TAKSI BLUES

TAKSI BLUES

 

Malam berhujan. Kudengar lagu blues.

By a route obscure and lonely,
Haunted by ill angels only, *)

”Kusaksikan pemandangan,” terdengar radio taksi itu. Kusambar mikrofon.

”Sembilan-sembilan.”

”Posisi di mana?”

”Menteng.”

”Ada tamu lapor bukunya ketinggalan.”

”Seperti apa tamunya?”

”Cewek cakep begitu.”

”Cakep?”

”Cakep sekali begitu.”

”Bukunya kayak apa?”

”Judulnya susah, tapi begini ejaannya: November-India-Echo-Tango-Zero-Siera-Charlie-Hotel-Echo.”

Kubuka laci mobil. Kubaca judulnya. Busyet. Pernah kudengar sebuah kalimat di dalamnya: Tuhan sudah mati.

”Bukunya ada.”

”Serahkan ke pool. Supaya bisa diambil besok pagi.”

”Copy.”

Hujan menggerojok, membuat jalanan sepintas lalu seperti sungai. Kulirik penumpangku dari kaca spion. Ia masih tidur. Kepalanya tersandar ke jendela.
Kubangunkan dia.

”Mbak, Mbak, bangun, Mbak.”

Wanita itu menggeliat, mengucek-ucek mata.

”Sudah sampai di mana nih?”

”Lho, dari tadi kita putar-putar terus. Memangnya mau turun di mana?”
Memang dari tadi aku tidak tahu dia mau turun di mana. Begitu masuk sudah marah-marah terus. Gelisah sekali menelepon ke sana kemarin lewat hand phone. Setelah itu sibuk mencari cincin kawinnya yang hilang entah di mana. Sampai-sampai aku harus berhenti. Menyalakan lampu, mengambil senter untuk melihat kolong, tapi cincin itu tetap tidak ketemu. Lantas dia menangis.

”Tujuan kita ke mana, Mbak?”

”Tanya-tanya lagi! Bukannya tahu orang baru nangis!”

”Soalnya saya kasihan Mbak, nanti bayarnya mahal.”

”Sok tau banget sih Abang ni? Jalan saja terus, pasang argonya, yang penting saya bayar, ‘kan?”

Lama sekali dia memandang keluaar jendela. Air matanya meleleh di pipi. Sudah berapa kali ada penumpang menangis di taksiku? Wanita memang suka menangis sambil memandang keluar jendela. Apakah mereka mencari dirinya sendiri di luar jendela?

”Bang,” katanya tiba-tiba. ”Abang sudah kawin?”

”Sudah.”

”Berapa lama?”

”Belum lama. Baru dua tahun.”

”Sudah punya anak?”

”Belum.”

”Ka-be?”

”Yah, ka-be. Istri saya masih ingin kerja, dan kami memang belum punya duit.”

”Abang nggak apa-apa?”

”Ya nggak apa-apa. Emang kenapa?”

”Saya kawin juga baru dua tahun. Belum punya anak. Tapi suami saya udah ribut terus.”

”Kenapa?”

”Katanya malu kalau nggak punya anak. Dikira mandul.”

”Kalau mandul bener kenapa?”

”Dia malu.”

”Bodoh sekali dia.”

Aku melirik, wanita itu sedang memandang dirinya sendiri lewat cermin kecil, lantas berias. Ia menggerutu.

”Memang. Dasar laki-laki bodoh.”

”Waktu kawin, belum tahu dia bodoh?”

”Huuuuhhh. Pasti saya yang bodoh mau kawin sama dia. Pasti saya yang bodoh. Sudah tahu dia bego, masih mau juga. Pasti saya dong yang bego. Iya, ‘kan?”

”Tapi, cinta?”

Kulirik lagi. Sambil menatap jendela, wanita itu tersenyum pahit.

”Cinta. Cinta. Apa itu cinta?”

Lantas percakapan terhenti, dan ia tertidur. Aku yang tak tahu mau ke mana, berputar-putar seenak perutku.

”Sudah, turun sini saja,” katanya sekarang.

Kulihat neon sign bar-bar di Jalan B. Rok mininya terangkat ketika melangkah keluar. Ia menghabiskan Rp 50.000 untuk tidur di dalam taksi. Kulihat ia melangkah menerobos hujan, lenyap di balik pintu sebuah bar. Masih tersisa harum parfumnya. Hmmm.

Misteri. Misteri. Para penumpang adalah misteri. Aku tak pernah berhasil mengenal siapa mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang kita temui sepintas di jalanan. Hanya sepintas, untuk kemudian menghilang kembali. Yeah. Aku hanya sopir taksi yang selalu keluar pada malam hari. Bertemu begitu banyak orang dalam semalam, tapi pada hakikatnya selalu sendiri. Kota ini juga sebuah misteri. Begitu banyak manusia kita temui di jalanan setiap hari, namun betapa sulitnya mengenal satu saja dari mereka. Betapa sulit memahami manusia meskipun mereka semua ada di sekeliling kita. Ah, untuk apa aku memikirkan semua ini? Aku cuma seorang sopir taksi. Selalu keluar malam karena tak suka macet dan kepanasan. Selalu mengembara dalam kekelaman.

 ***

”Sembilan-sembilan.”

”Sembilan-sembilan.”

”Posisi di mana?”

”Masih sekitar Menteng.”

”Jalan Gereja Theresia?”

”Ambil-ambil.”

”Jalan Gereja Theresia 47. Bapak Hamsad.”

”Meluncur.”

Hujan sudah berhenti, tapi uap air masih membiaskan cahaya kekuningan lampu merkuri. Aku segera tiba di tempat pemesan. Tiga pria bertampang serem berjalan mendekat sambil tertawa-tawa. Mereka masuk.

”Bapak Hamsad?”

Pria Serem 1 yang duduk di sebelahku menjawab.

”Mau Hamsad kek, mau bangsat kek, apa urusan lu? Jalan!”

”Lho, ini ordernya untuk Bapak Hamsad.”

”Sialan lu! Gua yang panggil taksi tau? Gua namanya Hamsad, gua namanya belegug, apa peduli lu? Pokoknya gua bayar! Udah, jalan!”

Ngefreto! Tombol argo kupencet. Yeah. Apalah artinya sebuah nama. Aku toh tak pernah hafal nama-nama penumpang.

”Kemana kita, Pak?”

Sambil menjawab, Pria Serem 1 melirik kedua temannya.

”Bukunya gua udah bilang tadi?”

”Sungguh mati, belum, Pak.”

Pria Serem 1 berkata kepada kedua temannya.

”He, kalian denger nggak tadi gua udah bilang ke mana?”

”Denger, Bang. Dia aja yang budeg,” kata Pria Serem 2 di belakangnya.
Pria Serem 3 di belakangku menambahi pula.

”Emang, Budeg.”

Mampus!

”Iyalah, barangkali saya budeg. Tapi, ke mana tujuan kita, Bang?”

”Eh, elu udah budeg masih ngelunjak! Kalau gua kagak salah denger, elu tadi manggil Pak, ‘kan. Bukan Bang?” Pria Serem I menukas lagi.

”Iya Bang, eh Pak.”

”He, denger, jadi orang itu jangan plin-plan kayak para pejabat. Kalau sudah Pak ya Pak, nggak usah sok akrab! Ngerti?”

”Iya, sok akrab~!” Pria Setem 2 menimpali.

”Ngerti nggak?” Pria Serem 3 tak mau ketinggalan.

”Ngerti, ngerti Bank, eh Pak.”

”Awas! Sekali lagi keliru gua pelintir lu punya kepala.”
Busyet.

”Sembilan-sembilan,” radio taksi berbunyi lagi.

”Sembilan-sembilan.”

”Jalan Gereja Theresia?”

”Sudah bersama.”

”Selamat jalan dan kepada tamunya selamat malam.”

”Copy”

Kukebut taksiku, tapi ke mana tujuan mereka?

”Jadi ke mana kita, Pak?”

”Sialan lu! Dari tadi nanya melulu!”

”Emang! Berisik lu!”

”Dasar budeg!”

Bener-bener sialan mereka ini.

”Lu ngerti Sawangan nggak?”

”Sawangan? Tahu Bang, eh Pak.”

”Nah, kita ke sono.”

”Jauh amat, Pak?” Aku mencoba ramah.

Pria-pria Serem itu saling berpandangan. Tiba-tiba Pria Serem 3 bergerak, menempelkan pisau di leherku.

”Eh, elu cerewet amat sih? Denger, bawa kita ke Sawangan. Titik. Nggak usah nanya-nanya, gua iris kuping lu entar! Ngerti?”

”Mengerti, Pak.”

Minta ampun dah! Orang-orang ini bener-bener sialan. Mudah-mudahan mereka bayar. Kutancap taksiku. Sepanjang jalan mereka berdiam diri. Sampai Pria Serem 3 memecah kesunyian.

”Jadi bagaimana urusan kita itu, Bang?”

”Yang sekarang ini?” Pria Serem 1 balik bertanya.

”Yang mana lagi, Bang?” Pria Serem 2 menegaskan.

Pria Serem 1 menoleh ke belakang. Aku tahu ia memberi tanda dengan matanya bahwa di situ ada aku.

”Gua udah tahu jawabnya, tapi gua nggak bisa bilang sekarang.”

”Kenapa begitu?”

Aku merasa Pria Serem 3 menatapku dari belakang.

”Omongin sekarang aja, Bang. Dia nggak ngerti apa-apa ini. Kalau ngerti pun rasanya nggak akan dia berani ikut campur. Ya nggak, Bung?”
Aku pura-pura tidak mendengar. Eh, Pria Serem 3 menyodok kursiku dengan kakinya.

”Lu denger, ‘kan? Lu nggak akan ikut campur?”

”Ya, ya, ya.”

Bener-bener bujubusyet. Siapa orang-orang ini? Tampang mereka seperti orang-orang kriminal. Tapi hak mereka sama dengan semua penumpang yang masuk taksiku. Aku tidak perlu tahu urusan mereka. Barangkali juga tidak berhak tahu. Meskipun banyak juga yang aku tahu sebagai sopir taksi. Pemandangan kota mengalir di kaca depanku.

”Waktu itu Abang bilang kita cuma menuruti perintah atasan.”

”Memang perintah atasan yang kita turuti waktu itu.”

”Tapi, kenapa jadi kita yang salah? Kenapa kita yang dipecat? Bukan atasan kita?”

”Memang kenyataannya begitu, Din, kita diperintahkan menculik Joni. Kita diperintahkan menghabisi Joni. Kita diperintahkan membuangnya di tepi jalan.”

”Jadi, kita tidak salah, ‘kan?” Pria Serem 2 bertanya.

”Tapi kita yang dipecat. Jadi kambing hitam. Jadi tumbal.” Pria Serem 3 menegaskan.

”Menurut peraturan, memang tidak semua perintah atasan boleh kita turuti.”

”Namanya juga komando, Bang.”

”Ya. Komando. Perintah atasan.”

”Kita harus memakai otak kita. Menculik orang yang belum jelas kesalahannya. Membunuhnya tanpa pengadilan. Menghajarnya dulu sebelum menembaknya. Mau dibolak-balik, itu tetap suatu kesalahan.”

”Itu perintah atasan toh, Bang?”

”Yak!”

”Atasan kita ikut salah dong!”

”Yak!”

”Tapi dia sampai sekarang tidak diapa-apakan. Enak-enakan di rumahnya yang mewah.”

”Dengan tujuh mobil.”

”Dengan istri muda.”

”Yah. Dengan istri muda. Bangsat!”

”Yah. Orang-orang di atas itu memang bangsat!”

Aku tertegun, melirik dari kaca spion. Tapi bertumbukan dengan mata Pria Serem 3.

”Ngapain lu lirik-lirik!”

”Lihat belakang, Bang, eh Pak.”

”Diem aje lu! Bulegug!”

Aduh Mak!

”Jadi sekarang kita mau melakukan pembalasan, Bang?”

”Yak!”

”Jadi kita akan menghukumnya sendiri, Bang? Tanpa pengadilan, sama seperti dia lakukan kepada orang-orang yang kita culik, Bang?”

”Yak!”

Tanpa sengaja aku menengok dari kaca spion lagi. Eh, bertemu pandang lagi dengan Pria Serem 3. Mendadak dia memitingku, ada pisau di tangannya.

”Sialan! Gua udah bilang jangan lirik-lirik, ‘kan?”

”Maaf Bang, eh Pak, nggak sengaja.”

”Gua iris kuping lu mau?”

”Jangan, Pak, kuping cuma satu.”

”Salah. Kuping lu dua. Jadi boleh kan gua ambil satu?”
Nafasku sesak. Untung Pria Serem 1 melepas pitingan itu.

”Heh, sudah, dia lagi nyetir tuh! Nanti kita semua yang mampus.”

Busyet. Repot juga jadi sopir taksi.

”Terimakasih, Pak.”

”Nggak usah pake terimakasih lu, brengsek.”

Busyet.

”Apakah kali ini kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”

”Yah, apakah kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”

”Kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Sedangkan bangsat itu mempunyai segalanya. Tujuh mobil, tujuh rumah, dan tujuh pacar.”

”Dan satu istri muda.”

”Dan satu istri muda.”

Pria Serem 1 menudingkan jari seperti menembakkan pistol, dan menirukan bunyi tembakan.

”Tiegghhh!”
***

Aku disuruh berhenti di sebuah tempat yang sepi. Mereka keluar semua dari mobil. Pria Serem 1 mengambil segepok uang dari balik jaketnya, melemparkannya ke dalam, dan jatuh di pangkuanku. Kupegang uang itu.

”Ini kebanyakan, Pak.”

Pria Serem 1 membungkuk, menyandarkan tangan kanannya ke jendela, menunjuk dengan tangan kirinya.

”Lu liat rumah besar itu, ‘kan?”

Kulihat rumah yang nampak terang lampunya.

”Besok atau lusa lu buka koran, akan tahu yang punya rumah itu mampus. Lu tutup mulut. Ngerti?”

”Iya, Pak.”

”Sudah, pergi sana! Sok!’

Ketika kuputar taksiku, kulihat mereka bertiga memandangi rumah mewah itu, sebelum akhirnya melangkah ke sana.
Malam begitu sepi, begitu kelam. Aku tidak terlalu salah. Kota ini isinya orang-orang misterius. Siapakah yang betul-betul bisa kita kenal di kota ini? Apakah yang betul-betul bisa kita pahami di sini? Malam hanyalah bayang-bayang. Tapi aku suka bayang-bayang. Aku suka masuk ke balik kelam.
Radio taksi berbunyi.

”Sembilan-sembilan.”

”Sembilan-sembilan.”

”Posisi di mana?”

”Di bawah rembulan.”

Kudengar lagu blues — aku masih sendirian menembus malam.

Jakarta – Yogya, Lebaran 1998
 

*) Lirik lagu dari puisi Dream-Land karya Edgar Allan Poe tahun 1844.

Keroncong Pembunuhan

Keroncong Pembunuhan

hampir malam di Yogya

ketika keretaku tiba

     

Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai lagu keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya.

 Mereka terserak di bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan.

  Tak semuanya tua memang, bahkan banyak wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, aku memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. Hmmm…
 
 Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak dan mengacaukan kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!”
 
 
 Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat komunikasi yang terpasang pada telingaku siap menunjukkan orangnya.

  “Kamu sudah siap?” terdengar suara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu.

“Dari tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?”

“Sabar dong, sebentar lagi.”

Dari teras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku. Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pakaian malam yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan seperti ini.

 “Siapa sasaranku?” tanyaku minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira saja.

“Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.”

Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku.
 
 “Tapi satu hal kau boleh tahu.”

“Apa?”

“Orang itu pengkhianat.”

“Pengkhianat?”

“Ya, pengkhianat bangsa dan negara.”

Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di bawah itu.

  Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan.

  Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui rasanya menyenangkan.

sepasang mata bola

dari balik jendela

Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini seperti benda museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu?
 
 Di mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas berpakaian preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting.

Malam cerah dan langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir.

 “Hei, kamu masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu.

“Ya, kenapa?”

“Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!”

Aku bergegas kembali ke teras.

“Bagaimana? Sudah datang orangnya?”

“Dia memakai baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.”
 
 Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak.

 “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di bawah daguku.

“Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.”

Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah.

Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya.
 
 “Apakah harus kulakukan sekarang?”

 “Nanti dulu, tunggu komando!”

 Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina….

Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya.

 Agak tegang juga aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pada tempat yang paling mematikan, untuk kemudian menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk.
 
 Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elus tengkuknya.

“Bagaimana? Sekarang?”

“Aku bilang tunggu perintah!”

 Sialan cewek itu, berani benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia bicara.

“Tunggu perintah apa lagi?”

“Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!”

“Ini tidak ada dalam perjanjian.”

“Ada! Kamu jangan main gila.”

selendang sutra

tanda mata darimu
 
 Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju batik merah!

“Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di dadanya yang tipis.

“Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, memang dia orangnya.

“Tembak sekarang!”

 Jadi seperti inilah semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar.
 
 Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku akan menembus mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhianat?

 “Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?”

“Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana?

“Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?”

“Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan!”

Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pada wanita itu.

“Laras senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin.

“Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget.

“Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?”

“Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!”

“Justru kamu yang bisa segera mati.”

“Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.”
 
 “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat.

 “Kamu sudah melanggar kontrak.”

“Aku tidak mau menembak orang yang tidak bersalah.”

“Itu bukan urusanmu, tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang tidak bersalah.”

“Itu urusanku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!”

Wanita itu tampak beranjak akan lari.

“Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa segera lenyap.”

Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah.

“Apa maumu?”

“Katakan kesalahannya.”

“Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.”
 
 “Cuma itu?”

“Ia meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang tidak benar.”

“Lantas?”

 “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.”

“Aku ingin tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.”

“Itu bukan urusanmu. Ini politik.”

“Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.”

Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba.

“Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!”

“Siapa yang menyuruhmu?”

“Aku tidak tahu apa-apa.”

“Leontinmu manis…”

“Ah, jangan, jangan tembak! Please…”

“Siapa?”

 “Aku…aku bisa celaka.”

 “Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…”

“Kamu gila, kamu merusak segala-galanya.”

   “Dua….” Hmm, alangkah gugupnya dia.

“Ia ada di depan orang yang harus kamu tembak.”

“Berkacamata?”

“Ya.”
 
Kuarahkan senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Wajahnya licik dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua.

Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya.

Inilah keroncong fantasiii

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 362 pengikut lainnya.