ini
memang perjalanan menuju kematian? Aku telah berjalan sejauh ini
hanya untuk menengok dunia di balik cakrawala. Di sana barangkali
ada sebuah dunia yang tiada terduga, tetapi di sana mungkin juga
tiada sesuatu apa pun. Hidupku sangat enak di bawah pohon ini, aku
bisa hidup dengan tenang sampai mati tua tanpa perasaan merana,
tetapi kusadari kehidupan semacam itu bukanlah tujuan hidupku.

Aku bangkit, segalanya telah kusiapkan. Buntalan berisi bekal telah
tergantung di tongkat pengembaraanku yang ujungnya bercabang.
Kupasang topi pandan dan kukenakan kembali kasutku, siap mengarungi
padang tandus yang seperti mendadak saja meniupkan angin berpasir.

Kupanggul tongkatku di bahu kanan dan melangkah. Tongkat itu juga
telah kujadikan tombak yang panjang. Para pemburu dari suku-suku
penghuni padang tandus yang telah kulalui selalu menggunakan tombak
panjang semacam ini untuk menghadapi singa. Kugunakan salah satu
pisauku menjadi mata tombak di ujung yang lain, cukup tajam untuk
menembus perut singa yang melompat menerkam. Namun belum kupikirkan
bagaimana cara menghadapinya jika singa yang memburuku nanti lebih
dari satu, menyerbu serentak dari depan, dari belakang, dari
samping kiri dan kanan sekaligus.

Siang sangat panas dan terik. Tidak berapa lama kemudian aku telah
ditelan badai pasir. Ketika kutengok ke belakang, tidak bisa kulihat
lagi pohon rindang menjulang yang menjadi tempat tinggalku setahun
ini.

Kulanjutkan terus langkah kakiku. Apa pun yang akan terjadi dalam
perjalananku, harus kuanggap lebih baik daripada menjadi tua dan
mati di bawah pohon di tengah padang itu.

Pondok Aren, Agustus-Oktober 2006

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 359 pengikut lainnya.