Menyambut Cerbung baru SGA di Jawa Pos

SGA di JP MingguMENGENAL LEBIH DEKAT SENO GUMIRA AJIDARMA, Penulis NAGA JAWA, Cerbung Baru Jawa Pos mulai Selasa 1 Juli 2014

TABRAK BATAS: Seno Gumira Ajidarma yang mengerahkan semua kemampuan untuk memuaskan pembaca cerbung Naga Jawa di Negeri Atap Langit. (Angger Bondan/Jawa Pos)

Mengenal Lebih Dekat Seno Gumira Ajidarma, Penulis Cerbung Naga Jawa

Suara khas keyboard diketik terdengar nyaring di lantai 2 sebuah kedai kopi di kawasan Bintaro, Tangerang, Banten, Selasa lalu (24/6). Suara ketikan itu unik. Tidak terdengar cepat, tapi stabil, datar, dan jarang berhenti. Ya, sore itu pengarang Seno Gumira Ajidarma sedang suntuk menulis di laptop tipisnya.

Cara mengetiknya tak biasa, tidak dengan sepuluh jari layaknya orang mengetik. Dia hanya menggunakan jari tengah tangan kanannya untuk menjamah semua huruf di keyboard dan jari manis tangan kirinya untuk menekan tombol shift atau caps lock. ”Ya seperti inilah kalau dulunya kebiasaan ngetik di mesin ketik lawasyang berat. Sampai zaman berubah, pakai laptop tetap tak berubah, sudah kebiasaan,” ungkap Seno menjelaskan cara mengetiknya yang khas itu.

Rupanya, pria yang lahir di Boston pada 19 Juni 1958 tersebut sedang suntuk menulis karya terbarunya, cerita bersambung (cerbung) silat Naga Jawa di Negeri Atap Langit. Cerbung ini bukan cerita fiksi biasa, tapi berlatar fakta sejarah yang diambil dari berbagai riset ilmiah kitab-kitab kuno abad ke-8 dan 9 di tanah Jawa. ”Dua abad itu merupakan saat Candi Borobudur dibangun,” jelas putra fisikawan dan pakar energi surya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof MSA Sastroamidjojo tersebut.

Cerbung silat Naga Jawa mengisahkan tokoh pendekar tanpa nama yang melanglang buana. Salah satu tempat yang disinggahi si tokoh adalah sebuah daerah di Tiongkok yang pada abad VIII–IX disebut sebagai Kota Chang’an.

Untuk memenuhi hasrat menulisnya, Seno yang memiliki gelar akademis magister ilmu filsafat dan doktor ilmu sastra dari Universitas Indonesia melakukan berbagai riset. Karena sang tokoh dari Pulau Jawa, sastrawan yang memelihara rambutnya hingga sebahu itu mengunjungi Museum Samudra Raksa di kawasan Candi Borobudur.

Seno datang khusus untuk mempelajari bentuk perahu Samudra Raksa, perahu yang dibangun berdasar relief kapal yang terdapat di Candi Borobudur. ”Saya menulis tidak hanya dengan imajinasi, tapi juga dengan fakta dan data. Karena fiksi itu sebenarnya juga fakta, bagian dari aktivitas manusia,” tutur penerima sederet penghargaan sastra, di antaranya Sea Write Awards (1987), Dinny O’Hearn Prize for Literary (1997), serta Khatulistiwa Literary Awards (2004 dan 2005), tersebut. Pada 2012 suami Ikke Susilowati itu juga mendapatkan Achmad Bakrie Awards, namun dia menolak menerimanya. Seno beralasan agar penghargaan yang diperolehnya sebaiknya diberikan kepada orang lain yang dianggap lebih layak.

Di Museum Samudra Raksa, Seno tidak hanya mengamati dengan cermat perahu layar bercadik ganda dengan dua tiang layar. Dia juga masuk ke kapal yang dibangun Assad Abdullah Al Madani itu. Keahliannya sebagai fotografer membuat dia memotret setiap lekuk-lekuk dan sudut-sudut kapal. Tangannya juga meraba kayu tiang-tiang kapal, geladak kapal pun tak lepas dari tangan jahilnya. ”Demi mendapatkan data, saya juga membaca ribuan buku yang membahas perahu itu. Karakter kapal ini harus didapatkan karena dalam cerita, pendekar tanpa nama tersebut berlayar ke Tiongkok dengan kapal itu,” jelas Seno yang pernah membidani lahirnya majalah bergambar Jakarta-Jakarta.

Upayanya mendapatkan karakter perahu tersebut untuk melogikakan alur cerita cerbung terbentur masalah, bagaimana mungkin pendekar tanpa nama berlayar ke Tiongkok dengan kapal yang ternyata memang tidak ada toiletnya. ”Masalah ini muncul saat itu, perahu itu tanpa toilet. Berlayar dengan perahu berhari-hari, mandi dan buang airnya di mana tanpa toilet? Masalah ini mau tidak mau harus diatasi dan masuk akal,” ujar pengarang yang sering disebut bergaya surealistis tersebut. Gaya yang penuh dengan kritik sosial dan politik.

Tergoda oleh pertanyaan dan logika itu, Seno tak mau tanggung dalam mencari data. Pengarang yang menulis sejak SMP tersebut memutuskan untuk berangkat ke Xi’an, kota yang terdapat bekas ibu kota masa dinasti Tang Chang’an, awal Desember tahun lalu. ”Saya ke sana untuk melengkapi data cerbung,” ujar Seno.

Begitu tiba di Negeri Tirai Bambu itu, Seno langsung menuju Xi’an. Cuaca dingin ekstrem dengan suhu minus 15 derajat Celsius menyambut kedatangannya. ”Udaranya dingin menusuk tulang,” jelas ayah fotografer Timur Angin tersebut.

Tentu saja Seno tidak ingin hanya meringkuk di tempat penginapan. Menguatkan asa, dia melawan cuaca dingin bak di kutub utara. Dia menyusuri jalanan kota. Di tengah jalanan kota ternyata terdapat banyak bangunan bekas kota tua Chang’an. Setidaknya hasratnya sedikit terpenuhi. Dia menyentuh tembok-tembok itu.

Dengan kepayahan, Seno mencoba mengambil gambar dengan kameranya. Dalam cuaca tak bersahabat tersebut, saat memotret, kulit tangan tak terasa mulai retak-retak. ”Dinginnya memuncak bikin kulit kayak retak-retak. Memotret biasa itu membutuhkan kerja keras,” kenangnya.

Dingin yang menusuk tulang membuatnya memutar otak sepanjang perjalanan, mau tak mau badannya harus dihangatkan. Dia ingat kalau membawa heater, pemanas air. Tanpa basa-basi, heater itu dinyalakan. Heater tersebut lantas berubah fungsi menjadi penghangat tubuh. ”Kedua telapak tangan saya dekatkan dan lumayan. Hangatnya terasa. Ini saya lakukan kalau dingin sudah tak tertahankan saat berjalan,” jelasnya.

Lain hari di kota yang sama, Seno mendengar bahwa ada miniatur Kota Chang’an. Akhirnya dia berupaya mencari lokasi itu. Seno berusaha mencari tahu dari warga sekitar. Sayangnya, tidak ada yang bisa berbahasa Inggris. Tak kehabisan akal, Seno mengeluarkan uang yuan dari sakunya dan menuliskan Kota Chang’an Miniature pada secarik kertas. ”Ya, bisanya bahasa gerak dan didorong pakai uang. Akhirnya ketemu,” ucapnya.

Selang beberapa jam kemudian, Seno akhirnya menemukan bangunan miniatur Kota Chang’an dengan skala luar biasa. Dia girang bukan kepalang. Semua sudut miniatur itu direkam dalam kameranya. ”Miniatur kota ini besar, hingga ratusan meter,” ungkapnya.

Seno menjelaskan, pada abad ke-8 dan 9, Chang’an sudah kosmopolitan. Dengan penduduk sekitar 1 juta orang. ”Benar-benar kota maju untuk abad itu,” ujar Seno yang sudah membuahkan ratusan cerpen, 12 antologi cerpen, 8 novel, 3 komik, dan macam-macam karya lainnya.

Sebelum pulang ke Indonesia, Seno juga menyempatkan diri mengunjungi Jalur Sutra. Jalur perjalanan darat yang legendaris itu dirasa penting bagi Seno. Sebab, cerbung yang digarapnya juga mengambil setting di sana. ”Jalur Sutra salah satu setting penting. Saya sempat kunjungi beberapa tempat. Ada patung Kitaro besar di sana,” jelasnya.

Pengumpulan data tidak selesai di situ. Setelah melanjutkan menulis cerbung tersebut, masalah lain muncul. Dalam adegan di cerbung terdapat cerita dengan latar belakang sebuah kedai. Nah, konsep kedai ini membuat Seno galau bukan kepalang. ”Hanya karena kedai saya kebingungan,” ungkap Seno yang menjadi seniman karena terinspirasi penulis puisi dan dramawan berjuluk Si Burung Merak, Rendra, yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, dan rambut boleh gondrong.

Pertanyaan yang muncul dalam benaknya, apakah pada abad ke-8 dan 9 di Pulau Jawa saat itu terdapat kedai? Hasratnya memenuhi kebutuhan logika cerita membuatnya mencoba berbagai cara. Dia bertanya kepada sejumlah ahli sejarah terkait keberadaan kedai pada abad kerajaan wangsa Syailendra tersebut.

Ada dua ahli sejarah yang dia temui: Profesor Edi Sedyawati (arkeolog Jawa Kuno) dan Iwan Fridolin (ahli kebudayaan Tiongkok Kuno). Dua ahli sejarah itu mendengar curhat Seno. ”Saya tanya keduanya soal kedai, apa sudah ada saat itu,” ucapnya.

Seno berharap keduanya bisa memberikan secercah harapan atas keingintahuannya. Minimal, ada tanda yang mengarahkan bahwa kedai sudah ada pada 1.300 tahun yang lalu. ”Ternyata, jawabannya jauh dari harapan, masih meragukan dan tidak pasti,” ujarnya.

Kehampaan itu membuat keberaniannya justru muncul. Dia tabrak semua halangan logika tersebut dan tetap memasukkan konsep kedai dalam alur cerita. ”Yah, harus berani untuk ambil keputusan. Pun tidak ada bukti kuat yang menandakan kedai tidak ada saat abad ke-8 hingga 9 dan sebaliknya. Tak ada bukti yang mengarahkan keberadaan kedai,” tuturnya.

Dialektika terus terjadi dalam pergulatannya memintal cerita. Kali ini masalah terjadi dalam adegan pembangunan Borobudur yang terdapat penggusuran lahan warga. Protes warga terjadi. Pembangunan candi mau tak mau terpengaruh. Dalam adegan itu, Seno berupaya menyelipkan bunga cerita pergolakan proses pembangunan candi yang mengombinasikan gaya Hindu-Buddha tersebut. ”Namun, alur cerita ini harus tetap berlogika,” ujarnya.

Seno kembali mencoba mencari petuah kepada Profesor Edi. Saat membaca adegan tersebut, Edi langsung berceletuk. ”Ini kok teori kelas sekali,” ujarnya kepada Seno. Dia terbelalak atas komentar arkeolog Jawa Kuno tersebut.

Edi justru memberikan opsi lain untuk cerita itu. Warga justru bisa jadi merasa terhormat karena lahannya akan digunakan untuk membangun candi, akhirnya menyerahkan lahannya secara sukarela tanpa perlu diganti. ”Opsi ini saya terima, tapi saya lupa mengganti adegannya atau tidak,” ujarnya lantas tertawa.

Maklum, Naga Jawa ini terbilang lanjutan dari dua buku cerita Naga Bumi I setebal 900 halaman dan Naga Bumi II (700 halaman). ”Kalau dibilang cerbung, ternyata ini panjang. Dibilang novel, ini novel yang juga sangat tebal,” celetuknya.

Proses penulisan yang begitu pelik dengan data yang akurat semacam karya jurnalistik membuat Seno memiliki karakter yang dominan dalam dunia sastra Indonesia. Berbeda dengan Pramoedya Ananta Toer yang menjadi pionir novel fiksi sejarah, Seno membawa gaya penulisan jurnalisme dengan balutan fiksi. ”Saya ingin menabrak tembok perbedaan antara fiksi dan fakta ini,” tegasnya. (Ilham Wancoko/c9/kim)

@reblogged dari : JAWA POS edisi Senin 30 Juni 2014