Sepotong Senja Untuk Pacarku

Sepotong Senja Untuk Pacarku

                               

                                     

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

–Cerpen Pililihan Kompas 1993

About these ads

115 Tanggapan

  1. saat kata-kata tak lagi bermakna…(alahh ..cuman mo numpang baca only )

  2. wewww, baru ketemu blog mas SGA. Salam kenal mas, saya lagi ngumpulin karya2 mas untuk dibaca. Baru punya Kalatidha dan Dilarang Nyanyi di Kamar Mandi. Besok2 mo beli Linguae.

  3. Sepotong Senja untuk Pacarku…saya membacanya berkali kali..indah nian

  4. mas……tobh abizzz……
    bukunya udah sampe kumeul and deu kucel….
    gak ke itung berapa kali dibaca ….Sepotong Senja Untuk Pacarku….
    sekali lg tobzzz

  5. Tutorku selalu bilang tentang cerpen yang bagus ini. Karena saya belum pernah baca saya anggap ini sebuah pujain biasa saja. Ternyata baru kali ini saya membacanya dan saya langsung acungkan jempol buat cerpen ini. Luar Biasa.
    Pantas seorang tutor samapai berkata demikian.
    :-)

  6. semakin dibaca, saya semakin jatuh cinta akan senja..

  7. baru kali pertama baca SSUP, asik deh. gak tau kalo yang kedua mungkin lebih asyik. tunggu comment yang keduanya setelah gue baca yang kedua juga yah. moga lebih asyik

  8. waduh ceritanya buagus buabget and ku suka buanget akan ceritanya

  9. ini dia karya terdahsyat yang pernah saya baca, karya yang mengajak saya bermain-main bersama. Sebuah karya yang membuat senja menjadi lebih indah dan menjadikan cinta menjadi lebih kaya rasa.
    Sebetulnya pengen lebih kenal sama Mas SGA, saya pengagum berat karya-karya SGA, saya baca setiap kali mau tidur dan bangun tidur, dan di waktu antara mau tidur dan bangun tidur..heheheh.
    Buku SGA pertama yang saya baca adalah Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, dahyat ! dari situ saya ketagihan beli buku SGA yang lainnya. Salam kenal sama Mas SGA, sebetulnya saya pernah ketemu sama Mas Seno di Common Room Bandung, dapet tanda tangan pula di buku Jazz Parfum dan Insiden !
    tapi sebetulnya saya pengen punya kesempatan untuk ngobrol langsung dengan Mas Seno, Kabar kabari ya Mas kalo ke Bandung lagi…, saya mau beli Linguae nih sekarang…

  10. Sialan bener emang SGA itu…….
    gw jadi termehek-mehek baca karyanya
    Salam buat Maneka yang cantik:)

  11. mas..boleh minta senja yg sepotong laginya ga.. buat oleh2 emak saya dikampung..

  12. Waduh….
    bahasa romentisme ironinya suka’…suka’…..
    tapi yang paling dahsyat ya masih legenda wongasu….
    Senjanya kok nakal se mas?

  13. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

    Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya.

  14. hei.
    cuma senja.
    pagi2 buta masi ada.
    bebas.

  15. wuaa… seno emang kwerenz!
    kalo bbrapa waktu lalu aku jadi sweneng banged ma senja ya gara2 seno ini.
    4 thumbs up de!!

  16. Great…!
    Kalau suatu kali aku pergi ke pantai, aku juga ingin memotong senja yang iindah itu. Bukan untuk pacarku, namun untuk diriku sendiri. Untuk Kumakan. Biar aku gak dikejar polisi. heheheh….

  17. [...] bukunya. Menceritakan seorang lelaki (Sukab) yang mencuri senja untuk kekasihnya (Alina). Bisa baca cerita ini di blognya. Waaah begitu baca aku langsung baca ulang lagi! Bukan karena aku tidak mengerti, tapi karena [...]

  18. wihhh.. mampus… keren bgt! langsung ke gramed!

  19. boat maz seno, thanks banget!!!q seneng banget ama cerpen ni!selalu ngebuatQ berharap suatu hari ada orang yg bakal bawa senja yang sama buatQ

  20. ini satu cerpen yg terkesan melankolis? mungkin! tapi aq yakin Pak Seno punya satu alasan mengapa memakai kata senja utk menjadi bagian dari judulnya. Inilah cerpen pertama dari beliau yang membuat saya terus ingin mengenalnya.

  21. berkali2 dibaca, tetap indah dan tetap membuat sukma saya bergetar

  22. waaww… kereen banget cerpennya.. (berkaca-kaca..)

  23. kerennnnn

  24. saya gak pernah bosen baca buku “sepotong senja untuk pacarku”. dan setiap abis baca salah satu cerpen di buku ini, sy selalu ngerasa jatuh cinta….

    bener2 jatuh cinta…

    kalo dlm kehidupan nyata, suka ngerasa jd orang paling blo’on pas jatuh cinta. tp klo udh baca buku ini, jatuh cinta itu jadi hal yg patut dirayakan, diapresiasi….

  25. aq bacanya ama aqdekku, tp dia gak ngerti katanya, aq mo jelasin juga gak ngerti, jadi sama2 gak ngerti! abisnya dulu pas SMA bahasa indonesia mesti dapet jelek, khususnya pas ngbahas masalah peribahasa, yuuukkks….:) enakan baca wong asu! hidup wongasu!!! :)

  26. ini cerpen yg paling keren dari SGA, bener banget, dibaca berkali2 tetep dahsyat.

  27. Tulisan yg bagus,,,trm ksh mas..

  28. Aduuuh, dari SMA dulu aku suka sekali cerpen ini. udah berkali-kali baca tapi tetep rasanya ada.

  29. MAS SENO….

    MAAF SEBELUMNYA, ADA BEBERAPA KALIMAT YANG SAYA COPY DARI CERPEN INI, DAN SAYA JADIKAN PELENGKAP DARI POSTINNGAN BLOG SAYA.

    YAH… SELAIN BENTUK KEKAGUMAN PESAN INI JUGA SEKALIAN SEBAGAI PERMINTAAN IZIN UNTUK TINDAKAN SAYA.

    MAKASIH

  30. Duh…. jadi ingat bukuku yang dipinjam teman dan tak pernah kembali, bungkik…., balikin buku sepotong senja untuk pacarku…!!!ato aku akan ….(sensor) mu..!!!!

  31. …dan sayah terbuai..

  32. bahwa ternyata rangkaian huruf jadi kata terus berbentuk kalimat dan seterusnya, “disini berarti banget”.. ngeriiiiii!!!!!

  33. bagaimana cara menikmatinya ?
    saya ga ngerti, hehe
    atau harus ngerti ?
    bagaimana mengerat senja ? lalu memasukkan ke amplop, lalu .. mengirimkannya ?
    wah wah, pasti anda orang hebat bisa berlaku demikian. :)
    saya pesan satu ya, buat pacar saya di Jogja.
    boleh ?

  34. rangkaian kata merangkai makna..
    indah sekali… :D

    jadi pengen baca cerpen lainnya … Lanjut…

  35. Allow semuanya,
    jika anda ingin mewujudkan keinginan untuk mengirimi senja kepada kekasih anda dapat melakukannya di sini : http://dwisasongko.890m.com/crip
    untuk contoh email yang terkirim, anda dapat melihatnya di sini : http://ruckuus.multiply.com/journal/item/79/Kirim_Senja_Versi_0.0.1

    have fun!

  36. “Pada mulanya adalah kata…” demikian orang pernah bilang. Seperti halnya SGA, pada mulanya adalah Alina, aku mulai menelusur hingga ke dunia paling sunyi-nya SGA, bahwa, pada suatu waktu akan muncul penulis spt SGA yd dianugerahi “situasi batin dan kekayaan bertutur”, yaitu, aku… he.. he… cerpen surupa pernah kutulis, tokohnya Rizka, seorang gadis yg telah menghempaskan aku hingga ke pelaminan… Thanks berat SGA, …inspirasi tiada kering, gue kena ALINASITIS, penyakit alina nomor alina….

  37. [...] Cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, karya Seno Ajidarma Guritno yang menceritakan tentang tokoh “aku” yang dapat mengerat senja [...]

  38. fantastik,…salam kenal mas..

  39. Sepotong Senja Untuk Pacarku… gak pernah bosen tuk membacanya karya yang indah.. benar-benar indah.. Saya pengagum berat karya mas Seno, sukses tuk mas Seno. Ditunggu karya Terbarunya

  40. Mas … satu-satunya orang yang bikin saya keringet dingin deg degan minta foto bareng .. bukan madonna .. bukan siapa-siapa … tapi Seno Gumira Ajidarma …

    aku punya hampir semua buku Mas Seno kecuali yang Linguae

    salam kenal mas

  41. 2X aku baca sepotong senja ga pernah terucap kata bosan. cara penyampaiannya, emosi nya. Bgs lah

  42. Lebih dari 5 kali aku baca cerpen ini dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas. Aku benar-benar salut dengan diksi yang sangat kaya makna.

    Aku juga punya “Atas Nama Malam” yang menurut saya penuh dengan informasi tambah tetapi sangat perlu dalam catatan kaki. Thanks

  43. sudah lama sekali aku membaca cerpen ini. meski aku lupa jalan ceritanya, aku tetap masih ingin mengulan membaca… (ALINA: nama yang indah,he..he..). aku posting cerpen ini ke blogku ya, mas.. (http://koeboe1984.blogspot.com)

  44. Wow, cerpen yang fantasio bung. Dengan semangat ’45 cerpen ini gw pake tugas kuliah. Saya apresiasi dengan biografinya mas yang tersebar di seluruh tanah air. trima kasih…

  45. Pak SGA, saya pernah menulis esai tentang senja, “Senja yang Bercerita, Renungan untuk Sebuah Pertanyaan tentang Cinta”. Sayang saya belum baca karya Anda yang lainnya, keterbatasan bahan literatur, tetapi saya senang bisa baca karya Anda di blog ini. Terus menulis, Pak, siapa tahu saya bisa menghasilkan esai lainnya dari karya-karya Anda. Salam.
    Rohyati Sofjan
    Limbangan, Garut

  46. ‘sepotong senja untuk pacarku’ sebuah naratif-deskirptif-ekspositoris yang sedikit luarbiasa. Kau tahu? ini sangat menyebalkan! sebuah interpretasi yang misterius harus lahir di sini..! Kamu Hebat Bung Seno!

  47. Anda bertanggung jawab membuat kamar dan PC saya penuh Senja Bung Seno!

  48. mengapa hanya sepotong?
    tak sekalian seluruhnya sejauh panjang senja itu bercahaya?

    apakah memang hanya sepotong seperti itulah hatimu untukku?

  49. Hmmmpppp…..bagus sekali

  50. Rasanya merinding setelah membaca cerpen ini…

    Bukan karena seram, tapi perasaan dahsyat yang memenuhi saya….

  51. jatuh,tapi tidak pecah..
    hilang,tapi tetap kelihatan..
    besar,tapi dapat dikantongi..

    Mudah2an gak hujan, jadi gak hitam..

  52. Aku selalu suka cerita ini

  53. Aku suka SGA sejak Kalathida

  54. karya seno gumira…selalu mjd bagian dari memoriku…

  55. anjrit!!

    gila bagus banget.

    bencooonnggggggggg keren abisssss!

  56. bujubune + bujubusyettt + geleng2 kepala + berdecak2 kagum + speechless….. Love It!

  57. bravo Mr.Seno!

  58. speechlees….

    satu kata….great…like it..

  59. senang bisa menjadi mahasiswa anda mas Senno dengan karya-karya indah SGA !

  60. pusing bro……

  61. ku tahu cerppen ini dari djenar maesa Ayu, kumohon kirim no hp mas Gumira, biar saa bisa sharring tentang Cerpen/ please

  62. glek..

  63. salam kenal…

    blognya keren , artikelnya juga keren keren dan mantao mantao,,

    thanks, di tugggu kunjjungan baliknya

  64. saya terpesona dengan kata kata paling akhir

    “Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.”

    perfect !

  65. dahsyat!

  66. i like it…

  67. :O,
    keren!

  68. Gila,
    Nggak nyangka kalau ceritanya sekeren ini,
    Buat lagi dunk,
    Tentang fajar,

  69. wah sangat sarat pesan dari penulis untuk alina, siapakah alina ini???

  70. Seno Gumira ajidarma, hebat….

  71. mau deh jadi alina. yang manis, yang paling manis, dan akan selalu manis. daleeemmm~ lheb godek deh~

  72. Cerpen favorit. Membuatku makin cinta senja. Terima kasih telah membingkai senja sedemikian indah, SGA! :)

  73. kukz dgramedia btam buku negh udgh gk ada lge.
    aq cari dmna2 tp gk ada.lotus jg gk ada.
    apa dsna msh ada stok bku itu soal nya aq dngar dr kwand aq crta ny bgus bngt n td wktu bca sinopsis crta ny emng amazing bngt.
    aq pngen bngt beli buku ini.
    skaligus novel qmu yg jdulnya”biola yg tak berdawai yagh.

  74. “Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu”

  75. wah 5 tahun nyari cerpen ini baru ketemu sekarang,
    pertama baca pas kelas 1 smp aka udah buat aku merinding, salut buat mas seno

  76. saya suka banget karya nya mas ???

    makna nya hebat

  77. makin dibaca makin bagus.

  78. subhanallah……bagus bangeeetttt….saya merinding…..

  79. [...] Sepotong Senja Untuk Pacarku ( by SGA) [...]

  80. Aku sedikit bingung sama apa yang dimaksud senja di situ ….
    Itu kiasan ato makna asli??

  81. ada yang masih punya gak novel2 seno yang lama …????
    kalau ada saya mau beli buku itu…
    tolong ya…
    makasih

    • Dominic, masuk ke mailing list saja, sehingga bisa langsung bertukar info melalui email. Bisa ke mailing list pasarbuku, sastra pembebasan, atau langsung ke milis kami SenoGumiraAjidarma. Gampang caranya, tinggal klik tanda Join ke yahoogroups di kiri atas halaman ini. :)

  82. sejak 3 tahun yang lalu, ketika saya membaca buku SGA Sepotong senja untuk pacarku kepunyaan teman, saya mulai jatuh cinta. sejak itu pula saya mulai berburu buku-buku SGA di toko-toko buku. bahkan sampai toko buku bekas. ada kepuasan tersendiri ketika membaca dan memiliki koleksi bukunya. Tapi sampai saat ini buku yang sangat aku cari SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU masih belum ditangan., adakah teman yang berniat menjual bukunya?? saya siap dengan harga yang tinggi, asalkan masih dalam kondisi bagus dan buku asli. Salam SGA

  83. Suka bangeet..Aku ingin menjadi Alina itu..betapa beruntungnya dirinya.. I love Senja…

    Dari si Penyuka Senja…
    Lathifah

  84. saya pernah punya bukunya tapi hilang… :( adakah yang tau dimana saya bisa mendapatkan lagi buku yang sama?

  85. Pesona senja selalu menginspirasi. nice!

  86. like this. selalu suka sama karya-karya mas seno…

  87. Sebenarnya seberapa indah dan berarti nya kah sebuah SENJA bagi Seno Gumiro Aji Darmo sehingga setiap karyanya di dominasi oleh SENJA…aku benar2 pengen sekali waktu menghabiskan soreku di tepi pantai dan menikmati SENJA itu….

  88. [...] senja yang terlah diabadikan Seno Gumira Ajidarma ini saja? Kita bisa menikmatinya bersama di sini. Bisa kamu klik link jendela itu. Lalu kita bisa menikmatinya [...]

  89. [...] Baikalah, saya mulai surat hari ini dengan kalimat yang saya dapatkan dari cerpen sepotong senja untuk pacarku yang ditulis Seno Gumira Ajidarma jauh tahun lalu. Cerpen ini sempat saya singgung dalam surat cinta sebelumnya yang bisa di lihat di sini. Atau halaman sumber dari SGA ( nama pena dari Seno Gumira Ajidarma) yang bisa dilihat langsung di sini. [...]

  90. Kocak mas.. :D

  91. inspiratif bgt…

  92. seno sialan !

  93. [...] sumber : http://duniasukab.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/ [...]

  94. Sederhana…
    Tapi Menawan…
    Diantara sekian byk orang yg suka akan senja.,tp ada pula yg tdk suka..
    Mrka adlh org2 yg tdk bs mlakukan satu kbaikan saja yg brmanfaat bagi dirinya sndri maupun utk orang lain.,
    mdh2an dua senja
    itu trkirim utk alina, klo tdk…
    Reduplah senja ditelan malam..
    karyanya bagus mas…

  95. mungkin saya terlalu bodoh, tp jujur saya tidak mengerti keindahan dari cerpen tersebut jika benar Ironi? apa yg jadi fokus utama dari cerita senja itu? mungkin sebagai penikmat dan pemerhati bahasa juga saya merasa concern karena sebenarnya orang yg tidak mengerti arti sesungguhnya dari cerpen tersebut. kadang penulis jangan terlalu bermain dengan kata sebab anda menulis untuk orang lain bukan diri anda sendiri. saya yakin lebih dari 60% pembaca dan komentator tdk mengerti apa yg tertera di cerpen tersebut tapi memaksakan diri menikmati estetika kata kata tanpa mengerti arti dari kalimat2 tersebut. maaf atas kebodohan saya.

  96. Suka bngt.sy jd pingin ke pantai dan menikmasti senja,pingin nulis juga

  97. Anakku bernama Alina,saat membaca ini dalam hati aku berharap Alinaku mendapatkan senja terindah seperti Alina ini,karena kebetulan aku dan Alinaku adalah pengagum senja jingga di kebun belakang rumah kami.

  98. Jika Alina mendapatkan senja, bisa kah mas Seno memberi rasa hatimu untuk kusimpan dan ku ceritakan pada semua pecinta setia tulisanmu? Karena rasa hatimu tak lebih indah dari semua kata-kata yang tercipta di dunia ini :)

    Salam hangat, Andria Nur Wahyu

  99. sekali baca, jadi bosannya ilang

  100. Izin duplikasi mas,
    besok-besok saya mau bikin carpon “Purnama Separo”
    sebab sepaonya lagi akan ku persembahkan pada kekasihku…

    huwh,,, perjuangan yang uuuwedan lah..! (y)

  101. […] Teruntuk Sukab dalam suratnya, Sepotong Senja untuk Pacarku […]

  102. Reblogged this on The Life of Decci and commented:
    Tambahkan pemikiran Anda di sini… (opsional)

  103. Reblogged this on RadarNeptunus and commented:
    salah satu cerpen Seno Gumira, enjoy read it ^^

  104. senja termasuk sebuah cerita yang aku sukai ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 340 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: