Susastra Kawan Paimo

10931536_10153000398007808_2005289619783596169_n
Foto: Titik Kartitiani

Kawan-kawan yang Terhormat,

Setiap kali berbincang tentang sastra, selalu saja terdengar pertanyaan, yang seperti tidak akan pernah hilang sampai akhir zaman: bagaimanakah kiranya sastra bisa disebut sastra?

Barangkali ini memang terdengar seperti obsesi. Para penulis ingin menulis “sastra yang benar-benar sastra”, sementara para pembaca juga ingin membaca “sastra yang benar-benar sastra”.

Hidup, barangkali memang dianggap terlalu singkat, jika dihabiskan hanya untuk mencari jawab dari pertanyaan itu. Bahkan, tidak usah seumur hidup, cukup 7-8 semester saja, juga terlalu lama!

Dalam obsesinya, mereka yang datang ke kuil-kuil sastra menghendaki jawaban yang ces-pleng, seperti pil, sekali telan kepusingan sahastra langsung hilang.
Seolah-olah seperti obsesi, tetapi tidak diiringi konsekuensi perjuangan untuk mengerti sampai mati. Tentu, karena memang tidak perlu!

Kawan-kawan yang Serba Arif serta Serba Budiman,
Jika pertanyaan semacam itu diajukan kepada saya, biasanya yang bertanya kemungkinan besar kecewa, karena tidak mendapat jawaban apa-apa. Saya tidak jarang juga menjawab bahwa sastra itu sebetulnya tidak ada.

“Lho, kok bisa?” Begitu biasanya reaksinya.

“Ya, bisa saja,” jawab saya.

“Lha itu, yang selama ini disebut sastra itu, apa dong?”

“Lho, kalau sudah disebut sastra apakah itu berarti memang sastra, begitu sastra, dan tiada lain selain sahastra, dan bukannya kibul doang?” Gantian saya yang bertanya.

Sampai di sini, biasanya muncul kembali pertanyaan semula, dengan nada yang lebih putus asa.

“Jadi sastra itu sebetulnya apa dong?!”

Jawaban saya sebetulnya masih sama, tetapi sekarang agak lebih panjang kibulnya.

“Dari tadi juga sudah kubilang, sastra itu sebetulnya tidak ada, tetapi diada-adakan demi kepentingan kelompok-kelompok tertentu.”

“Lho, kok seperti politik?”

“Memang seperti politik, tetapi lebih tepat lagi seperti kebudayaan.”

“Aduh, pusing deh kepala gue!”

“Kenapa mesti pusing? Tapi kalau memang pusing, itu pasti gara-gara penamaan sastra yang tidak cukup satu kata. Melainkan sastra dalam bangunan pengertian tertentu, yang merupakan bentuk penghadiran kembali politik identitas kelompok tertentu. Sebagaimana layaknya yang disebut kebudayaan.”

“Artinya, sastra itu hanya seperti sebuah nama?”

Yes hewes-hewes! Tetapi namanya tidak hanya satu, melainkan tergantung dari kepentingan sang pemberi nama itu. Kaum priyayi menamakan sastranya ya kesusastraan priyayi, dengan bangunan pengertian yang serba sesuai belaka dengan politik identitas kaum priyayi. Kaum batur menamakan sastranya ya kesusastraan batur, dengan bangunan pengertian yang serba sesuai belaka dengan politik identitas kaum batur.

“Nah, bangunan pengertian-pengertian ini kadang-kadang kibulnya begitu meyakinkan, sehingga ketika dikumpul-kumpulkan dan diecerkan kembali oleh mereka yang dipercaya (ada yang percaya) menguasai kibul-kibul itu, dengan nama ilmu-ilmu pengetahuan susastra, bahkan direstui pemerintah untuk mendirikan fakultas, menerima pendaftaran yang pakai bayaran, mengajari orang, memberi ujian, lantas yang lulus diberi gelar Sarjono.”

“Sarjono?”

“Iya, Sarjono.”

“Bukan Paimo?”

“Bukan!”

Kawan-kawan yang Semoga Saja Tidak Sedang Menderita,

Begitulah kira-kira serba-serbinya, sehingga bukan saja terdapat sastra priyayi dan sastra batur, tetapi juga sastra sok alim dan sastra mehong. Eh, pertanyaan sejenis lagi-lagi kembali.

“Jadi sastra yang bener-bener sastra itu nyang pegimane?”

“Ya semuanya itu sahastralahyaw!”

“Semuanya?”

“Semuanya atau tidak ada sama sekali. Tanpa beban makna sastra, semua hanyalah teks.”

“Jadi ada dong sastra itu?”

“Mau ada atau tidak ya suka-suka aja! Tetapi jelas perebutan atas legitimasi sastra itulah, yakni kuasa atas penamaan sastra dengan segala penjelasan dalam semangat mencanggihkannya, telah menambah keruwetan, yang masih bisa diperdebatkan perlu dan tidakn

Kawan-kawan yang Saya Cintai,

Sejarah wacana sastra sampai hari ini ternyata adalah salah cetak kebudayaan, yang meskipun terus-menerus dikoreksi, takmungkin lagi diganti maupun ditarik kembali, sama dan sebangun dengan keterlanjuran dunia ini.

Nama, istilah, atau sebutan “sastra”, dengan segala perangkat ideologis yang mengukuhkannya, telah menyumbang kepusingan manusia yang tidak berdosa.

Sayang sekali, nama “susastra” (demikian konon istilah yang betoel)  tampaknya sudah tidak mungkin diganti.

Sebab, kalau bisa, saya usul namanya diganti Paimo saja J.

Salam,

 Seno Gumira Ajidarma

Kampung Utan, Jumat 23 Januari 2015. 10:10.

Catatan: disampaikan pada IDWriters Literary Day, Goethe-Institut, Jakarta, 29 January 2015
ID Writers merupakan portal yang digagas oleh Valent Mustamin, untuk menampilkan data penulis Indonesia dalam Bahasa Inggris. Tujuannya agar penulis Indonesia bisa diketahui dunia. Pada tanggal 29 Januari 2015, ID Writers  resmi diluncurkan.

Iklan

4 thoughts on “Susastra Kawan Paimo”

  1. politik memang selalu ada di setiap sudut perkumpulan manusia.Bahkan dalam hal seni sekalipun. Mungkin karena eksistensi.Lantas bagaimana cara menyikapinya kalau “sastra” itu udah dibongkar-bongkar kayak gini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s