Wakil Rakyat

Wakil Rakyat

 

Bung,
Seorang Rakyat ketemu Seorang Wakil Rakyat yang sedang nongkrong di warung bajigur di depan TIM.
“Wah, merakyat juga ente,” kata Rakyat.
“Yah, pantes-pantesnyalah, namanya juga Wakil Rakyat.”
“Lho, sebetulnya ente tidak merakyat?”
“Tidak terlalu, saya cuma pura-pura merakyat.”
“Busyet, ente mewakili rakyat mana sih?”
“Natuna, Talaud, dan Sangihe.”
“Astaga, mana tuh?”
“ada kok di peta, kecil-kecil.”
Ente asal sana?”
“Bukan.”
Ente pernah kesana?”
“Belum.”
“Ente tahu aspirasi mereka apa?”
“Yah, kira-kira saja, paling-paling soal kesejahteraan kan?”
“Busyet, kenapa ente nggak mengatakan soal kebebasan?”
Well, siapa yang berani ngomong soal kebebasan sekarang ini, kalu bukan tokoh-tokoh yang penting?”
Ente kan tokoh penting?”
“Bukan, saya cuma tokoh gombal saja kok.”
“Tokoh gombal bagaimana?”
“Lho saya ini cuma politisi kecil, selalu mengintip kesempatan untuk naik, selalu berpikir tentang jenjang karir, apapun yang bisa jadi batu loncatan, tancap. Pokoknya saya selalu memikirkan diri sendirilah.”
“Tapi ente Wakil Rakyat kan?”
Yeah, actually, saya mewakili diri saya sendiri.”
“Astaga…”
“Kenapa astaga?”
“Saya kira ente mewakili rakyat.”
“Eh, saya sendiri kan juga rakyat? Boleh dong saya mewakili aspirasi saya sendiri. Pengin dianggap, pengin dipandang, pengin punya makna dalam hidup. Dulu cuma ikut karang taruna, sekarang jadi Wakil Rakyat, yah namanya memburu kemajuanlah.”
“Apa sih pemikiran anda tentang kemajuan?”
“Gedung-gedung tinggi.”
“Busyet.”
“Kenapa Busyet?”
“Anda suka membaca pemikiran para negarawan besar, para ahli sejarah, para ahli filsafat tentang negara?”
“Tidak. paling banter saya baca koran. kalau majalah saya baca ramalan bintang. Hahahaha!”
“Tidak biasa baca buku-buku berat?”
“Tidak, untuk apa? hanya orang bego yang buang waktu untuk baca buku.”
“Busyet”
“Kok busyet lagi?”
Ente hebat”
“Lho kok hebat? Saya ini bukan pemikir, bukan apa itu namanya? Cendekiawan? Nggak Inteleklah! Saya nggak betah baca, nggak bisa nulis dikoran kayak YB Mangunwijaya. Kalau saya baca artikel di koran, suka pusing saya.  Dalam forum-forum diskusi saya juga malas berdebat, ngapain, ngabisin abab. Saya cuma orang biasa kok, disuruh jadi wakil rakyat ya mau. lumayanlah daripada cuma di Karang Taruna. Fasilitasnya juga lumayan. Mosok orang yang berpikir kayak saya ini hebat?”
“Lho, ente jelas hebat?”
“Kenapa?”
Ente orang jujur.”

         

Bung,
Janganlah anda khawatir bung. Orang yang saya ceritakan itu tidak ada. Itu cuma fiksi di kepala saya sendiri, meskipun faktanya mungkin ada yang mirip ya? Haha! Saya sendiri yakin sepenuhnya, 1.000 Wakil Rakyat yang bakal hilir mudik di gedung UFO itu adalah orang-orang yang sangat capable: membaca buku-buku berat, mengenal pemikiran para negarawan, ahli sejarah, dan ahli filsafat tentang negara. Yang paling penting: memahami penderitaan rakyat, meski barangkali memang belum pernah ke Natuna, Talaud, dan Sangihe. Saya percaya sepenuh-penuhnya kepada mereka. Masalahnya, anda percaya tidak kepada saya? Hahahaha! 

Salam dari Palmerah.

SGA

 

NB. Sukab tidak percaya kepada fiksi. “Berbahaya,”katanya.

 

Iklan

14 thoughts on “Wakil Rakyat”

  1. memang kenyataannya seperti apa yang anda tuliskan itu, orang-orang seperti itu tak layak jadi pemimpin, berbahaya..

    *kang sukab, anda pintar sekali mengolah peristiwa menjadi santapan yang menyegarkan, gak basi meski dah kadaluarsa..*

  2. “Busyet, asyik nih wakil rakyat”
    “kok asyiik?”
    “iya, bisa jawab pertanyaan sambil asal jeplak”
    “emang banyak yang asal jeplak?”
    “Enggak”
    “Enggak ?”
    “iya, enggak salah lagi …” 🙂

  3. sepetinya itu benar dan kemunginan semua wakil rakyat seperi itu karena mereka juga rakyat sehingga tak jarak ia hanya mewakili aspirasinya sendiri.
    kalau perlu bagi saya bubarkan aja DPR, karena meraka belum layak mewaliki raktyat. kecuali memenhi isi perut dan gengsinya sendiri.

    Bersabarlah IBU PERTIWI

  4. kapan wakil rakyat jadi novel cak? kapan-kapan jangan ke warung bajigur po’o! naik angkot aja! denger-denger nih mereka pengen naik angkot lho…! kenapa? bensin kan naik cak! apa hubungannya? mereka gak punya uang receh dan gak suka uang receh! kalau bensin naik kan ga ada lagi uang receh! tinggal gesek kartu seeer…… tapi cak,kalo Makku gesek apa? suruh tuh mak kamu jagi wakil rakyat! wakil rakyat mana! wakil rakyatnya Cak Seno….

    (Mas Seno yang terhormat. Silakan kunjungi blog saya: http://www.herueksis.blogspot.com)

  5. Jadi inget tulisan alm. Harry Roesli.

    Gaji presiden lebih besar dari gaji wakil presiden. Gaji gubernur juga lebih banyak dari gaji wakil gubernur. Gaji camat pasti juga lebih besar dari wakil camat. Jadi gaji rakyat seharusnya lebih besar dari gaji wakil rakyat, ya toh!?

    Tapi ternyata itu masih mimpi belaka untuk kita…sabaaaar….
    http://putraditama.com/?p=155

  6. Kok banyak ya, yang sangat percaya diri mewakili rakyat. Wawancara dengan Venna Melinda (benar tidak nulisnya?) pagi ini di sebuah infotainmet begitu mengganggu. Saat diwawancara Venna menggunakan jas partai kalo gak salah partai demokrat.
    Kira-kira si wartawan bertanya : “kenapa merasa mampu menjadi politisi? atau anggota DPR?
    apa jawabannya?
    “Yah dulu kan juga ikut none Jakarta trus ikut putri Indonesia, ya sama lah skupnya?

    Haloooooow…..plis de…yang kayak gini ni mau mewakili rakyat?

    http://amuhyiddin.blogspot.com

  7. hmmmm….tulisan dan ulasan yang sederhana tentang wakil rakyat kita namun cukup mengena….

    salut…selalu ada ide untuk membuat mata bangsa ini melek akan kondisinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s