Komidi Putar

Komidi Putar

 

DA-DA, kuda*, engkau berlari dengan mulut berdarah, da-da, kuda,
melintasi padang rumput, melompati jurang, menyeberangi sungai,
menyusuri pantai, menembus hutan, melewati kota, mengarungi benua,
memburu cakrawala, da-da, kuda, berderap di bawah langit dengan surai
gemulai yang berkilat keemas-emasan di bawah cahaya senja tiada
pernah bertanya akan berakhir sampai di mana. Da-da, kuda, mereka
semua berderap seperti sepakat tiada saling membalap, berderap
seperti menari, berderap seperti melayang, berlari, dan mencongklang
seperti terbang, da-da, kuda, dan hanya kuda-kuda mengerti apa
artinya menderap di padang terbuka, hamparan permadani, sajadah
dunia, dalam derap secepat angin, namun suaranya seperti bisikan dari
kejauhan, sejauh-jauh mata memandang, da-da, kuda, yang masih berlari
ke arah matahari jingga yang separuh tenggelam.

Tiada pernah kukira kuda bisa berlari di atas air. Kulihat kuda-kuda
berderap di lautan membentang, tanpa sayap dan tanpa tanduk, berderap
melaju dengan bunyi percik memercik-mercik, di kejauhan, melintasi
kapalku. Da-da, kuda, ke manakah kamu, begitu cepat kamu, begitu
lambat kamu, berlari atau menari, wahai kuda, segala kuda berlari di
antara cahaya, berkelebatan, seperti mimpi tapi bukan mimpi, seperti
kuda tapi memang kuda, cahayakah atau nyata, gambar bergerakkah atau
kuda, tapi memang kuda, dan hanya kuda. Da-da, kuda, seluruh kuda
dari seluruh dunia bergerak dan berlari, terbang dan memimpi ke
seluruh penjuru bumi ketika semua orang tertidur lelap nyenyak dalam
labirin mimpinya sendiri-sendiri sehingga tiada seorang pun memang
akan mengerti betapa ada begitu banyak kuda, beratus-ratus kuda,
beribu-ribu kuda, berjuta-juta kuda menderap tanpa suara dan tanpa
kepulan debu melaju sepanjang padang dengan gerak yang begitu lambat
seperti gerak lambat seekor ulat tapi yang berpindah tempat begitu
cepat secepat cahaya yang melesat.

Da-da, kuda, tak seorang pun melihatnya, ada tapi tiada, melintasi
cahaya gemilang, sekian banyak kuda, begitu banyak kuda, akan
seberapa banyak lagikah kuda? Begitu banyak rahasia terbentang selama
manusia tertidur, begitu banyak cerita di balik tabir kegelapan
malam, tapi bagaimanakah cara mengetahuinya? Manusia yang telah
begitu lelah dengan begitu banyak pikiran di kepalanya sendiri tak
akan pernah mengerti rahasia di balik matanya sendiri yang terpejam
diam-diam tak terbuka selama ratusan tahun. Begitulah manusia selalu
merasa telah tidur nyenyak dan lelap dalam satu malam tanpa pernah
terbangun satu detik pun seperti kena sihir pencuri yang menyebarkan
tanah pekuburan, padahal dalam semalam waktu telah lewat berabad-
abad….

Namun, seribu kuda tak pernah menjadi tua meski telah berlari selama
beratus-ratus tahun. Seribu kuda, beribu-ribu kuda, berjuta-juta
kuda, menderap dan melaju menembus segala macam cuaca. Bagaimana
mungkin manusia mengarungi seribu mimpi sementara sesuatu yang lebih
indah dari mimpi lewat menderap di depan hidung mereka sendiri?
Itulah masalahnya. Apalah yang bisa diketahui manusia? Tidak tentang
berjuta-juta kuda yang berlari seperti menari, melaju seperti puisi,
dengan kertap cahaya yang berkeredapan dari balik surainya, tidak
juga tentang apa saja yang berada di luar jangkauannya. Da-da, kuda,
tidak ada yang meringkik, tapi tidak berarti mereka tidak tertawa,
karena mereka bisa mengikuti mimpi-mimpi manusia yang tertidur.
Mereka terus berlari dengan pikiran yang bisa membaca dunia. Berlari
dan berlari, dengan mata yang sayu.

Tidak ada makhluk lain tampak di mana pun berjuta-juta kuda itu
berlari. Tiada gemuruh dan kepulan debu, tiada ringkik dan getaran
bumi, namun makhluk-makhluk tiada pernah tampak — tiada burung elang
yang melayang-layang, tiada monyet yang menjerit-jerit, tiada semut
di lubang mana pun di padang rumput. Hanya kuda-kuda, tanpa sayap dan
tanpa tanduk, kuda-kuda biasa, berjuta-juta, muncul dari balik
cakrawala dengan matahari di belakang mereka, menghitam seperti
bayang-bayang, berjuta-juta bayang-bayang kuda berkelebat, begitu
cepat dan begitu lambat, seperti gerakan para dewa di layar dunia.
Lewatlah kuda-kuda tanpa suara, tiada seorang pun tahu dari mana
mereka dan menuju ke mana. Da-da, kuda, dari balik matahari mereka
seperti muncul begitu saja, menimbulkan pertanyaan tentang dunia
seperti apa, yang membiarkan manusia tidur begitu lama, seperti hanya
semalam tapi sudah kehilangan segalanya.

Alangkah mahalnya mimpi-mimpi dalam semalam, yang begitu membuai tapi
sama sekali tidak nyata. Kuda-kuda ini nyata, berderap tanpa suara,
tapi mengapa mulutmu berdarah, da-da, kuda? Kuda-kuda berderap
bersama di padang alang-alang sampai bertemu sebuah sungai, di sungai
itu mereka berenang dalam kelompok-kelompok sampai ke seberang, dan
mereka berbaris satu per satu dan berjalan perlahan-lahan menyusuri
jalan setapak di tepi jurang. Tentu saja itu jalan setapak manusia,
tetapi untunglah tidak pernah ada seorang manusia pun yang barangkali
sedang berburu kebetulan berpapasan dengan kuda-kuda itu, karena
berapa lamakah seseorang harus menunggu sampai berjuta-juta kuda itu
lewat begitu pelan karena begitu hati-hati berjalan di jalan setapak
di tepi kemiringan jurang?

Berjuta-juta kuda berjalan menembus hutan yang berembun melewati
jalan setapak di tepi jurang tanpa suara. Kuda-kuda berjalan di tepi
jurang dengan kepala menunduk, melangkah satu per satu dalam
kecuraman jurang yang menggiriskan. Jalan setapak itu begitu panjang
dan jurang itu begitu dalam dan entah berapa lama akhirnya suatu
malam kuda-kuda itu keluar dari hutan dan melangkah di tepi sungai
yang dangkal dan gemericik airnya begitu jernih dan begitu
menyegarkan. Hanya, setelah berminggu-minggu jutaan kuda itu akhirnya
melewati hutan berjurang dengan hanya jalan setapak untuk berjalan.
Di tepi sungai mereka minum sebentar lantas melanjutkan perjalanan.

Da-da, kuda, begitu banyak kuda dan tiada satu manusia pun
menungganginya, tapi siapa bilang kuda diciptakan hanya untuk menjadi
tunggangan? Kuda-kuda tanpa pelana, berkilat dalam usapan cahaya,
melangkah dengan anggun di tepi yang gemercik keperakan, sesekali
berhenti minum, berjalan dengan mata sayu, beriringan sepanjang
sungai yang kadang lurus kadang berkelok dan suatu ketika menyeberang
berdua-dua, bertiga-tiga, berlima-lima, berombongan, membuat gemercik
aliran sungai tiba-tiba berbeda karena kaki-kaki kuda yang berjuta-
juta menyeberangi sungai yang tentu saja berlangsung lama….

Seorang anak terbangun di malam hari.

“Ibu, ke mana kuda kita?”

Kali ini tidak ada manusia yang mempunyai kuda, berjuta-juta kuda
melepaskan diri dari kepemilikan dan kekuasaan manusia. Kuda telah
melepaskan diri dari kebudayaan, bahkan tidak seorang pun bisa
bermimpi tentang kuda-kuda lagi. Kuda-kuda itu sudah tidak
terjangkau. Mereka menyusuri sungai sampai ke tepi pantai.
Menggoyangkan ekor dan mendengus seperti tidak peduli dengan ombak.
Mereka mencari rerumputan di tepi sungai, dan saling berbicara dengan
cara saling memandang dan saling menyentuh.

Da-da, kuda, mereka bisa berlari di atas permukaan laut, tapi mereka
tetap tinggal di tepi pantai dan saling mendengus serta bersentuhan
di bawah rembulan. Berjuta-juta kuda memenuhi pantai, dengan hempasan
ombak yang bernyanyi, tiupan angin yang merintih, serta permukaan
laut yang berkilat keperak-perakan. Tiada satu kuda menengok
rembulan, kepala mereka tertunduk dan mata mereka masih sayu. Hanya
ekornya terkadang bergoyang pelan.

Di antara kuda-kuda itu terdapat kuda anak yang terbangun di malam
hari itu. Ia berjalan, mendengus, dan mendongak di antara banyak kuda
yang menunduk.

“Hanya kuda, dan tiada lain selain kuda,” pikirnya.

Ia teringat anak kecil itu, yang setiap pagi mengelus-elus kepalanya.
Berbisik-bisik dan bercerita, menyampaikan segala rahasia. Meski
tidak bisa berbicara dalam bahasa manusia, ia bisa mengerti setiap
kata yang diucapkan anak itu. Jika ia bisa berbicara, banyak juga
yang akan diceritakannya, seperti juga ia ingin bicara tentang betapa
suatu hari ia akan meninggalkannya. Setiap kuda yang ditemuinya dan
pernah dipelihara manusia mengalami hal yang sama, mereka tidak
mengetahui cara yang terbaik untuk memberitahukan perpisahan dengan
dunia manusia untuk selama-lamanya.

Tidak ada yang bisa dilakukannya selain pergi keluar dari kandangnya
suatu malam. Pergi begitu saja mengikuti bisikan yang menuntunnya,
bisikan yang tidak terdengar di telinga melainkan menancap langsung
ke dalam otaknya dan menggerakkan seluruh tubuhnya. Ia bertemu dengan
begitu banyak kuda yang keluar dari kandang dan istalnya, melangkah
begitu saja seperti sudah saling mengerti, menuju ke suatu keadaan
yang belum tentu akan bisa dimengerti. Ia hanya tahu bahwa setiap
kuda harus bergabung dengan semua kuda, untuk melakukan pencarian
bersama yang belum lagi diketahui akan ketemu di mana.

Maka ia ikut mencongklang bersama kuda-kuda itu, berlari dan berlari,
dan merasakan betapa bumi bagai tiada diinjaknya. Kuda-kuda itu
seperti terbang bersama tapi bukan terbang, berlari tapi bukan
berlari, melesat dan melaju tapi bukan melesat, dan melaju karena
meskipun sungguh cepat tetapi juga sangat lambat. Bagaimanakah semua
ini bisa ia jelaskan?

“Aku hanya seekor kuda,” pikirnya.

Da-da, kuda, di tepi pantai, bersama berjuta-juta kuda lainnya,
mereka berdiri berjajar-jajar menghadap ke laut. Rembulan bagaikan
piring keperakan raksasa yang membuat laut juga serba keperak-perakan
nyaris seperti cairan logam. Seluruh kuda yang berjuta-juta itu
melangkah ke laut. Mereka tidak berlari, tapi berjalan saja pelan-
pelan. Lautan tidak bergelombang dan ombak tidak menghempas, seluruh
kuda itu berjalan perlahan menuju cakrawala. Namun, kuda yang
dimiliki anak kecil itu tidak menggerakkan kakinya. Ia mendengus,
menggerakkan ekor, tapi tidak melangkah. Ditatapnya kuda-kuda
bergerak pelan menuju cakrawala, makin lama makin jauh dan akhirnya
menghilang….

“Aku seekor kuda yang hanya sendiri saja di dunia,” pikirnya,

“Kalau aku mati nanti tak akan ada kuda lagi di muka bumi.”

Untuk beberapa saat ia masih memandang lautan yang kosong. Tiada lagi
pemandangan berjuta-juta kuda.

Ia belum juga tahu betapa mulutnya berdarah.

Ketika anak itu bangun, waktu sudah lewat berabad-abad. Ia langsung
mendekati kuda itu di kandangnya, memeluk dan mengusap-usap
kepalanya.

“Da-da, kuda, engkau pergi ke mana? Waktu aku bangun semalam engkau
tak ada.”

Dari jendela dapur, ibunya memandang anak di kandang kuda yang kosong
itu dengan sedih.

“Lagi-lagi anak itu bicara dengan dirinya sendiri,” gumamnya.

Di dinding dapur itu tergantung potret seekor kuda. Entah siapa
mencoret-coret bagian mulutnya dengan spidol merah, sehingga mulut
itu seperti meneteskan darah….

Pondok Aren, Kamis 2 Januari 2003. 07:36.

* Dari sajak Wing Karjo, “A/Z”, bagian 7 : Da-da, kuda, diamlah /
benda ajaib …/ mainanmu, nak, Putih / terlalu jinak. Lembut / dari
dunia mimpi., dalam Perumahan (1975), h. 44.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s