“Buntil! Buntil! Buntililililililililllll!!”

“Buntil! Buntil!

Buntililililililililllll!!”

 

Di depan rumah saya, setidaknya seminggu sekali, selalu lewat penjual buntil: parutan kelapa, teri, dan cabai yang dibungkus daun singkong atau daun pepaya, yang dimasaknya entah diapakan, lantas dibungkus lagi dengan daun pisang dan dikunci dengan lidi. Semuanya ekologis, kalau dibuang bisa larut ke dalam tanah. Sebetulnya, pedagang itu tidak hanya menjual buntil, tapi juga botok: adonan parutan kelapa, teri, dan petai cina; dan ayam panggang, masih ditambah sate usus dan hati ampela. Tetapi sambil menyunggi semua itu di atas kepalanya, ia hanya meneriakkan satu kata sambil berjalan keliling kompleks : “Buntil! Buntil! Buntililililililililllll!!!” – dan tentu saja saya hampir selalu membelinya.
                    Suara dan lagunya begitu khas (sayang tak mampu saya not balokkan), sehingga setiap kali suara itu terdengar, saya selalu teringat Otto Sidharta – pemusik kontemporer yang modalnya rekaman suara-suara. Saya berpendapat, jika Otto merekam suara itu dan memperdengarkannya kembali di Gedung Kesenian Jakarta tanpa harus diolah lagi, itu pun sudah merupakan musik yang dahsyat. Apa yang sehari-hari menjadi “seni”, hanya dengan memindahkannya dari jalanan ke gedung kesenian, dan memang begitu. Bukan karena ndobhos (ngibul) dengan teori-teori selangit, tapi karena suara promosi buntil itu sungguh-sungguh unik – sehingga tak harus minder dengan suara-suara kemapanan yang keluar dari kerongkongan Luciano Pavarotti.
                    Merenungkan suara tukang buntil ini, membuat saya pasang telinga terhadap suara-suara peradaban yang lain: ternyata bukan hanya suara burung-burung dan kericik aliran sungai yang layak didengar dengan mata terpejam, melainkan juga suara kecrek tukang air, seruan tukang sayur, ungkapan malas tukang siomay (seperti tidak niat jualan), maupun suara-suara lembut tukang asah pisau. Kalau kita kurang peduli, suara tukang-tukang ini hanya terposisikan sebagai suara burung yang tak pernah kita ketahui jenisnya apa. Namun mereka yang bekerja di rumah, atau menganggur karena PHK, akan bisa membedakan suara pembeli barang bekas, penjual abu gosok, tukang cukur keliling, tukang hamburger, tukang bakso, dan tukang dawet ayu.
                    Saya pikir, perbendaharaan suara di Jakarta ini sungguh-sungguh dahsyat: itulah yang disebut soundscape – lingkungan suara yang menjadi bagian kekayaan manusia yang mampu menikmatinya, sehingga bisa dibayangkan betapa miskin dan kering lingkungan suara yang hanya menyisakan dengung AC di apartemen-apartemen mewah. Saya piker, kalau disusun sebuah rekaman yang dimaksudkan sebagai ensiklopedi suara-suara di Jakarta, pasti akan menjadi benda budaya yang berharga, karena konon perubahan zaman akan menggusur, mengubah, dan kemungkinan juga melenyapkan suara-suara itu.
                    Dengan kata lain, suara-suara itu, untuk pura-pura objektif, ternyata bukanlah sekadar suara yang tersimpan sebagai energi dalam udara, melainkan sesuatu yang secara subjektif bisa sangat bermakna. Bukankah tukang es krim meminjam komposisi Beethoven yang disebut Lonely Lover Symphony? Ini bukan berarti Beethoven direndahkan, melainkan kreasi tukang buntil pun sama nilainya dengan komposisi kelas dunia : bahwa manusia menyampaikan sesuatu kepada dunia, sehingga dunia ini menjadi cukup bermakna bagi manusia yang hidup di dalamnya.
                    Barangkali Anda tinggal di gang, tempat seribu satu penjual lewat setiap hari, tapi Anda tidak pernah memperhatikannya. Sungguh mati, sebenarnya Anda berada di sebuah tempat yang sungguh-sungguh  berbudaya. Untuk menjadi manusia berbudaya Anda tidak harus nonton Art Summit, atau membudayakan diri dengan berziarah ke pusat-pusat kebudayaan, galeri-galeri, dan apalagi cuma restoran serta kafe, bukan objek melainkan subyek yang menentukan: Anda bisa menerima suara-suara di depan gang sebagai konserto agung peradaban manusia.
                    Jadi, dengarlah: pasang telinga Anda bagaikan radar yang peka terhadap setiap gerak gelombang udara. Maka, Jakarta barangkali akan menjadi cukup berbeda. Kita akan jadi tahu betapa ngehe’ mereka yang menggeber mesin sepeda motornya seperti mau balapan, betapa mengganggunya memanaskan mesin mobil tanpa perhitungan itu mengganggu atau tidak, dan sungguh terasa betapa banyak radio dan teve disetel tanpa ada perlunya. Kemudian, di balik itu semua, terdengar suara tokek, cicak, kucing menggeram-geram mau kawin, dan lolong anjing yang dikirim ke bulan. Angin lewat, dering HP yang macam-macam, dan suara tukang koran sepanjang gang.
                    Dengan memisah-misahkan suara dan mendengar salah satunya, seseorang kembali kepada dirinya sendiri. Kesunyian, memang, tidak usah diburu ke gunung. Anda bisa melakukan meditasi di tengah kebisingan, dengan menciptakan ruang Anda sendiri, bukan dengan membangun tembok dan menutup telinga, melainkan dengan mendengar secara jernih. Pada saat itulah suara-suara hadir sebagai makna, dan lingkungan suara hadir sebagai suatu dunia.
                    “Buntil! Buntil! Buntilililililililillllll!!!”
                   Mengapa tidak? Pejamkan mata, dan dengarkan suara-suara Jakarta, saya kira Anda akan mendapatkan lebih banyak dari saya.

Sumber : “Affair : Obrolan tentang Jakarta” Published  by Penerbit Bukubaik Yogyakarta – July 2004

Iklan

3 thoughts on ““Buntil! Buntil! Buntililililililililllll!!””

  1. kali ini Seno bermaksud memamerkan keindahan suara yang nyatanya mampu diperoleh dari tempat kita beraktifitas sekarang..
    nikmatilah ^0^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s