Ideologi Komik dan Komik Ideologis

KOMPAS Minggu, 30 September 2007

Ideologi Komik dan Komik Ideologis

SENO GUMIRA AJIDARMA

Komik adalah suatu bentuk komunikasi. Cara berkomunikasi yang
memainkan gambar dan kata-kata ini tergolong muda.

Dengan patokan tahun 1896 yang diresmikan panel internasional para
pakar di Lucca, Italia, tahun 1989, melalui karya Richard Felton
Outcault, The Yellow Kid, yang karakteristiknya dianggap definitif
pada 1896 tersebut, usianya baru seratus tahun lebih.

Banyak debat tentu tentang kapan lahirnya komik (orang Indonesia suka
ngandelin relief Borobudur sebagai komik juga), tetapi orang seperti
Maurice Horn dalam 100 Years of American Newspaper Comics (1996)
memberi argumen: The Yellow Kid menandai lahirnya naratif yang
disampaikan melalui sekuen gambar, keberlanjutan watak, inklusi dialog
atau teks dalam bingkai gambar, selain pendekatan bercerita dinamis
yang akan memikat mata untuk mengikuti dari panil satu ke panil
berikutnya.

Ideologi komik

Adalah pengertian terakhir, mengenai pendekatan bercerita itu, yang
memisahkan komik secara meyakinkan dari sebagian besar naratif
bergambar abad-abad silam. Komik itu lebih dari sekadar keberuntutan
gambar, sama seperti film bukan sekadar keberuntutan foto-foto.
Argumen semacam ini memang sangat Amerika-sentris, tetapi begitulah
klaim yang ada: Karena dari Amerika Serikat itulah istilah “komik”
berasal, yakni dari buku komik (comic books), yang merupakan bundel
potongan komik (comic strip) harian dalam lembaran the funnies atau
yang lucu-lucu, karena comic memang maksudnya lucu. Dengan argumen
ini, bahkan yang selama ini dianggap “bapak komik” seperti Rodolphe
Topffer dari Swiss dengan cerita-gambarnya pada tahun 1830-an dan
1840-an pun tergusur.

Dengan kata lain, komik dipersoalkan dan akhirnya dikukuhkan sebagai
bahasa. Dalam konteks Amerika Serikat, pionir seperti Will Eisner
(1917-2005) telah melakukan eksplorasi kebahasaan ini sepanjang
kariernya. Karya awalnya pada tahun 1940-an, potongan komik The Spirit
penuh inovasi artistik, yang sebetulnya boleh dianggap sebagai inovasi
kebahasaan, tempat penemuan demi penemuan cara menyampaikan gagasan
pada gilirannya tersusun sebagai konstruksi dan gudang perbendaharaan
bahasa komik.

Ketika Eisner kemudian bergabung dengan militer dan bergulat dengan
komik pengajaran (instructional comics), tantangan kepiawaian
berbahasa agaknya berhasil ia taklukkan sehingga ketika pengabdiannya
selesai dan kembali ke dunia kreatif pada tahun 1978 dilahirkannya
karya yang untuk pertama kali berlabel novel grafis (graphic novel)
dalam A Contract With God. Seperti diketahui, setelah itu dunia komik
semakin terkukuhkan kemandirian identitasnya sebagai seni maupun bahasa.

Komik ideologis

Karya terakhir Will Eisner, The Plot: The Secret Story of The
Protocols of The Elders of Zion (2005), diberi pengantar oleh Umberto
Eco, yang menegaskan bahwa ini bukan buku komik (baca: lucu),
melainkan tragik (menyedihkan) , karena komik ini memang membongkar
konspirasi vulgar pemburukan nama Yahudi, yang celakanya berhasil
membentuk citra buruk Yahudi di mata siapa pun yang jauh dari kritis.

Dalam pengantarnya sendiri, Eisner berkata: “Inilah saat saya
meninggalkan cara bercerita grafis yang murni, dan berusaha
memanfaatkan media penuh daya ini untuk menyampaikan kepedulian
personal saya.” Artinya, kita melihat pengakuan atas suatu kepentingan
yang politis sifatnya, dalam hal ini menunjuk hidung konspirasi Eropa
sejak abad ke-19 dalam mengesahkan keburukan Yahudi.

Dalam konteks pertumbuhan bahasa komik, bolehkah kita katakan inovasi
berhenti dan eksploitasi dimulai? Dalam kalimat kredo puisi Sutardji
Calzoum Bachri, kini kata tak lagi bermain-main sebagai dirinya
sendiri, melainkan menjadi budak pengertian, meski dalam hal Eisner,
dan seluruh perbincangan ini, harus kita beri konotasi produktif:
Adalah kemapanan (tata) bahasa komik tersebut yang pada akhirnya
memungkinkannya berfungsi sebagai penyampai gagasan dengan misi
strategis. Apalagi jika bukan suatu pertempuran semesta.

Kemungkinan komik yang seperti itu juga telah dimanfaatkan komik 9/11:
Kegagalan Amerika Melindungi Warganya (Sid Jacobson & Ernie Colon,
2006; terjemahan Indonesia terbit 2007) yang bersumber dari buku The
9/11 Commission Report: Final Report of The National Commission on
Terrorist Attacks Upon The United States, yang bukan saja tebalnya 600
halaman, tetapi juga dalam kelengkapannya berarti segenap rincian
tersampaikan berikut segala kerumitannya.

Kesan semula, mungkin akan dikira komik ini bagian dari perang
ideologi mutakhir tempat hegemoni Amerika Serikat mengalami resistensi
terorisme. Posisi kesetimbangan itu belum berubah, bahwa karena ada
yang hegemonik maka ada yang harus melawan, tetapi dalam kenyataannya
komik Amerika Serikat ini menjadi kritik dan pembongkaran terbuka atas
mitos Amerika Serikat itu sendiri sebagai negara adidaya.

Negara dengan persenjataan militer terkuat di muka bumi ternyata
pertahanannya sangat lemah terhadap bentuk perang baru yang
dilancarkan Al Qaeda, bukan karena teknologi yang kurang canggih,
melainkan kesalahan dan kelengahan manusia, yang terbukti berakibat
fatal. Indikasi ke arah penabrakan pesawat ke Menara Kembar itu
sebetulnya sudah terendus berdasarkan data intelijen, tetapi tidak
seorang pun berpikir akan mungkin dilakukan. Tidak salah jika
dikatakan, peristiwa 9/11 itu mengatasi imajinasi.

Komik ini berhasil menerjemahkan secara efisien segenap laporan komisi
yang rinci, lengkap, dan rumit, menjadi “cerita bergambar” yang mudah
dibaca; yang tentu saja merupakan tujuannya. Perbincangan ini tidak
akan menyiasati kebijakan politiknya, tetapi mengingatkan betapa
kemapanan bahasa komik—dalam hal ini komik Amerika Serikat—telah
menjadikannya media yang sungguh efektif dalam berbagai perjuangan
ideologis di seluruh dunia. Setidaknya dua komik ini, The Plot dan
9/11, menjadi bukti bahwa pemanfaatannnya berfungsi: Siapa pun yang
membacanya sulit membantah bahwa segala kejahatan serta keburukan
bangsa Yahudi maupun kedahsyatan Amerika dalam pertahanan militer
maupun sipil ternyata hanya mitos.

Dalam hal Yahudi, tertunjukkan dokumen Dialogue in Hell (Maurice Joly,
1864) yang merupakan dialog imajiner antara Machiavelli dan
Montesquieu, yang “dipindahkan” dengan sangat kentara untuk menjadi
“dokumen Zionisme” oleh Mathieu Golovinski pada 1898 dan
dipublikasikan pertama kali untuk kepentingan aristokrasi Rusia pada
1905. Kelak, rezim Nazi di bawah Hitler dengan senang hati memercayai,
menerjemahkan, dan menyebarluaskannya sebagai “kebenaran”.

Dalam hal Amerika Serikat, terdapat contoh sederhana: Seluruh sistem
evakuasi gedung WTC itu ternyata tak berfungsi. Jadi, tanpa ditabrak
pesawat pun, kedua gedung itu sudah bersituasi rawan. Tersiratnya
aspek penyadaran pertahanan sipil, bukannya militer—dalam pengertian
menyerang pikiran terorisme itu sendiri, yang akan membatalkan segala
serangan, sayang sekali tertelan berbagai aspek militer dan intelijen.

Menarik disadari kontramitos ini tercapai oleh kemapanan bahasa, yang
dalam dirinya adalah produk suatu mitos pula. Ini berarti yang bermain
di sini adalah perjuangan konotasi, karena bahasa memang tidak lagi
menjadi dirinya sendiri. Bahasa telah menjadi pesuruh ideologi yang
menerjemahkan dirinya sebagai konotasi, sehingga mitos kemapanan
bahasa komik berhasil termanfaatkan sebagai kontramitos. Perbedaan
mitos dan kontramitos hanyalah perbedaan konotasi—dan konotasi adalah
representasi kepentingan ideologis. Ini berarti koran (dan teks apa
pun) harus dibaca dengan hati-hati!

Seno Gumira Ajidarma Wartawan

Iklan