LEPAS LANDAS

Jakarta, Jumat Legi 20 Februari 1998

LEPAS LANDAS

              

Bung,
Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Wah, kalau saya ingat-ingat masa lalu, geli saya. Setidaknya tiga istilah laku keras: lepas landas, globalisasi, dan memasuki abad XXI. Mulai dari pejabat tinggi sampai pejabat ceremende, berbusa-busa mulutnya oleh omong kosong, pernyataan-pernyataan tanpa dasar, prediksi tanpa penelitian, asal mangap, waton suloyo. Padahal para birokrat itu kebanyakan juga bangsanya intelektual lho! Setidak-tidaknya bergelar doktor begitu–meskipun sekarang ini terlalu banyak doktor katrolan. Ajaib. Tiga abad setelah descartes(1596-1650): “Tidak bisa diragukan lagi bahwa saya ragu”–dunia majunya malah mundur.

Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Apakah dia berbicara dengan mulut, otak, atawa dengkulnya? Ataukah ia cuma membaca naskah pidato siap pakai? Sudah lama saya berpikir tentang ini. Siapakah mereka? Apakah mereka punya nama? mengapa mereka sudi mengorbankan namanya untuk diatasnamakan pajabat ini dan pejabat itu? Mengapa mereka menyembunyikan namanya? Apakah ini pembenaran atas ketidakberanian bertanggung jawab? Apakah ini kesempatan untuk bersembunyi sebagai seorang pengecut? Apakah pertanggungjawaban mereka menulis bangsa ini mau lepas landas seenak udelnya? Apakah Guru SD mereka tidak mengajari bagaimana caranya menulis tanpa istilah “Dalam rangka“?

Well, well, well, siapa dulu yang suka ngomong lepas landas/ Saya ingin mencari orangnya, ingin bertanya kepadanya, atas dasar apa maka sebuah negara suatu bangsa kok diibaratkannay sebagai pesawat terbang. Seolah-olah sejarah adalah suatu run-way di cengkareng sana, dan tahun 2000 adalah ujungnya. Eh, apakah itu sebuah metafor? cuma sebuah kidung? Hembusan angis surga yang meboikot sikap kritis? Saya ingin bertanya kepadanya darimana ia mengambil dan menyambung nyambung kata seperti pembangunan, nasional, transparan, manusia seutuhnya, dan lagi-lagi lepas landas? Betul-betul mengharukan.

Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Barangkali ia mengerti istilah analitik a priori yang diperkenalkan immanuel kant(1724-1804). Barangkali ia mengerti bahwa kalimat yang disambung-sambungnya dengan berbusa-busa dengan penuh retorika itu cuma merupakan pardobosan, karena seluruh kalimat yang disambung-sambungnya itu tidak menambah informasi apa-apa, seperti berkata lingkaran adalah bulat. Tahukan anda apa itu pardobosan? Nah, kalau itu istialah abru sumbangan saya: suatu aksen Batak untuk kata dasar Jawa–dobos. Orang Jawa akan mengucapkannya: ndobos. Hahahaha!

Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Saya ingat lagi para penulis naskah pidato itu. Mereka tidak terlalu bego sebetulnya. Jelek-jelek bisa menulis naskah pidato. Tapi mereka melakukan apa yang disebut pengkhianatan intelektual. Tidak menggunakan daya berpikirnya untuk bersikap kritis. Mereka sengaja menumpulkan diri. Membutakan diri. Jika dalam Johann Wolfgang Von Goethe(1695-1832), ilmuwan Faust menjual jiwanya kepada iblis Mephisto demi ilmu penegtahuan, mereka menjual jiwanya demi apa? Saya ingin bertemu dengan para penulis naskha pidato ini. Ingin bertanya: apa yang sebenarnya ada di dalam hati nurani meraka?

Bung,
Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Dimanakah mereka sekarang? Saya sudah lama tidak melihat batang hidungnya. Apakah Anda melihatnya? Kalau ketemu, tolong tanyakan: Kenapa sekarang tidak pernah ngomong lepas landas lagi? saya rindu dengan istilah itu–lepas landas….

Salam dari Palmerah.

SGA

  
NB. Sukab berkata: “Lepas landas? Nyungsep!

                      

Sumber: JAKARTA JAKARTA No 605 .Maret 1998

 

Jawaban Alina

Jawaban Alina

 

Sukab yang malang,

Senja yang kau kirimkan sudah kuterima, kukira sama lengkap seperti ketika engkau memotongnya di langit yang kemerah-merahan itu, lengkap dengan bau laut, desir angin dan suara hempasan ombak yang memecah pantai. Ada juga kepak burung-burung, lambaian pohon-pohon nyiur dalam kekelaman, sementara di kejauhan perahu layar merayapi cakrawala dan melintasi matahari yang sedang terbenam. Aku pun tahu Sukab, senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan, ketika segala makhluk dan benda menjadi siluet, lantas menyatu dalam kegelapan. Kita sama-sama tahu, keindahan senja itu, kepastiannya untuk selesai dan menjadi malam dengan kejam. Manusia memburu senja kemana-mana, tapi dunia ini fana Sukab, seperti senja. Kehidupan mungkin saja memancara gilang-gemilang, tetapi ia berubah dengan pasti. Waktu mengubah segalanya tanpa sisa, menjadi kehitaman yang membentang sepanjang pantai. Hitam, sunyi dan kelam.

Rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir. Senja yang engkau kirimkan telah menimbulkan bencana tak terbayangkan. Apakah engkau tahu suratmu itu baru sampai sepuluh tahun kemudian? Ah, engkau tidak akan tahu Sukab, seperti juga engkau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan senja yang kau kirimkan ini. Senja paling taik kucing dalam hidupku Sukab, senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia.

Senja ini baru tiba setelah sepuluh tahun, karena tukang pos yang jahil itu rupanya penasaran dengan cahaya merah kemas-emasan yang memancara dari amplop itu Sukab. Cahaya itu telah mengganggunya semenjak ia menggenjot sepeda dari kantor pos, berkilau-kilau dan memancar di tas surat yang tergantung di boncengan sepeda, begitu rupa sehingga cuaca siang hari menjadi kacau, angin menderu dan ombak terdengar menghempas-hempas, meskipun ia bersepeda mendaki bukit kapur. Demikianlah, maka ia suatu ketika berhenti. Dari dalam tas itu terdengar suara-suara, ia buka tas itu, dan ia melihat amplop Federal Express yang sudah tidak putih lagi melainkan merah keemas-emasan Sukab, seperti senja dengan matahari terbenam di balik cakrawala. Tukang pos itu mengambil amplop tersebut, menimang-nimangnya, agak berat juga. Maklumlah bukankah amplop itu berisi senja Sukab? Senja dengan matahari merah membara yang turun perlahan-lahan di balik cakrawala, seperti semua senja yanga ada di balik kartu pos, tapi yang kamu kirim itu bukan kartu pos Sukab, yang kau kirim itu senja di tepi pantai dengan hempasan ombak, bau laut dan angina yang asin. Kamu pikir berapa ton beratnya pasir di sepanjang pantai itu Sukab? Kira-kira sedikit dong! Masih lumayan tukang pos itu kuat menggenjot sepedanya mendaki bukit kapur. Busyet. Kalo anak-anak kecil tahu ada matahari terbenam di dalam amplop itu lantas bagaimana? Kau tahulah sukab, anak-anak di daerah bukit kapur begini tidak punya mainan yang aneh-aneh seperti di kota. Mereka hanya tahu kambing dan kerbau, ikan dan belut, sungai dan jagung. Nasi saja jarang meraka sentuh. Anak-anak yang tidak pernah tahu mainan robot berjalan dengan cahaya didadanya berkedip-kedip pasti akan penasaran sekali dengan cahaya senja yang memancar berkilauan., berkilauan merah dan keemas-emasan itu Sukab.

Mereka tidak pernah melihatnya Sukab, karena tukang pos itulah yang telah mendahului meraka. Ia menimang-nimang bungkusan berisi senja itu, mendengar-dengarkan, dan akhirnya mengintip. Tentu saja didalam amplop itu dilihatnya senja Sukab. Senja terindah yang paling mungkin berlangsung di muka bumi. Ia mengintip dan terpesona. Ia buka amplop itu. Sebetulnya menurut kode etik profesi itu tidak boleh. Tapi manusia manapun bisa melakukan kesalahan bukan? Ia buka terus amplop itu, dan melihat senja dengan langit merah kemas-emasan didalam sana, dan melihat mega-mega berpencar seperti perahu di danau, memebrikan perasaan nyaman dan tenang.  Siapa yang tidak suka merasa nyaman dan tenang di dunia Sukab, di sebuah dunia  yang miskin masih bersimbah darah pula? Maka jangan salahkan tukang pos itu Sukab, jika ia kemudian menjadi begitu penasaran dan memasuki senja yang terbentang. Tidak ada yang tahu apa nasib waktu(1). Ketika anak-anak akhirnya berkerumun di sekita sepeda yang tergeletak itu, mereka hanya melihat cahaya senja yang kemerah-merahan yang semburat membakar langit. Amplop itu hanya bocor sedikit, tapi akiatnya sudah begitu rupa. Ini semua gara-gara kamu Sukab.

Sukab yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,

Sepuluh tahun lamanya tukang pos itu mengembara didalam amplop, kita tidak pernah tahu apa yang diklakukanya disana. Apakah dia kawin, beranak pinak, dan berbahagia? Atau selama itu dia hanya duduk saja memandang matahari terbenam dengan perasaan kehilangan, sementara langit yang tadinya merah keemas-emasan perlahan-lahan menggelap kebiru-biruan – aku juga tidak tahu bagaimana caranya menikmati senja di dalam amplop Sukab, sebuah ruang yang sungguh-sungguh terdiri dari waktu. Apakah waktu bisa diulang atau bagaimana, aku belum pernah memasuki senja di dalam amplop. Atau, apakah didunia ini sebetulnya seperti didalam amplop ya Sukab, dimana kita tidak tahu apa yang berada di luar diri kita, dimana kita merasa hidup penuh dengan makna padahal yang menonton kita tertawa-tawa sambil berkata, “Ah, kasihan betul manusia.” Apakah begitu Sukab, kamu yang suka berkhayal barangkali tahu. Tapi aku tidak mau khayalan, aku tidak mau kira-kira, meskipun usaha kira-kira itu begitu canggihnya sehingga disebut ilmiah, aku mau tahu yang sebenarnya. Apakah ada yang menyaksikan kita sambil tertawa-tawa? Kalau iya, apalah artinya hidup kita ini sukab? Tidakkkah nasib manusia memang seperti ikan, yang diternakkan hanya unutk mengisi akuarium diruang tamu seseorang yang barangkali juga tidak teralalu peduli kepada makna kehidupan ikan-ikan itu?

Aku tidak pernah tahu, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dialami tukang pos itu didalam amplop, sampai ia keluar sepuluh tahun kemudian dengan wajah bahagia. Ia sudah sepuluh tahun menghilang didalam amplop, tapi ia tidak tampak betambah tua. Apakah waktu di dalam amplop tidak bergerak? Tepatnya apakah senja didalam amplop tidak berhubungan dengan waktu? Apakah tidak ada waktu di dalam amplop Federal Express itu? Hmm. Apakah aku harus peduli dengan semua ini sukab, apakah aku harus peduli? Kamu betul betul merepotkan aku Sukab, dasar lelaki tidak tahu diri.

Sukab yang malang, goblok dan menyebalkan,

Kamu tahu apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Tukang pos itu tiba di depan rumah kami. Ya, rumah kami. Setelah sepuluh tahun banyak yang terjadi dong Sukab, misalnya bahwa kemudian aku kawin,  beranak pinak dan berbahagia. Jangan kaget. Dari dulu aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego dikasih isyarat tidak mau mendengarkan. Sekali lagi, aku tidak mencintai kamu. Kalau toh aku kelihatan baik selama ini padamu, terus terang harus ku katakana sekarang, sebetulnya aku cuma kasihan. Terus terang aku kasihan sama kamu Sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak mencintai kamu. Makanya jangan terlalu banyak berkhayal Sukab, pakai otak dong sedikit, hanya dengan begitu kamu akan selamat dari perasaan cintamu yang tolol itu. Tapi bukan cinta taik kucing ini yang sebetulnya ingin ku ceritakan padamu Sukab.  Soal cinta ini sama sekali tidak penting.

Kamu harus tahu apa akibat perbuatanmu ini Sukab, mengirim sepotong senja untuk orang yang sama sekali tidak mencintai kamu. Tahu apa akibatnya? Begitu tukang pos itu pulang, setelah menceritakan kenapa kiriman Federal Express bisa terlambat sepuluh tahun, kubuka amplop berisi senja itu, dan terjadilah semua ini. Apa kamu tidak tahu Sukab, senja itu meski cuma sepotong, sebetulnya juga semesta yang utuh? Kamu kira matahari terbenam itu besarnya seperti apa? Seperti apem? Kalau sepotong senja itu di dalam amplop terus sih tidak apa-apa, tapi ini keluar dan lautnya membludag tak tertahankan lagi. Bagaimana aku tahu amplop itu berisi senja Sukab? Aku bukan pengkhayal seperti kamu. Hidupku penuh dengan perhitungan yang matang. Aku tahu betul untung rugi setiap perbuatan, terutama apa untung ruginya untuk diriku sendiri. Betapa pentingnya hidupku selamat, demi suamiku dan anak-anakku. Pura-puranya aku ini juga perempuan yang setia. Itu pula sebabnya, sebelum maupun sesudah kawin aku tidak sudi berhubungan dengan kamu Sukab. Lagi pula aku tidak mencintai kamu. Mau apa? Tapi kamulah yang tidak tahu diri, mengirim senja tanpa kira-kira. Dunia ini jadi berantakan tahu? Berantakan dan hancur lebur tiada terkira.

Setelah amplop itu kubuka dan senja itu keluar, matahari yang terbenam dari senja dalam amplop itu berbenturan dengan matahari yang sudah ada(2). Langit yang biru bercampur aduk dengan langit yang kemerah-merahan yang terus menerus berkeredap menyilaukan karena cahaya keemas-emasan yang menjadi semburat tak beraturan. Senja yang seperti potongan kue menggelegak, pantai terhampar seperti permadani di atas bukit kapur, lautnya terhempas langsung membanjiri bumi dan menghancurkan segala-galanya. Bisalah kau bayangkan Sukab, bagaimana orang tidak panik dengan gelombang raksasa yang tidak datang dari pantai tapi dari atas bukit?

Air bah membanjiri bumi seperti jaman Nabi Nuh. Dunia menjadi gempar, tidak semua perahu yang ada cukup untuk seluruh umat manusia kan? Lagipula sampai kapan kapal dan perahu itu bisa bertahan? Tiada satu kota pun yang selamat, lautan dari senjamu yang membuat langit merah membara itu menghempas dan membanjiri bumi dengan cepat sekali. Gedung-gedung pencakar langit di setiap kota besar di seluruh dunia, gunung-gunung tertinggi di muka bumi, semuanya terendam air. Sukab, bumi ini sekarang sudah terendam air. Dimana-mana air dan langit senja tak kunjung berubah menjadi malam. Segalanya kacau Sukab, gara-gara cintamu yang tak tahu diri.

Sukab yang malang, paling malang, dan akan selalu malang,

Aku menulis surat ini dengan kertas dan pena terakhir di dunia, di atas puncak himalaya. Di depanku ada senuah sampan kecil dengan sepasang dayung dan sebungkus supermi. Itulah makanan terakhir di muka bumi. Sisa manusia yang menjadi pengembara lautan di atas kapal dan perahu telah mati semua, karena kehabisan bahan makanan maupun mayat teman-temannya sendiri. Manusia memang banyak akal, tapi menghadapi senja dari dalam amplop itu tidak ada jalan keluar. Banyak orang mempertanyakan diriku, kenapa aku membuat dirimu begitu cinta menggebu-gebu, padahal cinta secuil pun juga tidak, sehingga kamu mengirimkan sepotong senja itu kepadaku, dan tumpah ruah membanjiri bumi. Tapi coba katakan, tapi itu bukan salahku toh Sukab? Aku tidak mau disalahkan atas bencana yang menimpa umat manusia. Mengapa cinta harus menjadi begitu penting sehingga kehidupan terganggu? Ini bukan salahku.

Air laut kulihat makin dekat, setidaknya setengah jam lagi tempat aku menulis surat ini sudah akan terendam seluruhnya. Aku akan naik perahu, mendayung sampai teler, makan supermi mentah, lantas menanti maut. Akan ku kirim kemana surat ini? Barangkali kamu pun sudah mati Sukab. Semua pengembara di lautan sudah mati.  Sedangkan di puncak tertinggi di dunia ini tinggal aku  sendiri, dari hari kehari memandang senja yang selesai, dimana matahari tidak pernah terbenam lebih dalam lagi. Semesta dalam amplop itu telah menjadi pemenang dalam benturan dua semesta, namun semesta dalam amplop itu cuma sepotong senja, sehingga dunia memang tidak akan pernah sama lagi. Kalu aku mati nanti, bumi ini akan tetap tinggal senja selama-lamanya. Dengan matahari terbenam separuh yang tidak pernah turun lagi. Langit merah selama-lamanya, lautan jingga selama-lamanya, tetapi tiada seorang manusia pun memandangnya. Segenap burung sudah punah karena kelelahan terbang tanpa henti. Tinggal ikan-ikan menjadi penguasa bumi. Di kejauhan, ku lihat Ikan Paus Merah yang menjerit dengan sedih.

Sukab,

Aku akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan ke laut lepas.  Buakn tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu(3). kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapau semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seprti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.

   

Selamat berpisah semuanya. Selamat tinggal.

   

   

Alina

   

   

   

     

Pondok Aren, Sabtu 10 Februari 2001,  20:45

James Bond Jakarta Style

James Bond Jakarta Style

Seno Gumiro Ajidarma and Zacky, Sukab, Intel Melayu: Misteri Harta Centini [Sukab, Malay Intelligence Agent: The Mystery of the Centini Wealth], Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, July 2002, 99pp, ISBN 979-9023-79-3.

 
Reviewed by John Roosa

Sukab is an Indonesian intelligence agent who has never solved a case. He bumbles his way through assignments, lacks any idea of how to obtain information, and always winds up empty-handed. What he knows is how to imitate the Bogart-style detectives portrayed in films of the 1950s: he wears a trench coat and Hamburg hat and repeatedly compares his experiences to Western films.

Sukab is intelligent enough to realise that he is incompetent. He wonders whether he keeps being handed assignments precisely because his bosses do not want the cases solved. In his mimicry, alternately imagining himself as James Bond and Batman, he knows he is not quite fulfilling such heroic roles. ‘I’m a spy but how come it doesn’t feel like the films?’ His trench coat and hat are unsuited for Jakarta’s sweltering heat: ‘I want to follow the style of the detectives in the American comics but I’m burning up!’

Sukab’s failure as a spy is not because he is dim-witted. He is incredibly well read. He freely quotes from difficult philosophical and literary texts, such as those by Nietzsche, Chairul Anwar, Neruda, Beckett, and Levinas. None of the model Western spies are as erudite as Sukab. It is hard to imagine James Bond reading Derrida.

Sukab’s failure as an ‘intel’ appears to derive from his intellectual bent. In the world of gangsters and assassins, he is out of his element. He would feel more at home in café discussions on a university campus. Sukab is brave, daring, and remarkably skillful in martial arts. But he just cannot manage to apply his intellect to detective work.

His failure also appears due to his lack of creative thinking. His exposure to cosmopolitan learning and popular Western culture has only left him with an impulse towards imitation. He relates what he experiences to passages from books and films but he can not untangle riddles and analyze problems.

The story line of this installment, the first in what promises to be a Sukab series, is related to the Suharto family’s massive fortune. The ‘Centini wealth’ in the subtitle is a play on “Cendana,” the street in Jakarta on which Suharto lives. It is also an allusion to the sprawling Javanese text compiled at various times in the 17-19th centuries, Serat Centhini. Part of the humour of the comic book is from such word play. Tommy Suharto becomes Tompel (Birthmark) Suroto, and Orde Baru (New Order) becomes Orde Bobrok (Rotten Order).

Seno’s social commentary is biting. Sukab, while held captive by the agents of Suroto, is lectured on the effects of dictatorship, ‘You think Orde Bobrok is dead? How could that be? For over thirty years we’ve inculcated a backward mentality in this country. You people are still backward.’

Sukab’s designation as an ‘intel Melayu’ harkens back to the colonial-era disdain for natives, when Melayu was synonymous with inferior. Seno’s use of the term is tongue in cheek. Sukab calls himself an ‘intel Melayu’ at one point because he understands nothing of the world of high finance. He tries to think about Suharto’s Swiss bank accounts while sitting in a run-down warung eating fried tempeh, feeding scraps to a mangy stray cat, and reciting melancholy poetry to himself.

The skillfully drawn black and while drawings by Zacky capture the film noir atmosphere of Sukab’s imagination. They also powerfully evoke the smog and filth of Jakarta’s gray concrete cityscape. Still, they strike this reader as excessively foreboding and eerie. The silliness of the scenario (hit men dance disco in one scene) and the ironic, self-effacing side of the Sukab character are not conveyed well through such bleak drawings.

Regardless, this is a brilliant and innovative book. The social commentary and literary allusions (which are even footnoted) make this a highbrow, dizzyingly inter-textual, comic book. Sukab is an original, enigmatic, and amusing character. If Indonesian intelligence agents will not appreciate the book, intelligent adults – and children – will.

———————

artikel diambil dari http://www.insideindonesia.org/edit73/book%20review.htm

Selamat Malam, Duhai Kekasih

Selamat Malam, Duhai Kekasih

 

DARI jauh Sukab sudah mendengar lagu dangdut itu.

selamat malam

duhai kekasih

sebutlah namaku

menjelang tidurmu

Langkah menjadi ringan, seringan hatinya sejak sore sudah melayang-layang. Tumirah, ya Tumirah, wanita itu sudah berjanji akan menunggunya di malam Tahun Baru. Sudah berjanji akan berjoget di lapangan terbuka, lapangan sepak bola di kampungnya yang kini menjadi arena pesta. Tumirah, Tumirah, telah dibayangkannya wanita bertubuh sintal itu, dengan kain dan kebaya merah, dengan rambut terurai sampai ke bahu, dengan sendal jepit merek Swallow, bergoyang dan bergoyang di arena jojing yang becek tapi membakar.

“Tumirah, apakah kamu akan datang ke lapangan pada malam Tahun Baru?”

“Aku tak tahu Sukab, aku tak bisa pastikan sekarang.”

“Datanglah Tumirah, aku ingin bersamamu, apakah kamu tidak ingin melewatkan Tahun Baru bersamaku?”

“Tentu saja aku ingin bersamamu Sukab, aku selalu ingin bersamamu. Akan kuusahakan untuk berjoget denganmu.”

“Bagaimana aku tahu kamu akan datang atau tidak?”

“Tunggulah aku, aku akan pager kamu.”

“Jangan lupa Tumirah, aku menunggu.”

“Aku tahu Sukab, aku tahu.”

Rembulan pucat tertutup awan. Namun lampu dari segala macam tukang jualan telah membuat lapangan jadi semarak. Sukab melangkah setengah berlari sambil membawa bunga. Setangkai bunga merah yang terlindungi plastik. Sebagai pesuruh di toko bunga, Sukab tahu jenis bunga apa yang biasanya dibeli orang sebagai pernyataan cinta. Bahkan ia sering mengantarkan bunga semacam itu ke mana-mana dengan sepeda motornya. Pemilik toko bunga itu melengkapi Sukab dengan sebuah pager, supaya Sukab bisa menerima tugas dalam perjalanan.

Kini Sukab membawa sekuntum bunga berwarna merah yang diambilnya dari toko. Akan kupersembahkan bunga ini sebagai kejutan, pikirnya, Tumirah tentu akan senang menerimanya. Membahagiakan Tumirah adalah segala-galanya bagi Sukab. Ia pernah menulis surat kepada Tumirah: Aku tidak peduli Tumirah, apakah engkau punya suami, apakah engkau punya pacar, aku akan mencintaimu selalu, meskipun sesudah aku mati. Begitulah bunga itu dibawanya setengah berlari. Ia sebenarnya tak berharap Tumirah sudah berada di sana pada jam seperti ini. Namun, pikirnya, siapa tahu Tumirah sudah ada di sana, siapa tahu – seperti segala hal tak terduga yang pernah dialaminya bersama Tumirah.

bawalah aku

dalam mimpi yang indah

di malam yang dingin

sesunyi ini

Sebetulnya lapangan itu memang masih jauh, tapi dalam acara orkes dangdut, pengeras suara selalu di-geber sampai ke langit. Sukab sangat menyukai lagu dangdut. Ia suka mencatat syairnya, dan menghafalkannya, semua itu membuat ia merasa hidup. Itulah yang disukai Tumirah dalam diri Sukab, karena Tumirah juga menyukai lagu dangdut. Tapi Tumirah menyukai dangdut bukan hanya karena syairnya, Tumirah menyukai hentakan-hentakan dangdut karena semua itu mampu membuat dirinya bergoyang.

Tumirah adalah seorang primadona di arena dangdut. Kalau ia bergoyang, ia tidak hanya ber-jojing, ia menari untuk ditonton. Karena itu sebenarnya ia tidak memerlukan pasangan. Setiap gerakannya penuh dengan pesona. Bahwa kemudian di arena jojing terbentuk lingkaran yang memberi ruang Tumirah bergaya, itu adalah soal biasa. Bahkan sang penyanyi dangdut suka kheki karena Tumirah kelewat mencuri perhatian.

“Lihat Tumirah itu, ia mulai lagi.”

“Heran, ia senang sekali menari.”

“Baguslah orang senang menari.”

“Ketimbang senang korupsi.”

“Hahahaha!”

“Tumirah itu, ke mana suaminya?”

“Entahlah, mereka tidak pernah bersama.”
***
SUKAB melihat Tumirah untuk pertama kalinya ketika sedang menari. Tumirah selalu mengenakan kain dan kebaya merah, dengan rambut terurai dan sandal jepit yang juga merah. Bayangan Tumirah telah membuatnya gelisah sepanjang malam, sehingga ketika sampai di rumah pun istrinya tahu pikiran Sukab melayang entah ke mana.

“Siapakah Tumirah?”

“Entahlah. Siapa dia?”

“Semua orang melihatnya menari di lapangan, masak kamu tidak tahu?”

“Jadi yang menari itu namanya Tumirah?”

“Iya, wanita yang sudah bersuami tapi selalu pergi sendiri.”

“Kenapa memang kalau pergi sendiri?”

“Sukab, semua orang bilang kamu berjoget dengan dia!”

“Hah?”

“Hah-huh-hah-huh! Dasar gombal kamu! Hati-hatilah, semua orang bilang dia wanita yang meninggalkan suaminya, dan kini jadi simpanan centeng pasar.”

“Oh, begitu?”

“Ya, begitu.”

“Tapi aku tidak peduli.”

“Memang kamu tidak harus peduli. Kamu harus peduli kepadaku, istrimu yang setia.”

“Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu.”

“Sudah! Diamlah! Aku sudah tahu isi perutmu.”

Waktu berlalu seperti mimpi. Lagu itu seperti terdengar sepanjang tahun.

selamat malam

duhai kekasih

kan kusebut namamu

menjelang tidurku


***
SUKAB beredar di antara martabak, tukang sekoteng, tukang balon, tukang bakso, dan tukang es. Bau minyak wangi murahan menusuk hidung, perempuan berpupur putih bertebaran di mana-mana, dengan busana yang dalam pandangan Sukab seperti tidak pernah pas. Habis semuanya baju obral sih, pikir Sukab, benangnya saja ngelewer kian ke mari. Tapi ia tidak bisa berpikir panjang soal baju, pikirannya hanya terpatok pada Tumirah. Di mana dia sekarang? Berkali-kali ia menengok pager-nya meski tidak berbunyi. Namun tiada pesan apa-apa dari Tumirah.

Ia masih membawa-bawa bunga itu di tangannya. Tubuhnya terus melindungi bunga itu dari desakan orang-orang yang memenuhi lapangan, seolah-olah ia sedang melindungi Tumirah sendiri, sampai ia tiba di tepi panggung. Malam masih muda, namun orang-orang sudah bergoyang dengan penuh perasaan. Betapa dasyatnya dangdut itu merasuki jiwa mereka. Dangdut itu bagaikan telah menjelma suatu aliran di mana mereka bisa membebaskan jiwa mereka berenang-renang di sana. Lihatlah wajahnya. Lihatlah matanya. Orang-orang yang larut dalam buaian, bergoyang dan bergoyang. Bagaikan tiada lagi yang lebih indah selain dangdut. Bagaikan tiada lagi yang lebih membahagiakan selain dang-dut-dutdutdut.

“Sukab, ayo turun!”

“Nanti!”

Rembulan yang pucat bagai ikut bergoyang. Penyanyi dangdut itu, dengan baju panggung terbuka dan belahan di dada maupun di paha yang mendebarkan, seperti menari di atas awan. Ia seperti menyanyi di atas sebuah perahu, dan perahu itu mengembara di langit yang kelam. Sesekali panggung itu penuh dengan asap, lampu berpijar-pijar, dan penyanyi itu berputar-putar. Orkes menghentak menggugah kebinalan. Sukab sudah kebelet bergoyang, tapi malam itu ia hanya akan mempersembahkan dirinya untuk Tumirah.

Ditatapnya bunga yang dibawanya. Ia tahu dirinya sudah terlanjur mencintai Tumirah. Sesuatu yang telah diketahuinya hanya akan membawa malapetaka.

“Jangan terlalu sering bermimpi Sukab, belajarlah berbahagia dengan apa yang kamu miliki saja. Cinta adalah soal yang bisa menjadi pelik, tapi ia juga bisa menjadi begitu sederhana, kalau kamu bisa belajar hidup dengan apa adanya.”

Siapakah yang mengatakan itu kepadanya? Sukab sudah lupa. Dalam kehidupannya sebagai pengantar bunga, sudah begitu banyak pembantu rumah tangga ditemuinya di pintu pagar.

“Ini bunga untuk siapa?”

“Itu ada tulisannya.”

“Maaf, saya tidak bisa membaca.”

“Jadi, kamu juga tidak bisa membaca tulisan ini : dengan cinta?”

“Maaf, saya tidak bisa membaca, tapi saya tahu bahasa bunga.”

“Kalau begitu, ini ada bunga lain untuk kamu.”

“Dari siapa?”

“Dari hati saya.”

“Oh, di situnya punya hati toh?”

“Lha iya, masak cuma punya pager doang?”

“Baik betul kamu.”

“Ah, itu biasa, dengan semua orang saya begitu.”

“O ya? Kalau begitu saya tidak istimewa dong?”

“Semuanya istimewa, semuanya luar biasa.”

Begitulah kehidupan Sukab, dari pagar ke pagar. Kadang ia cuma berdiri di luarnya. Kadang melompatinya. Sukab memang tidak pernah berterus terang, bahwa Tumirah baginya adalah segala-galanya. Sampai pada suatu malam, malam Tahun Baru, di mana segala-galanya telah menjadi lain.

Seperti masih terngiang lagu yang satu itu.

gelisah hatiku

karena kau jauh dariku

tak lelap tidurku

karena terbalut rindu

Sudah puluhan kali pager diperiksanya meski tidak berbunyi sama sekali. Tiada pesan secuil pun dari Tumirah.

adakah rindu

di dalam hatimu

seperti diriku

merindukanmu

Malam Tahun Baru akhirnya lewat. Terompet kertas telah lama ditiup dan kini berserakan di tanah yang becek. Malam masih sama seperti beribu-ribu malam yang lain. Sunyi dan kelam, bulan yang pucat menggantung di awan.

Lapangan sudah kosong sekarang. Malam merayap menuju hari pertama di tahun yang baru. Tapi apalah yang sebenarnya baru? Apalagi yang masih bisa baru di bumi yang tua ini? Memang begitu banyak perubahan, namun semua itu tidak mengubah apa-apa bukan? Masih juga kekecewaan dan kepahitan yang lama. Sukab masih memegang bunga itu, duduk sendirian di panggung yang kosong. Kakinya bergelantungan bergoyang-goyang. Matanya hampa menatap jejak-jejak di tanah becek bekas orang berjoget.

Jari tangannya sudah pegal memegang bunga itu, yang tampaknya kini sudah tidak bisa menyampaikan apa-apa lagi. Tidak bahasa bunga, tidak juga bahasa cinta. Untuk beberapa lama ia masih berharap Tumirah akan muncul dari balik kegelapan, dengan kain dan kebayanya yang memang selalu merah, dengan rambutnya yang terurai liat melambai-lambai ditiup angin malam. Ia masih berharap Tumirah akan muncul dan berkata, “Maaf, aku terlambat.” Namun tiada seorang pun muncul dari kegelapan yang mana pun.
***
HARI menjelang fajar. Sukab melangkah pulang sambil berdendang sendiri.

selamat malam

duhai kekasih *)

Di depan rumah, ia melihat istrinya, yang sudah menyiapkan warungnya seperti setiap dini hari yang lain. Istrinya merokok, seperti biasa selalu mengenakan kain dan kebaya hijau, dengan rambut digelung, dengan kaki tidak bersandal. Istrinya selalu bercakar ayam. Dalam cahaya lampu petromaks, Sukab melihat istrinya seperti seorang wanita lain.

“Kamu ketemu Tumirah kan?”

“Tidak, aku mengantar bunga.”

“Untuk siapa?”

“Untuk kamu.”

Ia memberikan setangkai bunga merah terlindungi plastik yang sejak tadi dibawanya. Istrinya meletakkan bunga itu di sebuah botol kosong.

“Sudah lama kamu bekerja sebagai pengantar bunga,” kata istrinya, “tapi baru sekarang kamu memberi bunga untuk istrimu.”

Sukab hanya tersenyum masam. Ia mengganti pakaian dengan sarung, dan langsung tertidur di atas amben. Sampai detik itu ia belum sadar sama sekali, betapa beruntungnya seorang lelaki ketika mendapatkan istri yang setia.

Taman Manggu, Minggu 12 Januari 1997

*) Syair lagu dalam cerpen ini diambil dari lagu Selamat Malam, ciptaan Evie Tamala, yang juga menyanyikannya sendiri.
970330

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 365 pengikut lainnya.