LEPAS LANDAS

Jakarta, Jumat Legi 20 Februari 1998

LEPAS LANDAS

              

Bung,
Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Wah, kalau saya ingat-ingat masa lalu, geli saya. Setidaknya tiga istilah laku keras: lepas landas, globalisasi, dan memasuki abad XXI. Mulai dari pejabat tinggi sampai pejabat ceremende, berbusa-busa mulutnya oleh omong kosong, pernyataan-pernyataan tanpa dasar, prediksi tanpa penelitian, asal mangap, waton suloyo. Padahal para birokrat itu kebanyakan juga bangsanya intelektual lho! Setidak-tidaknya bergelar doktor begitu–meskipun sekarang ini terlalu banyak doktor katrolan. Ajaib. Tiga abad setelah descartes(1596-1650): “Tidak bisa diragukan lagi bahwa saya ragu”–dunia majunya malah mundur.

Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Apakah dia berbicara dengan mulut, otak, atawa dengkulnya? Ataukah ia cuma membaca naskah pidato siap pakai? Sudah lama saya berpikir tentang ini. Siapakah mereka? Apakah mereka punya nama? mengapa mereka sudi mengorbankan namanya untuk diatasnamakan pajabat ini dan pejabat itu? Mengapa mereka menyembunyikan namanya? Apakah ini pembenaran atas ketidakberanian bertanggung jawab? Apakah ini kesempatan untuk bersembunyi sebagai seorang pengecut? Apakah pertanggungjawaban mereka menulis bangsa ini mau lepas landas seenak udelnya? Apakah Guru SD mereka tidak mengajari bagaimana caranya menulis tanpa istilah “Dalam rangka“?

Well, well, well, siapa dulu yang suka ngomong lepas landas/ Saya ingin mencari orangnya, ingin bertanya kepadanya, atas dasar apa maka sebuah negara suatu bangsa kok diibaratkannay sebagai pesawat terbang. Seolah-olah sejarah adalah suatu run-way di cengkareng sana, dan tahun 2000 adalah ujungnya. Eh, apakah itu sebuah metafor? cuma sebuah kidung? Hembusan angis surga yang meboikot sikap kritis? Saya ingin bertanya kepadanya darimana ia mengambil dan menyambung nyambung kata seperti pembangunan, nasional, transparan, manusia seutuhnya, dan lagi-lagi lepas landas? Betul-betul mengharukan.

Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Barangkali ia mengerti istilah analitik a priori yang diperkenalkan immanuel kant(1724-1804). Barangkali ia mengerti bahwa kalimat yang disambung-sambungnya dengan berbusa-busa dengan penuh retorika itu cuma merupakan pardobosan, karena seluruh kalimat yang disambung-sambungnya itu tidak menambah informasi apa-apa, seperti berkata lingkaran adalah bulat. Tahukan anda apa itu pardobosan? Nah, kalau itu istialah abru sumbangan saya: suatu aksen Batak untuk kata dasar Jawa–dobos. Orang Jawa akan mengucapkannya: ndobos. Hahahaha!

Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Saya ingat lagi para penulis naskah pidato itu. Mereka tidak terlalu bego sebetulnya. Jelek-jelek bisa menulis naskah pidato. Tapi mereka melakukan apa yang disebut pengkhianatan intelektual. Tidak menggunakan daya berpikirnya untuk bersikap kritis. Mereka sengaja menumpulkan diri. Membutakan diri. Jika dalam Johann Wolfgang Von Goethe(1695-1832), ilmuwan Faust menjual jiwanya kepada iblis Mephisto demi ilmu penegtahuan, mereka menjual jiwanya demi apa? Saya ingin bertemu dengan para penulis naskha pidato ini. Ingin bertanya: apa yang sebenarnya ada di dalam hati nurani meraka?

Bung,
Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Dimanakah mereka sekarang? Saya sudah lama tidak melihat batang hidungnya. Apakah Anda melihatnya? Kalau ketemu, tolong tanyakan: Kenapa sekarang tidak pernah ngomong lepas landas lagi? saya rindu dengan istilah itu–lepas landas….

Salam dari Palmerah.

SGA

  
NB. Sukab berkata: “Lepas landas? Nyungsep!

                      

Sumber: JAKARTA JAKARTA No 605 .Maret 1998

 

Iklan

5 thoughts on “LEPAS LANDAS”

  1. Kalau ndak salah sih istilahnya dulu bukan lepas landas mas Sukab, tapi tinggal landas. Kalo ndak keliru juga maksudnya sih setelah mencanangkan program dasar/landasan yaitu pembangunan sumber pangan dan sumber pekerjaan. Swa sembada pangan terus berganti dari pertanian ke industri. Sepertinya secara konsep sudah bener. Kalo mengutip bekas gubernur Jatim yang penyanyi itu, Pak Basofi S, dia pernah bilang; sebenernya orde baru itu cita-citanya sudah bener, kalo diibaratken adalah bahwa orde baru itu membangun satu rumah, cita citanya sih kalo sudah berdiri bisa buat usaha, memang bener materialnya, semen, kayu dan gentengnya ngutang, lha tinggal sebentar hampir rumah berdiri eeeh malah ada gempa bumi. Rumah rubuh tinggal utangnya. Lalu orang mulai menyalahkan. Kenapa mesti utang dsb.

    Saya sih belom tahu betul, maklum dulu masih kecil. Bener tidaknya belom tau. Tapi mbok Mas Sukab jangan cuman menggerutu aja. Hare gene gitu loh. heheh LOL! PISS

    Surat dari kemanggisan.

  2. maksudnya setelah selesai membuat landasan, pembangunan berganti ke pembangunan yang lain. Sepertinya bukan berarti tinggal landas itu sebagai `terbang` atau lepas landas. konotasinya kan jadi beda. seakan akan pembangunan sudah selesai kalo lepas landas.

  3. ehmmm..memang para birokrat di Indonesia memang ga ada yang waras….
    jujur2 sejujurnya…mereka hanya cinta uang melebihi mencintai Indonesia…gengsi dan ambisi gila….
    lihat sebagai sampel..ijin mendirikan bangunan di kota2 besar yang seharusny menjadi kawasan hijau dan cagar budaya …keluar karena uang …
    tata kota smakin semrawut….hancur…masa depan indonesia…ga jelas..kita harus sedikit beterima kasih karena Belanda…membuatkan tata kota yang layak untuk di tempati…contoh:kota bandung…
    tapi kini lihatlah ibu kota Priangan ,macet,kotor,semrawut…pohon tiap tahunya berkurang..bangunan bertingkat tinggi semakin banyak….
    apakah Parij Van Java masih layak untuk bumi priangan yang kini tak seindah dulu??
    semoga mas senno ,terinspirasi untuk membuat cerpen yang setidaknya bisa membuat mereka terketuk…
    ketika nurani dibungkam oleh uang,sastra harus berbicara..maju terus kasusastraan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s