ANAK ANAK LANGIT

ANAK ANAK LANGIT

    

Anak-anak itu tidak dilahirkan oleh seorang ibu, mereka dilahirkan oleh rahim kemiskinan. Begitu lahir mereka langsung berumur 3,5,8, atau 12 tahun. Pada saat malam gelap gulita, tanpa sepotong bulan pun dilangit, mereka muncul ke jalan raya, merayap dari dalam gorong-gorong yang berbau serba busuk dengan tubuh penuh lumpur.
Mula-mula merayap, lantas merangkak, kemudian berdiri, langsung mengulurkan tangan di perempatan jalan. Dari dalam lobang gorong-gorong itu muncul banyak sekali anak-anak kecil. Tangan mereka menguak dari dalam lobang, menyingkirkan tutup gorong-gorong dari besi, lantas melata dengan tubuh masih penuh lumpur yang menetes-netes ke aspal. Anak-anak kecilyang manis, anak-anak kecil yang matanya manis, cemerlang bak bintang kejora, tapi yang pelupuk matanya tetap saja layu. Dengan Lumpur yang mengerting dan menjadi daki yang melekat bertahun-tahun, mereka menengadahkan tangannya ke kaca-kaca jendela mobil tanpa harapan mendapatkan apapun.

Mereka mengulurkan tangan sambil mengulurkan tangan sambil mengkuyu-kuyukan wajahnya. Kadang-kadang mereka bertepuk tangan dengan mulut seolah-olah bernyanyi padahal tidak karena memang hanya mangap-mangap tanpa suara karena toh para pengemudi mobil itu tidak akan mendengar suara mereka sedangkan kalau mendengar pun juga tidak akan pernah menganggapnya indah meski hanya untuk secuil saja dari
keindahan sebuah suara yang bisa disebut indah walah mata anak-anak itu tetap saja indah seindah pada saat ketika dilahirkan dimana mereka langsung jadi pengemis yang penuh dengan tipu daya akal bulus supaya dikasihani namun mata mereka tetap mata yang murni seperti mata-mata anak-anak mana pun di seluruh pelosok bumiyang selalu memikat karena anak-anak di mana pun memang selalu murni tak peduli kelak ketika
sudah dewasa mereka akan jadi bajingan yang paling tengik paling norak paling kampungan paling busuk dan paling tidak tahu diri.

Orang-orang di dalam mobil yang memenuhi jalan itu esoknya tidak pernah tahu darimana anak-anak itu berasal. Mereka tiba-tiba saja berada di sana dengan tubuh penuh Lumpur, mengulurkan tangan meminta-minta dengan mata menghiba-hiba tapi yang tetap kelihatan hanya berpura-pura karena apabila lampu merah menjadi hijau dan mobil-mobil melaju kembali secepat kilat seperti ingin meninggalkan kenyataan anak-anak itu kembali saling bercanda dan bermain tali berguling-gulingan bagai berada di taman impian bagai berada di taman raja-raja bagai anak-anak pangeran padahal tak lebih dan tak kurang
mereka hanya berada di sebuah petak semen yang tak juga mulus malah jebol-jebol di mana lampu hijau itu berganti merah kembali.

Orang-orang di dalam mobil sudah kehabisan rasa kasihan melihat anak-anak itu. Orang-orang di dalam mobil meluncurkan kalimat-kalimat cerdas yang membenarkan bahwa tak baik mendidik anak-anak itu menjadi pengemis sambil mengeraskan volume CD Player yang melantunkan suara seorang penyanyi opera, “Quando me’n vo soletta,” sementara
anak-anak yang memukul terban dan kecrekan bikinan sendiri dari tutup-tutup botol yang dipakukan ke kayu memandang ke balik kaca dengan lapisan film-hitam 60% melihat betapa penumpang di jok belakang itu sama selali tidak menoleh dan hanya terus menerus membaca majalah The Economist.

Pada siang hari lumpur di tubuh mereka memang mongering, rontok, tapi tetap menyisakan daki yang menghitam di kulit mereka, melumut dan menghitam bagaikan tiada pernah akan hilang seperti takdir yang telah mematok nasib mereka di jalanan itu tak bisa diubah-ubah lagi meskipun mereka bisa mandi seratus kali sehari di sungai itu, sungai yang airnya mengalir pelan-pelan saja yang airnya hitam bercampur minyak dan oli hitan legam entah dari mana, mengalir pelan-pelan dengan plastik atau mayat menggenang terseok-seok tiada yang akan peduli sampai membusuk seperti bangkai kucing yang perutnya menggembung-bung-bung entah siapa dia – entah siapa dia betapa
kesepian mati sendiri tidak terkubur tidak terupacarakan meski barangkali lebih baik mati dan terbebaskan dari kesunyian jalanan yang begitu ramai tapi tiada seorangpun dari orang-orang di dalam mobil yang mampu menghayati penderitaan meski Cuma secuil karena mereka memang berusaha menghindarinya berusaha lepas lari tak ingin tak tahu
tak ingin mengerti tak sudi menatap kemiskina yang begitu kelam tapi begitu nyata tampil hadir di depan mereka mengulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba diiringi wajah lain yang menyanyi-nyanyi tak jelas sambil menepuk-nepuk tangan.

Dari balik kaca jendela dengan lapisan film-hitam 60% dan sejuk udara AC yang membuat suhu diluar semakin panas, nampak jelas anak-anak berambut merah dengan baju dekil berlubang-lubang berjalan dari satu jendela ke jendela lain tanpa terlalu banyak berharap seolah-olah mereka tidak betul-betul terlalu lapar dan hanya menjalankan peran
mereka sebagai anak-anak jalanan yang getir yang akan terus menerus berada di sana karena harus selalu ada peran itu di dunia ini karena betapa ajaib jika di dunia ini tidak ada penderitaan tidak ada kegetiran atau apapun yang membuat kebahagiaan menjadi istimewa.

Tapi kenapa anak-anak itu nampak bahagia? Mata mereka cemerlang seperti bintang kejora. Wajah mereka murni dan tanpa dosa, sampai tiba saatnya mereka merambah suatu keadaan di mana anak laki-laki akan membayar pelacur yang termurah di bawah jembatan pada umur 12 tahun dan anak perempuan akan menjadi pelacur juga pada umur 12 tahun. Hidup memberi pelajaran pada umur 12 tahun. Hidup memberi pelajaran kepada anak-anak perempuan bagaimana memanfaatkan tubuhnya dari hari ke hari
dari tahun ke tahun sampai tubuh itu tak bisa dimanfaatkan lagi menjadi rongsokan di bawah jembatan laying ditemukan orang sebagai mayat gelandangan yang sangat bisa berguna untuk dibedah dan di potong-potong sebagai bahan pelajaran mahasiswa Kedokteran. Tengkorak mereka diawetkan, jantung mereka di masukkan stoples, dan suatu saat para mahasiswa itu akan menjadi kaya raya karena pengetuan mereka
tentang susunan urat syaraf, otot, kelenjar, dan segala macam jeroan yang contohnya diambil dari mayat perempuan tak dikenal yang barangkali saja pelacur murahan terbuang yang dulunya berasal dari dalam gorong-gorong.

Di dalam gorong-gorong yang gelap, suram dan berbau bacin, anak-anak yang menunggu untuk keluar duduk berjajar-jajar menanti giliran. Mereka akan selalu ada di sana, tidak bisa dihapuskan dan di lenyapkan, makin hari malah makin banyak bermunculan dari setiap lobang gorong-gorong di seluruh kota. Begitu muncul mereka langsung
mengulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba, mereka memberi tanda betapa mereka butuh uang untuk makan hari itu saja, seolah-olah mereka, seolah-olah mereka tidak tahu bahwa mereka memang dilahirkan supaya merasa lapar, supaya menjadi pengemis, supaya menjadi bukti bahwa kemiskinan itu ada. Mereka tetap mengulurkan tangan dari satu jendela ke jendela lain sambil mencoba menengok ke dalam mobil yang berlampu diamana orang-orang membaca Koran Asian Wallstreet Journal dengan penuh keluh dan penuh kesah karena perdagangan telah menjadi sulit dan membuat utang mereka makin membengkak. Menurut kalkulasi para akuntan, mereka jauh lebih miskin dari para pengemis di luar itu, yang meski begitu busuk, hina, dan buruk rupa, sama sekali tidak punya utang. Satu sen pun tidak. Mereka menghela nafas. Hidup begitu berat, pikir mereka. Sebagai hiburan, mereka mengubah mobilnya jadi gedung opera. Dengarlah Monserrat Caballe berkumandang, “Spira sul mare esulla terra.”

* * *

Aku memikirkan semua itu sambil memandang mega-mega. Hamparan lautan kapas memutih bagaikan surga kanak-kanak yang terindah. Dari balik jendela pesawat terbang, matahari memang menjadi lain, cahayanya jatuh dengan lembut, keungu-unguan, keemas-emasan, kemerah-merahan, menyepuh bantalan mega-mega yang seolah begitu empuk dan begitu membahagiakan. Pramugari memintaku memilih minuman, dan aku memilih anggur putih dengan nama yang sulit diucapkan. Setidaknya cocok untuk
menyantap ikan dengan pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri, dengan serbet di leher, gaya makan orang-orang beradab, sambil menatap awan gemawan yang berwarna selembut yoghurt, terbentang tanpa batas, sungguh suatu pemandangan impian. Di telingaku terpasang headphone, membawaku ke gedung La Scala di Milan. Kudengar Placido Domingo bernyanyi, “L’alba vindice appar.”. Menoleh lagi ke jendela, suaranya
bagaikan berada di langit itu. Seolah-olah ia berada di sana, dengan penonton yang duduk meluruskan kaki di antara mega-mega.

Mengembara di antara awan memberikan perasaan betapa dunia ini begitu luas. Dikau bisa melompat berlari dari bantalan mega yang satu ke mega yang lain. Bisa juga membayangkan diri menunggang seekor kuda terbang, atau Lembu Andini, keluar masuk celah awan yang gemilang dalam perubahan warna yang tak tertahan dari saat ke saat, dari pesona ke pesona, dari dunia ke dunia. Langit tak pernah sama dengan bumi.
Setiap lapis yang ditembus memberikan makna dan cerita lain.

Menjelajah langit adalah mengarungi dunia cerita yang serba membentang serba menghampar dan serba menjanjikan adanya sesuatu yang lebih menarik di balik awan. Kulihat juga dirimu mengelus kucing itu, seperti seorang dewi yang berkelebat dari mimpi ke mimpi, dari sana ke sini, terlihat sebentar lantas menghilang lagi.

 “E lucevan lestele.”. Apakah kamu masih mendengarkan Puccini? Aku masih di dalam pesawat duduk diikat sabuk pengaman, menyantap makanan beradab. Langit yang ungu bersepuh merah. Kutenggak anggur putih. Lantas bersendawa. Ikan salmon yang ku telan menyublim ke udara.

Pramugari mengambil baki. Tak kulihat lagi kamu di luar jendela itu. Kemanakah kamu? Apakah kamu masih menemui aku nanti di bumi? Aku sudah terlalu biasa dengan perpisahan – semuanya selalu berakhir seperti itu. “Tutto e fenito.”. Selalu menyedihkan untuk menyadari, bahwa setiap pertemuan dalam dirinya sudah mengandung perpisahan. Awan merekah. Cahaya mengalir seperti sungai. Pesawat terbang menjadi perahu. Mega-mega bagaikan busa sabun yang mengapung. Kemudian dari balik awan mega-mega yang terbentang seperti lautan kapas menyembul anak-anak itu.

Anak-anak dengan tubuh penuh lumpur membumbung langsung dari gorong-gorong menembus mega dan mengulurkan tangannya di jendela pesawat terbang. Aku terperangah. Kulepaskan headphone. Apakah ini Cuma khayalanku? Ternyata tidak, karena para penumpang juga menjadi gempar. Di setiap jendela disisi kiri maupun kanan muncul satu, dua, sampai tiga anan yang menjulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba dan mata yang dikuyu-kuyukan, nampak sekali berpura-pura, sedangkan yang lain menepuk-nepukkan kerecekan dengan mulut mangap-mangap tak jelas menyanyi lagu apa, darimana pula anak-anak itu tahu sebuah lagu, kalalu tahu pun sudah pasti bukan opera, dan anak yang lain lagi seperti biasa hanya bermodal tepuk-tepukan tangan dengan mata yang tidak terlalu berharap karena sudah terlalu biasa menerima lambaian penolakan.

Para penumpang yang duduk di bagian tengah berebutan melepaskan sabuk pengaman dan berlompatan ke sisi kiri atau kanan jendela. Sebagian dengan cepat segera memotret dan merekamnya dengan kamera video. Para pramugari yang biasanya tegas mengatur tata tertib kini ikut histeris malah tanpa malu-malu melompati penumpang supaya bisa melongok ke jendela. Ajaib. Anak-anak dari kolong bumi yang hanya pantas hidup
dalam kekelaman dan hanya pantas hidup dalam penderitaan kini menembus mega-mega, menembus awan gemawan yang tebal melanjutkan kepengemisannya. Anak-anak itu bertebaran sepanjang langit, beterbangan kian kemari membawa terban, kercekan, atau hanya menepuk-nepukkan tangan, mengemis kepada setiap pesawat terbang yang
lalu lalang di atmosfir bumi. Mereka membubung langsung dari gorong-gorong yang bagai tiada habisnya terus menerus memuntahkan anak-anak bersimbah lumpur, membumbung langsung ke langit ke arah pesawat terbang dan mengulurkan tangan ke jendela-jendelanya. Di muka bumi anak-anak itu mengulurkan tangan dengan pandangan mata tahu bahwa akan ditolak. “Kami mengemis bukan karena butuh uang,” kata mata itu, “kami mengemis karena kami memang dilahirkan sebagai pengemis.” Maka anak-anak membumbung langsung dari gorong-gorong ke jendela setiap pesawat tanpa mengharap suatu ketika jendela itu akan dibuka dan akan menerima uang logam seratus atau dua ratus rupiah. Lagipula, mana mungkin jendela pesawat dibuka untuk memberi mereka sedekah?

Di langit yang senja, keindahan membentang bagaikan lautan syurgawi. Atap langit berkilau-kilau karena matahari yang lain. Para penumpang di dalam pesawat terbang terperangah oleh suara takbir dari langit yang menembus begitu halus ke badan pesawat. Di jendela, anak-anak yang berlumpur dengan mata yang murni itu menatap kami, dari dalam pesawat kami menatap mata anak-anak itu. Kemiskinan macam apakah kiranya yang tiada mungkin tertolong lagi dan kekayaan macam apakah kiranya yang tak pernah mungkin mengubah kemiskinan itu?

Dalam iringan takbir di langit yang menenggelamkan opera duniawi manapun, anak-anak itu membubung ke atas, melanjutkan perjalanannya. Kucoba menengok ke atas dan hanya kulihat berkas-berkas cahaya berkilauan.

Vancouver – Los Angeles, Februari 1999.

Dipublikasikan pertama kali dalam Kumpulan Cerpen: Iblis Tidak Pernah
Mati. Penerbit Bentang, 1999.

Seni dan Air Seni Sopir Taksi

      

Seni dan Air Seni Sopir Taksi

   

“Kalau ada bau pesing di tempat kering,

boleh jadi bekas kencing sopir taksi.”

   

Bermobil di Jakarta adalah salah satu cara tersiksa. Namun seberat apapun manusia Jakarta mengeluh, penderitaannya tidak akan seberat sopir taksi, karena kehidupan sopir taksi justru berada dalam kemacetan itu. Supaya selamat, sopir taksi melakukan pekerjaannya dengan suatu seni. Manusia Jakarta perlu AC di mobilnya, supaya baju putih lengan panjangnya tidak basah kuyup oleh keringat. Bagi sopir taksi, AC itu malah jadi siksaan, sehingga AC itu ada hanya demi service penumpang. Begitu penumpang turun, apalagi kalau malam, langsung dia matikan AC-nya, dan membuka jendela. Jangan kaget kalau Anda melambai taksi, dan masuk ke dalamnya, udaranya masih terasa “hangat”. Ini tentu karena sebelum ada penumpang, sopir kita membuka jendela dan mematikan AC. Begitulah, menyopir taksi adalah suatu seni.

Sepintas lalu kerja sopir taksi itu enak, seolah-olah cuma duduk-duduk di depan hotel atau bandara, lantas dapat penumpang. Dunianya seolah-olah hanya AC dan penumpang-penumpang kelas atas. Jelas itu keliru. Sudah berapa sopir taksi ditemukan tewas dengan pisau menancap? Kejahatan itu berasal dari penumpang jua adanya. Belum lagi betapa sering ia ditipu. “Tunggu sebentar Bang, nyalakan saja argonya,” kata seorang perempuan cantik sebelum masuk bar. Ternyata ia tak pernah keluar lagi, dan ketika dicari, menyublim tanpa wujud seperti kapur barus. Busyet. Kalau sudah begitu, sopir taksi hanya bisa gigit jari berjaing-jaing ria.
 

Paling mengenaskan kalau melihat sopir taksi terkantuk-kantuk. Saya pernah mengalami kecelakaan, karena sopir taksi yang mengantuk menghantarkan mobilnya untuk mencium moncong sebuah bis. Saya yang duduk di depan tanpa pasang seat belt, terbanting ke dashboard, sehingga copotlah tulang panggul sebelah kiri. Yeah. Puas juga menggendong tangan berbulan-bulan. Akibatnya, begitu ada sopir taksi mengantuk, saya tawarkan diri untuk menyetir. Pernah suatu pagi, sopirnya langsung setuju. Begitu saya pegang setir, ia turunkan sandaran sampai rata, langsung mendengkur. Nah, karena menyetir sendirian, selalu disangka kosong, dan terbingung-bingung melihat orang selalu melambai saya. Haha! Begitu sampai kantor, saya bangunkan dia, dan merogoh kantong… untuk membayarnya! “Terimakasih, ” katanya, “nggak apa-apa nih?” Saya terpaksa berlagak dermawan. Habis, mau bagaimana lagi?

Begitulah para sopir taksi ini keliling kota, menemui bermacam-macam manusia. Saya pernah membaca laporan seorang wartawan, bahwa ada seorang penumpang tante-tante yang merayunya untuk tidur. Hmm. Ramah betul tante seperti itu.

Tentu tak kuranglah sopir taksi yang terpaksa mengelus dada, ketika begitu banyak orang diajak penumpang dari daerah ke dalam mobilnya, bertumpuk-tumpuk besar kecil tua muda, sampai 17 orang. Sedangkan, sopir taksi yang menunggu para perempuan penghibur pulang menjelang pagi harus siap dengan dua hal : suara-suara memanaskan badan dari pasangan yang berciuman habis-habisan, atau orang muntah. Kesepian adalah pemandangan yang sering bisa kita temukan dialami sopir taksi. Dalam malam-malam berhujan, mereka bicara lewat radio taksi mereka kepada operator. Biar operator itu lelaki atau perempuan, omongan jorok tak pernah luput dilontarkan untuk mengatasi kesepian.

Benar-benar mereka pengembara jalanan, memasuki hari-hari dan malam-malam yang fana dalam kesendirian. Kalau kita teringat film Taxi Driver (Martin Scorsese, 1976), kita teringat bagaimana lampu-lampu kota membayang di kaca depan, bagai sungai cahaya dan warna yang mengalir, menghanyutkan lamunan. Sopir taksi pastilah orang yang banyak merenung dan karena itu menjadi bijak, karena pengalaman mereka macam-macam. Pernah terjadi, ada dua koran di kantong kursi belakang, Pos Kota dan Kompas. “Tergantung siapa penumpangnya,” kata sopir kita yang bekerja dengan semangat pelayanan.

    

Duduk terus raun-raun dalam mobil, membuat tubuh mereka rawan dengan aneka sakit pinggang dan ginjal, semacam kencing batu dan entah apa lagi. Akibatnya mereka harus banyak minum, berbotol-botol liter air mineral mereka tenggak setiap hari tanpa kenikmatan selain menjaga kesehatan. Dalam udara dingin karena AC, meski selalu berjaket tebal, kehendak kencing selalu sulit ditahan. Mau kencing di mana? Sangat sering kita lihat pemandangan : sopir taksi menggunakan pintu mobil sebagai penutup, demi rasa susila ketika kencing di tepi jalan. Tentu saja. Mau kencing di mana? Terlalu sedikit WC Umum di Jakarta, WC Umum yang tidak usah nebeng di masjid, hotel, atau pertokoan. WC Umum yang mandiri. Kata orang, sebuah rumah jangan dinilai dari ruang tamunya yang penuh pernik, melainkan dari dapur dan WC-nya. Nah, bagaimana dengan rumah kita yang bernama Jakarta? WC pun tak punya! Ini membuat air seni sopir taksi bertebaran di mana-mana, menguap dan membubung ke udara untuk jatuh lagi sebagai hujan di kepala kita. Haha!
 

Sumber : Majalah Djakarta! Edisi 6 2001

Jakarta Tidak Gemerlapan

Jakarta Tidak Gemerlapan

  
   

Kegemerlapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal diredamnya.

Barangkali sudah waktunya menyadari, Jakarta bukanlah kota gemerlapan seperti yang ditampilkan oleh kemasan media massa. Segitiga Emas hanyalah suatu kavling terbatas, sisanya adalah keremangan yang sia-sia berusaha mempertahankan mimpi dengan kegemerlapan semu. Kafe-kafe memang tertata dengan nyaman, dengan nama makanan yang susah diucapkan dan gaya para pemakan yang menguji coba table manner ajaran majalah-majalah gayahidup; tetapi gang-gang di belakangnya tidak menyembunyikan bau got yang mampet, dan nasib orang-orang di sekitarnya yang juga mampet. Para ekonom sering berkata betapa krisis sudah lewat, tapi itu hanya perhitungan angka. Secara konkret mereka tidak menyaksikan anak-anak berak di atas comberan di depan pintu rumah mereka, tidak menyaksikan para pemuda bertato menjadi preman di pojok jalan karena tidak ada pilihan, dan meski tangan orang-orang mengemis di jendela mobil mereka, bukankah waktu lebih baik digunakan untuk menganalisis dampak konflik Aceh terhadap perilaku bisnis?

Jakarta tidak gemerlapan, Jakarta itu kelam, dan semakin kelam karena terlalu sedikit di antara mereka yang survive mencoba berbuat sesuatu untuk lingkungan yang semakin tenggelam dalam kemiskinan berkepanjangan. Masuklah bis kota dan perhatikanlah wajah-wajah lesu darah dan kurang zat asam yang kelelahan. Tentu mereka adalah para pejuang, tapi jangan lagi menipu diri dengan mengira Jakarta kota gemerlapan, yang harus dihidupkan dengan gaya yang juga harus gemerlap tiada ketulungan. Turunlah Anda dari BMW Anda dan berjalanlah masuk gang, berhenti di masjid, dan dengarkan apa yang disebut khotbah, maka akan Anda temukan betapa keras perjuangan para pengkhotbah itu untuk memperkuat iman mereka yang tertekan oleh nasib, yang sekali lepas dari penjagaan hanya akan menjelma penjarahan. Kegemerlapan Jakarta adalah kegemerlapan yang menyakitkan, di mana banyak orang hanya bisa menyaksikan dari balik kaca benderang.

“Kami kan bekerja keras, kami berhak juga dong bersenang-senang”

Justru itulah yang menjadi pertanyaan, semua orang bekerja keras di Jakarta, tapi kenapa tidak semua orang bisa bersenang-senang? Kaum buruh bangun jam 05.00 pagi dan pulang jam 07.00 malam, setelah melaksanakannya bertahun-tahun, persentase peningkatan gaji mereka menggiriskan perasaan ? kalau dipersoalkan malah terancam pemecatan. Adapun sang juragan, hmmm, yang dipikirkannya adalah memperbesar jarak antara ongkos produksi dan harga pasaran. Karena situasi pasar biasanya di luar kekuasaan, ongkos produksi alias upah buruh yang paling mungkin ditekan ? dan itulah perjuangannya sehari-hari yang disebutnya sebagai pekerjaan.

“Upah buruh sesuai dengan standar minimum” katanya, ya sudah, minimum saja selama-lamanya, selama situasi mengizinkan. Kalau buruh berdemo, baru upah sedikit-sedikit dinaikkan. Semakin rendah upah buruh semakin baik, supaya ada cadangan ketika terjadi tuntutan : kerendahan upah merupakan strategi yang dilaksanakan dengan kesadaran, karena dari margin ongkos produksi dan harga penjualan, kaum juragan pemilik modal hidup bagai benalu penghisap darah yang menciptakan kesengsaraan, dan itulah yang disebut sebagai kerja keras sepanjang hayat dikandung badan. Bukan hanya di pabrik, tapi di mana pun ada pegawai dan juragan.

Mohon maaf Puan-puan dan Tuan-tuan, itulah struktur kapitalisme, dan struktur itu agak kurang mengenal keadilan : bahwa para pekerja keras berlari bagaikan bajing dalam kandang yang dasarnya berputar. Selama masih berada dalam struktur, perubahan nasib alias kenaikan gaji hanya merupakan soal belas kasihan, mereka yang progresif memang berjuang menuntut keadilan, tetapi itu hanyalah bagian dari permainan. Semua tuntutan kenaikan ongkos produksi sudah dicadangkan. Tak ada soal nasib manusia jadi perhatian, yang ada hanyalah strategi tawar menawar dalam perundingan. Mereka yang beruntung untuk meloncat jadi juragan, menjadi juragan taksi atau bakso, sikap mereka tetap sama dengan mereka punya bekas juragan.

Apa yang bisa dilakukan dengan sedikit uang hasil kerja keras pada akhir pekan? Bukankah masyarakat kelas bawah perlu hiburan sama dengan kaum juragan? Hiburan macam apakah kiranya yang begitu murah semurah-murahnya tapi bisa mendatangkan kegembiraan? Adakah kiranya hiburan yang begitu murah tetapi mendatangkan rasa kekayaan? Inilah yang ingin dinikmati kelas penderita dan kelas korban, sesuatu yang tampak sebagai suatu kebahagiaan. Tidakkah ini justru merupakan suatu tanda kepahitan?

Begitulah struktur ekonomi dan politik kapitalistis mempengaruhi kesehatan jiwa, dan begitukah masyarakat dikibuli oleh berbagai macam kegemerlapan : dalam kebijakan pemerintah, perusahaan, maupun apa yang disebut hiburan. Betapa semunya kegemerlapan, dan betapa pahitnya kenyataan, terutama ketika nasib bagai ditakdirkan, bukan oleh Tuhan ? tetapi struktur sosial yang dibentuk kebijakan ekonomi dan politik, yang menjadikan manusia hanya eksemplar dari apa yang disebut sumber daya atau massa, dan hanya dihargai dari segi kegunaan.

Apakah kegemerlapan Jakarta mencerminkan kegemerlapan jiwa warga kota? Saya kira tidak. Kegemerlapan Jakarta mencerminkan kepahitan yang bagaikan sia-sia diredamnya.

  

   

Sumber : Majalah Djakarta Edisi Mar 2005

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 340 pengikut lainnya.