Joko Swiwi

“CERITAKAN kepada kami tentang perbedaan,” kata murid-murid sekolah
dasar itu kepada Ibu Guru Tati, kelak di masa yang akan datang.

Maka Ibu Guru Tati akan menceritakan legenda Joko Swiwi.
Ketika Joko Swiwi lahir, Poniyem merasa dirinya melahirkan seekor
ayam, karena bayi yang keluar dari rahimnya terbungkus sepenuhnya
oleh sepasang sayap yang basah. Dukun bayinya saja hampir pingsan
melihat bayi seperti itu.

Ketika sayap itu membuka dengan sendirinya, barulah tampak kepala
bayi yang akan bernama Joko Swiwi itu. Matanya sudah melek dengan
jernih, dan ia langsung tertawa terkekeh-kekeh, seperti bercanda
kepada mereka yang terkaget-kaget.

“He-he-he-he-he….”

Poniyem sebetulnya juga nyaris pingsan, karena ia semula mengira
Dirinya betul-betul melahirkan seekor ayam, tetapi pandangan mata
bayi itu kepadanya adalah pandangan mata seorang anak kepada ibunya.
Poniyem segera merasakan tali batin hubungan ibu dan anak, tali
batin ajaib yang berlaku bagi ibu dan anak mana pun, bagaimanapun
bentuk rupa ibu dan anak itu, sehingga ketika dukun bayi itu
mendekatkan bayi bersayap tersebut ia pun segera merengkuh dan
menyusuinya.

Di luar ruangan, orangtua Poniyem melihat Ibu Dukun itu menyibak
gorden dan termangu-mangu di pintu.

“Cucu sampean itu Joko Swiwi, Lik.”
“Ha?”
“Iya, Joko Swiwi, mana mungkin bayi seperti itu mau sampean beri
nama Bambang Wicaksono.”

JOKO Swiwi memang tidak punya bapak, atau lebih tepat tidak jelas
bapaknya. Ketika Poniyem pulang dari luar negeri, ia sudah
mengandung tujuh bulan. Entah kenapa semua orang di desanya maklum-
maklum saja dan dengan gerak cepat segera mendapatkan seorang suami
bagi Poniyem. Tidak penting benar apakah pemuda berusia 30 tahun itu
sering meneteskan air liur tanpa sebab dan sama sekali tidak cocok
dengan Poniyem yang cantik jelita indah rupawan bahenol nian. Bagi
penduduk desa cara seperti itu sungguh cara yang tidak bisa lebih
sahih lagi untuk menghapuskan sesuatu yang bisa dianggap sebagai
aib.

Tidak peduli apakah pemuda 30 tahun yang setiap hari mengarit dengan
air liur menetes-netes dan menyediakan rumput untuk sapi-sapi
penduduk itu juga tak punya nama dan tiada pernah jelas asal-usulnya.
“Pokoknya yang tidak jelas dijelaskan, yang tidak mapan dimapankan,”
ujar Pak Lurah.

Orangtua Poniyem hanya bisa setuju-setuju saja, kecuali kalau mereka
pindah dari desa dan hal itu tentu tidak mungkin, karena menginjak
tanah di luar desanya saja mereka belum pernah. Maka sejak itu
pemuda tanpa nama yang selalu menetes-neteskan air liur itu bernama
Bapaknya Joko Swiwi, dan Joko Swiwi menjadi nama resmi bayi bersayap
tersebut. Setelah berusia enam tahun ia bersekolah seperti anak-
anak desa lain dan terdaftar dengan nama Joko Swiwi.

Hanya saja kalau anak-anak desa harus berjalan kaki naik turun
perbukitan kapur untuk belajar matematika, Joko Swiwi terbang
langsung dari rumahnya dan kadang-kadang masuk kelas lewat jendela.
Usaha orangtua Poniyem untuk mendapat penjelasan dari anaknya selalu
gagal.

“Nduk anakku yang cantik, sebetulnya di luar negeri kamu itu
berhubungan dengan siapa kok anakmu bisa bersayap seperti itu?”
Poniyem biasanya hanya tertunduk, tetapi di balik rambutnya yang
panjang terurai menutupi wajah itu ia tersenyum-senyum.
Bagaimana mungkin ia menjelaskan apa yang dialaminya dalam mimpi
kepada orangtuanya? Bagaimana mungkin ia menjelaskan betapa malam-
malamnya yang lelah sehabis bekerja berat 20 jam sehari selalu
memberikannya mimpi yang bersambung setiap hari?

Itulah mimpi tentang makhluk-makhluk bersayap dan bercahaya putih
kemilau yang selalu mendatangi dan bercinta dengannya dan ia
melayani mereka habis-habisan dengan segala kemungkinan yang bisa
diberikan oleh imajinasi. Makhluk-makhluk bersayap itu adalah para
pecinta yang dahsyat. Meski cuma mimpi, ketika terbangun kasur busa
tempatnya tidur di lantai selalu basah kuyup. Ketika mengetahui
dirinya hamil, Poniyem memang agak bingung, tetapi ia sungguh-
sungguh senang karena yang selama ini dianggapnya mimpi ternyata
memberikannya bayi.

“Terima kasih Tuhan,” katanya dalam hati, “terima kasih atas
keajaiban ini.”

Kini anaknya bisa terbang dan masuk kelas lewat jendela, ia bangga
mempunyai anak Joko Swiwi.
KELAHIRAN Joko Swiwi memang memberi berkah kepada penduduk desa.
Kabar tentang kelahiran Joko Swiwi yang tersebar ke mana-mana
membuat penduduk desa-desa sekitar berdatangan ingin melihatnya.
Dari hari ke hari mereka yang berdatangan bukannya tambah sedikit,
melainkan berlipat ganda sampai berdesak-desak berbau keringat. Pak
Lurah dengan tangkas segera menyiasati keadaan.

Setiap orang yang memasuki gerbang desa diharuskan membayar, kalau
membawa kendaraan dan parkir sudah pasti akan ditagih lagi, tidak
peduli apakah itu mobil, sepeda motor, atau cuma sepeda. Bayaran
paling wajib tentu untuk setiap kepala bermata yang ingin
menyaksikan Joko Swiwi dengan mata kepala sendiri. Bahkan orang buta
yang hanya mampu meraba-raba saja ditagih bayaran pula. Memotret
tentu ditagih bayaran tambahan, ongkos memotret Joko Swiwi saja dan
foto bersama dibedakan. Kalau Poniyem ikut dipotret ditarik lagi
ongkos tambahan.

Sebegitu jauh, tiada seorang pun peduli kepada Bapaknya Joko Swiwi,
karena memang tiada seorang pun yang tahu betapa pemuda yang selalu
menetes-neteskan air liur dan tak jelas tinggal di mana itu (di
kuburan, kata sebagian orang) jika malam tiba akan berubah menjadi
makhluk bersayap yang putih kemilau gilang gemilang cahaya kencana
memasuki mimpi-mimpi Poniyem.

Joko Swiwi sendiri memang layak jadi atraksi. Pada usia balita ia
sudah bisa terbang setinggi pohon beringin. Tentu saja selain punya
sayap ia juga punya tangan dan karena itu bisa membantu ibunya
memetik buah ini-itu, buah kelapa misalnya, karena Bapaknya Joko
Swiwi yang masih terus menetes-neteskan air liur itu rupa-rupanya
memilih untuk pura-pura tidak mampu melakukannya–ia menjadi hebat
hanya apabila malam tiba dan menyatroni Poniyem dalam mimpi sebagai
makhluk bersayap yang putih kemilau gilang gemilang cahaya kencana.

Adalah Joko Swiwi yang sejak usia balita sudah terbang berkelebat ke
sana kemari. Sayapnya yang besar akan terdengar mengepak ceblak-
cebluk di atas rumah-rumah penduduk, benar-benar seperti burung
besar, yang lama-lama memang tambah dewasa tampan seni rupawan.

Setiap kali berangkat sekolah, Poniyem selalu saja berpesan:
“Hati-hati di jalan Nak, jangan sampai ketabrak helikopter.”

Semakin dewasa kemampuan terbangnya memang semakin bertambah tinggi.
Para pilot helikopter suka terkaget-kaget jika Joko Swiwi kebetulan
melintas berkelebat di depannya.
“Busyet! Burung apa itu?”
“Oh, bukan burung kok, itu Joko Swiwi!”
“Oh….”

Bukan hanya tinggi dan cepat terbangnya Joko Swiwi, tapi juga indah
dan penuh pesona. Kadang kala apabila Poniyem melihat ke langit,
dilihatnya Joko Swiwi seperti merayakan angkasa. Sayapnya yang
begitu besar membuat ia bisa terbang begitu laju hanya dalam
beberapa kepakan sahaja dan selebihnya ia tinggal meluncur dengan
sayap terbentang seperti burung elang.

Para peladang ketela suka menghentikan sejenak pekerjaan
mencangkulnya, beristirahat sambil menikmati Joko Swiwi yang terbang
berputar-putar dalam tarian angkasa. Gadis-gadis desa yang mandi di
kali kecil pura-pura berteriak marah tapi senang juga menatap dan
ditatap Joko Swiwi.

“Joko Swiwiiiiiiiiiiii!” teriak mereka ramai-ramai.

Mereka itulah yang suka mengumpulkan bulu-bulu Joko Swiwi yang
rontok.

Di bawah sudah ramai mereka menantikan bulu-bulu putih yang melayang
jatuh dari angkasa itu, berebutan menangkapnya, karena bulu-bulu
sayap Joko Swiwi memang cendera mata yang indah. Sepertinya putih,
tetapi kalau digerakkan bolak-balik dalam cahaya matahari, akan
membiaskan cahaya segala macam warna.

Itu pula yang terjadi jika Joko Swiwi mengepakkan sayap di angkasa,
bulu-bulu sayapnya membiaskan segenap warna di dunia yang bisa
tercerap oleh mata.

“Joko Swiwiiiiiiiiiiii! Sini dong mandi bersama kami!”

Namun Joko Swiwi adalah pemuda yang sopan, ia bukan tukang intip,
bukan pula lelaki yang kurang ajar. Maka ia tidak akan terbang
merendah untuk melihat-lihat perempuan mandi, melainkan akan terbang
meninggi, makin tinggi, dan makin tinggi. Semakin naik dan semakin
menyepi dari dunia ramai yang terkasih. Dalam kesunyian langit
itulah Joko Swiwi merenungkan dirinya yang bersayap, yang menjadi
tontonan, yang selalu dibicarakan dan dimanfaatkan.

Pernah ia membawa Poniyem ibunya terbang sambil membopongnya dan
dalam kesunyian langit ia bertanya.

“Ibu, Ibu, siapakah bapakku yang sebenarnya Ibu, sehingga aku
menjadi bersayap begini?”

Sangatlah wajar jika Joko Swiwi hanya bisa memaklumi, betapa lelaki
yang selalu mengarit dan dipanggil Bapaknya Joko Swiwi itu bukanlah
ayahnya sama sekali.

“Seorang lelaki bersayap tak akan berayahkan lelaki yang selalu
menetes-neteskan air liur,” pikirnya.

Namun susahlah bagi Poniyem memberitahukan bahwa lelaki yang
menetes-neteskan air liur itu setiap malam menjelma sebagai pecinta
bersayap yang putih kemilau dalam mimpinya–tetapi Poniyem tetap
bercerita bahwa ayah Joko Swiwi memang adalah makhluk-makhluk
bersayap yang putih kemilau celang cemerlang gilang gemilang cahaya
kencana yang menggaulinya dalam mimpi-mimpi ketika menjadi TKI di
luar negeri.

“Jadi bapakku banyak?”

“Mungkin yang satu itu banyak dan yang banyak itu satu,
apalah bedanya? Segenap dunia dengan kita di dalamnya juga cuma
satu.”

Joko Swiwi memahami keterasingan ibunya, dan Joko Swiwi kini
menghayati keterasingannya sendiri.

ALKISAH, di luar desa mereka berlangsung bencana. Mula-mula satu,
lantas dua, disusul empat puluh, berlipat empat ratus, menjadi empat
ribu, menjelma empat juta unggas mati berkaparan. Segala makhluk
bersayap entah kenapa tewas di mana-mana. Ada yang sekadar tidak
pernah bangun dari tidur, ada yang mendadak saja sekarat seperti
habis disembelih, tak jarang tiba-tiba jatuh ketika terbang. Bagi
orang miskin, unggas penyakitan ini kadang-kadang tetap saja
dipanggang dan dibakar.

Wabah telah melanda dunia burung, termasuk di desa-desa sekitar desa
tempat kelahiran Joko Swiwi. Masalahnya, para penghuni perbukitan
kapur yang tidak pernah menonton televisi karena gambarnya selalu
bergoyang-goyang dan suaranya cuma kresak-kresek ini tidak tahu apa-
apa tentang wabah yang menyapu bumi. Yang mereka tahu hanyalah ayam
bebek mentok piaraan mereka mati semua untuk selama-lamanya, tapi
tidak begitu dengan unggas di desa tempat Joko Swiwi dilahirkan.

Pak Lurah dipanggil oleh Pak Camat dan di sana ia dikepung oleh
lurah-lurah desa di sekitarnya.

“Pak Lurah, makhluk bersayap ajaib di desa sampean itulah pembawa
kutukan ini, kita belum pernah mengalami wabah seperti ini sebelum
kedatangan makhluk yang dinamakan Joko Swiwi itu.”

“Kalau memang begitu, kenapa harus menunggu 18 tahun, kenapa tidak
dari dulu-dulu ketika Joko Swiwi dilahirkan maka wabah ini melanda?”

“Apakah bedanya? Pokoknya wabah ini ada setelah Joko Swiwi ada,
wabah ini membunuh makhluk-makhluk bersayap dan Joko Swiwi adalah
makhluk bersayap. Ia suka terbang ceblak-cebluk ke sana kemari.
Barangkali saat itulah ia menyebar penyakit ke mana-mana.”

“Nanti dulu, dia bukan burung saya rasa, dia manusia, sama seperti
kita, bedanya cuma dia bersayap sahaja. Dia baru saja lulus SMU dan
jelas lebih pintar dari ayam-ayam kita. Barangkali sebentar lagi
ikut mendaftar ke perguruan tinggi di kota. Penduduk desa kita
selama ini hidup seperti katak dalam tempurung, Joko Swiwi bisa
terbang ke mana-mana dan membagi pengetahuan untuk kita, apakah
sampean-sampean akan membunuhnya?”

“Apakah ada cara lain? Kalau ia tetap hidup, ia akan tetap
menyebarkan penyakit!”

“Tapi keberadaan Joko Swiwi belum terbukti menjadi penyebab wabah
ini. Sampean-sampean jangan main hakim sendiri!”

“Pak Lurah, peternakan kami hancur karena wabah ini, padahal seluruh
penduduk bergantung kepada peternakan itu. Tanah kita terlalu tandus
untuk membuat sawah, penjualan panen ketela tergantung kepada para
tengkulak, dan para tengkulak belum mampu mengubah penduduk bumi
menjadi penggemar gaplek. Peternakan ayam bebek mentok selama ini
telah membantu kita. Apakah Pak Lurah mengira kami akan berpangku
tangan sahaja? Apakah Pak Lurah tidak tahu kalau wabah ini tidak
hanya membunuh unggas tetapi juga manusia? Mereka mati seperti ayam
disembelih! Kalaupun Joko Swiwi bukan penyebabnya, ia sungguh
pantas menjadi tumbal!”

Pak Lurah memandang Pak Camat yang ternyata cuma bisa mengangkat
bahu. Pak Lurah tahu, urusan Pak Camat hanyalah supaya ia bisa
terpilih lagi pada musim pemilihan mendatang dan kedudukannya
sangatlah ditentukan oleh para lurah desa di dalam kecamatannya. Pak
Lurah juga mengerti, penduduk desa-desa tetangga sudah lama iri
dengan keberuntungan desanya semenjak kelahiran Joko Swiwi yang
mendatangkan berkah. Semua rumah penduduk di desa tempat tinggal
Joko Swiwi kini berlantai tegel, sementara rumah penduduk desa-desa
lain, kecuali para pemilik peternakan, masih tidak berlantai dan
hanya beralaskan tanah yang menyebabkan paru-paru basah.

“Sampean cuma satu orang Pak Lurah, sampean kalah suara. Itulah
demokrasi.”

Pak Lurah tertunduk, air matanya titik–kali ini ia tidak peduli
dengan kedudukannya.

KENTONG titir tanda bahaya terdengar di seluruh desa. Para penduduk
berlari ke berbagai gardu penjagaan yang selama ini menganggur
karena memang tiada pernah terdapat bahaya mengancam desa dalam
seratus tahun terakhir. Namun kini mereka mengalami ancaman yang
sungguh tiada terduga, itulah kepungan penduduk desa-desa tetangga
mereka sendiri.

“Serahkan Joko Swiwi, atau kami bakar desa kalian!”

Penduduk desa mungkin tidak tahu apa-apa, tetapi dalam urusan harga
diri adat mereka memberi pelajaran harus dibela, kalau perlu sampai
mengorbankan nyawa.

Bambu runcing segera berada di tangan mereka. Tua muda laki
perempuan anak kecil tak luput bersiap siaga.

“Mana musuh kita,” kata mereka dengan bangga, “suruh mereka kemari,
biar kusudet ususnya!”

Desa mereka dikitari bukit kapur, mereka berjaga di tempat yang
tertinggi. Bongkah-bongkah batu besar telah siap digelindingkan.
Para pengepung memang jauh lebih banyak, tetapi mereka tak akan
mendapat kemenangan tanpa korban ratusan nyawa. Segenap penduduk
telah siap mengadu jiwa atas nama kemerdekaan mereka.

Di hadapan Poniyem ibunya yang bermuram durja, Joko Swiwi
menundukkan muka.

“Biarlah aku menyerahkan diriku wahai Ibu, tidaklah perlu penduduk
desa habis terbunuh karena aku.”

“Tapi dirimu bukanlah penyebab wabah itu anakku, kalau dirimu
penyebab wabah itu, pasti dirimu sendiri sudah mati. Entah dari mana
asal penyakit itu, tapi pasti datangnya bukan dari kamu. Para lurah
itu hanya mencari-cari alasan saja untuk membasmi kita, tidak pernah
bisa mereka terima betapa desa yang dulunya paling miskin telah
menjadi desa yang paling kaya di perbukitan kapur ini. Betapa dengki
dan iri hati bisa menjadi parah begini.”

“Biarlah kuserahkan diriku Ibu, nyawaku tidaklah terlalu berharga
dibanding kehidupan desa yang kusayangi ini, aku tidak ingin melihat
desa ini kosong dan hanya berisi mayat bergelimpangan di sana-sini.”

“Itu tidak mungkin terjadi wahai Joko Swiwi anakku, sebelum mereka
melangkahi mayatku!”

Poniyem lantas mengambil sebatang bambu runcing dan keluar rumah
dengan gagah. Tubuhnya tinggi seperti Ratih Sanggarwati, dan ia
putar bambu runcing itu seperti Sun Go Kong memutar toya, sampai
sepuluh orang bisa bergelimpangan seketika.

Joko Swiwi juga keluar rumah dan mengepakkan sayap ke angkasa. Dapat
disaksikannya di antara para pengepung itu terdapat sejumlah pemburu
yang membawa senapan, seperti siap menembak Joko Swiwi jika berniat
lari terbang ke angkasa. Mungkinkah terbayangkan betapa Joko Swiwi
tertembak di udara dan bulu-bulu sayapnya rontok berhamburan di
udara? Mungkinkah terbayangkan peluru-peluru akan berdesingan di
sekitarnya dan beberapa di antaranya akan bersarang di tubuhnya,
membuatnya meneteskan darah, dan jatuh melayang dari angkasa? Memang
bisa saja ia lolos dari segala kepungan itu dan terbang melarikan
diri jauh-jauh sampai ke Singapura, tetapi apalah yang akan
dilakukannya di sana?

Minta suaka terlalu rumit baginya, sedangkan Jakarta tidaklah
memberi harapan meski sekadar hanya untuk bertanya, karena bahkan
burung-burung langka yang dilindungi negara dan dunia tewas pula di
sana. Dirinya memang manusia, namun tetap saja makhluk bersayap
adanya, sedangkan manusia dan makhluk bersayap adalah sasaran wabah
yang tiada pernah dikenalnya pula.Dari angkasa ia menyaksikan
segalanya. Dengan sedih dilihatnya penduduk desa yang sederhana siap
mengadu jiwa dan kehilangan nyawa. Mungkin memang bukan karena
membela Joko Swiwi sebenarnya, lebih karena membela desa yang siap
ditindas kekuatan di luarnya, tetapi Joko Swiwi merasa dirinyalah
tetap menjadi penyebab utama. Adalah kelahirannya di dunia dalam
wujud berbeda menjadi penyebab segalanya.

“Mengapa perbedaan harus dipaksakan, jika persamaan masih
dimungkinkan,” pikirnya pula.

Ketika uang mereka sudah terkumpul cukup banyak, karena Joko Swiwi
memang adalah tontonan yang dahsyat, terpikir olehnya untuk pergi ke
kota dan membedah lepas sepasang sayapnya yang sangat besar itu.
Namun bukan saja penduduk desa keberatan, tentu karena sumber
penghasilan akan menghilang, melainkan juga Joko Swiwi tak terlalu
suka mengubah kodrat keberadaan dirinya meski melakukannya bukanlah
suatu dosa.

Desa mereka begitu terpencil karena dunia mereka yang berkapur
menjauhkan mereka dari peradaban. Dunia mereka hanyalah dunia putih
kapur, debu-debu kapur yang mengakibatkan wajah-wajah berkapur
seperti selalu berpupur.

Orang-orang kota menganggap mereka sebagai makhluk-makhluk ajaib
yang seluruh tubuhnya putih seperti kapur. Keberadaan Joko Swiwi
hanya menjadi pengetahuan orang-orang desa.

Orang-orang kota yang pernah mendengarnya hanya manggut-manggut
dengan sopan karena mengiranya sebagai takhayul. Hanya para pilot
helikopter yang pernah menyaksikan Joko Swiwi terbang berkelebat ke
sana kemari, tetapi para pilot ini cukup berbaik hati untuk tidak
memberi tahu para wartawan–apalagi wartawan infotaintment.

“Serahkan segera Joko Swiwi sekarang juga,” terdengar teriakan
penduduk desa tetangga, “atau kami bakar habis desa kalian sampai
habis rata tanpa sisa.”

Jagabaya desanya maju ke muka. “Majulah kalian sekarang juga, jangan
terlalu banyak bicara, tak ada seorang pun akan diserahkan karena
rudapaksa.”

Suasana tegang. Joko Swiwi sangat bimbang. Dari langit dilihatnya
lingkaran ribuan penduduk lima desa bergerak maju. Bagaimana mungkin
ia pergi terbang meninggalkan desanya? Bagaimana mungkin ia bisa
menerima desanya akan menjadi bara merah yang menyala-nyala? Sebagai
orang desa Joko Swiwi mengerti benar akan bakat kekerasan paling
kejam yang tertanam dalam diri orang-orang desa. Pencuri mati
dirajam, pezina diarak telanjang, dan perang antardesa adalah
pertumpahan darah purba yang sangat mengerikan.

“Seberapa pentingkah seorang Joko Swiwi, seorang manusia yang
kebetulan lahir bersayap, sehingga keberbedaannya harus dibela dan
dipertahankan?”

Joko Swiwi yang remaja masih berpikir keras. Namun akhirnya ia
mengambil keputusan.

SUNGAI Air Mata masih mengalir dari dua sumber mata air yang
istimewa. Sumber mata air pertama adalah kedua mata pada patung
Poniyem yang terus-menerus mengeluarkan air mata. Begitu banyak dan
begitu terus-menerus air mata duka Poniyem itu mengalir sehingga
menganak sungai dan betul-betul membentuk aliran sebuah anak sungai.

Sumber mata air kedua adalah sudut kanan mulut pada patung Bapaknya
Joko Swiwi yang terus menerus mengeluarkan air liur. Begitu banyak
dan begitu terus-menerus air liur ketidaksadaran Bapaknya Joko Swiwi
itu mengalir sehingga menganak sungai dan betul-betul membentuk
aliran sebuah anak sungai.

Kedua patung itu terletak di atas bukit kapur yang tandus dan
gersang, di kaki bukit kedua anak sungai itu bertemu, membentuk
sungai yang kemudian disebut Sungai Air Mata. Patung Poniyem yang
mengenakan kain dan kebaya bersimpuh dengan kedua tangan di tanah
menahan tubuh, sementara kepalanya yang tertunduk agak miring ke
kanan, sehingga rambutnya yang panjang ikal mayang jatuh terurai
sampai menutupi dada kanan. Patung Bapaknya Joko Swiwi yang
mengenakan baju dekil dan celana pendek sobek-sobek berjongkok dan
memegang arit seperti dalam kehidupannya sehari-hari, kepalanya yang
berwajah bodoh juga agak miring ke kanan sehingga air liurnya keluar
dari sudut kanan bibirnya yang selalu terbuka. Sungai Air Mata telah
memungkinkan penduduk desa perbukitan kapur itu mengubah ladang
ketela mereka menjadi sawah yang subur.

Berabad-abad kemudian kedua patung itu disebut sebagai patung Dewi
Air Mata dan patung Dewa Air Liur. Kedua patung itu begitu mirip
dengan manusia karena tidak berasal dari batu yang dipahat melainkan
manusia yang berubah menjadi patung karena duka tak tertahankan.

“Kenapa disebut Sungai Air Mata, padahal sumber mata airnya bukan
hanya air mata melainkan juga air liur?” murid-murid sekolah dasar
itu kelak akan bertanya.

Ibu Guru Tati tidak menjawab, dan balas bertanya: “Itu dia soalnya,
kenapa?”

Taipei-Tokyo-Honolulu-M/N1043, Maret 2006

Iklan

8 thoughts on “Joko Swiwi”

  1. Ping-balik: Decent footsiebabes
  2. Persoalan demi persoalan timbul hasil pembacaan cerpen ini. Aku sebenarnya bukan orang Jawa dan bukan juga orang Indonesia. Namun, firasatku menyatakan bahawa ada satu kritikan sosial yang terselindung di sebalik karya ini. Begitu ligat fikiranku berputar untuk mencari makna.

  3. Dongeng memang selalu punya daya pikat yang tinggi. Pelajaran moralitas yang diemban dan persoalan2 bangsa ini yang dicerminkan sungguh membuat terkesan….miris…

  4. Begitu mudah terkenal cerita duka ( air mata ) , akan tetapi cerita hasrat ( yang dianalogikan dengan air liur) tak pernah sedikitpun terdeteksi dalam diri pribadi masing2 orang , orang lainlah yang tahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s