Arsip Tag: koruptor

Negeri Tikus

Negeri Tikus

                                      

Jakarta, Jumat Kliwon 12 September 1997

                

Bung,
Bukalah mata anda dan perhatikan sekeliling anda, maka anda akan melihat manusia-manusia, yang hanya badannya saja seperti manusia, namun sebenarnya dalam badan itu bersemayam jiwa seekor tikus. Barangkali dalam kehidupan sebelumnya, mereka semua memang tikus, dan karena menjalankan perannya dengan baik sebagai tikus, dalam reinkarnasi mereka menjadi manusia. Sayang sekali, meskipun sudah menjadi manusia jiwanya masih jiwa tikus: selalu menunggu kesempatan untuk mencuri tanpa ketahuan.

Tikus-tikus selalu bicara di belakang, karena tikus-tikus tidak pernah punya bahan yang cukup layak untuk dibicarakan di depan. Sekali-kalinya bicara yang keluar adalah suara mencericit. Hahahaha! Tikus-tikus mengenakan dasi, tikus-tikus menyetir mobil, tikus-tikus memakai blazer, tikus-tikus membawa handphone. Tikus-tikus yang beranak seperti berak. Astaganaga. Darimana datangnya tikus-tikus ini? Apakah mereka datang dari jiwa kita sendiri?

Pasti ada alasannya mengapa tikus diciptakan. Tikus juga adalah makhluk Tuhan. Namun bagi saya alasannya masih merupakan misteri alam. Seandainya tikus dimusnahkan apakah yang akan menjadi tidak seimbang? Para penyayang binatang melarang kita menginjak kecoa, mencegah kita menepuk nyamuk, dan mengutuk perburuan gajah—tapi apakah keputusan konggres manusia mengenai tikus? Tentu ada suatu sebab yang kuat, mengapa dalam banjir besar yang membungkus bola bumi, kapal raksasa nabi nuh menyediakan tempat bagi sepasang tikus.

Keturunan mereka ini menguasai dunia. Gedung-gedung besar yang tinggi menjulang, dengan lantai yang mengkilap karena karbol, yang pengamanan setiap sudutnya menggunakan sinar laser, tetap saja penuh tikus berseliweran. Satpam tiada berdaya melihatnya. Tikus-tikus mencericit, mencericit dan mencericit. Suara mencericit bergema bagaikan konser musik kontemporer Harry Roesli, Tony Prabowo, Otto sidharta, Sapto Rahardjo, dan John Cage digabungkan menjadi satu.

Daya tahan tikus merupakan suatu fenomena alam yang belum terpecahkan, dan karena itu membuat manusia kagum, sehingga dengan bangga menamakan diri mereka politikus= banyak tikus. Hohohoho! Tikus-tikus ini berpolitik—menunggu kesempatan dengan diam, malah pura-pura tertindas, pura-pura menderita supaya ada saja yang bersimpati, hanya dengan satu tujuan; memecah belah dan syukur-syukur menguasai. Tidak ada secuil pun pikiran yang  agak sedikit mulia di dalam otaknya yang sudah karatan. Kita semua tidak kunjung habis bertanya, untuk apa sebenarnya tikus diciptakan. Apakah untuk memberikan cermin bagi kemanusiaan?

Bung,
Janganlah anda terkejut, jika ketika tiba saatnya Anda memasang dasi dan bercermin, dan Anda melihat sosok seekor tikus. Kemudian anda akan keluar menuju kantor, dan di jalanan yang macet itu anda akan melihat tikus-tikus di belakang kemudi, sambil terus menerus mencericit lewat handphone. Tentu saja anda juga harus siap ketika masuk ruang rapat untuk meeting(para yuppies senang betul mengucapkan kata ”meeting” ini), dan yeah—Anda akan menemukan staff Anda semua sudah berubah menjadi tikus. Dari belakang rok dan celana mereka menyembul ekor tikus. Haha!

Jangan kaget Bung, kita memang berada di negeri tikus.

                  

Salam dari Palmerah.
SGA

              
NB.
Sukab mau dagang racun tikus. ”Pasti Laku”, katanya.

                            

*) Surat dari Palmerah, Majalah Jakarta-Jakarta, Jumat 12 September 1997

Iklan