Masalah Ideologi dalam Komik Tintin

KOMPAS Minggu, 4 Januari 2009

Masalah Ideologi dalam Komik Tintin

Seno Gumira Ajidarma

Memasuki tahun 2009, artinya 80 tahun sejak terbitnya Tintin di Tanah Soviet, wacana mutakhir tentang komik Tintin muncul dalam edisi akhir tahun 2008 mingguan analisis The Economist. Konteks pemuatan artikel itu adalah masuknya nama Steven Spielberg dan Peter Jackson sebagai calon sutradara trilogi film Tintin, yang menggunakan teknologi digital untuk menciptakan karya hibrida antara animasi dan adegan hidup. Pada tahun 1983 disebutkan, Spielberg telah mendapat opsi untuk membuat film Tintin, tetapi beberapa hari sebelum bertemu Georges Remi, penggubah Tintin ini meninggal. Tersebutlah komentar Spielberg yang terasa sebagai ”ancaman” bagi para pemuja Tintin karena memandang Tintin sebagai ”Indiana Jones untuk kanak-kanak”.

Menurut janda Remi yang sudah menikah kembali, Remi telah berpesan agar peluang diberikan kepada Spielberg dan Remi berkata, ”Tintin yang ini tak diragukan akan jadi berbeda, tetapi akan menjadi Tintin yang bagus.” Keterbukaan Georges Remi, yang dari pembalikan inisial namanya (GR menjadi RG) lebih dikenal sebagai Herge, dianggap mengejutkan, mengingat sejumlah faktor sosial historis yang telah menjadikan Tintin ”sangat Eropa” dan tidak terlalu populer di wilayah budaya Anglo-Saxon.

Fanny, janda Remi yang telah menjadi Nyonya Rodwell, mengakui risiko penggarapan Tintin oleh Hollywood itu, seperti telah diumumkan Universal Pictures pada September 2008 karena karya Herge, ”Sangat Eropa. Lebih bernuansa daripada potongan komik (comic-strip) Amerika.” Menurut Fanny lagi, gaya Amerika dalam bercerita mengancam kepekaan Eropa. Naratif Amerika disebutnya sangat dinamik, tetapi lebih mengandung kekerasan dan kecepatannya jauh lebih agresif.

Lebih dari sekadar masalah artikulasi dalam gaya bercerita, perbedaan komik Tintin dengan komik Amerika sebenarnya jauh lebih ideologis jika kita cermati faktor-faktor sosial historisnya yang juga diungkap The Economist seperti berikut:

Pada 1949 muncul ”undang- undang komik” di Perancis yang dengan maksud melindungi kanak-kanak dan remaja telah membentuk komisi yang akan mengawasi penafsiran positif terhadap undang-undang tersebut, dengan ancaman hukuman setahun penjara bagi pelanggarnya. Regulasi ini mungkin bukan penyebab keistimewaan Tintin, tetapi jelas membentuk karakter ala pramuka yang kelewat matang, persis seperti karakter Tintin. Isinya bermaksud mendorong suatu ”moral” kepahlawanan yang menghindari kekerasan, melarang penampilan kemalasan dan berbohong sebagai hal yang menarik, harus bersikap adil, berani, dan jelas tanpa seks.

Undang-undang yang pada 1950 ditambahi larangan atas prasangka etnik ini dianggap mempunyai akar ideologis yang tersusun dari ketersekutuan aneh pendukung komunis, Katolik konservatif, dan para kartunis pengangguran, yang menentukan bahwa dalam bacaan kanak-kanak Perancis mestilah terdapat nilai-nilai ”nasional”. Menurut Pascal Ory, sejarawan dari Universitas Sorbonne penulis Mickey Go Home: The de-Americanisation of The Cartoon Strip, tujuan utama undang-undang yang masih bertahan sampai hari ini tersebut adalah untuk membendung komik Amerika.

Herge yang bermasalah

Komik Tintin merupakan fenomena Eropa pasca-Perang Dunia II, tetapi seri pertamanya, Tintin di Tanah Soviet, sudah terbit 1929 di Le Petit Vingtieme, halaman suplemen kanak-kanak mingguan Vingtieme Sicle di Belgia, yang secara politis mendukung monarki, misionaris Belgia di Kongo, maupun Mussolini, serta membenci kaum ateis Bolshevik dan kapitalisme Yahudi- Amerika. Lingkungan yang tidak memberi harapan inilah yang merupakan atmosfer kelahiran Tintin sehingga reputasi Herge yang menjulang penuh dengan ”cacat etis”.

Melalui Tintin: The Complete Companion (2001), Michael Farr mencatat bagaimana terdapat prasangka ideologis kepada kaum Bolshevik dalam Tintin di Tanah Soviet, prasangka rasis dalam Tintin di Kongo (1930), maupun sikap anti-Semitisme dalam Bintang Jatuh (pada 1942 di koran Le Soir yang merupakan alat propaganda Nazi). Dalam catatan Phillippe Goddin, penulis biografi Herge yang terbit 2007, disebutkan bahwa pada 1940 pun sebetulnya sudah muncul surat kaleng yang mengecamnya karena memikat kanak-kanak Belgia dengan propaganda Jerman. Beberapa bulan kemudian Herge bahkan berpolemik mengenai masalah yang sama dengan Philippe Gerard dan membela diri dengan argumen netralitas bahwa ia tidak pro-Nazi dan tidak juga pro-Inggris.

Dalam Tintin and The Secret of Literature (2006), setelah banyak lagi ”cacat etis” Herge disebut-sebut, Tom McCarthy mencatat kalimat lain Herge dalam pembelaan dirinya ketika harus menjawab pertanyaan Numa Sadoul dalam Entretiens, ”Kalau masinis membawa kereta api dianggap semua orang sebagai normal, kenapa wartawan (yang menjalankan tugasnya) dicap pengkhianat?” Menurut McCarthy, tentu saja ini merupakan pembelaan diri yang naif karena masinis atau tukang roti (dalam masa pendudukan Nazi) tidak secara aktif membantu penguasaan pikiran dan mengobarkan kebencian ras. Tekanan atas dosa ideologis ini menjadi resmi ketika Herge dimasukkan ke dalam daftar inciviles atau bekas kolaborator yang dijauhkan dari kehidupan publik sehingga menjadi persona non grata di negerinya sendiri.

Usaha Herge kemudian, selain melakukan berbagai ”koreksi” pada cetak ulang, bahkan tak pernah menyetujui penerbitan kembali Tintin di Tanah Soviet, dalam serial Tintin selanjutnya ia menegaskan netralitasnya tersebut. Dalam Tintin dan Picaros (1976), di antara konflik Borduria yang didukung komunis dan International Banana Company yang didukung Amerika, Tintin secara politis tidak berpihak. Diusahakannya revolusi berlangsung tanpa pertumpahan darah, tidak ada pergantian penguasa, dan tidak ada pula promosi demokrasi.

The Economist menyebutkan bahwa fokus kepada masalah hukuman mati adalah suatu pendekatan Eropa agar Tintin tetap menjadi ”orang yang kepercayaannya baik” seperti sebutan Herge kepada dirinya sendiri. Terdapat hubungan antara Herge sebagai manusia yang mengecewakan dan Tintin, tokoh kreasinya yang memerangi para despot dengan bernyali; yang bersumber dari rasionalisasi ketakberdayaan sebagai suatu keasyikan Eropa. Sejarawan in-house (apa pula ini?) Herge Studios, Charles Dierick, bahkan menghubungkan kebocahan Tintin dengan posisi Belgia sebagai negara kecil yang juga harus pandai-pandai membatasi keberaniannya.

Peta bumi politik dalam Perang Dunia II berpengaruh besar kepada Tintin karena naluri politis seperti yang juga terdapat pada sebagian besar Benua Eropa. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa dunia Anglo-Saxon memiliki kenangan yang berbeda atas perang yang sama, sebagai suatu peristiwa tragis yang tidak mempermalukan maupun mengingatkan atas ketakberdayaan. Jika pembaca atau penonton Anglo-Saxon mengharapkan dari tokoh fiksi mereka sesuatu yang lebih, yang bisa mengubah keadaan dan mengalahkan musuh jahat secara total, hal itu tak dapat diberikan Tintin. Namun, justru karena itulah, menurut The Economist, Tintin menjadi pahlawan yang ”sangat Eropa”.

Masihkah Tintin mendidik?

Dalam konteks Indonesia, menurut saya, analisis di atas berguna, terutama karena informasinya atas sejumlah perkara:

Pertama bahwa Eropa dan Amerika Serikat yang sering disatukan dengan sembarangan sebagai ”Barat” saja, ternyata sungguh-sungguh berbeda; bahkan secara politis tampak betapa Anglo-Saxon seolah bukan bagian dari Eropa. Sementara posisi Tintin yang dilahirkan di Belgia, tetapi menyesuaikan diri terhadap regulasi bacaan kanak-kanak Perancis, kiranya paralel dengan kegagahberanian Tintin yang selalu dibatasi kebijakan kelewat matang ala pramuka tersebut.

Kedua, mengingat mitos komik Tintin bagi para orangtua murid sebagai ”satu-satunya komik yang boleh dibaca” bagi putra-putrinya, maka catatan di atas mengingatkan betapa tiada bacaan kanak-kanak yang steril dari pembebanan makna ideologis. Seperti bisa dilacak, Tintin sempat terlihat bersikap rasis terhadap ”bangsa Afrika”, anti-Semitis, serta melecehkan kaum Bolshevik karena berada dalam atmosfer ideologi Nazi; sementara ketika memilih bersikap netral dalam representasi konflik ”kiri” dan ”kanan” pada masa pasca-Perang Dunia II, ternyata netralitasnya berada dalam pilihan politis dan ideologis suatu posisi ketakberdayaan.

Ketiga, bahwa komik mana pun, yang paling kanak-kanak dan paling ”mendidik” sekalipun, akan selalu merupakan representasi ideologi kelompok tertentu, yang tidak perlu ditakuti karena kanak-kanak tak mungkin tumbuh ”tanpa ideologi” sama sekali. Ideologi sebagai cara memandang dunia sangat beragam dan kanak-kanak sejak lahir langsung terjerat pluralitas teks dalam wacana sebagai himpunan gagasan dan praksis sosial budaya, yang tanpa terelakkan akan membentuknya sebagai subyek sosial di dalam—bukan di luar—dunia. Juga ketika penerbit Indonesia melakukan ”saringan ideologis” dalam proses penerjemahannya, penafsiran Indonesia atas sumbernya adalah bukti betapa teks mana pun mustahil menjadi ”suci hama”.

Justru mengerikan jika kanak-kanak dicetak sebagai proyek ideologis kelompok tertentu, dengan mengarahkannya agar selalu tertutup dari kekayaan budaya di dalam dunia—karena dari sanalah akan lahir monster picik yang membahayakan umat manusia.

Seno Gumira Ajidarma Wartawan

Artikel terkait: Ideologi Komik dan Komik Ideologis (KOMPAS 30-11-2007)

 

Ideologi Komik dan Komik Ideologis

KOMPAS Minggu, 30 September 2007

Ideologi Komik dan Komik Ideologis

SENO GUMIRA AJIDARMA

Komik adalah suatu bentuk komunikasi. Cara berkomunikasi yang
memainkan gambar dan kata-kata ini tergolong muda.

Dengan patokan tahun 1896 yang diresmikan panel internasional para
pakar di Lucca, Italia, tahun 1989, melalui karya Richard Felton
Outcault, The Yellow Kid, yang karakteristiknya dianggap definitif
pada 1896 tersebut, usianya baru seratus tahun lebih.

Banyak debat tentu tentang kapan lahirnya komik (orang Indonesia suka
ngandelin relief Borobudur sebagai komik juga), tetapi orang seperti
Maurice Horn dalam 100 Years of American Newspaper Comics (1996)
memberi argumen: The Yellow Kid menandai lahirnya naratif yang
disampaikan melalui sekuen gambar, keberlanjutan watak, inklusi dialog
atau teks dalam bingkai gambar, selain pendekatan bercerita dinamis
yang akan memikat mata untuk mengikuti dari panil satu ke panil
berikutnya.

Ideologi komik

Adalah pengertian terakhir, mengenai pendekatan bercerita itu, yang
memisahkan komik secara meyakinkan dari sebagian besar naratif
bergambar abad-abad silam. Komik itu lebih dari sekadar keberuntutan
gambar, sama seperti film bukan sekadar keberuntutan foto-foto.
Argumen semacam ini memang sangat Amerika-sentris, tetapi begitulah
klaim yang ada: Karena dari Amerika Serikat itulah istilah “komik”
berasal, yakni dari buku komik (comic books), yang merupakan bundel
potongan komik (comic strip) harian dalam lembaran the funnies atau
yang lucu-lucu, karena comic memang maksudnya lucu. Dengan argumen
ini, bahkan yang selama ini dianggap “bapak komik” seperti Rodolphe
Topffer dari Swiss dengan cerita-gambarnya pada tahun 1830-an dan
1840-an pun tergusur.

Dengan kata lain, komik dipersoalkan dan akhirnya dikukuhkan sebagai
bahasa. Dalam konteks Amerika Serikat, pionir seperti Will Eisner
(1917-2005) telah melakukan eksplorasi kebahasaan ini sepanjang
kariernya. Karya awalnya pada tahun 1940-an, potongan komik The Spirit
penuh inovasi artistik, yang sebetulnya boleh dianggap sebagai inovasi
kebahasaan, tempat penemuan demi penemuan cara menyampaikan gagasan
pada gilirannya tersusun sebagai konstruksi dan gudang perbendaharaan
bahasa komik.

Ketika Eisner kemudian bergabung dengan militer dan bergulat dengan
komik pengajaran (instructional comics), tantangan kepiawaian
berbahasa agaknya berhasil ia taklukkan sehingga ketika pengabdiannya
selesai dan kembali ke dunia kreatif pada tahun 1978 dilahirkannya
karya yang untuk pertama kali berlabel novel grafis (graphic novel)
dalam A Contract With God. Seperti diketahui, setelah itu dunia komik
semakin terkukuhkan kemandirian identitasnya sebagai seni maupun bahasa.

Komik ideologis

Karya terakhir Will Eisner, The Plot: The Secret Story of The
Protocols of The Elders of Zion (2005), diberi pengantar oleh Umberto
Eco, yang menegaskan bahwa ini bukan buku komik (baca: lucu),
melainkan tragik (menyedihkan) , karena komik ini memang membongkar
konspirasi vulgar pemburukan nama Yahudi, yang celakanya berhasil
membentuk citra buruk Yahudi di mata siapa pun yang jauh dari kritis.

Dalam pengantarnya sendiri, Eisner berkata: “Inilah saat saya
meninggalkan cara bercerita grafis yang murni, dan berusaha
memanfaatkan media penuh daya ini untuk menyampaikan kepedulian
personal saya.” Artinya, kita melihat pengakuan atas suatu kepentingan
yang politis sifatnya, dalam hal ini menunjuk hidung konspirasi Eropa
sejak abad ke-19 dalam mengesahkan keburukan Yahudi.

Dalam konteks pertumbuhan bahasa komik, bolehkah kita katakan inovasi
berhenti dan eksploitasi dimulai? Dalam kalimat kredo puisi Sutardji
Calzoum Bachri, kini kata tak lagi bermain-main sebagai dirinya
sendiri, melainkan menjadi budak pengertian, meski dalam hal Eisner,
dan seluruh perbincangan ini, harus kita beri konotasi produktif:
Adalah kemapanan (tata) bahasa komik tersebut yang pada akhirnya
memungkinkannya berfungsi sebagai penyampai gagasan dengan misi
strategis. Apalagi jika bukan suatu pertempuran semesta.

Kemungkinan komik yang seperti itu juga telah dimanfaatkan komik 9/11:
Kegagalan Amerika Melindungi Warganya (Sid Jacobson & Ernie Colon,
2006; terjemahan Indonesia terbit 2007) yang bersumber dari buku The
9/11 Commission Report: Final Report of The National Commission on
Terrorist Attacks Upon The United States, yang bukan saja tebalnya 600
halaman, tetapi juga dalam kelengkapannya berarti segenap rincian
tersampaikan berikut segala kerumitannya.

Kesan semula, mungkin akan dikira komik ini bagian dari perang
ideologi mutakhir tempat hegemoni Amerika Serikat mengalami resistensi
terorisme. Posisi kesetimbangan itu belum berubah, bahwa karena ada
yang hegemonik maka ada yang harus melawan, tetapi dalam kenyataannya
komik Amerika Serikat ini menjadi kritik dan pembongkaran terbuka atas
mitos Amerika Serikat itu sendiri sebagai negara adidaya.

Negara dengan persenjataan militer terkuat di muka bumi ternyata
pertahanannya sangat lemah terhadap bentuk perang baru yang
dilancarkan Al Qaeda, bukan karena teknologi yang kurang canggih,
melainkan kesalahan dan kelengahan manusia, yang terbukti berakibat
fatal. Indikasi ke arah penabrakan pesawat ke Menara Kembar itu
sebetulnya sudah terendus berdasarkan data intelijen, tetapi tidak
seorang pun berpikir akan mungkin dilakukan. Tidak salah jika
dikatakan, peristiwa 9/11 itu mengatasi imajinasi.

Komik ini berhasil menerjemahkan secara efisien segenap laporan komisi
yang rinci, lengkap, dan rumit, menjadi “cerita bergambar” yang mudah
dibaca; yang tentu saja merupakan tujuannya. Perbincangan ini tidak
akan menyiasati kebijakan politiknya, tetapi mengingatkan betapa
kemapanan bahasa komik—dalam hal ini komik Amerika Serikat—telah
menjadikannya media yang sungguh efektif dalam berbagai perjuangan
ideologis di seluruh dunia. Setidaknya dua komik ini, The Plot dan
9/11, menjadi bukti bahwa pemanfaatannnya berfungsi: Siapa pun yang
membacanya sulit membantah bahwa segala kejahatan serta keburukan
bangsa Yahudi maupun kedahsyatan Amerika dalam pertahanan militer
maupun sipil ternyata hanya mitos.

Dalam hal Yahudi, tertunjukkan dokumen Dialogue in Hell (Maurice Joly,
1864) yang merupakan dialog imajiner antara Machiavelli dan
Montesquieu, yang “dipindahkan” dengan sangat kentara untuk menjadi
“dokumen Zionisme” oleh Mathieu Golovinski pada 1898 dan
dipublikasikan pertama kali untuk kepentingan aristokrasi Rusia pada
1905. Kelak, rezim Nazi di bawah Hitler dengan senang hati memercayai,
menerjemahkan, dan menyebarluaskannya sebagai “kebenaran”.

Dalam hal Amerika Serikat, terdapat contoh sederhana: Seluruh sistem
evakuasi gedung WTC itu ternyata tak berfungsi. Jadi, tanpa ditabrak
pesawat pun, kedua gedung itu sudah bersituasi rawan. Tersiratnya
aspek penyadaran pertahanan sipil, bukannya militer—dalam pengertian
menyerang pikiran terorisme itu sendiri, yang akan membatalkan segala
serangan, sayang sekali tertelan berbagai aspek militer dan intelijen.

Menarik disadari kontramitos ini tercapai oleh kemapanan bahasa, yang
dalam dirinya adalah produk suatu mitos pula. Ini berarti yang bermain
di sini adalah perjuangan konotasi, karena bahasa memang tidak lagi
menjadi dirinya sendiri. Bahasa telah menjadi pesuruh ideologi yang
menerjemahkan dirinya sebagai konotasi, sehingga mitos kemapanan
bahasa komik berhasil termanfaatkan sebagai kontramitos. Perbedaan
mitos dan kontramitos hanyalah perbedaan konotasi—dan konotasi adalah
representasi kepentingan ideologis. Ini berarti koran (dan teks apa
pun) harus dibaca dengan hati-hati!

Seno Gumira Ajidarma Wartawan

Menjual Komik Indonesia – Paham dan Salah Paham

sumber: http://kompas.com/kompas-cetak/0011/05/SENI/paha18.htm

Menjual Komik Indonesia
Paham dan Salah Paham

Oleh Seno Gumira Ajidarma

<!–[if !vml]–><!–[endif]–> 

 

DALAM perbincangan tentang komik Indonesia mutakhir, bisa dipastikan terjumpai sejumlah pendapat seperti berikut: (1) Pasar komik Indonesia telah direbut oleh komik Jepang; (2) Komik Indonesia tersingkir dari pasar karena kualitasnya di bawah standar; (3) Komik Indonesia perlu diterbitkan kembali untuk merebut pasar. Ketiga pendapat ini menjadikan pasar sebagai acuan utama, dengan kata lain menjadi ukuran pertumbuhan kualitas dan kuantitas pertumbuhan komik Indonesia. Apa boleh buat, apabila kaum intelektual pun melecehkan komik, jangan salahkan para pedagang yang mengambil peranan. Dampaknya tampak dalam kasus berikut.

Genre komik silat adalah suatu genre yang subur pada dekade ’70-an. Dengan istilah subur, maka dimaksudkan bahwa komik silat berhasil sampai kepada pencapaian-pencapaian kultural menakjubkan, sekaligus berhasil menumbuhkan komunitas yang memenuhi pasar, melalui jaringan persewaan dan kios-kios komik. Di antara pencapaian yang mudah diingat adalah menjulangnya dua tokoh persilatan, yakni Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes Th dan Panji Tengkorak karya Hans Jaladara. Menurut pengakuan Ganes Th, Si Buta dari Gua Hantu yang selalu membawa Wanara di bahunya dilahirkan dari persilangan dua tokoh, yakni pendekar buta Zatoichi dari sinema Jepang dan Tarzan yang selalu ditemani monyet karya Edgar Rice Burroughs. Persilangan ajaib ini diterima komunitas komik sebagai pribadi yang mandiri. Bahkan pada gilirannya, pengembaraan Si Buta keliling Indonesia ini seperti berusaha mewujudkan wawasan Nusantara. Akan halnya Panji Tengkorak, mudah ditebak gagasan yang ditimba dari genre cerita silat dalam sastra populer, dan pengolahan Hans Jaladara pun menghasilkan pribadi mandiri yang dihormati komunitas komik Indonesia.

Popularitas kedua tokoh fiktif ini dibuktikan dengan transformasi keduanya ke layar perak. Bintang film Ratno Timoer mendapatkan momentum dalam kariernya lewat Si Buta dari Gua Hantu (Lilik Sudjio, 1970) dan tak kurang dari Shan Kuang Ling Fung diundang dari Hongkong untuk memerankan Dewi Bunga dalam film Panji Tengkorak (A. Harris, 1971). Memperhatikan komik Si Buta dan Panji Tengkorak, saya berpendapat bahwa memang ada kualitas dalam kandungan keduanya, yang tidak sekadar menghibur dan mengisi waktu luang para pembacanya, melainkan juga mencerahkan. Serial Si Buta maupun Panji Tengkorak terhampar sebagai suatu dunia yang sangat mungkin ditelusuri dalam tindak pembermaknaan. Bahwa kemudian film atau sinetron yang menyusulnya tak pernah mencapai kualitas setara, memang merupakan kegagalan dalam pembermaknaan tersebut. Demikianlah, kualitasnya sebagai komik telah diakui, tapi apa yang kemudian terjadi?

***

HANS Jaladara menggubah Panji Tengkorak pada 1968. Dengan pemahaman bahwa ia menimba gagasannya dari sumber literer, imajinasi visualnya tentang adegan-adegan pertarungan melahirkan gambar koreografi pertarungan silat yang artistik. Para petarung bergerak bagaikan penari, di mana bentuk dan gerakan tubuh ditata dalam komposisi harmonis. Hans tampak tidak mengacu kepada gerak baku ilmu beladiri mana pun, melainkan setia kepada imajinasinya tentang gerakan para pendekar. Namun, ketika ia menggambar ulang Panji Tengkorak pada 1985, tokoh Panji Tengkorak yang menggembleng diri di Lembah Alas Purba melakukan gerakan kung fu yang baku, seolah diambil dari buku petunjuk. Jelas, ini pengaruh membanjirnya film kung fu pada dekade ’80-an. Kostum bajak laut yang imajinatif pada gubahan 1968, berubah sekadar menjadi bajak laut Jepang pada 1985. Terjadi degradasi yang terdapat di segala aspek dalam komik Panji Tengkorak, seperti mengurangi teks, mengosongkan ruang gambar, yang dalam pengakuan Hans merupakan pesanan penerbit. Sebegitu jauh, dalam Panji Tengkorak 1985 ini penceritaan dramatik Hans, tragedi Panji Tengkorak sebagai antihero, masih terpertahankan.

Degradasi dan kehancuran yang sebenarnya terjadi pada gambar ulang yang ketiga. Panji Tengkorak digambar ulang pada 1996 dengan gaya yang mengadopsi sepenuhnya gaya komik Jepang. Mata yang membelalak dan bidang gambar yang bersih tanpa arsiran memenuhi ruang gambar. Teks, yang sahih saja berpanjang-panjang dalam novel grafis ini, hilang sama sekali. Hans Jaladara yang jago dalam detail dan imajinasi sebuah dunia fiktif, seperti pelukis yang dikebiri. Dalam “versi Jepang” ini, kita tidak temukan lagi adegan sang pendekar bercaping yang berjalan melalui lembah sunyi, rimbun, dan berkabut, yang memberi perasaan teduh. Tiada lagi gerobak eksotik yang berjalan lambat di tengah padang rumput atau tepi jurang. Tiada juga pertarungan dalam koreografi artistik, yang berlangsung dalam siluet kehitaman membayang. Tiada lagi drama. Ibarat kata Panji Tengkorak memang cuma tinggal tengkorak, tanpa daging, apalagi nyawa yang tersisa hanyalah sebuah kostum genit dari pertunjukan yang gagal. Semua ini datang dari pengaruh dan kuasa pasar.

Dengan kata lain, terjadi suatu kesalahan kategoris dalam pengertian “mengangkat kembali komik Indonesia”. Jelas, dalam kasus Panji Tengkorak 1996 hegemoni pasar telah memaksa Hans Jaladara (dan penerbit) menerima nilai-nilai yang berkuasa di pasar, yakni, ia menggubah ulang Panji Tengkorak menjadi komik Jepang yang sedang merajai pasaran. Dalam pengertian “mengangkat kembali” ini tidak ada nilai apa pun yang diangkat, karena Panji Tengkorak 1996 ini sama sekali bukan Panji Tengkorak 1968. Kegagalannya di pasar maupun sebagai karya komik boleh dikembalikan kepada kesalahan kategoris tersebut: orientasinya adalah menjual, bukan berkarya, karena kalau toh mau digambar ulang, bukankah itu bisa saja tidak usah seperti komik Jepang? Memperingati 50 tahun Superman, enam jilid pertama komik itu digambar ulang, bahkan oleh orang lain, sebagai suatu apresiasi budaya, bukan kepentingan komersial, tapi yang tentu saja kemudian dijual dengan kiat-kiat komersial. Setelah restorasi, Borobudur dijual sebagai The New Borobudur, tapi ia masih Borobudur yang tua bukan?

***

KESALAHAN kategoris ini masih berlangsung dalam penerbitan kembali Ramayana karya R. A. Kosasih, yang dibuat tahun ’60-an dan memang merupakan salah satu monumen kebudayaan Indonesia. Seperti diketahui, dalam hal Kosasih, kita harus melakukan pemisahan antara Kosasih I dan Kosasih II. Setelah menjadi klasik dengan karya-karya dari tahun ’60-an, Kosasih menggambar kembali komik wayang di atas kertas kalkir yang licin, karena timah cetak komik lama tak memenuhi syarat lagi, dengan hasil yang sangat berbeda: tokoh-tokoh wayang kehilangan kehalusannya. Artinya, jika orang bicara tentang kedahsyatan Kosasih dengan Mahabharata dan Ramayana, itu pasti mengacu kepada Kosasih I. Ketika gambar ulang pada tahun ’70-an muncul di pasar, keunikan Kosasih masih mampu mengambil potongan kue, namun ia tetap ditempatkan sebagai Kosasih II, yang bukan saja berbeda, melainkan sama sekali dianggap bukan Kosasih I. Bahwa tidak dilakukan cetak ulang karya-karya Kosasih I saja, itu merupakan dampak satu dari dua kemungkinan: (1) memang teknologi grafika belum memungkinkan reproduksi komik lama; (2) penerbitan kembali memang hanya berorientasi dagang dan bukan pendekatan kultural, karena dalam pendekatan kultural, orisinalitas adalah penting. Bukankah buku-buku sastra lama seperti Siti Nurbaya Marah Roesli, Salah Asuhan Abdoel Moeis, dan Belenggu Armijn Pane yang bahasanya kuno juga tidak ditulis ulang supaya menyesuaikan diri dengan pembaca masa kini? Hanya ejaannya yang disesuaikan.

Penerbitan mutakhir Ramayana oleh Elex Media Komputindo adalah karya Kosasih I, dan dengan segala persoalan yang telah diperbincangkan, penerbitan itu adalah suatu prestasi. Anak-anak Indonesia mempunyai peluang untuk sama beruntungnya dengan orangtua atau kakek-nenek mereka, yang tahu cerita Mahabharata dan Ramayana di luar kepala tanpa harus mengerti bahasa daerah, dengan asyik- dan ini merupakan aset Indonesia yang penting. Toh kesalahan kategoris itu tetap berakibat.

Pertama, dibandingkan dengan edisi yang terbit tahun ’60-an, kertas isi maupun kemasan sampul edisi 2000 ini terbilang murahan dan kodian. Ramayana menjadi sekadar produk dan bukan karya. Edisi tahun ’60-an dikenal dengan tatawarna sampul-sampulnya yang gemilang, justru karena berhasil memanfaatkan keterbatasan teknologi grafika masa itu. Saya tidak mengatakan tatawarna sampul yang sekarang buruk, namun, orientasi dagang dan bukan pendekatan budaya tentu telah menghilangkan sampul-sampul lama atas nama efisiensi dan penghematan, padahal, orisinalitas akan selalu merupakan nilai lebih. Pembundelan jilid-jilid itu juga telah menghilangkan halaman-halaman judul yang unik dan artistik, yang sebetulnya merupakan bagian dari historical memories bangsa Indonesia.

Kedua, telah berlangsung vandalisme tanpa disengaja. Dalam gambar-gambar Kosasih I yang merupakan karya klasik ini, untuk tidak mengatakannya masterpiece, ditambahkan huruf-huruf yang dimaksudkan sebagai bunyi dalam adegan-adegan yang diandaikan bersuara. Ambil contoh, gambar terkenal perkelahian Hanoman dan Hanggada dalam pembangunan Tambak Situ Bandalayu. Adegan pemukulan yang oleh Kosasih I digambarkan dengan garis-garis bintang, ditambah huruf DES. Demikianlah selanjutnya, untuk adegan terbang ditambah huruf SINGGG (huruf G-nya tiga!); untuk adegan benturan BRAKK; dan untuk adegan benda dilempar ZETTT dan GERR. Bahkan perlu ditambahkan suara Hanoman tertawa HA HA HA yang hanya mengotor-ngotori gambar; gambar monyet ditambah huruf NGUH NGUH NGUH; adegan Hanoman berhadapan dengan Hanggada ditambah huruf AYO MAJU, entah siapa yang ngomong.

Jelas, pengabdian kepada semangat dagang mengandaikan, bahwa semua tambahan itu akan “memperbaiki” karya Kosasih I, sehingga akan lebih terjual dibanding kalau tidak ditambahi apa-apa. Padahal, gambar Kosasih I tentang suara pukulan atau kesiut angin yang dimaksudnya, akan memberi kebebasan kepada pembaca, untuk menafsir bunyi seperti apa yang diakibatkan angin dan pukulan. Bukan hanya DES dan SINGGG yang teracu melulu kepada efek-efek bunyi dalam budaya Jawa. Kemampuan isomorfik, melihat gambar sebagai suara dengan cara bermiripan, sudah ada dalam diri manusia tanpa harus dijelas-jelaskan lagi. Biasanya, komik memang menuliskan bunyi, tapi Kosasih sebetulnya telah membebaskan pembaca dari penggiringan ke arah penafsiran budaya tertentu.

Perbuatan menambah huruf kepada gambar Kosasih I, meskipun seandainya disetujui Kosasih pribadi, merupakan suatu vandalisme. Bukan hanya karena sebuah karya budaya yang telah mengakar merupakan milik khalayak, tetapi juga bahwa semenjak postmodernisme, setiap bidang gambar seperti komik, derajatnya setara dengan karya seni manapun. Setiap bingkai gambar Kosasih I ini harus dihormati sama dengan setiap bingkai lukisan Affandi, Hendra Gunawan, maupun S.Soedjojono. Sehingga karena itu setiap tindak corat-coret di atas gambar dan lukisan itu merupakan suatu vandalisme, suatu perusakan yang secara etis merupakan kesalahan serius.

Demikianlah bagaimana kesalahan kategoris mengakibatkan suatu paham dan salah paham yang berakibat fatal dalam usaha “mengangkat kembali” komik Indonesia, karena orientasinya lebih sebagai barang dagangan dan bukan karya budaya. Jika diandaikan betapa karya budaya akan selalu kurang laku dibanding barang dagang, hal itu merupakan kesalahan kategoris yang lain lagi, karena karya budaya manapun pada dasarnya bisa dan boleh dijual dengan kiat-kiat komersial, tanpa mengorbankan karya budaya itu sendiri.

* Seno Gumira Ajidarma, wartawan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 357 pengikut lainnya.