Legenda Wongasu

  

Legenda Wongasu

    

    
SUATU ketika kelak, seorang tukang cerita akan menuturkan sebuah legenda, yang terbentuk karena masa krisis ekonomi yang berkepanjangan, di sebuah negeri yang dahulu pernah ada, dan namanya adalah Indonesia. Negeri itu sudah pecah menjadi berpuluh-puluh negara kecil, yang syukurlah semuanya makmur, tetapi mereka masih disatukan oleh bahasa yang sama, yakni Bahasa Indonesia, sebagai warisan masa lalu.Barangkali tukang cerita itu akan duduk di tepi jalan dan dikerumuni orang-orang, atau memasang sebuah tenda dan memasang bangku-bangku di dalamnya di sebuah pasar malam, atau juga menceritakannya melalui sebuah teater boneka, bisa boneka yang digerakkan tali, bisa boneka wayang golek, bisa juga wayang magnit yang digerakkan dari bawah lapisan kaca, dengan panggung yang luar biasa kecilnya. Untuk semua itu, ia akan menuliskan di sebuah papan hitam: Hari ini dan seterusnya “Legenda Wongasu”.
Berikut inilah legenda tersebut:

“Untung masih banyak pemakan anjing di Jakarta,” pikir Sukab setiap kali merenungkan kehidupannya. Sukab memang telah berhasil menyambung hidupnya berkat selera para pemakan anjing. Krisis moneter sudah memasuki tahun kelima, itu berarti sudah lima tahun Sukab menjadi pemburu anjing, mengincar anjing-anjing yang tidak terdaftar sebagai peliharaan manusia, memburu anjing-anjing tak berpening yang sedang lengah, dan tiada akan pernah mengira betapa nasibnya berakhir sebagai tongseng.

Semenjak di-PHK lima tahun yang lalu, dan menganggur lontang-lantung tanpa punya pekerjaan, Sukab terpaksa menjadi pemburu anjing supaya bisa bertahan hidup. Kemiskinan telah memojokkannya ke sebuah gubuk berlantai tanah di pinggir kali bersama lima anaknya, sementara istrinya terpaksa melacur di bawah jembatan, melayani sopir-sopir bajaj. Dulu ia begitu miskin, sehingga tidak mampu membeli potas, yang biasa diumpankan para pemburu anjing kepada anjing-anjing kurang pikir, sehingga membuat anjing-anjing itu menggelepar dengan mulut berbusa.

Masih terbayang di depan matanya, bagaimana ia mengelilingi kota sambil membawa karung kosong. Mengincar anjing yang sedang berkeliaran di jalanan, menerkamnya tiba-tiba seperti harimau menyergap rusa, langsung memasukkannya ke dalam karung dan membunuhnya dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini. Sukab tidak pernah peduli, apakah ia berada di tempat ramai atau tempat sepi. Tidak seorang pun akan menghalangi pekerjaannya, karena anjing yang tidak terdaftar boleh dibilang anjing liar, dan anjing liar seperti juga binatang-binatang di hutan yang tidak dilindungi, boleh diburu, dibinasakan, dan dimakan.

Apabila Sukab sudah mendapatkan seekor anjing di dalam karungnya, ia akan berjalan ke sebuah warung kaki lima di tepi rel kereta api, melemparkannya begitu saja ke depan pemilik warung sehingga menimbulkan suara berdebum. Pemilik warung akan memberinya sejumlah uang tanpa berkata-kata, dan Sukab akan menerima uangnya tanpa berkata-kata pula. Begitulah Sukab, yang tidak beralas kaki, bercelana pendek, dan hanya mengenakan kaus singlet yang dekil, menjadi pemburu anjing di Jakarta. Ia tidak menggunakan potas, tidak menggunakan tongkat penjerat berkawat, tapi menerkamnya seperti harimau menyergap rusa di dalam hutan.

Ia berjalan begitu saja di tengah kota, berjalan keluar-masuk kompleks perumahan, mengincar anjing-anjing yang lengah. Di kompleks perumahan semacam itu anjing-anjing dipelihara manusia dengan penuh kasih sayang. Bukan hanya anjing-anjing itu diberi makanan yang mahal karena harus diimpor, atau diberi makan daging segar yang jumlahnya cukup untuk kenduri lima keluarga miskin, tapi juga dimandikan, diberi bantal untuk tidur, dan diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan setiap bulan sekali. Sukab sangat tidak bisa mengerti bagaimana anjing-anjing itu bisa begitu beruntung, sedangkan nasibnya tidak seberuntung anjing-anjing itu.

Namun, anjing tetaplah anjing. Ia tetap mempunyai naluri untuk mengendus-endus tempat sampah dan kencing di bawah tiang listrik. Apabila kesempatan terbuka, tiba-tiba saja mereka sudah berada di alam belantara dunia manusia. Di alam terbuka mereka terpesona oleh dunia, mondar-mandir ke sana kemari seperti kanak-kanak berlarian di taman bermain, dan di sanalah mereka menemui ajalnya. Diterkam dan dibinasakan oleh Sukab sang pemburu, untuk akhirnya digarap para pemasak tongseng.

“Sukab, jangan engkau pulang dengan tangan hampa, anak-anak menantimu dengan perut keroncongan, jangan kau buat aku terpaksa melacur lagi di bawah jembatan, hanya supaya mereka tidak mengais makanan dari tempat sampah,” kata istrinya dahulu.

Kepahitan karena istrinya melacur itulah yang membuat Sukab menjadi pemburu anjing. Hatinya tersobek-sobek memandang istrinya berdiri di ujung jembatan, tersenyum kepada sopir-sopir bajaj yang mangkal, lantas turun ke bawah jembatan bersama salah seorang yang pasti akan mendekatinya. Di bawah jembatan istrinya melayani para sopir bajaj di bawah tenda plastik, hanya dengan beralaskan kertas koran. Tenda plastik biru itu sebetulnya bukan sebuah tenda, hanya lembaran plastik yang disampirkan pada tali gantungan, dan keempat ujungnya ditindih dengan batu. Sukab yang berbadan tegap lemas tanpa daya setiap kali melihat istrinya turun melewati jalan setapak, menghilang ke bawah tenda.

“Inilah yang akan terjadi jika engkau tidak bisa mencari makan,” kata istrinya, ketika Sukab suatu ketika mempertanyakan kesetiaannya, “pertama, aku tidak sudi anak-anakku mati kelaparan; kedua, kamu toh tahu aku ini sebetulnya bukan istrimu.”

Perempuan itu memang ibu anak-anaknya, tapi mereka memang hanya tinggal bersama saja di gubug pinggir kali itu. Tidak ada cerita sehidup semati, surat nikah apalagi. Mereka masih bisa bertahan hidup ketika Sukab menjadi buruh pabrik sandal jepit. Meski tidak mampu menyekolahkan anak dan tidak bisa membelikan perempuan itu cincin kalung intan berlian rajabrana, kehidupan Sukab masih terhormat, pergi dan kembali seperti orang punya pekerjaan tetap. Ketika musim PHK tiba, Sukab tiada mengerti apa yang bisa dibuatnya. Kehidupannya sudah termesinkan sebagai buruh pabrik sandal jepit. Begitu harus cari uang tanpa pemberi tugas, otaknya mampet karena sudah tidak biasa berpikir sendiri, nalurinya hanya mengarah kepada satu hal: berburu anjing.

Itulah riwayat singkat Sukab, sampai ia menjadi pemburu anjing. Kini ia mempunyai beberapa warung yang menjadi pelanggannya di Jakarta. Tangkapan Sukab disukai, karena ia piawai berburu di kompleks perumahan gedongan. Konon anjing peliharaan orang kaya lebih gemuk dan lebih enak dari anjing kampung yang berkeliaran. Tapi Sukab tidak pandang bulu. Ia berjalan, ia memperhatikan, dan ia mengincar. Anjing yang nalurinya tajam pun bisa dibuatnya terperdaya. Apa pun jenisnya, dari chihuahua sampai bulldog, dari anjing gembala Jerman sampai anjing kampung, seperti bisa disihirnya untuk mendekat, lantas tinggal dilumpuhkan, lagi-lagi dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Perburuan anjing itu menolong kehidupan Sukab. Perempuan yang disebut istrinya meski mereka tidak pernah menikah itu tak pernah pergi lagi ke bawah jembatan, melainkan memasak kepala anjing yang diberikan para pemilik warung kepada Sukab. Seperti juga ia melemparkan karung berisi anjing kepada pemilik warung sehingga menimbulkan bunyi berdebum, begitu pula ia melemparkan kepala anjing itu ke hadapan perempuan itu. Anak-anak mereka yang jumlahnya lima itu menjadi gemuk dan lincah, namun dari sinilah cerita baru dimulai.
***
SEPANJANG rel, tempat ia selalu membawa karung berisi anjing, anak-anak berteriak mengejeknya.

“Wongasu! Wongasu!”

Mula-mula Sukab tidak peduli, tapi kemudian perempuan yang disebut istrinya itu pun berkata kepadanya.

“Sukab! Mereka menyebut kita Wongasu!”

“Kenapa?”

“Katanya wajah kita mirip anjing.”

Mereka begitu miskin, sehingga tidak punya cermin. Jadi mereka hanya bisa saling memeriksa.

Betul juga. Mereka merasa wajah mereka sekarang mirip anjing.

“Anak-anak tidak lagi bermain dengan anak-anak tetangga, karena mereka semua mengejeknya sebagai Wongasu.”

Ia perhatikan, anak-anak mereka juga sudah mirip anjing. Perasaan Sukab remuk redam.

“Aduhai anak-anakku, kenapa mereka jadi begitu?” Sukab merenung sendirian. Kalaulah ini semacam karmapala karena perbuatannya sebagai pemburu anjing, mengapa hal semacam itu tidak menimpa para pemakan anjing saja? Bukankah perburuan anjing itu bisa berlangsung, hanya karena ada juga warung-warung penjual masakan anjing yang selalu penuh dengan pengunjung? Kenapa hanya dirinya yang menerima karmapala?

Orang-orang itu memakan anjing karena punya uang, begitu pikiran Sukab yang sederhana, sedangkan ia dan keluar-ganya memakan hanya kepalanya saja karena tidak punya uang. Sejumlah uang yang diterimanya dari para pemilik warung, yang mestinya cukup untuk membeli ikan asin dan nasi, biasa habis di lingkaran judi, tempat dahulu ia bertemu dengan perempuan itu-yang telanjur dicintainya setengah mati. Bukan berarti Sukab seorang penjudi, tapi ia juga punya impian untuk mengubah nasib secepat-cepatnya.

Namun kini mereka semua menjadi Wongasu.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup,” kata Sukab.

Perempuan itu menangis. Wajahnya yang cantik lama-lama juga menjadi mirip anjing. Meski sudah tidak melacur, tentu saja ia tetap ingin kelihatan cantik. Begitu juga Sukab. Anak-anak mereka terkucil dan setiap kali berkeliaran menjadi bahan ejekan.

Sukab tetap menjalankan pekerjaannya, dan pekerjaannya memang menjadi semakin mudah. Bukan karena anjing-anjing itu melihat kepala Sukab semakin mirip dengan mereka, melainkan karena penciuman mereka yang tajam mencium bau tubuh Sukab yang rupa-rupanya sudah semakin berbau anjing. Mereka datang seperti menyerahkan diri kepada Sukab yang telah sempurna sebagai Wongasu. Kadang-kadang Sukab cukup membuka karung dan anjing itu memasuki karung itu dengan sukarela, seperti upacara pengorbanan diri, meski Sukab tetap akan mengakhiri hidup mereka, tentu saja dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Ia akan datang dari ujung rel memanggul karung berisi anjing, melemparkannya ke hadapan pemilik warung berdingklik di tepi rel sehingga menimbulkan bunyi berdebum, dan segera pergi lagi setelah menerima sejumlah uang.

Di belakangnya anak-anak kecil berteriak.

“Wongasu! Wongasu!”

Pada suatu hari, ketika ia kembali ke gubugnya di pinggir kali, seseorang berteriak kepadanya.

“Wongasu! Mereka mengangkut keluargamu!”

Rumah gubugnya porak poranda. Seorang tua berkata kepadanya bahwa penduduk mendatangkan petugas yang membawa kerangkeng beroda. Perempuan dan anak-anaknya ditangkap. Mereka dibawa pergi.

“Ke mana?”

“Entahlah, kamu tanyakan sendiri saja sana!”

Waktu Sukab berjalan di sepanjang tepi kali, ia mendengar mereka berbisik-bisik dari dalam gubug-gubug kardus.

“Awas! Wongasu lewat! Wongasu lewat!”

“Heran! Kenapa kepalanya bisa berubah menjadi kepala anjing?”

“Itulah karmapala seorang pembunuh anjing.”

“Tapi kita semua makan anjing, siapa yang mampu beli daging sapi dalam masa sekarang ini? Bukankah justru….”

“Husssss…..”

Di kantor polisi terdekat Sukab bertanya, apakah mereka tahu akan adanya pengerangkengan tiada semena-mena sebuah keluarga di tepi kali.

“Oh, itu. Bukan polisi yang mengangkut, tapi petugas tibum.”

“Apa mereka melanggar ketertiban umum?”

Polisi itu kemudian bercerita, bagaimana salah seorang anak Sukab tidak tahan lagi karena selalu dilempari batu, sehingga mengejar pelempar batu dan menggigitnya. Bapak anak yang digigit sampai berdarah-darah itu tidak bisa menerima, lantas mengerahkan pemukim pinggir kali untuk mengepung gubug mereka. Kejadian itu dilaporkan kepada petugas tibum yang tanpa bertanya ini itu segera mengangkut mereka sambil menggebukinya.

Diceritakan oleh polisi itu bagaimana perempuan dan kelima anaknya itu berhasil dimasukkan ke dalam kerangkeng, hanya setelah memberi perlawanan yang luar biasa.

“Mereka menyalak-nyalak dan berkaing-kaing seperti anjing,” kata polisi itu, seolah-olah tidak peduli bahwa wajah Sukab juga seperti anjing.

“Hati-hati lewat sana,” katanya lagi, “mereka juga bisa menangkap saudara.”

“Kenapa Bapak tidak mencegah mereka, perlakuan itu kan tidak manusiawi?”

Polisi itu malah membentak.

“Apa? Tidak manusiawi? Apa saudara pikir makhluk seperti itu namanya manusia?”

“Mereka juga manusia, seperti Bapak!”

“Tidak! Saya tidak sudi disamakan! Mereka itu lain! Saudara juga lain! Sebetulnya saya tidak bisa menyebut Anda sebagai Saudara. Huh! Saudara! Saudara dari mana? Lagi pula, Anda bisa bayar berapa?”

Sukab berlalu. Nalurinya yang entah datang dari mana serasa ingin menerkam dan merobek-robek polisi itu, tapi hati dan otaknya masih manusia. Ia berjalan di kaki lima tak tahu ke mana harus mencari keluarganya.

Setelah malam tiba, ia kembali ke pinggir kali dengan tangan hampa. Ia berjongkok di bekas gubugnya yang hancur, menangis, tapi suara yang keluar adalah lolongan anjing.

Hal ini membuat orang-orang di pinggir kali lagi-lagi gelisah. Lolongan di bawah cahaya bulan itu terasa mengerikan. Ketakutannya membuat mereka mendatangi Sukab yang masih melolong ke arah rembulan dengan memilukan. Mereka membawa segala macam senjata tajam.
***
“MEREKA membantai Sukab,” ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas.

“Dibantai bagaimana?”

“Ya dibantai, kalian pikir bagaimana caranya kalian membantai anjing?”

“Terus?”

“Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing.”

“Terus?”

“Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?”

Ada yang menahan muntah, tapi masih penasaran dengan akhir ceritanya.

“Yang bener aje, masa’ Sukab dimakan?”

Tukang cerita itu tersenyum.

“Lho, itu tidak penting.”

Orang-orang yang mau pergi karena mengira cerita berakhir, berbalik lagi.

“Apa yang penting?”

“Esoknya, ketika matahari terbit, dan orang-orang bangun kesiangan karena makan terlalu kenyang dan mabuk-mabukan, terjadi suatu peristiwa di luar dugaan.”

“Apa yang terjadi?”

“Ketika terbangun mereka semua terkejut ketika saling memandang, mereka bangkit dan menyalak-nyalak, lari kian kemari sambil berkaing-kaing seperti anjing!”

“Haaaa?”

“Kepala mereka telah berubah menjadi kepala anjing!”

“Aaahhh!!!”

“Mereka semua telah berubah menjadi Wongasu!!”

Mulut tukang cerita membunyikan gamelan bertalu-talu sebagai tanda cerita berakhir, dan mulut para asistennya membunyikan suara lolongan anjing yang terasa begitu getir sebagai tangis perpisahan yang menyedihkan. Para penonton terlongong dengan lidah terjulur.

Di langit masih terlihat rembulan yang sama, dengan cahaya kebiru-biruan menyepuh daun yang masih juga selalu memesona.

Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk!

* Cirebon-Wangon-Jogja, Januari 2002.

* Pesan pengarang: Sayangilah anjing, sayangilah makhluk ciptaan Tuhan.

dimuat di: Kompas, Minggu 3 Maret 2002 

Topeng Monyet

  

Topeng Monyet

                                                        

Waktu ia menyeringai aku sudah tahu monyet itu siapa. Bumi ini cuma tempat persinggahan rohroh yang mencari tubuh. Ratusan ribu roh melesat kian kemari, ada yang mencari tubuh, ada yang lepas dari tubuh. Siapapun yang melihatnya akan menyaksikan pesta kembang api. Suaranya mendesing-desing dan ratusan ribu roh itu berkelebatan kian kemari dalam rotasi. Setiap detik berlangsung perpindahan roh dari tubuh yang habis masa berlakunya, ke tempat hunian baru. Perpindahan roh dari satu tubuh ke tubuh lain melewati suatu proses pencucian kembali, dengan cara mengelilingkannya ke seantero semesta, meski hanya berlangsung dalam satu detik saja. Dengan demikian diharapkan roh-roh itu tidak membawa pengaruh ketubuhannya yang lama ke dalam ketubuhannya yang baru. Jika prosedur ini tidak dijalankan, dan roh yang baru keluar dari tubuh anjing memasuki tubuh manusia, begitu lahir ia bisa langsung menyalak-nyalak. Setiap detik ada yang mati, setiap detik ada yang lahir, melangsungkan rotasi roh yang luar biasa, tetapi yang tidak jelas benar sistemnya, dan tidak akan pernah jelas, dan barangkali juga tidak perlu terlalu jelas.

“Beri hormat dulu,” kata Tukang Cerita, sambil memukul-mukul tambur. Maka monyet itu memberi hormat, sama seperti letnan jenderal memberi hormat kepada jenderal. Kemudian mulailah tukang cerita mendongeng, sementara monyet itu memeragakannya.

“Adalah sebuah negeri yang didirikan oleh manusia.”

Demikianlah para penonton menyaksikan monyet itu menirukan manusia. Penonton terpingkalpingkal, anak kecil bersorak, melihat monyet itu membawa payung, membaca buku, dan akhirnya menembakkan senapan.

Waktu ia membawa senapan kulihat matanya menyala -nyala, mulutnya menyeringai dengan kejam, aku tahu siapa dia. Mata yang menyala-nyala itu menatapku dengan tajam. Dia memang jauh lebih tua dariku, karena itu dia mati lebih dulu. Kini dia mengarahkan senapannya kepadaku, dengan mulut menyemburkan api biru, seperti api kompor gas.

“Ibu! Ibu! Bapak itu mau ditembak!”

Seorang anak di bawah umur lima tahun akan mampu melihat api biru yang menyembur itu, tapi mereka tidak tahu dari mana asalnya. Mereka tidak tahu itulah api neraka yang bisa membakar segala-galanya menjadi bencana tak tertahankan.

Kulihat Si Tukang Cerita. Tangan kirinya memegang rantai yang ujungnya mengunci leher monyet, dan tangan kanannya memegang tongkat kecil yang mampu membuat monyet itu menuruti segala perintahnya.

“Si Kliwon maju bertempur ke medan perang,” ujarnya.

Monyet itu menunduk-nunduk, seperti mengintai musuh dari balik semak-semak.

“Si Kliwon menembak!”

Monyet itu memegang senapannya seperti manusia memberondongkan senapan mesin, sementara tongkat tadi kemudian memukul-mukul tambur. Dung-derudung-dung-derudung-dung-derudung ramai sekali suaranya.

Anak-anak di bawah lima tahun melihat semuanya. Orang-orang tidak bersenjata rubuh ke tanah bersimbah darah. Mereka melihat siapa monyet itu dulunya. Mereka melihat orang-orang digiring ke tanah lapang dengan tangan terikat ke belakang, sambung menyambung sepanjang lapangan. Tubuh mereka tersentak-sentak ketika ditembak. Roh mereka masing-masing melejit dan langsung bergabung dalam proses maharotasi, melejit-lejit, melesat-lesat, berkelebat begitu cepat, mendesing-desing seperti mercon sos-dor yang tidak pernah meledak, sebelum akhirnya tahu-tahu lahir kembali dalam ujud seekor katak. Kung-kang, kung-kang, kung-kang, kung-kang, Anak-anak melihatnya, tapi mereka masih di bawah lima tahun. Tidak paham apa maknanya sejumlah orang bersenjata membantai sejumlah orang tidak bersenjata yang sebelum mati berseru:

“Allahu Akbar!”

Monyet itu menyeringai dengan mata iblis merah menyala, dari mulutnya menyembur api biru kompor gas, lantas menandak-nandak sambil memegang senapan di atas kepalanya. Tukang Cerita melanjutkan kata-katanya.

“Syahdan, negara berada dalam keadaan bahaya. Setiap wilayah ingin memisahkan diri. Raja menitahkan agar pemberontak ditumpas. Pasukan tentara diberangkatkan berperang ke pulau seberang. Para serdadu senang mendapat uang tambahan, dan kegemaran membunuh tersalurkan dengan pembenaran. Siapapun yang ditemui disikat tanpa pandang bulu. Siapapun yang tidak dikenal segera ditumpas, karena tidak kenal artinya asing, dan asing artinya berbahaya, dan segala sesuatu yang berbahaya harus dihapuskan.”

Tambur masih terus dipukul. Monyet itu melompat berjumpalitan. Anak kecil tertawa-tawa.

“Setelah puas membinasakan lawan yang tiada berdaya, pasukan tentara bersantai sambil
membicakan tindakan-tindakan ksatria, yakni membunuh dengan membabi buta. Perempuan dan anak-anaknya ditembak pula.”

Monyet itu merebahkan diri, dengan tangan kiri menyangga kepala, seperti seorang raja menikmati hiburan. Kulihat sekeliling. Orang-orang dewasa mengalihkan pandangannya, seperti baru saja dihadapkan kepada kenyataan. Anak-anak masih menonton dengan mulut ternganga. Aku tahu siapa dia, yang bersembunyi di balik tubuh seekor monyet, karena aku telah selalu memburunya dari zaman ke zaman. Tuanku telah memerintahkan aku untuk terus mengawasinya. Namun aku juga bukan makhluk sempurna. Aku terlalu sering lupa untuk membuntutinya. Aku harus mengganggunya terus-menerus agar ia tidak terlalu sering dan tidak terlalu mudah menyebarkan bencana. Aku harus terus mengikutinya, dari ruang ke ruang dari waktu ke waktu, sampai tidak lagi merasa bosan, meski tiada terhitung lagi berapa millennium lamanya aku telah mengikuti dia, yang mata iblisnya suka berpijar sesaat menyala-nyala merah warnanya. Suatu ketika aku kehilangan jejak dan aku kehilangan dia, sekejap saja sebetulnya, tapi itu sudah
100 tahun manusia. Bahkan sampai aku sendiri mati dan lahir kembali berkali-kali. Sekarang tibatiba ia muncul di hadapanku. Menyeringai dengan mata iblis merah menyala dan dari mulutnya menyembur api biru kompor gas.

“Si Kliwon pulang dengan bangga, rasanya puas karena telah membunuh banyak manusia.”

Topeng Monyet selesai. Tukang Cerita itu memerintahkan monyetnya memberi hormat kepada para penonton. Monyet itu memberi hormat seperti seorang letnan jenderal memberi hormat kepada jenderal. Setelah itu mereka pergi. Aku mengikuti mereka. Dari dalam kandang beroda yang diseret, dengan gembok besi yang terkunci, monyet itu memandangku. Tahukah ia siapa dirinya dulu? Kenalkah ia kepadaku?

Dari kampung ke kampung mereka mengembara, dan aku terus-menerus mengikutinya. Tukang Cerita itu melirikku.

“Kamu mau apa?”

Aku diam saja. Ia berjalan lagi. Aku mengikutinya lagi. Masih kuingat tugas Tuanku agar aku jangan sampai kehilangan iblis itu lagi. Tukang Cerita itu tentu tidak mengerti apa-apa tentang monyetnya. Ia sudah 50 tahun, sebagian rambutnya memutih, ditutupi topi tikar pandan yang sudah jebol-jebol pinggirnya. Bajunya lusuh dan warna kainnya sudah berubah. Ia menyeret kandang beroda itu naik dari kampung-kampung di tepi rawa ke kampung-kampung di perbukitan yang menghijau. Di sana mereka berhenti karena sejumlah orang yang sedang duduk-duduk di warung memintanya memainkan lakon Menunggu Godot. Maka Tukang Cerita itupun bercerita tentang orang-orang yang
menunggu Godot di bawah sebuah pohon, tapi sampai cerita berakhir Godot tidak pernah tiba. Monyet itu bermain dengan bagus menirukan manusia-manusia yang menunggu sambil bercakapcakap. Tentu saja percakapan itu dilakukan oleh Si Tukang Cerita.

Cerita itu ternyata lama sekali, tapi akhirnya berakhir juga ketika senja tiba.

“Ya, mari kita pergi.” Tukang Cerita itu mengakhiri, dan monyet itu tidak bergerak.

Orang-orang di warung bertepuk tangan, memberi upah, dan memuji-muji. Salah seorang
melemparkan buah pisang kepada monyet itu, yang segera memakannya setelah mengupas kulitnya terlebih dahulu.

“Pak, monyet itu bisa memainkan lima peran dalam Menunggu Godot, bagaimana melatihnya?”

“Ah, begitu saja, seperti melatih binatang sirkus,” kata Tukang Cerita itu merendah.

Lantas mereka melanjutkan perjalanan. Dalam cahaya senja yang menyapu punggung-punggung bukit kuikuti mereka naik turun jalan setapak, menembus hutan pinus, sampai turun ke sebuah lembah tempat sebuah sungai kecil mengalir. Ketika hari menjadi gelap, kulihat mata monyet itu semakin menyala.

Apa maksud Tuanku memberi tugas seperti ini, mengikuti roh keluar masuk tubuh dari abad ke abad? Apakah jalan hidup bisa ditentukan untuk selalu saling mengikuti seperti itu? Apakah artinya hidupku jika sudah ditentukan bahwa aku akan selalu membuntuti roh dalam tubuh monyet itu sepanjang semesta ini ada? Jika semesta ini merupakan ruang untuk mencuci dan menyucikan kembali roh yang melejit dari tubuh, mengapakah aku harus terus-menerus mengikutinya, dan apakah mungkin mengikutinya jika roh itu hanyalah semacam energi yang menghidupkan tubuh sehingga tidak ada beda antara roh satu dengan yang lain ketika sedang berkelebatan di angkasa raya? Aku tidak mengerti. Kurasa hidup ini memang sebuah misteri. Di langit kulihat sekian banyak roh melesat-lesat seperti mercon sos-dor yang tidak pernah meledak. Monyet itu tak pernah berkedip menatapku dari dalam kandangnya. Apakah ia tahu akulah yang ditugaskan Tuanku
mengikutinya? Apakah ia tahu akulah selama ini yang mengejarnya dan aku sempat kehilangan jejak sampai 100 tahun lamanya sehingga masa itu tercatat dalam kitab-kitab sebagai Abad Kegelapan?

Mereka tidur di tepi kali. Rembulan terang. Tukang Cerita itu mengambil kain sarung dari sebuah kotak di atas kandang beroda, lantas menggulung tubuhnya di atas batu datar yang malam itu menjadi putih kebiru-biruan. Kudengar air kali. Aku senang sekali mengikuti perjalanan mereka.

“Bukankah pada jam seperti ini kamu sudah seharusnya di rumah? Pulanglah, kalau sudah besar nanti kamu boleh mengembara.”

O, Tukang Cerita itu tidak tahu, aku sama sekali tidak ingin mengembara. Aku harus mengawasi roh dalam tubuh monyet itu, yang mata iblis merahnya menyala-nyala, agar ia tidak membunuh manusia seenak perutnya seperti selalu diperagakannya. Tapi tentu saja Tukang Cerita itu tidak akan mengerti, karena ia sudah 50 tahun. Sedangkan aku, baru seminggu lagi mencapai usia 5 tahun. Setelah itu, aku akan lupa dari mana aku berasal dan ke mana aku setelah mati – yang semacam itu hanya bisa kukira-kira saja.

Sudah pasti aku tertidur. Lewat tengah malam, Tukang Cerita itu membangunkan aku.

“Monyet itu hilang,” katanya dengan gugup.

Kulihat kandangnya. Gemboknya masih terkunci. ***

   

Pondok Aren, Selasa 8 Januari 2002
   

   

Suara Pembaruan – 2/10/2002

Rembulan dalam Cappuccino

Rembulan dalam Cappuccino

 

SEMINGGU setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe,
dan memesan Rembulan dalam Cappuccino. Ia datang bersama senja, dan
ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya.

CAPPUCCINO1 dalam lautan berwarna coklat, datang langsung dari
tercemplung cangkir, tenggelam sebentar, tapi lantas pingpong-tapi
bukan bola pingpong, ini rembulan. Semua orang berada dalam kafe diam-
diam melangkah keluar, menengok ke langit, ingin membuktikan dengan
mata kepala sendiri bahwa terapung-apung cangkir perempuan
sebenarnya, seperti telah pelajari semenjak di sekolah dasar, yakni
yang tiada pernah mereka saksikan sisi gelapnya, dan rembulan itu
memang sudah tidak ada.

Mereka bergumam, tapi tidak menjadi gempar, bahkan pura-pura seperti
tidak terpengaruh sama sekali. Mereka kembali duduk, berbincang
dengan bahasa yang beradab, namun diam-diam melirik, seperti
kepalsuan yang telah biasa mereka peragakan selama ini. Para pelayan
yang berbaju putih lengan panjang, mengenakan rompi, berdasi kupu-
kupu, dan rambutnya tersisir rapi diam-diam juga memperhatikan.
Semenjak kafe itu berdiri sepuluh tahun lalu, baru kali ini ada yang
memesan Rembulan dalam Cappuccino. Kafe itu memang menyediakannya,
dan minuman itu memang hanya bisa dipesan satu kali, karena rembulan
memang hanya satu.

“Rembulan dalam Cappuccino, satu!” Teriak pelayan ke dapur, dan
kepala bagian dapur memijit-mijit nomor hp, seolah-olah ada persiapan
khusus.

“Akhirnya tiba juga pesanan ini,” katanya, “aku sudah bosan
melihatnya di daftar menu tanpa pernah ada yang pesan.”

Kepala dapur itu bicara dengan entah siapa melalui hp.

“Iyalah, turunin aja, sudah tidak ada lagi yang membutuhkan rembulan.”

Perempuan itu bukan tidak tahu kalau orang-orang memperhatikannya.
Apakah perempuan itu akan memakan rembulan itu, menyendoknya sedikit
demi sedikit seperti menyendok es krim, ataukah akan menelannya
begitu saja seperti Dewa Waktu menelan matahari?

Ia memperhatikan rembulan yang terapung-apung di cangkirnya,
permukaan cappuccino masih dipenuhi busa putih, seperti pemandangan
Kutub Utara-tapi cappuccino itu panas, bagaikan masih mendidih. Ia
senang dengan penampakan itu, dingin tapi panas, panas tapi dingin,
segala sesuatu tidak selalu seperti tampaknya.

SEMINGGU kemudian, seorang lelaki memasuki kafe itu, dan memesan
minuman yang sama.

“Rembulan dalam Cappuccino,” katanya.

Para pelayan saling berpandangan.

“Oh, minuman itu sudah tidak lagi ada Tuan, seorang perempuan telah
memesannya minggu lalu.”

Lelaki itu terpana.

“Apakah Tuan tidak memperhatikan, sudah tidak ada rembulan lagi dalam
seminggu ini?”

Lelaki itu tersentak.

“Seorang perempuan? Istri saya? Eh, maaf, bekas istri saya?”

Para pelayan saling berpandangan. Salah seorang pelayan menjelaskan
ciri-ciri perempuan yang telah memesan Rembulan dalam Cappuccino itu.

“Ah, pasti dia! Dasar! Apa sih yang tidak ingin ditelannya dari dunia
ini? Apakah dia makan rembulan itu?”

Para pelayan saling berpandangan lagi.

“Tidak Tuan…”

“Jadi?”

“Kalau memang perempuan itu istri Tuan…”

“Bekas….”

“Maaf, bekas istri Tuan, mungkin Tuan masih bisa mendapatkan rembulan
itu.”

“Maksudmu?”

“Dia tidak memakannya Tuan, dia minta rembulan itu dibungkus.”

“Dibungkus?”

“Ya Tuan, ia tidak menyentuhnya sama sekali, hanya memandanginya saja
berjam-jam.”

Para pelayan di kafe itu teringat, betapa perempuan itu mengaduk-aduk
Rembulan dalam Cappuccino, bahkan menyeruput cappuccino itu sedikit-
sedikit, tapi tidak menyentuh rembulan itu sama sekali. Perempuan itu
hanya memandanginya saja berlama-lama, sambil sesekali mengusap air
mata.

Mereka ingat, perempuan itu masih di sana dengan air mata bercucuran,
dan masih tetap di sana, kebetulan di tempat sekarang lelaki itu
duduk, sampai tamu-tamu di kafe itu habis menjelang dini hari.

Kemudian dia meminta rembulan itu dibungkus. Ketika dibungkus,
rembulan sebesar bola pingpong yang semula terapung-apung di dalam
cangkir itu berubah menjadi sebesar bola basket.

Itulah sebabnya kepala dapur meminta agar pencoretan Rembulan dalam
Cappuccino dari daftar menu ditunda.

“Rembulan itu belum hilang,” katanya, “siapa tahu perempuan itu
mengembalikannya.”

Lelaki itu memandang pelayan yang berkisah dengan seru. Ia baru sadar
semua orang memandang ke arahnya. Ketika ia menoleh, tamu-tamu lain
itu segera berpura-pura tidak peduli, padahal penasaran sekali.

“Kalau dia muncul lagi, tolong katakan saya juga mau rembulan itu.”

“Ya Tuan.”

Lelaki itu melangkah pergi, tapi sempat berbalik sebentar.

“Dan tolong jangan panggil saya Tuan,” katanya, “seperti main drama
saja.”

Padahal ia sangat menikmati perlakuan itu-seperti yang dilakukan
bekas istrinya sebelum mereka berpisah.

TIADA rembulan di langit. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi
betapa tiada lagi rembulan di langit malam. Namun di kota cahaya,
siapakah yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak?

“Yang masih peduli hanyalah orang- orang romantis,” kata perempuan
itu kepada dirinya sendiri.

“Atau pura-pura romantis,” katanya lagi.

Dia berada di suatu tempat tanpa cahaya, kelam, begitu kelam, seperti
ditenggelamkan malam, sehingga bintang-bintang yang bertaburan tampak
jelas, terlalu jelas, seperti peta dengan nama-nama kota. Perempuan
itu belum lupa, apalah artinya nasib satu manusia di tengah semesta,
nasib yang sebetulnya jamak pula dialami siapa pun jua di muka bumi
yang sebesar merica.

Namun, ia merasa bagaikan kiamat sudah tiba. Agak malu juga
sebetulnya.

Banyak orang lain harus hidup dengan gambaran bagaimana ayahnya
diambil dari rumahnya di tengah malam buta. Digelandang dan diarak
sepanjang kota sebelum akhirnya disabet lehernya dengan celurit
sehingga kepalanya menggelinding di jalanan dan darahnya menyembur ke
atas seperti air mancur deras sekali sampai menciprati orang-orang
yang mengaraknya itu. Tidak sedikit orang yang hidup dengan kutukan
betapa ibunya telah menjadi setan jalang yang memotong-motong alat
kelamin lelaki sambil menyanyi dan menari, dan karena itu berhak
disiksa dan diperkosa, padahal semua itu merupakan kebohongan
terbesar di muka bumi. Hidup ini bisa begitu buruk bagi orang baik-
baik meskipuntidak mempunyaikesalahan samasekali. Tanpa pembelaan
sama sekali.2 Tanpa pembelaan. Tanpa…

Langit malam tanpa rembulan. Ada yang terasa hilang memang. Tapi
selebihnya baik-baik saja. Tentu kini hanya bisa dibayangkannya
bagaimana rembulan itu seperti perahu yang membawa kelinci pada malam
hari dan mendarat di Pulau Jawa. Namun, tidakkah manusia lebih banyak
hidup dalam kepalanya daripada dalam dunia di luar batok kepalanya
itu? Apabila dunia kiamat, dan tidak ada sesuatu lagi kecuali dirinya
sendiri entah di mana, ia bahkan masih memiliki sebuah dunia di dalam
kepalanya. Tanpa rembulan di langit ia bisa melihat rembulan seperti
perahu membawa kelinci yang mendarat di Pulau Jawa.3

Rembulan itu berada di punggungnya sekarang, terbungkus dan tersimpan
dalam ransel-apakah ia berikan saja kepada bekas suaminya, yang
diketahuinya selalu bercita-cita memesan Rembulan dalam Cappuccino?
Kalau mau kan banyak cappuccino instant di lemari dapur (ia lebih
tahu tempat itu daripada suaminya) dan meski rembulan di punggungnya
sekarang sebesar bola basket, nanti kalau mau dimasukkan cangkir akan
menyesuaikan diri menjadi sebesar bola pingpong. Dia dan bekas
suaminya sebetulnya sama-sama tahu betul hukum rembulan itu, tapi itu
cerita masa lalu- sekarang ia berada di sebuah jembatan dan sedang
berpikir, apakah akan dibuangnya saja rembulan itu ke sungai, seperti
membuang suatu masalah agar pergi menjauh selamanya dan tidak pernah
kembali? Setiap orang mempunyai peluang bernasib malang, kenapa
dirinya harus menjadi perkecualian? Ia seperti sedang mencurigai
dirinya sendiri, jangan-jangan ia hanya mewajibkan dirinya berduka,
karena selayaknyalah seorang istri yang diceraikan dengan semena-mena
merasa terbuang, padahal perpisahan itu membuat peluangnya untuk
bahagia terbuka seluas semesta…

Dalam kegelapan tanpa rembulan, perempuan itu tidak bisa melihat
senyuman maupun air matanya sendiri di permukaan sungai yang mengalir
perlahan- dan ia tak tahu apakah masih harus mengutip Pablo Neruda.

Tonight I can write the saddest lines….

TIGA minggu kemudian, pada hari hujan yang pertama musim ini,
perempuan itu muncul lagi di kafe tersebut.

“Saya kembalikan rembulan ini, bisa diganti soto Betawi?”

Itulah masalahnya.

“Tidak bisa Puan, kami tidak punya soto Betawi, ini kan restoran
Itali?4

Nah!

Pondok Aren,

Minggu 31 Agustus 2003. 07:40.
1. Kopi tradisional Italia, biasanya untuk sarapan-kopi espresso yang
dibubuhi susu panas dan buih, sering juga ditaburi cokelat, dalam
seduhan air panas 80 derajat celsius, dihidangkan dengan cangkir.
(Sumber: dari bungkus gula non- kalori Equal).

2. Tentang penyiksaan sesama manusia Indonesia, bisa dilacak dalam
sejumlah dokumen, antara lain, Pipit Rochijat, “Am I PKI or Non PKI?”
dalam Indonesia edisi 40 (Oktober 1985); A Latief, Pleidoi Kol. A.
Latief: Soeharto Terlibat G 30 S (2000); Sulami, Perempuan-Kebenaran
dan Penjara (1999); Sudjinah, Terempas Gelombang Pasang (2003), dan
tentu saja Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Tunggal Seorang Bisu (1995).

3. Dari Sumanasantaka (sekitar 1204) karya Mpu Monaguna: “sang hyang
candra bangun bahitra dateng ing kulem amawa sasa mareng jawa.”
Tentang segi astronomi bait ini, apakah itu bulan sabit di cakrawala
sehingga bentuknya seperti perahu, ataukah bulan purnama, yang
memungkinkan gambaran seekor kelinci, baca PJ Zoetmulder, Kalangwan:
Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983), terjemahan Dick Hartoko,
h238.

4. Puedo escribir los versos mas triste esta noches-dari “Puedo
Escribir” (“Tonight I Can Write”) dalam Pablo Neruda (1904-1973), 20
Puemas de amor y una Cancion desesperada (Twenty Love Poems and a
Song of Despair), 1924, terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh WS
Merwin, terbit pertama kali tahun 1969.

Joko Swiwi

“CERITAKAN kepada kami tentang perbedaan,” kata murid-murid sekolah
dasar itu kepada Ibu Guru Tati, kelak di masa yang akan datang.

Maka Ibu Guru Tati akan menceritakan legenda Joko Swiwi.
Ketika Joko Swiwi lahir, Poniyem merasa dirinya melahirkan seekor
ayam, karena bayi yang keluar dari rahimnya terbungkus sepenuhnya
oleh sepasang sayap yang basah. Dukun bayinya saja hampir pingsan
melihat bayi seperti itu.

Ketika sayap itu membuka dengan sendirinya, barulah tampak kepala
bayi yang akan bernama Joko Swiwi itu. Matanya sudah melek dengan
jernih, dan ia langsung tertawa terkekeh-kekeh, seperti bercanda
kepada mereka yang terkaget-kaget.

“He-he-he-he-he….”

Poniyem sebetulnya juga nyaris pingsan, karena ia semula mengira
Dirinya betul-betul melahirkan seekor ayam, tetapi pandangan mata
bayi itu kepadanya adalah pandangan mata seorang anak kepada ibunya.
Poniyem segera merasakan tali batin hubungan ibu dan anak, tali
batin ajaib yang berlaku bagi ibu dan anak mana pun, bagaimanapun
bentuk rupa ibu dan anak itu, sehingga ketika dukun bayi itu
mendekatkan bayi bersayap tersebut ia pun segera merengkuh dan
menyusuinya.

Di luar ruangan, orangtua Poniyem melihat Ibu Dukun itu menyibak
gorden dan termangu-mangu di pintu.

“Cucu sampean itu Joko Swiwi, Lik.”
“Ha?”
“Iya, Joko Swiwi, mana mungkin bayi seperti itu mau sampean beri
nama Bambang Wicaksono.”

JOKO Swiwi memang tidak punya bapak, atau lebih tepat tidak jelas
bapaknya. Ketika Poniyem pulang dari luar negeri, ia sudah
mengandung tujuh bulan. Entah kenapa semua orang di desanya maklum-
maklum saja dan dengan gerak cepat segera mendapatkan seorang suami
bagi Poniyem. Tidak penting benar apakah pemuda berusia 30 tahun itu
sering meneteskan air liur tanpa sebab dan sama sekali tidak cocok
dengan Poniyem yang cantik jelita indah rupawan bahenol nian. Bagi
penduduk desa cara seperti itu sungguh cara yang tidak bisa lebih
sahih lagi untuk menghapuskan sesuatu yang bisa dianggap sebagai
aib.

Tidak peduli apakah pemuda 30 tahun yang setiap hari mengarit dengan
air liur menetes-netes dan menyediakan rumput untuk sapi-sapi
penduduk itu juga tak punya nama dan tiada pernah jelas asal-usulnya.
“Pokoknya yang tidak jelas dijelaskan, yang tidak mapan dimapankan,”
ujar Pak Lurah.

Orangtua Poniyem hanya bisa setuju-setuju saja, kecuali kalau mereka
pindah dari desa dan hal itu tentu tidak mungkin, karena menginjak
tanah di luar desanya saja mereka belum pernah. Maka sejak itu
pemuda tanpa nama yang selalu menetes-neteskan air liur itu bernama
Bapaknya Joko Swiwi, dan Joko Swiwi menjadi nama resmi bayi bersayap
tersebut. Setelah berusia enam tahun ia bersekolah seperti anak-
anak desa lain dan terdaftar dengan nama Joko Swiwi.

Hanya saja kalau anak-anak desa harus berjalan kaki naik turun
perbukitan kapur untuk belajar matematika, Joko Swiwi terbang
langsung dari rumahnya dan kadang-kadang masuk kelas lewat jendela.
Usaha orangtua Poniyem untuk mendapat penjelasan dari anaknya selalu
gagal.

“Nduk anakku yang cantik, sebetulnya di luar negeri kamu itu
berhubungan dengan siapa kok anakmu bisa bersayap seperti itu?”
Poniyem biasanya hanya tertunduk, tetapi di balik rambutnya yang
panjang terurai menutupi wajah itu ia tersenyum-senyum.
Bagaimana mungkin ia menjelaskan apa yang dialaminya dalam mimpi
kepada orangtuanya? Bagaimana mungkin ia menjelaskan betapa malam-
malamnya yang lelah sehabis bekerja berat 20 jam sehari selalu
memberikannya mimpi yang bersambung setiap hari?

Itulah mimpi tentang makhluk-makhluk bersayap dan bercahaya putih
kemilau yang selalu mendatangi dan bercinta dengannya dan ia
melayani mereka habis-habisan dengan segala kemungkinan yang bisa
diberikan oleh imajinasi. Makhluk-makhluk bersayap itu adalah para
pecinta yang dahsyat. Meski cuma mimpi, ketika terbangun kasur busa
tempatnya tidur di lantai selalu basah kuyup. Ketika mengetahui
dirinya hamil, Poniyem memang agak bingung, tetapi ia sungguh-
sungguh senang karena yang selama ini dianggapnya mimpi ternyata
memberikannya bayi.

“Terima kasih Tuhan,” katanya dalam hati, “terima kasih atas
keajaiban ini.”

Kini anaknya bisa terbang dan masuk kelas lewat jendela, ia bangga
mempunyai anak Joko Swiwi.
KELAHIRAN Joko Swiwi memang memberi berkah kepada penduduk desa.
Kabar tentang kelahiran Joko Swiwi yang tersebar ke mana-mana
membuat penduduk desa-desa sekitar berdatangan ingin melihatnya.
Dari hari ke hari mereka yang berdatangan bukannya tambah sedikit,
melainkan berlipat ganda sampai berdesak-desak berbau keringat. Pak
Lurah dengan tangkas segera menyiasati keadaan.

Setiap orang yang memasuki gerbang desa diharuskan membayar, kalau
membawa kendaraan dan parkir sudah pasti akan ditagih lagi, tidak
peduli apakah itu mobil, sepeda motor, atau cuma sepeda. Bayaran
paling wajib tentu untuk setiap kepala bermata yang ingin
menyaksikan Joko Swiwi dengan mata kepala sendiri. Bahkan orang buta
yang hanya mampu meraba-raba saja ditagih bayaran pula. Memotret
tentu ditagih bayaran tambahan, ongkos memotret Joko Swiwi saja dan
foto bersama dibedakan. Kalau Poniyem ikut dipotret ditarik lagi
ongkos tambahan.

Sebegitu jauh, tiada seorang pun peduli kepada Bapaknya Joko Swiwi,
karena memang tiada seorang pun yang tahu betapa pemuda yang selalu
menetes-neteskan air liur dan tak jelas tinggal di mana itu (di
kuburan, kata sebagian orang) jika malam tiba akan berubah menjadi
makhluk bersayap yang putih kemilau gilang gemilang cahaya kencana
memasuki mimpi-mimpi Poniyem.

Joko Swiwi sendiri memang layak jadi atraksi. Pada usia balita ia
sudah bisa terbang setinggi pohon beringin. Tentu saja selain punya
sayap ia juga punya tangan dan karena itu bisa membantu ibunya
memetik buah ini-itu, buah kelapa misalnya, karena Bapaknya Joko
Swiwi yang masih terus menetes-neteskan air liur itu rupa-rupanya
memilih untuk pura-pura tidak mampu melakukannya–ia menjadi hebat
hanya apabila malam tiba dan menyatroni Poniyem dalam mimpi sebagai
makhluk bersayap yang putih kemilau gilang gemilang cahaya kencana.

Adalah Joko Swiwi yang sejak usia balita sudah terbang berkelebat ke
sana kemari. Sayapnya yang besar akan terdengar mengepak ceblak-
cebluk di atas rumah-rumah penduduk, benar-benar seperti burung
besar, yang lama-lama memang tambah dewasa tampan seni rupawan.

Setiap kali berangkat sekolah, Poniyem selalu saja berpesan:
“Hati-hati di jalan Nak, jangan sampai ketabrak helikopter.”

Semakin dewasa kemampuan terbangnya memang semakin bertambah tinggi.
Para pilot helikopter suka terkaget-kaget jika Joko Swiwi kebetulan
melintas berkelebat di depannya.
“Busyet! Burung apa itu?”
“Oh, bukan burung kok, itu Joko Swiwi!”
“Oh….”

Bukan hanya tinggi dan cepat terbangnya Joko Swiwi, tapi juga indah
dan penuh pesona. Kadang kala apabila Poniyem melihat ke langit,
dilihatnya Joko Swiwi seperti merayakan angkasa. Sayapnya yang
begitu besar membuat ia bisa terbang begitu laju hanya dalam
beberapa kepakan sahaja dan selebihnya ia tinggal meluncur dengan
sayap terbentang seperti burung elang.

Para peladang ketela suka menghentikan sejenak pekerjaan
mencangkulnya, beristirahat sambil menikmati Joko Swiwi yang terbang
berputar-putar dalam tarian angkasa. Gadis-gadis desa yang mandi di
kali kecil pura-pura berteriak marah tapi senang juga menatap dan
ditatap Joko Swiwi.

“Joko Swiwiiiiiiiiiiii!” teriak mereka ramai-ramai.

Mereka itulah yang suka mengumpulkan bulu-bulu Joko Swiwi yang
rontok.

Di bawah sudah ramai mereka menantikan bulu-bulu putih yang melayang
jatuh dari angkasa itu, berebutan menangkapnya, karena bulu-bulu
sayap Joko Swiwi memang cendera mata yang indah. Sepertinya putih,
tetapi kalau digerakkan bolak-balik dalam cahaya matahari, akan
membiaskan cahaya segala macam warna.

Itu pula yang terjadi jika Joko Swiwi mengepakkan sayap di angkasa,
bulu-bulu sayapnya membiaskan segenap warna di dunia yang bisa
tercerap oleh mata.

“Joko Swiwiiiiiiiiiiii! Sini dong mandi bersama kami!”

Namun Joko Swiwi adalah pemuda yang sopan, ia bukan tukang intip,
bukan pula lelaki yang kurang ajar. Maka ia tidak akan terbang
merendah untuk melihat-lihat perempuan mandi, melainkan akan terbang
meninggi, makin tinggi, dan makin tinggi. Semakin naik dan semakin
menyepi dari dunia ramai yang terkasih. Dalam kesunyian langit
itulah Joko Swiwi merenungkan dirinya yang bersayap, yang menjadi
tontonan, yang selalu dibicarakan dan dimanfaatkan.

Pernah ia membawa Poniyem ibunya terbang sambil membopongnya dan
dalam kesunyian langit ia bertanya.

“Ibu, Ibu, siapakah bapakku yang sebenarnya Ibu, sehingga aku
menjadi bersayap begini?”

Sangatlah wajar jika Joko Swiwi hanya bisa memaklumi, betapa lelaki
yang selalu mengarit dan dipanggil Bapaknya Joko Swiwi itu bukanlah
ayahnya sama sekali.

“Seorang lelaki bersayap tak akan berayahkan lelaki yang selalu
menetes-neteskan air liur,” pikirnya.

Namun susahlah bagi Poniyem memberitahukan bahwa lelaki yang
menetes-neteskan air liur itu setiap malam menjelma sebagai pecinta
bersayap yang putih kemilau dalam mimpinya–tetapi Poniyem tetap
bercerita bahwa ayah Joko Swiwi memang adalah makhluk-makhluk
bersayap yang putih kemilau celang cemerlang gilang gemilang cahaya
kencana yang menggaulinya dalam mimpi-mimpi ketika menjadi TKI di
luar negeri.

“Jadi bapakku banyak?”

“Mungkin yang satu itu banyak dan yang banyak itu satu,
apalah bedanya? Segenap dunia dengan kita di dalamnya juga cuma
satu.”

Joko Swiwi memahami keterasingan ibunya, dan Joko Swiwi kini
menghayati keterasingannya sendiri.

ALKISAH, di luar desa mereka berlangsung bencana. Mula-mula satu,
lantas dua, disusul empat puluh, berlipat empat ratus, menjadi empat
ribu, menjelma empat juta unggas mati berkaparan. Segala makhluk
bersayap entah kenapa tewas di mana-mana. Ada yang sekadar tidak
pernah bangun dari tidur, ada yang mendadak saja sekarat seperti
habis disembelih, tak jarang tiba-tiba jatuh ketika terbang. Bagi
orang miskin, unggas penyakitan ini kadang-kadang tetap saja
dipanggang dan dibakar.

Wabah telah melanda dunia burung, termasuk di desa-desa sekitar desa
tempat kelahiran Joko Swiwi. Masalahnya, para penghuni perbukitan
kapur yang tidak pernah menonton televisi karena gambarnya selalu
bergoyang-goyang dan suaranya cuma kresak-kresek ini tidak tahu apa-
apa tentang wabah yang menyapu bumi. Yang mereka tahu hanyalah ayam
bebek mentok piaraan mereka mati semua untuk selama-lamanya, tapi
tidak begitu dengan unggas di desa tempat Joko Swiwi dilahirkan.

Pak Lurah dipanggil oleh Pak Camat dan di sana ia dikepung oleh
lurah-lurah desa di sekitarnya.

“Pak Lurah, makhluk bersayap ajaib di desa sampean itulah pembawa
kutukan ini, kita belum pernah mengalami wabah seperti ini sebelum
kedatangan makhluk yang dinamakan Joko Swiwi itu.”

“Kalau memang begitu, kenapa harus menunggu 18 tahun, kenapa tidak
dari dulu-dulu ketika Joko Swiwi dilahirkan maka wabah ini melanda?”

“Apakah bedanya? Pokoknya wabah ini ada setelah Joko Swiwi ada,
wabah ini membunuh makhluk-makhluk bersayap dan Joko Swiwi adalah
makhluk bersayap. Ia suka terbang ceblak-cebluk ke sana kemari.
Barangkali saat itulah ia menyebar penyakit ke mana-mana.”

“Nanti dulu, dia bukan burung saya rasa, dia manusia, sama seperti
kita, bedanya cuma dia bersayap sahaja. Dia baru saja lulus SMU dan
jelas lebih pintar dari ayam-ayam kita. Barangkali sebentar lagi
ikut mendaftar ke perguruan tinggi di kota. Penduduk desa kita
selama ini hidup seperti katak dalam tempurung, Joko Swiwi bisa
terbang ke mana-mana dan membagi pengetahuan untuk kita, apakah
sampean-sampean akan membunuhnya?”

“Apakah ada cara lain? Kalau ia tetap hidup, ia akan tetap
menyebarkan penyakit!”

“Tapi keberadaan Joko Swiwi belum terbukti menjadi penyebab wabah
ini. Sampean-sampean jangan main hakim sendiri!”

“Pak Lurah, peternakan kami hancur karena wabah ini, padahal seluruh
penduduk bergantung kepada peternakan itu. Tanah kita terlalu tandus
untuk membuat sawah, penjualan panen ketela tergantung kepada para
tengkulak, dan para tengkulak belum mampu mengubah penduduk bumi
menjadi penggemar gaplek. Peternakan ayam bebek mentok selama ini
telah membantu kita. Apakah Pak Lurah mengira kami akan berpangku
tangan sahaja? Apakah Pak Lurah tidak tahu kalau wabah ini tidak
hanya membunuh unggas tetapi juga manusia? Mereka mati seperti ayam
disembelih! Kalaupun Joko Swiwi bukan penyebabnya, ia sungguh
pantas menjadi tumbal!”

Pak Lurah memandang Pak Camat yang ternyata cuma bisa mengangkat
bahu. Pak Lurah tahu, urusan Pak Camat hanyalah supaya ia bisa
terpilih lagi pada musim pemilihan mendatang dan kedudukannya
sangatlah ditentukan oleh para lurah desa di dalam kecamatannya. Pak
Lurah juga mengerti, penduduk desa-desa tetangga sudah lama iri
dengan keberuntungan desanya semenjak kelahiran Joko Swiwi yang
mendatangkan berkah. Semua rumah penduduk di desa tempat tinggal
Joko Swiwi kini berlantai tegel, sementara rumah penduduk desa-desa
lain, kecuali para pemilik peternakan, masih tidak berlantai dan
hanya beralaskan tanah yang menyebabkan paru-paru basah.

“Sampean cuma satu orang Pak Lurah, sampean kalah suara. Itulah
demokrasi.”

Pak Lurah tertunduk, air matanya titik–kali ini ia tidak peduli
dengan kedudukannya.

KENTONG titir tanda bahaya terdengar di seluruh desa. Para penduduk
berlari ke berbagai gardu penjagaan yang selama ini menganggur
karena memang tiada pernah terdapat bahaya mengancam desa dalam
seratus tahun terakhir. Namun kini mereka mengalami ancaman yang
sungguh tiada terduga, itulah kepungan penduduk desa-desa tetangga
mereka sendiri.

“Serahkan Joko Swiwi, atau kami bakar desa kalian!”

Penduduk desa mungkin tidak tahu apa-apa, tetapi dalam urusan harga
diri adat mereka memberi pelajaran harus dibela, kalau perlu sampai
mengorbankan nyawa.

Bambu runcing segera berada di tangan mereka. Tua muda laki
perempuan anak kecil tak luput bersiap siaga.

“Mana musuh kita,” kata mereka dengan bangga, “suruh mereka kemari,
biar kusudet ususnya!”

Desa mereka dikitari bukit kapur, mereka berjaga di tempat yang
tertinggi. Bongkah-bongkah batu besar telah siap digelindingkan.
Para pengepung memang jauh lebih banyak, tetapi mereka tak akan
mendapat kemenangan tanpa korban ratusan nyawa. Segenap penduduk
telah siap mengadu jiwa atas nama kemerdekaan mereka.

Di hadapan Poniyem ibunya yang bermuram durja, Joko Swiwi
menundukkan muka.

“Biarlah aku menyerahkan diriku wahai Ibu, tidaklah perlu penduduk
desa habis terbunuh karena aku.”

“Tapi dirimu bukanlah penyebab wabah itu anakku, kalau dirimu
penyebab wabah itu, pasti dirimu sendiri sudah mati. Entah dari mana
asal penyakit itu, tapi pasti datangnya bukan dari kamu. Para lurah
itu hanya mencari-cari alasan saja untuk membasmi kita, tidak pernah
bisa mereka terima betapa desa yang dulunya paling miskin telah
menjadi desa yang paling kaya di perbukitan kapur ini. Betapa dengki
dan iri hati bisa menjadi parah begini.”

“Biarlah kuserahkan diriku Ibu, nyawaku tidaklah terlalu berharga
dibanding kehidupan desa yang kusayangi ini, aku tidak ingin melihat
desa ini kosong dan hanya berisi mayat bergelimpangan di sana-sini.”

“Itu tidak mungkin terjadi wahai Joko Swiwi anakku, sebelum mereka
melangkahi mayatku!”

Poniyem lantas mengambil sebatang bambu runcing dan keluar rumah
dengan gagah. Tubuhnya tinggi seperti Ratih Sanggarwati, dan ia
putar bambu runcing itu seperti Sun Go Kong memutar toya, sampai
sepuluh orang bisa bergelimpangan seketika.

Joko Swiwi juga keluar rumah dan mengepakkan sayap ke angkasa. Dapat
disaksikannya di antara para pengepung itu terdapat sejumlah pemburu
yang membawa senapan, seperti siap menembak Joko Swiwi jika berniat
lari terbang ke angkasa. Mungkinkah terbayangkan betapa Joko Swiwi
tertembak di udara dan bulu-bulu sayapnya rontok berhamburan di
udara? Mungkinkah terbayangkan peluru-peluru akan berdesingan di
sekitarnya dan beberapa di antaranya akan bersarang di tubuhnya,
membuatnya meneteskan darah, dan jatuh melayang dari angkasa? Memang
bisa saja ia lolos dari segala kepungan itu dan terbang melarikan
diri jauh-jauh sampai ke Singapura, tetapi apalah yang akan
dilakukannya di sana?

Minta suaka terlalu rumit baginya, sedangkan Jakarta tidaklah
memberi harapan meski sekadar hanya untuk bertanya, karena bahkan
burung-burung langka yang dilindungi negara dan dunia tewas pula di
sana. Dirinya memang manusia, namun tetap saja makhluk bersayap
adanya, sedangkan manusia dan makhluk bersayap adalah sasaran wabah
yang tiada pernah dikenalnya pula.Dari angkasa ia menyaksikan
segalanya. Dengan sedih dilihatnya penduduk desa yang sederhana siap
mengadu jiwa dan kehilangan nyawa. Mungkin memang bukan karena
membela Joko Swiwi sebenarnya, lebih karena membela desa yang siap
ditindas kekuatan di luarnya, tetapi Joko Swiwi merasa dirinyalah
tetap menjadi penyebab utama. Adalah kelahirannya di dunia dalam
wujud berbeda menjadi penyebab segalanya.

“Mengapa perbedaan harus dipaksakan, jika persamaan masih
dimungkinkan,” pikirnya pula.

Ketika uang mereka sudah terkumpul cukup banyak, karena Joko Swiwi
memang adalah tontonan yang dahsyat, terpikir olehnya untuk pergi ke
kota dan membedah lepas sepasang sayapnya yang sangat besar itu.
Namun bukan saja penduduk desa keberatan, tentu karena sumber
penghasilan akan menghilang, melainkan juga Joko Swiwi tak terlalu
suka mengubah kodrat keberadaan dirinya meski melakukannya bukanlah
suatu dosa.

Desa mereka begitu terpencil karena dunia mereka yang berkapur
menjauhkan mereka dari peradaban. Dunia mereka hanyalah dunia putih
kapur, debu-debu kapur yang mengakibatkan wajah-wajah berkapur
seperti selalu berpupur.

Orang-orang kota menganggap mereka sebagai makhluk-makhluk ajaib
yang seluruh tubuhnya putih seperti kapur. Keberadaan Joko Swiwi
hanya menjadi pengetahuan orang-orang desa.

Orang-orang kota yang pernah mendengarnya hanya manggut-manggut
dengan sopan karena mengiranya sebagai takhayul. Hanya para pilot
helikopter yang pernah menyaksikan Joko Swiwi terbang berkelebat ke
sana kemari, tetapi para pilot ini cukup berbaik hati untuk tidak
memberi tahu para wartawan–apalagi wartawan infotaintment.

“Serahkan segera Joko Swiwi sekarang juga,” terdengar teriakan
penduduk desa tetangga, “atau kami bakar habis desa kalian sampai
habis rata tanpa sisa.”

Jagabaya desanya maju ke muka. “Majulah kalian sekarang juga, jangan
terlalu banyak bicara, tak ada seorang pun akan diserahkan karena
rudapaksa.”

Suasana tegang. Joko Swiwi sangat bimbang. Dari langit dilihatnya
lingkaran ribuan penduduk lima desa bergerak maju. Bagaimana mungkin
ia pergi terbang meninggalkan desanya? Bagaimana mungkin ia bisa
menerima desanya akan menjadi bara merah yang menyala-nyala? Sebagai
orang desa Joko Swiwi mengerti benar akan bakat kekerasan paling
kejam yang tertanam dalam diri orang-orang desa. Pencuri mati
dirajam, pezina diarak telanjang, dan perang antardesa adalah
pertumpahan darah purba yang sangat mengerikan.

“Seberapa pentingkah seorang Joko Swiwi, seorang manusia yang
kebetulan lahir bersayap, sehingga keberbedaannya harus dibela dan
dipertahankan?”

Joko Swiwi yang remaja masih berpikir keras. Namun akhirnya ia
mengambil keputusan.

SUNGAI Air Mata masih mengalir dari dua sumber mata air yang
istimewa. Sumber mata air pertama adalah kedua mata pada patung
Poniyem yang terus-menerus mengeluarkan air mata. Begitu banyak dan
begitu terus-menerus air mata duka Poniyem itu mengalir sehingga
menganak sungai dan betul-betul membentuk aliran sebuah anak sungai.

Sumber mata air kedua adalah sudut kanan mulut pada patung Bapaknya
Joko Swiwi yang terus menerus mengeluarkan air liur. Begitu banyak
dan begitu terus-menerus air liur ketidaksadaran Bapaknya Joko Swiwi
itu mengalir sehingga menganak sungai dan betul-betul membentuk
aliran sebuah anak sungai.

Kedua patung itu terletak di atas bukit kapur yang tandus dan
gersang, di kaki bukit kedua anak sungai itu bertemu, membentuk
sungai yang kemudian disebut Sungai Air Mata. Patung Poniyem yang
mengenakan kain dan kebaya bersimpuh dengan kedua tangan di tanah
menahan tubuh, sementara kepalanya yang tertunduk agak miring ke
kanan, sehingga rambutnya yang panjang ikal mayang jatuh terurai
sampai menutupi dada kanan. Patung Bapaknya Joko Swiwi yang
mengenakan baju dekil dan celana pendek sobek-sobek berjongkok dan
memegang arit seperti dalam kehidupannya sehari-hari, kepalanya yang
berwajah bodoh juga agak miring ke kanan sehingga air liurnya keluar
dari sudut kanan bibirnya yang selalu terbuka. Sungai Air Mata telah
memungkinkan penduduk desa perbukitan kapur itu mengubah ladang
ketela mereka menjadi sawah yang subur.

Berabad-abad kemudian kedua patung itu disebut sebagai patung Dewi
Air Mata dan patung Dewa Air Liur. Kedua patung itu begitu mirip
dengan manusia karena tidak berasal dari batu yang dipahat melainkan
manusia yang berubah menjadi patung karena duka tak tertahankan.

“Kenapa disebut Sungai Air Mata, padahal sumber mata airnya bukan
hanya air mata melainkan juga air liur?” murid-murid sekolah dasar
itu kelak akan bertanya.

Ibu Guru Tati tidak menjawab, dan balas bertanya: “Itu dia soalnya,
kenapa?”

Taipei-Tokyo-Honolulu-M/N1043, Maret 2006

Komidi Putar

Komidi Putar

 

DA-DA, kuda*, engkau berlari dengan mulut berdarah, da-da, kuda,
melintasi padang rumput, melompati jurang, menyeberangi sungai,
menyusuri pantai, menembus hutan, melewati kota, mengarungi benua,
memburu cakrawala, da-da, kuda, berderap di bawah langit dengan surai
gemulai yang berkilat keemas-emasan di bawah cahaya senja tiada
pernah bertanya akan berakhir sampai di mana. Da-da, kuda, mereka
semua berderap seperti sepakat tiada saling membalap, berderap
seperti menari, berderap seperti melayang, berlari, dan mencongklang
seperti terbang, da-da, kuda, dan hanya kuda-kuda mengerti apa
artinya menderap di padang terbuka, hamparan permadani, sajadah
dunia, dalam derap secepat angin, namun suaranya seperti bisikan dari
kejauhan, sejauh-jauh mata memandang, da-da, kuda, yang masih berlari
ke arah matahari jingga yang separuh tenggelam.

Tiada pernah kukira kuda bisa berlari di atas air. Kulihat kuda-kuda
berderap di lautan membentang, tanpa sayap dan tanpa tanduk, berderap
melaju dengan bunyi percik memercik-mercik, di kejauhan, melintasi
kapalku. Da-da, kuda, ke manakah kamu, begitu cepat kamu, begitu
lambat kamu, berlari atau menari, wahai kuda, segala kuda berlari di
antara cahaya, berkelebatan, seperti mimpi tapi bukan mimpi, seperti
kuda tapi memang kuda, cahayakah atau nyata, gambar bergerakkah atau
kuda, tapi memang kuda, dan hanya kuda. Da-da, kuda, seluruh kuda
dari seluruh dunia bergerak dan berlari, terbang dan memimpi ke
seluruh penjuru bumi ketika semua orang tertidur lelap nyenyak dalam
labirin mimpinya sendiri-sendiri sehingga tiada seorang pun memang
akan mengerti betapa ada begitu banyak kuda, beratus-ratus kuda,
beribu-ribu kuda, berjuta-juta kuda menderap tanpa suara dan tanpa
kepulan debu melaju sepanjang padang dengan gerak yang begitu lambat
seperti gerak lambat seekor ulat tapi yang berpindah tempat begitu
cepat secepat cahaya yang melesat.

Da-da, kuda, tak seorang pun melihatnya, ada tapi tiada, melintasi
cahaya gemilang, sekian banyak kuda, begitu banyak kuda, akan
seberapa banyak lagikah kuda? Begitu banyak rahasia terbentang selama
manusia tertidur, begitu banyak cerita di balik tabir kegelapan
malam, tapi bagaimanakah cara mengetahuinya? Manusia yang telah
begitu lelah dengan begitu banyak pikiran di kepalanya sendiri tak
akan pernah mengerti rahasia di balik matanya sendiri yang terpejam
diam-diam tak terbuka selama ratusan tahun. Begitulah manusia selalu
merasa telah tidur nyenyak dan lelap dalam satu malam tanpa pernah
terbangun satu detik pun seperti kena sihir pencuri yang menyebarkan
tanah pekuburan, padahal dalam semalam waktu telah lewat berabad-
abad….

Namun, seribu kuda tak pernah menjadi tua meski telah berlari selama
beratus-ratus tahun. Seribu kuda, beribu-ribu kuda, berjuta-juta
kuda, menderap dan melaju menembus segala macam cuaca. Bagaimana
mungkin manusia mengarungi seribu mimpi sementara sesuatu yang lebih
indah dari mimpi lewat menderap di depan hidung mereka sendiri?
Itulah masalahnya. Apalah yang bisa diketahui manusia? Tidak tentang
berjuta-juta kuda yang berlari seperti menari, melaju seperti puisi,
dengan kertap cahaya yang berkeredapan dari balik surainya, tidak
juga tentang apa saja yang berada di luar jangkauannya. Da-da, kuda,
tidak ada yang meringkik, tapi tidak berarti mereka tidak tertawa,
karena mereka bisa mengikuti mimpi-mimpi manusia yang tertidur.
Mereka terus berlari dengan pikiran yang bisa membaca dunia. Berlari
dan berlari, dengan mata yang sayu.

Tidak ada makhluk lain tampak di mana pun berjuta-juta kuda itu
berlari. Tiada gemuruh dan kepulan debu, tiada ringkik dan getaran
bumi, namun makhluk-makhluk tiada pernah tampak — tiada burung elang
yang melayang-layang, tiada monyet yang menjerit-jerit, tiada semut
di lubang mana pun di padang rumput. Hanya kuda-kuda, tanpa sayap dan
tanpa tanduk, kuda-kuda biasa, berjuta-juta, muncul dari balik
cakrawala dengan matahari di belakang mereka, menghitam seperti
bayang-bayang, berjuta-juta bayang-bayang kuda berkelebat, begitu
cepat dan begitu lambat, seperti gerakan para dewa di layar dunia.
Lewatlah kuda-kuda tanpa suara, tiada seorang pun tahu dari mana
mereka dan menuju ke mana. Da-da, kuda, dari balik matahari mereka
seperti muncul begitu saja, menimbulkan pertanyaan tentang dunia
seperti apa, yang membiarkan manusia tidur begitu lama, seperti hanya
semalam tapi sudah kehilangan segalanya.

Alangkah mahalnya mimpi-mimpi dalam semalam, yang begitu membuai tapi
sama sekali tidak nyata. Kuda-kuda ini nyata, berderap tanpa suara,
tapi mengapa mulutmu berdarah, da-da, kuda? Kuda-kuda berderap
bersama di padang alang-alang sampai bertemu sebuah sungai, di sungai
itu mereka berenang dalam kelompok-kelompok sampai ke seberang, dan
mereka berbaris satu per satu dan berjalan perlahan-lahan menyusuri
jalan setapak di tepi jurang. Tentu saja itu jalan setapak manusia,
tetapi untunglah tidak pernah ada seorang manusia pun yang barangkali
sedang berburu kebetulan berpapasan dengan kuda-kuda itu, karena
berapa lamakah seseorang harus menunggu sampai berjuta-juta kuda itu
lewat begitu pelan karena begitu hati-hati berjalan di jalan setapak
di tepi kemiringan jurang?

Berjuta-juta kuda berjalan menembus hutan yang berembun melewati
jalan setapak di tepi jurang tanpa suara. Kuda-kuda berjalan di tepi
jurang dengan kepala menunduk, melangkah satu per satu dalam
kecuraman jurang yang menggiriskan. Jalan setapak itu begitu panjang
dan jurang itu begitu dalam dan entah berapa lama akhirnya suatu
malam kuda-kuda itu keluar dari hutan dan melangkah di tepi sungai
yang dangkal dan gemericik airnya begitu jernih dan begitu
menyegarkan. Hanya, setelah berminggu-minggu jutaan kuda itu akhirnya
melewati hutan berjurang dengan hanya jalan setapak untuk berjalan.
Di tepi sungai mereka minum sebentar lantas melanjutkan perjalanan.

Da-da, kuda, begitu banyak kuda dan tiada satu manusia pun
menungganginya, tapi siapa bilang kuda diciptakan hanya untuk menjadi
tunggangan? Kuda-kuda tanpa pelana, berkilat dalam usapan cahaya,
melangkah dengan anggun di tepi yang gemercik keperakan, sesekali
berhenti minum, berjalan dengan mata sayu, beriringan sepanjang
sungai yang kadang lurus kadang berkelok dan suatu ketika menyeberang
berdua-dua, bertiga-tiga, berlima-lima, berombongan, membuat gemercik
aliran sungai tiba-tiba berbeda karena kaki-kaki kuda yang berjuta-
juta menyeberangi sungai yang tentu saja berlangsung lama….

Seorang anak terbangun di malam hari.

“Ibu, ke mana kuda kita?”

Kali ini tidak ada manusia yang mempunyai kuda, berjuta-juta kuda
melepaskan diri dari kepemilikan dan kekuasaan manusia. Kuda telah
melepaskan diri dari kebudayaan, bahkan tidak seorang pun bisa
bermimpi tentang kuda-kuda lagi. Kuda-kuda itu sudah tidak
terjangkau. Mereka menyusuri sungai sampai ke tepi pantai.
Menggoyangkan ekor dan mendengus seperti tidak peduli dengan ombak.
Mereka mencari rerumputan di tepi sungai, dan saling berbicara dengan
cara saling memandang dan saling menyentuh.

Da-da, kuda, mereka bisa berlari di atas permukaan laut, tapi mereka
tetap tinggal di tepi pantai dan saling mendengus serta bersentuhan
di bawah rembulan. Berjuta-juta kuda memenuhi pantai, dengan hempasan
ombak yang bernyanyi, tiupan angin yang merintih, serta permukaan
laut yang berkilat keperak-perakan. Tiada satu kuda menengok
rembulan, kepala mereka tertunduk dan mata mereka masih sayu. Hanya
ekornya terkadang bergoyang pelan.

Di antara kuda-kuda itu terdapat kuda anak yang terbangun di malam
hari itu. Ia berjalan, mendengus, dan mendongak di antara banyak kuda
yang menunduk.

“Hanya kuda, dan tiada lain selain kuda,” pikirnya.

Ia teringat anak kecil itu, yang setiap pagi mengelus-elus kepalanya.
Berbisik-bisik dan bercerita, menyampaikan segala rahasia. Meski
tidak bisa berbicara dalam bahasa manusia, ia bisa mengerti setiap
kata yang diucapkan anak itu. Jika ia bisa berbicara, banyak juga
yang akan diceritakannya, seperti juga ia ingin bicara tentang betapa
suatu hari ia akan meninggalkannya. Setiap kuda yang ditemuinya dan
pernah dipelihara manusia mengalami hal yang sama, mereka tidak
mengetahui cara yang terbaik untuk memberitahukan perpisahan dengan
dunia manusia untuk selama-lamanya.

Tidak ada yang bisa dilakukannya selain pergi keluar dari kandangnya
suatu malam. Pergi begitu saja mengikuti bisikan yang menuntunnya,
bisikan yang tidak terdengar di telinga melainkan menancap langsung
ke dalam otaknya dan menggerakkan seluruh tubuhnya. Ia bertemu dengan
begitu banyak kuda yang keluar dari kandang dan istalnya, melangkah
begitu saja seperti sudah saling mengerti, menuju ke suatu keadaan
yang belum tentu akan bisa dimengerti. Ia hanya tahu bahwa setiap
kuda harus bergabung dengan semua kuda, untuk melakukan pencarian
bersama yang belum lagi diketahui akan ketemu di mana.

Maka ia ikut mencongklang bersama kuda-kuda itu, berlari dan berlari,
dan merasakan betapa bumi bagai tiada diinjaknya. Kuda-kuda itu
seperti terbang bersama tapi bukan terbang, berlari tapi bukan
berlari, melesat dan melaju tapi bukan melesat, dan melaju karena
meskipun sungguh cepat tetapi juga sangat lambat. Bagaimanakah semua
ini bisa ia jelaskan?

“Aku hanya seekor kuda,” pikirnya.

Da-da, kuda, di tepi pantai, bersama berjuta-juta kuda lainnya,
mereka berdiri berjajar-jajar menghadap ke laut. Rembulan bagaikan
piring keperakan raksasa yang membuat laut juga serba keperak-perakan
nyaris seperti cairan logam. Seluruh kuda yang berjuta-juta itu
melangkah ke laut. Mereka tidak berlari, tapi berjalan saja pelan-
pelan. Lautan tidak bergelombang dan ombak tidak menghempas, seluruh
kuda itu berjalan perlahan menuju cakrawala. Namun, kuda yang
dimiliki anak kecil itu tidak menggerakkan kakinya. Ia mendengus,
menggerakkan ekor, tapi tidak melangkah. Ditatapnya kuda-kuda
bergerak pelan menuju cakrawala, makin lama makin jauh dan akhirnya
menghilang….

“Aku seekor kuda yang hanya sendiri saja di dunia,” pikirnya,

“Kalau aku mati nanti tak akan ada kuda lagi di muka bumi.”

Untuk beberapa saat ia masih memandang lautan yang kosong. Tiada lagi
pemandangan berjuta-juta kuda.

Ia belum juga tahu betapa mulutnya berdarah.

Ketika anak itu bangun, waktu sudah lewat berabad-abad. Ia langsung
mendekati kuda itu di kandangnya, memeluk dan mengusap-usap
kepalanya.

“Da-da, kuda, engkau pergi ke mana? Waktu aku bangun semalam engkau
tak ada.”

Dari jendela dapur, ibunya memandang anak di kandang kuda yang kosong
itu dengan sedih.

“Lagi-lagi anak itu bicara dengan dirinya sendiri,” gumamnya.

Di dinding dapur itu tergantung potret seekor kuda. Entah siapa
mencoret-coret bagian mulutnya dengan spidol merah, sehingga mulut
itu seperti meneteskan darah….

Pondok Aren, Kamis 2 Januari 2003. 07:36.

* Dari sajak Wing Karjo, “A/Z”, bagian 7 : Da-da, kuda, diamlah /
benda ajaib …/ mainanmu, nak, Putih / terlalu jinak. Lembut / dari
dunia mimpi., dalam Perumahan (1975), h. 44.

Sembilan Semar

Sembilan Semar

 

SIAPAKAH yang percaya Semar itu benar-benar ada? Di dunia ini adakah satu orang saja yang percaya betapa manusia yang buruk rupa, membosankan, dan mulutnya berbusa dengan petuah itu sebenarnya memang ada – cuma saja dia bersembunyi entah di mana? Semar memang ada gambarnya. Ada wayang kulitnya. Ada pula pemain wayang orang yang memerankannya. Semar itu seolah-olah memang ada, jadi nama toko emas, cap batik, merek kecap, trade mark kaos oblong murahan, dan entah apa lagi – tapi apakah ada orang yang bisa percaya Semar itu sebenarnya memang berada di dekat-dekat kita saja? Tidak seorang pun di muka bumi ini bahkan pernah bermimpi, bahwa Semar benar-benar ada. Sampai dia muncul di tengah orang banyak di jalanan itu, mengacungkan telunjuknya yang bergetar ke langit, dan mengeluarkan suara.

“Oladalah, lae, lae…”

Suaranya menggelegar di angkasa, selayaknya dewa yang sedang murka. Orang-orang ternganga, tidak bisa mempercayai penglihatannya. Ada yang menggosok mata, ada yang bengong menyeringai saja, ada pula yang coba-coba memotretnya. Semua orang langsung percaya itu memang Semar, tapi sekaligus juga semua orang tidak bisa percaya bahwa Semar itu benar-benar ada. Sama sekali tidak seperti pemain wayang orang. Ia tidak memakai make up. Ia tidak mengenakan kostum. Ia tidak memang topi rambut palsu. Tidak memasang bantal di pantatnya. Ia memang Semar. Asli Semar. Semar tulen. Tapi, bagaimana mungkin Semar itu ada?

Ia berdiri di sana, di bundaran Hotel Indonesia dengan wajah penuh amarah. Ia bukan lagi Semar yang sabar. Orang-orang kaget. Semar yang marah adalah Semar yang berbahaya. Gawat. Jangan sampai ia keluarkan kentutnya. Hancur nanti dunia dibuatnya.

Memang ia Semar. Wibawa yang meyakinkan memancar dari tubuhnya. Jalanan langsung macet. Lampu merah mati tidak berfungsi. Semua orang mendekat. Antara percaya dan tidak percaya semua orang melangkah ke satu arah. Memang ia Semar. Bukan badut Ancol, bukan pemain wayang orang, atau orang gila yang mencoba menarik perhatian. Percaya atau tidak, ia memang Semar, tidak ada yang meragukannya, meski hampir semua orang masih tetap saja tidak habis pikir. Ternyata Semar itu memang ada. Busyet. Mau apa dia?

Tapi Semar belum mengucapkan apa-apa. Bibirnya bergetar menahan perasaan. Orang-orang menunggu. Jika Semar sempat muncul di dunia nyata, pasti ada peristiwa yang luar biasa. Sudah berabad-abad ia bersembunyi saja entah di sudut bumi yang mana. Entah di mana ia tidur, entah di mana ia makan, entah di mana ia menjalani hidupnya sebagai Semar. Apakah ia diam-diam menonton wayang kulit dari balik kegelapan? Apakah ia berada di deret paling belakang ketika Semar muncul hanya untuk diejek-ejek oleh anak-anaknya, Gareng, Petruk, Bagong, dalam babak goro-goro yang merupakan ajang para punakawan menggugat keadaan?

Semar, Semar, oladalah Semar. Memang ia Semar. Badannya gemuk bulat, rambutnya berkuncung putih, mata rembes selalu berair, hidung pesek, dan bibirnya cablik. Memang ia Semar. Katanya laki-laki, tapi dadanya montok dan jalannya megal-megol seperti perempuan. Katanya dewa, tapi penampilan rakyat jelata. Cuma jadi punakawan, tapi kesaktiannya bukan hanya melebihi ksatria, melainkan juga Batara Siwa. Semua orang tahu riwayat hidup Semar – Batara Ismaya yang terkutuk untuk mengabdi kebenaran sepanjang hidupnya. Bila kebenaran berada dalam bahaya, itulah saat Semar untuk muncul mengembalikan kedamaian dunia. Namun apabila ia muncul sekarang, apakah yang akan diluruskannya? Jangan-jangan ia tidak mengerti. Jangan-jangan ia tidak mengikuti perkembangan. Jangan-jangan selama ini ia tidur saja berpuluh-puluh tahun seperti Kumbakarna. Siapa tahu ia tidak tahu bagian bumi yang satu ini baik-baik saja. Sungguh-sungguh aman, gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharjo. Yeah, Well, well, well – apakah yang akan dilakukan Semar? Jangan-jangan ia hanya akan mengacau saja. Banyak orang sudah senang dengan keadaan sekarang. Sudah banyak keuntungan. Seorang Semar yang datang memberi peringatan hanya akan mengacaukan ketenangan.
***
LANGIT mengendap. Matahari sembunyi. Gamelan berbunyi. Seorang intel memberi laporan situasi lewat handphone.

“Ya, betul Komandan, ia memang Semar. Ciri-cirinya cocok. Kulitnya putih seperti kulit sapi. Ia pakai sarung. Telunjuknya menuding ke atas seperti dalam wayang orang, tapi kali ini ia kelihatan marah.”

“Tapi ia memang Semar bukan?”

“Memang Semar, Bos.”

“Huss, bas-bos-bas-bos, Komandan!”

“Siap! Memang Semar, Komandan!”

“Betul-betul Semar?”

“Asli!”

“Bukan Semar gadungan? Awas, hati-hati, dalam cerita wayang banyak tokoh gadungan lho!”

“Ini asli, Komandan! Asli Semar!”

“Kalau begitu saya juga mau lihat ah!”

Komandan itu sudah mau berangkat ketika handphone-nya bertulililit lagi. Seorang intel lain meneleponnya.

“Laporan Komandan! Ada Semar di Patung Pizza.”

“Lho Semar lagi? Maksud kamu di bundaran Hotel Indonesia?”

“Bukan Komandan, saya bertugas di Patung Pizza.”

“Semar di Patung Pizza? Kamu mabok? Kamu tripping ya?”

“Saya tidak tripping Komandan, saya tidak menenggak inex kalau sedang bertugas. Sungguh mati, saya melihat Semar di Patung Pizza.”

“Di atas pizza-nya?”

“Bukan! Di bawah! Sekarang jalanan macet total!”

“Tangkap dia! Pasti yang itu gadungan!”

“Ini asli, Komandan, asli Semar!”

“Busyet, busyet! Pagi-pagi sudah ada kejadian konyol seperti ini. Pasang matamu dengan benar, Semar itu asli atau bukan, soalnya di bundaran Ha-i juga ada Semar!”

“Sungguh mati! Ini Semar asli, Komandan! Kulitnya merah semua!”

Hampir saja handphone Komandan terlepas dari tangannya karena terkejut.

“Merah! Di Ha-i Semarnya putih!”

“Di sana yang gadungan Komandan! Ini betul-betul Semar Merah yang asli!”

“Semar Merah! Semar Putih! Mana yang asli?”

“Lho, Komandan, Semar itu bisa mengubah diri jadi apa saja, jadi ksatria cakap bisa, jadi wanita cantik pun bisa.”

“Tapi mestinya yang asli cuma satu toh?”

“Aduh, Bos…”

“Komandan!”

“Siap! Komandan! Apalah yang tidak mungkin bagi Semar? Saya kira dua-duanya asli, Komandan!”

“Dua-duanya asli! Busyet! Apa yang dilakukan Semar Merah itu di bawah Patung Pizza?”

“Ia menari-nari, Komandan!”

“Menari-nari?”

“Iya Komandan! Semar menarikan tari perang suku Indian!”

“Semar menarikan tari perang suku Indian? Kamu pasti tripping!”

“Sumpah mati Komandan, saya malah belum makan dari pagi.”

Semar yang seluruh tubuhnya berwarna merah memang sedang menari. Badannya yang gemuk berputar-putar dengan lincah membawakan tari perang suku Indian, seolah-olah sedang mengitari api unggun. Langit memperdengarkan bunyi perkusi. Jalanan macet. Orang-orang menonton. Mereka juga belum habis pikir bahwa Semar ternyata memang ada. Meskipun lazimnya Semar itu berwarna putih, tapi Semar yang merah ini sama meyakinkannya seperti Semar. Bukan pemain wayang orang, bukan pula badut Ancol. Memang asli Semar.
***
KOMANDAN itu tidak jadi pergi. Ia tetap berada di dalam kantornya dan berpikir. Ia seorang perwira cerdas lulusan Magelang dengan tambahan kursus-kursus di West Point. Ia tidak mau sembarangan bertindak. Ia bukan orang yang grasa-grusu dan selalu ingin kelihatan gagah. Setiap peristiwa ada maknanya. Setiap makna harus diuraikan tujuannya. Ia harus berpikir dari konteks ke konteks, dari penafsiran satu ke penafsiran lain. Apakah peristiwa ini bermuatan politis? Apakah ada unsur-unsur subversif? Apakah ini cuma cara untuk mengalihkan perhatian dari tujuan sebenarnya? Atau apakah ini cuma semacam teater eksperimental? Belakangan ini intel-intel sering melaporkan, bahwa para seniman sudah semakin nekad melakukan segala cara supaya dirinya terkenal, termasuk mengambil risiko ditangkap petugas keamanan.

Di antara banyak kemungkinan ia memusatkan pikirannya kepada satu hal: apakah ada bedanya jika ini Semar asli atau Semar pura-pura? Memang kedua intelnya melaporkan bahwa kedua Semar ini asli. Tapi, begitulah, apa ya mungkin Semar itu ada? Meskipun begitu, kalau orang-orang ini sudah percaya Semar yang dilihatnya memang asli, apakah masih penting Semar ini asli atau palsu? Ia tetap saja Semar. “Tidak penting benar Semar ini asli atau tiruan,” pikirnya, “yang penting apakah yang dilakukannya mengganggu keamanan.” Kalau Semar asli, ia tidak akan mengacau. Entahlah kalau Semar jadi-jadian. Namun kalau ada yang palsu, bukankah ada yang asli?

Handphone-nya bertulililit lagi.

“Laporan! Ada Semar Hijau di bawah Patung Diponegoro!”

“Busyet,” Komandan itu menggerutu, “memangnya ada berapa Semar di dunia ini?”

“Laporan! Semar Hijau di Patung Diponegoro dikerumuni orang banyak! Apakah yang harus saya lakukan?”

“Apa yang dilakukan Semar Hijau itu?”

“Ia bertapa!”

“Bertapa? Bertapa bagaimana?”

“Bertapa ya bertapa, seperti bersemadi begitu, kakinya bersila, tangannya sedakep, dan matanya terpejam.”

“Apakah ia memang Semar?”

“Asli Semar, Komandan! Jambulnya melambai-lambai tertiup angin!”

“Bagaimana orang-orang?”

“Orang-orang mengerumuninya, mereka menunggu Semar itu menyelesaikan tapanya dan mengucapkan sesuatu.”

“Banyak?”

“Banyak sekali! Situasi hiruk pikuk di sini! Mohon petunjuk!”

“Dasar mental petunjuk! Sudah, kamu di sana saja dan mengawasi terus!”

Sudah tiga Semar muncul hari ini. Semar Putih, Semar Merah, dan Semar Hijau. Apakah maknanya? Semar-Semar ini ketiga-tiganya lebih dari meyakinkan sebagai Semar. Bisa saja ketiga-tiganya Semar asli. Apalah yang tidak mungkin bagi Semar bukan?

Tulililililililit.

“Semar lagi?”

“Semar Hitam, Komandan! Semar Hitam muncul di patung Pemuda Menuding.”

“Sekarang Semar Hitam! Busyet! Apa juga menari-nari?”

“Tidak Komandan! Semar Hitam tidak menari, Semar ber-bungee jumping!”

“Bungee jumping bagaimana?”

“Ia meloncat dari atas Patung Pemuda Menuding, kakinya diikat tali, kepalanya cuma setengah meter dari bumi ketika sampai di bawah, setelah itu ia terbang ke atas patung lagi, dan terjun lagi.”

“Busyet. Bagaimana keadaan?”

“Macet total, Komandan! Jalan tol juga macet! Semar Hitam jadi tontonan! Mohon petunjuk!”

“Petunjuk dengkulmu! Tetap di sana dan awasi terus perkembangan.”

“Siap! Laksanakan!”
***
KOMANDAN minta dikirim helikopter. Dalam waktu singkat ia sudah mengudara. apakah Semar-Semar ini harus ditangkap dengan tuduhan bikin onar? Masalahnya, kalau Semar-Semar ini ditangkap, apakah orang-orang yang sudah percaya bahwa Semar-Semar ini memang Semar tidak akan protes? Komandan itu mengerti benar. Diam-diam orang banyak merindukan Semar. Orang banyak menginginkan Semar datang membawa perubahan. Orang-orang yang terlalu banyak berharap ini mungkin lebih berbahaya dari Semar. Sedangkan Semar itu sendiri, kalau ia memang Semar, kenapa harus takut? Semar itu orang baik. Penyelamat kehancuran dunia. Masalahnya, apakah Semar-Semar ini memang Semar? Memang Semar, Ki Lurah Badranaya dari Karang Tumaritis?

Dari udara, satu per satu, Semar-Semar itu dilihatnya. Semar Putih mengacungkan telunjuknya ke angkasa, dengan bibir bergetar menahan amarah di bundaran Hotel Indonesia. Semar Merah berputar-putar menarikan tari perang orang Indian di Patung Pizza. Semar Hijau bertapa dikerumuni orang banyak di Patung Diponegoro. Semar Hitam menggemparkan dengan atraksi bungee jumping di Patung Pemuda Menuding. Well, well, well, apakah yang akan ditulis koran-koran tentang ini semua? Ini sungguh suatu peristiwa langka, dalam sejarah pewayangan maupun sejarah dunia.

Helikopter yang ditumpangi Komandan mengelilingi Jakarta. Deretan kemacetan yang panjang tampak di mana-mana. Handphone terus menerus bertulilililit melaporkan kehadiran Semar-Semar yang lain. Semar Kuning main skateboard di atas kap mobil-mobil yang macet sepanjang jalan tol. Semar Ungu melakukan aksi duduk di tangga Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Semar Oranye tiba-tiba muncul di layar TV, ia berada di atara para pemain basket NBA, merebut bola dari Michael Jordan maupun Shaquille O’Neal, melakukan slam dunk sampai seratus kali di ring kedua tim.

“Semar sampai ke Amerika?”

“Lho, selain kelihatan dari siaran langsung TV, ini memang laporan intel kita dari Chicago!”

Komandan itu tiba-tiba merasa dirinya tripping, meskipun seumur hidup ia belum pernah menenggak inex. Ketika itu dari udara dilihatnya Semar Biru Metalik menari bedaya di atas simbol Planet Hollywood. Ia belum pernah melihat tari bedaya dibawakan sehalus itu. Yeah. Apalah yang tidak bisa dilakukan Semar?
***
“PULANG ke markas,” kata Komandan kepada pilot.

Ia sudah berpikir untuk menangkap delapan Semar itu dengan jala, karena kemacetan Jakarta sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Semar atau bukan Semar, ia harus patuh kepada hukum. Ia akan mengirimkan delapan helikopter serentak ke delapan penjuru untuk menangkap Semar-Semar itu dengan jala dari udara. “Biarlah ia keluarkan kentutnya yang lebih dahsyat dari senjata nuklir itu,” pikir Komandan, “kami toh selalu siap untuk mati.”

Namun ketika ia masuk kembali ke kantornya, Semar Putih yang tadi dilihatnya di bundaran Hotel Indonesia sudah duduk di kursinya sambil mengusap-usap kuncung.

“Duduk,” kata Semar itu, seolah-olah ia yang punya kantor. Komandan pun duduk, seperti tamu. Entah kenapa, ia tiba-tiba merasa hormat.

“Ananda Komandan tidak perlu menangkap kami dengan jala,” ujar Semar, yang ternyata betul-betul weruh sadurung winarah, “kami tidak akan selamanya show di Jakarta. Tugas kami banyak, bukan cuma di Indonesia saja. Kami datang hanya untuk memberi peringatan.”

“Peringatan apa?”

“Itulah yang harus kalian pikirkan sendiri, karena Semar tidak memberi ceramah. Semar tidak perlu berseminar untuk menjelaskan maksudnya. Semar hanya datang untuk memberi tanda-tanda.”

“Saya mengerti Bapak Semar.”

“Ah, jangan panggil saya Bapak, saya bukan bapak kamu.”

“Jadi bagaimana saya harus memanggil Andika?”

“Panggil Bung saja, Bung Semar.”

“Baik Bapak… eh Bung Semar.”

“Sekarang aku pergi. Jangan khawatir, ketenangan akan kembali. Goodbye. Adios. Ciao!”

“Ciao!”

Semar Putih itu menghilang. Handphone bertulilililit berkali-kali mengabarkan kepergian Semar-Semar yang lain. Hari ini delapan Semar datang ke Jakarta, tulis Komandan itu dalam catatan hariannya, aku sudah berlatih untuk menghadapi setiap kejutan, tapi tidak kejutan seperti ini. Sayang sekali, foto-foto yang dibuat para wartawan tidak ada yang jadi. Sampai sekarang aku tidak tahu, Semar itu sebenarnya betul-betul ada atau tidak.

Senja telah tiba. Hari yang sungguh melelahkan untuk Komandan. Ia ingin segera pulang, ketemu anak-istri, dan berkaraoke. Sebelum ke luar ruangan, ia melihat dirinya di cermin. Di atas cermin itu ada tulisan: Sudah Rapikah Anda Hari ini?

Komandan itu tidak bisa mempercayai matanya.

“Aku? Aku sudah berubah menjadi Semar Fiberglass? ***

(Taman Manggu, Sunday Wage, 6 Oktober 1996. 09:15)

Saksi Mata

Saksi Mata

 

Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba  udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.

Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu daris egala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas.            

“Terlalu!”           

“Edan!”          

“Sadis!”           

Bapak Hakim Yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk-ngetukkan palunya. dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan.           

“Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!”           

Syukurlah para hadirin bisa ditenangkan. Mereka juga ingin segera tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.            

“Saudara Saksi Mata.”           

“Saya Pak.”           

 “Di manakah mata saudara?”           

 “Diambil orang Pak.”           

“Diambil?”         

“Saya Pak.”           

“Maksudnya dioperasi?”           

“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”           

“Haa? Pakai sendok? Kenapa?”           

“Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.” (masakan khas Surakarta sop tulang belulang kambing-red)           

“Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang?”           

“Yang mengambil mata saya Pak.”           

“Tentu saja, bego! Maksud saya siapa yang mengambil mata saudara pakai sendok?”           

“Dia tidak bilang siapa namanya Pak.”           

“Saudara tidak tanya bego?”           

“Tidak Pak.”           

“Dengar baik-baik bego, maksud saya seperti apa rupa orang itu? Sebelum amta saudara diambil dengan sendok yang katanya untuk dibuat tengkleng atau campuran sop kambing barangkali, mata saudara masih ada di tempatnya kan?”           

“Saya Pak.”           

“Jadi saudara melihat   seperti apa orangnya kan?”           

“Saya Pak.”           

“Coba ceritakan apa yang dilihat mata saudara yangs ekarang sudah dimakan para penggemar tengkleng itu.”           

Saksi Mata itu diam sejenak. Segenap pengunjung di ruang pengadilan menahan napas.            

“Ada beberapa orang Pak.”           

“Berapa?”           

“Lima Pak.”            

“Seperti apa mereka?”           

“Saya tidak sempat meneliti Pak, habis mata saya keburu diambil sih.”            

“Masih ingat pakaiannya barangkali?”           

“Yang jelas mereka berseragam Pak.”           

Ruang pengadilan jadi riuh kembali seperti dengungan seribu lebah.

***           

Hakim mengetuk-ngetukkan palunya. Suara lebah menghilang.             

“Seragam tentara maksudnya?”           

“Bukan Pak.”           

“Polisi?”           

“Bukan juga Pak.”           

“Hansip barangkali?”           

Itu lho Pak, yang hitam-hitam seperti di film.”           

“Mukanya ditutupi?”           

“Iya Pak, cuma kelihatan matanya.”           

“Aaaah, saya tahu! Ninja kan?”           

“Nah, itu ninja! Mereka itulah yang mengambil mata saya dengan sendok!”           

Lagi-lagi hadirin ribut dan saling bergunjing seperti di warung kopi. Lagi-lagi Bapak Hakim Yang Mulia mesti mengetuk-ngetukkan palu supaya orang banyak itu menjadi tenang.           

Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman.           

Tapi orang-orang tidak melihatnya.           

“Saudara Saksi Mata.”            

“Saya Pak.”           

“Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?”           

“Mereka berlima Pak.”           

“Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?”           

“Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.”           

Orang-orang tertawa. Hakim mengetuk lagi dengan marah.           

“Coba tenang sedikit! Ini ruang pengadilan, bukan Srimulat!”

***           

Ruang pengadilan itu terasa sumpek. Orang-orang berkeringat, namun mereka tak mau beranjak. Darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir. Hakim meneruskan pertanyaannya.            

“Saudara Saksi Mata tadi mengatakan terjadi di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya begini cepat seperti dalam mimpi?”           

“Bukan Pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadinya dalam mimpi, itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya.”           

“Saudara serius? Jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkannya di bawah sumpah.”            “Sungguh mati saya serius Pak, saya diam saja karena saya pikir toh terjadinya cuma dalam mimpi ini. Saya malah ketawa-ketawa waktu mereka bilang mau dibikin tengkleng.”           

“Jadi, menurut saudara Saksi Mata segenap pengambilan mata itu hanya terjadi dalam mimpi?”           

“Bukan hanya menurut saya Pak, memang terjadinya di dalam mimpi.”           

“Saudara kan bisa saja gila.”           

“Lho ini bisa dibuktikan Pak, banyak saksi mata yang tahu kalau sepanjang malam saya cuma tidur Pak, dan selama tidur tidak ada orang mengganggu saya Pak.”           

“Jadi terjadinya pasti di dalam mimpi ya?”           

“Saya Pak.”           

“Tapi waktu terbangun mata saudara sudah tidak ada?”           

“Betul Pak. Itu yang saya bingung. Kejadiannya di dalam mimpi tapi waktu bangun kok ternyata betul-betul ya?”           

Hakim menggeleng-gelengkan kepala tidak bisa mengerti.           

“Absurd,” gumamnya.           

Darah yang mengalir telah sampai ke jalan raya.

***           

Apakah Saksi Mata yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi? Tentu masih bisa, pikir Bapak Hakim Yang Mulia, bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya?           

“Saudara Saksi Mata.”           

“Saya Pak.”           

 “Apakah saudara masih bisa bersaksi?”           

“Saya siap Pak, itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata Pak.”           

 “Saudara Saksi Mata masih ingat semua kejadian itu meskipun sudah tidak bermata lagi?”           

“Saya Pak.”           

“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”           

“Saya Pak.”           

“Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?”           

“Saya Pak.”           

“Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satupun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.”           

“Saya Pak.”           

“Sekali lagi, apakah saudara Saksi Mata masih bersedia bersaksi?”           

“Saya Pak.”           

 “Kenapa?”          

“Demi keadilan dan kebenaran Pak.”           

Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel.            

Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya.           

 “Hussss! Jangan kampanye di sini!” Ia berkata dengan tegas.            

 “Sidang hari ini ditunda, dimulai lagi besok untuk mendengar kesaksian saudara Saksi mata yang sudah tidak punya mata lagi!”           

Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klik-klik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah.

***           

Dalam perjalanan pulang, Bapak Hakin Yang Mulia berkata pada sopirnya,“Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?”           

Sopir itu ingin menjawab dengan sesuatu yang menghilangkan rasa bersalah, semacam kalimat, “Keadilan tidak buta.”* Namun Bapak Hakim Yang Mulia telah tertidur dalam kemacetan jalan yang menjengkelkan.           

Darah masih mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya samapi kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun, ajaib, tiada seorang pun melihatnya.             Ketika hari sudah menjadi malam, saksi mata yang sudah tidak bermata itu berdoa sebelum tidur. Ia berdoa agar kehidupan yang fana ini baik-baik saja adanya, agar segala sesuatu berjalan dengan mulus dan semua orang berbahagia.

            Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut.

 

 

Jakarta, 4 Maret 1992

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 365 pengikut lainnya.