Musim Hujan Telah Tiba

Musim Hujan Telah Tiba

 

Musim hujan sudah tiba di Jakarta. Agak “tepat waktu”, karena meski teori awamnya sudah semenjak bulan-bulan ”Mber” (September, Oktober, November, Desember) sudah terbiasa tahun-tahun ini jadwal musim tak karuan, musim kemarau di musim hujan dan musim hujan di musim kemarau. Kulawik-lawik alias terbalik-balik. Dibenarkan oleh segala macam analisis tentang bumi kita, bahwa iklim global mengalami perubahan. Alaska menghijau. Beruang es bulunya mengelabu karena pulau-pulau es mencair. Dikhawatirkan suatu zaman glesier baru berlangsung – dan dataran paling rendah tentu saja pulau-pulau sisa zaman glesier dahulu kala, termasuk indonesia. Jangan khawatir, ini cuma teori warung kopi saya yang tak pernah menamatkan artikel-artikel di majalah National Geographic sampai habis, jadi tentu mudah dipertanyakan kesahihannya.

Namun saya akan mecoba rada ketat dalam perbincangan tentang alam sebagai fenomena dari sudut pandang manusia. Misalnya musim hujan di Jakarta. Hujan yang turun di Jakarta tak pernah bisa tetap tinggal denotatif sehaja. Tidak bisa hadir sekedar sebagai air turun dari langit yang “netral”. Hanya peristiwa alam. Tidak bisa. Ia, dikehendaki, maupun tidak, harus punya makna: mungkin romantis(sepasang kekasih berjalan di bawah satu payung berjalan ditengah hujan lebat), mungkin sentimental(seorang berusia paruh baya memandang keluar jendela ketika hujan lebat sembari mengenang masa lalunya), dan yang kurang personal: banjir lagi alias lagi-lagi banjir :(. Artinya hujan selalu konotatif: bagi yang rumahnya selalu(sekali lagi: SELALU ) kebanjiran, musim hujan bukan penanda kebahagiaan; bahkan yang meskipun penderitaanya lima tahunan(dari Februari 2002 – Februari 2007) seperti yang sudah diramalkan—apalah enaknya tidur dibawah jembatan layang atau kolong jalan tol, meski ”cuma” lima tahun sekali?

img_4263i

Itulah makna hujan di jakarta. Para homo jakartaensis, terutama yang rumahnya menjadi langganan banjir, ataupun yang sudah merasa menderita luar biasa meski bencana yang diterimanya sebatas macet total karena jalan raya menjadi sungai raya, tampaknya akan bahagia sekali jika misalnya musim hujan tidak usah ada saja. Namun maksudnya tentu jika pasar swalayan tetap menyediakan segenap kebutuhan hidup sehari-hari yang dihasilkan para petani.

Ini berarti pembermaknaan Homo Jakartaensis tidak akan cocok dengan pembermaknaan para petani, yang tentunya berdoa agar hujan tiba pada saatnya, supaya panenpun berlangsung pada waktunya, sehingga harmoni kehidupan tidak terguncang. Nah, bukankah harmoni kota yang indah tanpa banjir(konsekuensinya adalah tanpa hujan, karena dijakarta kebanjiran boleh dipastikan) sangat bertentangan? Tentu saja doa para petani ini yang sebaiknya dikabulkan, karena panen di desa sebagai berkah musim hujan menentukan kelanjutan peradaban kota yang mutlak mebutuhkan logistik. Perkara kemudian sawah direndam banjir bandang dan panen gagal, itu tentu saja permainan nasib yang menambah variabel pembermaknaan atas ”peristiwa alam tanpa kehendak sendiri” bernama hujan tersebut.

Nah, benarkah hujan itu merupakan ”peristiwa alam tanpa kehendak sendiri” bernama hujan tersebut? Mungkin akan ada yang menyebutkannya sebagai ”kehendak Tuhan” – tapi option ini hanya berguna dalam diskusi yang tidak pasrah, jika kita menganggapnya sebagai salah satu penafsiran manusia terhadap peristiwa alam. Justru yang belakangan ini akan saya tekankan, bahwa hujan sebagai ”peristiwa alam tanpa kehendak sendiri” adalah juga suatuproduk penafsiran manusia terhadap peristiwa alam , yakni penafsiran dari sudut pandang ilmu pengetahuan atawa sudut pandang ilmiah, bahwa hujan itu dalam dirinya sendiri ”netral”. Misalnya, bukankah ”tanpa kehendak sendiri” yang disebut netral itu sebetulnya merupakan pembebanan makna oleh manusia pula?

Secara teoritik ada makna denotatif, makna ”sebenarnya”, yang sebetulnya mustahil, karena makna manapun yang diberikan manusia, jadi merupakan konstruksi sosial. Tepatnya makna denotatifpun merupakan produk konotasi, tetapi yang wacananya sudah begitu dominan, sehingga seolah-olah merupakan ”kebenaran” . dalam teori semiotik Roland Barthes, yang denotatif adalah tahap pertama, disusul yang konotatif sebagai tahap kedua, tetapi karena yang denotatif tak dikenali lagi, maka konotasi ini menjadi mitos. Nah mitos ini tentunya sudah menjadi ideologis, sekadar kalimat serem dari kata ”tidak netral”.

Inilah tiga tata pembermaknaan(three order of signification) yang sering jadi teori untuk skripsi, tetapi yang terlalu sering ditafsirkan sebagai ”urutan”, padahal dalam penafsira saya adalah sebagai ”tumpukan”: konotasi menutup denotasi dan menutup konotasi, sehingga mitos yang berwujud suatu ”tanda” itu(”Hujan” misalnya), dapat menjadi ajang pergulatan penafsiran(baca: pemberian makna juga), mana yang denotatif, mana yang konotatif, dan ideologi macam apa yang dominan untuk menguasai mitos ”hujan” tersebut.

Pada masa kini, ketika perbincangan lebih terbuka ketimbang zaman para dukun memegang kuasa makna, kita justru akan melihat pergulatan dalam pemberian maknanya: apakah hujan mau diberi makna ”peritiwa alam tanpa kehendak sendiri”, atau ”kehendak Tuhan”, atau juga ”peritiwa apapun seperti manusia menfsirkannya”. Musim hujan telah tiba di Jakarta …

img_4263i

Esai dimuat di Tabloid Djakarta! No. 100, 7 november 2007
Dibukukan dalam “Kentut Kosmopolitan”, Penerbit Koekoesan, 2008

Bajing Melintas di Kabel Listrik

Bajing Melintas di Kabel Listrik

 

Suatu pagi di jalan, sekilas pintas terlihat oleh saya seekor bajing berlari diatas kabel listrik tebal yang melintang di atas jalan tersebut. Jalan yang saya lalui pagi itu adalah suatu jalan tembus, dan karena namanya jalan tembus, tentu saja semua orang ingin memanfaatkannya sehingga dengan segera jalan tembus itu lantas berkategori “padat merayap”—artinya di dalam mobil yang merayap perlahan-lahan saya bisa berpikir sejenak tentang makna keberadaan bajing yang berlari lincah di atas kabel listrik itu.

Dengan menerima bajing itu sebagai binatang liar atau makhluk yang bebas, artinya bukan hewan peliharaan yang lepas, kita bisa mengandaikan bahwa bajing memang berada di lingkungan hidup semacam itu secara alamiah. Kita sering melihat bajing di perkebunan kelapa, kita sering melihat bajing di hutan atau di pepohonan liar, dan barangkali pernah kita melihat bajing yang ditangkap dan dimasukkan “kandang berputar”. Apa itu? sebuah kadang jeruji kawat tipis yang bentuknya seperti bulatan pipih, lebarnya hanya cukup untuk bajing itu—nah dasar kandang itu bisa berputar, dan sang bajing memang cenderung untuk terus menerus berlari, sehingga kita bisa melihat bajing ini berlari ditempat. Semakin cepat bajing itu berlari semakin cepat dasar kandang itu berputar, dan tentu saja bajing itu tidak sampai kemana-mana. Kasihan sekali.

Sadarkah bajing itu? Karena ia terus berlari, boleh kita anggap ia tak sadar sedang berlari di tempat, jadi ia tidak sadar sedang dipermainkan didalam kandang berputar tersebut. Sekarang kita perluas lingkungan bajing yang semula kandang, ke lingkungan tempatnya hidup dan berkembang: sebuah kompleks pemukiman kelas menengah yang padat, berdampingan dengan kampung di kiri dan kanan sebagai “sisa” dari penduduk asli yang tanah-tanahnya sudah di borong konglomerasi real estate, yang meskipun konsepnya barangkali “ekslusif” tetap tak berdaya menghalangi agar jalannya tidak di tembus sembarang orang, dan menjadi inklusif, “milik semua orang”  seperti sekarang.

Jadi saya membayangkan sebelum pengusaha real estate mebujuk, merayu, dan barangkali setengah memaksa penduduk untuk menjual tanah-tanahnya, tempat itu adalah sebuah “kampung betawi” biasa dengan pepohonannya yang khas: rambutan, durian, jambu air, mangga, dan tentu juga kelapa. Pepohonan yang tidak dimaksudkan sebagai perkebunan, tetapi memang sedah ada disana sebagai bagian dari “konsep kampung”-nya betawi yang kadang masih terlihat disana-sini: rumah satu dengan yang lain tidak saling berdempet, tanah kosong diantaranya sebagai halaman yang tak selalu berpagar, dan pada setiap tanah kosong terdapatlah pohon-pohon buah yang tidak terlalu penting milik siapa. Dibawah pohon kadang terlihat dipan bamboo tempat seorang ibu deduk menggendong bayi, atau ibu-ibu berderet menguraikan rambutnya saling mencari kutu. Ditempat yang sama, seorang lelaki biasanya langsung tidur.

Di antara pohon-pohon itulah nenek moyang bajing itu, menurut Multatuli, “naik toeron klapa mentjari penghidoepan”—karena bajing tidak bermigrasi seperti burung. Ibarat kata melalui leluhurnya bajing sudah ada di tempatnya sejak dahulu kala, tetapi saya hanya mengincar masa sebelum real estate tersebut menggusur kampung betawi. Nah, bajing yang lewat itu sendiri tentu lahir setelah kekacauan ini berlangsung, alam bagi bajing ini sekarang bukanlah dunia sejuk kampung betawi, melainkan absurditas jalan tembus di pemukiman kontemporer, yang meski dimaksud ekslusif, menjadi inklusif karena terhubungkan dengan perkampungan masa lalu yang tak lagi eksotik melainkan urban: penuh kabel listrik, antena parabola, dan pemuda-pemuda punk rock bergitar yang rambutnya  ajaib, yang cuma bisa memandang perempuan cantik menyetir Audi—boro-boro memacarinya, sementara di belakangnya menggeram-geram mobil tinja .

Betatapun,dunia absud ini masih menyediakan pepohonan bagi bajing tersebut. Jika tidak, mereka tak mungkin sembunyi dan beranak pinak di langit-langit rumah seperti tikus kan? Keluarga besar bajing itu masih meiliki dunia hutannya sendiri, meski hutan yang tentunya sudah jauh berbeda: ya, sebuah hutan urban.  Memang ada pohon, tiang listrik, dan macam-macam lagi—toh setiap pohon memang bermakna penting, karena pohon tidak lagi sekadar pohon, melainkan tempat burung-burung berdatangan, berkicau, bahkan kadang bersarang dan bertelur di situ.  Semut, serangga, ulat dan kupu-kupu yang berterbangan, jangan ditanya lagi—mungkin juga ular melingkar di dahan tanpa pernah mengganggu. Bukankah kehadiran bajing, yang melintasi kabel listrik melintang jalan pada suatu pagi itu, memang tidak mewakili dirinya sendiri, melainkan sebuah dunia dari kerajaan hewan yang memang sudah lama terdesak?

Jika diijinkan merumuskan sesuatu, ada suatu makna yang dapat diberikan oleh Homo Jakartensis terhadap pemahaman atas kota yang baru: bahwa kota ini tidak sekadar belantara tanda-tanda simbolik, melainkan bagai kembali kepada pengertiannya yang organik—tempat bajing, burung-burung, kelelawar, dan serangga bertahan hidup, yang bagi mereka tanda apapun tiada bermakna.
Sumber: Tabloid Djakarta No. 110, juli 2008.

Lipstik

Lipstik

               

Suatu malam aku jatuh cinta kepada seorang penyanyi bar. Aku tak tahu mengapa aku begitu mudah jatuh cinta. Masalahku sehari-hari adalah masalah pekerjaan. Setiap hari aku bergulat untuk mencari makan. Setiap hari aku berusaha untuk tetap hidup dan tidak mati kelaparan. Setidaknya aku selalu berusaha untuk tidak menjadi pengemis. Tidak hidup dari belas kasihan orang lain.

Selama ini, wanita bagiku hanya seperti segelas air putih. Sekedar menghilangkan haus, tanpa meninggalkan kesan khusus. Itulah sebabnya, peristiwa jatuh cinta itu menjadi kejutan dalm hidupku.
Aku hanyalah seorang perantau kecil yang selalu kesepian. Satu diantara beribu-ribu perantau yang setiap hari berduyun-duyun ke Ibukota mencari pekerjaan. Aku tak tahu, menagapa banyak orang merasa harus mencari pekerjaan di Ibukota. Apakah dikota lain atau dikotanya sendiri, tidak ada lapangan pekerjaan? Bahkan, di Ibukota pun aku melihat banyak orang menganggur.

Aku hanyalah seorang perantau kecil yang terpukau oleh gemerlapnya ibukota. Sebetulnya aku bisa mengurus toko kecil milik ayahku, atau membuka rumah makan seperti saudara-saudaraku. Tapi pada suatu senja, aku pergi meninggalkan kotaku. Aku tak bisa membayangkan tubuhku tak kunjung pergi dari sana, sejak lahir sampai mati. Seorang lelaki suatu saat harus pergi dari rumahnya, mengembara.

Maka, aku pun mencari makan seadanya. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah famili yang ada di ibukota. Sekedar supaya bisa makan. Aku sering merasa, mereka tahu aku datang hanya untuk mendapatkan makan pada hari itu.  Sebetulnya aku malu, tapi apa boleh buat. Untunglah tak terlalu lama aku menganggur. Aku sempat menjadi supir mikrolet. Pernah menjadi portir, tukang sobek karcis bioskop. Bahkan, menjadi penjaga keamanan sebuah gedung.

Semua pekerjaan itu kusukai karena berlangsung malam hari. Aku selalu merasa tersiksa kalau harus bangun pagi. Itulah sebabnya, aku memilih pekerjaan malam hari. Kupikir diriku cukup beruntung karena masih bisa memilih.  Aku tidak terpaksa menjadi polisi lalu lintas misalnya, yang sibuk meniup peluit dibawah terik matahari. Apalagi, akhirnya aku mendapat pekerjaan yang paling cocok dengan bakatku. Aku kini menjadi bartender, tukang campur minuman keras di bar.

Begitulah riwayat hidupku secara singkat. Sampai suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Sebetulnya aku sudah beberapa kali jatuh cinta sebelum ini. Memang aku tak tahu persis, apa bedanya jatuh cinta dengan perasaan ingin menggumuli seorang wanita karena kesepian. Tapi, baiklah, untuk sementara disebut saja begitu. Ketika masih menjadi supir mikrolet, aku merasa jatuh cinta pada seorang janda pemilik warung. Tapi, aku tak pernah berterus terang.  Aku tahu, hampir semua supir mikrolet yang biasa makan di warung itu pernah menyatakan cinta padanya. Dan wanita itu selalu menjawab, ia menyukai lelaki itu juga. Ini kudengar dari setiap sopir yang bercerita padaku. Cintaku tak luntur karena itu. Malah aku makin mengaguminya. Betapa seorang wanita menjual cinta untuk hidupnya. Alangkah besarnya hidup.

Ketika bekerja sebagai tukang sobek karcis bioskop, aku berpacaran dengan seorang rekan. Tugasnya mengantar penonton ke bangku-bangku, sesuai dengan nomor yang tertera pada karcis mereka. Ia selalu membawa senter kemana-mana. Kalau film sudah main dan ada penonton terlambat, sorot lampu senternya berkelebatan dalam gelap, menuntun penonton yang tertatih-tatih dan meraba-raba dalam gelap.  Kami sering berpeluk-pelukan dalam gelap diantara bangku-bangku yang kosong. Tapi, rasanya aku tidak serius dengan dia. Aku memacari dia hanya untuk memuaskan kebutuhan tubuhku saja. Kupikir, ia pun bersikap seperti itu. Antara kami telah terjadi barter yang adil. Tak ada cinta. Toh aku masih selalu terkenang kehangatanya. Bagaimana roknya bisa tersibak-sibak menggairahkan ketika film sedang seru-serunya dan tak seorang penonton pun memperhatikan bangku-bangku yang kosong dimana kami saling berpeluk dan meraba dalam kegelapan.

Begitulah. Suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Kejadiannya begitu singkat. Pintu terbuka. Ia muncul. Aku melihatnya. Dan langsung jatuh cinta.

Ia penyanyi baru di bar apocalypse ini. Ia datang dari monte carlo, bar sebelah.  Pada malam itu ia harus membawakan sebuah lagu, khusus didengarkan Bos untuk menentukan ia bisa diterima atau tidak. Waktu memegang mikrofon, aku sudah yakin ia akan diterima. Ia sangat mengesankan. Bukan hanya suaranya yang bagus. Atau caranya membawakan lagu yang menarik. Aku merasa ada semacam pesona padanya yang mebuat orang mudah jatuh cinta. Dan aku pun segera tahu, bukan hanya aku yang jatuh cinta padanya malam itu. Aku masih ingat kalimat pertama nyanyianya, sampai bertahun-tahun kemudian.

The falling leaves
drift by the window[1]

Aku tergetar  dan terpesona. Sampai berminggu-minggu kemudian aku mencoba mengusir perasaan itu. Tapi, aku cepat menyerah. Aku tak bisa berhenti mengaguminya, meskipun aku tak pernah berbicara kepadanya. Maklumlah, aku hanya seorang bartender, tukang campur minuman. Penyanyi bar kadang-kadang kelewat angkuh dan tinggi hati, meskipun kami sama-sama kecoak. Penyanyi bar biasa merasa lebih tinggi derajatnya dari waitress, yang mondar-mandir membawakan minuman. Juga merasa lebih tinggi dari bar-girl, yang kerjannya menemani tamu-tamu minum. Tentu ia akn merasa jauh lebih tinggi pula dari massage-girl, para pemijat yang menjual pula tubuhnya di lantai atas.

Aku mencintainya dengan diam-diam, meskipun penyanyi itu hanya menegurku jika minta minuman. Kadang-kadang bahkan ia tidak menegur. Hanya menyebut nama minuman. Dan aku merasa harus tahu diri untuk tidak tersinggung. Apalagi aku sangat mengaguminya.

Aku sering memperhatikannya diam-diam, bila ia duduk di kursi bar yang tinggi itu, dan mendekatkan gelas ke mulutnya yang indah. Bibirnya yang disaput lipstik merah menyala berpadu dengan kecemerlangan gelas yang berkilat karena gebyar cahaya dari panggung. Aku selalu melihat adegan itu seperti menyaksikan pemandangan yang indah. Penyanyi itu akan minum perlahan-lahan, seolah jatuh dari kebisingan band yang mengentak ruangan. Ia senang memperhatikan embun pada dinding gelas. Tampaknya ia menemukan keindahan pada bintik-bintik embun digelas yang mengandung cahaya itu. Seperti aku menemukan keindahan setiap kali menatapnya. Namun, puncak keindahan itu ketika ia meletakkan gelas, menatapnya, dan tersenyum melihat lipstik pada bibir gelas.

 

———————-

[1] Lagu The Autumn Leaves menjadi sangat terkenal setelah dibawakan Nat King Cole. Gubahan Joseph Kosma itu liriknya tertulis dalam dua versi, yang bahasa inggris oleh Johnny Mercer, dan yang bahasa perancis oleh Jacques Prevert. Catatan produksi: Enoch Et Cie / Horley Music Co. USA/ASCAP
Syair lengkap:
The falling leaves drift by the window
The autumn leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sun-burned hands I used to hold
Since you went away the days grow long
And soon Ill hear old winters song
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall

 

Senja dan Sajak Cinta

Senja dan Sajak Cinta

 

Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.

Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?

Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan.

Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain diatas kampung-kampung. Diatas genting-genting. Diatas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.

Ada sisa layang-layang dilangit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang mengentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu.

Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual Koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan Koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip dilangit yang bersih. Seorang wanita, entah dimana, menyapukan lipstik ke bibirnya.

Malam telah turun di Jakarta. Dimeja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta.

langit muram, kau pun tahu
angin menyapu musim, gerimis melintas
pada senja selintas, aku tak tahu
masihkah ketemu malamku

kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
dalam jejak senyap semalam
menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan

Dongeng Sebelum Tidur

Dongeng Sebelum Tidur

“Jadi, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?”

Ibunya hanya tersenyum, memandang keluar jendela. Ada rembulan di luar sana.

“Kututup gordennnya Sari?”

“Biarkan begitu Mama, aku ingin memandnag rembulan itu, seperti mereka.”

Ibunya menahan sesuatu yang hampir dikatakannya. Lantas mengecup pipi Sari.

“Selamat tidur Sari.”

“Selamat malam Mama.”

Lantas ibunya mematikan lampu, menutup pintu, meninggalkan Sari sendirian. Sari memiringkan kepalanya, matanya berkedipi-kedip memandang rembulan. Ia sama sekali tidak bisa tidur.
Malam ini cerita ibunya lain sama sekali. Barangkali karena simpanan cerita ibunya sudah habis. Dari ibunya Sari telah mendengar hampir semua cerita. Sejak berumur lima tahun, ibunya biasa bercerita sebelum tidur, karena kalau tidak, Sari tidak bisa tidur. Kini Sari sudah berumur sepuluh tahun. Sudah sekitar 1825 cerita didengarnya, dan semua menempel baik-baik di kepala Sari yang terlatih ia tidak mau mendengarkan cerita ulangan.
Ibunya, seorang wanita karier yang sibuk, sesibuk-sibuknya tetap berusaha menceritakan sebuah dongeng kepada anaknya sebelum tidur. Jika ia berada di luar kota, atau di luar negeri, ia menelpon tepat pada waktunya untuk bercerita. Kalau ia mesti mengadakan perjalanan panjang, dengan pesawat terbang semalam suntuk misalnya, ia meninggalkan dongengnya dalam rekaman. Ibunya itu bisa bercerita dengan menarik, habis dulunya suka main sandiwara sih. Sari sungguh beruntung.
Tapi setelah selama lima tahun bercerita setiap malam, persediaan ceritanya habis. Ia sudah menghabiskan kisah seribu satu malam, ia sudah mengingat-ingat sebisanya semua fable Aesop, bahkan juga cerita wayang lengkap dengan carangan-carangannya, tapi tak juga ia temukan satu saja yang belum diceritakannya kepada Sari.

“Barangkali aku sudah mulai tua,” keluhnya pada sopir.

“Ah, tua bagaimana sih Nyonya, yang menaksir juga masih banyak gitu kok.”

“Huss!”

“Bener lho, itu kata sopir-sopir temen saya.”

“Aku ini ditaksir supir-supir?”

“Bukan begitu Nyonya, sopir-sopir itu menceritakan kembali omongan tuannya.”

“Jadi yang naksir aku tuan-tuan mereka?”

“Iya!”

“Hmmhh! Orasudi!”

“Lho, siapa yang bilang harus sudi?”

“Apa mereka tidak tahu kalau aku ini punya suami?”

“Lha itu, makanya!”

“Makanya kenapa?”

“Malah kepingin!”

“O, dasar gemblung!”

“Orang Jakarta kan memang gemblung Nyonya.”

“Ah, sudahlah, yang jelas aku ini baru bingung, kehabisan cerita buat Sari. Anak itu kok ya hafal semua cerita yang sudah kuceritakan. Bingung aku. Coba, semua versi cerita Asal Mula Padi dari Jawa,Bali, Lombok, sampai irian sudah kuceritakan, aku tidak bisa mengingat cerita apa-apa lagi sekarang. Katak Hendak Jadi Lembu sudah. Burung Punguk Merindukan Bulan sudah. Calon Arang sudah. Bandung Bandawasa sudah. Sangkuriang sudah. Asal Mula Gunung Batok juga sudah. Aku sudah tidak punya cerita lagi, sudah lupa, sudh tua, apa kuputerin laser-disc saja, kuputerin Beauty and the Beast begitu?”

“Lho jangan Nyonya, dongeng seorang ibu sebelum tidur itu lain dengan laser-disc yang mekanis, diputar untuk siapapun keluarnya sama, Nyonya boleh saja canggih, tapi harus tetap jadi manusia. Bercerita kepada anak tetap harus ada hubungan personal.”

“Eh, kamu kok pinter?”

“We lha, jelek-jelek gini kan droup-out dari universitas lho Nyonya.”

“Wah universitas mana?”

“Salatiga!”

“Universitas Salatiga? Droup-out apa dipecat?”

“Aduh Nyonya, mbok jangan menyindir.”

“Siapa yang menyindir? Kamu yang merasa sendiri kok!”

Sebelum tiba di rumah, sopir yang jebolan universitas itu berhasil meyakinkan ia punya majikan, agar mengarang saja cerita untuk Sari. Ibu Sari setuju. Masalahnya, ia tidak merassa bisa mengarang. Pandai bercerita tidak harus berarti pandai mengarang bukan?

“Tapi aku tidak bisa mengarang.”

“Ah, kalau Cuma cerita menarik, di koran juga banyak.”

“Itu bukan cerita kan Nyonya, maksud saya juga bisa diceritakan?”

“Apa ada berita menarik di koran?”

Mobil sudah hampir sampai rumah.

“Aduh, hampir sampai, bagaimana dong?”

“Lihat saja dulu dikoran Nyonya, pasti ada saja satu dua yang bisa dibacakan.”
Melewati pintu garasi, Sari sudah menghambur sambil membawa bonekanya.

“Mama malah sekali sih? Sari sudah mengantuk nih.”

“Biasa kan? Rapat mulur, jalanan macet, tadi kan Mama sudah nelpon dari jalan.”
Ibunya menggendong Sari.

“Ayo dong mendongeng, cepetan!”

“Buka sepatu saja belum.”

Sembari masih menggendong, ibunya menyambar koran di meja. Entah koran kapan. Selintas saja disambarnya judul-judul berita. Ketika ia meletakkan Sari di tempat tidur, sambil mencopot sepatu hak tinggi, dan membuka blazer-nya, sebuah berita menempel di kepalanya. Ia masih mempertimbangkan, apakah berita itu akan disulapanya menjadi sebuah cerita.

“Cerita tentang apa sekarang Mama?”

Ibunya menghela nafas. Di manakah batas antara dongeng dan kenyataan?

“Dengarlah Sari, cerita ini dimulai dari pengakuan seorang ibu.”

Lantas ibunya membaca berita itu.
Saya sudah tinggal di sini sejak usia delapan tahun sampai memiliki tiga anak dan seorang cucu. Tiba-tiba saja, pada usia yang ke-39 sekarang ini jadi setelah 31 tahun hidup di sini, setelah saya makin merasa bahwa inilah kampong halaman saya, kampong halaman anak-anak dan cucu saya, saya dipaksa pindah dan hanya diberi uang Rp 400.000. Siapa yang tidak marah diperlakukan seperti itu? Adilkah ganti rugi dengan nilai sekecil itu?
Saya bersama suami saya memang tinggal diatas tanah negara. Tapi saya punya KTP, taat membayar PBB dan tak pernah melawan pemerintah. Kini, setelah rumah saya terbakar dan dibongkar, setelah barang-barang kami rusak semua, kami tidak memiliki apa-apa lagi. Seharusnya mereka tidak membiarkan kami seperti ini. Kami juga tidak tahu harus kemana setelah ini.

Apa yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah mengungsikan sebagian anak-anak saya. Saya kini menunggu kepastian. Uang Rp 400.000 untuk kontrak sebuah keluarga yang layak, sangat tidak cukup. Uang sebesar itu hanya bisa dipakai untuk kontrak rumah alakadarnya selama tiga bulan. Ini pun kalau belum naik, dan jika uang itu hanya dipakai untuk kontrak rumah saja. Bagaimana jika kami harus menyewa truk untuk mengangkut sisa barang kami? Saya juga meragukan bisa tinggal di rumah susun. Untuk membayangkan saja belum pernah, apalagi mempercayai janji bahwa kami bisa hidup lebih baik di rumah susun itu nanti…

Lantas, ibunya mencoba bercerita berdasarkan foto-foto yang ada di koran itu, begitu asyik, sampai tak tahu betapa Sari terperangah.
Dongeng-doneng sebelum tidur yang diceritakan ibunya biasanya sangat romantis, indah, dan membayangkan suatu alam yang tenang. Tapi kini debu mengepul dalam bayangan Sari, bulldozer menggasak rumah-rumah penduduk, dalam waktu singkat satu kampong menjadi rata dengan tanah. Ibu-ibu diseret, anak-anak menangis, dan bapak-bapak berkelahi melawan petugas. Sari memejamkan mata, namun ibunya terus bercerita tentang kebakaran yang berkobar-kobar, jeritan orang-orang yang kehilangan rumah, dan terik matahari yang seakan menjadi lebih menyengat dari biasanya.

Ketika mengakhiri ceritanya, dengan gambaran matahari senja yang bulat,merah, dan besar turun perlahan-lahan di balik siluet jalan laying yang berseliweran, ibunya merasa bagai habis berlari lama sekali dan kini terengah-engah.

“Jadi, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?”

Sari masih ingat, ibunya hanya tersenyum, memandang rembulan di luar jendela, menahan sesuatu yang hampir dikatakanya, lantas mengecup pipi. Sari memandang rembulan itu. Kali ini dongeng ibunya membuat ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.

Ayahnya, yang baru pulang menjelang dini hari, terkejut melihat Sari belum tidur ketika membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Sari memandang rembulan sambil menyedot ibu jari.

“Ada apa?” Ia bertanya pada istrinya yang masih menonton CNN.

Istrinya menunjuk koran yang dibacanya tadi. Suaminya membaca selintas.

“Kamu bercerita tentang penggusuran?”

Istrinya tidak menjawab, malah balik bertanya.

“Kamu tidak akan membredelnya hanya karena membuat Sari tidak bisa tidur kan?”
Suaminya hanya mendengus. Ia menyingkap gorden, melihat rembulan yang terang di atas pohon palem.

Jakarta,1 november 1994

Seni dan Air Seni Sopir Taksi

      

Seni dan Air Seni Sopir Taksi

   

“Kalau ada bau pesing di tempat kering,

boleh jadi bekas kencing sopir taksi.”

   

Bermobil di Jakarta adalah salah satu cara tersiksa. Namun seberat apapun manusia Jakarta mengeluh, penderitaannya tidak akan seberat sopir taksi, karena kehidupan sopir taksi justru berada dalam kemacetan itu. Supaya selamat, sopir taksi melakukan pekerjaannya dengan suatu seni. Manusia Jakarta perlu AC di mobilnya, supaya baju putih lengan panjangnya tidak basah kuyup oleh keringat. Bagi sopir taksi, AC itu malah jadi siksaan, sehingga AC itu ada hanya demi service penumpang. Begitu penumpang turun, apalagi kalau malam, langsung dia matikan AC-nya, dan membuka jendela. Jangan kaget kalau Anda melambai taksi, dan masuk ke dalamnya, udaranya masih terasa “hangat”. Ini tentu karena sebelum ada penumpang, sopir kita membuka jendela dan mematikan AC. Begitulah, menyopir taksi adalah suatu seni.

Sepintas lalu kerja sopir taksi itu enak, seolah-olah cuma duduk-duduk di depan hotel atau bandara, lantas dapat penumpang. Dunianya seolah-olah hanya AC dan penumpang-penumpang kelas atas. Jelas itu keliru. Sudah berapa sopir taksi ditemukan tewas dengan pisau menancap? Kejahatan itu berasal dari penumpang jua adanya. Belum lagi betapa sering ia ditipu. “Tunggu sebentar Bang, nyalakan saja argonya,” kata seorang perempuan cantik sebelum masuk bar. Ternyata ia tak pernah keluar lagi, dan ketika dicari, menyublim tanpa wujud seperti kapur barus. Busyet. Kalau sudah begitu, sopir taksi hanya bisa gigit jari berjaing-jaing ria.
 

Paling mengenaskan kalau melihat sopir taksi terkantuk-kantuk. Saya pernah mengalami kecelakaan, karena sopir taksi yang mengantuk menghantarkan mobilnya untuk mencium moncong sebuah bis. Saya yang duduk di depan tanpa pasang seat belt, terbanting ke dashboard, sehingga copotlah tulang panggul sebelah kiri. Yeah. Puas juga menggendong tangan berbulan-bulan. Akibatnya, begitu ada sopir taksi mengantuk, saya tawarkan diri untuk menyetir. Pernah suatu pagi, sopirnya langsung setuju. Begitu saya pegang setir, ia turunkan sandaran sampai rata, langsung mendengkur. Nah, karena menyetir sendirian, selalu disangka kosong, dan terbingung-bingung melihat orang selalu melambai saya. Haha! Begitu sampai kantor, saya bangunkan dia, dan merogoh kantong… untuk membayarnya! “Terimakasih, ” katanya, “nggak apa-apa nih?” Saya terpaksa berlagak dermawan. Habis, mau bagaimana lagi?

Begitulah para sopir taksi ini keliling kota, menemui bermacam-macam manusia. Saya pernah membaca laporan seorang wartawan, bahwa ada seorang penumpang tante-tante yang merayunya untuk tidur. Hmm. Ramah betul tante seperti itu.

Tentu tak kuranglah sopir taksi yang terpaksa mengelus dada, ketika begitu banyak orang diajak penumpang dari daerah ke dalam mobilnya, bertumpuk-tumpuk besar kecil tua muda, sampai 17 orang. Sedangkan, sopir taksi yang menunggu para perempuan penghibur pulang menjelang pagi harus siap dengan dua hal : suara-suara memanaskan badan dari pasangan yang berciuman habis-habisan, atau orang muntah. Kesepian adalah pemandangan yang sering bisa kita temukan dialami sopir taksi. Dalam malam-malam berhujan, mereka bicara lewat radio taksi mereka kepada operator. Biar operator itu lelaki atau perempuan, omongan jorok tak pernah luput dilontarkan untuk mengatasi kesepian.

Benar-benar mereka pengembara jalanan, memasuki hari-hari dan malam-malam yang fana dalam kesendirian. Kalau kita teringat film Taxi Driver (Martin Scorsese, 1976), kita teringat bagaimana lampu-lampu kota membayang di kaca depan, bagai sungai cahaya dan warna yang mengalir, menghanyutkan lamunan. Sopir taksi pastilah orang yang banyak merenung dan karena itu menjadi bijak, karena pengalaman mereka macam-macam. Pernah terjadi, ada dua koran di kantong kursi belakang, Pos Kota dan Kompas. “Tergantung siapa penumpangnya,” kata sopir kita yang bekerja dengan semangat pelayanan.

    

Duduk terus raun-raun dalam mobil, membuat tubuh mereka rawan dengan aneka sakit pinggang dan ginjal, semacam kencing batu dan entah apa lagi. Akibatnya mereka harus banyak minum, berbotol-botol liter air mineral mereka tenggak setiap hari tanpa kenikmatan selain menjaga kesehatan. Dalam udara dingin karena AC, meski selalu berjaket tebal, kehendak kencing selalu sulit ditahan. Mau kencing di mana? Sangat sering kita lihat pemandangan : sopir taksi menggunakan pintu mobil sebagai penutup, demi rasa susila ketika kencing di tepi jalan. Tentu saja. Mau kencing di mana? Terlalu sedikit WC Umum di Jakarta, WC Umum yang tidak usah nebeng di masjid, hotel, atau pertokoan. WC Umum yang mandiri. Kata orang, sebuah rumah jangan dinilai dari ruang tamunya yang penuh pernik, melainkan dari dapur dan WC-nya. Nah, bagaimana dengan rumah kita yang bernama Jakarta? WC pun tak punya! Ini membuat air seni sopir taksi bertebaran di mana-mana, menguap dan membubung ke udara untuk jatuh lagi sebagai hujan di kepala kita. Haha!
 

Sumber : Majalah Djakarta! Edisi 6 2001

Jakarta Tidak Gemerlapan

Jakarta Tidak Gemerlapan

  
   

Kegemerlapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal diredamnya.

Barangkali sudah waktunya menyadari, Jakarta bukanlah kota gemerlapan seperti yang ditampilkan oleh kemasan media massa. Segitiga Emas hanyalah suatu kavling terbatas, sisanya adalah keremangan yang sia-sia berusaha mempertahankan mimpi dengan kegemerlapan semu. Kafe-kafe memang tertata dengan nyaman, dengan nama makanan yang susah diucapkan dan gaya para pemakan yang menguji coba table manner ajaran majalah-majalah gayahidup; tetapi gang-gang di belakangnya tidak menyembunyikan bau got yang mampet, dan nasib orang-orang di sekitarnya yang juga mampet. Para ekonom sering berkata betapa krisis sudah lewat, tapi itu hanya perhitungan angka. Secara konkret mereka tidak menyaksikan anak-anak berak di atas comberan di depan pintu rumah mereka, tidak menyaksikan para pemuda bertato menjadi preman di pojok jalan karena tidak ada pilihan, dan meski tangan orang-orang mengemis di jendela mobil mereka, bukankah waktu lebih baik digunakan untuk menganalisis dampak konflik Aceh terhadap perilaku bisnis?

Jakarta tidak gemerlapan, Jakarta itu kelam, dan semakin kelam karena terlalu sedikit di antara mereka yang survive mencoba berbuat sesuatu untuk lingkungan yang semakin tenggelam dalam kemiskinan berkepanjangan. Masuklah bis kota dan perhatikanlah wajah-wajah lesu darah dan kurang zat asam yang kelelahan. Tentu mereka adalah para pejuang, tapi jangan lagi menipu diri dengan mengira Jakarta kota gemerlapan, yang harus dihidupkan dengan gaya yang juga harus gemerlap tiada ketulungan. Turunlah Anda dari BMW Anda dan berjalanlah masuk gang, berhenti di masjid, dan dengarkan apa yang disebut khotbah, maka akan Anda temukan betapa keras perjuangan para pengkhotbah itu untuk memperkuat iman mereka yang tertekan oleh nasib, yang sekali lepas dari penjagaan hanya akan menjelma penjarahan. Kegemerlapan Jakarta adalah kegemerlapan yang menyakitkan, di mana banyak orang hanya bisa menyaksikan dari balik kaca benderang.

“Kami kan bekerja keras, kami berhak juga dong bersenang-senang”

Justru itulah yang menjadi pertanyaan, semua orang bekerja keras di Jakarta, tapi kenapa tidak semua orang bisa bersenang-senang? Kaum buruh bangun jam 05.00 pagi dan pulang jam 07.00 malam, setelah melaksanakannya bertahun-tahun, persentase peningkatan gaji mereka menggiriskan perasaan ? kalau dipersoalkan malah terancam pemecatan. Adapun sang juragan, hmmm, yang dipikirkannya adalah memperbesar jarak antara ongkos produksi dan harga pasaran. Karena situasi pasar biasanya di luar kekuasaan, ongkos produksi alias upah buruh yang paling mungkin ditekan ? dan itulah perjuangannya sehari-hari yang disebutnya sebagai pekerjaan.

“Upah buruh sesuai dengan standar minimum” katanya, ya sudah, minimum saja selama-lamanya, selama situasi mengizinkan. Kalau buruh berdemo, baru upah sedikit-sedikit dinaikkan. Semakin rendah upah buruh semakin baik, supaya ada cadangan ketika terjadi tuntutan : kerendahan upah merupakan strategi yang dilaksanakan dengan kesadaran, karena dari margin ongkos produksi dan harga penjualan, kaum juragan pemilik modal hidup bagai benalu penghisap darah yang menciptakan kesengsaraan, dan itulah yang disebut sebagai kerja keras sepanjang hayat dikandung badan. Bukan hanya di pabrik, tapi di mana pun ada pegawai dan juragan.

Mohon maaf Puan-puan dan Tuan-tuan, itulah struktur kapitalisme, dan struktur itu agak kurang mengenal keadilan : bahwa para pekerja keras berlari bagaikan bajing dalam kandang yang dasarnya berputar. Selama masih berada dalam struktur, perubahan nasib alias kenaikan gaji hanya merupakan soal belas kasihan, mereka yang progresif memang berjuang menuntut keadilan, tetapi itu hanyalah bagian dari permainan. Semua tuntutan kenaikan ongkos produksi sudah dicadangkan. Tak ada soal nasib manusia jadi perhatian, yang ada hanyalah strategi tawar menawar dalam perundingan. Mereka yang beruntung untuk meloncat jadi juragan, menjadi juragan taksi atau bakso, sikap mereka tetap sama dengan mereka punya bekas juragan.

Apa yang bisa dilakukan dengan sedikit uang hasil kerja keras pada akhir pekan? Bukankah masyarakat kelas bawah perlu hiburan sama dengan kaum juragan? Hiburan macam apakah kiranya yang begitu murah semurah-murahnya tapi bisa mendatangkan kegembiraan? Adakah kiranya hiburan yang begitu murah tetapi mendatangkan rasa kekayaan? Inilah yang ingin dinikmati kelas penderita dan kelas korban, sesuatu yang tampak sebagai suatu kebahagiaan. Tidakkah ini justru merupakan suatu tanda kepahitan?

Begitulah struktur ekonomi dan politik kapitalistis mempengaruhi kesehatan jiwa, dan begitukah masyarakat dikibuli oleh berbagai macam kegemerlapan : dalam kebijakan pemerintah, perusahaan, maupun apa yang disebut hiburan. Betapa semunya kegemerlapan, dan betapa pahitnya kenyataan, terutama ketika nasib bagai ditakdirkan, bukan oleh Tuhan ? tetapi struktur sosial yang dibentuk kebijakan ekonomi dan politik, yang menjadikan manusia hanya eksemplar dari apa yang disebut sumber daya atau massa, dan hanya dihargai dari segi kegunaan.

Apakah kegemerlapan Jakarta mencerminkan kegemerlapan jiwa warga kota? Saya kira tidak. Kegemerlapan Jakarta mencerminkan kepahitan yang bagaikan sia-sia diredamnya.

  

   

Sumber : Majalah Djakarta Edisi Mar 2005

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 365 pengikut lainnya.