Kepribadian Sandal Jepit

Kepribadian Sandal Jepit

                   

Mengenakan sandal jepit di kantor adalah negosiasi terhadap hegemoni sepatu .

Lee laccocca tidak mengenakan sandal jepit. Donal Trump juga tidak. Sekretaris mereka juga pasti tidak. Tapi wanita itu– cantik, wangi, dan mengenakan blazer hitam– memakai sandal jepit, karena memang bukan sekretaris Akio Morita. Ia sekretaris yang kalau malam pulang ke gang Bluntas. Ia memang bekerja di sebuah gedung dahsyat di segitiga emas Jakarta. Sebuah kantor modern: pasti ber-AC, desain interior yang elegan, dengan wall paper yang berwarna lembut, dan lukisan yang memberi cita rasa artistik. Ia sedang menelpon sambil memijit-mijit keyboard computer. Di sekelilingnya semua wanita ber-blazer hitam, semua pria berbaju putih lengan panjang. Tentu tidak semua memakai sandal jepit, Sepatu pria disemir mengkilat, sepatu wanita haknya tinggi, tapi di bawah setiap meja nampaklah sepasang sandal jepit. Kalau ada ninja masuk sebuah kantor di Segitiga Emas Jakarta pada malam hari, ia bisa mengangkut sekarung sandal jepit dari setiap lantai.

Dalam teori apapun yang berhubungan dengan etiket perkantoran modern, tentu saja sandal jepit tidak pernah disebut-sebut. Kalau tidak percaya, Tanya saja John Robert Powers. Toh dengan mata tertutup kita sudah bisa pastikan, sandal jepit adalah bagian yang terpisahkan dari dunia perkantoran di Segitiga Emas Jakarta, dunia kaum Yuppies Indonesia.

Secara kongkret, orang memakai sandal jepit di kantor karena merasa tidak betah memakai sepatu. Kalau pakai sepatu lebih dari sekian jam, apalagi sepatu hak tinggi, untuk berjalan-jalan pula, kaki rasanya terbakar. Apa boleh buat, sang sekretaris pun mondar-mandir dengan sandal jepit.

Peradaban sepatu, sejarahnya memang belum lama di Indonesia. Sampai hari ini, masih sering kita dengar betapa anak-anak sekolah di desa berangkat dengan memakai sepatu, namun ketika pulang mencangkingnya. Sepatu adalah suatu siksaan , sepatu hanya suatu formalitas. Begitulah formalitas mengajarkan kita berangkat ke kantor memakai sepatu. Sesampai di kantor kita mengenakan sandal jepit, aneh, absurd malah, tapi nyata, dengan logika itu, seharusnya kita berangkat memakai sandal.

Lee Laccoca memang tidak memakai sandal jepit. Toh itu tidak harus berarti derajatnya lebih tinggi dari yuppies Indonesia, karena memakai sandal jepit di kantor, betapapun tidak cocoknya dengan teori etiket perkantoran modern, adalah sebuah kejujuran, sebuah pengakuan, atas ketidakbetahan memakai sepatu: yakni pengakuan atas asal-usul kebudayaan agraris, kebudayaan para petani. Banyak orang yang mengingkari asal-usul yang memalukan, namun bersandal jepit di kantor, betapapun mulut tiada berucap, adalah sebuah pengakuan yang bersahaja. “saya tidak betah memakai sepatu”.

Ketidakbetahan memakai sepatu, Memang adalah perilaku yang diwarisi dari tradisi petani tanpa sepatu. Sandal jepit bagi para petani, sebetulnya sudah merupakan sepatu, biasanya berjalan kemana-mana tanpa alas kaki. Supaya lebih sopan, dikenakanlah sepatu.

Ini semua hanya menunjukan, bahwa begitu banyak barang yang dikonsumsi tidak sebagai fungsi, melainkan symbol. Itulah kepribadian sandal jepit, yang bertebaran di Segitiga Emas, puncak piramida kisah sukses di Jakarta, ini juga menunjukan kejujuran sejarah, betapa masa lalu tidak bisa di bunuh, apalagi diingkari.

Salam

SGA.

Iklan

8 thoughts on “Kepribadian Sandal Jepit”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s