Perkenalkan: Ali Oncom

Perkenalkan: Ali Oncom

 

Studi sosiologi pertama yang saya baca mungkin adalah Pemuda dan Perubahan Sosial terbitan LP3ES (Taufik Abdullah, ed., 1974), dan entah kenapa saya selalu teringat tulisan Amir Karamoy, “Peranan Komunikasi dan Pemanfaatan Waktu Luang dalam Kehidupan Pemuda di Jakarta,” yang berfokus kepada perilaku kaum muda di perkampungan miskin. Saya terkesan pada satu kesimpulan dalam penelitian itu, terutama tentang kecenderungan meniru: bahwa jurang antara yang kaya dan miskin ternyata dijembatani oleh fenomena peniruan –apa yang dari luar tampak sebagai gaya hidup anak orang kaya, segera ditiru oleh anak orang miskin.
        Tapi, masih menurut Karamoy, peniruan ini hanya mementingkan efek demonstratif ketimbang suatu kebutuhan nyata. Semua ini terlihat mulai dari aspek mode, gaya bicara, sampai penggunaan narkotik. Ini tidak berarti anak orang kaya merupakan “agen perubahan”, karena penelitian tersebut menyatakan bahwa kelebihan mereka hanyalah pada pola konsumsinya yang sangat tinggi. Mereka juga cuma para peniru, tepatnya “peniru tercepat” sehingga ketika muda-mudi miskin mulai meniru mereka, maka mereka sudah melakukan up-dating untuk meniru apa pun yang lebih baru lagi.
        Penelitian itu berlangsung 27 tahun lalu. Namun, jika berbagai penelitian mutakhir tentang kemiskinan kota diperiksa, seperti yang dilakukan Alison J. Murray (Pedagang Jalanan dan Pelacur Jakarta, 1991/1994) dan Lea Jellinek (Seperti Roda Berputar, 1991/1994), ternyata tidak terlalu banyak perbedaan. Deskripsi lingkungan hidup dan lingkungan sosial yang dituliskan para peneliti ini masih menggambarkan dunia yang sama. Murray mengubek-ubek kawasan Manggarai dengan bolak-balik antara 1983 sampai 1989, sementara Jellinek ngendon sampai 15 tahun di Kebon Kacang. Kerincian penggambaran para peneliti ini mengesankan. Pembacanya bisa merasa seperti membaca novel sehingga pernah tersirat dalam pikiran saya bahwa di sanalah terletak prestasi penelitian mereka, yang lebih bermakna ketimbang analisis dan kesimpulannya.
        Dengan pengandaian bahwa hasil-hasil penelitian itu sahih, maka bolehlah dibayangkan bahwa kegemerlapan Jakarta ini ibarat bola-bola pingpong yang mengambang di rawa-rawa kemiskinan nan gelap. Kelas menengah Jakarta tidak pernah menyadarinya, atau bahkan melupakannya, karena terlalu asyik bergunjing di antara mereka sendiri. Artinya, kelas menengah ini sebetulnya hidup di sebuah lingkungan yang tidak dikenalnya. Tentu saja ini ironis. Tapi, apakah harus dituntutkan kepada manusia berdasi yang tangan kirinya           terus-menerus memegang HP itu, untuk turun dari mobilnya, masuk ke sebuah gang, dan bersalaman dengan seorang pemuda yang sedang bermain gitar sambil berjongkok?
 Tidak perlu, karena ia cukup berkenalan dengan Ali Oncom, tokoh comic strip gubahan Budi Priyono dari Lembaran Bergambar (Lembergar) harian Pos Kota, koran terbesar tirasnya di Jakarta, yang mayoritas pembacanya adalah para pekerja kasar, para pendatang, dari kelas bawah. Memandang sosok Ali Oncom, saya teringat kembali kesimpulan berbagai penelitian tadi: tentang bagaimana anak orang miskin meniru penampilan anak orang kaya, meski akan selalu ketinggalan, dan perilakunya tetap bersumber dari budaya kemiskinan.
       Ali Oncom ini misalnya, potongan rambutnya jelas memperlihatkan betapa ia sangat bergaya: cepak di pinggir, gondrong, dan berkucir di belakang, tapi celakanya botak di tengah. Lengan baju digulung bak remaja boys band, kancing dibuka, dalamnya berkaos. Celana jins potongan jengki dengan sepatu olahraga. Begitulah, bergaya sih bergaya, tapi gaya kampung. Meskipun begitu, jangan main-main, popularitasnya nomor dua setelah tokoh comic strip favorit yang lain, Raden Doyok Suryodipuro karya Keliek Siswoyo, dari pemeringkatan tokoh-tokoh comic strip Lembergar. Jika Doyok menyabet angka favorit 74, 9 %, maka Ali Oncom sampai 70, 4 % (Pos Kota, 30 Tahun Melayani Pembaca, 2000). Pun Ali Oncom ini sebagai comic strip sungguh orisinal dalam penggambaran pemuda miskin kelas bawah Jakarta.
        Bukan hanya penampilannya, melainkan juga bahasa, cara berpikir, persoalan-persoalan yang digelutinya, sampai sikap terhadap perempuan, merupakan berbagai jendela yang memungkinkan pembaca mengenal Jakarta di balik gang, seolah-olah dari dalam. Kepekaan penggubah Ali Oncom ini, dalam kerincian dan nuansanya, menurut saya setara dengan para peneliti ilmiah yang ngendon di dalam kampung selama bertahun-tahun.
 Sayang, tidak bisa memperkenalkannya panjang lebar, saya kutipkan saja dialog edisi Senin, 16 Juli 2001:

          ALI ONCOM : Eh, perasaan ogut pernah lihat kamu di TV, kamu bintang iklan ya?
          PEREMPUAN : Saya juga pernah liat Abang di P. R. J., di dekat panggung rock…
          ALI ONCOM : Ogut emang anak band!
          PEREMPUAN : Tapi yang aku liat kamu lagi jualan kerak telor!

Sumber : “Affair : Obrolan tentang Jakarta” Published  by Penerbit Bukubaik Yogyakarta – July 2004

Iklan

8 thoughts on “Perkenalkan: Ali Oncom”

  1. saya sedang skripsi, dan saya mengangkat judul ali oncom dan representasi kemiskinan. walau judul saya belum di terima.

    boleh tanya ya. apa bedanya komik strip, komik, kartun, dna karikatur?

  2. saya… ngefans banget… ma ali oncom, karakter masyarakat indonesia banget… sayapun terinspirasi membuat krakter komik yang indonesia dengan nama tokoh si komod dan si odon

  3. kangen Poskota thn 80 -an yg komik2 hiburanya bnyk, Doyok, Ali Oncom, Heddot, Mat Kubil, Otoy dan Mertuanya, dan bnyk lagi, kpn dong Poskota hadirkan seperti dulu lg komiknya? begitu banyak tokoh dan karakternya,I Miss U guys.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s