Rekonsiliasi Fakta dengan Fiksi

oleh : Savitri Scherer

Meminjam judul puisi Ranggawarsita dari abad ke-19, yakni Kalatidha,
Seno, penulis abad ke-21, merangkum cerita yang berkisar tentang
peristiwa kekerasan di Indonesia pada sekitar tahun 1965.

Dituturkan melalui pandangan bocah laki-laki berusia tujuh tahun
yang mempunyai kebolehan masuk-keluar dunia bayangan yang berkabut.
Kebolehannya mengikuti usianya yang menjadi dewasa, hingga dunia
tersebut terkadang bercahaya gemilang, ataupun merupakan samudra
dari titik-titik kristal yang berkilauan.

Bocah pengamat pasif, dari suatu kejadian ketika rumah tetangga
diserang penduduk setempat dan dibakar. Bocah itu sempat melihat
satu dari gadis kembar penghuni rumah lolos dari pengepungan,
sedangkan kembarannya tewas.

“Aku tidak mengerti, tetapi kuketahui betapa nasib keduanya sangat
berbeda. Yang satu menjelma bayangan yang kadang tampak dan
terkadang hilang, yang lain masih berkeliaran di muka bumi dengan
diri yang kadang hilang kadang kembali” (hlm 46). Suatu kekayaan
imajinasi penulis yang berpotensi untuk dikembangkan ke sana kemari.

Korban dari sistem

Seno memakai kesempatan ini untuk menyinggung berbagai segi
spiritual dari dunia istimewa yang diakrabi bocah tadi dengan meramu
unsur-unsur budaya spiritual Jawa yang memasuki dunia nyata, dan
berbagai dunia kehidupan yang dijatahkan kepada si gadis yang lolos,
tetapi terguncang jiwanya.

Ditambah selingan dari dunia Johnny Malin Kundang, pasien di rumah
sakit jiwa tempat mereka berdua dirawat dan ditambah lagi dunia yang
penuh perkibulan dari pengusaha serong (bocah ketika dewasa?).

Penyiksaan yang sempat di terima gadis, korban politik waktu itu,
dan penyiksaan dalam cara merawat-menatar, baik di rumah sakit
maupun di kantor polisi dan di penjara untuk semua narapidana,
digambarkan untuk menunjukkan situasi yang sejajar bagi semua warga
yang telah kehilangan hak untuk hadir dalam peradaban manusia.

Peradaban yang aturan dan kodenya dibuat oleh setiap penguasa
zamannya, Neraka dunia ini, penjara dan rumah sakit jiwa sudah
dijabarkan ahli filsafat Perancis Foucault (M Foucalt, Naissance de
la clinique, Paris, PUF, 1963 dan Surveiller et punir, Paris,
Gallimard, 1975)

Dalam Kalatidha, gadis simbol yang mewakili korban dari suatu
sistem, tanpa rasa dan pikiran. Pengarangnya kemudian mengembangkan
tubuh si gadis menjadi sosok yang dititisi arwah kembarannya dan
membuat gadis tadi menjadi jawara wanita yang mengacu pada garapan
Seno yang terdahulu, Perempuan Preman di Melawai (Dunia Sukab, 2001,
hlm 145-155).

Jawara dalam Kalatidha, setelah diisi arwah kembarannya,
menghancurkan semua deretan sosok yang pernah menyiksanya, kecuali
Johnny yang sempat berambisi untuk menjadi pemain sepak bola. Dia
hanya menendang-nendang si gadis, tanpa memperkosanya.

Dalam adegan lain, yang sempat dialami bocah, ia dan kakeknya
mengalami suatu peristiwa spiritual yang canggih digambarkan Seno
dalam bab 12 berjudul: Perburuan (hlm 93-97).

Bagian ini dirancang seolah menjadi pembuka jalan atas suatu
pertanyaan si pengarang: apakah pembalasan selalu lebih kejam? yang
dirangkumnya di bab 13. Misteri ini dijawabnya sendiri dengan
merangkum bab 19: Sang Mata di Tepi Pantai (hlm 163-171). Jawara
preman Melawai itu menyelamatkan dua bocah yang sedang bermain di
laut (hlm 171). Hanya saja samudra tadi dengan kekuasaannya selalu
mencoba menelan bocah-bocah lain yang bermain di situ yang tidak
menggubris pengalaman dua bocah yang sempat terselamatkan.

Seno mencoba mengutarakan harapan bahwa ada kemungkinan gadis yang
dititisi kembarannya berubah menjadi jawara penyelamat. Walaupun si
pengarang ataupun pembacanya tahu bila pergantian peranan dari
jawara preman (pembalas dendam) menjadi jawara Sri Asih (sosok
garapan RA Kosasih) tidak otomatis menyelamatkan seluruh bocah di
dunia dari bahaya.

Berpikir positif

Seno sebagai pengarang, yang telah merancang-rancang dunia
bayangannya yang kejam, berdarah-darah di mana hutan bambu digusur
menjadi pasar toserba raksasa, tetap membawa suatu harapan positif
terhadap semua kemungkinan yang terburuk dari peradaban.

Ia percaya ada warga dunia yang peduli dan berkapasitas memperbaiki
nilai kemanusiaan kita semua. Pandangan positif ini dibutuhkan bagi
pembaca untuk memperbaiki lingkungannya. Bahwa manusia berkapasitas
mempunyai welas asih, suatu unsur terpenting dalam sejarah peradaban
dunia.

Seno mengakhiri ceritanya begini, “Miliaran sosok kristal yang
mengalir membentuk suatu arus menyilaukan ke balik sebuah lembah
yang penuh dengan cahaya di baliknya.” (hlm 226). Ada cahaya di
balik cahaya. Pilihan Seno untuk berpihak pada cahaya didukung oleh
fakta, tanpa matahari seluruh ekosistem jagat kita akan bubar.

Sebagai pengarang yang menggarap suatu insiden dalam sejarah
Indonesia yang kontroversial, di mana dia terlalu muda ketika
peristiwa 1965 terjadi (dilahirkan 1958), usahanya membawa nilai
khusus bagi pembaca Indonesia untuk memikirkan prioritas apa saja
yang harus didahulukan dalam memajukan kesejahteraan kehidupan
bersama di tengah dunia yang selalu rancu. Keganasan di Rwanda, atau
di Kamboja di bawah Pol Pot, di Irak dan Palestina tidak perlu
terjadi. Semua terletak pada itikad manusianya sendiri.

Punya rasa sendiri

Rahasia hidup memang membawa pesona khusus. Hal ini digarap Seno
dengan dua cara. Pertama, secara faktual dengan memasukkan berbagai
dokumen arsip dari periode yang dia bayangkan, yaitu guntingan-
guntingan surat kabar. Ini untuk mengingatkan publik pemikiran apa-
apa saja sebetulnya dilontarkan di periode itu yang memicu kejadian.

Cara kedua adalah membandingkan kejadian yang sempat mewujud di
sekitar tokoh fiksi karangannya itu dengan, misalnya, isi kepala
pasien Johnny Malin Kundang. Semakin gombal bayangan dunia Johnny,
yang menyangkut peranannya sendiri dalam suatu insiden, semakin
rancu pula ramuan di kepalanya antara si pelaku, si pengamat, atau
korban yang dipaksakan bertanggung jawab.

Yang masih bisa diandalkan sebagai “fakta” di dalam kepala Johnny
hanya sisa-sisa ingatannya yang berbentuk “rasa” dari sederetan
makanan, seperti tempe mendoan atau botok teri (hlm 86-90).

Gamblangnya, peristiwa yang sudah lewat itu masing-masing mempunyai
rasanya sendiri. Tidak semua hambar dan tidak selalu harus sesuai
dengan kenyataan perasaan sensasi pada waktu kejadian. Rasa pada
waktu kejadian dan rasa dari ingatan mengenai kejadian itu tidak
mungkin sama.

Melalui sisipan Johnny ini, Seno seolah ingin membawa pembacanya
menerima segala kontradiksi kehidupan sebagai urusan yang tidak akan
selesai diuraikan. Fakta atau kebenaran tidak dapat diramu melulu
melalui ingatan, apakah itu ingatan seorang gila, seorang korban
perkosaan, ataupun seorang pengarang.

Setiap zaman edan dalam setiap era sejarah menghasilkan segepok
orang-orang gilanya sendiri yang dengan logika masing-masing,
meluruskan versi sejarah kehadiran mereka. Sebaliknya, pelurusan
tersebut bukanlah suatu proses acak yang diramu hanya bedasarkan
makian yang menyebut berbagai macam makanan Jawa; walau sudah
seluruh makanan diucapkan.

Dengan Kalatidha, Seno menawarkan gaya penulisan untuk mengungkapkan
bagaimana menyelaraskan sebagian dari bunyi-bunyi sumbang ke dalam
rangkuman dunia tanpa melupakan betapa hidup ini sesungguhnya kocak,
acak dan edan.

Keputusan itu yang diambil Johnny, “Aku bukan pembunuh. Aku hanya
membebaskan jiwa yang terikat kepada tubuh dan otak yang
mengharukan, yang diperas seperti apa pun untuk berpikir tidak akan
pernah mampu mengenal dunia dalam arti yang sebenar-benarnya. Gulai
Otak. Bedakah rasanya otak pintar dan otak bodoh jika di goreng
dalam bungkus telor?” (hlm 90).

(Savitri Scherer, Jurnalis Bermukim di Paris)
sumber : harian Kompas, Senin, 20 Agustus 2007
rubrik : Pustakaloka; resensi
judul buku : Kalatidha
Penulis buku : Seno Gumira Ajidarma

Sebuah Resensi

Terima kasih Riza Almanfaluthi yang sudah mengirimkan Resensi ini melalui e-mail pembaca.sga@gmail.com

Biola Tak Berdawai

:Sebuah Roman

Seno Gumira Ajidarma & Sekar Ayu Asmara

Penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akur)

Cet. II Maret  2004

                Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya—tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. (Prolog, hal 1)

Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa.  Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu. 

Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap.

Renjani bersama Dewa mengarungi pergiliran waktu dengan menyaksikan kedatangan para bayi tunadaksa yang cepat pula meninggalkan mereka karena kematian, meninggalkan mereka menuju ke pekuburan bayi. Begitu pula dengan Mbak Wid, seorang dokter kepala, yang di siang harinya mengenakan pakaian putih-putih, tapi di saat malam tiba, ia berubah menjadi perempuan berbaju hitam-hitam yang begitu percaya ramalan kartu Tarot dan menyepi di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan seratus lilin. Selalu, Renjani menemani Mbak Wid dalam permainan kartu itu, tentu dengan Dewa yang tetap terdiam membisu, dengan leher yang selalu miring, dan kepala yang selalu tertunduk.

Sampai suatu ketika saat Dewa mendengar alunan biola dari sebuah CD, sebuah kekuatan mampu membuat kepalanya terangkat—hanya sepersekian detik, dan Renjani—ibunya yang mantan penari balet—melihat itu! Renjani menghambur memeluknya. “ Dewa, Dewa—Dewa suka ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”

 Sepersekian detik itulah yang kemudian membawa Renjani dan Dewa melihat Ballet Ramayana yang dimainkan setiap bulan purnama di Candi Prambanan. Lalu berkenalan dengan pemuda yang lebih muda usia daripadanya. Bhisma, salah seorang pemain biola dari pertunjukan itu selalu memperhatikan Renjani saat pertunjukan berlangsung. Singkat cerita, Bhisma semakin akrab dengan Renjani, pun dengan Dewa yang ia sebut sebut sebagai biola  tak berdawai.

Tapi keakraban dan benih cinta yang mulai tumbuh itu rusak saat Bhisma memaksa Renjani menerima dirinya karena itu berarti mengusik masa lalu Renjani yang gelap, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia pindah dari Jakarta ke tempat sepi ini. Ia belum sanggup berdamai dengan masa lalunya. Masa lalu yang merusak kehormatannya sebagai seorang perempuan. Ia diperkosa oleh guru baletnya.

Jejak-jejak gelap itu menjelma menjadi segumpal daging yang Renjani secara ceroboh menggugurkannya. Lalu menjadi kanker yang membuatnya koma selama seminggu dan akhirnya berkumpul bersama bayi-bayi tunadaksa yang tidak sanggup bertahan hidup di dunia. Bhisma menyesal atas pemaksaannya itu.

Penyesalan yang hanya bisa membuatnya melakukan sebuah konser tunggal. Di kuburan Renjani. Di kuburan para tunadaksa itu. Memainkan resital gubahannya yang baru terselesaikan dan tak sempat tertunaikan untuk dimainkan di hadapan Renjani.

Tapi walaupun terlambat konser itu bagi Dewa adalah konser dari seribu biola, seribu harpa, seribu seruling, seribu piano, seribu timpani, seribu cello, seribu bas betot, seribu harmonica, seribu gitar listrik, dan  seribu anggota paduan suara malaikat dari sorga. Membuat langit ini penuh dengan cahaya dan lapisan-lapisan emas berkilauan. Dan yang mampu membuat Bhisma tertegun, mampu membuat biola itu berhenti sejenak, mampu membuat Dewa berkata: “D..de….f….faa…shaa…shaa…aang…iii…buuu.”

Dewa sayang kamu Renjani.

Secara keseluruhan roman ini bercerita dengan sederhana sekali. Sekali lagi, sederhana sekali. Ada yang membuatnya beda dan menjadikan novel ini berciri khas unik yaitu penyelipan kisah-kisah pewayangan, kakawin  Bharata-Yuddha beserta para tokoh-tokohnya, Drupadi, Pandawa, Kurawa, Bhisma, Sengkuni, Dorna,  dan yang lainnya. Kisah-kisah yang terlupakan oleh saya.  Namun sempat membangkitkan memori bahwa saya sempat membaca komiknya waktu masih SD dulu.

Filmnya meraih berbagai penghargaan internasional namun roman adaptasi dengan judul sama ini bagi saya biasa-biasa saja. Belum menggugah rasa kebahasaan saya walaupun ditulis oleh seorang yang bernama Seno Gumira Ajidarma. Penulis serba bisa Indonesia yang paling produktif—sebagaimana ditulis dalam kata pengantar buku itu—yang piawai sekali memainkan kata-kata dan sekali lagi menurut penulis kata pengantar tersebut mampu menangkap echo cinta dari film itu. Bagi saya Seno tidak sepiawai saat memainkan kata dan cinta tentunya dalam “Sepotong senja untuk Pacarku.” Karena ia terkungkung dalam sebuah skenario? Entah. Buku ini cukup dibaca saat waktu senggang saja.

Namun kavernya bagi saya mampu untuk “menutupi” kekurangan ini. Indah. Biola tak berdawai, kupu-kupu jingga, warna hitam yang dominan adalah sebuah citra tepat dari sebuah sampul yang menggambarkan isi buku ini. Sebuah asa akan asmara, yang hilang terampas oleh duka dan waktu.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

06.08 23 Juni 2007

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 365 pengikut lainnya.