Badak Kencana

 

Badak Kencana

 

BAGIKU tidak ada yang terlalu menarik di Ujung Kulon, sampai kudengar perbincangan tentang Badak Kencana.

Perbincangan itu mulai kudengar di antara para nelayan. Semula aku tidak berpikir tentang Badak Kencana, melainkan tentang ikan-ikan yang kena kibul para nelayan: mereka mendekati lampu yang menyala untuk segera terperangkap dalam jala dan segera masuk ke perut manusia. Apakah ikan-ikan melihat sorga di balik cahaya, dan jika mereka mati demi kelanjutan hidup manusia, yang selalu diandaikan lebih mulia, mereka akan mendapatkan sorga? Jika memang demikian, ketika orang baik-baik mati dan masuk sorga, maka mereka akan berjumpa dengan ikan-ikan yang pernah mereka makan. Tuhan Maha Adil, orang baik-baik masuk sorga, dengan ikan-ikan yang membuat orang baik-baik hidup lebih lama juga masuk sorga. Berbahagialah mereka yang lahir kembali
sebagai ikan, karena jika mereka mati akibat kibul cahaya lampu yang mereka kira cahaya sorga dan dimakan manusia, setelah mati mereka akan masuk sorga juga.

Tapi selanjutnya kulupakan ikan-ikan, ketika para nelayan sambil mengangkat jala masih terus berbincang tentang Badak Kencana, dewa badak yang melindungi badak-badak bercula satu dari kepunahan. Di antara amis ikan di tengah lautan dalam kegelapan malam, dari perahu nelayan kadang terlihat secercah cahaya di tengah hutan, yang sesekali tampak dan sesekali menghilang — pemandangan yang membuat aku bertanya-tanya: benarkah di balik kelam itu terdapat Badak Kencana berkeliaran?

Sampai sekarang pun Ujung Kulon terpencil. Kukira para pemukim pertama datang melalui laut.  Tentu merekalah yang mewariskan sebuah cerita turun-temurun tentang Badak Kencana, yang konon selalu akan muncul setiap kali jumlah badak-badak bercula satu di Ujung Kulon mencapai titik nadir. Demikianlah diceritakan betapa Badak Kencana itu akan mengencani badak-badak betina dan meninggalkan mereka dalam keadaan bunting, sehingga jumlah badak yang makin menipis itu bisa bertahan, bahkan tidak jarang malah bertambah. Namun Badak Kencana itu bukanlah badak jantan. Ia disebutkan tidak mempunyai kelamin, karena ia memang bukan sembarang badak: ia tidak beranak dan ia tidak diperanakkan. Bahwa yang diberkahinya dengan keturunan adalah badak-badak betina, tak lebih dan tak kurang karena badak-badak jantan tidak mungkin bunting. Lewat tengah malam para nelayan makan. Mereka merebus mie instan bersama bungkusnya. Bungkus itu dibuka, dan ke dalam bungkus itu bumbu-bumbunya dituang, agar jangan sampai tersebar keluar bungkus. Mereka juga memasukkan telur-telur bebek ke dalam air yang merebus mie instan dan itulah yang kami makan sebagai lauk nasi.

Para nelayan tidak pernah melihat Badak Kencana, tetapi mereka percaya kisah nenek moyang bahwa setiap kali jumlah badak bercula satu menipis, Badak Kencana akan muncul menyelamatkan mereka dari kepunahan. Namun bukan hanya para nelayan yang mempercayai sesuatu tanpa melihatnya. Badak bercula satu diperkirakan tinggal 50 ekor, tetapi angka ini tidak bisa dipastikan, karena mungkin saja jumlahnya 60 ekor. Tim Sensus yang dikirim dari Jakarta menghitung jumlah badak bukan berdasarkan penglihatan atas badak-badak dengan mata kepala sendiri, melainkan, antara lain, berdasarkan jejak tapak kaki yang mereka tinggalkan.

Badak Kencana maupun badak-badak biasa sama -sama tidak pernah terlihat, namun keduanya kini berada di dalam kepalaku dan sulit kukeluarkan lagi seumur hidupku.

Jejak tapak itulah yang memberi petunjuk kemunculan kembali Badak Kencana dan menjadi perbincangan para nelayan. Ketika melacak jejak badak, Tim Sensus menemukan jejak tapak badak yang keemas-emasan. Suatu jejak tapak di tanah yang membuat butir-butir tanah yang terinjak itu seperti serbuk emas, yang bercahaya suram dalam keremangan hutan di antara gerimis. Tapak kaki Badak Kencana itu hanya satu, bukan empat, namun itu sudah cukup untuk menunjukkan kehadirannya.

“Badak Kencana…” desis salah seorang penunjuk jalan.

Bagi penduduk Tamanjaya, kampung nelayan dari mana perahu biasa berangkat menuju Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, atau Pulau Panaitan, kehadiran Badak Kencana sebagai dongeng telah melekat bagaikan kenyataan, sehingga jejak tapak badak keemas-emasan itu seperti bagian dari sebuah dunia yang telah mereka kenal.

Tim Sensus, yang selalu bekerja secara ilmiah, tentu bukan tergolong orang-orang yang percaya bahwa di dunia ini badak-badak bercula satu mempunyai dewa mereka sendiri yang bernama Badak Kencana, namun mereka mengakui bahwa jejak tapak yang mereka saksikan memang jejak kaki yang keemas-emasan. Setelah diselidiki, serbuk-serbuk emas itu bukan emas yang disebut logam mulia, tapi lebih mirip serbuk-serbuk cahaya. Di laboratorium, tak bisa dijelaskan serbuk-serbuk cahaya tersebut terdiri dari bahan apa.

Penemuan jejak yang keemasan-emasan itu mengingatkan kembali para nelayan betapa Badak Kencana itu belakangan ini sering muncul kembali dalam mimpi-mimpi mereka. Perbincangan tentang Badak Kencana itu sempat lama hilang, terutama ketika radio dan televisi memasuki desa. Hampir tiga puluh tahun lebih ingatan kepada Badak Kencana seperti terhapus dan menguap bersama udara.

Para nelayan di Tamanjaya berangkat jam empat sore ke laut untuk mencari ikan dan tiba kembali di pelabuhan jam delapan pagi keesokan harinya. Dalam perjalanan pulang itulah, dalam keadaan terkantuk-kantuk oleh buaian ombak dan angin pagi, para nelayan yang tergolek-golek akhirnya akan tertidur dan bermimpi. Dan dalam salah satu mimpi itulah beberapa di antara mereka menyaksikan Badak Kencana, yang memandang dengan tajam, sebelum akhirnya menghilang. Pada abad ke-19, jauh sebelum pemerintah Hindia Belanda memperlakukan Ujung Kulon sebagai cagar alam, para nelayan tidak asing dengan pemunculan Badak Kencana dalam mimpi. Saat itu badak-badak bercula satu sudah terancam punah, bukan terutama karena terdesak pemukiman manusia yang merajalela, atau karena Pulau Jawa sebagian besar masih hutan, melainkan oleh semangat berburu. Para pemburu andal dibayar mahal untuk mengikuti jejak tapak badak ke dalam hutan selama berminggu-minggu hanya untuk mengambil cula. Badak-badak bergelimpangan dalam hutan tanpa cula, atas nama kepercayaan tak masuk akal perihal
keampuhan cula itu sebagai pembangkit syahwat, obat kecantikan, maupun obat panjang umur. Kenyataannya, cula itu memang mendatangkan uang. Para pemburu badak, yang secara turun temurun mewarisi keahlian memburu badak, terus menerus menerima pesanan cula dari Batavia maupun Singapura, yang membuat mereka bisa masuk hutan setiap bulan untuk memenuhi pesanan itu. Tak ada sebuah cula pun yang bisa diambil tanpa membunuh badaknya terlebih dahulu.

Kemudian Badak Kencana muncul ke dalam mimpi orang-orang di sekitar Ujung Kulon, bukan hanya di Tamanjaya atau Tanjung Alang-alang, melainkan juga sampai Sumur dan Badur. Seolah-olah mimpi itu mempunyai suatu daya jangkau. Penampakan Badak Kencana, meskipun hanya dalam mimpi, sering diterima sebagai suatu isyarat, tetapi arti isyarat itu tidak pernah disepakati. Ada yang menafsirkannya sebagai keberuntungan, ada juga yang menangkapnya sebagai perkabungan.

Badak Kencana tidak hanya menampakkan diri di dalam mimpi. Badak Kencana  dihubungkan dengan kematian sejumlah pemburu ketika badak-badak mulai sangat berkurang jumlahnya. Sayang sekali para pemburu ini tidak bisa bercerita banyak, karena setiap kali ditemukan oleh pemburu lain mereka memang sudah mati. Di sekitar tempat mereka ditemukan terdapat serbukserbuk cahaya keemasan yang ajaib itu, maupun jejak tapak badak yang juga bercahaya. Bahkan tak jarang serbuk-serbuk cahaya itu menempel di lambung para pemburu yang tewas, seperti telah disodok oleh cula Badak Kencana.

Ada sekali peristiwa seorang pemburu masih hidup ketika berhasil mencapai muara Sungai Cigenter dan bertemu para pemburu rusa. Sebelum tewas ia sempat berkata, “Badak Kencana…” Seluruh tubuhnya penuh dengan serbuk cahaya keemasan itu, bagaikan telah diinjak-injak oleh Badak Kencana.

Demikianlah setiap nenek di Ujung Kulon bercerita kepada cucunya di tepi pantai sambil
memandang cakrawala di mana matahari akan terbenam.

“Nun di sana, di balik keremangan dan kekelaman itu, dalam kegelapan Tanjung Jawa yang sungguh-sungguh muram, terdapatlah Badak Kencana. Dalam dunia yang gelap, ia memiliki suatu kerajaan cahaya yang terlindung di balik tabir kehitaman di mana hanya Sang Badak Kencana bisa keluar masuk menembusnya. Dialah dewa badak, pelindung dan penjaga kesejahteraan badakbadak bercula satu sehingga mereka terselamatkan dari kepunahan. Janganlah mencoba memburu badak-badak itu atas nama apapun, karena barang siapa…”

Tidak usah dipungkiri betapa di antara pemburu badak itu ada juga yang ingin menaklukkan Badak Kencana itu sendiri. Mereka adalah manusia yang tidak bisa ditundukkan oleh dongeng, atau mereka tertantang oleh mitos, atau menyimpan dendam dan rasa penasaran atas tewasnya para sejawat, sesama pemburu badak yang tubuhnya bergelimang serbuk cahaya keemasan. Namun siapapun yang berangkat dan menghilang di balik cakrawala itu tidak pernah kembali lagi.
Siapapun. Sampai waktu berlalu.

AKU tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan Badak Kencana itu. Ia maupun badak-badak bercula satu biasa belum pernah kulihat.

Adakah seseorang, satu saja, yang terbukti pernah melihat Badak Kencana? Para pemburu yang mati memang sempat berdesis mengucapkan kata, “Badak Kencana…” Namun ini belum membuktikan apa-apa. Bukankah bisa saja seseorang merasa seolah-olah melihat Badak Kencana padahal yang dilihatnya hanyalah bayangannya sendiri? Aku yang tidak pernah melihat badak bercula satu selalu merasa seolah-olah pernah melihatnya, padahal aku hanya selalu membayangkannya. Begitu pula yang terjadi dengan Badak Kencana.

Di kampung nelayan itu memang ada seorang tua berusia 120 tahun yang dianggap pernah melihat Badak Kencana. Namun sebetulnya bukan Badak Kencana itu sendiri yang pernah dilihatnya ketika masih berusia 20 tahun, melainkan kilau keemasan yang berkelebat di balik semak.

“Peristiwa itu sudah seratus tahun lalu, tapi saya masih selalu teringat, seperti baru terjadi kemarin.Banyak sudah yang saya alami, tetapi tidak ada yang tetap tinggal dalam kepala saya seperti peristiwa itu.
Waktu itu saya mencari ular. Orang Belanda suka membeli kulit ular dengan harga mahal, danmenjualnya lagi ke Eropa. Meskipun pemerintah Hindia Belanda sudah melarang kami berburu di dalam hutan, tapi tidak ada tenaga untuk menjaga hutan itu seperti sekarang. Kami bisa keluar masuk dengan bebas, dengan risiko disergap macan tutul atau diseruduk badak.

Saat itu gelap, dan tak satu ular pun saya jumpai hari itu, padahal saya telah memelajari mantra pemanggil agar ular-ular itu mendekat. Mungkin memang belum nasib saya. Saya siap menempuh jalan kembali ketika terdengar bunyi berkerosak di balik semak. Saya menoleh dan melihat kilau cahaya keemasan, seperti kilau cahaya matahari senja, tetapi yang jauh lebih lemah dan lebih suram — seperti kesedihan. Cahaya ini bergerak menjauh dan menghilang. Jadi saya tidak melihat badak itu, yang saya lihat hanyalah jejaknya, itu pun hanya satu. Kami para pemburu biasa melihat jejak badak di hutan, dan jejak-jejak itu tidak pernah hanya satu. Jejak keemas-emasan ini memang jejak badak, tapi saya tidak mengerti, bagaimana badak bisa berdiri dengan satu kaki.

Ketika saya kembali ke kampung dan menceritakannya, mereka mendesah pelahan sembari menyebut kata ‘Badak Kencana…’ Karena saya orang perantauan, saya baru mendengar cerita tentang Badak Kencana itu kemudian. Menurut mereka, saya telah bertemu dengan Badak Kencana yang mereka kenal dari cerita nenek moyang. Disebutkan betapa saya harus merasa bersyukur karena masih hidup. Tapi sekarang saya sudah berumur 120 tahun dan saya sudah bosan hidup. Kalau pertemuan dengan Badak Kencana membuat saya mati, saya mau saja menemuinya sekali lagi.”

Rumahnya penuh dengan wartawan media cetak dan media elektronik yang memasuki rumah tanpa membuka sepatu, sampai lantai rumah panggung itu penuh dengan lumpur. Orang tua yang tidak pernah menikah itu bagaikan dipaksa untuk berkisah dengan terbata-bata. Ia tidak bisa berbahasa Indonesia, ia berbicara dengan bahasa Sunda campur Bugis, karena seratus tahun lalu ia tiba di Tamanjaya setelah berlayar bersama orangtuanya dari Bulukumba.

Para wartawan menyerbu rumah itu, dan meminta keterangan kepadanya, karena lelaki berusia 120 tahun itu dianggap pernah bertemu dengan Badak Kencana. Empat wartawan media elektronik dari Jakarta telah hilang dalam tugas mencari Badak Kencana. Tim SAR sebegitu jauh hanya menemukan jejak tapak badak keemas-emasan. Bukan empat tapak melainkan satu.

Di tengah kegemparan itu aku berpikir tentang soal lain. Jejak yang ditemukan Tim Sensus maupun lelaki itu seratus tahun yang lalu hanya satu. Mungkinkah Badak Kencana itu berdiri dengan satu kaki? Mungkinkah Badak Kencana itu suka berloncatan ke sana ke mari dengan satu kaki? Jejak satu kaki memperlihatkan bahwa badak itu berdiri di atas tapak kanan depan, seperti sedang main akrobat. Tidakkah Badak Kencana yang misterius ini barangkali suka bercanda?

Tapi membayangkan semua itu aku merasa bodoh, karena belum terbukti secara meyakinkan bahwa Badak Kencana itu memang ada.

MALAM telah turun. Langit cerah. Bintang-bintang terserak menyemarakkan langit. Pada cakrawala kulihat lampu-lampu pukat harimau dari negeri asing yang menyedot berton-ton ikan tanpa gangguan. Terlihat juga lampu lentera yang jauh lebih muram dari perahu-perahu nelayan, terserak di sana-sini, tidak terlalu banyak jumlahnya, yang semenjak berpuluh-puluh tahun selalu mencari ikan dengan cara yang sama. Memang perahu mereka sekarang bermesin, tetapi cara berpikir mereka tidak berubah, yakni mencari ikan seperlunya untuk dijual dan dimakan. Jika uang penghasilan itu cukup untuk bertahan hidup, maka tidak ada lagi yang masih harus dilakukan. Laut seperti selimut yang lembut tapi terus menerus bergoyang, membuat lentera yang tergantung
juga bergoyang-goyang. Kehidupan seolah-olah berhenti, tapi apakah yang betul-betul berhenti?

Sejak sore ribuan kalong telah meninggalkan pemukimannya, terbang dalam keremangan
memasuki malam, ketika manusia tertidur dan merasa sebaiknya kegelapan segera berlalu. Seorang anak nelayan yang diajak melaut mungkin tetap terjaga dan bertanya-tanya apakah yang berada di balik kegelapan itu.

“Bapak, ke mana ribuan kalong menghilang di balik kelam?”

Malam memberikan kegelapan, dan kegelapan memberi peluang sejuta dugaan. Terdengar sapuan ombak di bibir perahu. Angin dingin menyibak kelambu. Benarkah tidak ada sesuatu di balik kegelapan malam dan hanya ada dongeng yang dilahirkan angan-angan? Di Ujung Kulon yang terpencil, segala sesuatu telah dihitung secara ilmiah, sehingga badak bercula satu yang tidak pernah terlihat itu pun bisa diketahui jumlahnya. Tapi itu tidak termasuk Badak Kencana…

Waktu itu aku belum tahu, empat mayat dihanyutkan arus di muara Sungai Cigenter. Jenazah jenazah itu hanya berputar-putar, karena tertolak balik oleh gelombang lautan. Hari masih sama gelapnya seperti malam. Mayat-mayat itu kemudian terjerat di antara pohon-pohon bakau, bergoyang-goyang sebentar tapi lantas terdiam ketika ombak surut. Di antara batang, akar, sulur, dahan, dan ranting pohon-pohon bakau, tubuh-tubuh itu tergolek, seperti orang-orang yang bersandar menanti penjemputan.

Aku belum melihat mayat-mayat itu, karena mataku melihat ke arah lain. Ketika matahari muncul dari balik bukit, dari tengah laut yang ungu muda kulihat pemandangan itu: Badak Kencana yang berdiri dengan satu kaki, tepatnya kaki kanan depan, berputar seperti penari balet dalam cahaya keemas-emasan yang muram. Gerakannya begitu anggun, tapi matanya memancarkan kesedihan. Kukerjapkan mataku berkali-kali, karena aku masih berharap ini hanya mimpi.

    

Ujung Kulon — A102.PVJ-J, Februari 2004
   

    

Koran Tempo – 5/30/2004

Iklan

4 thoughts on “Badak Kencana”

  1. Suatu kisah yang sangat menarik, saya asli Banten tepatnya di kota Cilegon. Penuturan cerita “Badak Kencana” suatu mitos yang baru saya dengar. Mungkin point saya menanggapi dalam cerita ini bukan pada “Badak Kencana”-nya, tetapi lebih kepada penggambaran ada tentang daerah konservasi alam yang harus kita jaga dan keprihatinan kita akan ketidak “Becusan” pemerintah dalam menjaga kelestarian daerah cagar alam. Secara mitos, saya juga suka dengan hal-hal mistik..tetapi alangkah baiknya dari mitos-mitos yang di ceritakan turun temurun bisa menjadi motivator bagi anak cucu kita untuk menjaga kelestarian dari daerah konservasi alam Ujung Kulon. Sehingga “wajah sedih” “Badak Kencana” menjadi senyum dengan cahaya keemasannya.
    Semoga tulisan anda bisa menjadi motivasi kita menghargai alam ini..Amien..wasalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s