Musim Hujan Telah Tiba

Musim Hujan Telah Tiba

 

Musim hujan sudah tiba di Jakarta. Agak “tepat waktu”, karena meski teori awamnya sudah semenjak bulan-bulan ”Mber” (September, Oktober, November, Desember) sudah terbiasa tahun-tahun ini jadwal musim tak karuan, musim kemarau di musim hujan dan musim hujan di musim kemarau. Kulawik-lawik alias terbalik-balik. Dibenarkan oleh segala macam analisis tentang bumi kita, bahwa iklim global mengalami perubahan. Alaska menghijau. Beruang es bulunya mengelabu karena pulau-pulau es mencair. Dikhawatirkan suatu zaman glesier baru berlangsung – dan dataran paling rendah tentu saja pulau-pulau sisa zaman glesier dahulu kala, termasuk indonesia. Jangan khawatir, ini cuma teori warung kopi saya yang tak pernah menamatkan artikel-artikel di majalah National Geographic sampai habis, jadi tentu mudah dipertanyakan kesahihannya.

Namun saya akan mecoba rada ketat dalam perbincangan tentang alam sebagai fenomena dari sudut pandang manusia. Misalnya musim hujan di Jakarta. Hujan yang turun di Jakarta tak pernah bisa tetap tinggal denotatif sehaja. Tidak bisa hadir sekedar sebagai air turun dari langit yang “netral”. Hanya peristiwa alam. Tidak bisa. Ia, dikehendaki, maupun tidak, harus punya makna: mungkin romantis(sepasang kekasih berjalan di bawah satu payung berjalan ditengah hujan lebat), mungkin sentimental(seorang berusia paruh baya memandang keluar jendela ketika hujan lebat sembari mengenang masa lalunya), dan yang kurang personal: banjir lagi alias lagi-lagi banjir :(. Artinya hujan selalu konotatif: bagi yang rumahnya selalu(sekali lagi: SELALU ) kebanjiran, musim hujan bukan penanda kebahagiaan; bahkan yang meskipun penderitaanya lima tahunan(dari Februari 2002 – Februari 2007) seperti yang sudah diramalkan—apalah enaknya tidur dibawah jembatan layang atau kolong jalan tol, meski ”cuma” lima tahun sekali?

img_4263i

Itulah makna hujan di jakarta. Para homo jakartaensis, terutama yang rumahnya menjadi langganan banjir, ataupun yang sudah merasa menderita luar biasa meski bencana yang diterimanya sebatas macet total karena jalan raya menjadi sungai raya, tampaknya akan bahagia sekali jika misalnya musim hujan tidak usah ada saja. Namun maksudnya tentu jika pasar swalayan tetap menyediakan segenap kebutuhan hidup sehari-hari yang dihasilkan para petani.

Ini berarti pembermaknaan Homo Jakartaensis tidak akan cocok dengan pembermaknaan para petani, yang tentunya berdoa agar hujan tiba pada saatnya, supaya panenpun berlangsung pada waktunya, sehingga harmoni kehidupan tidak terguncang. Nah, bukankah harmoni kota yang indah tanpa banjir(konsekuensinya adalah tanpa hujan, karena dijakarta kebanjiran boleh dipastikan) sangat bertentangan? Tentu saja doa para petani ini yang sebaiknya dikabulkan, karena panen di desa sebagai berkah musim hujan menentukan kelanjutan peradaban kota yang mutlak mebutuhkan logistik. Perkara kemudian sawah direndam banjir bandang dan panen gagal, itu tentu saja permainan nasib yang menambah variabel pembermaknaan atas ”peristiwa alam tanpa kehendak sendiri” bernama hujan tersebut.

Nah, benarkah hujan itu merupakan ”peristiwa alam tanpa kehendak sendiri” bernama hujan tersebut? Mungkin akan ada yang menyebutkannya sebagai ”kehendak Tuhan” – tapi option ini hanya berguna dalam diskusi yang tidak pasrah, jika kita menganggapnya sebagai salah satu penafsiran manusia terhadap peristiwa alam. Justru yang belakangan ini akan saya tekankan, bahwa hujan sebagai ”peristiwa alam tanpa kehendak sendiri” adalah juga suatuproduk penafsiran manusia terhadap peristiwa alam , yakni penafsiran dari sudut pandang ilmu pengetahuan atawa sudut pandang ilmiah, bahwa hujan itu dalam dirinya sendiri ”netral”. Misalnya, bukankah ”tanpa kehendak sendiri” yang disebut netral itu sebetulnya merupakan pembebanan makna oleh manusia pula?

Secara teoritik ada makna denotatif, makna ”sebenarnya”, yang sebetulnya mustahil, karena makna manapun yang diberikan manusia, jadi merupakan konstruksi sosial. Tepatnya makna denotatifpun merupakan produk konotasi, tetapi yang wacananya sudah begitu dominan, sehingga seolah-olah merupakan ”kebenaran” . dalam teori semiotik Roland Barthes, yang denotatif adalah tahap pertama, disusul yang konotatif sebagai tahap kedua, tetapi karena yang denotatif tak dikenali lagi, maka konotasi ini menjadi mitos. Nah mitos ini tentunya sudah menjadi ideologis, sekadar kalimat serem dari kata ”tidak netral”.

Inilah tiga tata pembermaknaan(three order of signification) yang sering jadi teori untuk skripsi, tetapi yang terlalu sering ditafsirkan sebagai ”urutan”, padahal dalam penafsira saya adalah sebagai ”tumpukan”: konotasi menutup denotasi dan menutup konotasi, sehingga mitos yang berwujud suatu ”tanda” itu(”Hujan” misalnya), dapat menjadi ajang pergulatan penafsiran(baca: pemberian makna juga), mana yang denotatif, mana yang konotatif, dan ideologi macam apa yang dominan untuk menguasai mitos ”hujan” tersebut.

Pada masa kini, ketika perbincangan lebih terbuka ketimbang zaman para dukun memegang kuasa makna, kita justru akan melihat pergulatan dalam pemberian maknanya: apakah hujan mau diberi makna ”peritiwa alam tanpa kehendak sendiri”, atau ”kehendak Tuhan”, atau juga ”peritiwa apapun seperti manusia menfsirkannya”. Musim hujan telah tiba di Jakarta …

img_4263i

Esai dimuat di Tabloid Djakarta! No. 100, 7 november 2007
Dibukukan dalam “Kentut Kosmopolitan”, Penerbit Koekoesan, 2008

Bajing Melintas di Kabel Listrik

Bajing Melintas di Kabel Listrik

 

Suatu pagi di jalan, sekilas pintas terlihat oleh saya seekor bajing berlari diatas kabel listrik tebal yang melintang di atas jalan tersebut. Jalan yang saya lalui pagi itu adalah suatu jalan tembus, dan karena namanya jalan tembus, tentu saja semua orang ingin memanfaatkannya sehingga dengan segera jalan tembus itu lantas berkategori “padat merayap”—artinya di dalam mobil yang merayap perlahan-lahan saya bisa berpikir sejenak tentang makna keberadaan bajing yang berlari lincah di atas kabel listrik itu.

Dengan menerima bajing itu sebagai binatang liar atau makhluk yang bebas, artinya bukan hewan peliharaan yang lepas, kita bisa mengandaikan bahwa bajing memang berada di lingkungan hidup semacam itu secara alamiah. Kita sering melihat bajing di perkebunan kelapa, kita sering melihat bajing di hutan atau di pepohonan liar, dan barangkali pernah kita melihat bajing yang ditangkap dan dimasukkan “kandang berputar”. Apa itu? sebuah kadang jeruji kawat tipis yang bentuknya seperti bulatan pipih, lebarnya hanya cukup untuk bajing itu—nah dasar kandang itu bisa berputar, dan sang bajing memang cenderung untuk terus menerus berlari, sehingga kita bisa melihat bajing ini berlari ditempat. Semakin cepat bajing itu berlari semakin cepat dasar kandang itu berputar, dan tentu saja bajing itu tidak sampai kemana-mana. Kasihan sekali.

Sadarkah bajing itu? Karena ia terus berlari, boleh kita anggap ia tak sadar sedang berlari di tempat, jadi ia tidak sadar sedang dipermainkan didalam kandang berputar tersebut. Sekarang kita perluas lingkungan bajing yang semula kandang, ke lingkungan tempatnya hidup dan berkembang: sebuah kompleks pemukiman kelas menengah yang padat, berdampingan dengan kampung di kiri dan kanan sebagai “sisa” dari penduduk asli yang tanah-tanahnya sudah di borong konglomerasi real estate, yang meskipun konsepnya barangkali “ekslusif” tetap tak berdaya menghalangi agar jalannya tidak di tembus sembarang orang, dan menjadi inklusif, “milik semua orang”  seperti sekarang.

Jadi saya membayangkan sebelum pengusaha real estate mebujuk, merayu, dan barangkali setengah memaksa penduduk untuk menjual tanah-tanahnya, tempat itu adalah sebuah “kampung betawi” biasa dengan pepohonannya yang khas: rambutan, durian, jambu air, mangga, dan tentu juga kelapa. Pepohonan yang tidak dimaksudkan sebagai perkebunan, tetapi memang sedah ada disana sebagai bagian dari “konsep kampung”-nya betawi yang kadang masih terlihat disana-sini: rumah satu dengan yang lain tidak saling berdempet, tanah kosong diantaranya sebagai halaman yang tak selalu berpagar, dan pada setiap tanah kosong terdapatlah pohon-pohon buah yang tidak terlalu penting milik siapa. Dibawah pohon kadang terlihat dipan bamboo tempat seorang ibu deduk menggendong bayi, atau ibu-ibu berderet menguraikan rambutnya saling mencari kutu. Ditempat yang sama, seorang lelaki biasanya langsung tidur.

Di antara pohon-pohon itulah nenek moyang bajing itu, menurut Multatuli, “naik toeron klapa mentjari penghidoepan”—karena bajing tidak bermigrasi seperti burung. Ibarat kata melalui leluhurnya bajing sudah ada di tempatnya sejak dahulu kala, tetapi saya hanya mengincar masa sebelum real estate tersebut menggusur kampung betawi. Nah, bajing yang lewat itu sendiri tentu lahir setelah kekacauan ini berlangsung, alam bagi bajing ini sekarang bukanlah dunia sejuk kampung betawi, melainkan absurditas jalan tembus di pemukiman kontemporer, yang meski dimaksud ekslusif, menjadi inklusif karena terhubungkan dengan perkampungan masa lalu yang tak lagi eksotik melainkan urban: penuh kabel listrik, antena parabola, dan pemuda-pemuda punk rock bergitar yang rambutnya  ajaib, yang cuma bisa memandang perempuan cantik menyetir Audi—boro-boro memacarinya, sementara di belakangnya menggeram-geram mobil tinja .

Betatapun,dunia absud ini masih menyediakan pepohonan bagi bajing tersebut. Jika tidak, mereka tak mungkin sembunyi dan beranak pinak di langit-langit rumah seperti tikus kan? Keluarga besar bajing itu masih meiliki dunia hutannya sendiri, meski hutan yang tentunya sudah jauh berbeda: ya, sebuah hutan urban.  Memang ada pohon, tiang listrik, dan macam-macam lagi—toh setiap pohon memang bermakna penting, karena pohon tidak lagi sekadar pohon, melainkan tempat burung-burung berdatangan, berkicau, bahkan kadang bersarang dan bertelur di situ.  Semut, serangga, ulat dan kupu-kupu yang berterbangan, jangan ditanya lagi—mungkin juga ular melingkar di dahan tanpa pernah mengganggu. Bukankah kehadiran bajing, yang melintasi kabel listrik melintang jalan pada suatu pagi itu, memang tidak mewakili dirinya sendiri, melainkan sebuah dunia dari kerajaan hewan yang memang sudah lama terdesak?

Jika diijinkan merumuskan sesuatu, ada suatu makna yang dapat diberikan oleh Homo Jakartensis terhadap pemahaman atas kota yang baru: bahwa kota ini tidak sekadar belantara tanda-tanda simbolik, melainkan bagai kembali kepada pengertiannya yang organik—tempat bajing, burung-burung, kelelawar, dan serangga bertahan hidup, yang bagi mereka tanda apapun tiada bermakna.
Sumber: Tabloid Djakarta No. 110, juli 2008.

Lipstik

Lipstik

               

Suatu malam aku jatuh cinta kepada seorang penyanyi bar. Aku tak tahu mengapa aku begitu mudah jatuh cinta. Masalahku sehari-hari adalah masalah pekerjaan. Setiap hari aku bergulat untuk mencari makan. Setiap hari aku berusaha untuk tetap hidup dan tidak mati kelaparan. Setidaknya aku selalu berusaha untuk tidak menjadi pengemis. Tidak hidup dari belas kasihan orang lain.

Selama ini, wanita bagiku hanya seperti segelas air putih. Sekedar menghilangkan haus, tanpa meninggalkan kesan khusus. Itulah sebabnya, peristiwa jatuh cinta itu menjadi kejutan dalm hidupku.
Aku hanyalah seorang perantau kecil yang selalu kesepian. Satu diantara beribu-ribu perantau yang setiap hari berduyun-duyun ke Ibukota mencari pekerjaan. Aku tak tahu, menagapa banyak orang merasa harus mencari pekerjaan di Ibukota. Apakah dikota lain atau dikotanya sendiri, tidak ada lapangan pekerjaan? Bahkan, di Ibukota pun aku melihat banyak orang menganggur.

Aku hanyalah seorang perantau kecil yang terpukau oleh gemerlapnya ibukota. Sebetulnya aku bisa mengurus toko kecil milik ayahku, atau membuka rumah makan seperti saudara-saudaraku. Tapi pada suatu senja, aku pergi meninggalkan kotaku. Aku tak bisa membayangkan tubuhku tak kunjung pergi dari sana, sejak lahir sampai mati. Seorang lelaki suatu saat harus pergi dari rumahnya, mengembara.

Maka, aku pun mencari makan seadanya. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah famili yang ada di ibukota. Sekedar supaya bisa makan. Aku sering merasa, mereka tahu aku datang hanya untuk mendapatkan makan pada hari itu.  Sebetulnya aku malu, tapi apa boleh buat. Untunglah tak terlalu lama aku menganggur. Aku sempat menjadi supir mikrolet. Pernah menjadi portir, tukang sobek karcis bioskop. Bahkan, menjadi penjaga keamanan sebuah gedung.

Semua pekerjaan itu kusukai karena berlangsung malam hari. Aku selalu merasa tersiksa kalau harus bangun pagi. Itulah sebabnya, aku memilih pekerjaan malam hari. Kupikir diriku cukup beruntung karena masih bisa memilih.  Aku tidak terpaksa menjadi polisi lalu lintas misalnya, yang sibuk meniup peluit dibawah terik matahari. Apalagi, akhirnya aku mendapat pekerjaan yang paling cocok dengan bakatku. Aku kini menjadi bartender, tukang campur minuman keras di bar.

Begitulah riwayat hidupku secara singkat. Sampai suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Sebetulnya aku sudah beberapa kali jatuh cinta sebelum ini. Memang aku tak tahu persis, apa bedanya jatuh cinta dengan perasaan ingin menggumuli seorang wanita karena kesepian. Tapi, baiklah, untuk sementara disebut saja begitu. Ketika masih menjadi supir mikrolet, aku merasa jatuh cinta pada seorang janda pemilik warung. Tapi, aku tak pernah berterus terang.  Aku tahu, hampir semua supir mikrolet yang biasa makan di warung itu pernah menyatakan cinta padanya. Dan wanita itu selalu menjawab, ia menyukai lelaki itu juga. Ini kudengar dari setiap sopir yang bercerita padaku. Cintaku tak luntur karena itu. Malah aku makin mengaguminya. Betapa seorang wanita menjual cinta untuk hidupnya. Alangkah besarnya hidup.

Ketika bekerja sebagai tukang sobek karcis bioskop, aku berpacaran dengan seorang rekan. Tugasnya mengantar penonton ke bangku-bangku, sesuai dengan nomor yang tertera pada karcis mereka. Ia selalu membawa senter kemana-mana. Kalau film sudah main dan ada penonton terlambat, sorot lampu senternya berkelebatan dalam gelap, menuntun penonton yang tertatih-tatih dan meraba-raba dalam gelap.  Kami sering berpeluk-pelukan dalam gelap diantara bangku-bangku yang kosong. Tapi, rasanya aku tidak serius dengan dia. Aku memacari dia hanya untuk memuaskan kebutuhan tubuhku saja. Kupikir, ia pun bersikap seperti itu. Antara kami telah terjadi barter yang adil. Tak ada cinta. Toh aku masih selalu terkenang kehangatanya. Bagaimana roknya bisa tersibak-sibak menggairahkan ketika film sedang seru-serunya dan tak seorang penonton pun memperhatikan bangku-bangku yang kosong dimana kami saling berpeluk dan meraba dalam kegelapan.

Begitulah. Suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Kejadiannya begitu singkat. Pintu terbuka. Ia muncul. Aku melihatnya. Dan langsung jatuh cinta.

Ia penyanyi baru di bar apocalypse ini. Ia datang dari monte carlo, bar sebelah.  Pada malam itu ia harus membawakan sebuah lagu, khusus didengarkan Bos untuk menentukan ia bisa diterima atau tidak. Waktu memegang mikrofon, aku sudah yakin ia akan diterima. Ia sangat mengesankan. Bukan hanya suaranya yang bagus. Atau caranya membawakan lagu yang menarik. Aku merasa ada semacam pesona padanya yang mebuat orang mudah jatuh cinta. Dan aku pun segera tahu, bukan hanya aku yang jatuh cinta padanya malam itu. Aku masih ingat kalimat pertama nyanyianya, sampai bertahun-tahun kemudian.

The falling leaves
drift by the window[1]

Aku tergetar  dan terpesona. Sampai berminggu-minggu kemudian aku mencoba mengusir perasaan itu. Tapi, aku cepat menyerah. Aku tak bisa berhenti mengaguminya, meskipun aku tak pernah berbicara kepadanya. Maklumlah, aku hanya seorang bartender, tukang campur minuman. Penyanyi bar kadang-kadang kelewat angkuh dan tinggi hati, meskipun kami sama-sama kecoak. Penyanyi bar biasa merasa lebih tinggi derajatnya dari waitress, yang mondar-mandir membawakan minuman. Juga merasa lebih tinggi dari bar-girl, yang kerjannya menemani tamu-tamu minum. Tentu ia akn merasa jauh lebih tinggi pula dari massage-girl, para pemijat yang menjual pula tubuhnya di lantai atas.

Aku mencintainya dengan diam-diam, meskipun penyanyi itu hanya menegurku jika minta minuman. Kadang-kadang bahkan ia tidak menegur. Hanya menyebut nama minuman. Dan aku merasa harus tahu diri untuk tidak tersinggung. Apalagi aku sangat mengaguminya.

Aku sering memperhatikannya diam-diam, bila ia duduk di kursi bar yang tinggi itu, dan mendekatkan gelas ke mulutnya yang indah. Bibirnya yang disaput lipstik merah menyala berpadu dengan kecemerlangan gelas yang berkilat karena gebyar cahaya dari panggung. Aku selalu melihat adegan itu seperti menyaksikan pemandangan yang indah. Penyanyi itu akan minum perlahan-lahan, seolah jatuh dari kebisingan band yang mengentak ruangan. Ia senang memperhatikan embun pada dinding gelas. Tampaknya ia menemukan keindahan pada bintik-bintik embun digelas yang mengandung cahaya itu. Seperti aku menemukan keindahan setiap kali menatapnya. Namun, puncak keindahan itu ketika ia meletakkan gelas, menatapnya, dan tersenyum melihat lipstik pada bibir gelas.

 

———————-

[1] Lagu The Autumn Leaves menjadi sangat terkenal setelah dibawakan Nat King Cole. Gubahan Joseph Kosma itu liriknya tertulis dalam dua versi, yang bahasa inggris oleh Johnny Mercer, dan yang bahasa perancis oleh Jacques Prevert. Catatan produksi: Enoch Et Cie / Horley Music Co. USA/ASCAP
Syair lengkap:
The falling leaves drift by the window
The autumn leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sun-burned hands I used to hold
Since you went away the days grow long
And soon Ill hear old winters song
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 357 pengikut lainnya.