Kesucian

Catatan Desember: 

Kesucian
                                   

Sayang sekali kesucian itu ada simbolnya. Tidak bisa
suci saja, suci doang, suci thok—yakni kesucian
sebagaimana dialami dan dirasakan. Seperti memandang
bayi, kita langsung percaya bayi itu suci. Bahkan
memandang anak balita yang paling nakal dan
pencilakan—kita juga percaya anak itu kehidupannya
(masih) murni. Bukan karena bayi atau anak balita
adalah simbol kesucian (karena bukankah film horor
kadang memberinya peran sebagai anak iblis?),
melainkan karena kesucian itu kehadirannya dapat
dialami dan dirasakan.

Sebagai tukang potret, setelah bertahun-tahun memotret
wajah manusia, setiap kali menghadapi close up anak
balita di balik lensa, saya mengalami yang disebut
kesucian dan kemurnian itu—tetapi menatap close up
orang dewasa di balik lensa, hmmm, jangan tanya apa
saja yang bisa dilihat dalam kesadaran nampang.

Sayang sekali kesucian itu ada simbolnya. Ada yang
simbolnya warna putih. Ada yang simbolnya warna hitam.
Jadi kalau putih, mangsud-nya adalah representasi
kesucian; begitu pula kalau hitam, mangsud daripada
tujuannya tiada lebih dan tiada kurang adalah juga
representasi kesucian. Yang satu putih, yang lain
hitam, tidakkah biasanya “hitam-putih” merupakan
analogi bagi segala sesuatu yang berlawanan? Baru dua
warna saja sudah bisa dimasalahkan, padahal sepanjang
peradaban simbol kesucian sangat beragam, bagaikan
menolak ketunggalan.

Sayang sekali kesucian itu ada simbolnya. Kalau tidak
ada simbolnya, maka kesucian akan hadir dalam
kesuciannya sendiri, seperti udara yang tidak usah
pasang iklan “Hiruplah daku”, seperti cahaya yang
mengada dalam terang, seperti kebahagiaan bayi dalam
dekapan ibunya yang dialami tanpa pembenaran.

Kesucian memang bisa hadir dalam dirinya sendiri,
tetapi bahkan mereka yang mengejar kualitas kesucian
dalam hidupnya seperti merasa kesucian saja sangat
tidak cukup. Kesucian itu kalau dilihat orang seperti
harus tampak. Kalau tidak tampak suci kok rugi. Tentu
saja itulah kesucian hitung dagang.

Sayang sekali kesucian itu ada simbolnya. Ada yang
simbolnya dominan. Ada yang simbolnya pinggiran. Ada
yang simbolnya laku di pasaran. Ada yang simbolnya
diperjuangkan dengan militan. Simbol kesucian menjadi
komoditas. Simbol kesucian menjadi atribut politik.
Simbol kesucian menjadi lebih penting daripada
kesucian itu sendiri. Kesucian sebagai kesucian,
bukankah memang tidak terdengar seperti musik dan
tidak terlihat berkilau-kilau menyilaukan?

Sayang sekali!

Sumber : Kompas Minggu, 23 Desember 2007

Selamat Tidur Kekasih Gelapku

Selamat Tidur Kekasih Gelapku

                

“Memberi sebagai pengorbanan sering diartikan kehilangan sesuatu, sedang memberi tanpa pengorbanan adalah pemberian dari yang memiliki kelebihan.”

Hei Sephia
Malam ini kutakkan datang
Mencoba tuk berpaling sayang
dari cintamu

Hei Sephia
malam ini kutakkan pulang
Tak usah kau mencari aku
demi cintamu
Hadapilah ini
Kisah kita takkan abadi

Selamat tidur kekasih gelapku
Semoga cepat kau lupakan aku
Kekasih sejatimu
takkan pernah sanggup untuk melupakanmu

Selamat tinggal kasih tak terungkap
Semoga kau lupakan aku cepat
Kekasih sejatimu
takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu

Hei Sephia
Jangan pernah panggil namaku
Bila kita bertemu lagi di lain hari
Hadapilah ini
Kisah kita takkan abadi
(Shepia, Sheila on 7)

Sebuah lagu membawakan riwayat hidup kita. Begitu dengan “Yen Ing Tawang Ana Lintang” (Waljinah/Anjar Any). Begitu pula dengan “Sephia” yang dibawakan Sheila on 7, kugiran pop asal Yogyakarta. Dalam pengertian pop memang tak berlaku asal kedaerahan. Karena itu, bagi orang Yogya sendiri, kalimat seperti selamat tidur kekasih gelapku bisa menjadi sangat mengejutkan karena merupakan pengakuan atas kegelapan yang biasa ditutup-tutupi.

Seorang penggemar Sheila on 7 berkata, “Waktu nyanyi enggak ketahuan. Tapi, waktu konferensi pers, buset, medoknya!” Medok artinya bahwa cara para anggota Sheila on 7 berbahasa Indonesia diwarnai aksen Jawa. Maka, kita lihat suatu lompatan paradigmatik di sini: orang Jawa yang menyanyi dalam bahasa Indonesia dengan nama grup bahasa Inggris serta sebuah penawaran moralitas kosmopolitan, “Selamat Tidur Kekasih Gelapku”.

Popularitas “Sephia” boleh dihubungkan dengan identifikasi diri penggemarnya dengan nilai-nilai yang berada dalam lagu tersebut. Artinya, lagu kreasi Eross ini mewakili semangat kultural kaum muda. Semangat macam apa? Itulah pertanyaannya. Apakah yang disebut semangat kosmopolitan, dalam hal cinta, itu berbeda dengan, katakanlah, semangat tradisional? Banyak orangtua sering khawatir dengan kalimat seperti kekasih gelap itu melulu karena bagaikan membongkar kebobrokan mereka sendiri. Nah, apakah kaum muda sama bobroknya dengan kaum tua, yang terbukti mewariskan kebobrokan tidak keru-keruaan seperti sekarang?

Menurut gosip yang beredar, Sephia itu hantu. Eross menerima telepon seorang penggemar yang mengaku bernama Sephia. “Bikinkan saya lagu, dong,” katanya. Maka, Eross pun membuatkan “Sephia”. Tapi, ketika lagu itu sudah jadi dan alamatnya dihubungi, yang bernama Sephia itu sudah meninggal dua tahun sebelumnya. Hiii… Dengan begitu, kata gelap dan tak terungkap memang bisa saja berarti arwah gentayangan yang timbul tenggelam. Namun, karena dalam utak-atik teks ini sebaiknya gosip dihindari dan hanya bersandar kepada teks, kita boleh mengandaikan sebuah komposisi seperti berikut: ada Aku yang mempunyai Kekasih Gelap bernama Sephia, tapi Sephia sendiri mempunyai Kekasih Sejati, yang tidak mungkin melupakannya.

Hubungan Aku dan Sephia lumayan akrab. Hal ini dibuktikan oleh kalimat: Malam ini kutakkan datang dan Malam ini kutakkan pulang, yang berarti Aku sering datang ke tempat Sephia dan Sephia sering datang ke rumah Aku. Perhatikan lagi, keduanya menggunakan kata malam. Mereka berhubungan pada saat malam. Dalam simbolisme konvensional, malam itu saatnya berlangsung hubungan gelap karena malam merupakan selubung kepalsuan. Pertanyaanya, apakah, karena ada selubung kegelapan, yang asli dimunculkan secara sembunyi-sembunyi? Manakah yang lebih jujur, formalitas dalam terang siang ataukah jati diri dalam selubung malam? Boleh dipastikan, malam adalah sebuah kondisi remang-remang.

Disebut malam ini berarti ada malam-malam lain. Jadi, ini bukan sekadar hubungan one night stand, semalam lantas tak kenal lagi atau tak sempat berkenalan, seperti moralitas permisif dalam atmosfer kosmopolitan –melainkan lumayan serius. Dan, keseriusan ini justru dibuktikan niat Aku untuk berpisah karena Sephia mempunyai Kekasih Sejati yang takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu. Cuma saja, di sini Aku tidak bertanya apa pun kepada Sephia, Aku adalah sang penentu, Aku memutuskan karena Aku ada. Kita boleh percaya bahwa Kekasih Sejati itu memang mencintai Sephia, tapi bagaimanakah dengan Sephia sendiri? Dia mau sama Kekasih Sejati atau Aku?

Kalau kita cermati lagi, kisah cinta segitiga ini agaknya lumayan seru. Kekasih Sejati mencintai Sephia, Sephia mencintai Aku, dan Aku telah memutuskan meninggalkannya, sampai-sampai jangan pernah panggil namaku/bila kita bertemu lagi di lain hari. Dengan demikian, cinta yang berlangsung dalam “Sephia” ini adalah cinta yang berat sebelah. Dibayangkan Sephia masih akan mencari, menganggap, dan memanggil Aku sebagai kekasih. Tepatnya masih ingin memiliki. Sedang Aku jelas tidak ingin memiliki, melainkan memberi, yakni memberi Kekasih Sejati kepada Sephia.

Dalam teori cinta Erich Fromm, cinta Aku ini lebih dewasa daripada cinta Sephia, dan memang dewasa karena Aku tidak memberi sebagai pengorbanan. Memberi sebagai pengorbanan sering diartikan kehilangan sesuatu, sedang memberi tanpa pengorbanan adalah pemberian dari yang memiliki kelebihan. Moralitas seperti ini jelas lebih beres daripada cinta yang memiliki, sehingga hancur luluh bila kehilangan. Akan halnya Kekasih Sejati, yang tak bisa melupakannya, nasibnya tak tertera dalam teks. Yang jelas, dalam moralitas Aku, menjadi kekasih sejati harus berarti siap melupakannya pula. Apakah ia bernama Sephia atau siapa pun… oh, Sephia!

Sumber : Djakarta! – The City Life Magazine

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 339 pengikut lainnya.