Suara-Suara

Suara-Suara

 

Aku bangun terlalu pagi. Biasanya aku bangun di atas jam dua belas. Entah kenapa aku bangun secepat ini. Dibawah pintu kulihat koran. Aku segera menyambar koran itu. Langsung membuka di tempat iklan-iklan yang menawarkan pekerjaan.
Memang aku merasa cocok jadi bartender. Namun, aku tak terlalu tolol untuk terus menerus mengabdi pada pekerjaan itu. Aku datang jauh-jauh ke ibukota bukan untuk menjadi bartender, tukang campur minuman. Sebetulnya aku pernah punya keinginan jadi wartawan, tapi sayangnya aku tidak bisa menulis. Seakarang aku tidak tahu persis ingin jadi apa.

Kepalaku agak pusing. Mataku terasa pedas. Aku menelusuri huruf-huruf surat kabar yang meriwayatkan macam-macam kejadian, tapi aku tak membacanya. Aku mencari lowongan pekerjaan.
Lowongan-lowongan itu tertulis dalam bahasa inggris. Aku mengejanya dengan terbata-bata. Meskipun aku sarjana, bahasa inggrisku pas-pasan saja. Kalimat terhormat untuk kenyataan yang sama: tidak becus. Aku tahu, aku tak akan pernah menulis surat lamaran dengan bahasa inggris. Tapi, aku tahu juga apa yang kucari.

Mereka mencari manajer pemasaran. Meraka mencari insinyur pertambangan. Mereka mencari nahkoda kapal tanker. Mereka mencari akuntan. Mereka mencari sekretaris berkepribadiaan menarik. Tak ada satupun dari lowongan-lowongan itu yang membuat aku tertarik. Tapi aku sendiri tak tahu pasti apa yang kucari. Aku hanya merasa harus mencari sesuatu. Meyakinkan diriku sendiri bahwa suatu ketika nasib akan membaik.

Kuletakkan koran tanpa membaca berita-beritanya. Kubuka jendela, tapi segera kututup lagi. Aku tak tahan cahaya matahari yang menerobos secepat kilat. Mataku perih. Aku segera membaringkan diri ketempat tidur kembali. Mencoba menyambung tidur. Aku memejamkan mata lama sekali, tapi tak kunjung tertidur. Di luar terdengar suara-suara pagi. Suara-suara yang jarang kudengar.
Aku mendengar suara tukang daging. Aku mendengar suara tukang sayur. Aku mendengar suara anak-anak sekolah. Aku mendengar suara bel becak. Aku mendengar suara bajaj. Aku mendengar siaran berita. Aku mendengar suara wanita memanggil-manggil. Lantas, kadang-kadang mendadak sepi. Kadang-kadang suara itu campur aduk jadi satu. Kututup telingaku dengan bantal. Aku merasa harus tidur lagi.

Sayup-sayup suara air dari keran terdengar mengucur. Lantas, terdengar desis kompor gas. Suara-suara itu menembus mimpiku.

Ketika aku bangun lagi, hari sudah siang. Dari cahaya yang menembus kolong pintu, kuperkirakan sudah lewat tengah hari. Udara dalam kamar terasa panas. Segera kubuka jendela dan kubuka pintu. Dengan kuyu aku melangkah ke kamar mandi. Langsung berendam.

Sambil berendam aku melanjutkan tidurku. Dari balik dinding terdengar musik yang lembut. Aku memejamkan mata dan mecoba melupakan segala peristiwa.

Tubuhku tersa ringan. Air yang hangat memijat-mijat persendian. Dari balik dinding masih terdengar orang bercakap-cakap.

“Rasanya sedih sekali.”

“Kenapa?”

“Tidak tahu, tapi rasanya sedih.”

“Mesti ada sebabnya, dong.”

“Aku sudah bilang aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya sedih sekali. Coba pegang dadaku ini. Ngilu.”

“kamu, kenapa sih, bilang dong, cerita ….”

Aku menyanyi-nyanyi agar orang itu menjauh. Apakah mereka mendengar  suaraku? Tapi aku terus saja menyanyi-nyanyi. Menyanyikan lagu yang sering terdengar di apocalypse.

Look at me, I’m as helpless as a kitten up tree. [4]

 

 

———————–
[4] Misty adalah lagu wajib di kafe. Dibuat oleh erol graner(1923-1977), seorang pianis jazz yang kemudian menjadi composer, pada tahun 1950. inspirasi lagu ini muncul saat garner dalam penerbangan San fransisco – Denver, melihat pelangi dari jendala pesawat yang buram oleh embun. Lagi itu menjadi sangat popular, dan merupakan lagu yang paling banyak direkam selama dua dekade setelah lagu tercipta.

Seorang Wanita dengan Parfum OBSESSION

Seorang Wanita dengan

  

Parfum Obsession

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

                                                                                                                   

“CERITAKANLAH padaku tentang seorang wanita,” Katanya padaku

Maka, kuceritakan padanya tentang seorang wanita dengan parfum Obsession.

Sahibul Hikayat, Calvin Klein jatuh cinta sampai termehek-mehek kepada seorang wanita yang kelak akan menjadi istrinya. Untuk menuntaskan perasaanya, diciptakanlah olehnya parfum bernama Obsession. Maksudnya, barangkali, kalau ia tak bisa mengawini wanita itu, lebih baik mati. Wanita itu menjadi obsesi baginya.

Dengan latar belakang pengetahuan itu, seorang wanita selalu berparfum obsession jika sedang jatuh cinta. Ia sengaja mengoleskan obsession, yang aromanya menyergap dan menyerang, karena ia berpendapat seperti ini.

“Kalau aku jatuh cinta pada seorang lelaki, siapapun dia, aku akan berusaha mendapatkanya, dengan segala cara. Aku buka seorang wanita yang menunggu siapapun yang melamarku. Aku tidak merasa bersalah untuk menyerbu lelaki yang kucintai, apapun kata orang. Aku akan menyatakan dengan segala cara, bahwa aku mencintai dan menghendakinya – kalau tidak suka caraku, bilang saja, aku akan menjauh. Sampai ada lelaki lain yang menarik hatiku.” 

Mengahadapi wanita seperti itu, wel, well, well, bisa senang, bisa juga merepotkan. Senang karena ia seperti selalu ada setiap kali kita butuhkan. Repot, karena ia masih ada meskipun sudah tidak kita butuhkan. Padahal kita biasanya tidak tega mengatakan, “Aku tidak butuh kamu lagi.” Kita biasanya tidak berkata apa-apa, tapi menunjukkannya. Berharap sang wanita bisa mengerti sendiri. Namun, meski mengerti, seorang wanita tak selalu mau memahami. Dalam hal wanita berparfum obsession ini, ia bukan hanya bisa pura-pura tidak mengerti. Ia menolak untuk ditolak, kemudian ia menyerang. Busyet.

Wanita, perempuan, betina – ketiga istilah ini sebenarnya menyatu dalam satu makhluk: ia bisa mengasihi seperti seorang ibu, mesra bagaikan kekasih impian, dan begitu jalang ibarat pelacur yang paling menantang.

Aku bertemu dengan wanita berparfum obsession ini lewat telepon. Rupa-rupanya teleponnya nyasar.

“Jadi ini bukan nomor heweshewesheweshewes?

“Bukan, ini nomor hawushawushawushawus.

Suaranya. Suaranya itu. Wel, well, well. Suara yang sangat erotik.
Akulah yang lantas bernafsu.

“Ini Siapa?”

Ia sebutkah sebuah nama.

“Sebenarnay mau mencari siapa ?”

Ia sebutkan sebuah nama lagi.

“Kenapa tidak mencari saya saja?”

Ia bertanya. Kinai ia bertanya.

“Kamu siapa?”

Aku sebutkan sebuah nama.

“Ini kantor apa?”

Aku sebutkan sebuah nama lain.

“Kukira kita bisa ngobrol,” katanya pula.

 

Lantas ketika aku datang ke kafe yang baru dua hari dibuka itu, kulihat seorang wanita berambut medusa, dewi Yunani yang rambutnya terdiri dari sejumlah ular. Kira-kira begitulah. Roknya mini. Sepatunya seperti sepatu tentara. Kulitnya putih. Tinggi. Mengenakan kaos ketat, sehingga dadanya yang tipis tetap saja menonjol.

Ia tidak cantik, tapi juga tidak jelek. Kecantikan – bukankah ini sesuatu yang sulit? Toh aku harus mengakui, ketika ia mulai bicara, suaranya adalah bagian dari keindahan. Bukan. Suaranya bukan seuara yang merdu. Suaranya serak. Seperti ada sekat di kerongkonganya. Tapi, aneh, aku mersakan sebagai sesuatu yang indah. Percayalah, ini bukan karena aku menyukai Louis Amstrong.

Sambil mengobrol, ia suka melempar makanan ke atas kepalanya, dan ular-ular yang bergeliatan di kepalanya itu melahapnya. Mula-mula aku ngeri. Rasanya seperti mimpi buruk. Namun ini nyata. Kuhirup bau parfumnya.

“Apa parfummu?”

“Obsession.”

Aku mencatatnya baik-baik dalam ingatanku, karena aku selalu berusaha mengingat nama parfum yang keharumannya mengesankan. Baru belakangan aku menyadari seni bau ini, dan betapa kita harusa berterima kasih kepada para pencipta parfum. Dunia barangkali tidak akan menjadi lebih buruk tanpa parfum, tapi aku tidak bisa membayangkan seandainya parfum itu tidak pernah diadakan. Parfum bisa mewakili suatu citra kewanitaan, keanggunan – bahkan jika parfum itu dibuat untuk pria. Tapi sekali lagi percayalah, aku sendiri belum tega mengenakan parfum apapun.

“Bau ketiakmu enak,” ujar wanita itu, pada suatu ruang dan waktu yang lain tentu saja. Ya, tapi ularnmya itu Nek.

Sebenarnya rambut wanita ituhanya menjadi ular pada malam hari. Ketika matahri terbit, ular-ular itu raib, dan rambut wanita itu sungguh-sungguh bagus. Bila bangun tidur, rambutnya yang hitam kelam dan bergelombang sudah menggosok-ngosok hidungku. Seringkali aku bingung, mana kiranya yang lebih menraik hatiku: rambut ulanya, suaranya, atau parfumnya. Kupikir tiga-tiganya salah. Barangkali aku tertarik akrena wanita ini berani menyerang. Agresif dan tidak malu-malu.

“Kalu tidak suka padaku, katakanlah sekarang, aku tidak akan menghubungimu lagi.”

Tapi sebuah perpisahan tak harus dihubungkan dengan suka atau tidak suka.
Pertemuan, perpisahan, astaga, betapa semua ini menjadi bagian kehidupan. Kupikir aku selalu siap berpisah dengan siapapun wanita yang kutemui. Namun ketika saat perisahan itu tiba., rasanya ku tidak pernah siap.

“Kita harus berpisah, kita tidak punya masa depan,” begitulah kalimat itu selalu.

“Apakah suatu hubungan tidak ada artinya, meski tidak akan menjadi apa-apa?”

“Kamu sangat berarti bagiku, tapi untuk apa semua ini, untuk apa ?”

Aku sudah capek denga perdebatan semacam itu. Aku ingin babak-babak kehidupan semacam ituberlalu dengan cepat. Kenyataanya, babak-babak semacam itu selalu datang lagi, nyaris seperti adegan ulangan. Toh, begitulah, perpisahan tidak pernah menjadi mudah. Kupandang ular-ular yang bergeliatan di kepalanya. Aku akan kehilangan ular-ular itu.

“Apakah wanita seperti itu ada?” wanita itu memotong ceritaku.

“Wanita berkepala ular maksudnya?”

“Bukan.”

“Wanita yang menyerang?”

“Bukan.”

“Apa dong?”

“Wanita yang tidak mengharapkan apa-apa.”

Terdengar piano memainkan At a Perfume Counter. Aku menghirup udara. Rasanya bau parfum wanita ini belum kukenal.

“Kukira kamu lebih tahu”

“Tidak, aku tidak tahu.”

“Aku juga tidak.”

Wanita itu tersenyum.

“Kuteruskan ceritanya?”

“Ya,ya, sorry ku potong.”

Hubungan manusia seperti kontrak. Cepat atau lambat hubunga itu akan berakhir dengan perpisahan. Kami bertemu lewat telepon, dan kami juga bepisah lewat telepon.

“Aku tidak bisa lagi menemui kamu.”

“Kenapa?”

“Sudahlah, hubungan kita sudah berakhir.”

“Kenapa harus begitu?  Kenapa harus berakhir ?”

“Tidak apa-apa, aku hanya tidak bisa lagi.”

“Jelaskan dong – aku kan tidak mengharapkan apa-apa dari kamu. Aku tidak pernah minta kamu mengawini aku.”

“Aku tidak mau bertengkar.”

“Aku tidak mau berpisah.”

“Aku ingin berpisah.”

“Aaaahhhh!”

Astaga, sulit sekali menghadapi wanita yang menangis. Padahal dulu dia begitu sombong.

“Aku senang dengan hidupkum,” katanya “Aku senang denga piliha-pilahn yang kulakukan, dan menerima kegagalan dengan sportif. Aku punya banyak pacar, mereka semua memberikan kebahagiaan yang berbeda-beda.”

Untunglah. Untunglah aku tidak pernah mencintainya – dan tidak mungkin: karena hatiku sudah kuberikan untuk seorang wanita berparfum True Love.

Aku tidak pernah bertemu dia lagi semenjak percakapan yang mengakhiri segala hubungan itu. Aku sering merasa aneh dengan kenyataan, betapa kita bisa begitu dekat dengan seseorang, namun bila tiba saatnya berpisah, kita bisa saja tidak pernah berjumpa lagi dengan orang itu, barangkali sampai mati.

“Aku sudah bercerita tentang seorang wanita,” kataku, “Kini ceritakanlah padaku tentang dirimu.”

“Boleh, tapi aku mau minta tambah minuman, dan mau minta lagu. Kamu amu lagu apa?”

Wanita itu memsan Tequila. Kulihat penyanyi wanita itu, ia menyanyi sampil main piano di sudut yang remang. Aku merasa ingat sesuatu, tapi lupa-lupa ingat. Apakah sejarah memang ahrus tergantung pada kenangan?

“Ayo lagu apa? Biar kutulis.”

Misty.

*) Dari Novel “Jazz, Parfum & Insiden”, Yayasan Bentang Budaya, 1996 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 357 pengikut lainnya.