Koran, Janganlah Hilang

Koran

Janganlah Hilang…

Oleh: Seno Gumira Ajidarma

 

Pada hari Kamis, 26 Februari 2009, saya membaca berita tentang peluncuran dua buku Atmakusumah Astraatmadja, seorang wartawan senior, pada ulang tahun ke-70 dalam koran The Jakarta Post di bawah judul ”Partisan print media proven short-lived”.

Bukanlah maksud saya untuk bersikap kritis jika menyebutkan betapa judul kedua buku tersebut dianggap ”bukan berita” sehingga tidak akan kita ketahui judulnya dari berita tersebut, melainkan bahwa saya terharu karena rupanya media cetak dalam berita ini masih dianggap penting.

Disebutkan, misalnya, pendapat Atmakusumah bahwa koran seperti Jurnal Nasional yang terhubungkan dengan Partai Demokrat adalah sama saja dengan koran seperti Suara Karya milik Golongan Karya semasa kekuasaan Soeharto. Diungkapnya bahwa setidaknya 50.000 eksemplar koran tersebut ”laris manis” karena dibeli oleh Departemen Penerangan untuk dibagikan ke kantor-kantor pemerintah. Bahwa kemudian setelah Orde Baru tamat riwayatnya bangkitlah ”jurnalisme franchise”, yang lebih membutuhkan penerjemah ketimbang wartawan itu, ternyata dianggap Atmakusumah sebagai wajar dan bukanlah sesuatu untuk dikecam. Disebutnya, hari-hari ini jika semasa Orde Baru yang disebut media cetak ”idealis” bisa mencapai 70 persen, justru semasa Reformasi hanyalah 30 persen.

Sangat mengharukan juga bahwa dalam diskusi sehubungan dengan peluncuran buku tersebut, dengan pembicara David T Hill dan Henry Subijakto, terdapat perbincangan mengenai kekhawatiran atas dampak ”jurnalisme franchise” itu terhadap kebudayaan Indonesia.

Sekali lagi, jika saya sebutkan bahwa saya terharu, bukanlah maksud saya sebagai tanggapan atas isi berita tersebut, melainkan terharu karena ternyata media cetak masih menganggap media cetak itu sendiri adalah penting. Mengapa begitu? Karena di tengah hiruk-pikuk dan ”gebyar” media audio visual sepintas lalu media cetak bagaikan berada dalam posisi inferior. Jika seorang presenter media televisi, misalnya, bisa menjadi ”bintang” dengan features atau program yang dalam keterbandingannya dengan media cetak adalah biasa-biasa saja; maka gemerlapnya seorang star reporter media cetak, betapa pun eksklusif liputannya, tidaklah akan memiliki cahaya seterang seperti jika itu dilakukannya untuk televisi.

Namun harus saya tekankan, dan inilah maksud catatan saya, bahwa hanya tampaknya saja media cetak itu inferior dalam perbandingannya dengan media audio visual. Jika yang ”selintas pintas”, ”bagaikan”, dan ”tampaknya saja” itu diganti dengan sedikit saja perhatian dan penghayatan cermat, maka bagi saya tampaklah superioritas media cetak itu, yang berita dan cerita di dalamnya dituliskan, yang foto dan gambarnya diam tak bergerak, sehingga bisa dibaca ulang atau dipandang lama-lama sesukanya.

Tentu, setiap media punya kelebihan, memiliki keunikan yang sebetulnya tidak bisa dibandingkan, tetapi penindasan (oleh) awam yang memang selalu berlangsung dalam proses kebudayaan tidak memberi banyak peluang kepada media cetak untuk terlihat superioritasnya. Memang, katakanlah dengan sepak bola, tidak mungkin kemampuan replay adegan gol yang spektakuler dalam slow motion melalui berbagai sudut pandang itu dilakukan media cetak; tetapi mengapa semakin dramatik pertandingan sepak bola yang sudah kita saksikan di televisi, semakin kita ingin membaca bagaimana pertandingan itu dituliskan esok harinya di koran? Ini bukan sekadar keinginan mengulang sensasi dramatiknya, melainkan dalam hal saya, hanya melalui kolom seorang Rob Hughes di International Herald Tribune, misalnya, dapat saya pahami makna ironis peristiwa Lionel Messi, pemain bintang klub Barcelona, yang membuat gol dengan tangan (ada fotonya), persis seperti dilakukan Maradona pujaannya.

Kedalaman

Makna, tentu saja, datang dari kedalaman, sedangkan pendalaman adalah tradisi ratusan tahun media cetak, yang dalam hal ini diturunkan oleh jiwa budaya tulisan, tempat segala sesuatu direnungkan dan dipertimbangkan berulang-ulang sebelum tampil sebagai produk cetakan.

Namun, pengertian kedalaman media cetak yang saya maksudkan bukanlah hanya bentuk tajuk rencana ”sok bijak”, investigasi berpanjang-panjang, maupun liputan kemanusiaan pura-pura ”sastrawi”, karena kedalaman juga terdapat dalam keringkasan kolom humor Art Buchwald maupun comic strip Peanuts yang bukan hanya filosofis tetapi juga puitis itu.

Tekanan atas makna dalam kedalaman media cetak tidaklah saya maksud sebagai lawan suatu ”kedataran” media audio visual, yang jelas memiliki bahasa pendalamannya sendiri, melainkan sekadar menunjukkan dengan sederhana betapa media cetak itu tidaklah seharusnya dipandang inferior dibandingkan media audio visual.

Dari mingguan analisis seperti The Economist, misalnya, saya mendapatkan peluang memeriksa gagasan di balik peristiwa aktual, yang sama sekali tidak inferior dibandingkan diskusi para pakar di CNN. Selain itu, hanya di media cetak saya dapat membaca cerpen ajaib Putu Wijaya bukan? Tentu, tentu ada ”versi on-line”” yang lebih ringkas di layar komputer, tetapi bagaimanapun, romantika teriakan loper dan wanginya kertas koran baru bagi saya tidaklah tergantikan.

Tapi, bagaimana dong dengan media cetak tanpa kedalaman yang hanya bermakna keamburadulan? Di sinilah pentingnya penghargaan atas karya-karya jurnalistik media cetak, seperti Anugerah Adiwarta Sampoerna, hadiah Jurnalistik Adinegoro, Mochtar Lubis Award, dan lain sebagainya agar menjadi jelas, jurnalisme macam apa layak diabadikan dan menjadi teladan, bukannya mempermalukan peradaban dan pantas dimusnahkan….

Seno Gumira Ajidarma, budayawan

Sumber: Kompas Jumat, 8 Mei 2009

Iklan

8 thoughts on “Koran, Janganlah Hilang”

  1. Belum lama ini saya berpikir tentang eksistensi koran juga, mas Seno. Kompas, Tempo, Kontan versi online menjadi pilihan bagi pembaca koran web-based.

    Hari ini, banyak aktifitas bisa dilakukan secara digital. Mulai dari kegiatan jual beli saham, perbankan, hingga beli telur.

    Lalu saya berpikir pula tentang ritual pagi: merokok, nyeruput kopi, dan baca koran di teras depan rumah. Kegiatan puluhan tahun para bapak dan pria-pria yang lepas dari masa remaja, termasuk saya. Tak mungkin hal itu tergantikan oleh: merokok, nyeruput kopi dan baca Kompas epaper di laptop–meski telah berjalan berbulan-bulan. “Wangi kertas koran” itu pernah menyadarkan saya saat membaca Kompas epaper. Benak saya bertanya, “tak ada sensasi unik bau kertas seperti biasanya”.

    Laptop dan kertas adalah dua hal yang berbeda secara fisik dan estetika. Laptop tak penah menyisakan warna hitam di jari saya..!

    Kata-kata yang mas Seno pilih, “bukan inferior, kedalaman, wangi kertas koran” benar-benar mewakilkan makna dan alasan mengapa koran harus tetap eksis.

    Dunia boleh makin digital, tapi koran adalah salah satu hal yang tak boleh punah. Sebab ia tak sekedar memuat tulisan dan berita, koran adalah sebuah estetika.

    Dan sejak itu saya pastikan akan membela

  2. Koran tak bisa dibandingkan ma televisi, memang keduanya sama-sama menyampaikan berita. Tapi televisi lebih banyak nilai negatifnya dari pada koran.

    Tak bisa kubayangkan kalau tidak ada koran lagi, kita akan semakin bodoh, karena banyak ilmu yang bisa kita ambil dari membaca koran yang belum tentu ada di televisi

    owh iya, koran memiliki bau yang khas ya..

  3. Setuju akan semua yang ditulis mas Seno tentang koran, janganlah hilang.

    Gak mau membandingkan dengan era digital ato lainnya, yang pasti dengan adanya koran ada kliping penting yang kalo ditaruh di laptop ato hp tercanggih manapun akan butuh baterai, listrik dimana kita tidak melulu bekerja di dalam “batas service area”.

    Bau khas, jorok tinta yg melunturi jari itu meresap kedalam urat nadi n berlari ke sumber otak.

    Koran, janganlah hilang…….

  4. Saya juga setuju bahwa sejatinya, seni membaca adalah memegang wujud produk dan membalik halaman satu per satu. Imaji yang dihasilkan media cetak tak kaah dahsyat ketimbang imaji instan yg dihasilkan media audio visual. Itu sebabnya ada istilah ‘theater of mind’.

    Saya terpicu untuk menuliskan opini yg kurang lebih sama setelah membaca tulisan mas SGA ini di Kompas beberapa waktu lalu. http://elsara-playground.blogspot.com/2009/05/teater-dalam-selembar-kertas.html

    Hidup koran!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s