Ibu yang Anaknya Diculik Itu

KOMPAS Minggu, 16 November 2008

Ibu yang Anaknya Diculik Itu

Seno Gumira Ajidarma

Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Pintu, jendela, televisi, telepon, perabotan, buku, cangkir teh, dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu, masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.

Telepon berdering. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Diangkatnya ke telinga. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Ketika disambarnya pula, deringnya sudah berhenti. Ibu bergumam.

”Hmmh. Ibu Saleha, ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku, seperti Saras itu punya dua ibu. Dulu almarhum Bapak suka sinis sama Ibu Saleha, karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya tidak bisa terus menerus menunggu Satria. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat simpati,’ kata Bapak. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran sama siapapun. ’Saya selalu teringat Satria, Ibu, saya tidak bisa’,” katanya.

”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria, sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini,’ kataku, ’tapi cinta adalah soal kata hati, Saras, karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan, nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah, Saras, memang rasanya ia seperti anakku juga. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu, rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini, membantu aku membereskan kamar Satria, seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…”

Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi, dan duduk lagi di situ. Ibu terdiam, melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. Lantas melihat ke sekeliling.

”Bapak… Kursi itu, meja itu, lukisan itu, ruangan ini, ruang dan waktu yang seperti ini, kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. Seperti ini juga keadaannya, bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali, dan kami masih seperti orang menunggu. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya, kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat, apa jadinya kalau harapan saja kita tidak punya…

”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Berharap dan menunggu. Berharap dan menunggu. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. ’Satria sudah mati,’ katanya!”

Ia menggigit bibir, berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis.

”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku, bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati.”

Ibu memandang ke arah kursi Bapak.

”Pak, Bapak, kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan,’ katamu. Nanti dulu, Pak. Menerima? Menerima? Baik. Aku terima Satria sudah mati sekarang. Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik, dianiaya, dan akhirnya dibunuh.”

Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali.

”Bapak sendiri yang bilang, ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas tutup matanya dibuka. Di hadapannya, orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto-foto di atas meja. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Foto orangtuanya, foto saudara-saudaranya. Lantas orang-orang itu berkata, ’Kami tahu siapa saja keluarga Saudara.’

”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita, suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua boleh kita terima begitu saja?”

Saat Ibu menghela nafas, ruangan itu bagaikan mendadak sunyi.

”Sudah sepuluh tahun. Satria sudah mati. Bapak sudah mati. Munir juga sudah mati.”

Dipandangnya kursi Bapak lagi. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini.

”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria, menata gelas dan piring, sekarang untuk kalian berdua, setiap waktu makan tiba, padahal aku selalu makan sendirian saja. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada lagi di muka bumi ini, tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau berpikiran seperti itu?”

Sejenak Ibu terdiam, hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar.

”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua, tetapi kalau terbangun, aku masih juga terkenang-kenang kalian berdua, dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah mati. Impian, kenangan, kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi.

Jiwa terasa memberat, tapi tubuh serasa melayang-layang…”

Lantas nada ucapannya berubah sama sekali, seperti Ibu berada di dunia yang lain.

”…. jauh, jauh, ke langit, mengembara dalam kekelaman semesta, bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah, meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab, menyatu dengan jiwa terluka, luka sayatan yang panjang dan dalam, seperti palung terpanjang dan terdalam, o palung-palung luka setiap jiwa, palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya membara, membara dan menyala-nyala, berkobar menantikan saat membakar dunia…”

Ibu mendadak berhenti bicara, berbisik tertahan, memegang kepalanya, menutupi wajahnya.

”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!”

Namun ia segera melepaskan tangannya.

”Tapi…. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya, jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu.”

Nada bicaranya menjadi dingin.

”Menculik anak orang dan membunuhnya. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?”

Hanya Ibu sendiri di ruangan itu, tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya, meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri.

”Bapak… aku yakin dia ada di sana, karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana; tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang, bahwa Satria tentu sudah tidak ada. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang dan bahagia hanya dengan akalnya, tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana perasaanku bisa membuatku yakin, jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? Ya, begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!”

Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu, tempat seolah-olah ada seseorang diajaknya bicara.

”Pak, Bapak, apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?”

Namun Ibu segera menoleh ke arah lain.

”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup, dan aku masih tidak tahu apa-apa. Hanya bertanya-tanya. Mencoba menjawab sendiri. Lantas bertanya-tanya lagi. Dulu aku bisa bertanya jawab dengan Bapak. Sekarang aku bertanya jawab sendiri….

”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu, ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu, bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?”

Terdengar dentang jam tua. Tidak jelas jam berapa, tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. Ibu masih berbicara sendiri, dan hanya didengarnya sendiri.

”Bapak, kadang aku seperti melihatnya di sana, di kursi itu, membaca koran, menonton televisi, memberi komentar tentang situasi negeri. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak itu, pakai kaos oblong dan sarung, menyeruput teh panas, makan pisang goreng yang disediakan Si Mbok, lantas ngomong tentang dunia. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal, menyusul Bapak, menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun…

”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria, malah seperti lupa, sampai setahun lamanya, sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu malam entah karena apa.

”Sudah sepuluh tahun, banyak yang sudah berubah, banyak juga yang tidak pernah berubah.”

Di luar rumah, tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga, tukang bakmi langganan Satria, lewat. Ibu tampak mengenali, tapi tidak memanggilnya.

”Bagiku Satria masih selalu ada. Tidak pernah ketemu lagi memang. Tapi selalu ada. Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari luar negeri, datang menengok cuma hari Lebaran. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham, satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan, kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin orang. ’Ya enggaklah kalau ngibul,’ kataku, ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Dasar Bapak. Ada saja yang dia omongin itu.

”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Susah rasanya mengingat-ingat apapun. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. Lupa ini-itu. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…”

Ibu tersenyum geli sendiri.

”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. Ia selalu bertanya, ’Seperti apa Satria kalau masih hidup sekarang?’, atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’, atau kadang-kadang keluar amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata, sembunyi-sembunyi pula!’

Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi.

”Bapak, kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini, bagaimana dia diperlakukan, dan apa sebenarnya yang telah terjadi.

”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. Muncul dong sekali-sekali Bapak. Duduk di kursi itu seperti biasanya.

”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak, bahkan juga dalam mimpi-mimpiku, tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. Hanya lewat, tanpa senyum, seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk.

”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria.

”Ceritakanlah semua rahasia….”

Ibu masih berbicara, kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan.

”Kursi itu tetap kosong. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya?

”Rahasia sejarah. Rahasia kehidupan.

”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu.

”Ini suatu aib, suatu kejahatan, yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar….

Telepon genggam Ibu berdering. Ibu seperti tersadar dari mimpi. Ibu beranjak mengambil telepon genggam.

”Pasti ibunya Saras lagi,” gumamnya.

Tapi rupanya bukan.

”Eh, malah Si Saras.”

Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga.

”Ya, hallo… “

Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras, telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut, seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum.

”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu.

”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden!”

 

Kisah Seorang Penyadap Telepon

Kisah Seorang Penyadap Telepon

 

Hari ini aku menyadap lagi. Aku memang berasal dari keluarga penyadap. Kakekku seorang penyadap karet. Ayahku seorang penyadap nira. Aku sendiri seorang penyadap telepon. Setiap hari aku berangkat dari rumah naik bis lewat jalan tol dan begitu  tiba di kantor aku langsung melakukan penyadapan. Di mejaku sudah ada daftar orang-orang yang pembicaraannya lewat telepon harus disadap.

Waktu baru diterima dikantor ini aku pernah bertanya.

“Lho, Boss, menyadap pembicaraan orang ini kan melanggar privacy?”

“Taik kucing dengan privacy, ini semua demi keamanan Negara!”

“Jadi, kantor ini memang kantor keamanan Negara Boss?”

“Bego lu!”

Barangkali aku memang bego. Di Koran kulihat iklan menawarkan pekerjaan.

DICARI: PENYADAP BERPENGALAMAN.

Aku memang berpengalaman menyadap, tapi menyadap karet dan nira. Ternyata maksudnya menyadap telepon. Intinya, kantor ini memang sengaja mencari orang-orang bego, yang bisa disuruh menyadap pembicaraan telepon orang lain tanpa perasaan bersalah. Barangkali aku termasuk orang yang seperti itu. Buktinya aku diterima.

“Kenapa mereka harus disadap boss?”

“Kamu bego atau bego sih? Nggak usah tanya-tanya!”

Busyet. Begitu diterima aku langsung menyadap. Sampai hari ini sudah tak terhitung hasil sadapanku yang dianalisis atasanku. Mereka memisah-misahkan, mana yang harus diculik dan mana yang tidak, mana yang dibiarkan saja untuk menyelusuri komplotannya, dan mana yang bias mengkhianati teman-temannya.

***

Dikau pernah bertanya padaku.

“Enakkah menyadap telepon?”

Pekerjaan menyadap telepon ini mula-mula mengasyikkan, karena seperti masuk kedalam rahasia orang lain. Namun setelah 32 tahun, aku mulai bosan, karena pembicraan mereka seringkali tidak penting sama sekali. Dalam arti tidak selalu berisi rencana demonstrasi dan semacamnya—yang begitu-begitu malah jarang sekali. Mungkin karena mereka tahu kalau telepon mereka disadap. Jadinya aku harus mendengar masalah sehari-sehari seperti ini:

“Muhi!”

“Apa?”

“Muhi!”

“Apa!”

“Muhi!”

“Apa! Emangnya gua budeg”

“Muhi!”

“O, dasar elu yang budeg”

“Muhi!”

“Muhi! Muhi! Ape?”

“Muhi!”

Klak!

Atau yang seperti ini:

“Dalam metafisika anda, itulah pengalaman yang menentukan, yang mengizinkan untuk keluar dari ontology Heidegger sebagai ontology tentang yang Netral, ontology tanpa moral. Apakah berdasar pengalaman etis ini Anda menyusun suatu ‘etika’? Karena, etika itu terdiri dari aturan-aturan; aturan-aturan ini harus ditentukan?”

“Tugas saya bukan menyusun suatu etika; saya hanya berusaha mencari maknany. Saya tidak berpendapat bahwa setiap filsafat harus mempunyai suatu program. Adalah terutama husserl yang telah mengemukakan gagasan mengenai program filsafat. Memang benar, dapat saja disusun suatu etika dalam konteks yang saya sebutkan tadi, tapi bukan itulah tema saya yang sebenarnya.”

“Dapatkah anda menjelaskan sejauh mana penemuan etika dalam wajah itu bertolak belakang dengan filsafat-filsafat yang mementingkan totalitas?”

“Pengetahuan absolut yang telah diselidiki, dijanjikan, dan dianjurkan oleh filsafat adalah pemikiran tentang yang Sama. Dalam kebenaran, Ada itu dirangkum. Bahkan jika kebenaran dianggap tidak pernah definitive, sekurang-kurangnya ada janji tentang kebenaran yang lebih lengkap dan tepat. Tentu saja, kita sebagai makhluk berhingga pada akhirnya tidak sanggup menyelesaikan tugas pengetahuan; tetapi sejauh dapat dilaksanakan, tugas itu adalah: membuat yang Lain menjadi yang Sama. Sebaliknya, dalam ide ‘tak berhingga’ terkandunglah pikiran tentang yang tidak Sama. Saya bertolak dari ide kartesian mengenai yang tak berhingga, dimana ideatum ide ini – artinya apa yang dimaksud ole hide ini – adalah tak berhingga lebih besar daripada aktus pemikiran. Terdapat disproporsi antara …”[1]

Wah, kalau yang begini aku tidak sanggup. Sebagai penyadap telepon aku tidak biasa berpikir, aku hanya menyadap. Jangankan aku, atasankupun belum tentu paham. Makanya dia punya analisis bila ngawur, tinggal menculik saja bias keliru-keliru orang. Sama-sama bego lah!

Lagipula kalau aku berpikir, itu hanya akan membawa resiko kepada pekerjaanku.

Sedangkan mencari pekerjaan itu susah. Mau membuat kafe-tenda tidak punya modal. Aku tidak punya kepandaian lain selain menyadap telepon. Aku pernah bisa menyadap karet, aku pernah bisa menyadap nira, tapi kini sudah dimanjakan dengan menyadap telepon. Alat penyadap bernama LUHIL-X [2] itu memang praktis sekali. Tidak kebanyakan kabel aku sudah akrab dengan LUHIL-X bikinan dagadu Corporation. Sekali temple di kuping langsung beres. Aku tinggal memencet nomor-nomor yang kuinginkan.

“Muhi! Muhi!”

Aduh! Muhi lagi! Nomor-nomor yang disodorkan para informan memang tidak selalu dipakai orang yang dicurigai. Dirumah mereka kan banyak orang? seringkali yang selalu menggunakan telepon itu adalah pembantu rumah tangganya.

Bermilyar-milyar kata, kalimat, dan pengertian telah kudengar, namun semua itu tidak menjadi apa-apa. Aku sellau mendengar, tapi sebenarnya aku tidak mendengar apa-apa. Orang-orang yang dicurigai berbicara tentang penderitaan rakyat, tentang penindasan, tentang orang-orang yang diculik, diperkosa, dibunuh, dan dibakar. Semua itu telah kudengar, karena aku adalah seorang penyadap telepon. Orang-orang bicara tentang hokum, keadilan, dan kebenaran. Ah, apa itu? Sebagai penyadap telepon, aku tahu betul sisi-sisi gelap para pahlawan. Tetapi tidak ada sesuatu pun yang ingin kulakukan.

***

Sampai tiba saatnya aku harus pergi ke dokter THT.

“Tolonglah saya dok, semua kalimat yang masuk telinga saya tidak mau keluar lagi. Mereka berdengung terus menerus, kalimatnya terulang-ulang terus seperti rekaman rusak.  Biasanya suara-suara lewat dan tidak terdengar lagi setelah kalimatnya habis, kali ini tidak, mereka masuk dan tak mau diam, terus menerus dan bertumpuk-tumpuk. Sudah sebulan saya tidak bisa tidur.”

Dokter itu menganggu-angguk. Lantas mengambil senter.

“Sini kupingnya.”

Kusodorkan salah satu. Ia melihat dengan senternya. Kemudian menempelkan stetoskopnya ke telingaku.

“Busyet,” katanya.

“kenapa Dok?”

“Aku mendengar suara-suara,” ujarnya seperti main drama.

Ia nampak mendengarkan dengan asyik.

“Aku mendengar semuanya.”

“Apa Dok”

“Semuanya, semua kalimat yang telah kau dengar.”

“Jadi sekarang tahu kan Dok?”

“yeah”

Ia cabut stetoskopnya, kembali duduk ke kursinya.

“Apa sih pekerjaanya?”

“Penyadap telepon Dok.”

Dokter manggut-manggut.

“Pantes.”

“Apanya yang pantes?”

“Penyakit begini memang menimpa para penyadap telepon. Suara-suara tak mau keluar dari kupingnya. Banyak yang kemudian jadi gila.”

“Aduh! Jangan dong Dok!”

“Aku hanya bisa memberi kamu pil Budheg. ”

“Lho apa itu?”

“Pil yang membuat kamu tuli.”

“Waduh pekerjaan saya menyadap pembicaraan telepon, kok malah dibikin tuli?”

“Ya begitu kan? Kalau kebanyakan mendengar percakapan yang bukan haknya, selama 32 tahun lagi ya kamu kena hokum Karma. Kalimat-kalimat yang terampas itu menghukummu.”

“Tapi saya cuma menurut perintah atasan Dok.”

“Nah, atasanmu akan menerima hukum karma juga.” [3]

“Kupingnya berdengung juga?”

“Entahlah. Barangkali turum berok.”

“Ah, jangan main-main Dok.”

“Aku serius. Ini resep untuk Pil Budheg. Pakai Kuitansi?”

Kalau aku jadi tuli nanti, Dokter menganjurkan aku pura-pura tetap bias mendengar, dengan begitu aku tidak akan kehilangan pekerjaan. Katanya semua penyadap telepon yang berobat menuruti anjuran yang sama.

Memang itulah yang kemudian kulakukan. Setelah menelan Pil Budheg aku ajdi tuli. Tenggelam dalam keheningan abadi. Semua orang cuma kulihat mangap-mangap mulutnya, tapi aku tidak bias mendengar kata-kata mereka. Aku ettap bergaya bias mendengar. Kutempelkan LUHIL-X ke telinga dengan gaya meyakinkan. Kalau ada orang berbicara padaku, barangkali bias repot, tapi hal ini tidak pernah ku alami. Sebagai penyadap telepon, aku termasuk manusia kecoak. Tidak pernah ditegur, tidak pernah disapa, hidup dalam kesepian. Sedang aku saja tidak pernah menyapa diriku sendiri.

Aku akan masih lama bekerja seperti ini. Sebenarnya tuli, tapi tetap menulis transkrip hasil penyadapan. Atasanku percaya saja dengan semua laporanku. Aku sudah 32 tahun menjadi penyadap telepon, dan aku masih terus dibutuhkan, dengan mudah aku membuat semuanya menjadi wajar – padahal semuanya kukarang-karang saja. Aku sering tertawa dalam hati, laporan penyadapan telepon dibuat orang tuli! Hahahaha!

 

Jakarta, Sabtu 19 September 1998.

-————————————-

  1. Dialog dipinjam dari wawancara Emmanuel Levinas (1906-1995)  oleh Philippe Nemo pda 1981 dalam K.Bertens(ed.) Fenomemologi Eksistensial(PT Gramedia: Jakarta, 1987, 94 halaman), hal 87.
  2. LUHIL adalah kata sandi, yang hanya bisa dipecahkan dengan Bahasa Dagadu. Baca petunjuknya dalam dokumen saya “Jakarta Jakarta dan Insiden Dili” dalam buku Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (Bentang Budaya; Yogyakarta, 1997, 120 halaman).
  3. Hukum Karma. Pengertian dari agama Hindu, bahwa masusia tidak bias menghindar dari hukuman atas dosa-dosa yang dibuatnya.

Postmodernism and how Ajidarma used it against the New Order

Tulisan di bawah ini adalah penggalan dari salah satu bagian di dalam Tesis Strata-2 karya Andrew Charles Starr Fuller, BA, PGDip dari Melbourne Institute of Asian Languages and Societies Arts Faculty The University of Melbourne. Alih alih untuk menyelaraskan dengan nama blog, kami mengambil bagian yang berjudul The Case of Sukab. Terima kasih untuk Andy Fuller atas keaktifannya di mailing-list senogumiraajidarma@yahoogroups.com dan ijin yang diberikan untuk mempublikasikan hasil karya nya.Anda dapat memperoleh salinan lengkap Tesis ini dalam bentuk file .pdf dengan melayangkan email langsung ke penulisnya di andy.fuller@bigpond.com

The Case of Sukab

Another example of where Seno has problematised ideas regarding character, is through his frequent use of the name ‘Sukab’. Other names that Seno uses often are ‘Sarman’ and ‘Alina’ (for a female character). As ‘Sukab’ is not a standard Indonesian name it has come to be identified with Seno’s fiction. The sense of Seno’s ‘ownership’ of this name is evident in the adverse reaction to Agus Noor’s use of it, after he published a short story with the title ‘Sukab’. <!–[if !supportFootnotes]–>[204]<!–[endif]–> Below, I will discuss how Seno has used the name Sukab for a specific type of character, as well as to question received ideas of where a character begins and ends.

Sukab is identifiable as a ‘common person’ or a ‘layman’ (seorang tokoh rakyat) – he is not wealthy and he struggles in many aspects of daily life. He neither performs extraordinary things nor thinks extraordinary thoughts. However, through the use of characters called Sukab, Seno is able to engage with ideas and problems which are common or relevant to much of Indonesia’s populace. Although, Sukab is part of a ‘simple’ world, and is himself uncomplicated, many of the Sukab stories are imbued with understated philosophy. These short stories might not be the magnum opus that will guarantee Seno’s acknowledgement as a great writer, however they give readers an idea of the way in which he believes in the plurality of the self and the multiple possibilities for one character. On Sukab, Seno has written, ‘in fiction Sukab is not the name of a character. Sukab is just a name that I use for all characters, just because I am too lazy to think of a name that suits the characters so that it is convincing and so on.’<!–[if !supportFootnotes]–>[205]<!–[endif]–> With slight contradiction he has also written (in the same text), ‘that name just comes to mind every time I imagine a common person.’<!–[if !supportFootnotes]–>[206]<!–[endif]–>

Seno’s most recent comic has a Sukab as the central character. The book is apparently the first in a series titled Sukab, Intel Melayu (Sukab, The Malay Spy), the first being, Misteri Harta Centini (The Mystery of the Centini Wealth). Like other Sukabs, the Sukab-as-spy is hapless and is often a victim of his circumstances. Despite being used to find the missing wealth of the ‘Suroto’ family, Sukab has never solved a case during his career as a private investigator. Sukab dresses in the styles of spies from films and is incongruous in the Jakartan landscape.<!–[if !supportFootnotes]–>[207]<!–[endif]–> He can’t become a spy without adopting the practices of the spies he has either read about or seen in movies. Sukab muses, ‘I’m a spy, but why doesn’t it feel as if I’m in a film?’<!–[if !supportFootnotes]–>[208]<!–[endif]–> This self-reflexive intertextuality emphasises the role of other texts in influencing the formation of the text. Sukab becomes a parody of the conventions of the spy character. This aspect of parody and repetition of previous styles or characters is a part of the postmodern condition. However, he spends most of his time avidly reading philosophy texts or literary fiction: his personality and interests conflict with his purpose in the comic. As such Sukab is made to be a mere literary convention rather than an independent and original character.

Sukab also opposes New Order ideologies through his lack of material ambition. He is not rich, not materialistic, not aspirational and he is not a part of the New Order drive to modernisation and economic prosperity. Sukab is aloof or liberated from such worldly concerns and is more concerned with abstract and philosophical issues. Even Sukab the private investigator is more interested in reading philosophy and literature than with solving the crimes he has been assigned to. He aims for enriching his mind and soul rather than his material or physical or material interests. He is an alternative citizen.

 


<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[204]<!–[endif]–> Agus Noor, Bapak Presiden Yang Terhormat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.

<!–[if !supportFootnotes]–>[205]<!–[endif]–> Seno Gumira Ajidarma, Dunia Sukab: sejumulah cerita, Jakarta: Kompas, 2001, p. viii.

<!–[if !supportFootnotes]–>[206]<!–[endif]–> Ajidarma, 2001, p. viii.

<!–[if !supportFootnotes]–>[207]<!–[endif]–> John Roosa, “James Bond Jakarta Style” in Inside Indonesia, January-March, 2003.

<!–[if !supportFootnotes]–>[208]<!–[endif]–> Seno Gumira Ajidarma, Sukab Intel Melayu: Misteri Harta Centini, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 340 pengikut lainnya.